Category Archives: Tokocrypto

Cardano (ADA) Curi Panggung Di Tengah Isu Energi Bitcoin

Mata uang kripto Cardano (ADA) terus menciptakan harga tertinggi barunya selama bulan ini. ADA kini menjadi altcoin yang paling moncer di tengah tren bearish (penurunan) Bitcoin.

Pada 16 Mei 2021, harga ADA mencapai US$2,25. Harga tersebut merupakan pencapaian harga tertinggi barunya setelah minggu lalu ADA berhasil mencetak all time high. Pencapaian ini sangat mencolok di tengah tren bearish sejumlah altcoin di akhir pekan ini.

Akhir pekan ini pun ADA berhasil menyalip DOGE di posisi keempat koin bervolume besar versi coinmarketcap. Saat laporan ini ditulis, kapitalisasi pasar ADA mencapai US$70,923,390,963, meningkat 16,51 persen dalam 24 jam terakhir.

Dari sisi kapitalisasi pasar, ADA menjadi ancaman bagi Binance Coin yang saat ini bertengger di posisi ketiga di bawah BTC dan ETH. Banyak analis yang menilai, ADA bisa saja mempersempit persaingan antara elite altcoin seperti Ethereum dan BNB.

Baca Juga: Dominasi BTC Makin Tergerus, Terburuk Sejak 3 Tahun Terakhir

Peningkatan harga ADA saat ini salah satunya dipengaruhi oleh sentimen tentang Bitcoin yang dinilai telah menghabiskan energy secara brutal. Sedangkan, ADA diproyeksikan sebagai cryptocurrency yang ramah lingkungan.

Berbeda dengan Bitcoin yang memiliki sistem proof-of-work, yang dinilai sangat menguras energy, ADA justru memiliki alternatif dengan menggunakan algoritma konsensus bukti kepemilikan (proof of stake) untuk memvalidasi transaksi.

Dalam algoritme proof-of-work dalam BTC, penambang berlomba untuk memecahkan teka-teki matematika yang kompleks.

Karena teka-teki ini memiliki kesulitan yang terus meningkat, penambang perlu menjalankan komputer yang lebih kuat, mengoperasikan perangkat keras dan listrik dengan kecepatan yang sangat menguras energi. Sebagai hadiah, jaringan mengeluarkan penambang dengan koin yang baru dicetak.

Baca Juga: Harga Kian Naik, Bagaimana Ethereum di Masa Depan?

Sebaliknya, algoritma bukti kepemilikan (proof of stake) milik Cardano memungkinkan mereka yang memiliki jumlah koin terbesar untuk memvalidasi transaksi secara mandiri.

Disclaimer:

Perdagangan atau investasi digital asset atau mata uang kripto (Bitcoin, Ethereum, dll) merupakan aktivitas beresiko tinggi. Sebelum memutuskan untuk mulai berinvestasi ketahui dulu resikonya. Perdagangan Digital Asset sebaiknya dilakukan pada platform exchange yang terdaftar di Bappebti.

Kami tidak memaksa Anda untuk membeli atau menjual aset digital ini, sebagai investasi, atau aksi mencari keuntungan. Pahami dulu lebih dalam sebelum memutuskan berinvestasi mata uang kripto.

Semua informasi di Portalkripto bukan bersifat financial advisor. Kami hanya mengiformasikan keadaan pasar atau keadaan ekonomi dan situasi global yang berkaitan dengan mata uang kripto beserta ekosistemnya.

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

Crypto Class Online Batch 1

Pandemi COVID-19 telah berhasil membuat keresahan masyarakat dunia, tidak terkecuali Indonesia. Pemerintahpun telah mengeluarkan kebijakan yang melarang pertemuan secara langsung, oleh karenanya banyak kegiatan yang  kini beralih memanfaatkan teknologi pertemuan daring seperti GoogleMeets.

Tokocrypto selaku perusahaan yang aktif dalam mengedukasi masyarakat dalam bidang teknologi blockchain dan Aset Kripto pun tidak ketinggalan. Sabtu 18 April 2020 kemarin telah diadakan Crypto Class Online Batch 1. Selain dapat mentiadakan kontak secara langsung, Crypto Class Online juga dapat di ikuti oleh lebih banyak peserta yang tidak terbatas pada wilayah seperti pada Crypto Class Offline sebelumnya.

Dalam sesi yang di hadiri oleh lebih dari 25 peserta itu, M. Kurnia Bijaksana dari Kitab Kripto selaku pembicara dari Kitab Kripto membuka sesi dengan pemaparan pentingnya mengetahui tujuan Investasi.

