Tag Archives: bank

Bank-Bank Besar AS Bentuk Konsorsium Stablecoin Pembayaran

Empat bank terbesar Amerika Serikat yang melibatkan JPMorgan Chase, Bank of America, Citigroup, dan Wells Fargo, dilaporkan tengah menjajaki proyek stablecoin bersama.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk bersaing dengan platform aset digital yang semakin berkembang.

Inisiatif ini bertujuan untuk memodernisasi sistem pembayaran dan memperkuat adopsi aset digital dalam infrastruktur perbankan tradisional.

Baca Juga: JP Morgan Percaya Bursa Kripto Terpusat Akan Tetap Dominan

Kolaborasi Strategis dalam Dunia Keuangan Digital

Menurut laporan dari The Wall Street Journal, pembicaraan awal melibatkan entitas seperti Early Warning Services (EWS), yang mengoperasikan jaringan pembayaran peer-to-peer Zelle, dan The Clearing House (TCH), yang menangani pembayaran real-time antarbank.

EWS dimiliki bersama oleh tujuh bank besar AS, termasuk JPMorgan Chase, Bank of America, dan Wells Fargo, sementara TCH dimiliki oleh dua lusin bank terbesar dunia.

Proyek stablecoin ini masih dalam tahap eksplorasi awal dan belum ada keputusan final.

Namun, langkah ini mencerminkan keseriusan bank-bank besar dalam merespons pertumbuhan pesat aset digital dan kebutuhan akan sistem pembayaran yang lebih efisien dan modern.

Tujuan dan Manfaat Proyek Stablecoin

Stablecoin adalah jenis mata uang kripto yang dirancang untuk mempertahankan nilai tetap, biasanya dipatok pada mata uang fiat seperti dolar AS.

Mereka digunakan secara luas oleh para pedagang kripto untuk memindahkan dana antar token. Dengan meluncurkan stablecoin bersama, bank-bank ini berharap dapat:

  • Meningkatkan Efisiensi Pembayaran: Mempercepat transaksi lintas batas dan rutin dengan biaya lebih rendah.
  • Memperluas Akses Keuangan: Memberikan alternatif pembayaran digital yang aman dan mudah diakses oleh masyarakat luas.
  • Mempertahankan Daya Saing: Bersaing dengan platform aset digital dan teknologi keuangan baru yang menawarkan layanan serupa.

Tantangan Regulasi dan Dukungan Politik

Meskipun proyek ini menjanjikan, tantangan regulasi tetap menjadi perhatian utama. Saat ini, RUU Guiding and Establishing National Innovation for US Stablecoins Act (GENIUS Act) sedang dibahas di Senat AS.

RUU ini bertujuan untuk menetapkan kerangka kerja bagi penerbitan stablecoin oleh bank dan nonbank.

Jika disahkan, undang-undang ini dapat memberikan kejelasan hukum yang dibutuhkan untuk meluncurkan stablecoin secara resmi.

Selain itu, dukungan politik terhadap aset digital semakin meningkat. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menyatakan dukungannya terhadap kripto, dengan tujuan mempromosikan adopsi arus utama dan meningkatkan dominasi dolar AS secara global.

Langkah-Langkah Awal oleh Bank-Bank Besar

Beberapa bank telah mengambil langkah awal dalam mengadopsi teknologi blockchain dan aset digital:

  • JPMorgan Chase: Meluncurkan JPM Coin, yang digunakan untuk menyelesaikan transaksi antar klien institusional dalam jaringan internal bank.
  • Wells Fargo: Mengembangkan dan menguji coba Wells Fargo Digital Cash, stablecoin yang dirancang untuk penyelesaian internal dan pembayaran lintas batas dalam jaringan global bank.

Langkah-langkah ini menunjukkan kesiapan bank-bank besar untuk mengintegrasikan teknologi baru demi meningkatkan layanan dan efisiensi operasional.

Baca Juga: Société Générale Rilis Stablecoin Dolar Pertama di Ethereum

Kolaborasi antara bank-bank besar AS dalam merancang stablecoin bersama menandai langkah signifikan dalam evolusi sistem keuangan digital.

Dengan memanfaatkan teknologi blockchain, mereka berupaya menciptakan sistem pembayaran yang lebih cepat, efisien, dan inklusif.

Namun, keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada kejelasan regulasi dan dukungan politik yang memadai.

Jika berhasil, inisiatif ini dapat memperkuat posisi bank-bank tradisional dalam era digital dan memberikan alternatif yang kompetitif terhadap platform aset digital yang sudah ada.


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



Sumber : news.tokocrypto.com

BNB Hampir Sentuh $1.000! CZ: Bank Harus Segera Ikut Main

BNB, token ekosistem Binance, kembali mencetak sejarah. Pada 14 September 2025, harga BNB melesat hingga menyentuh $943,08, hanya sejengkal dari rekor psikologis $1.000. Dengan kapitalisasi pasar yang kini tembus $128 miliar, BNB resmi menempati posisi sebagai kripto terbesar keenam di dunia.

Di tengah euforia ini, pendiri Binance, Chang Zhao (CZ), membuat pernyataan mengejutkan. Melalui akun X pribadinya, CZ menegaskan bahwa:

“Bank perlu mengadopsi BNB. Sebagai anggota komunitas kecil, saya senang membantu bank mana pun untuk berintegrasi.”

Pernyataan ini sontak memicu kontroversi.

Baca juga: BNB Sentuh $131 Miliar! Apakah UKM Siap Gaji Karyawan Pakai Kripto?

BNB Kalahkan Raksasa Keuangan Dunia

Dilaporkan News Bitcoin, akun X Whale Insider mengungkap bahwa kapitalisasi pasar BNB bahkan telah melampaui UBS, salah satu raksasa finansial global. Fakta ini semakin menguatkan posisi BNB sebagai aset kripto yang bukan hanya sekadar “koin exchange,” melainkan kekuatan baru yang menyaingi institusi keuangan tradisional.

