Tag Archives: aset kripto

Intel Luncurkan Chip Alat Tambang Bitcoin Generasi Kedua

Intel mengumumkan peluncuran chip generasi kedua alat tambang Bitcoin bernama Intel Blockscale ASIC. Chip ini fokus kepada efisiensi energi dan keberlanjutan serta beroperasi dengan daya 26 J/TH. Chip ini diklaim lebih hemat daripada pesaingnya.

Chip tersebut bertujuan meningkatkan efisiensi energi penambangan Proof of work (PoW). Intel memakai pengalaman penelitian dan pengembangan selama puluhan tahun di bidang chip.

Bitcoin Magazine melaporkan, Jose Rios, General Manager Solusi Bisnis dan Blockchain Grup Sistem Komputasi dan Grafik Terakselesari Intel, mengatakan Blockscale ASIC akan berperan besar membantu perusahaan penambangan Bitcoin mencapai sasaran keberlanjutan dan penambahan hash rate di masa depan.

Baca juga: Aturan Pajak Aset Kripto di Indonesia Resmi Terbit: Terlalu Berat Bagi Investor

Intel Masuk Industri Tambang Bitcoin

Setiap chip Blockscale ASIC memiliki hash rate 580 GH/s dengan efisiensi daya 26 J/TH serta mendukung hingga 256 sirkuit terintegrasi (IC). Selain itu, chip ini memiliki kapabilitas pengukuran suhu dan voltase.

Sistem penambangan yang terdiri dari 256 chip Intel tersebut menghasilkan 148 TH/s dan “hanya” mengonsumsi listrik sebesar 3.860 W. Alat tambang terkemuka saat ini, yakni besutan Bitmain menghasilkan 140 TH/s dengan konsumsi energi 3.010 W dan 21,5 J/TH efisiensi daya.

Sebelumnya, chip tambang Bitcoin generasi pertama Intel mencakup total 4.248 mm persegi silikon yang mampu kekuatan hingga 40 Terahash per detik dengan konsumsi daya 3.600 W. Generasi pertama ini tentu saja belum sanggup berkompetisi ketat dengan Bitmain atau MicroBT asal Tiongkok.

Dengan generasi baru ini Intel hanya menjualnya kepada pihak-pihak tertentu saja, alih-alih mengirim sistem penambangan ASIC lengkap seperti pada umumnya. Argo Blockchain, Block Inc, Hive Blockchain dan GRIID Infrastructure adalah beberapa perusahaan penambang pertama yang akan sudah memesan chip Intel itu.

Baca juga: CME Group Incar Kripto Cardano (ADA) dan Solana (SOL), Untuk Apa?

Intel Ketat Bersaing dengan Pemain Lama

Industri penambangan Bitcoin mengalami kekurangan pasokan ASIC akibat gangguan rantai pasokan di tengah pandemi. Kendati Intel Blockscale bersaing dengan produsen ASIC lain, penerbitan chip baru ini justru akan membantu pertumbuhan industri penambangan Bitcoin secara jangka menengah.

Langkah Intel tersebut dapat membantu industri aset kripto memenangkan debat lingkungan, sosial dan pengaturan (ESG), terutama persoalan lingkungan. Penambang semakin mendongkrak daya agar tetap kompetitif sehingga menuai pengawasan dari pembuat kebijakan di seluruh dunia.

Dikutip dari Coindesk, pada  Maret lalu, Komite Konservasi Lingkungan pemerintah daerah New York memilih untuk mencanangkan aturan melarang penambangan PoW di negara bagian tersebut. Selain itu, sejumlah pembuat kebijakan yang dipimpin Senator Elizabeth Warren mengkritik penambangan kripto akibat dampak terhadap lingkungan. [ed]

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Harga Coin WAVES Anjlok 18% Adanya Isu Manipulasi Market

Pada tanggal 28 Maret lalu, aset kripto WAVES diperdagangkan di bawah $ 32. Kemudian pada 31 Maret, mencapai All Time High $ 62,36. Dan dengan cepat harganya telah kembali turun menjadi sekitar $ 36, kehilangan 25% dari ATH dalam 24 jam terakhir saja.

Bersamaan dengan itu, harga stablecoin USD Neutrino yang berbasis Waves telah kehilangan kestabilannya terhadap dolar AS, turun hari ini menjadi $ 0,68.

Tentu saja, perubahan harga dalam crypto adalah umum, tetapi itu masih sangat fluktuatif untuk aset 40 teratas. Ini sudah kategori yang tidak wajar, kemungkinan adanya sesuai isu atau berita yang memperburuk harga coin tersebut.

Pada tanggal 31 Maret, seorang analis pasar crypto pseudonim dengan nama 0xHamZ men-tweet utas panjang di mana mereka menyebut platform Waves “ponzi terbesar dalam crypto,” menggunakan data untuk membuat kasus bahwa sistem stablecoin hanya dapat stabil, jika ada “pertumbuhan kapitalisasi pasar WAVES yang berkelanjutan.” Selain itu, mereka menuduh bahwa Waves dengan panik bekerja di belakang layar untuk menopang ekosistem dengan meminjam stablecoin lain untuk membeli sendiri Waves.