“Sebelum memulai, kita harus bisa mengetahui kebutuhan kita sendiri, apakah dana yang kita miliki akan di bikin investasi atau hanya di tradingkan saja, Dalam dunia investasi, trading dan investing adalah dua aktivitas yang berbeda, walaupun trader dan investor sama-sama terjun di pasar.” Ujar Pria yang akrab disapa Aksa itu.

Tidak hanya keuntungan, Aksa juga menjelaskan tentang resiko yang ada, “risiko itu memang akan selalu ada, tidak hanya dalam dunia investasi aja, tapi dalam bisnis konvensional pun pasti ada, namun meskipun begitu, risiko dalam aset kripto dapat di mitigasi se minimal mungkin” tambahnya.

Sebagai pemula, hal yang perlu dilakukan adalah memulai, tapi tentunya mulai lah dengan nominal yang sewajarnya. Di Tokocrypto sendiri, para Trader pemula dapat memulai hanya dengan Rp.50 ribu saja, kemudian bisa disesuaikan dengan kemampuan kita dalam menganalisa harga, karena di dalam dunia trading tidak ada ilmu yang pasti, namun tidak juga kita hanya bergerak hanya menggunakan feeling semata.

Selanjutnya, Aksa juga menjelaskan tentang basic dalam teknik menganalisa harga, mulai dari memahami kondisi pasar, mencari level harga hingga cara mencari indikasi, confluence dan konfirmasi. Yang kemudia sesi ini di tutup dengan sesi Q & A dan Lucky Draw.



Sumber : news.tokocrypto.com

Uniswap V3 Kalahkan SushiSwap, Raih Gelar Ini

Walau berawal kurang mulus, Uniswap V3 telah berhasil mendapatkan gelar baru di pasar bursa terdesentralisasi atau DeX.

Uniswap V3 telah berhasil mengalami apresiasi dalam volume perdagangan dan membawanya ke peringkat kedua dalam peringkat DeX.

Uniswap V3 Meraih Gelar Baru

Sejak 5 Mei 2021, versi ketiga dari Uniswap telah mengalami apresiasi yang cukup signifikan dalam volume transaksi per minggu.

Saat ini Uniswap V3 juga telah berhasil melewati SushiSwap menurut data dari Messari dan menjadi DeX kedua terbesar di Blockchain Ethereum.

Dikabarkan bahwa saat ini volume transaksi per minggunya adalah sekitar $6,5 Miliar atau Rp93,5 Triliun.

Saat ini Uniswap V3 mendapatkan gelar peringkat kedua walau baru saja meluncur kurang dari sebulan, satu peringkat di bawah Uniswap V2.

Uniswap V2 masih terlihat memimpin peringkat DeX di Blockchain Ethereum dengan transaksi per minggu yang mencapai $12,2 Miliar atau Rp175,6 Triliun.

Baca Juga: Uniswap Luncurkan V3, Ini Dampaknya untuk Sektor DeFi

Pertumbuhan ini terlihat oleh salah satu peneliti pada Messari bernama Ryan Watkins yang memprediksi:

“Dengan pertumbuhannya saat ini, volume transaksi Uniswap V3 dapat melewati volume Uniswap V2 pada akhir tahun. Hal yang mencengangkan dari Uniswap V3 adalah modalnya yang relatif jauh lebih kecil namun pertumbuhannya yang lebih cepat dari V2.”

Saat ini mayoritas DeX sedang mendapatkan sentimen positif terutama dengan ketetarikan terhadap crypto dan blockchain yang semakin mendalam.

Persaingan DeX

SushiSwap, yang saat ini berada di peringkat ketiga pada DeX di Blockchain Ethereum dengan jumlah transaksi per minggu berada di $5,6 Miliar atau Rp80,6 Triliun.

Dalam jumlah yang terkunci atau TVL, saat ini SushiSwap juga masih kalah dengan Uniswap dimana TVL nya berada hampir 50% di bawahnya.

Walau saat ini kondisi pasar sedang turun, persaingan ini juga tetap ketat akibat persaingan volumenya yang relatif mirip dengan kondisi pasar saat baik.

Ryan Watkins menyatakan bahwa Uniswap V3 telah mencapai sekitar 81% dari keseluruhan volume transaksi pada Uniswap V2.

Kondisi ini sangat menakjubkan akibat jumlah TVLnya yang berada 15% di bawah V2 namun dengan pertumbuhan yang lebih cepat.

Ia menambahkan saat ini Uniswap V3 memiliki penggunaan TVL untuk likuiditas lebih dari V2.

Penggunaan tersebut adalah sekitar lima kali lipat lebih banyak, menandakan lebih banyaknya volume.

Baca Juga: Menilik Bitcoin Secara Teknikal, Bagaimana Pergerakan Selanjutnya?

