Category Archives: Tokocrypto

Bitcoin dan Sejumlah Altcoin Mulai Pullback, Akankah Segera Normal?

Bitcoin pada perdagangan Rabu, 19 Mei 2021, mengalami kekacauan cukup besar dalam satu tahun terakhir. Di mana koin paling berpengaruh ini turun lebih dari 8% dalam 24 jam, dan menginjak mayor koreksinya di harga US$ 37 ribu.

Tren bearish BTC ini menjalar ke sejumlah altcoin bervolume besar. Sejumlah altcoin dalam 24 jam terakhir mengalami penurunan rata-rata 30%. Ethereum (ETH) yang sebelumnya telah mencetak harga tertinggi baru, harus terjun 16,52% kembali ke harga US$ 2800.

Namun, saat penulisan laporan ini dilakukan, grafik BTC menunjukan pullback atau mulai menarik diri dari mayor koreksi di harga US$ 37 ribu. Berdasarkan Coinmarketcap, harga BTC kini mulai pullback ke harga US$ 40 ribu.

Baca Juga: Prediksi Titik Terdalam Harga Bitcoin, Hold atau Serok?

Selain itu, dominasi BTC pun mengalami kenaikan. Yang sebelumnya berada di ambang 39%, kini mulai naik ke 42%.

Hal tersebut membuktikan, adanya pembelian yang cukup signifikan disaat BTC lunglai di harga US$37 ribu. Peningkatan dominasi BTC dalam kurang dari sehari ini bisa menjadi sinyal baik bagi pergerakan selanjutnya.

 

Berdasarkan analisa tim Portalkripto, pada 17 Mei lalu, mayor koreksi BTC berada di harga US$ 37 ribu-US$ 30 ribu. Harga tersebut pun masuk dalam demand area. Di mana investor mulai menyerok kembali di rentang harga US$ 37 ribu-US$ 30 ribu.

Apabila pada penutupan pasar hari ini, sekitar pukul 07.00 WIB, harga BTC menembus US$ 43 ribu, bisa jadi akan melanjutkan resistensinya dan mulai breakout ke harga US$ 46-US$ 49 ribu kembali.

Baca Juga: Tidur Panjang tapi Rejeki tidak Dipatok Ayam? Ini caranya!

Perdagangan atau investasi digital asset atau mata uang kripto (Bitcoin, Ethereum, dll) merupakan aktivitas beresiko tinggi. Sebelum memutuskan untuk mulai berinvestasi ketahui dulu resikonya. Perdagangan Digital Asset sebaiknya dilakukan pada platform exchange yang terdaftar di Bappebti.

Kami tidak memaksa Anda untuk membeli atau menjual aset digital ini, sebagai investasi, atau aksi mencari keuntungan. Pahami dulu lebih dalam sebelum memutuskan berinvestasi mata uang kripto.

Semua informasi di Portalkripto bukan bersifat financial advisor. Kami hanya menginformasikan keadaan pasar atau keadaan ekonomi dan situasi global yang berkaitan dengan mata uang kripto beserta ekosistemnya.

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

Tanda Tangan Petisi “Bebaskan Siti Fadilah Supari” Hilang, Blockchain Jadi Solusi

Menurut pencetus petisi itu, Jandi Satrio Wibowo, sekitar 40 ribu tanda tangan menghilang begitu saja pada Sabtu, 16 April 2020 pagi, menjadi hanya sekitar 8 ribu. Padahal, pada Jumat, 17 April 2020, tanda tangan sudah hampir mencapai 50 ribu, kata Jandi seperti yang dilansir dari Vivanews.com. Petisi dibuat sejak 30 Maret 2020 lalu, bersama pencetus lain, yakni dr. Nyoman Kusuma.

Berdasarkan penelusuran Blockchainmedia.id, petang hari ini, Minggu (19 April 2020), jumlah tanda tangan naik kembali menjadi sekitar 15 ribu.

Jandi mengatakan kepada Vivanews, saat ini pihaknya sedang berusaha mengajak para simpatisan yang telah menandatangani secara online petisi tersebut untuk kembali mengakses petisi. Hal ini mereka lakukan sembari mencari solusi dan alternatif mengumpulkan dukungan yang lebih secured ke depannya.

Blockchain sebagai Solusi
Menanggapi peristiwa itu, Wisnu Uriawan peneliti blockchain asal Indonesia di pusat penelitian LIRIS, Perancis, mengatakan, bahwa teknologi blockchain bisa sebagai solusi alternatif untuk sistem petisi seperti itu.

“Mengingat teknologi blockchain bersifat irreversible, maka setiap tanda tangan (vote) bersifat permanent (kekal), tidak dapat ditarik kembali alias tidak dapat dihapus, sekalipun oleh pengelola platform petisi. Inilah yang mengukuhkan tingkat kepercayaan dalam petisi,” jelasnya kepada Blockchainmedia hari ini.

