Tag Archives: blockchain

Founder Coinmetrics: Stablecoin Tetap Kuat, Kecuali UST

Stablecoin dianggap sebagai inovasi terkuat di dunia crypto karena memberikan kemampuan desentralisasi dari sisi transaksi. 

Pernyataan tersebut dituturkan oleh Nic Carter, Pendiri Coinmetrics dan Petinggi Castle Island Ventures dalam acara Permissionless oleh Blockworks. 

Acara Permissionless Bahas Stablecoin 

Ia menyatakan pandangannya dengan menyatakan bahwa pemerintah tidak bisa memberikan apa yang diberikan oleh inovasi stablecoin.

Pernyataan ini disampaikan dengan adanya beberapa petinggi di dunia crypto seperti 

Kepala Bidang CBDC Visa, Catherine Gu, Developer Utama MakerDAO Sam MacPherson, Pendiri Frax Sam Kazemian.

Acara ini juga seharusnya menyambut CEO Terra, Do Kwon terkait kasus stablecoin yang sedang ramai, tapi ia tidak hadir. 

Perbincangan ini juga menyangkut kondisi USTerra atau UST yang sedang turun jauh di bawah $1 menjadi sekitar $ 0,1 keluar dari statusnya sebagai stablecoin

Menanggapi kondisi ini banyak stablecoin yang juga terimbas sentimen negatif, tapi satu stablecoin berdiri kuat yaitu USDC. Circle, perusahaan yang bertanggung jawab atas USDC menyatakan, 

“Cara kerja kami sangat membosankan, sistemnya sangat mudah, terdasari uang fiat. Pengguna memberi 1 Dolar Amerika, kita memberi 1 USDC dan sebaliknya.”

Pendiri Coinmetrics, NIC CARTER

USDC menjadi salah satu topik yang dibahas dalam acara ini karena perbedaannya yang sangat drastis dengan UST dari Terra. 

Sebab untuk sistem USDC stablecoin-nya adalah stablecoin tradisional tapi UST menggunakan sistem stablecoin algoritma. 

Stablecoin tradisional adalah stablecoin yang didasari uang fiat sedangkan stablecoin algoritma didasari oleh token atau koin yang terikat dengannya dari sisi nilai. 

Baca juga: Mengenal Dekat Kripto Wrapped Bitcoin (WBTC) dan Kava Lend (HARD)

Kehancuran Terra Sudah Diprediksi 

Nic Carter juga menyatakan bahwa Terra adalah sebuah proyek yang sudah diprediksi akan hancur dalam jangka panjang. Ia menyatakan, 

“Luna Terra jelas adalah sebuah bom waktu di dunia crypto, jelas sekali proyek yang paling rentan.”

Pendiri Coinmetrics, NIC CARTER

Carter menyatakan bahwa Terra adalah sebuah sistem keuangan yang sangat teledor dari sisi infrastrukturnya dan menganggap bahwa kehancurannya sudah dapat diprediksi sejak lama bagi yang memiliki “pandangan jernih”.

Ia menambahkan bahwa sistem algoritma UST membuatnya rumit bahkan terlalu rumit dan sulit dimengerti oleh para investor yang tertarik.  

Selain itu Carter juga menambahkan bahwa mekanisme ini tidak pernah dikoreksi karena Do Kwon sangat agresif dan aktif di Twitter, membuat investor jengkel saat memberi kritik. 

“Investor tidak bisa memberi kritik terhadap UST karena Do Kwon sangat vokal di Twitter. Terdapat kondisi dimana kritik menjadi sebuah hal yang menyinggung bagi komunitas Terra, jadi besar insentifnya untuk tidak memberi kritik ke Terra.” 

Pendiri Coinmetrics, NIC CARTER

MacPherson, developer utama dari MakerDAO juga setuju dengan pernyataan tersebut dimana Terra dianggap olehnya sebagai proyek yang teledor sejak awal berdiri. 