Setelah peluncurannya, Uniswap V3 diberikan gelar sebagai ‘Uniflop’. Flop sendiri berarti adalah kegagalan menurut bahasa tidak baku di Bahasa Inggris.

Hal tersebut disebabkan banyaknya kerumitan dalam sisi operasional dan biaya transaksinya yang diprediksi lebih tinggi dari V2.

Platform tersebut terlihat telah berhasil meninggalkan gelar tersebut akibat banyaknya perkembangan yang cukup pesat.

Kesuksesan ini telah berhasil membawa pangsa pasar dari Uniswap menuju 61% dibandingkan DeX pada Ethereum lainnya.

Nampaknya Uniswap masih terus berjaya. Jika biaya transaksi Ethereum mulai turun, Uniswap dapat terus unggul meninggalkan Pancakeswap.

sumber.





Sumber : news.tokocrypto.com

Bank of China: Yuan Digital Tidak Akan Menyebabkan Inflasi

Pengujian mata uang digital yang secara tertutup dilakukan oleh Bank of China, menyebabkan rasa penasaran yang luar biasa pada masyarakat Tiongkok. Baru-baru ini, bank memberi tanggapan secara resmi mengenai Yuan digital yang akan segera rilis dan bagaimana cara kerjanya.
19 April 2020 lalu, Seorang perwakilan bank mengonfirmasi hal tersebut dalam saluran China Central Television, uji coba mata uang digital baru (atau yang disebut DC/EP “Digital Currency/Electronic Payment”) telah dilakukan di kota-kota Shenzhen, Suzhou, Xiongan Area Baru, Chengdu, dan situs Olimpiade Musim Dingin yang akan datang.Namun, para peneliti tersebut menekankan pengujian ini belum mengisyaratkan peluncuran resmi untuk penggunaan publik. Perwakilan tersebut juga menambahkan:

“Pengujian secara tertutup pada Yuan digital ini tidak akan memengaruhi operasi komersial dari institusi yang terdaftar, dan juga tidak akan memengaruhi sistem penerbitan dan sirkulasi RMB, pasar keuangan, serta ekonomi sosial di luar lingkungan pengujian”

Untuk memastikan mata uang digital bank sentral tersebut tidak oversold, lembaga komersial akan membayar cadangan 100% ke bank sentral. Dengan kata lain, pada saat penerbitan nanti, People’s Bank of China yang akan pertama menukar mata uang digital dengan bank atau agen operasi lainnya. Agen-agen ini kemudian akan merilis mata uang digital ke dalam sirkulasi publik.

Baca juga: Terungkap, Dompet Digital Bank Sentral China Segera Rilis?

Desain Teknis dan Karakteristik Utama Yuan Digital

Bank telah menyelesaikan desain pada lapisan atas, dengan mata uang digital mengadopsi arsitektur dua-lapis (two-layer) dan sistem pengiriman dua-tingkat (two-tier).

Jika fungsi pembayaran perbankan online dan platform pembayaran turun karena sinyal jaringan yang buruk, teknologi DC/EP ini akan masuk ke dual offline dan memastikan yuan digital akan tetap bekerja secara efektif sama seperti kertas Yuan. Bank of China menjelaskan:

“Ketika tidak ada jaringan, selama dua ponsel yang dilengkapi dengan dompet digital DC/EP digunakan, fungsi transfer atau pembayaran tetap dapat direalisasikan. ”

Menurutnya juga, mata uang digital versi Tiongkok ini tidak terikat dengan rekening bank mana pun. Mereka juga mengklaim, hal ini bebas dari kendali sistem perbankan tradisional.

Tidak seperti cryptocurrency lainnya, Yuan digital diluncurkan oleh Bank Sentral Tiongkok dan didukung oleh kredit negara. Ini mirip dengan versi elektronik renminbi, mata uang resmi Republik Rakyat Tiongkok.

Lebih lanjut, mereka menegaskan, dibandingkan dengan Bitcoin, mata uang digital baru ini akan memiliki stabilitas inheren yang lebih besar. Pengujian mata uang digital bank sentral Tiongkok ini adalah bagian dari skema subsidi transportasi untuk pemerintah daerah dan pekerja perusahaan.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Menilik Bitcoin Secara Teknikal, Bagaimana Pergerakan Selanjutnya?

Penurunan harga Bitcoin (BTC) pekan ini membuat pasar cryptocurrency berantakan. Harga BTC yang terkoreksi cukup besar membuat sejumlah altcoin terdampak. Penurunan harga BTC terlihat sejak tanggal 10 Mei hingga 19 Mei 2021, sebesar 49%.

