Tag Archives: bitcoin

Harga Bitcoin Terus Jatuh, Metrik Tunjukan Fase Extreme Fear

Penurunan harga Bitcoin (BTC) dalam beberapa pekan ini, membuat metrik Fear and Greed Index menunjukan posisi fase ketakutan ekstrem atau Extreme Fear. Faktanya, metrik tersebut berada dalam kondisi yang terburuk sejak akhir Januari lalu, ketika harga aset turun menjadi $33.000.

Berdasarkan pantauan situs CoinMarketCap, nilai Bitcoin terus anjlok hingga hari Selasa (10/5) pukul 08.00 WIB, harga BTC berada di $ 31.027,13, turun 9,15% dalam 24 jam terakhir. Sementara, laporan data dari Coingecko, harga BTC anjlok 13,4 persen dalam dua pekan terakhir.

Jatuhnya harga BTC yang hebat ini mengakibatkan perubahan dalam sentimen pasar secara keseluruhan, yang ditunjukkan oleh Bitcoin Fear dan Green Index. Dengan memeriksa posting media sosial komunitas, survei, volatilitas, volume perdagangan dan lainnya menentukan perasaan umum terhadap aset kripto terpopuler tersebut.

Bitcoin Fear dan Green Index
Bitcoin Fear dan Green Index masuk fase Extreme Fear.

Baca juga: Proyeksi Harga Bitcoin yang Tertekan di Awal Mei 2022, Terus Turun?

Investor Bitcoin Merasa Takut

Metrik Bitcoin Fear dan Green Index menunjukkan hasil akhir dari 0 (ketakutan ekstrem) hingga 100 (ketamakan ekstrem). Hasilnya Bitcoin telah berada di wilayah ketakutan sejak pertengahan April, tetapi penurunan harga terbaru mendorongnya ke ketakutan yang ekstrem.

Menurut laporan Crypto Potato, metrik menunjukan posisi BTC yang berada di posisi terendah sejak penurunan akhir Januari lalu. Performa Bitcoin di awal Mei juga tidak begitu bagus.

Anjloknya harga BTC membuat para investor dan trader mengalami ketakutan hingga melakukan penjualan. Aksi jual ini turut memicu penurunan harga BTC. Tidak berhenti sampai di situ, anjloknya harga Bitcoin turut memicu penurunan harga altcoin.

Tren Bitcoin Bakal Terus Turun

Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, melihat dari analisis teknikal, harga BTC lagi berusaha mempertahankan posisi di supportnya $ 34.000. Sekarang masih berada di bawah level support-nya dan menunggu konfirmasi pada candle daily.

“Jika harga menutup di bawah garis level support, berarti ini konfirmasi bahwa harga akan terus mengalami penurunan ke level selanjutnya di sekitar $ 30.000. Tapi, mungkin Bitcoin akan bertahan di level support $ 34.000 selama beberapa hari baru akan ada konformasi selanjutnya, yaitu terus mengalami penurunan hingga capai $ 30.000,” kata Afid.

Analisis teknikal harga Bitcoin awal Mei 2022.
Analisis teknikal harga Bitcoin awal Mei 2022.

Baca juga: Proyeksi Analis: Harga Bitcoin Menguat Pasca $ 25 Ribu, November 2022

Bulan Mei biasanya merupakan periode musiman yang kuat untuk saham dan kripto. Alasannya secara historis, Bitcoin telah mengalami kenaikan transaksi 17% di bulan Mei dalam 9 tahun terakhir.

Hal ini dapat memberikan kesempatan bagi investor untuk memasuki pasar setelah tiga bulan melakukan perdagangan sideways. Namun, melihat penurunan yang hebat dan banyaknya sentimen negatif, membuat pergerakan naik akan jauh lebih sulit.



Sumber : news.tokocrypto.com

Miliarder Ini Tak Heran Jika Harga Bitcoin Turun Jadi US$ 10 Ribu

Di tengah kesengsaraan pasar kripto, miliarder ini tak heran jika harga Bitcoin (BTC) akan terus turun, hingga US$ 10.000.

Saat ini, harga Bitcoin masih belum dapat pulih, terus turun dan mencetak low baru, meski dolar AS mulai melemah akibat langkah The Fed yang menaikkan suku bunga ke 75 basis poin.