Ia juga menambahkan bahwa kasus UST membuat adanya kebutuhan yang tinggi terkait penjagaan nilai stablecoin berdasarkan nilai uang fiat asli yang ada di dana cadangan penerbit. 

MacPherson juga menyinggung DAI yang memiliki cadangan 1,64 kali dari stablecoin yang diterbitkannya sehingga dianggap sebagai stablecoin yang aman. 

DAI juga diangkat dalam perbincangan tersebut karena sebelumnya Do Kwon menyinggung DAI dan berjanji untuk mematikan proyek tersebut. 

Terlihat bahwa saat ini DAI masih hidup dan UST mati yang juga menjadi salah satu topik hangat di dunia crypto saat ini. 

Baca juga: 3 Tanda Onchain Menunjukkan Bitcoin Mulai Pulih

Masih Menjadi Inovasi Terkuat Crypto

Dalam acara tersebut, perwakilan dari Visa, Catherine Gu, juga menyatakan pendapatnya terkait kasus Terra.

Ia menyatakan bahwa Visa menginginkan kegunaan yang unik dari stablecoin dan fokus Visa saat ini memang masih hanya di stablecoin yang didasari fiat. Gu menyatakan:

“Kita harus memikirkan tentang pembentukan proyek crypto yang ada saat ini karena adanya standar keamanan merupakan hal yang penting untuk konsumen, investor ritel, dan institusi. Penting untuk tau proses audit dari stablecoin dan bagaimana mereka menguji kestabilan stablecoin tersebut.” 

Kepala Bidang CBDC Visa, Catherine Gu

Selain itu Gu juga menggarisbawahi bahwa banyak institusi yang saat ini lebih percaya terhadap CBDC atau mata uang digital bank sentral, dibandingkan stablecoin.  

MacPherson dari MakerDAO juga menyetujui pandangan positif terhadap stablecoin dengan menyatakan bahwa jika CBDC masuk ke blockchain terbuka maka bisa menjadi stablecoin yang lebih aman. 

Reginatto dari Circle, perusahaan terkait USDC memiliki tanggapan yang berbeda. Ia menyatakan bahwa bank sentral akan kesulitan jika diberi tanggung jawab mengendalikan fiat di blockchain karena sistemnya yang berbeda dan lebih rumit.

Ia juga berargumen bahwa sistem antara CBDC dan stablecoin itu berbeda dimana CBDC bersifat terpusat dan stablecoin tidak terpusat serta transparan. 

Namun kritik terkait CBDC datang dari Nic Carter yang menyatakan bahwa stablecoin lebih mendukung konsumen. Ia menyatakan: 

Stablecoin adalah inovasi terkuat dari crypto sejauh ini, tidak ada perbandingannya. Stablecoin bertanggung jawab atas transisi autonomi transaksi yang besar di dunia keuangan saat ini.” 

Pendiri Coinmetrics, NIC CARTER

Carter menambahkan bahwa CBDC tidak bisa memberikan transparansi dan sifat anonim yang datang dari CBDC.  

Jadi ia percaya bahwa walau sekarang terjadi kekacauan di sekitar stablecoin, dengan adanya infrastruktur dan sistem audit yang tepat, maka stablecoin akan tetap kuat sebagai produk utama dunia crypto

Baca juga: Mendag Rusia Akan Melegalkan Perdagangan Kripto

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Investor Terra LUNA Siap Laporkan Do Kwon

Investor Terra LUNA di Korea Selatan siap melaporkan Do Kwon kepada polisi atas dugaan penipuan investasi. Pengacara yang mewakili dari firma hukum ternama, yakni LKB & Partners.

“Firma hukum Korea Selatan LKB & Partners bersiap untuk menuntut salah seorang pendiri dan CEO Terraform Labs Do Kwon atas penipuan atas nama investor yang dirugikan secara finansial akibat runtuhnya harga Terra LUNA minggu lalu,” sebut pengacara itu, dilansir dari media lokal Korsel, Munhwa, Rabu (18/5/2022).