Secara fundamental ada beberapa faktor yang menyebabkan penurunan harga BTC secara ekstrim ini. Diantaranya adalah efek cuitan dari Elon Musk yang mengisyaratkan dirinya akan berfokus meningkatkan efisiensi transaksi dengan DOGE dan menangguhkan pembelian Tesla menggunakan Bitcoin.

Selain efek dari Elon Musk, tak lama ini muncul berita bahwa asosiasi perdagangan China melarang aktivitas perdagangan cryptocurrency, hal tersebut serentak direspon oleh penurunan pergerakan harga BTC.

Meski begitu, banyak spekulasi yang bermunculan bahwa Elon Musk bersama Tesla yang notabene mereka adalah salah satu investor besar pada Bitcoin melakukan aksi jual atau take profit sehingga menyebabkan harga BTC anjlok.

Namun, hal tersebut dibantah oleh Elon Musk melalui akun Twitter nya. Elon menegaskan bahwa dirinya dan Tesla belum menjual aset BTC mereka.

Baca Juga: Cuitan Elon Musk Bikin US$ 98 Juta “Menguap” dari Bitcoin

Isu tersebut menjadi perhatian untuk beberapa big holder BTC lainnya, seperti Michael J. Saylor selaku co-founder dari perusahaan MicroStrategy yang membuat pernyataan bahwa dia bersama MicroStrategy belum menjual aset Bitcoin mereka.

Pernyataan dari dua tokoh dunia tersebut mendapat respon yang variatif dari kalangan  dunia cryptocurrency, ada yang menanggapi secara positif dan negatif.

Untuk yang menanggapi secara positif, beranggapan bahwa dengan adanya pernyataan dari dua tokoh tersebut membuat tingkat kepercayaan dunia akan pergerakan harga BTC akan kembali Bullish. Kalangan ini juga percaya BTC akan menyentuh angka $100,000, sehingga kembali memunculkan minat untuk kembali membeli Bitcoin, setelah massive selling beberapa waktu lalu.

Untuk yang menanggapi secara negatif,  dengan adanya pernyataan dari dua tokoh tersebut, malah meningkatkan ketakutan para BTC Holder lainnya.

Karena mereka berpikiran bahwa dengan adanya pernyataan dari dua tokoh tersebut belum melakukan aksi ambil untung atau take profit dengan menjual aset BTC mereka, harga BTC sudah turun begitu dalam. Apa yang terjadi apabila para holder BTC yang besar seperti mereka melakukan aksi ambil untung dengan menjual aset Bitcoin nya.

Baca Juga: Hanya dengan Duduk Manis Bisa Dapat TKO Gratis

Teknikal Analisis

Setelah mengalami penurunan yang ekstrim pada tanggal 19 Mei 2021 lalu, pergerakan harga Bitcoin (BTC) berusaha untuk melakukan pullback. Terlihat saat artikel ini dibuat pada tanggal 21 Mei 2021 pukul 10.36 WIB, laju pergerakan BTC sudah mengalami kenaikan sebesar 36% dari penurunan harga pada tanggal 19 Mei 2021.Pada chart Bitcoin/USDT time frame 1 hari, market Binance, pergerakan harga BTC masih dalam laju koreksinya.

Saat ini pergerakan harga BTC sedang mencoba untuk masuk ke dalam supply area terdekatnya yaitu pada area harga US$42,842-US$45,675. Pada saat laju harga BTC sudah memasuki area ini, ada 2 kemungkinan untuk menentukan pergerakan arah harga BTC kedepannya, yaitu adanya rejection dan breakout.

1. Rejection

Apabila pada saat memasuki supply area, pergerakan harga BTC mengalami rejection, maka pergerakan harga BTC akan mengalami koreksi kembali dan kembali ke area harga US$37,000-US$39,000.

2. Breakout

Apabila pada saat memasuki supply area, pergerakan harga BTC mengalami breakout atau dapat menembus resistance nya, maka pergerakan harga BTC berpotensi akan terus naik hingga mencapai harga US$49,962.

 

Disclaimer:

Perdagangan atau investasi digital asset atau mata uang kripto (Bitcoin, Ethereum, dll) merupakan aktivitas beresiko tinggi. Sebelum memutuskan untuk mulai berinvestasi ketahui dulu resikonya. Perdagangan Digital Asset sebaiknya dilakukan pada platform exchange yang terdaftar di Bappebti.

Kami tidak memaksa Anda untuk membeli atau menjual aset digital ini, sebagai investasi, atau aksi mencari keuntungan. Pahami dulu lebih dalam sebelum memutuskan berinvestasi mata uang kripto.