Harga Bitcoin Turun ke US$ 10.000

Berdasarkan laporan Finbold, miliarder dan CEO dari DoubleLine Capital, Jeffrey Gundlach, yakin bahwa harga Bitcoin akan turun jauh dari US$20.000, yang dianggap orang-orang sebagai titik potensial untuk membangun pijakan pemulihan.

Jeffrey beranggapan bahwa harga kripto utama akan terus turun, tidak lebih dari US$10.000, yang telah ia ungkapkan dalam wawancara CNBC’s Closing Bell: Overtime.

Saat pewawancara menanyakan prediksi Jeffrey tentang seberapa rendah Bitcoin akan jatuh, ia mengatakan bahwa tren kripto jelas tidak positif saat ini.

Baca juga: Harga Bitcoin Agresif, Pasca The Fed Naikkan Suku Bunga Tertinggi

“Pada Juli tahun lalu, Bitcoin naik menjadi US$60.000 atau lebih, kemudian turun menjadi US$30.000… Pada akhirnya itu akan jatuh dan kemudian harus bangkit kembali tetapi terus masuk, sepertinya sedang dilikuidasi. Jadi saya tidak bullish pada US$20.000 atau US$21.000 pada Bitcoin. Saya tidak akan terkejut sama sekali jika harganya mencapai US$10.000,” tambahnya.

Di sisi lain, sudut pandang Jeffrey tampak berseberangan dengan ahli strategi komoditas dari Bloomberg, Mike McGlone, yang justru melihat US$20.000 sebagai titik terendah untuk BTC, alias bottom level.

Baca juga: Era Bearish Pasar Kripto Semakin Tegas, Kapan Akan Berakhir?

Mike pun meyakini bahwa BTC nantinya akan menjadi produk investasi penting, sehingga harganya akan melesat ke US$100.000 pada tahun 2025, satu tahun pasca halving terbaru BTC.

Dan yang patut disorot saat ini adalah, kekhawatiran terjadinya resesi, pasca langkah agresif the Fed dalam menaikkan suku bunga. Beberapa analis memperkirakan ini akan terjadi pada pertengahan 2023.

Dan jika resesi terjadi, maka pernyataan Robert Kiyosaki, penulis buku keuangan terlaris, Rich Dad Poor Dad, akan menjadi kenyataan.

Robert berpendapat bahwa, AS akan jatuh ke dalam resesi karena ulah the Fed, sehingga emas, perak dan Bitcoin akan menyelamatkan kekayaan Anda. Ia pun mengatakan bahwa ini layak untuk dibeli sebanyak-banyaknya.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Prediksi Harga Bitcoin, US$ 209 Ribu pada Tahun 2025

Prediksi harga Bitcoin berdasarkan bagan “Bitcoin Cycle Repeat”, bisa mencapai US$ 209 ribu per BTC pada tahun 2025. Halving 2024 adalah salah satu komponen terpentingnya. Bagan pun harus dianggap sebagai sekadar teori. Bagan yang mirip, yakni S2F karya PlanB, sudah dikritik tajam oleh Vitalik Buterin.

Dengan tren saat ini, harga Bitcoin diprediksi bisa menjadi US$ 209 ribu pada Oktober 2025. Harga itu ditandai sebagai harga puncak tertinggi setelah Halving (after halving top) tahun 2024.

Angka prediksi, yang oleh sebagian orang dianggap sebagai FOMO (fear of missing opportunity) itu, berdasarkan data dari bagan (chartBitcoin Cycle Repeat dari situs BuyBitcoinWorldWide.

Ada belasan bagan lain yang cukup berfaedah membantu Anda belajar lebih banyak tentang konsep, teori dan model proyeksi. Situs itu sebelumnya berdomain Digitalik.net yang sangat popular dan diakusisi oleh BuyBitcoinWorldWide pada tahun lalu.

Baca juga: Yuk, Ketahui Cara Bermain Game Kawaii Island NFT Agar Cuan!

Bagan itu menunjukkan bagaimana jadinya jika dari perubahan harga hari ini, atau pada hari lain di masa lalu, akan mengulangi polanya dari siklus sebelumnya. Satu siklus penuh adalah 1458 hari (4 tahun) dan data di bagan itu diperbarui setiap 5 menit.

“Bagan Bitcoin Cycle Repeat menggunakan pergerakan rata-rata harga BTC selama 1.458 hari terakhir dan mengulangi pergerakan tersebut lagi untuk memprediksi harga setiap hari selama 1.458 hari ke depan. Bagan ini juga menampilkan harga teratas setelah halving sebelumnya serta puncak setelah setiap halving yang akan datang,” tertera di bagian penjelasan bagan itu oleh pengelola situs.