Perangkat untuk membuat petisi berbasis blockchain pun tersedia saat ini, tinggal mengembangkannya saja. Contoh percobaan terbaik adalah oleh Partai Demokrat Thailand yang menggunakan blockchain Zcoin untuk memilih ketua umum pada beberapa tahun lalu.

“Partai itu mengandalkan teknologi blockchain Zcoin untuk memilih pemimpin baru partai, selama 1-9 November 2018. Lebih dari 120 ribu suara dikumpulkan,” jelas Wisnu.

Sementara itu menurut Danny Baskara, Pendiri Vexanium Foundation, teknologi blockchain Vexanium juga bisa digunakan untuk sistem petisi seperti itu.

“Setiap pembuatan petisi atau referendum, semua vote/tanda tangan bersifat transparan dan tidak bisa diubah. Untuk setiap perubahan fitur di jaringan blockchain saja, kami menggunakan skema e-voting di tubuh blockchain itu sendiri. [red]



Sumber : news.tokocrypto.com

Harga ETH Bisa Naik Gegara Burn Tahun Ini

Faktor meningkatnya harga Ether (ETH) masih sama dengan sebelumnya. Platform Decentralized Finance (DeFi) dan penjualan Non-Fungible token (NFT) yang sedang booming adalah penentu utamanya.

Dua platform tersebut banyak menggunakan blockchain Ethereum. Bahkan, NFT banyak menggunakan ETH proses pembuatan token, termasuk dalam pembeliannya.

Jika dilihat dari awal tahun 2021, kenaikan harga ETH sekitar 6 kali lipat. Semula hanya Rp10 juta dan yang terbaru berada di Rp60 juta.

Kenaikan itu malah lebih tinggi daripada kenaikan Bitcoin, yakni hanya dua kali lipat, dari  Rp400 jutaan menjadi Rp860 jutaan.

Baca Juga: Samsung Kian Sokong Bitcoin Cs

Harga ETH Bisa Naik karena Burn

Walaupun harga ETH terus mencetak rekor baru, harganya kemungkinan besar akan terus naik.

Ada sejumlah faktor, yakni proses hijrahnya Ethereum menjadi Ethereum 2.0. Itu memastikan akan menggunakan sistem Proof-of-Stake.

Blockchain popular itu sedang dalam masa pembenahan. Selain itu, akan ada upgrade EIP-1159 pada pertengahan tahun ini.

Upgrade itu memungkinkan adanya burn alias pemusnahan terhadap pasokan ETH yang beredar.

Artinya unit ETH akan berkurang dan jauh lebih langka daripada sebelumnya. Jika permintaan dan penggunaan ETH terus meningkat di masa depan, maka harganya kemungkinan besar bisa naik terus.

Baca Juga: Analis Ternama Sebut 5 Crypto DeFi Ini Sangat Potensial

Harga ETH di Ethereum 2.0

Berdasarkan penelusuran Blockchainmedia.id, Ethereum menuju Proof-of-Stake prosesnya cukup lama dan sulit dipastikan kapan akan tuntas.

Namun, uji coba dan pembenahan memang sedang terjadi khususnya di layanan Node Validator ETH2.0.

Itu memastikan kelak proses penambangan ETH tak memerlukan energi listrik yang tinggi lagi.

Peserta di Node Validator berperan sama seperti penambangan yang memverifikasi transaksi.

Hanya saja mereka akan mendapatkan imbalan berupa ETH dalam persen secara tahunan.

Masing-masing node validator juga wajib men-stake minimal 32 ETH. Mereka juga harus menjaga node selalu stabil agar transaksi bisa berjalan mulus.

Menjadi node validator juga bukan tanpa risiko. Ketika satu node kedapatan berbuat curang, maka saldo ETH mereka bisa “auto hangus”.

Itu adalah mekanisme punishment agar setiap partisipan di jaringan bersikap lebih bijaksana.

Ethereum 2.0 juga memastikan volume transaksi per detik ratusan kali lipat daripada saat ini.

Hal itu sangat penting, karena transaksi besar akan berjubel di jaringan versi baru itu.



Sumber : news.tokocrypto.com

Transfer Bitcoin 17 Triliun, Biaya Kurang Dari Rp 15Ribu

Transaksi Bitcoin terbesar dalam nilai dollar AS hanya menghabiskan biaya sekitar satu sen atau jika di Rupiahkan hanya berada di sekitar Rp 1.500.

Transaksi yang dilakukan Jumat, 10 April 2020 lalu berhasil mentransfer sekitar 161.500 Bitcoin atau setara dengan 17 Triliun Rupiah hanya dengan biaya kurang lebih $0.70 atau 10.000 jika dirupiahkan. Transaksi tersebut merupakan transaksi Bitcoin terbesar saat ini dalam nilai total dollar AS.

Transaksi Internal Bitfinex

Transaksi ini pertama kali dilihat oleh pengguna Twitter KRMA_0 dan kemudian dikonfirmasi oleh TheCryptoAssociate. Transaksi ini berhasil diselesaikan hanya dengan biaya 0,00010019 BTC.