Semua informasi di Portalkripto bukan bersifat financial advisor. Kami hanya mengiformasikan keadaan pasar atau keadaan ekonomi dan situasi global yang berkaitan dengan mata uang kripto beserta ekosistemnya.

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

Maling…! Rp387 Miliar Pun Berpindah Tangan

Naas bagi sejumlah pengguna platform keuangan aset kripto ini. Akibat kelemahan sistemnya, maling dunia maya sukses mencuri token digital imBTC senilai US$25 juta atau setara dengan Rp387 miliar.
Platform keuangan itu bernama Lendf.me yang dikelola oleh perusahaan dForce asal Tiongkok. Mindao Yang, Pendiri DForce mengklaim kejadian itu sebagai sebuah “aksi peretasan” yang terjadi pada 19 April 2020 lalu, beberapa hari setelah Multicoin Capital, perusahaan asal Texas menanamkan dana investasi di dForce.

Satu hari sebelumnya, 18 April 2020 peretasan bermodus serupa terjadi di platform sekelas, yakni Uniswap. Dalam kasus Uniswap, token imBTC yang melayang antara US$300,000-1,1 juta.

Walaupun Uniswap tidak dikelola oleh dForce, namun diketahui bahwa Uniswap juga memanfaatkan protokol yang sama dengan di platform Lendf.me.

“Kami akhirnya mengetahui, bahwa peretas memanfaatkan kerentanan dalam standar ERC777 dari token imBTC dengan melakukan serangan ‘reentrancy‘. Mekanisme ‘panggilan balik’ itu memungkinkan peretas untuk menyetor dan menarik imBTC berulang kali sebelum saldo diperbarui. Kajian teknis soal itu disajikan oleh PeckShield,” kata Mindao akun dForce di Medium hari ini, Senin (20 April 2020).

Mindao mengakui serangan itu terjadi karena kelalaian dirinya sebagai pemimpin perusahaan.

“Saya seharusnya mengantisipasi dan mengambil tindakan untuk mencegahnya. Serangan ini tidak hanya merugikan pengguna kami, mitra kami dan rekan pendiri saya, tetapi juga saya pribadi. Aset saya juga dicuri dalam serangan itu,” katanya dengan nada menyesal.

Karenanya pihak perusahaan sudah mengambil langkah hukum dengan menghubungi pihak berwenang dan siap diselidiki. dForce juga sudah menghubungi sejumlah bursa aset kripto agar memblokir address aset kripto milik peretas, seandainya dedemit maya itu hendak menjual hasil curiannya.

PeckShield menyebutkan, bahwa serangan itu terjadi terkait dengan token imBTC. Nilai token yang dibuat di blockchain Ethereum itu 1 banding 1 terhadap nilai Bitcoin (BTC). Token itulah yang dijadikan jaminan (collateral) oleh pengguna di platform Lendf.me. imBTC sendiri dibuat oleh Perusahaan Tokenlon, yang juga sedang menyelidiki kasus ini.

“Secara teknis, logika utama di balik dua insiden itu adalah ketidakcocokan antara ERC777 pada token imBTC dan smart contract yang dibuat oleh perusahaan itu di platform keuangannya. Ini yang mungkin disalahgunakan oleh peretas untuk benar-benar membajak transaksi normal dan melakukan operasi ilegal tambahan,” jelas PeckShield hari ini melalui Medium. [red]



Sumber : news.tokocrypto.com

Hanya dengan Duduk Manis Bisa Dapat TKO Gratis

Saat ini, kondisi market kripto sedang mengalami koreksi. Harga bitcoin sendiri sebagai mother of crypto mengalami penurunan hingga -9,50%. 

Memang, aset kripto memiliki volatilitas dan fluktuasi yang cukup tinggi. Tergolong sebagai sarana investasi baru, market aset kripto pun belum sepenuhnya terbentuk sehingga memiliki sentimen terhadap isu-isu yang dikaitkan dengan aset itu sendiri. 

Baca Juga: Bitcoin dan Sejumlah Altcoin Mulai Pullback, Akankah Segera Normal?

Dalam masa koreksi ini tidak sedikit investor yang panik dan melakukan cut loss, namun momen ini banyak dimanfaatkan bagi sebagian besar investor untuk mengakumulasi kepemilikan aset kriptonya, atau dengan kata lain menjadikan kesempatan “diskon besar-besaran” ini untuk menambah jumlah investasinya di aset kripto. 

kegiatan minim usaha dengan keuntungan maksimal adalah idolah setiap orang. Walaupun dalam kondisi pasar ini, para investor khususnya user Tokocrypto memiliki kesempatan untuk mendapatkan TKO gratis. 