Namun, tidak semua orang setuju dengan visi CZ.

Kritik dan Balasan Pedas dari Publik

Beberapa pengguna X menolak keras ide tersebut.

  • “Tidak, mereka tidak,” tulis seorang kritikus singkat.
  • “Ini tidak akan pernah terjadi. Bank lebih mungkin mengadopsi Solana, apalagi dengan hadirnya ETF SOL bulan ini,” tambah akun lain.

Ada juga yang mempertanyakan relevansi integrasi dengan bank tradisional.
“Kenapa harus repot integrasi? Lebih baik buat bank sendiri yang ramah kripto, pinjaman bunga kompetitif, layanan keuangan terdesentralisasi, dan sebagainya,” komentar seorang netizen.

Momentum Baru: Kripto Tak Lagi Butuh Restu Wall Street?

Pergerakan harga Binance Coin (BNB/USDT) pada Senin, 15 September 2025. Sumber: Tokocrypto.
Pergerakan harga Binance Coin (BNB/USDT) pada Senin, 15 September 2025. Sumber: Tokocrypto.

Terlepas dari pro kontra, reli harga BNB ini memperlihatkan kekuatan nyata industri kripto. Dengan kapitalisasi pasar yang kini menyaingi bank global, BNB menjadi simbol bahwa ekonomi kripto bisa berdiri sendiri tanpa harus mencari legitimasi dari Wall Street.

Apakah visi CZ soal bank mengadopsi BNB akan benar-benar terjadi? Belum ada jawaban pasti. Namun satu hal yang jelas: BNB sedang berada di puncak kekuatannya, dan skeptis terbesar pun mulai kehabisan alasan.

Baca juga: Harga BNB Tembus ke $882: Bullish Sungguhan atau Sekadar Fakeout?


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



Sumber : news.tokocrypto.com

Sah! Citigroup Jadi Pelopor TradFi Dalam Adopsi Blockchain

Citigroup mengembangkan portfolio perusahaan sebagai lembaga keuangan tradisional atau Traditional Finance (TradFi) pertama yang mendukung adopsi teknologi blockchain.

Sejak 2020 hingga 2024, Citi termasuk dalam tiga lembaga keuangan utama bersama Goldman Sachs dan JP Morgan Chase yang aktif melakukan investasi dan kemitraan dalam teknologi blockchain dan aset digital.

Rekam Jejak Investasi TradFi

Untuk diketahui, Citi dan Goldman Sachs memimpin dengan 18 transaksi investasi masing-masing dalam startup blockchain, diikuti oleh JP Morgan dengan 15 transaksi.

Selama empat tahun terakhir, bank global ikut berperan dalam 345 deal blockchain, termasuk 33 mega-round senilai lebih dari $100 juta, terutama di sektor tokenisasi, custody, dan infrastruktur pembayaran.

Lembaga seperti Citigroup memilih strategi investasi langsung atau kemitraan daripada akuisisi. Mereka lebih suka mendukung proyek tahap awal yang berpotensi mengubah tatanan keuangan tradisional.

Baca Juga: Citigroup Luncurkan Citi Token untuk Mitra Institusi Adopsi Kripto

Produk Blockchain Nyata: Citi Token Services dan Stablecoin

Citigroup tidak hanya berhenti pada investasi, tetapi juga mengembangkan produk nyata berbasis teknologi blockchain.

Citi Token Services (CTS) memungkinkan transfer pembayaran lintas-negara secara real-time menggunakan token digital yang dikeluarkan secara internal.

Pengguna tidak perlu memahami blockchain: instruksi dikirim lalu token di-mint di satu yurisdiksi dan diburn di destinasi, menyelesaikan transaksi seperti uang fiat biasa.

Sementara itu, CEO Citi, Jane Fraser, mengonfirmasi bahwa bank sedang mempertimbangkan penerbitan stablecoin milik sendiri (Stablecoin in-house) serta memperluas layanan tokenized deposits dan custody aset kripto untuk klien institusional.

Produk ini kini telah diuji coba di AS, Inggris, Hong Kong, dan Singapura dengan kapasitas untuk berkembang ke lebih banyak mata uang dan koridor global.

Momentum Regulasi & Stablecoin

Menurut laporan internal Citi Institute, 2025 bisa menjadi “ChatGPT moment” bagi blockchain: momen percepatan adopsi digital aset di sektor publik dan swasta seiring regula­si stabilcoin yang mulai mengerucut.

Dalam hal tokenized assets, Citi bekerja sama dengan platform SDX (Swiss Digital Exchange) untuk memfasilitasi tokenisasi aset pra-IPO dan private equity bagi investor institusi global yang rencananya diluncurkan pada kuartal ketiga 2025.

Sebagai tambahan, regulasi seperti GENIUS Act di AS dan MiCA di Eropa memperjelas landasan hukum penggunaan stablecoin, memunculkan peluang besar bagi bank seperti Citi untuk berinovasi secara terkendali.

Dampak Transformasional untuk TradFi

  • Efisiensi Model Bank – Adopsi token asli fiat via CTS memungkinkan transaksi lintas batas 24/7 tanpa sistem kliring tradisional.
  • Pengelolaan Cadangan (Reserve Management) – Bank bisa mengelola cadangan yang menopang stablecoin internal, membuka bisnis pengelolaan treasury digital.
  • Tokenisasi Aset Riil – Citi membantu perusahaan menerbitkan aset tokenized seperti saham private pre-IPO, memberikan likuiditas baru bagi investor atau lembaga.

Tantangan & Risiko yang Perlu Dimonitor

  • Regulasi yang masih berkembang: walaupun progresif, setiap yurisdiksi memiliki batasan berbeda, terutama soal KYC, AML, dan perlindungan konsumen.
  • Interoperabilitas dan adopsi massal masih kendala teknis, membutuhkan standar global dan kesederhanaan antarmuka bagi pengguna tradisional.
  • Persaingan dari konsorsium bank lain: Bank of America, JPMorgan, Goldman Sachs juga bergerak di ranah stablecoin dan tokenisasi, menciptakan lanskap kompetisi yang ketat.