Karena tidak diperuntukkan sebagai acuan utama dan akurat, menurut BuyBitcoinWorldWide, angka proyeksi 1.458 hari mendatang harus dianggap hanya sebagai perkiraan.

“Keakuratan bagan ini sangat bergantung pada ‘perilaku Bitcoin’ untuk berulang dengan sempurna. Pun ada banyak alasan mengapa Bitcoin mungkin berkinerja baik ataupun sebaliknya dibandingkan tren 1.458 hari sebelumnya. Maka, bagan ini harus dilihat sebagai teori saja,” tulis BuyBitcoinWorldWide, dengan catatan harga acuan berdasarkan data dari CryptoCompare.

Dan entah karena memang kebetulan, pada 17 Januari 2020, berdasarkan bagan itu, harga Bitcoin diprediksi akan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) baru pada Oktober 2021.

Faktanya yang diketahui publik, ATH terkini adalah pada 8 November 2021 di kisaran US$69 ribu. Bagan Bitcoin Cycle Repeat menerakan ATH itu sebagai “after halving top” di harga US$67.549.

Baca juga: Prediksi Harga Bitcoin, US$209 Ribu pada Tahun 2025

Nah, ketika artikel ini ditulis, Jumat (24/6/2022) dini hari, harga BTC di bagan itu tertera US$ 20.300 per BTC dengan acuan harga Kamis (23/6/2022)-price end of day, berdasarkan data CryptoCompare.

Dengan sandaran itu, berdasarkan prinsip dan variabel bagan, harga puncak setelah Halving ke-4 tahun 2024 diprediksi bisa mencapai US$ 209.851 pada 27 Oktober 2025.

prediksi harga bitcoin

Dalam rentang waktu yang pendek, dengan harga harian yang serupa, harga BTC diprediksi menjadi US$ 10.051 pada 2 Desember 2022. Harga itu “dianggap” sebagai support level terbesar yang melentingkan harga kripto itu berada di atas Moving Average (MA) 200 hari dan MA 1458 hari.

Perlu ditegaskan kembali, bahwa bagan ini harus dianggap sebagai teori saja dan tidak boleh dijadikan acuan utama dalam mengambil keputusan, pasalnya bagan ini lebih mengarah pada teknikal dan tentu saja tidak memasukan faktor makroekonomi, sebagaimana model Stock-to-Flow (S2F) rancangan PlanB, yang dinilai oleh Vitalik Buterin “sangat berbahaya.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Harga Bitcoin Ambruk adalah Peluang Beli yang Besar

Pendiri dan CEO MicroStrategy, Michael Saylor, mengatakan, bahwa harga Bitcoin yang sedang ambruk saat ini adalah peluang beli yang sangat besar. Sementara itu hasil survei Bloomberg menunjukkan, BTC diproyeksikan bisa jatuh ke US$ 10 ribu, akibat terus menguatnya dolar AS.

MicroStrategy, perusahaan publik asal Amerika Serikat, memang sejak tahun 2020 melakukan pembelian Bitcoin secara besar-besaran. Mereka menilai kripto itu sebagai alat lindung nilai ketika terjadi inflasi.

“Saat ini adalah peluang beli yang besar terhadap Bitcoin. Saat ini adalah entry point yang tepat,” ucap Saylor kepada CNBC belum lama ini.

Pernyataan Saylor itu, sejatinya menegaskan pendapatnya sejak lama, bahwa BTC memiliki keunggulan relatif dibandingkan kelas aset lain seperti emas.

Namun, pada kenyataannya, ketika inflasi tinggi 8,6 persen di AS, justru harga Bitcoin terkoreksi besar-besar, hampir 70 persen dari puncak tertinggi sebelumnya pada November 2021 di kisaran US$ 69 ribu.

harga bitcoin
Grafik harga Bitcoin.

Baca juga: Bitcoin dan Kripto Lainnya Terbang saat Data Inflasi AS Meroket

Satu risiko besar yang menghampiri perusahaan itu adalah, margin call, yang dapat memaksa perusahaan menjual sebagian dari lebih dari 130.000 BTC. BTC sebanyak itu dijadikan agunan untuk meminjam uang dari Silvergate Bank beberapa waktu lalu untuk membeli BTC tambahan. Status margin call terjadi, mana kala harga BTC jatuh di besaran tertentu, karena perusahaan harus mengembalikan dana pinjaman secara rutin setiap bulan.