Baca juga: 19 Juta Bitcoin Telah Ditambang dan Tersisa 2 Juta Lagi, Apa Dampaknya?

Pendiri Waves Platform, Sasha Ivanov, mengatakan sebaliknya adalah benar seseorang bekerja di belakang layar, tetapi ini adalah upaya untuk menarik Waves ke bawah. Dia melihat utas 0xHamZ sebagai bagian dari kampanye bersama untuk mendiskreditkan platform, kadang-kadang disebut sebagai “Ethereum Rusia.” (Ivanov mengeklaim kewarganegaraan Rusia dan Ukraina dan mengatakan proyek itu tidak lagi memiliki staf di Rusia.)

Ivanov mengklaim bahwa Alameda Research, sebuah perusahaan perdagangan crypto yang didirikan oleh CEO FTX Sam Bankman-Fried, telah memanipulasi harga dan mencoba untuk tangki aset untuk menghasilkan uang dengan korsleting itu. Ivanov mengutip sepotong Bloomberg 11 Maret yang menunjukkan peningkatan tajam pasokan WAVES di bursa FTX pada akhir Februari dan awal Maret.

Menurut Ivanov, skema ini bekerja dengan meminjam dalam jumlah besar melalui protokol pinjaman berbasis Waves Vires Finance, kemudian menjualnya sambil menyebarkan “FUD” (ketakutan, ketidakpastian dan keraguan), sehingga mendorong harga turun.

Mengapa mereka ingin “short” cryptocurrency dengan cara ini? Karena mereka kemudian dapat membeli cryptocurrency dengan harga lebih rendah dan kemudian membayar kembali pinjaman mereka yang akan jauh lebih murah karena asetnya bernilai lebih sedikit. Dengan demikian, mereka menghasilkan keuntungan.

Baca juga: Yuan Digital China Sekarang Dapat Diakses di 23 Kota

Bankman-Fried menyebutnya sebagai “teori konspirasi omong kosong.” CEO Alamada Sam Trabucco menanggapi tweet menuduh Ivanov pada 3 April, dengan mengatakan, “Orang-orang harus benar-benar melihat tingkat pendanaan untuk WAVES sekarang.” Tingkat pendanaan mengacu pada biaya untuk mempersingkat aset, meskipun Trabucco tidak menunjukkan bagaimana tingkat tersebut – negatif pada saat itu – mempengaruhi strategi perusahaan.

Pada tanggal 3 April, ia mempromosikan proposal tata kelola “untuk mencegah manipulasi harga” Singkatnya, proposal akan membuat lebih sulit untuk short WAVES dan semua tapi memaksa mereka bertaruh terhadap koin untuk membeli atau menjual.

“Mari kita lindungi ekosistem [Waves] dari keserakahan!” cuit Ivanov. “KESERAKAHAN ITU BURUK.”

Baik Alameda Research maupun Ivanov tidak segera tersedia untuk komentar.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Studi Goldman Sachs: Eksposur Crypto Institusional Mencapai 51%

Dalam studi yang dilakukan oleh raksasa perbankan Goldman Sachs yang diterbitkan oleh Arcane Research, dari 172 klien institusi, didapatkan 51 persen suara yang menginginkan eksposur ke aset crypto.

Survei tersebut mencatat bahwa minat institusi terhadap aset crypto telah bertumbuh dengan cepat dan kuat, terutama eksposurnya yang naik dari 40 persen pada tahun lalu, menjadi 51 persen pada tahun 2022. Diperkirakan, persentase ini akan kembali meningkat di masa mendatang.

Baca juga: Harga Aset Kripto Akan Meningkat pada Kuartal 2 Tahun 2022?

Laporan tersebut juga mengatakan:

“Dari 172 klien yang disurvei, 60% menjawab bahwa mereka berharap untuk meningkatkan kepemilikan aset digital mereka dalam satu hingga dua tahun ke depan.”

Bersiap akan hal tersebut, Goldman Sachs telah memutuskan untuk masuk ke industri crypto, yang tampaknya akan menjadi tembakan peringatan dimulainya langkah raksasa ini ke aset digital.

Baca juga: PancakeSwap Beri Opsi Taruhan Jangka Tetap yang Lebih Menguntungkan

Kepala Aset Digital Global baru di divisi manajemen kekayaan pribadi Goldman, March Rich, telah mengungkapkan bahwa mereka sedang mempertimbangkan untuk memanfaatkan investasi di aset crypto melalui derivatif, Bitcoin fisik, atau moda investasi tradisional.

Tentunya, melalui manajemen kekayaan pribadi, Goldman akan menghadirkan produk pertamanya untuk eksposur institusi ke aset crypto.

March Rich pun mengatakan:

“Beberapa klien Goldman merasa seperti kita sedang duduk di awal Internet baru dalam beberapa hal dan mencari cara untuk berpartisipasi dalam ruang ini.”