Total hadiah 72.000 TKO dibagi-bagikan oleh Tokocrypto dan bisa diperoleh dengan hanya menyelesaikan misi tertentu tiap harinya. 

Baca selengkapnya disini dan dapatkan TKO gratis, tiap hari! 



Sumber : news.tokocrypto.com

Stock to Flow: Satu Tahun Setelah Halving Bitcoin Diprediksi Berharga $23.000

Jika melihat sejarah Halving, harga Bitcoin akan naik berbulan-bulan sesudahnya. Mengacu pada model ini maka dalam rentang waktu 6 bulan setelah Halving yakni bulan November, harga Bitcoin akan menyentuh 10.889 dan akan mengalami penurunan tajam di 14 November menjadi 7.535.

Namun Bitcoin terus akan mengalami kenaikan dan penurunan harga sebelum akhirnya pada bulan Mei 2021 tepat satu tahun sesudah halving ketiga harga Bitcoin akan bernilai 23.001,38. Harga ini jika benar maka akan memecahkan rekor harga tertinggi Bitcoin sebesar 20.000 yang terjadi pada 2017.  Kemudian jika melihat grafik di bawah ini, maka Bitcoin akan berhasil menyentuh lebih dari 100.000 pada November 2021.

PlanB Merespon Prediksi Harga Bitcoin Sesudah Halving

PlanB analis yang membuat model ini pun berpendapat soal kenaikan harga Bitcoin karena halving dalam serangkaian tweet yang diunggah pada 16 April lalu. Menurutnya reward block halving akan menjadi momen penentu layaknya hidup dan mati.

“(Menurut pendapat saya) #bitcoin 2020 halving seperti tahun 2012 & 2016. Sesuai dengan model S2F saya mengharapkan harga 10x (urutan besarnya, tidak tepat) 1-2 tahun setelah  peristiwa halving, tulisnya.

Ia kembali menambahkan, “ halving akan membuat atau mengistirahatkan model  S2F. Saya berharap halving ini akan mengajarkan kita lebih banyak tentang dasar-dasar dan efek jaringan yang mendasarinya.

Baca juga: Pencarian Bitcoin Halving di Google Meningkat Signifikan

Namun prediksi ini tentu sangat tentatif, mengingat tengah terjadi krisis global yang sempat membuat harga Bitcoin terpengaruh. Padahal sebelumnya Bitcoin diklaim sebagai safe haven asset. PlanB pun merespon krisis ini. Ia menyoroti Dow Jones, bahwa korelasi saat ini adalah hasil dari krisis virus Covid-19 yang lebih luas dan bukan hal permanen bagi Bitcoin.

“Selama krisis semuanya berkorelasi. Apa selanjutnya yang menarik. Mereka tidak akan dikorelasikan selamanya (menurut saya), “

PlanB pun bahkan berjanji jika ia akan membuang model Stock to Flow jika gagal memenuhi apa yang direncanakan. Dilansir dari Cointelegraph, beberapa tokoh cryptocurrency terkenal pun mengkritik model ini untuk Bitcoin karena dianggap terlalu optimis.

Oleh karena itu sebaiknya model ini bukan dijadikan acuan utama untuk memprediksi harga Bitcoin di masa mendatang, model ini tampak ilmiah tetapi sebetulnya tidak ilmiah itu karena baru menggunakan dua data halving sebelumnya, data yang termasuk kecil untuk membuktikan model ini bisa dipercaya apalagi masih banyak hal yang perlu dipelajari dari Bitcoin dan bagaimana aset kripto itu terus berkembang di tengah ekonomi global yang dinamis.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Ini Kemungkinan Alasan FUD Cina Membuat Koreksi Besar

Saat ini mayoritas crypto sedang mengalami koreksi yang cukup besar dengan Bitcoin yang memimpin koreksi sekitar 53% dari harga tertinggi.

Selain itu, dominasi Bitcoin juga mulai naik kembali ke sekitar 45% yang membuat tekanan signifikan untuk altcoins yang kehilangan dominasi dan apresiasinya.

Kabar Negatif dari Cina

Pergerakan depresiasi signifikan ini terjadi setelah adanya kabar negatif dari Cina yang kembali mendorong berita pelarangan perdagangan crypto.

Walau secara realita crypto sudah selalu memiliki narasi terlarang di Cina sejak 2019 bahkan sejak 2017, saat ini narasinya mulai muncul kembali.

Baca Juga: Cara-cara Menghindari Kerugian dari FUD di Pasar Crypto

Namun saat ini narasi FUD ini muncul kembali dengan pernyataan bahwa pemerintah melarang perusahaan keuangan untuk memberi jasa crypto.