Baca Juga: Masa Depan Solana di TradFi: Langkah Besar Menuju ETF Spot

Dengan begitu, Citigroup telah menempuh jalur transformasi yang strategis dalam pengembangan dan integrasi blockchain.

Tak lagi sekadar mendanai startup, namun juga membangun layanan seperti Citi Token Services, stablecoin internal, dan tokenisasi aset riil melalui platform yang mematuhi regulasi.

Laporan Ripple bersama CB Insights merekam bahwa Citi bersama Goldman Sachs dan JP Morgan menjadi garis depan tradfi dalam membentuk masa depan keuangan digital melalui lebih dari 345 investasi sejak 2020.

Dengan dukungan regulasi yang mulai jelas, infrastruktur digital bank seperti Citi siap menjadi pionir dalam memperluas adopsi blockchain secara luas dan transparan.


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



Sumber : news.tokocrypto.com

Visa Mulai Pakai Stablecoin untuk Settlement Global

Visa resmi menjadikan stablecoin sebagai bagian inti dari sistem penyelesaian transaksi internasional. Langkah besar ini diterapkan di kawasan Central and Eastern Europe, Middle East, dan Africa (CEMEA), menjadikannya salah satu implementasi blockchain paling agresif dari Visa hingga kini.

Dilaporkan Coindoo, perusahaan menggunakan USDC sebagai alat settlement melalui kerja sama dengan perusahaan infrastruktur kripto Aquanow.

Fokus di Balik Layar Sistem Perbankan

Alih-alih menyasar pengguna ritel atau kartu Web3, Visa menargetkan area yang tidak terlihat oleh konsumen: mekanisme backend yang menentukan seberapa cepat uang bergerak antarbank.
Dengan stablecoin, transaksi lintas negara bisa diselesaikan kapan saja, termasuk di luar jam kerja bank, akhir pekan, dan hari libur.

Mengapa Visa Melakukannya Sekarang

Bank dan penyedia pembayaran di kawasan CEMEA menuntut settlement lebih cepat, terutama untuk jalur transaksi ber-volume tinggi. Sistem lama masih bergantung pada rantai bank koresponden yang panjang.
Melalui USDC, institusi kini bisa:

  • memindahkan dana internasional tanpa menunggu jam operasional bank
  • menekan biaya settlement terkait FX dan perantara
  • menyelesaikan transaksi langsung di blockchain, bukan jaringan lama

Visa menegaskan langkah ini adalah modernisasi, bukan disrupsi.

Stablecoin
Stablecoin

Tren Global: Stablecoin Tinggalkan Dunia Kripto

Stablecoin semakin berkembang menjadi alat likuiditas institusional di luar ekosistem kripto.
Deutsche Börse mengumumkan rencana integrasi stablecoin EURAU untuk layanan custody dan settlement. Sebelumnya, mereka bekerja sama dengan Circle (EURC) dan Société Générale-Forge (EURCV).
Jika ekspansi ini meluas, stablecoin berpeluang lebih cepat masuk ke sistem keuangan arus utama dibanding CBDC.

Langkah Visa ini juga memicu diskusi regulasi baru. Komite Basel meninjau ulang bobot risiko 1.250% untuk eksposur aset kripto, sementara Bank of England menyatakan kemungkinan Inggris akan selaras dengan regulasi stablecoin Amerika Serikat.

Dampak Jangka Panjang

Penerapan stablecoin di CEMEA menjadi sinyal kuat bahwa pergeseran dari infrastruktur pembayaran lama menuju settlement berbasis blockchain sedang berlangsung.

Dampak potensialnya meliputi:

  • settlement global 24/7 untuk bank dan fintech
  • berkurangnya ketergantungan pada SWIFT
  • sistem keuangan hybrid antara fiat dan blockchain

Visa sendiri tidak membongkar sistem lamanya. Perusahaan justru membangun infrastruktur paralel yang mampu menangani kecepatan dan reliabilitas yang tak bisa dipenuhi jaringan tradisional.

Baca juga: ETF Jadi Penentu, Akankah Solana Oktober Ini Reli 30%?


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



Sumber : news.tokocrypto.com

USDC Salip USDT, Perusahaan Mulai Tinggalkan Transfer Bank?

Stablecoin semakin memainkan peran penting dalam sistem keuangan global. Terbaru, USD Coin (USDC) dilaporkan berhasil melampaui Tether (USDT) dalam volume transfer, seiring semakin banyak perusahaan yang menggantikan transfer bank tradisional dengan transaksi berbasis stablecoin.

Perubahan ini menunjukkan adanya pergeseran struktural dalam cara perusahaan memindahkan dana, terutama karena stablecoin menawarkan kecepatan transaksi yang lebih tinggi, biaya lebih rendah, dan akses ke sistem pembayaran berbasis dolar digital yang lebih fleksibel.

Volume Stablecoin Capai Rekor Baru

Volume transaksi stablecoin global mencapai rekor baru sebesar US$1,8 triliun pada Februari 2026. Dalam periode tersebut, USDC mencatat volume transfer lebih tinggi dibandingkan USDT, yang selama bertahun-tahun mendominasi pasar stablecoin.

Menurut data riset industri, perubahan ini sebagian besar didorong oleh meningkatnya penggunaan stablecoin oleh institusi, bukan oleh investor ritel. Banyak perusahaan kini memilih menggunakan stablecoin sebagai alternatif sistem pembayaran tradisional.

Total kapitalisasi pasar stablecoin juga terus meningkat dan kini mencapai sekitar US$314 miliar. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan Januari 2024 yang berada di kisaran US$131 miliar.

Transaksi Stablecoin Lampaui Visa

Penggunaan stablecoin juga berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Sepanjang 2025, transaksi stablecoin secara global mencapai sekitar US$33 triliun.