Sebenarnya Bitcoin sebagian komponen utama di pasar kripto bukanlah satu-satunya pasar yang mengalami aksi jual besar-besaran. Sepanjang Juni 2022 saja, indeks Dow Jones Industrial Average melandai di -0,62% dan Indeks S&P -0,92 persen memasuki wilayah bearish.

Pasar saham dan pasar kripto yang melandai adalah dampak dari menguatnya dolar AS yang ditandai dengan indeks dolar (DXY) sudah mencapai 108 (tertinggi sejak Oktober 2002), akibat kebijakan kenaikan suku bunga oleh The Fed sejak Maret.

Jika inflasi terus tinggi, diperkirakan The Fed akan terus menaikkan suku bunganya, hingga inflasi dapat ditekan hingga di kisaran 2 persen.

Secara teknikal berdasarkan indikator RSI mingguan, harga Bitcoin saat ini berada di wilayah sangat oversold, yang menandakan tekanan jual yang besar mulai mereda.IKLAN

harga bitcoin
Grafik harga Bitcoin.

Baca juga: Bank Indonesia: Aset Kripto Ciptakan Inklusi Keuangan

RSI ini melampaui oversold 12 Januari 2015 pada time frame mingguan dan menyamai oversold 12 Januari 2012.

Namun demikian, masih ada ruang penurunan berikutnya, setidaknya berdasarkan hasil survei oleh Blooomberg yang dirilis beberapa hari lalu. Sejumlah pelaku pasar, lewat hasil survei Bloomberg yang digelar pada awal Juli 2022 lalu, memproyeksikan harga Bitcoin bisa jatuh lagi di kisaran US$10 ribu. [ps]

Artikel ini telah tayang di Blockchainmedia.id dengan judul Michael Saylor: Harga Bitcoin Ambruk adalah Peluang Beli yang Besar





Sumber : news.tokocrypto.com

Reli Harga Bitcoin Terhenti Pasca Laporan Tesla Jual BTC

Bitcoin (BTC) mengalami minggu terbaiknya sejak Maret, dengan nilai naik 12% sejak hari Minggu (17/7), dan Ethereum (ETH) bahkan lebih baik, naik 15%. Namun pada hari Rabu (20/7) reli tampaknya agak terhenti, pasca berita buruk di industri kripto.

Pawai BTC menuju US$ 24.000 tampaknya bakal mengambil jeda singkat setelah berita utama media mengumumkan bahwa Tesla telah menjual 75% dari posisi Bitcoin-nya. Ditelusuri dari data pendapatan Q2 Tesla, menunjukkan bahwa perusahaan mobil listrik itu telah menjual 75% kepemilikan Bitcoinnya untuk mendapatkan uang tunai sebesar US$ 963 juta ke neraca.

Tak lama setelah berita Tesla tersiar, harga Bitcoin mundur dari tertinggi hariannya di US$ 24.280 menjadi US$ 22.900, sebelum stabil di sekitar US$ 23.500. Dan pada saat artikel ini ditulis harga Bitcoin duduk di US$ 23.186 (Rp 347 juta).

Ilustrasi Tesla jual Bitcoin.
Ilustrasi Tesla jual Bitcoin.

Baca juga: Prediksi Titik Balik Kripto Momen Super Bullish

Berita Buruk dari Minecraft dan Zipmex

Kemunduran tak terduga dari pergerakan market kripto ini mungkin juga membantu membawa sedikit perspektif pasar kepada investor yang siap menyerukan diakhirinya bear market. Kapitalisasi pasar kripto keseluruhan sekarang mencapai US$ 1,035 triliun dan tingkat dominasi Bitcoin adalah 42,7%.

Sementara kemunduran untuk Bitcoin sejauh ini relatif ringan, beberapa altcoin mengalami penurunan yang lebih tajam karena kenaikan harga baru-baru ini menciptakan peluang bagus bagi para investor untuk membukukan beberapa keuntungan.

Sentimen negatif lain datang juga dari Mojang Studios, pengembang game Minecraft yang berbalik arah dengan memutuskan untuk melarang NFT di platformnya. Perusahaan juga mengkritik “harga spekulatif” dan “mentalitas investasi” di sekitar NFT yang menghilangkan pengalaman game dan mendorong pencatutan sehingga merugikan playability game jangka panjang.