Jasa yang dimaksud adalah pemberitan jasa perdagangan, penyimpanan, peminjaman dan penyelesaian, serta jasa pengelolaan dan alat pembayaran dengan crypto.

Pernyataan yang tertera pada laporan tersebut adalah,

“Anggota Institusi keuangan dan jasa pembayaran tidak diperbolehkan untuk memberikan jasa terkait mata uang virtual atau menawarkan secara langsung dan tidak langsung jasa terkait crypto. Jasa tersebut adalah seluruh hal terkait crypto untuk pelanggan termasuk, perdagangan, penitipan, penyimpanan, penyelesaian, penerimaan sebagai alat tukar, dan menukarkan crypto ke RMB (mata uang Cina Renminbi).”

Akibat kabar ini nampaknya pasar crypto menganggapnya sebagai hal yang negatif dan membuat cukup tingginya tekanan jual yang telah terjadi.

Dominasi Cina di Crypto

Kemungkinan besar besarnya dampak ini terjadi akibat besarnya peran Cina dalam keseluruhan pasar crypto.

Salah satu bukti nyatanya adalah dominasi penambangan Cina yang menurut data yang dipublikasi Tahun 2021,  dominasi Cina adalah 64,08%.

Melihat besarnya peran Cina, kabar tersebut memiliki dampak yang besar yang kemungkinan disandingkan dengan data Glassnode, tekanan jual mayoritas dapat berasal dari Cina.

Selain itu, nampaknya jika melihat dari data Glassnode tersebut, tekanan jual ini disebabkan kepanikan yang Berkelanjutan oleh investor baru.

Jika melihat pada alamat wallet investor Bitcoin dalam jumlah besar, tekanan jual relatif sedikit, bahkan saat koreksi terjadi terdapat pembelian Bitcoin.

Melihat masih besarnya dampak Bitcoin untuk investasi crypto akibat dominasinya, contoh yang terbaik untuk mencerminkan kondisi adalah data Bitcoin.

Namun kabar ini juga dapat dijadikan sebagai potensi kabar positif, dimana seperti yang diketahui saat ini juga terjadi perang dominasi antara Cina dengan beberapa Negara seperti Amerika.

Baca Juga: Bitcoin dan Sejumlah Altcoin Mulai Pullback, Akankah Segera Normal?

Dengan menurunnya dukungan, kemungkinan dominasi akan berkurang, namun hal ini dapat menjadi kabar baik.

Penurunan ini dapat membuka pemerataan sehingga tidak terjadi dominasi di satu negara yang dapat membuatnya lebih terdesentralisasi.

Terutama dengan adanya penambang dari negara-negara skandinavia yang menggunakan energi ramah lingkungan, sehingga dapat berdampak positif.

FUD Lama Diangkat Kembali, Jadi Tenang Aja!

Sayangnya kabar ini bukan sebuah kabar baru namun kabar lama yang diangkat kembali dan menciptakan kekhawatiran terutama pada investor baru.

Hal ini disebabkan kabar pelarangan bahkan sebelumnya sudah pernah dibahas di 2017 dan 2019 dimana di 2019 terdapat beberapa negara lain seperti India yang melakukan hal yang sama.

Namun kenyataannya, kondisi pasar crypto setelah FUD itu dapat terus bergerak naik, dan meninggalkan kabar negatif.

Kebetulan, kabar negatif ini terjadi bersama pergerakan siklus teknikal yang membutuhkan kabar negatif namun belum menemukan.

Saat ini akhirnya penyebab koreksi ditemukan dan kebetulan memiliki penyebab yang sama yaitu FUD dari Cina.

Sebagai contoh, dapat dilihat bahwa Bitcoin baru saja bergerak keluar dari pergerakan apresiasi atau breakout.

Sehingga, secara teori teknikal, pergerakan tersebut membutuhkan retest atau pengujian kembali sebelum naik lebih tinggi.

Grafik Mingguan BTCUSD

Dapat dilihat kemungkinan besar batas bawah atau support yang kuat masih berada di sekitar Rp443 Juta hingga Rp446 Juta.

Jika setelah itu mengalami apresiasi, kemungkinan besar tujuannya dapat melebih harga tertinggi baru terakhirnya.

Perlu diingat juga harga saat ini berada di daerah harga tertinggi Januari 2021 atau awal tahun ini. Sehingga tidak perlu khawatir yang berlebihan.

Selain itu, melihat siklus halving 2016, apresiasi signifikan terjadi pada 2017 dan depresiasi terjadi pada 2018 dengan pergerakan naik perlahan di 2019 hingga 2020.

Jika mengalami hal yang sama, pasar apresiasi atau bull market dapat terus berlangsung hingga akhir 2021. Apresiasi normal kemungkinan juga akan terjadi pada 2023 hingga 2024 setelah koreksi.