Bahkan para pengacara dalam rencana laporannya agar sejumlah aset dan properti milik Do Kwon disita sementara.

Baca juga: Berikut Jenis Asic Miner yang Bisa Dipakai Untuk Mining Aset Kripto!

Investor Terra LUNA Korsel Tuntut Do Kwon

“Ada investor terkait di dalam firma hukum, dan kami berencana untuk mengajukan keluhan terhadap CEO Kwon dengan Unit Investigasi Keuangan dari Badan Kepolisian Metropolitan Seoul,” katanya kepada Munhwa.

Beberapa hari lalu beredar dua lembar dokumen yang disebut-sebut sebagai bukti bahwa Terraform Labs sudah membubarkan diri pada 30 April 2022 lalu, berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham. Pada awal Mei 2022, pihak Pengadilan Tinggi Seoul sudah mengesahkannya. Dokumen itu belum dapat diverifikasi apakah asli atau tidak.

Sebelumnya lagi, seorang pria di Seoul menyerahkan diri kepada polisi. Ia mengaku dirinyalah yang datang ke rumah Do Kwon dan bertanya kepada istrinya di mana Do Kwon berada. Ia juga sempat menyatroni rumah itu sehari sesudahnya. Dia mengaku adalah investor LUNA yang rugi setara puluhan milyar rupiah.

Investor Terra LUNA korsel

Sementara itu di Reddit, beredar surat laporan kepada polisi Singapura atas nama para investor Terra LUNA. Lagi-lagi, dokumen yang tampak asli itu tidak bisa diverifikasi kebenarannya.

Dari media lokal juga tersiar, bahwa lembaga keuangan dan investasi terkait di Negeri Ginseng itu kemungkinan besar akan memeriksa kasus ini. Parlemen juga berencana akan memanggil Do Kwon.

Baca juga: Terra LUNA Mencoba Bangkit, UST Akan Dikuburkan dengan Syarat Ini

Voting untuk Forking Blockchain Terra Sedang Berlangsung

Di atas itu semua, tim pengembang Terra pimpinan Do Kwon saat ini tengah membenahi sistem mereka dengan melakukan voting untuk forking terhadap blockchain Terra.

Voting sudah berlangsung sejak kemarin malam dan berlangsung selama 7 hari. Ketika artikel disusun, lebih dari 90 persen menyatakan setuju, 0,29 persen menyatakan tidak setuju.

Voting itu akan dinyatakan kuorum jika 40 persen suara terkumpul, dengan ambang batas mencapai 50 persen.

Jika mayoritas menyetujui proposal forking itu, maka akan ada dua blockchain baru, berdasarkan blockchain yang saat ini masih digunakan. Blockchain baru yang akan digunakan kelak tidak berfitur stablecoin TerraUSD (UST) lagi.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

4 Strategi yang Harus Dilakukan Sebelum Memulai Minting NFT!

Dunia kesenian global semakin berwarna dengan kehadiran NFT. Para seniman lama dan baru ikut serta dalam berkarya lewat NFT art. Namun, tidak jarang muncul rasa ragu dalam diri seniman sebelum memutuskan untuk terjun ke NFT. Untuk itu, seniman bisa melakukan beberapa strategi sebelum mulai upload atau minting NFT. Yuk, ketahui strategi selengkapnya!

NFT, Dunia Baru bagi Seniman Konvensional

Satu yang masih hangat yang datang dari dunia blockchain adalah NFT. NFT, kependekan dari Non-Fungible Token merupakan token yang dapat mewakili kepemilikan atas suatu hal secara digital, misalnya adalah seni digital, musik, bahkan atribut atau item dalam game

Meskipun sudah ada sejak tahun 2017, NFT baru mengalami puncak ketenarannya di tahun 2021. Dilansir dari Reuters, volume penjualan NFT secara global pada Q2 2021 adalah sebesar 1,3 miliar USD. Sementara itu, pada Q3 2021, volume penjualannya berhasil meningkat hingga 10 kali lipat yaitu sejumlah 10,7 miliar USD. 