Ia pun menegaskan bahwa seluruh tim akan bekerja sama untuk mencari cara yang terbaik dalam menawarkan eksposur tersebut. Dalam waktu dekat, diharapkan ini akan terlaksana.

Regulasi  yang kian dimatangkan untuk aset crypto juga diperkirakan akan memperlancar semua langkah besar ini, karena tentu investor akan tetap berpegang pada sisi keamanan sebelum membicarakan potensi keuntungan yang akan didapatkan dari eksposur aset crypto.



Sumber : news.tokocrypto.com

FBI Menyita Kripto Setara Rp488 Miliar dari Warga Florida

Pada 4 April 2022, Departemen Kehakiman (DOJ) dan Kantor Kejaksaan AS Florida Selatan mengungkapkan bahwa FBI telah menyita aset kripto senilai US$34 juta (Rp488 miliar) dari seorang pria, warga Florida.

Menurut aparat pria tersebut diduga melakukan lebih dari 100 ribu transaksi di pasar darknet, menjual informasi akun daring yang terkait dengan akun Netflix, HBO dan Uber milik orang lain.

DOJ dan Kantor Pengacara Florida Selatan mengumumkan pada hari Senin bahwa US$34 juta dalam bentuk kripto itu telah diserahkan kepada pemerintah federal, dilansir dari Bitcoin.com.

Baca juga: 19 Juta Bitcoin Telah Ditambang dan Tersisa 2 Juta Lagi, Apa Dampaknya?

Dana tersebut berasal dari penduduk Florida Selatan yang diduga menjual informasi secara daring, seperti rincian keuangan yang terkait dengan layanan web tertentu seperti Netflix, Uber, HBO dan banyak lainnya.

Dilaporkan, pria tersebut menawarkan data informasi pribadi ke pasar darknet di Internet menggunakan browser Tor. Data itu dijual menggunakan kripto.

Pria yang tak disebutkan namanya itu dituduh melakukan lebih dari 100 ribu penjualan dengan informasi curian.

Sementara otoritas federal menyita aset kripto senilai US$34 juta, dari tersangka dari kota pinggiran Parkland, Florida.

Penegakan hukum AS memang mengatakan itu adalah salah satu tindakan penyitaan kripto terbesar yang pernah diajukan oleh Amerika Serikat.

Baca juga: Ini Aturan Lengkap Pajak Aset Kripto di Indonesia, Berlaku Mulai 1 Mei 2022

Menurut siaran pers DOJ, tersangka di Parkland itu diduga menggunakan layanan “crypto mixing” untuk mengaburkan jejak transaksi.

Penyitaan berdasarkan operasi khusus yang dijuluki “TORnado,” dan melibatkan sejumlah besar lembaga penegak hukum federal, negara bagian, dan lokal.

Selain DOJ, “RS-CI, FBI, DEA, Investigasi Keamanan Dalam Negeri (HSI), dan Layanan Inspeksi Pos AS (USPIS) menyelidiki kasus ini” juga.

Penegakan hukum AS, khususnya DOJ, belakangan disibukkan dengan berbagai kasus kriminal yang melibatkan aset kripto.

Pada akhir Maret, DOJ mengungkapkan bahwa agensi tersebut mendakwa dua orang dalam penipuan “NFT rug pull” bernilai jutaan dolar.

Pada pertengahan November 2021, DOJ membuka kasus US$56 juta dana Bitconnect yang disita yang berasal dari “promotor nomor satu” Ponzi kripto. DOJ juga terlibat dengan penyitaan 94.636 BTC baru-baru ini yang berasal dari peretasan Bitfinex 2016. [ps]

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Pajak Aset Kripto Bebankan Investor di Indonesia, Berapa Tarif Idealnya?

Pengenaan pajak transaksi aset kripto di Indonesia dinilai terlalu tinggi, sehingga bisa membebankan investor dalam negeri. Dikhawatirkan pertumbuhan industri aset kripto akan melambat, karena investor lebih memilih transaksi di luar negeri.

Pemerintah Indonesia akhirnya menerbitkan aturan pengenaan pajak atas transaksi perdagangan aset kripto yang akan resmi berlaku pada 1 Mei mendatang. Namun, beban pajak PPN dan Pph masing-masing 0,1%-0,2% dinilai terlalu tinggi untuk dibebankan pada industri aset kripto yang masih baru tumbuh.

Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) & COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda, mengatakan investor tentu akan antusias, jika dalam pengaturan pajak ini menguntungkan semua pihak. Namun di sisi lain, jika penerapan pajak yang terlalu tinggi dan membebani investor dapat menyebabkan potensi terhambatnya perkembangan industri aset kripto sendiri.

Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) & COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda. Foto: Tokocrypto.
Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) & COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda. Foto: Tokocrypto.

“Pemberlakuan pajak saat ini masih perlu pembahasan yang lebih fokus dengan unsur hati-hatian dan mendalam. Pemerintah perlu mencari angka yang lebih seimbang dan juga memikirkan cara untuk meretensi investor kripto dalam negeri,” ungkap pria yang akrab disapa Manda.