Paolo Ardoino, CTO Bitfinex, melalui Twitter pribadinya mengaku bertanggung jawab atas transaksi tersebut. Ia menjelaskan bahwa layanan itu sedang dalam pengisian ulang dompetnya melalui transaksi internal.

Berdasarkan perincian transaksi tersebut memang sebanyak 15.000 BTC dikirim ke dompet digital Bitfinex dan merubah nilai menjadi 146.500 BTC, lalu kemudian dikembalikan ke alamat semula.

Transaksi ini terjadi kurang lebih seminggu setelah layanan custody crypto Xapo berhasil memindahkan sebanyak 100.000 BTC atau sekitar 10 Triliun dalam Rupiah dengan biaya transaksi hanya sekitar Rp 4.000.

Baca juga: Bitcoin Whale Pindahkan $212 Juta dengan Biaya Transaksi $3.93

Transaksi Ini Berhasil Melampaui Nilai Tertinggi Sebelumnya

Dalam kedua kasus tersebut, hanya memakan biaya yang sangat sedikit dibandingkan dengan biaya layanan pengiriman uang tradisional. Misalnya, TransferWise, salah satu perusahaan pengiriman uang tradisional,  memerlukan biaya lebih dari $3.600 atau sekitar Rp 60 Juta hanya untuk mentransfer $1Juta atau sekitar 16 Miliyar dan membutuhkan waktu tiga hari untuk dapat menyelesaikan seluruh transaksi.

Dengan Bitcoin, biaya jelas jauh lebih sedikit dan transaksi dapat diselesaikan dengan instan. Transaksi ini juga tidak memerlukan pemeriksaan identitas atau perantara terpercaya pada saat prosesnya.

Transaksi pada Jumat lalu ini melampaui angka tertinggi sebelumnya dengan nilai $1 Miliar yang tercatat pada bulan September 2019. Namun, jumlah Bitcoin aktual terbesar yang pernah dipindahkan mencapai 500.000 BTC yang terjadi pada November 2011 silam dan hanya bernilai $1,32 Juta pada saat itu.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Analis Ternama Sebut 5 Crypto DeFi Ini Sangat Potensial

Michaël van de Poppe salah satu analis dan trader ternama di dunia keuangan telah memberikan pernyataannya mengenai beberapa crypto yang potensial.

5 Crypto Potensial Michaël van de Poppe

Ia menyatakan bahwa terdapat lima crypto Sektor Decentralized Finance (DeFi) yang memiliki potensi untuk naik lebih tinggi dalam beberapa bulan ke depan.

1. Aave (AAVE)

Dalam salah satu sesi analisisnya ia menjelaskan bahwa salah satu crypto yang menurutnya akan mengalami apresiasi cukup tinggi adalah AAVE.

Ia menyatakan bahwa saat ini AAVE sedang bergerak positif jika melihat dari siklusnya, sehingga terdapat potensi apresiasi.

Saat ini AAVE masih menjadi salah satu platform pinjaman terbaik di Sektor DeFi yang membuat ketenarannya kembali naik.

Baca Juga: Aave Naik 76% Seminggu, Adopsi Institusional Bertambah

Apresiasi dari AAVE sendiri terjadi dengan semakin banyaknya adopsi dan crypto yang tersedia pada platformnya, bersama semakin luasnya ekosistem AAVE.

Selain itu, saat ini AAVE sendiri telah masuk ke ranah Non Fungible Token (NFT) yang saat ini sedang mendapat ketertarikan tinggi.

Menurut Van de poppe AAVE sendiri masih bisa mengalami apresiasi hingga 300% dari harga saat ini.

Pernyataan ini cukup mencengangkan pasar akibat saat ini AAVE sendiri telah terlihat naik lebih dari 2.000% sejak November 2020.

Namun analis tersebut percaya bahwa harganya masih dapat terus naik, terutama dengan semakin

2. Avalanche (AVAX)

Pilihan kedua dari Van de Poppe adalah Avalanche (AVAX) salah satu platform utama untuk menerbitkan aplikasi terdesentralisasi atau DApps.

Perannya sebagai launchpad membuatnya mendapatkan ketertarikan yang cukup tinggi akibat juga dapat berfungsi sebagai tempat penerbitan proyek baru.

Oleh karena itu, saat ini ketertarikan terhadapnya juga semakin meningkat, dengan semakin banyaknya proyek dan inovasi baru di dunia crypto.

Menurut Van de Poppe saat ini adalah awal dari apresiasi setelah mengalami koreksi yang cukup dalam. Ia menyatakan bahwa,

“Saat ini terdapat pergerakan koreksi yang cukup dalam, hingga menuju target posisi pembelian yang cukup baik.”

Target yang dibentuk oleh Van de Poppe adalah apresiasi sekitar 216% yang ia lihat terutama melalui pergerakannya terhadap Bitcoin.

3. Kyber Network (KNC)

Crypto berikutnya adalah Kyber Network yang merupakan penyedia likuiditas dan aggregator untuk menyediakan likuiditas untuk DApps mana pun.