Nilai tersebut bahkan disebut mencapai sekitar dua kali lipat volume transaksi tahunan jaringan pembayaran Visa.

Pertumbuhan ini juga tercermin dari meningkatnya jumlah pengguna aktif yang naik sekitar 146% di lebih dari 100 negara.

Pembayaran lintas negara antar perusahaan (B2B) menjadi salah satu segmen yang tumbuh paling cepat, dengan peningkatan sekitar 733% hingga mencapai nilai transaksi US$226 miliar.

Selain itu, stablecoin juga semakin banyak digunakan untuk remitansi, otomatisasi pembayaran gaji, serta lindung nilai terhadap inflasi di sejumlah negara berkembang.

Menurut Tim Research Tokocrypto, secara onchain, dominasi USDC dalam transfer volume penting karena menunjukkan bahwa pasar semakin menghargai stablecoin yang kuat dari sisi kepatuhan dan integrasi institusional.

“Jika tren ini berlanjut, pertarungan stablecoin akan makin ditentukan oleh siapa yang paling dipercaya untuk transaksi perusahaan dan infrastruktur keuangan, bukan sekadar kapitalisasi pasar,” jelasnya.

Baca juga: Transfer USDC Meledak, Volume Stablecoin Tembus Rekor $1,8 Triliun

Perusahaan Mulai Tinggalkan Transfer Bank

Contoh penggunaan stablecoin dalam dunia korporasi terlihat dari langkah Circle Internet Group yang menggunakan USDC untuk menyelesaikan transaksi internal senilai US$68 juta.

Transaksi tersebut dilakukan antara delapan entitas perusahaan dan berhasil diselesaikan dalam waktu kurang dari 30 menit.

Jika menggunakan sistem transfer bank tradisional, proses yang sama biasanya membutuhkan waktu antara satu hingga tiga hari.

CEO Circle Jeremy Allaire mengatakan sistem ini berhasil menyelesaikan sekitar 90% transaksi internal perusahaan dalam satu hari, sehingga mempercepat proses penutupan laporan keuangan bulanan.

Sistem pembayaran ini juga dapat beroperasi sepanjang waktu tanpa bergantung pada jam operasional perbankan.

Persaingan Stablecoin Semakin Ketat

Seiring meningkatnya adopsi stablecoin, persaingan di sektor ini juga semakin intens.

Analis dari Bernstein bahkan memproyeksikan saham Circle dapat naik sekitar 71%, menyebut perusahaan tersebut sebagai salah satu pemain utama dalam industri stablecoin karena keunggulan regulasi, kemitraan strategis, likuiditas, dan teknologi.

Circle sendiri mencatat pendapatan sekitar US$2,7 miliar pada 2025, naik 64% dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan dari transaksi menjadi segmen dengan pertumbuhan tercepat, meningkat 112% secara tahunan.

Namun, pesaing juga mulai bermunculan. Tether baru-baru ini meluncurkan stablecoin baru bernama USAT yang dirancang untuk pasar Amerika Serikat.

Selain itu, sejumlah perusahaan teknologi finansial seperti PayPal, Stripe, hingga Klarna juga mulai mengembangkan infrastruktur stablecoin mereka sendiri.

Dengan semakin luasnya penggunaan stablecoin dalam pembayaran lintas negara, treasury perusahaan, hingga sistem pembayaran digital, persaingan untuk memimpin pasar stablecoin diperkirakan akan semakin ketat dalam beberapa tahun ke depan.

Baca juga: Pertarungan XRP di $3,13: Penentu Bull Run atau Awal Kejatuhan?


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





Sumber : news.tokocrypto.com

CEO Bank of America: Bunga Stablecoin Bisa Bikin $6 miliar Keluar Sistem Perbankan!

CEO Bank of America, Brian Moynihan, dalam Q4 2025 Bank of America Earnings Conference Call, memperingatkan bahwa jika stablecoin diizinkan membayar bunga (yield/interest) kepada pemegangnya, maka diperkirakan hingga $6 triliun deposito bank di Amerika Serikat berpotensi berpindah keluar dari sistem perbankan konvensional.

Angka ini terbilang sangatlah besar, karena mencapai sekitar 30-35% dari total deposito bank komersial di AS. Dampaknya, jika ini ternjadi bisa mencakup bank yang kehilangan sumber dana murah dari deposit retail yang mengendap, hingga naiknya biaya pinjaman kredit.

$6 miliar Bisa Keluar Sistem Perbankan Gara-Gara Stablecoin

Menurut Moynihan, perkiraan tersebut didasarkan pada studi Departemen Keuangan AS (U.S. Treasury Department) dan menghubungkan potensi pergeseran dengan perdebatan legislatif yang sedang berlangsung mengenai stablecoin berbunga.

Ia menjelaskan bahwa stablecoin yang membayar bunga akan berfungsi mirip seperti money market mutual fund, instrumen investasi yang menawarkan yield lebih tinggi dibandingkan rekening tabungan bank biasa.

Jika stablecoin bisa memberikan yield sekitar 4%, sementara bank hanya memberikan bunga kecil, maka wajar jika masyarakat dan institusi lebih memilih memindahkan dana mereka ke stablecoin.

Dalam surat yang ditulis oleh para pimpinan bank kepada Senat AS mengenai risiko besar jika stablecoin diizinkan membayar bunga atau imbal hasil, menyebutkan bahwa “jika miliaran dana tersingkir dari pinjaman bank komunitas, usaha kecil, para petani, pelajar, dan pembeli rumah di kota-kota seperti milik kita akan menderita.” seraya menambahkan bahwa perusahaan yang terkait dengan stablecoin tidak dapat menggantikan peran bank dalam menciptakan kredit dan tidak menawarkan asuransi FDIC.