“NFT dapat membuat model kelangkaan dan pengecualian yang bertentangan dengan Guideline kami dan semangat Minecraft,” kata Mojang Studios.

Ilustrasi Zipmex. Foto: Zipmex.
Ilustrasi Zipmex. Foto: Zipmex.

Baca juga: Kenal Kripto Fio Protocol (FIO) dan RSK Infrastructure Framework (RIF)

Di sisi lain exchange kripto, Zipmex, yang umumkan melakukan penghentian sementara untuk proses penarikan dana dan aset kripto. Saat ini terpantau Zipmex juga menghentikan berbagai kegiatan yang direncanakan sebelumnya di media sosial.

Berdasarkan keterangan yang dipublikasi Zipmex di media sosial, keputusan ini diambil karena kondisi market yang sangat volatil, berbagai peristiwa besar tidak terduga yang mengubah kondisi pasar atau Black Swan, dan kesulitan finansial perusahaan.



Sumber : news.tokocrypto.com

Bisakah Nilai Bitcoin Capai Rp 449 Juta pada Februari 2023?

Reli panjang yang terjadi pada awal tahun ini, membuat banyak investor optimisi nilai Bitcoin bisa mencapai US$ 30.000 atau sekitar Rp 449 juta di Februari 2023. Harga Bitcoin sendiri merebut kembali posisi nilai US$ 23.000 pada 1 Februari, setelah sempat alami koreksi.

Setelah pertemuan FOMC yang digelar The Fed pada 31 Januari-1 Februari, pasar saham Amerika Serikat dan kripto tetap dalam suasana optimis menjelang perkembangan. Jika indeks saham AS melanjutkan kenaikannya menjelang pertemuan, efek riak juga bisa menjadi kabar baik untuk pasar aset kripto.

Dengan tujuan untuk mengekang inflasi, The Fed terus menaikkan suku bunga sepanjang tahun. Oleh karena itu, sebagian besar aset berisiko termasuk kripto mengalami penurunan drastis. Namun dengan adanya kemungkinan penggunaan Quantitative easing sambil melonggarkan suku bunga ke depan akan menjadi skenario bullish yang brilian untuk Bitcoin dan altcoin.

Penentuan The Fed

bentuk koin bitcoin
Ilustrasi aset kripto Bitcoin.

Baca juga: Proyeksi Market Kripto Bulan Februari Selepas Rapat FOMC The Fed

Dikutip Watcher Guru, hasil pertemuan The Fed pada hari Kamis (2/2) dapat menentukan arah Bitcoin dalam indeks. Mark Gibson, seorang profesor ekonomi di Washington State University mengatakan kepada Yahoo bahwa pasar kripto dapat reli, jika Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin atau bps.

“Kami telah melihat beberapa kemajuan dalam hal inflasi turun. Jadi pemikirannya adalah bahwa Fed sekarang mungkin mulai mengurangi kenaikan suku bunga. Jadi itulah mengapa pasar berpikir bahwa 25 basis poin lebih mungkin terjadi pada pertemuan ini,” katanya.

Bergabung dengan banyak pandangan lainnya, analis aset kripto pseudonim, Altcoin Sherpa memperkirakan bahwa Bitcoin dapat mencapai US$ 30.000 dalam beberapa minggu mendatang. Analis percaya bahwa kenaikan 25 bps dapat diterima oleh pasar yang mengarah ke reli lainnya di bulan Februari.

“BTC: Semakin lama ini bertahan di sekitar area ini, saya semakin bullish. Saya pikir sangat mungkin kita melihat celah terisi hingga 30 ribu pada akhirnya, ” dia memprediksi.

Rawan Tekanan

Baca juga: 5 Kripto Altcoin yang Paling Untung di Bulan Januari 2023

Meskipun demikian, Prof Gibson memperingatkan bahwa jika Fed memberikan kejutan lebih dari 25 bps, pasar dapat bereaksi dengan kuat. “Jika pasar mengharapkan kenaikan 25 basis poin dan ternyata menjadi kenaikan 50 basis poin, itu akan menjadi kejutan. Jadi pasar akan bereaksi negatif terhadap itu, ” katanya.

Kesimpulannya, Bitcoin mencapai angka US$ 30.000 atau kisaaran Rp 449 juta sekarang semata-mata bergantung pada bagaimana pasar bereaksi terhadap pertemuan FOMC.

Pada saat pers, Bitcoin diperdagangkan pada US$ 23.003 dan naik 1% dalam perdagangan 24 jam sehari. BTC turun 66,6% dari level tertinggi sepanjang masa di US$ 69.044, yang dicapai pada November 2021.