Baca juga: Riset: Indonesia Jadi Negara Pengadopsi Aset Kripto Tertinggi di Dunia

PPN Aset Kripto Tidak Berlaku di Luar Negeri

Salah satu yang menjadi perhatian Aspakrindo adalah pertimbangan tarif PPN final. Banyak negara, seperti Singapura, Malaysia dan sejumlah negara di Eropa tidak memungut PPN atas transaksi aset kripto. Meski, tarif PPN final yang dikenakan di Indonesia hanya 0,1%-0,2% dari total transaksi.

“Singapura telah mengecualikan aset kripto dari Goods and Services Tax (GST) dan merinci pengenaan pajak atas aset kripto sesuai kategorinya, seperti token pembayaran, token sekuritas, dan token utilitas. Namun, pedagang aset kripto dikenakan pajak atas jasa yang diberikan kepada pengguna,” jelasnya.

Ilustrasi pajak aset kripto.
Ilustrasi pajak aset kripto. Foto: Shutterstock.

Baca juga: Aturan Pajak Aset Kripto di Indonesia Resmi Terbit: Terlalu Berat Bagi Investor

Tarif Pajak Aset Kripto yang Ideal

Selain itu, Jika tarif PPh Final atas aset kripto 0,1 persen, maka akan membebankan investor dalam negeri. Padahal dengan keringanan perpajakan akan menjadi alasan kuat investor untuk bertahan di exchange lokal.

Sebelumnya, Aspakrindo telah mengajukan skema PPh Final sebesar 0,05 persen. Jika dihitung transaksi aset kripto tahun 2021 lalu di Indonesia mencapai Rp 859,4 triliun. Maka, apabila menggunakan skema PPh Final sebesar 0,05 persen, kontribusi aset kripto terhadap penerimaan negara ditaksir mencapai sekitar Rp 429,7 miliar.

“Pada dasarnya bukan melihat dari sisi berapa besar nilai yang harus dikenakan pajak, tapi bagaimana agar regulasi ini bisa berkembang, sehingga nilainya akan mengikuti perkembangan itu sendiri. Dalam 2-3 tahun ke depan, transaksi kripto diprediksi berpotensi menyumbang pajak hingga triliunan rupiah,” ucap Manda.

Ilustrasi pedagang aset kripto di Indonesia, Tokocrypto. Foto: Dimas Ardian/Bloomberg
Ilustrasi pedagang aset kripto di Indonesia, Tokocrypto. Foto: Dimas Ardian/Bloomberg

Pajak yang terlalu tinggi akan membuat investor merasa rugi dan tidak adil. Sebab di saat untung mereka dipungut pajak, tetapi ketika rugi tidak dapat pengurangan pajak. Padahal yang namanya investasi di instrumen berisiko tinggi akan penuh dengan ketidakpastian.

Aspakrindo siap berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk diskusi dalam pengambilan keputusan terkait mengenakan pajak atas aktivitas terkait aset kripto. Kami menyambut semua keputusan yang terbaik bagi semua pihak untuk mewujudkan industri aset kripto yang sehat dan berkualitas.

Baca juga: Asosiasi ICCA dan PKHAKI Hadir Dukung Perkembangan Aset Kripto di Indonesia



Sumber : news.tokocrypto.com

Harga Aset Kripto Akan Meningkat pada Kuartal 2 Tahun 2022?

Bitcoin memasuki pergerakan yang lebih tinggi sejak 3 Maret. Pada saat penulisan, aset crypto raksasa tersebut berhasil menetapkan level harga $ 46.499. 

Dengan relinya BTC, deretan altcoin terkemuka seperti Ethereum dan Cardano juga mendapat sentimen positif. Sikap bullish ini telah terbentuk pada grafik crypto setelah dampak invasi Rusia ke Ukraina yang membawa pandangan bearish.

Akankah aset crypto akan melanjutkan kenaikan harga mereka pada kuartal 2 2022? Simak artikel di bawah ini untuk mendapatkan jawabannya.

Bitcoin Akan Semakin Reli di Kuartal 2?

Harga Bitcoin saat ini telah mencapai level tertingginya selama tiga minggu. Pada 1 Maret lalu, BTC diperdagangkan di rentan $ 43.000 dengan resistance harga $ 45.000 yang akhirnya berhenti pada supportnya di sekitar wilayah $ 39.000 pada tanggal 6 Maret.

Pergerakan harga di periode tersebut kemungkinan besar berkaitan dengan perselisihan antara Rusia dan Ukraina, karena sejak peperangan berlangsung memang banyak sentimen yang dengan cepat mendorong dan menjatuhkan harga aset.

Pergerakan Harga Bitcoin. Sumber: TradingView

Sementara momentum harga BTC selama beberapa hari terakhir sebagian besar berkaitan dengan fenomena di market saham, termasuk perombakan Wall Street minggu lalu.