Crypto berbasis Ethereum ini dikabarkan akan mengalami apresiasi sekitar 110% menurut Van de Poppe yang terlihat dari siklusnya. Ia menyatakan,

“Saat ini adalah awal siklus apresiasi untuk KNC, jadi menurut saya pribadi, KN dapat mengalami apresiasi bahkan hingga 110%.”

Saat ini KNC sendiri juga baru saja melakukan migrasi jaringan untuk mempercepat dan meningkatkan kualitasnya sebagai penyedia likuiditas.

Oleh karena itu, dari sisi fundamental kemungkinan besar jika ketertarikannya terus meningkat, target yang disebut oleh Van de Poppe berpotensi tercapai.

4. Curve Finance (CRV)

Menurut Van de Poppe crypto yang berpotensi mengalami apresiasi adalah Curve Finance, salah satu bursa terdesentralisasi atau DeX dengan sistem AMM untuk penjaga likuiditas.

Menurutunya CRV adalah salah satu proyek yang masih “murah” dalam harganya saat ini akibat kegunaannya yang seharusnya dihargai lebih tinggi.

Van de Poppe menyatakan bahwa kemungkinan besar CRV dapat mencapai apresiasi hingga 132% dalam beberapa waktu ke depan.

Ia menyatakan bahwa saat ini apresiasi menjadi sangat mungkin akibat siklus apresiasi ini yang dapat mendorong harganya naik lebih tinggi.

Saat ini CRV juga memiliki proposal yang kemungkinan dapat membuatnya memiliki kecocokan untuk beroperasi secara lintas blockchain.

Oleh karena itu, dengan alasan fundamental tersebut, kemungkinan besar apresiasinya akan terjadi bahkan dapat menuju target Van de Poppe.

5. Yearn Finance (YFI)

Terakhir adalah YFI yang hingga saat ini sedang mendapatkan ketertarikan yang cukup tinggi akibat sisi fundamentalnya.

Yearn Finance yang merupakan sebuah aggregator dan generator untuk yield, yang membuat signifikansinya cukup besar di dunia DeFi, terutama investor yang mencari yield tinggi.

Saat ini Van de Poppe memprediksi bahwa harganya dapat naik hingga 142% walau hingga saat ini sudah mencapai apresiasi hingga 600% lebih hingga saat ini dari November 2020.

Namun walau juga telah mencapai apresiasi hingga harga tertingginya sekitar 800% lebih, apresiasi ini masih sangat mungkin menurut Van de Poppe.

Secara teknikal, Poppe merasa bahwa apresiasi ini masih sangat mungkin, terutama melihat harganya yang juga masih terkesan murah saat ini.

Saat ini juga terdapat kabar terbaru yaitu versi terbaru dari vault atau tempat penyimpanan dananya yang diprediksi dapat membawa sentimen positif untuknya.

Perlu diingat bahwa artikel ini merupakan lansiran dari pernyataan Michaël van de Poppe dan bukan merupakan ajakan atau saran untuk trading atau investasi.

Sangat wajib untuk melakukan analisis pribadi sebelum membeli akibat risiko ditanggung oleh investor dan trader masing-masing.

Baca Juga: Tidur Panjang tapi Rejeki tidak Dipatok Ayam? Ini caranya!

Disclaimer

Perdagangan Digital Asset (Bitcoin, Ethereum, dll) merupakan aktivitas beresiko tinggi, ketahui dan kelola risiko Anda dalam melakukan perdagangan Digital Asset. Perdagangan Digital Asset sebaiknya dilakukan pada platform exchange yang terdaftar di Bappebti.

Kami tidak memaksa pengguna untuk membeli atau menjual Digital Asset, sebagai investasi, atau aksi mencari keuntungan. Semua keputusan perdagangan Digital Asset merupakan keputusan independen oleh pengguna.

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

Nasib Ekonomi Global Setelah Pelonggaran Kuantitatif Tak Terbatas

Beberapa waktu lalu, Bank Sentral Amerika Serikat alias The Fed menelurkan kebijakan Unlimited Quantitative Easing (pelonggaran kuantitatif tak terbatas). Apa dampaknya terhadap ekonomi global dan Indonesia? Berikut wawancara kami dengan Douglas Tan Pendiri BullWhales, Senin (13 April 2020).

Resesi besar mengacu pada penurunan ekonomi dari tahun 2007-2009, setelah pecahnya gelembung perumahan AS dan krisis keuangan global. Resesi besar kala itu adalah yang terparah sejak Great Depression di AS pada tahun 1930-an.

Ketika resesi besar dimulai, The Fed menurunkan target suku bunganya mendekati nol, dan kemudian terpaksa menggunakan alat kebijakan moneter yang tidak konvensional termasuk pelonggaran kuantitatif.

Penting untuk disadari, bahwa pelonggaran kuantitatif adalah tindakan darurat yang digunakan untuk merangsang ekonomi dan mencegahnya jatuh ke dalam spiral deflasi.