Sumber : news.tokocrypto.com

Trader Yakin Bitcoin Bisa Capai Rp 466 Juta Sebelum Akhir 2022

Seorang trader dan analis terkenal asal Belanda, Michael van de Poppe, yakin Bitcoin (BTC) akan mencapai harga tinggi sekitar US$ 30.000 atau Rp 466 juta sebelum akhir tahun 2022.

Poppe menjelaskan lewat tweet-nya ia masih memiliki pandangan yang sama akan masa depan Bitcoin yang cerah. Untuk mencapai angka US$ 30.000 ada ketentuan yang harus dihadapi BTC.

Menurut trader yang terkenal dengan akun Twitter @CryptoMichNL ini, Bitcoin perlu menembus resisten di angka US$ 19.600 untuk kemudian naik ke US$ 20.700, bahkan bisa saja naik lebih tinggi.

“Masih memiliki pandangan yang sama tentang Bitcoin di sini. Perlu menembus resistance di US$19.600, dan kemudian kita akan mulai bergerak menuju US$20.700 dan berpotensi lebih tinggi,” tulis Poppe.

Baca juga: Indonesia Diproyeksikan Masuk Jajaran Market Kripto Teratas Global

Di tweet terbaru, Poppe menjelaskan bahwa dalam dua hingga tiga minggu, Bitcoin akan breakout secara signifikan.

“Saya mengambil adalah terbalik. Dugaan saya mungkin US$ 30.000,” katanya.

Sentimen Bitcoin

Mengingat sentimen kenaikan suku bunga The Fed di tengah market kripto yang melemah dari perkiraan dan angka inflasi, Bitcoin tampaknya tidak menuju US$ 30.000 pada bulan Oktober ini.

bentuk koin bitcoin
Ilustrasi Bitcoin.

Baca juga: Kenal Kripto Aptos (APT), Project Blockchain Pesaing Solana yang Viral

Tanggal penting untuk mengawasi sentimen dari The Fed dalam jangka pendek adalah 28 Oktober perilisan, Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) dan 1–2 November, rapat FOMC keputusan kenaikan suku bunga.

The Fed sepertinya mulai mempertimbangkan untuk memperlambat laju kenaikan suku bunga acuannya, setelah mereka sadar bahwa sikap agresifnya dapat membuat ekonomi AS kembali melambat.

Harga BTC sempat menyentuh kisaran di harga US$ 21.000, setelah bank sentral Kanada (Bank of Canada/BoC) kembali menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin (bp) menjadi 3,75% tetapi lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 75 basis poin.





Sumber : news.tokocrypto.com

ChatGPT Prediksi Bagaimana Bitcoin Akan Akhiri Dominasi Uang Fiat

ChatGPT adalah alat kecerdasan buatan inovatif yang dilengkapi untuk memecahkan masalah yang menantang hingga menjawab pertanyaan kompleks. Tanpa disadari ChatGPT memberikan jawaban bahwa kehadiran Bitcoin (BTC) dapat mengakhiri dominasi mata uang fiat.

Dikutip Investing, Parman, seorang pendidik dan penulis di bidang Bitcoin self-custody, memprediksikan kepada ChatGPT bahwa munculnya Bitcoin akan diikuti oleh penghapusan mata uang fiat yang dikeluarkan pemerintah.

Dalam serangkaian tweet-nya Parman memicu diskusi panas dengan merinci alasan di balik ramalan tersebut. Sebelumnya, ia memulai dengan mengajukan pertanyaan ke ChatGPT: Bagaimana umat manusia dapat mengakhiri bank sentral?

Pertanyaan itu kemudian dijawab secara garis besar bahwa setelah dimulainya setelah kesulitan keuangan global tahun 2008, Bitcoin muncul sebagai penanda penentangan terhadap perbankan terpusat.

Baca juga: Tokocrypto Setor Pajak Transaksi Kripto Pengguna Puluhan Miliar Rupiah

ChatGPT kemudian mengidentifikasi munculnya teknologi blockchain sebagai platform yang akan merevolusi sistem keuangan global dan juga mengakhiri bank sentral.

ChatGPT menekankan bagaimana Bitcoin berpotensi memberikan otonomi individu atas keuangan mereka, karena pengguna tidak perlu lagi bergantung pada sistem perbankan terpusat.