Demam NFT ini tidak hanya melanda negara-negara besar di dunia, tetapi juga Indonesia, lho. NFT dianggap berhasil “menghidupkan” industri kreatif di Indonesia yang sedang mati suri berkat pandemi COVID-19. Akhirnya hal ini membuat mulai maraknya seniman yang menyambut inovasi yang potensial ini dengan langsung berkarya di dunia NFT.

Baca Juga: Inilah Alasan Banyak Orang Mengoleksi Karya Seni Digital NFT

Tidak dapat dipungkiri, hadirnya NFT memberikan banyak kemudahan bagi seniman, terutama dalam memonetisasi karya seni miliknya. Selain itu, seniman memiliki otoritas penuh terhadap karyanya seperti orisinalitas dan royalti, serta prosedur penerbitannya yang tergolong praktis lewat marketplace NFT.

Walaupun begitu, masih ada seniman konvensional yang masih ragu dan menunda keputusan untuk berkecimpung di dunia NFT. Hal ini disebabkan oleh rasa clueless akan persiapan apa saja yang harus dilakukan sebelum mulai menerbitkan karya. Oleh karena itu, seniman harus mempunyai persiapan yang matang dan perkaya pengetahuan mengenai NFT dan blockchain.

Strategi yang Harus Dilakukan Sebelum Minting NFT

Nah, sebelum menerbitkan atau minting NFT di sebuah marketplace dan menjualnya ke khalayak luas, ada strategi yang perlu dilakukan. Tidak hanya bagi para seniman konvensional yang berhijrah ke NFT art, strategi ini juga berlaku bagi para seniman pendatang baru yang ingin mencoba peruntungan di dunia NFT. Adapun strateginya antara lain:

1. Fokus Berkarya

Strategi yang satu ini tentunya harus dijadikan mindset oleh para kreator sebelum memutuskan minting. Pasalnya, dengan fokus berkarya, skill juga akan menjadi terus terlatih. Jangan dulu berpikir mengenai jualan apalagi cuan. Jika dimulai dengan menjual karya dengan harga rendah sambil terus berkarya, maka karya Anda akan tersebar dengan sendirinya.

2. Yakin dengan Kemampuan Diri

Hal lain yang perlu dilakukan adalah yakin dengan kemampuan yang dipunya atau “stay original”. Sebagaimana yang terjadi di dunia NFT, membuat banyak seniman unik nan berbakat ‘ditemukan’ dan muncul ke permukaan. Jangan dahulu mengejar popularitas, tetaplah optimis dan maju dengan gaya dan aliran berkarya yang dimiliki.

3. Bergabung dengan Komunitas NFT

Strategi yang satu ini termasuk salah satu yang penting untuk dilakukan, terutama dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda mengenai dunia NFT. Dengan memanfaatkan komunitas, Anda bisa menjadi lebih paham dan update mengenai NFT dengan bertukar insight antar kreator dan kolektor. Saat ini, sudah banyak komunitas NFT di Indonesia yang aktif di media sosial Telegram dan Discord.

4. Promosikan Diri dan Karya

Nah, setelah melakukan ketiga strategi sebelumnya, saatnya Anda mempromosikan diri dan juga karya Anda. Hal ini dilakukan untuk mempermulus jalan Anda dalam mencari cuan dari NFT art. Misalnya, Anda bisa shill atau membagikan NFT art Anda di komunitas. Anda bisa sekaligus menceritakan karya dan gaya berseni Anda layaknya pameran kepada kolektor, agar terjalin hubungan yang baik antara kreator dan kolektor. 