Baca juga: Siap! Transaksi Crypto di Indonesia Akan Dikenakan Pajak 0,1%

Sebuah perusahaan bank investasi Goldman Sachs belum lama ini mengumumkan, bank yang berbasis di AS telah melakukan transaksi over-the-counter (OTC) revolusioner di Bitcoin, di mana mereka membeli opsi non-deliverable (NDO) dari Galaxy Digital.

Ditambah lagi, sudah lebih banyak perusahaan investasi crypto yang mulai bertindak sebagai mitra bank likuiditas untuk Bitcoin futures trading desk. 

Hal ini menandakan transaksi Bitcoin kini sudah lebih mainstream dilakukan, yang mana investor tidak perlu ragu lagi untuk mengadopsi aset.

Jika sentimen berlanjut, kemungkinan harga Bitcoin akan membaik di kuartal 2 tahun ini dan mendorong harga altcoin lainnya.

Bagaimana Nasib Altcoin?

Jika membahas tentang performa, kinerja Ethereum bahkan telah melampaui BTC. Pada saat penulisan, Ethereum telah berkonsolidasi di harga $3.490 dengan pergerakan harga seperti yang diilustrasikan pada grafik di bawah ini.

Pergerakan Harga Ethereum

Sentimen positif ini dihasilkan dari desas-desus seputar migrasi jaringan Ethereum ke Proof-of-Stake yang saat ini menggunakan Proof-of-Work. 

Penggabungan ini telah dicoba dan terbukti efektif di testnet ‘Kiln’ yang secara luas dianggap sebagai pengubah permainan untuk ekosistem Ethereum.

Dengan pemberitaan upgrade tersebut saja, sentimen investor telah meningkat secara positif. Dan sekarang, pengembang tengah mencari solusi yang baru untuk memasok permintaan Ethereum yang akan segera terjadi.

Akahkan skenario tersebut akan di jalankan pada kuartal 2 tahun ini?

Baca juga: 5 Crypto Potensial Pekan Ini: KAVA, MBOX, SNP, EOS, IRIS

Menutup soal Ethereum, kini saatnya berpindah ke grafik Cardano yang juga mengikuti reli Bitcoin dengan kenaikan 5,9% selama seminggu, dan menetapkan harga $1,18 pada saat penulisan.

Indikator MA-7 dan 21 pada Cardano berpotongan di level $1,2 yang menandakan reli naik berkelanjutan mengawali periode kuartal 2 ini.

Cardano sendiri terus membangun keuntungannya dengan peningkatan jaringan yang akan segera terjadi. Selain itu, pengembang Cardano, IOG, baru-baru ini mengumumkan proposal untuk meningkatkan memori skrip Plutus jaringan.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Daftar Anak Muda yang Kaya Berkat Investasi Aset Kripto

Berawal dari pekerja biasa dengan gaji rata-rata, kini beberapa orang ini menjadi kaya raya berkat investasi aset kripto. 

Meski banyak pihak yang belum mengerti, sejumlah orang cukup cerdas dalam melihat potensi aset kripto untuk mendapatkan keuntungan dengan berinvestasi pada Bitcoin dan koin lainnya.

Tercatat 83% millenials di Amerika Serikat telah membeli aset kripto pada Desember 2021 lalu. Instrumen investasi ini telah membuktikan kemampuannya untuk mengubah hidup seseorang, seperti beberapa orang dalam artikel ini yang dikutip dari New York Post.

Rachel Siegel: Guru Freelance Jadi Jutawan

Rachel Siegel. Foto: LinkedIn Rachel Siegel.
Rachel Siegel. Foto: LinkedIn Rachel Siegel.

Rachel Siegel adalah seorang guru pengganti di New York. Dahulu Siegel tinggal di sebuah apartemen Lower East Side dengan jendela menghadap dinding, kini dapat menikmati indahnya pemandangan laut melalui balkon kondominium yang ia beli di Karibia.

Hidupnya berubah pada akhir 2017, ketika Siegel diajak temannya ke after-party konferensi aset kripto. Ia berpikir bahwa orang-orang di sana tidak akan pernah kehilangan uang mereka. Yang kemudian justru membuatnya memutuskan untuk memulai investasi pertamanya pada usia 29 tahun dengan semua sisa gajinya yang hanya $25 (Rp 358 ribu) per minggu. 

Penghasilannya telah menginjak kisaran 7 digit saat ini, Rachel pun dapat memiliki rumah yang bahkan dulu ia pikir sangat tidak mungkin untuk dimilikinya. Ia juga pergi berbelanja ke Dubai dengan pesawat maskapai Emirates first-class, yang menjadi pengalaman paling mewah yang pernah ia alami.

Rachel meninggalkan pekerjaan lamanya menjadi full-time cryptocurrency influencer dengan akun media sosial @CryptoFinally. Peluang besar yang ia lihat, mengalahkan rasa takutnya. 

“Hal keren tentang aset kripto adalah siapa pun dapat melakukannya. Dan saya adalah salah satu yang bisa melakukannya,” katanya.

“..Saya percaya bahwa siapapun dapat mengikuti jalan tersebut, jika mereka berdedikasi untuk itu.” tambahnya.