Dampak lainnya juga bisa berakibat seperti:

  • Bank kehilangan sumber dana murah (deposito ritel)
  • Bank terpaksa mencari dana dari sumber lain yang lebih mahal (wholesale funding)
  • Kapasitas kredit/lending bank menurun
  • Biaya pinjaman (suku bunga kredit) secara keseluruhan bisa naik

Namun, banyak yang menganggap hal di atas hanyalah alasan belaka, untuk melindungi kepentingan dan margin keuntungan bank besar. Karena bank besar ini sebenarnya mampu menawarkan suku bunga yang lebih kompetitif pada deposito jika terpaksa bersaing secara terbuka.

Gonjang-Ganjing Regulasi Stablecoin di AS

Pernyataan Moynihan muncul di tengah perdebatan sengit di Kongres AS terkait rancangan undang-undang struktur pasar kripto terbaru (termasuk yang disebut sebagai bagian dari GENIUS Act atau draft terbaru dari Senator Tim Scott pada 9 Januari 2026).

Draft tersebut secara eksplisit melarang penerbit stablecoin membayar bunga atau yield hanya karena pemegang memegang token tersebut (passive holding). Namun, reward masih diperbolehkan jika terkait aktivitas seperti staking, liquidity provision, atau penggunaan aktif lainnya.

Bank-bank besar, termasuk Bank of America dan kelompok lobi perbankan sangat mendukung larangan ini, karena mereka ingin menutup celah agar stablecoin tidak menjadi pesaing langsung deposito bank.

Di sisi lain, pelaku industri kripto seperti CEO Coinbase, Brian Armstrong dengan tegas menolak draft tersebut, menyebutnya sebagai upaya bank untuk membunuh reward pada stablecoin dan membatasi kompetisi.

Amstrong beranggapan bahwa dengan stablecoin yang bisa memberikan yield berarti bunga dari yeild bisa masuk ke kantong keluarga Amerika. Menurutnya ini malah bagus, karena rakyat biasa dapat untung lebih banyak daripada simpan di bank yang bunganya rendah.

Baca juga: Mendulang Cuan Tambahan dari Staking ETF Ethereum

Membandingkan Rata-Rata Bunga Bank vs Stablecoin

Terlepas dari stablecoin yang mulai dipandang sebagai ancaman baru oleh bank konvensional, mari kita bandingkan rata-rata yield atau bunga bank vs stablecoin.

Di Indonesia, bunga deposito terbagi menjadi dua kategori, yakni Bank Besar dan Bank Digital.

Bank Besar biasanya memberikan bunga rendah karena likuiditas mereka melimpah, sedangkan Bank Digital berani memberikan bunga tinggi untuk menarik nasabah.

Bank Besar (BCA, Mandiri, BNI): Bunga berkisar 2.00% – 3.50% p.a.

Bank Digital (Seabank, Bank Saqu, Krom, Neo): Bunga berkisar 5.00% – 8.75% p.a.

Sedangkan untuk stablecoin, pengguna bisa menggunakan centralized exchange dan decentralized exchange untuk mendapatkan bunga. Bunganya sendiri bervariasi tergantung aktivitasnya, seperti earn, staking, atau landing.

Data DeFiLlama, 20 Januari 2026. Sumber: DeFiLlama.

Dikutip dari data DeFiLlama, rentang bunga stablecoin seperti USDT cukup bervariatif (diurutkan berdasar TVL) mulai dari 0.57% hingga 41.23% p.a dengan rata-rata 2-10% p.a namun bisa melonjak tinggi saat bull market sedang panas, karena banyak orang meminjam stablecoin untuk beli Bitcoin.

Kesimpulan

Bank mau tidak mau harus mulai beradaptasi dengan kemajuan teknologi, seperti kripto dan stablecoin. Jika bank terus melobi untuk membatasi yield stablecoin tanpa berinovasi, mereka berisiko kehilangan relevansi dalam era digital money, terlebih lagi adopsi stablecoin semakin meluas dengan pesat.

Baca juga: Contoh Nyata Manfaat Aset Kripto: Venezuela Andalkan USDT di Tengah Inflasi

Mulai perjalanan kriptomu dengan pastikan membeli token kripto terdaftar di resmi di Indonesia melalui exchange lokal resmi yang mengikuti prosedur yang berlaku seperti Tokocrypto.

Dapatkan potongan 20% biaya trading selamanya dengan masukkan kode: TEMUTOKO saat melakukan pendaftaran Tokocrypto—download aplikasinya dan registrasi di sini!


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.

Sumber:

Yahoo Finance: Bank of America CEO Warns $6T in Deposits Could Flow into Stablecoins

Stockwits: White House Threatens To Pull Support For Crypto Market Structure Bill





Sumber : news.tokocrypto.com

Penarikan Dana Crypto ke Rekening Bank: Apa yang Perlu Diketahui

Baik investor atau trader pasti setuju jika momen paling menyenangkan adalah saat ketika kita melakukan penarikan dana dari crypto ke rekening bank saat merealisasikan keuntungan.

Agar kamu tidak bingung saat melakukan penarikan dana crypto ke rekening bank, berikut beberapa hal yang harus kamu ketahui!

Bagaimana Cara untuk Melakukan Penarikan Dana Crypto ke Rekening Bank?

Secara umum, penarikan dana crypto ke rekening bank dilakukan melalui beberapa tahapan berikut:

  1. Menjual aset kripto ke rupiah (IDR)
    Aset kripto seperti Bitcoin atau Ethereum perlu dikonversi terlebih dahulu menjadi saldo rupiah di akun exchange. Di Tokocrypto, kamu bisa menjuat aset kripto kamu dengan cara market order, spot-limit, atau dengan menggunakan fitur Beli/Jual untuk mendapatkan potongan gratis biaya trading.
  2. Mengajukan penarikan (withdraw) IDR
    Setelah saldo rupiah ada di akun kamu, kamu bisa mengajukan penarikan ke rekening bank pribadi.
  3. Proses verifikasi dan pemrosesan sistem
    Exchange akan memverifikasi permintaan penarikan sesuai prosedur keamanan dan kepatuhan.
  4. Dana dikirim ke rekening bank
    Dana diproses melalui sistem perbankan dan masuk ke rekening kamu.