Cara Mudah Minting NFT di Marketplace TokoMall

Satu hal yang penting diperhatikan oleh para seniman NFT adalah memilih marketplace untuk menjual karya miliknya. Kini, di Indonesia telah hadir beberapa NFT marketplace, salah satunya TokoMall. Berikut ini cara mudah minting NFT di TokoMall!

1. Selesaikan Proses Registrasi Akun

Sebelum minting, pastikan Anda sudah selesaikan proses registrasi sebagai Official Partner (kreator). Saat registrasi akun, Anda harus menghubungkan dengan wallet MetaMask dan melengkapi form data diri untuk diverifikasi oleh tim TokoMall. Setelah dinyatakan lolos verifikasi, barulah Anda bisa mulai minting NFT.

2. Upload Karya Seni dan Lengkapi Identitas NFT

Setelah lolos, Anda bisa langsung memilih menu Upload untuk memulai minting. Dalam tahap ini, Anda juga perlu membuat contact address baru sebagai catatan atas NFT yang akan Anda minting.

Selanjutnya, Anda bisa langsung melengkapi identitas dari NFT yang Anda minting. Identitas ini mencakup judul, kategori, deskripsi mengenai karya, dan tata cara untuk klaim NFT bagi kolektor yang tertarik. Setelah sesuai, Anda dapat men-check pilihan pada kolom Disclaimer dan melanjutkan ke tahap berikutnya. 

3. Minting NFT Diproses

Dalam tahap ini, Anda akan diarahkan ke page ‘Buat NFT’ setelah berhasil meng-upload NFT ke dalam sistem milik TokoMall. Setelah masuk page tersebut, Anda dapat langsung memilih opsi ‘Upload ke Blockchain’ untuk membuat NFT Anda ditanam dalam blockchain.

4. Publish NFT yang Telah Di-minting

Jika sudah berhasil melewati beberapa tahap tersebut, maka NFT Anda telah sukses di-minting. Karya yang telah di-minting akan muncul pada menu Creation. Jika Anda ingin langsung mem-publish dan menawarkan NFT tersebut, Anda bisa klik NFT dan pilih opsi ‘Offer NFT’. Tinggal tentukan nilai (harga) yang ditawarkan dan membayar gas fee, NFT Anda langsung masuk ke pasar dan tersedia untuk diperjualbelikan.

Jadi, itulah strategi yang harus dilakukan sebelum mulai minting NFT beserta tata cara minting NFT di TokoMall. Mudah sekali, bukan? Jangan ragu lagi, yuk ikut bergabung dalam euforia NFT ini dan tunjukkan karyamu di mall.tokoscape.com sekarang!



Sumber : news.tokocrypto.com

Peserta TSBA Kolaborasi Tokocrypto dan BRI Ventures Raih Pendanaan

Tokocrypto Sembrani Blockchain Accelerator (TSBA) Batch 1 dengan bangga meluluskan 12 startup blockchain terpilih yang berhasil mendapatkan pelatihan dan bimbingan dari mentor terkemuka di industrinya. Program TSBA ini sendiri adalah inisiasi Tokocrypto bekerja sama dengan BRI Ventures. 

TokoLabs dari Tokocrypto telah membantu berbagai project blockchain terbaru dari startup peserta TSBA Batch 1 dengan dukungan teknologi, jaringan komunitas dan juga memungkinkan mereka untuk mendapatkan akses ke peluang pendanaan.

Peserta startup TSBA Batch 1 mendapat dukungan yang diperlukan untuk penggalangan dana, membuat manajemen tim yang solid, pengembangan teknologi blockchain, penasihat project dan tokenomics untuk mengembangkan keterampilan yang diperlukan dalam industri blockchain. 