Baca juga: Mengenal Token STEPN (GMT) yang Telah Melonjak 30.000 Persen dalam 30 Hari

Kane Ellis: Remaja Pekerja di Industri Teknologi

Kane Ellis. Foto: Theaustralian.com.au.
Kane Ellis. Foto: Theaustralian.com.au.

Kane Ellis hanya seorang remaja 18 tahun yang di-dropout dari sekolahnya dan memulai karier dengan bekerja di bidang IT. Ellis mulai belajar bagaimana cara menambang aset kripto pada tahun 2011. Ia mengatur sendiri komputernya untuk mining, mendapatkan 4 Bitcoin perhari yang pada saat itu bernilai sekitar $8. 

Ellis berpikir hal ini keren untuk mendapatkan keuntungan, hingga 6 bulan setelahnya ia menyadari hal ini bisa menjadi masa depan. 

Kini Ellis berusia 29 tahun, yang merupakan salah satu pendiri CarSwap, platform online jual-beli mobil. Kripto telah membantunya mengubah hidupnya menjadi lebih baik, bahkan seperti yang ia impikan selama ini. 

Keuntungan yang Ellis dapatkan ia gunakan untuk membeli mobil impiannya, Maserati GranTurismo. “Sebagai pecinta mobil, bisa membeli mobil impian saya seperti Maserati MC Sportline pada usia 24 tahun adalah pencapaian yang luar biasa,” kata Ellis.

Sarannya kepada investor: “Hold Bitcoin anda. Jangan berpikir bahwa ini merupakan investasi jangka pendek, karena secara realistis ini adalah investasi jangka panjang. Dua, lima, sepuluh tahun.”

Baca juga: Siap! Transaksi Crypto di Indonesia Akan Dikenakan Pajak 0,1%

Terrance Leonard: Dapat Rumah Impian dari Kripto

Terrance Leonard. Foto: New York Post.
Terrance Leonard. Foto: New York Post.

Terrance Leonard, seorang software engineer mengawali pengalamannya di dunia kripto dengan kurang baik pada tahun 2013. Minimnya informasi pada saat itu membuat pria 32 tahun itu tidak melanjutkannya, karena takut kehilangan semua uangnya. 

Pada 2019, Leonard kembali berinvestasi sebanyak $ 2.000 setelah temannya menjelaskan seluk beluk market aset kripto. Sejak saat itu, ia menginvestasikan puluhan ribu dolar hingga total aset yang ia miliki sebanyak $ 1.000.000.

Ia baru saja membeli rumah dengan empat kamar di Washington D.C. Leonard yang tinggal sendiri berencana untuk pensiun dari pekerjaan full-time-nya. Kripto telah membawanya kepada financial freedom.

“Saya adalah seorang anak yang culun, kutu buku yang menyukai komputer, dan untuk dapat memanfaatkan keterampilan membangun kekayaan, sungguh luar biasa.” katanya.

Baca juga: Masuk Bulan April, Market Kripto Kehabisan Bensin untuk Bull Run?

Lea Thompson: Pekerja Industri Teknologi Jadi Crypto Influencer

Lea Thompson. Foto: LeaLovesCrypto.com.
Lea Thompson. Foto: LeaLovesCrypto.com.

Lea Thompson pertama kali mendengar istilah kripto dari temannya yang mining aset digital ini dan menganggapnya aneh, hingga pada tahun 2017 ia terpikat pada dunia blockchain.

Merasa dirinya tak mendapat cukup uang dari pekerjaannya di industri teknologi, Thompson pun melakukan kerja sampingan. Salah satu dari pekerjaanya dibayar dengan aset kripto. Dari sana, ia bertemu dengan banyak orang yang excited dengan potensi di industri ini, hingga akhirnya ia pun terinspirasi untuk masuk ke dalam dunia kripto. Thompson mulai berinvestasi $ 500 hingga $ 1.000  per bulan di Bitcoin dan Ethereum, bertahap membangun kekayaan dan memiliki hampir 200.000 pengikut di media sosial.

Ia menolak untuk mengatakan berapa nilai asetnya hari ini, tetapi Bitcoin telah meningkat empat kali lipat nilainya sejak Thompson memperoleh sebagian besar asetnya. Keuntungannya cukup baginya untuk berhenti dari pekerjaan di industri teknologi dan menjadi full-time crypto content creator. Dengan julukan Girl Gone Crypto, ia kini mengeluarkan video “edutainment” tentang crypto dan blockchain.

“Kripto benar-benar mengubah hidup saya.” katanya.

Baca juga: Peluncuran Bursa Kripto di Indonesia Resmi Mundur, Jadi Kapan?

Penulis: Mutiara Adawiyazzahra



Sumber : news.tokocrypto.com

19 Juta Bitcoin Telah Ditambang dan Tersisa 2 Juta Lagi, Apa Dampaknya?

Tanggal 1 April 2022 jadi momen penting bagi Bitcoin. Aset kripto terpopuler sejagat itu telah mencapai 19 juta keping BTC yang ditambang. Artinya sisa 2 juta keping BTC lagi dari total 21 juta. Lalu, apa dampaknya?