Pelonggaran kuantitatif tak terbatas itulah yang memungkinkan The Fed menyuntikkan lebih banyak dolar AS lagi ke dalam pasar guna menyelamatkan ekonominya. Apakah saat ini kita berada di resesi besar?

+ Kebijakan Unlimited Quantitative Easing kali ini lebih masif daripada krisis 2008. Apakah bisa membawa Amerika Serikat ke hyperinflation?
Menurut The Fed, pertumbuhan ekonomi saat ini adalah fungsi dari balance sheet itu (jumlah QE, melalui pembelian aset di market). Padahal fakta di lapangan stock market naik sementara saja. Pelaku pasar juga mempertimbangkan banyak hal di luar sana, kendati likuiditas berhamburan.

BERITA TERKAIT  Kita, Dolar AS dan Bitcoin Itu

+ Dampak kebijakan QE terhadap peningkatan inflasi di AS sendiri kapan akan terasa?
Untuk main street (bisnis kecil dan individual), bantuannya baru digelontorkan oleh The Fed dengan stimulus US$2,3 terakhir, berbarengan dengan Cares Act dari Trump. Namun, tidak semua duit itu dialihkan ke main street.

Nah, terkait hyperinflation, hanya ketika beberapa kebijakan lagi dari The Fed, kemungkinan sampai US$10 triliun. Dan lagi ketika main street sudah bisa bekerja seperti semula, barulah inflasi itu mulai terasa. Diperkirakan 1-2 tahun lagi semenjak Unlimited QE itu diluncurkan.

+ Anda setuju dengan pendapat IMF dan JPMorgan, bahwa sekarang dunia sudah berada di resesi ekonomi global?
Pengertian resesi itu kalau ada perlambatan economic output, dalam hal ini adalah GDP. Ketika orang diminta untuk stay at home, beberapa jenis pengeluaran tidak dapat dilakukan, membatasi spending pada pos-pos tersebut, sehingga konsumsi rumah tangga secara makro akan mengalami penurunan. Sudah jelas ketika membandingkan data Q1 2019 dengan Q1 2020, kontraksi jelas terasa.

BERITA TERKAIT  Mata Uang Digital AS, Shopify dan “Lampu Hijau” untuk Libra

+ Kendati kelak pasar modal di AS rebound, bukankah utang pemerintah juga besar?
Itu dua hal dengan bidang disiplin yang berbeda. Namun Trump dalam beberapa pidato dan tweet-nya jelas menggunakan pasar saham sebagai proksi keberhasilan ekonomi AS.

Menurut data terakhir, pasar saham AS memiliki inflow terbesar dari buyback perusahaan, di mana buyback tersebut didanai oleh utang.

+ Jika pasar modal rebound dan utang pemerintah AS membesar, apakah berpotensi alih kesadaran banyak orang lagi untuk tidak berinvestasi ke saham?
Belum ada kajian khusus mengenai ini. Namun main street jelas harus memenuhi kebutuhan sandang dan pangannya terlebih dahulu. Menurut saya investasi saham masih jadi favorit dibandingkan investasi kelas aset yang lain.

+ Bagaimana nasib ekonomi Indonesia?
Dengan kebijakan Unlimited QE, supply uang di pasaran akan bertambah, entah tepat sasaran atau tidak.

Dengan mudahnya mengakses “sumber uang baru” ini, namun dengan output yang relatif sama bahkan menurun, akan mendorong terciptanya periode inflasi bahkan stagflasi.

QE juga adalah salah satu tools bagi bank sentral guna melakukan intervensi menurunkan kekuatan mata uangnya, agar kembali kompetitif dengan para mitra dagangnya, menyelamatkan nilai ekspor negara, di mana bank sentralnya melakukan kebijakan QE.

Skema ini dikenal dengan nama devaluasi. Ceteris paribus (hal lain diasumsikan sama), rupiah akan terapresiasi, terbukti dengan kebijakan QE terhadap main streetsebesar US$2,3 triliun minggu lalu seiring dengan fasilitas repo line yang baru didapatkan oleh Bank Indonesia, menguatkan nilai rupiah terhadap dolar AS secara sementara.

Hubungannya dengan ekonomi Indonesia, ketika mata uangnya tidak terdepresiasi secara jauh terhadap dolar AS adalah, pembiayaan impor lebih murah, pembiayaan pembayaran utang luar negeri (baik bunga maupun pokok) dalam denominasi lebih murah, serta pembentukan cadangan devisa dolar AS yang lebih solid untuk beberapa masa yang akan datang.

Perlu dicatat bahwa kepastian eksportir dan importir untuk melakukan dagang antar negara sangat erat kaitannya dengan kekuatan rupiah terhadap dolar AS, di mana komponen ekspor impor ini merupakan salah satu pilar dalam perhitungan Produk Domestik Bruto secara makro. [red]



Sumber : news.tokocrypto.com

Ransomware Bitcoin Masih Berpotensi Serang Rumah Sakit

Kendati sudah ada penurunan serangan sejak awal pandemi COVID-19, ransomwareBitcoin masih berpotensi menyerang rumah sakit.