12 Startup Blockchain Lulus Program TSBA Batch 1

Peresmian program TSBA dari Tokocrypto dan BRI Ventures di Bali.
Pang Xue Kai, CEO Tokocrypto (kiri) dan Nicko Widjaja, CEO BRI Ventures (kanan) di peresmian program TSBA dari Tokocrypto dan BRI Ventures di Bali pada (18 Februari 2022. Foto: Tokocrypto

Baca juga: Tokocrypto & BRI Ventures Umumkan 13 Startup TSBA Angkatan Pertama

Adapun, 12 startup finalis terpilih dalam program ini termasuk, VC Gamers, Nanobyte, Avarik Saga, Creo Engine, Eizper Chain, Duckie Land, Play Fix, Play it Forward DAO, Mythic Protocol, getKupon, Avarta dan Survein.

Startup yang terpilih merupakan cerminan dari berkembangnya ekosistem blockchain di Indonesia, dan ini baru permulaan. Dua tahun lalu, istilah blockchain tampak asing, tetapi hari ini blockchain telah menjadi penggerak yang kuat dalam dunia digital dengan bentuk berupa NFT, DeFi, dan bahkan GameFi. Di Tokocrypto, kami bangga dapat mendisrupsi industri ini,” kata Pang Xue Kai, CEO Tokocrypto.

TSBA telah menginkubasi dan mengembangkan project dari peserta startup terpilih dalam 4 pilar utama: Branding dan marketing, strategi investasi, taktik lanskap investasi, dan akses ke peluang pendanaan. Mereka juga dapat dukungan mentoring dari para mentor industri blockchain lokal seperti Nicko Widjaja (CEO BRI Ventures), Pang Xue Kai (CEO Tokocrypto), Teguh Kurniawan Harmanda (COO Tokocrypto), Lai Chung Ying (CSO Tokocrypto) dan Nanda Ivens (CMO Tokocrypto), serta mentor lainnya dari industri blockchain global.

Para Peserta TSBA Batch 1 Dapat Pendanaan

Daftar startup peserta program TSBA dari Tokocrypto dan BRI Ventures.
Daftar startup peserta program TSBA dari Tokocrypto dan BRI Ventures.

Baca juga: Avarta dan Tokocrypto Jalin Kemitraan Strategis Kembangkan Ekosistem Blockchain di Indonesia

Salah satu peserta TSBA Batch 1, Javier Tan, CEO Creo Engine mengatakan, “Program TSBA sangat membantu proyek kami. Kami telah mengenal dan bekerja dengan banyak mitra hebat secara internal dan eksternal, sejak dimulainya program ini. Kami benar-benar berharap bahwa program TSBA terus memperjuangkan proyek-proyek blockchain lokal dan mendukung startup dalam jangka panjang.”

Program ini juga memprakarsai dukungan lebih dari 50 investor termasuk Tokocrypto, Binance Labs, Cydonia, Solana Labs, Signum Capital, YGGSEA, Alameda Research, Huobi Ventures, Crypto.com, QCP, Avocado DAO, dan Intudo Ventures. Hingga Graduation Day, pada 22 April 2022, telah terkumpul total pendanaan lebih dari US$ 40 Juta yang diterima oleh para peserta TSBA Batch 1.

Nicko Widjaja, CEO BRI Ventures, mengungkapkan antusiasmenya terhadap program akselerator ini, “kami melihat blockchain sebagai bagian integral dari masa depan internet, yang akan menjadi penggerak ekonomi digital. Kami berharap ke depannya akan lebih banyak lagi manfaat yang dikembangkan di berbagai sektor dengan menggunakan teknologi blockchain.”

Apresiasi Kementerian Perdagangan Terhadap Program TSBA

Menteri Perdagangan RI, Muhammad Lutfi
Menteri Perdagangan RI, Muhammad Lutfi.

Baca juga: Mendag Lutfi Apresiasi Program Akselerator Startup Blockchain, TSBA

Dalam Graduation Day, Menteri Perdagangan RI, Muhammad Lutfi mengapresiasi program TSBA, karena merupakan salah satu kendaraan tepat untuk mendorong percepatan project dan startup di Indonesia yang menggunakan blockchain sebagai tulang punggung bisnis untuk memberikan impact lebih besar bagi pertumbuhan industri.