Analisis dari blockchain memperlihatkan blk 730.034 dari blockchain menghasilkan penambangan Bitcoin ke-19 juta pada 1 April 2022, sehingga Bitcoin mencapai tonggak sejarah baru.

Mengutip Gizchina, penambangan Bitcoin yang terakhir diperkirakan terjadi pada 2140, sesuai prediksi Satoshi Nakamoto, pria yang disebut-sebut sebagai pembuat Bitcoin.

Total Jumlah Bitcoin Telah Berkurang

Ketika Satoshi Nakamoto menciptakan jaringan Bitcoin, telah menetapkan pasokan maksimum menjadi 21 juta, dan penelitian menunjukkan bahwa jumlahnya kurang dari 21 juta. Beberapa perkiraan menunjukkan hanya akan ada 20.999.817,31 BTC.

Ilustrasi Bitcoin.
Ilustrasi Bitcoin.

Baca juga: Transaksi Aset Kripto di Indonesia Bakal Kena Pajak, Kapan dan Berapa Tarifnya?

Dasbor bitcoin di clarkmoody.com , yang dimanfaatkan untuk mencatat 19 juta bitcoin yang ditambang menjadi ada pada hari Jumat, menunjukkan hanya ada 1.999.781,23 BTC yang tersisa untuk ditemukan.

Setiap kali sebuah blok ditemukan oleh penambang, penerbitan koin meningkat sebesar 6,25 bitcoin per blok ($ 289.656) yang ditemukan. Sebuah blok ditemukan kira-kira setiap sepuluh menit dan pembagian hadiah blok berikutnya diharapkan terjadi pada atau sekitar 3 Mei 2024.

Setelah halving berikutnya terjadi, penambang akan mendapatkan 3.125 bitcoin per blok dan halving berikutnya akan terjadi pada tahun 2028. Penerbitan BTC diprogram, matematis, dan pada akhirnya dapat diprediksi dan inilah mengapa orang dapat memperkirakan kerangka waktu antara perubahan penyesuaian kesulitan dan ketika halving berikutnya terjadi.

Bitcoin Jadi Aset Kripto Paling Langka

Bitcoin pun jadi mata uang kripto yang kian langka. Pasalnya kini 90 persen Bitcoin sudah beredar di pasaran.

Satoshi Nakamoto memperhitungkan dilema koin yang hilang ketika penemunya mengatakan bahwa Bitcoin yang tidak dapat diperoleh akan membuat aset kripto lebih langka dan karenanya lebih berharga.

Ilustrasi penambang kripto, Bitcoin.
Ilustrasi penambang kripto, Bitcoin.

Baca juga: Tiga Alasan Kenapa Harga Bitcoin Bisa di Atas Level $ 47.000

“Koin yang hilang hanya membuat koin orang lain sedikit lebih berharga. Anggap saja sebagai sumbangan untuk semua orang,” kata Nakamoto dikutip Bitcoin.com.

Setelah 21 juta Bitcoin telah ditambang, nantinya tak bisa lagi untuk menambang uang baru. Pasalnya, kode Bitcoin tidak mengizinkan penambangan token baru setelah mencapai ambang batas ini.

Jumlah Bitcoin juga ada batas layaknya emas. Kini, Bitcoin tengah memantapkan diri sebagai bentuk penyimpanan nilai. Pengurangan jumlah Bitcoin membuat nilainya makin meningkat.

Inilah yang membuat analis percaya, harga Bitcoin akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang.



Sumber : news.tokocrypto.com

Siap! Transaksi Crypto di Indonesia Akan Dikenakan Pajak 0,1%

Mulai 1 Mei 2022, setiap transaksi crypto di Indonesia akan dikenakan pajak capital gain sebesar 0.1% serta pajak penambahan nilai atau PPN.

Juru bicara kantor pajak Indonesia, Hestu Yoga Saksama, mengatakan bahwa pemerintah akan segera memberlakukan “pajak penghasilan dan PPN” pada aset cryptocurrency.

Hal ini karena aset digital didefinisikan sebagai komoditas dan bukan sebagai mata uang oleh kementrian perdagangan.

Namun, penerapan pajak di Indonesia ini masih dalam pertimbangan tentang bagaimana cara menerapkan pajak tersebut pada crypto.

Pada Februari 2022, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI), mengkonfirmasi bahwa transaksi crypto di Indonesia mencapai 83,8 triliun Rupiah.

Selain itu, jumlah pemegang crypto meningkat lebih dari 11%, dari 11,2 juta orang pada 2021 menjadi 12,4 juta orang.

Saat ini, BAPPEBTI mengakui lebih dari 200 cryptocurrency sebagai komoditas, yang dapat diperdagangkan secara legal.

Selain itu, ada juga 13 bursa sebagai bisnis crypto yang memiliki lisensi dan boleh beroperasi secara legal pada Februari 2021.