Di Tokocrypto, kamu bisa menarik dana crypto kamu dengan beberapa langkah:

  1. Pilih Menu Penarikan: Masuk ke menu penarikan, kemudian klik “IDR” atau pilih “IDR” di saldo dompet kamu.
  2. Tambah Rekening Bank: Klik tombol “Tambah akun” untuk menambahkan informasi rekening bank Anda. Isi nama bank dan nomor rekening dengan benar.
  3. Periksa Nomor Rekening: Pastikan nomor rekening sudah sesuai, lalu klik “Tambah”.
  4. Rekening Berhasil Ditambahkan: Setelah berhasil ditambahkan, pilih akun bank tujuan kamu.
  5. Masukkan Jumlah Penarikan: Masukkan nominal IDR yang ingin kamu tarik.

Gimana cukup mudah bukan? Yuk cobain Tokocrypto dengan daftar di sini 👉 Tokocrypto beli/jual gratis potongan biaya trading

Baca juga: Dana Nasabah Crypto Disimpan di Mana? Skema Penyimpanan di Exchange Lokal

Berapa Lama Penarikan Dana Crypto ke Rekening Bank?

penarikan dana rupiah dari exchange lokal membutuhkan waktu beberapa menit hingga maksimal 1 hari kerja. Dalam kondisi normal:

  • Permintaan yang diajukan pada jam kerja biasanya diproses di hari yang sama
  • Penarikan di malam hari atau akhir pekan (22:59 – 05:00 WIB) bisa lebih lama karena mengikuti jadwal bank mitra

Exchange lokal resmi seperti Tokocrypto beroperasi sesuai dengan regulasi Indonesia, serta bekerja sama dengan bank dan payment gateway resmi untuk memastikan dana sampai dengan aman ke rekening pengguna.

Di Tokocrypto sendiri proses penarikan bisa dibilang instan atau dalam hitungan menit, namun estimasi maksimalnya adalah 1×24 jam tergantung waktu kliring bank, kondisi jaringan (traffic tinggi), atau maintenance sistem bank.

Lebih lengkap, kamu bisa baca di sini: Penarikan Dana dari Exchange Lokal Berapa Lama? Ini Gambaran Umumnya

Biaya, Limit, dan Waktu Proses

Biaya dan limit penarikan di Tokocrypto dirancang kompetitif untuk mendukung trader retail hingga institusi.

Berikut tabel ringkasan biaya dan limit:

Aspek Keterangan
Biaya Penarikan IDR Rp10.000 per transaksi.
Biaya Konversi/Trading Maker: 0,10% – 0,15%; Taker: 0,15% – 0,20%; plus PPh final 0,21%.
Minimal Penarikan Rp100.000.
Limit Harian (KYC Level 1) Rp250.000.000 dan 3 BTC.
Limit Harian (KYC Level 2) Rp5.000.000.000 dan 100 BTC.
Waktu Proses Kurang dari 5 menit hingga maksimal 1×24 jam kerja.

Baca lebih lengkap mengenai biaya dan limit terbaru Tokocrypto di sini: Berapa Limit Penarikan Bitcoin dan IDR Per Hari di Tokocrypto? dan Informasi Biaya Transaksi di Tokocrypto

Tips Agar Penarikan Dana Crypto ke Rekening Lebih Cepat

Agar proses penarikan berjalan cepat dan minim kendala, kamu bisa melakukan beberapa hal berikut:

  1. Pastikan data akun dan rekening bank sudah benar
  2. Ajukan penarikan di jam kerja
  3. Pastikan nama akun dan nama rekening penerima sama
  4. Pastikan minimal dana yang akan ditarik memenuhi syarat ketentuan
  5. Pilih bursa resmi dan terpercaya seperti Tokocrypto

Baca juga: Dana Nasabah Crypto Aman atau Tidak? Ini Penjelasan Regulasi di Indonesia

Pastikan kamu memilih exchange lokal resmi yang mengikuti prosedur yang berlaku seperti Tokocrypto, agar kamu bisa menikmati proses penarikan dana yang aman, transparan, dan cepat.

Dapatkan potongan 20% biaya trading selamanya dengan masukkan kode: TEMUTOKO saat melakukan pendaftaran Tokocrypto—download aplikasinya dan registrasi di sini!


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



Sumber : news.tokocrypto.com

EDX Markets Incar Izin Bank Trust dari OCC demi Keamanan Aset Institusi

Platform perdagangan kripto institusional EDX Markets mengambil langkah strategis dengan mengajukan charter bank perwalian nasional kepada Office of the Comptroller of the Currency (OCC).

Jika disetujui, langkah ini akan melahirkan entitas baru bernama EDX Trust, yang dirancang untuk menangani custody aset kripto, manajemen aset, serta proses settlement perdagangan dalam kerangka bank yang teregulasi.

Inisiatif ini mencerminkan evolusi penting dalam infrastruktur pasar kripto, khususnya dalam upaya mendekatkan standar operasional dengan sistem keuangan tradisional (TradFi).

Nantinya, EDX Trust akan beroperasi sebagai entitas non-depository, yang berarti tidak menerima simpanan seperti bank pada umumnya, tetapi fokus pada layanan kustodian dan penyelesaian transaksi.

Baca Juga: Sah! Citigroup Jadi Pelopor TradFi Dalam Adopsi Blockchain

Memisahkan Fungsi Kritis dalam Ekosistem Kripto

Salah satu poin utama dari pengajuan ini adalah pemisahan fungsi antara trading, custody, dan settlement.

Selama ini, banyak platform kripto menggabungkan ketiga fungsi tersebut dalam satu entitas, yang sering kali menjadi perhatian regulator karena potensi konflik kepentingan dan risiko operasional.

Dengan membentuk EDX Trust, EDX Markets berupaya menciptakan struktur yang lebih modular dan transparan.