Bill Siegel, CEO Coveware mengatakan dia melihat peningkatan aktivitas serangan ransomware “Mamba”, yang menghindari cara-cara lama yang mengirimkan phising software ke e-mail korban. Pelaku justru langsung menyerang dengan mengenkripsi file di komputer, berkat bantuan software khusus bernama “Jetico”.

“Kami tidak tahu mengapa serangan Mamba akan meningkat saat ini ketika pandemi COVID-19 dan rumah sakit masih berjuang mengatasi itu. Tetapi, saya pribadi berpendapat peretas yang sangat ahli lebih banyak punya waktu melakukan serangan itu dari rumah, bukan dari kantor,” kata Siegel.

Menurut laporan terbaru dari Chainalysis, jumlah serangan ransomware secara global telah menurun secara signifikan sejak COVID019 meningkat pada Maret 2020. Penurunan itu sangat signifikan, mengingat ada kekhawatiran yang berkembang atas dampak serangan ransomware terhadap rumah sakit dan organisasi kesehatan lainnya.

BERITA TERKAIT  Ransomware Bitcoin Ancam Distribusi Obat ke 100 Panti Jompo di Amerika Serikat

Rumah sakit adalah sasaran empuk ransomware. Emsisoft melaporkan, bahwa selama tahun 2019, setidaknya 764 penyedia layanan kesehatan di AS telah diserang. Pada pertengahan Maret, Emsisoft secara terbuka meminta pelakku untuk berhenti menargetkan rumah sakit, karena potensi dampak fatal selama krisis ini.

Kim Grauer, Ekonom Senior Chainalysis mengatakan, bahwa meskipun ada penurunan secara keseluruhan, beberapa rumah sakit mungkin berpotensi masih diserang

“Rumah sakit tampaknya menjadi korban dari beberapa serangan ransomware baru-baru ini, seperti ‘dopplepaymer ‘ dan ‘maze’,” kata Grauer.

Ransomware lazimnya menyerang beberapa komputer lembaga pemerintah, rumah sakit dan perguruan tinggi. Ia mampu mengenkripsi semua file sehingga korban tak bisa mengaksesnya sama sekali. Agar bisa diakses kembali, pelaku menampilkan pesan yang meminta tebusan berupa Bitcoin.

Pada Februari 2020 lalu misalnya, kelompok peretas bernama “Maze” meminta tebusan Bitcoin senilai Rp25,4 miliar. Peretas meminta tebusan 200 BTC. 100 BTC untuk memulihkan akses data. Dan 100 BTC lagi untuk menghapus salinan data yang sudah disebarkan. Dua dari lima kantor pengacara diretas dalam 24 jam menjelang 1 Februari 2020 lalu.

“Peretas juga menerbitkan data yang dicuri di dua situs web. Modusnya adalah Maze menyebut terlebih dahulu perusahaan yang diretas di situs webnya. Jika korban mereka tidak membayar, maka Maze menerbitkan sebagian kecil dari data yang dicuri sebagai bukti. Jika perusahaan membayar, Maze akan menghapus nama perusahaan/korban itu,” kata Callow dari Emsisoft kala itu.

Di bulan yang sama Universitas Maastricht, Belanda, pada Rabu (5 Februari 2020) mengatakan, bahwa pihaknya telah membayar tebusan sebanyak 30 Bitcoin (BTC) atau senilai 200 ribu euro (Rp3 miliar) kepada peretas. Hal itu dilakukan sebagai upaya membuka blokir yang menyerang sistem komputernya pada 24 Desember 2019.

Wakil Presiden Universitas Nick Bos mengatakan universitas telah memutuskan untuk membayar uang tebusan itu, daripada harus membangun kembali sistem teknologi informasi dari awal lagi.

“Serangan itu sangat berdampak buruk bagi aktivitas kami, mulai dari mahasiswa, dosen, peneliti dan staf. Ini sesuatu yang belum kami hadapi sebelumnya,” katanya waktu itu.

Menurut Nick, peretasan itu mungkin terjadi akibat kelalaian seorang staf universitas. Staf itu secara tak sengaja membuka sebuah surat elektronik yang berisi peranti lunak berkemampuan phising. [Cointelegraph/red]



Sumber : news.tokocrypto.com

Tesla Simpan Bitcoin Senilai US$ 184 Juta meski Market Kripto Lesu

Perusahaan kendaraan listrik, Tesla dilaporkan tetap menyimpan Bitcoin (BTC), walaupun market kripto tengah lesu di akhir tahun 2022. Langkah ini menjadi keyakinan perusahaan untuk aset kripto di masa depan.

Dalam laporan pendapatan terbarunya yang dirilis Rabu (25/1), Tesla mengungkapkan pihaknya tidak membeli atau menjual Bitcoin apa pun pada kuartal terakhir tahun 2022.

Produsen mobil listrik itu melaporkan biaya penurunan nilai sebesar US$ 34 juta karena nilai kepemilikan Bitcoin turun menjadi US$ 184 juta dari US$ 218 juta pada kuartal III 2022.