Baca juga: Asosiasi ICCA dan PKHAKI Hadir Dukung Perkembangan Aset Kripto di Indonesia

Pajak negara, dan budaya di Indonesia menjadi faktor adopsi arus utama crypto

Disamping persiapan pemerintah tentang penerapan pajak untuk setiap transaksi aset crypto di Indonesia, budaya juga menjadi faktor adopsi arus utama.

Pada bulan November 2021, Majelis Ulama Indonesia (MUI), mengatakan crypto sebagai alat transaksi yang dilarang berdasarkan hukum agama Islam.

Dan pada Januari 2022, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah melarang lembaga jasa keuangan di Indonesia untuk memfasilitasi crypto kepada para penggunanya.

Hal itu dilontarkan karena OJK merasa bahwa Bitcoin dan Altcoin lainnya memiliki risiko yang sangat besar karena fluktuasi harga yang ditingkatkan.

Selain menyebutkan argumen yang biasa dengan volatilitas crypto, OJK juga menunjukkan bahwa penipuan skema Ponzi dapat berkembang di crypto.

Baca juga: Bitcoin Bisa Bernilai 68,9 Miliar Rupiah per Koin Jika Hal Ini Terjadi, Kata VanEck

BI Akan Luncurkan CBDC untuk Lawan Crypto Swasta

Seperti yang dilaporkan Jelajahcoin sebelumnya, Bank Indonesia (BI), bersedia untuk mengeluarkan Central Bank Digital Currency (CBDC) nya dengan maksud untuk melawan aset crypto swasta.

BI percaya bahwa CBDC yang akan mereka luncurkan akan lebih kredibel daripada aset crypto swasta lain seperti Bitcoin, Ethereum, dan yang lainnya.

Pada bulan Mei 2021, Gubernur Perry Warjiyo menegaskan bahwa CBDC yang akan dikeluarkan sedang dalam proses, namun, Perry tidak mengungkapkan tanggal peluncuran yang spesifik.

Saat itu, BI mencatat bahwa selama pandemi COVID-19, penduduk setempat telah beralih dari pembayaran tunai ke pembayaran digital.

Dengan demikian, CBDC yang dipantau dan dikendalikan oleh pihak berwenang akan menjadi pilihan terbaik untuk transisi moneter tersebut. 

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Masuk Bulan April, Market Kripto Kehabisan Bensin untuk Bull Run?

Memasuki bulan April 2022, pasar kripto mulai terlihat tanda-tanda terjerembab. Apakah ini tanda bahwa market sudah kehabisan bensin untuk terus bull run? Pada selama delapan hari berturut-turut 10 aset kripto berkapitalisasi besar duduk nyaman di zona hijau.

Tapi, terpantau harga Bitcoin (BTC) sudah jatuh, setelah pada awal pekan ini nilainya melewati $ 48.000. Bitcoin diperdagangkan pada $ 46.557 pada saat berita ini dimuat, turun 2% pada Senin (4/4) pukul 07.00 WIB.

Sejumlah altcoin terkemuka bahkan bernasib lebih buruk dan menunjukkan investor sudah mulai kehilangan minat terhadap aset kripto tersebut. Misalnya, memecoin DOGE dan SHIB baru-baru ini turun masing-masing sekitar 3% dan 4,5%.

Trader Tokocrypto, Afid Sugiono.
Trader Tokocrypto, Afid Sugiono.

Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, melihat kini pasar kripto tengah mengalami konsolidasi, pasca reli kencang selama dua pekan terakhir. Menurutnya, situasi ini bisa berarti positif karena menjaga stabilitas market ke depan.

“konsolidasi tersebut sejatinya positif bagi pasar kripto, karena bisa menjaga stabilitas market dan membangun dasar baru bagi investor untuk menemukan titik-titik harga baru ke depan untuk beberapa aset kripto,” jelas Afid.

Market Kripto Masih Dalam Tekanan

Selain itu, tekanan juga datang dari memburuknya angka inflasi dan pemungutan suara oleh Uni Eropa tentang undang-undang kripto yang dipandang industri tidak menguntungkan. komunitas kripto menganggap bahwa langkah tersebut dapat menghambat inovasi dan melanggar aspek privasi pelaku transaksi kripto.

Ilustrasi market kripto
Ilustrasi market kripto.

“Olengnya pasar kripto juga pas terjadi setelah Biro Analisis Ekonomi Departemen Ketenagakerjaan AS merilis data inflasi AS versi PCE pada Kamis (31/3) kemarin. Beberapa trader kripto memang bereaksi keras terhadap data inflasi, karena terkadang melakukan aksi jual atau cut loss setelah indikator ekonomi dirilis,” ungkap Afid.

Meski saat ini adopsi aset kripto sudah mulai marak di beberapa institusi yang diharapkan bisa menjaga stabilitas market, namun rupanya belum berpengaruh besar. Afid melihat, adopsi kripto butuh waktu untuk mendorong stabilitas jangka panjang.



Sumber : news.tokocrypto.com