Custody dan settlement akan dipisahkan dari venue trading utama, sehingga menciptakan lapisan keamanan tambahan serta meningkatkan kepercayaan institusi.

Pendekatan ini sejalan dengan praktik di pasar keuangan tradisional, di mana fungsi-fungsi tersebut biasanya dijalankan oleh entitas yang berbeda untuk meminimalkan risiko sistemik.

Menargetkan Klien Institusional

EDX Trust dirancang khusus untuk melayani klien institusional, termasuk broker-dealer, futures commission merchants (FCM), serta penasihat investasi terdaftar.

Segmen ini menjadi fokus utama karena memiliki kebutuhan tinggi terhadap kepatuhan regulasi, keamanan aset, dan transparansi operasional.

Dengan status sebagai bank trust nasional, EDX Trust diharapkan mampu memberikan jaminan tambahan bagi institusi yang selama ini masih ragu untuk masuk ke pasar kripto akibat keterbatasan infrastruktur yang sesuai standar regulasi.

Langkah ini juga mencerminkan tren yang lebih luas, di mana pemain kripto mulai membangun layanan yang lebih kompatibel dengan kebutuhan institusi besar.

Menunggu Persetujuan Regulator

Meski ambisius, rencana ini masih bergantung pada persetujuan dari OCC. Proses evaluasi untuk charter bank trust nasional dikenal ketat, terutama karena melibatkan aspek manajemen risiko, kepatuhan, dan stabilitas operasional.

Laporan dari Cointelegraph menyoroti bahwa pengajuan ini didukung oleh pemain besar seperti Citadel, yang semakin memperkuat kredibilitas EDX dalam membangun infrastruktur kripto institusional.

Namun, tanpa persetujuan resmi, seluruh rencana ini masih berada dalam tahap awal. Keputusan OCC akan menjadi faktor penentu apakah EDX dapat merealisasikan visinya dalam waktu dekat.

Implikasi bagi Adopsi Institusional

Tim Research Tokocrypto menilai bahwa langkah ini memiliki signifikansi yang lebih besar dibanding sekadar ekspansi bisnis biasa.

“Ini bukan sekadar ekspansi produk, tapi upaya membangun rel institusional yang lebih bersih dengan memisahkan fungsi trading, brokerage, dan custody yang selama ini sering numpuk dalam satu atap. Kalau disetujui, langkah ini bakal memperkuat narasi adopsi institusional kripto di bawah standar regulasi tradfi—meski efek bisnis nyatanya tetap bergantung pada approval OCC dan kecepatan onboarding klien besar,” ujar Tim Research Tokocrypto.

Pernyataan ini menegaskan bahwa inisiatif seperti EDX Trust berperan penting dalam membentuk persepsi pasar terhadap kesiapan industri kripto dalam melayani institusi besar.

Menuju Standar Baru Infrastruktur Kripto

Jika disetujui, EDX Trust berpotensi menjadi model baru bagi infrastruktur kripto yang lebih terstruktur dan teregulasi.

Pemisahan fungsi yang jelas tidak hanya meningkatkan keamanan, tetapi juga membantu menciptakan standar industri yang lebih tinggi.

Dalam jangka panjang, pendekatan ini dapat mendorong lebih banyak institusi untuk masuk ke pasar kripto, karena risiko operasional dan kepatuhan dapat diminimalkan.

Namun, keberhasilan strategi ini tetap akan bergantung pada dua faktor utama: persetujuan regulator dan kemampuan EDX dalam menarik serta mempertahankan klien institusional.

Baca Juga: NYSE Siapkan Settlement Blockchain: Era Baru Wall Street?

Pengajuan charter bank trust oleh EDX Markets menandai langkah penting dalam evolusi infrastruktur kripto menuju standar institusional.

Dengan memisahkan fungsi trading, custody, dan settlement, EDX berupaya menciptakan ekosistem yang lebih aman dan transparan.

Meski masih menunggu persetujuan regulator, inisiatif ini memperkuat narasi bahwa integrasi antara kripto dan keuangan tradisional semakin nyata.

Jika berhasil, EDX Trust bisa menjadi salah satu fondasi penting dalam gelombang adopsi institusional berikutnya.


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





Sumber : news.tokocrypto.com

Nasabah Terbesar Prancis Kini Bisa Beli Bitcoin Langsung via Bank

Bank terbesar di Prancis, BNP Paribas, resmi menghadirkan produk kripto untuk investor ritel dengan meluncurkan enam Exchange-Traded Notes (ETNs) berbasis Bitcoin dan Ethereum mulai 30 Maret 2026.

Langkah ini menjadi terobosan penting karena membuka akses kripto bagi jutaan nasabah tanpa perlu membeli atau menyimpan aset digital secara langsung.

Investor bisa eksposur kripto tanpa pegang aset

Dilaporkan Crypto Briefing, ETN merupakan instrumen utang yang diperdagangkan di bursa dan memberikan eksposur terhadap aset tertentu melalui indeks. Dengan produk ini, investor dapat mengikuti pergerakan harga Bitcoin dan Ethereum tanpa harus memiliki koin tersebut.

Produk ini juga dirancang sesuai rbegulasi MiFID II di Eropa, yang bertujuan meningkatkan transparansi dan perlindungan investor. Artinya, akses terhadap kripto kini semakin terintegrasi dengan sistem keuangan tradisional.

Produk ETN ini akan tersedia untuk berbagai segmen nasabah, termasuk investor ritel dan private banking, dengan rencana ekspansi ke pasar internasional secara bertahap.

Menurut Tim Research Tokocrypto, ini adopsi yang serius karena salah satu bank terbesar Eropa mulai mengemas kripto ke format yang akrab bagi investor tradisional.

“Kalau distribusi ETN seperti ini berhasil, pasar Bitcoin dan Ethereum bisa dapat jalur permintaan baru dari tabungan ritel Eropa tanpa harus menunggu semua orang mau jadi native crypto user,” jelasnya.