Parman, kemudian memberi tahu AI bahwa DeFi pada dasarnya adalah nama yang disamarkan untuk keuangan terpusat yang dirancang untuk menipu orang. Kemudian diminta untuk menganalisis lebih lanjut. Sebagai balasannya, ChatGPT menyatakan, “matikan mata uang fiat.”

Ramalan DeFi

Ilustrasi DeFi (decentralized finance) jadi revolusi layanan keuangan
Ilustrasi DeFi (decentralized finance) jadi revolusi layanan keuangan.

Baca juga: Tesla Simpan Bitcoin Senilai US$ 184 Juta meski Market Kripto Lesu

Parman menyinggung asal-usul Bitcoin saat itu adalah unit virtual tanpa nilai nyata. Dan bahkan tanpa jaminan nilai. Sebaliknya, dia berkomentar bahwa aset kripto lainnya “memiliki kelompok yang mengatur dan karenanya terpusat.”

ChatGPT kemudian menyimpulkan analisisnya dengan menambahkan bahwa Bitcoin pada akhirnya memungkinkan individu menjadi bank mereka. Dan mengandalkan sistem tanpa kepercayaan, sehingga menghilangkan kebutuhan akan fiat.

Prediksi kepunahan mata uang yang dikeluarkan pemerintah tergolong berani. Dan masih harus dilihat apakah Bitcoin benar-benar akan menjadi kekuatan revolusioner seperti yang diharapkan.

Bagaimana kamu percaya?





Sumber : news.tokocrypto.com

Tesla Simpan Bitcoin Senilai US$ 184 Juta meski Market Kripto Lesu

Perusahaan kendaraan listrik, Tesla dilaporkan tetap menyimpan Bitcoin (BTC), walaupun market kripto tengah lesu di akhir tahun 2022. Langkah ini menjadi keyakinan perusahaan untuk aset kripto di masa depan.

Dalam laporan pendapatan terbarunya yang dirilis Rabu (25/1), Tesla mengungkapkan pihaknya tidak membeli atau menjual Bitcoin apa pun pada kuartal terakhir tahun 2022.

Produsen mobil listrik itu melaporkan biaya penurunan nilai sebesar US$ 34 juta karena nilai kepemilikan Bitcoin turun menjadi US$ 184 juta dari US$ 218 juta pada kuartal III 2022.

Laporan Keuangan Tesla

Baca juga: Adopsi Kripto Tahun 2022: Jumlah Wallet Bitcoin dan ETH Terus Tumbuh

Secara keseluruhan, Tesla mencatat laba US$ 5,7 miliar dari pendapatan US$ 24,3 miliar untuk kuartal IV dengan margin kotornya berada di level terendah dalam lima kuartal. Perusahaan membukukan laba total US$ 20,8 juta untuk tahun 2022 dari pendapatan US$ 81,4 miliar.

Angka pendapatan meleset dari perkiraan analis tetapi keuntungannya lebih baik dari perkiraan konsensus.

Harga saham Tesla naik sedikit pada saat laporan keluar, ditutup dengan kenaikan hampir 0,40%. Itu terus diperdagangkan secara positif setelah berjam-jam, naik hampir 4,6% pada saat penulisan, menurut Google Finance.

Tesla dan Bitcoin

CEO Tesla, Elon Musk tetap tak jual Bitcoin saat inflasi. Foto: Twitter @Blockworks_.
CEO Tesla, Elon Musk tetap tak jual Bitcoin saat inflasi. Foto: Twitter @Blockworks_.

Baca juga: Alasan Token Kripto Threshold (T) Melonjak 120% Seminggu

Tesla bergabung dengan jajaran perusahaan yang memegang aset kripto, ketika mengungkapkan investasi US$ 1,5 miliar dalam BTC pada Februari 2021, dengan berita mendorong harga BTC ke rekor tertinggi baru pada saat itu. Ini menjadikan Tesla perusahaan publik terbesar kelima dengan Bitcoin di neracanya.

Produsen kendaraan listrik asal AS itu dilaporkan juga mempertahankan BTC-nya hingga kuartal III tahun lalu setelah menjual 75% Bitcoin-nya selama kuartal kedua. Penjualan kuartal II menambahkan US$ 936 juta tunai ke pembukuan Tesla dan perusahaan mendapat untung US$ 64 juta.

CEO Tesla, Elon Musk, menjelaskan pada saat penjualan itu untuk “membuktikan likuiditas Bitcoin sebagai alternatif untuk menyimpan uang tunai di neraca.”