Laporan Keuangan Tesla

Baca juga: Adopsi Kripto Tahun 2022: Jumlah Wallet Bitcoin dan ETH Terus Tumbuh

Secara keseluruhan, Tesla mencatat laba US$ 5,7 miliar dari pendapatan US$ 24,3 miliar untuk kuartal IV dengan margin kotornya berada di level terendah dalam lima kuartal. Perusahaan membukukan laba total US$ 20,8 juta untuk tahun 2022 dari pendapatan US$ 81,4 miliar.

Angka pendapatan meleset dari perkiraan analis tetapi keuntungannya lebih baik dari perkiraan konsensus.

Harga saham Tesla naik sedikit pada saat laporan keluar, ditutup dengan kenaikan hampir 0,40%. Itu terus diperdagangkan secara positif setelah berjam-jam, naik hampir 4,6% pada saat penulisan, menurut Google Finance.

Tesla dan Bitcoin

CEO Tesla, Elon Musk tetap tak jual Bitcoin saat inflasi. Foto: Twitter @Blockworks_.
CEO Tesla, Elon Musk tetap tak jual Bitcoin saat inflasi. Foto: Twitter @Blockworks_.

Baca juga: Alasan Token Kripto Threshold (T) Melonjak 120% Seminggu

Tesla bergabung dengan jajaran perusahaan yang memegang aset kripto, ketika mengungkapkan investasi US$ 1,5 miliar dalam BTC pada Februari 2021, dengan berita mendorong harga BTC ke rekor tertinggi baru pada saat itu. Ini menjadikan Tesla perusahaan publik terbesar kelima dengan Bitcoin di neracanya.

Produsen kendaraan listrik asal AS itu dilaporkan juga mempertahankan BTC-nya hingga kuartal III tahun lalu setelah menjual 75% Bitcoin-nya selama kuartal kedua. Penjualan kuartal II menambahkan US$ 936 juta tunai ke pembukuan Tesla dan perusahaan mendapat untung US$ 64 juta.

CEO Tesla, Elon Musk, menjelaskan pada saat penjualan itu untuk “membuktikan likuiditas Bitcoin sebagai alternatif untuk menyimpan uang tunai di neraca.”

Namun, kepemilikan Bitcoin atau pengambilan Bitcoin tidak dibahas dalam panggilan pendapatan terbaru Tesla. Tesla memegang sekitar 9.720 BTC hingga akhir tahun 2022.



Sumber : news.tokocrypto.com

Terungkap, Dompet Digital Bank Sentral China Segera Rilis?

Beberapa hari lalu muncul sebuah screenshot yang menunjukkan aplikasi dompet digital yang digunakan untuk melakukan pengujian ulang atau retestmata uang digital Bank Sentral China (CBDC). Dompet tersebut mengacu pada dompet miliki Agricultural Bank of China (ABC), salah satu dari empat bank besar di China, yang diketahui terlibat dalam percobaan Yuan Digital atau yang dikenal sebagai DCEP (Digital Currency/Electronic Payment).

Muncul juga, tautan yang mengarah pada situs abchina.com, tetapi situs tersebut kemudian hilang dan tidak dapat diakses sama sekali. Di dalam situs tersebut melampirkan alamat situs WeBank, yang merupakan saudara dari WeChat Pay, yang membuat spekulasi bahwa WeBank ikut berpartisipasi dalam pengujian tersebut.

Baca juga: Bank Sentral China Hampir Siap Luncurkan Digital Yuan

Menurut beberapa laporan, aplikasi ini hanya akan dapat diakses oleh pelanggan dengan daftar eksklusif di empat wilayah Shenzhen, Xiong’an, Chengdu and Suzhou.

Fasilitas yang Ditawarkan

Fitur-fitur pembayaran dalam aplikasi tersebut terlihat mencakup kemampuan dalam melakukan pembayaran ritel dengan memindai sebuah barcode, mengirim uang, membuat pembayaran, dan termasuk layanan pembayaran P2P.

Dalam mengelola dompet digital tersebut, pengguna dapat mengelola dana, menautkan dompet tersebut pada akun lain, dan meninjau semua transaksi.

Sudah empat bulan sejak berita mengenai dompet digital CDBC tersebut pertama kali muncul dan tak lama setelahnya terdapat berita mengenai “pengujian internal”. Ketika berita itu diluncurkan, terdapat pernyataan mengenai persidangan yang akan melibatkan empat bank besar negara, tiga perusahaan telekomunikasi dan Huawei.

Terselip harapan bahwa WeChat Pay milik Tencent ini akan ikut berpartisipasi sebagai salah satu penyedia dompet digital yang dominan dan memiliki unit mata uang digital.

Dua bulan lalu, terdapat laporan lain menguraikan 22 perusahaan yang terlibat dalam proyek ini, termasuk delapan yang disebutkan di atas dan Tencent. Namun, daftar tersebut tidak termasuk AliPay, perusahaan pembayaran digital terbesar di Tiongkok saat ini. Padahal AliPay memiliki banyak paten berkaitan dengan mata uang digital pada bank sentral.