Jadi, jika niatnya untuk investasi jangka panjang maka volatilitas saat ini tidak perlu dijadikan sebuah kekhawatiran.

Hal ini terutama jika percaya dengan fundamental crypto dan telah mempelajari sebelum investasi.

Jika percaya terhadap fundamental crypto dan kegunaannya dalam dunia keuangan, kondisi saat ini seharusnya dijadikan kesempatan membeli, seperti yang dilakukan investor besar menurut data.

Disclaimer

Namun sebelum membeli jangan lupa untuk selalu menggunakan dana yang rela untuk hilang dan lakukan analisis secara pribadi dan secara dalam.

Perlu diingat kembali bahwa artikel ini merupakan analisis pribadi penulis dan bukan ajakan atau saran untuk trading.

Selalu lakukan analisis pribadi dan selalu berpegang pada rencana manajemen investasi atau trading pribadi dan jangan hanya mengikuti orang lain tanpa analisis pribadi.

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

Begini Cara Fed Mendorong Bitcoin All-Time-High di 2021

Federal Reserve AS atau yang sering disebut “The Fed” bisa menjadi dalang yang tidak terduga dari dorongan harga pada Bitcoin dalam beberapa bulan dan tahun yang akan datang.

Meskipun bank sentral AS tersebut, dalam tindakannya terhadap penyelamatan pasar ekuitas AS dari krisis penuh, mungkin tidak secara langsung membantu memasangkan tolak ukur pada industri cryptocurrency, para analis mencatat rebound All-Time-High baru bisa terjadi setelah 2021.

Jika tolak ukur tersebut menangkap harga all-time-high akan terjadi tahun depan, hal itu akan menjadi kejadian yang sangat bullish untuk Bitcoin meski masih memegang status sebagai aset berisiko besar.

Pasar Ekuitas AS Menunjukan Tanda-Tanda Kekuatannya Terhadap Gejolak Ekonomi

Pasar saham bertahan cukup baik terhadapt pandemi Covid-19 yang telah membuat ekonomi global menjadi macet.

Saat ini, S&P 500 diperdagangkan di bawah 12% dari jumlah awal mula tahun ini, dengan catatan terdapat rebound 10% sepanjang bulan lalu.

Kekuatan S&P 500 merupakan simbol dari seluruh pasar dan bahkan pernah memimpin outlier yang lebih kecil pada pasar seperti crypto untuk bisa rebound, dengan kenaikan Bitcoin dari posisi terendah pada pertengahan Maret lalu di $ 3.800 ke posisi tertunggi di $ 7.500.

Amazon, salahs atu perusahaan terbesar di dunia bahkan mampu melakukan rally ke all-time-high pada 15 April kemarin.

Baca juga: CEO Ballet Crypto Prediksi All Time High Bitcoin di 2020

Kinerja tersebut bahkan saat terjadi lonjakan jumlah pengangguran yang belum pernah terjadi sebelumnya benar-benar mengejutkan sejumlah investor, tetapi dibalik itu, seorang ekonom mencatat dalam sebuah cuitan baru-baru ini bahwa penting untuk memisahkan pengangguran yang berada pada satu titik waktu dari pasar keuangan. Ini merupakan upaya dalam penentuan harga sekarang dan masa depan.

“Jumlah pengangguran menggambarkan satu titik waktu, sementara pasar keuangan melalaikan mekanisme dalam penentuan harga sekarang dan mendatang. Jumlah tersebut merupakan data, sementara harga didorong oleh emosi persepsi, dan variable lainnya.”

Bitcoin Dapat Mengalami Kenaikan Berdasarkan Tindakan The Fed Pada Dukungan Pasar

Kekuatan ini sebagian berasal dari suntikan likuiditas besar-besaran yang dilakukan The Fed untuk mendorong perekonomian.

Seorang analis populer bahkan menegaskan tindakan ini akan membuat pasar saham dapat menetapkan all-time-high baru segera setelah tahun 2021.

“Mungkin saya akan terkejut untuk saat-saat ini mengingat semua tindakan yang dilakukan the Fed dapat merusak struktur pasar kembali. Apakah grafik akan membentuk huruf V? tidak , tapi saya pikir hal ini tidak akan menggerakan pasar. Saya rasa kita sedang melihat sesuatu yang akan menggambarkan All-Time-High baru di tahun 2021”, ujarnya terkait grafik di atas.

Jika kemungkinan ini dimainkan, maka Bitcoin akan sangat bullish. Hal ini disebabkan karena crypto telah membangun korelasi yang mencolok dengan pasar tradisional lain selama beberapa bulan terakhir.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com