Baca juga: Bank Dunia Lirik Aset Blockchain: Era Baru Keuangan Dimulai

Strategi jangka panjang BNP Paribas di sektor kripto

BNP Paribas bukan pemain baru dalam eksplorasi teknologi blockchain. Bank ini sebelumnya telah melakukan berbagai uji coba, termasuk dalam trade finance, settlement sekuritas, hingga tokenisasi aset.

Baru-baru ini, mereka juga menguji tokenisasi reksa dana pasar uang di jaringan Ethereum, sebagai bagian dari eksplorasi efisiensi distribusi dan operasional.

Selain itu, BNP Paribas tergabung dalam konsorsium Qivalis, yang sedang mengembangkan stablecoin berbasis euro untuk kebutuhan institusi dan ekosistem kripto, dengan target peluncuran pada akhir 2026.

Potensi arus dana besar ke pasar kripto

Langkah ini datang di tengah pertumbuhan investor ritel di Prancis yang cukup signifikan. Sekitar 2,5 juta investor aktif tercatat di pasar saham sepanjang 2025, dengan tambahan 1,6 juta investor baru dalam tiga tahun terakhir.

Dengan total simpanan likuid rumah tangga Prancis yang mencapai sekitar €2 triliun, bahkan alokasi kecil ke produk berbasis kripto berpotensi memberikan dampak besar terhadap likuiditas Bitcoin dan Ethereum.

Peluncuran ETN ini menandai fase baru integrasi kripto dengan sistem keuangan tradisional, di mana akses semakin mudah dan hambatan teknis bagi investor semakin berkurang.

Baca juga: Paxos Tak Sengaja Cetak Stablecoin $300 Triliun untuk PayPal!


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.



Sumber : news.tokocrypto.com

Bank Dunia Lirik Aset Blockchain: Era Baru Keuangan Dimulai

Industri perbankan global mulai bergerak cepat menghadapi perubahan besar dalam sistem keuangan digital.

Laporan terbaru dari RWA.io mengungkap bahwa bank-bank kini активно mengembangkan tokenized deposits sebagai bagian dari persaingan menghadirkan “uang onchain”, di tengah meningkatnya popularitas stablecoin dan rencana mata uang digital bank sentral (CBDC).

Tokenized Deposits Jadi Senjata Baru Bank

Tokenized deposits merupakan representasi digital dari simpanan bank yang ditempatkan di atas teknologi blockchain. Berbeda dengan stablecoin, aset ini tetap menjadi kewajiban langsung bank penerbit dan berada dalam kerangka regulasi perbankan, termasuk perlindungan simpanan, aturan modal, serta standar AML dan KYC.

Konsep ini dinilai sebagai solusi tengah antara inovasi teknologi dan keamanan sistem keuangan tradisional, memungkinkan bank tetap relevan di era digital tanpa kehilangan kontrol terhadap dana nasabah.

Persaingan “Onchain Cash” Semakin Memanas

Laporan tersebut menyebutkan bahwa tokenized deposits kini berkembang sebagai bagian dari ekosistem “onchain cash” bersama stablecoin dan CBDC. UK Finance bahkan menilai instrumen ini akan memainkan peran penting dalam sistem “multi-money” di masa depan, di mana berbagai bentuk uang digital akan hidup berdampingan.

Langkah ini juga mencerminkan upaya bank untuk mempertahankan peran mereka dalam sistem pembayaran, pengelolaan likuiditas, dan layanan treasury di tengah meningkatnya adopsi teknologi blockchain.

Tim Research Tokocrypto mengungkap ini jelas sinyal adopsi, bukan eksperimen pinggiran. Saat bank besar mulai membangun representasi digital dari deposit mereka sendiri, pasar sedang bergerak ke fase di mana institusi tidak lagi sekadar bereaksi pada stablecoin.

“Tapi mulai menyiapkan versi onchain dari uang mereka sendiri untuk mempertahankan relevansi di era settlement 24/7,” ujarnya.

Baca juga: Bank Inggris Pindahkan Tabungan ke Blockchain: Apakah Aman?

Uji Coba Mulai Dilakukan di Eropa

Dilaporkan Cointelegraph, sejumlah bank besar telah memulai uji coba teknologi ini. Pada Januari lalu, Lloyds Banking Group bersama Archax berhasil menyelesaikan transaksi blockchain publik pertama di Inggris menggunakan tokenized deposits di jaringan Canton.

Selain itu, proyek Great British Tokenised Deposit yang dipimpin UK Finance tengah menguji berbagai use case seperti pembayaran peer-to-peer, refinancing properti, hingga settlement aset digital, dengan target pengujian berlangsung hingga pertengahan 2026.

Eropa Siapkan Infrastruktur Keuangan Digital

Di sisi kebijakan, European Central Bank (ECB) juga tengah mempercepat pengembangan digital euro sebagai respon terhadap dominasi stablecoin berbasis dolar AS. ECB bahkan merancang infrastruktur baru bernama “Pontes” untuk menghubungkan sistem keuangan berbasis blockchain dengan jaringan pembayaran tradisional Eropa (TARGET Services).

Sistem ini dijadwalkan mulai diluncurkan pada kuartal ketiga 2026, sementara uji coba digital euro direncanakan dimulai pada paruh kedua 2027.

Menuju Sistem Keuangan Hybrid

Menurut pelaku industri, masa depan sistem keuangan tidak akan bergantung pada satu jenis uang digital saja. Tokenized deposits dipandang sebagai fondasi penting karena membawa uang bank komersial ke dalam ekosistem digital tanpa mengubah struktur dasar sistem keuangan.

Perkembangan ini menandakan bahwa persaingan tidak lagi hanya soal aset kripto, tetapi juga tentang siapa yang menguasai infrastruktur “uang digital” di masa depan.

Baca juga: Paxos Tak Sengaja Cetak Stablecoin $300 Triliun untuk PayPal!


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.



Sumber : news.tokocrypto.com