Akan Segera Rilis?

Baru-baru ini, muncul berita yang mengatakan bahwa pengujian mata uang digital ini sudah selesai dan tinggal menunggu perubahan pada undang-undang untuk mata uang digital ini agar dapat terus maju.

Sementara itu, pada minggu lalu, Yao Qian, seorang Direktur di Komisi Regulasi Sekuritas China (CSRC), menuliskan sebuah artikel terkait masalah tersebut dan memberikan pernyataan mengenai alasannya bahwa pada tingkat ritel, harus ada kompetisi dalam distribusi mata uang digital ini, dan blockchain dapat digunakan dalam area tersebut.

Pada negara-negara lain, eksplorasi terkait mata uang digital pada bank sentral juga terus dilanjutkan, meski krisis pandemi Covid-19 ini.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Adopsi Kripto Tahun 2022: Jumlah Wallet Bitcoin dan ETH Terus Tumbuh

Adopsi aset kripto pada tahun 2022 dilaporkan mengalami kenaikan. Indikator kenaikan tersebut dilihat dari jumlah wallet Bitcoin (Bitcoin) dan Ethereum (ETH) mengalami pertumbuhan.

Menurut laporan CoinGecko, Jumlah alamat Bitcoin dan Ethereum dengan setidaknya US$ 1.000 atau sekitar Rp 14 juta tumbuh lebih dari 27%, bahkan saat harga kripto turun pada tahun 2022.

Tercatat pada tahun 2022 lalu, sejumlah harga aset kripto terbesar atau big cap kehilangan lebih dari setengah nilainya di tengah bear market. Harga BTC saja turun 64,2% sepanjang tahun, dari US$ 46.320 pada 1 Januari menjadi US$ 16.604 pada 31 Desember 2022. Selama periode yang sama, ETH mengalami penurunan yang sedikit lebih tinggi sebesar 67,5%, dari US$ 3.686 menjadi US$ 1.199.

Peningkatan Jumlah Wallet

Adopsi kripto tahun 2022: Pemegang Bitcoin dan ETH terus tumbuh. Sumber: CoinGecko.
Adopsi kripto tahun 2022: Pemegang Bitcoin dan ETH terus tumbuh. Sumber: CoinGecko.

Baca juga: Harga Ethereum Ditargetkan Capai US$ 2.000 Setelah Shanghai Upgrade

Terlepas dari situasi market yang buruk, ada peningkatan yang stabil dalam jumlah wallet dengan lebih dari atau sama dengan 0,1 Bitcoin (≥0,1 BTC) dan 1 ETH (≥1 ETH), yang minimal berjumlah US$ 1.000 sepanjang tahun.

Jumlah ≥0,1 wallet BTC naik 27,5% sepanjang tahun, dari 3,40 juta pada 1 Januari, menjadi 4,20 juta pada 31 Desember 2022. Sementara itu, jumlah ≥1 wallet ETH naik 28,1%, dari 1,41 juta menjadi 1,73 juta.

Setiap tiga bulan, jumlah wallet ≥0,1 BTC naik rata-rata sebesar 7,3%, dibandingkan dengan penurunan harga sebesar 25,0%. Demikian pula, jumlah ≥1 wallet ETH naik rata-rata sebesar 7,0%, dibandingkan dengan penurunan harga sebesar 18,7%.

Ini menunjukkan bahwa investor mengumpulkan atau mempertahankan investasi kripto mereka, yang pada gilirannya menandakan kepercayaan pada masa depan industri. Peningkatan walllet juga berpotensi menunjukkan lebih banyak peserta memasuki ruang dan mendorong adopsi aset kripto.

Bitcoin Tetap Primadona

ilustrasi Bitcoin
ilustrasi Bitcoin.

Baca juga: Riset: Nilai Pasar NFT Indonesia Bisa Capai Rp 200 T pada Tahun 2028

Jumlah ≥1 wallet ETH tumbuh sedikit lebih cepat daripada ≥0,1 wallet BTC tahun lalu, dengan selisih 0,6 poin persentase. Namun demikian, Bitcoin terus menjadi aset yang lebih banyak dipegang, mengungguli popularitas Ethereum .

Secara absolut, jumlah ≥0,1 wallet BTC tumbuh sebesar 0,91 juta tahun lalu, lebih dari dua kali lipat 0,38 juta yang diperoleh untuk ≥1 wallet ETH. Pada akhir tahun, jumlah ≥0,1 wallet BTC telah mencapai 4,20 juta, melampaui jumlah ≥1 wallet ETH sebanyak 2,4 kali lipat.

Salah satu alasan yang mungkin adalah bahwa BTC dimaksudkan untuk menjadi ’emas digital’ dan karenanya lebih umum digunakan sebagai penyimpan nilai. Selain itu, BTC memiliki keunggulan penggerak pertama dalam adopsi kripto, sejak Bitcoin dibuat pada tahun 2009 dan mendahului Ethereum selama enam tahun.



Sumber : news.tokocrypto.com