Namun, kepemilikan Bitcoin atau pengambilan Bitcoin tidak dibahas dalam panggilan pendapatan terbaru Tesla. Tesla memegang sekitar 9.720 BTC hingga akhir tahun 2022.



Sumber : news.tokocrypto.com

Jumlah Wallet Bitcoin dan ETH Terus Tumbuh

Adopsi aset kripto pada tahun 2022 dilaporkan mengalami kenaikan. Indikator kenaikan tersebut dilihat dari jumlah wallet Bitcoin (Bitcoin) dan Ethereum (ETH) mengalami pertumbuhan.

Menurut laporan CoinGecko, Jumlah alamat Bitcoin dan Ethereum dengan setidaknya US$ 1.000 atau sekitar Rp 14 juta tumbuh lebih dari 27%, bahkan saat harga kripto turun pada tahun 2022.

Tercatat pada tahun 2022 lalu, sejumlah harga aset kripto terbesar atau big cap kehilangan lebih dari setengah nilainya di tengah bear market. Harga BTC saja turun 64,2% sepanjang tahun, dari US$ 46.320 pada 1 Januari menjadi US$ 16.604 pada 31 Desember 2022. Selama periode yang sama, ETH mengalami penurunan yang sedikit lebih tinggi sebesar 67,5%, dari US$ 3.686 menjadi US$ 1.199.

Peningkatan Jumlah Wallet

Adopsi kripto tahun 2022: Pemegang Bitcoin dan ETH terus tumbuh. Sumber: CoinGecko.
Adopsi kripto tahun 2022: Pemegang Bitcoin dan ETH terus tumbuh. Sumber: CoinGecko.

Baca juga: Harga Ethereum Ditargetkan Capai US$ 2.000 Setelah Shanghai Upgrade

Terlepas dari situasi market yang buruk, ada peningkatan yang stabil dalam jumlah wallet dengan lebih dari atau sama dengan 0,1 Bitcoin (≥0,1 BTC) dan 1 ETH (≥1 ETH), yang minimal berjumlah US$ 1.000 sepanjang tahun.

Jumlah ≥0,1 wallet BTC naik 27,5% sepanjang tahun, dari 3,40 juta pada 1 Januari, menjadi 4,20 juta pada 31 Desember 2022. Sementara itu, jumlah ≥1 wallet ETH naik 28,1%, dari 1,41 juta menjadi 1,73 juta.

Setiap tiga bulan, jumlah wallet ≥0,1 BTC naik rata-rata sebesar 7,3%, dibandingkan dengan penurunan harga sebesar 25,0%. Demikian pula, jumlah ≥1 wallet ETH naik rata-rata sebesar 7,0%, dibandingkan dengan penurunan harga sebesar 18,7%.

Ini menunjukkan bahwa investor mengumpulkan atau mempertahankan investasi kripto mereka, yang pada gilirannya menandakan kepercayaan pada masa depan industri. Peningkatan walllet juga berpotensi menunjukkan lebih banyak peserta memasuki ruang dan mendorong adopsi aset kripto.

Bitcoin Tetap Primadona

ilustrasi Bitcoin
ilustrasi Bitcoin.

Baca juga: Riset: Nilai Pasar NFT Indonesia Bisa Capai Rp 200 T pada Tahun 2028

Jumlah ≥1 wallet ETH tumbuh sedikit lebih cepat daripada ≥0,1 wallet BTC tahun lalu, dengan selisih 0,6 poin persentase. Namun demikian, Bitcoin terus menjadi aset yang lebih banyak dipegang, mengungguli popularitas Ethereum .

Secara absolut, jumlah ≥0,1 wallet BTC tumbuh sebesar 0,91 juta tahun lalu, lebih dari dua kali lipat 0,38 juta yang diperoleh untuk ≥1 wallet ETH. Pada akhir tahun, jumlah ≥0,1 wallet BTC telah mencapai 4,20 juta, melampaui jumlah ≥1 wallet ETH sebanyak 2,4 kali lipat.

Salah satu alasan yang mungkin adalah bahwa BTC dimaksudkan untuk menjadi ’emas digital’ dan karenanya lebih umum digunakan sebagai penyimpan nilai. Selain itu, BTC memiliki keunggulan penggerak pertama dalam adopsi kripto, sejak Bitcoin dibuat pada tahun 2009 dan mendahului Ethereum selama enam tahun.



Sumber : news.tokocrypto.com