“Menyambut masifnya Web3, metaverse dan lainnya di waktu mendatang, Indonesia sangat terbuka dan mendorong pertumbuhan industri ini. Program TSBA bisa menjadi percontohan dan tentunya acuan awal bagi pemerintah dalam memetakan geliat bisnis startup berbasis blockchain di Indonesia. Tentunya hal ini perlu didukung dengan strategi dan pemetaan skema industri serta bisnis di mana akan berdampak pada sistem perekonomian dan perdagangan di Indonesia,” ungkap Lutfi yang turut memberikan selamat atas kelulusan para peserta TSBA Batch 1.

Program akselerator TSBA adalah bagian dari TokoVerse, ekosistem blockchain dan kripto yang diprakarsai oleh Tokocrypto, yang diciptakan untuk meningkatkan adopsi teknologi blockchain di Indonesia dan sekitarnya. Tidak hanya TokoLabs, TokoVerse telah mengembangkan T-Hub, hub crypto pertama di Asia; TokoMall, NFT marketplace pertama dan terbesar di Indonesia; Kriptoversity, aplikasi seluler pendidikan blockchain; Dan inisiatif lainnya. Untuk informasi lebih lanjut tentang TSBA, Anda dapat mengunjungi tsba.tokolabs.io.

Baca juga: Direksi Tokocrypto Gabung Cydonia Fund, Bangun Ekosistem Web3 Berskala Global



Sumber : news.tokocrypto.com

Beredar Dokumen Terraform Labs (Terra LUNA) Korsel Telah Bubar

Di tengah gonjang-ganjing kasus Terra LUNA dan UST, beberapa hari lalu beredar dokumen di Reddit bahwa Terraform Labs Korea Selatan sudah sah bubar oleh Pengadilan Tinggi setempat pada 4 Mei 2022, berdasarkan permohonan pihak perusahaan pada 30 April 2022.

Dokumen berkop resmi dan tampaknya cukup meyakinkan itu, tak pelak kian memicu spekulasi tambahan bahwa Do Kwon (bernama lengkap Kwon Do-hyeong) mungkin telah mengetahui kekacaubalauan yang sedang terjadi bagi Terra LUNA dan UST. Spekulasi kuat lainnya adalah, mungkin pembubabaran Terraform Labs di Korsel itu adalah sebagai langkah antisipasi meredam kerontokan lebih parah.

Seperti yang diketahui publik, harga LUNA sejatinya tak bernilai pada minggu lalu, ketika mendekati titik nol. Sementara itu stablecoin TerraUSD (UST) kehilangan pasaknya, menjadi olok-olok di dunia maya menjadi “Unstable Stable Token“.

Do Kwon, atas nama perusahaan pun mengambil sejumlah langkah, di antaranya adalah akan melakukan forking terhadap blockhain Terra, jika usulan itu disetujui lewat jajak pendapat yang akan dimulai hari ini, Rabu (18/5/2022).

Rencana forking memang tidak sepakati oleh komunitas sendiri, termasuk oleh Changpeng Zhao Bos Binance yang punya investasi di perusahaan itu. Baginya forking tidak memberikan nilai utuh, walaupun ada kompensasi kripto terhadap mereka yang mengalami kerugian.

Baca juga: Berikut Jenis Asic Miner yang Bisa Dipakai Untuk Mining Aset Kripto!

Terraform Labs (Terra LUNA) Korsel Bubar Pada 4 Mei 2022?

Pada dokumen di Reddit yang beredar beberapa hari lalu itu, disebutkan bahwa Terraform Labs di Korsel itu bermarkas di Busan. Pada 30 April 2022 perusahaan bermohon kepada pihak pengadilan setempat untuk membubarkan diri dan disahkan oleh pihak pengadilan pada 4 Mei 2022. Tanggal itu selaras dengan beberapa hari sebelum harga LUNA dan UST terperosok.

Dokumen itu memang sulit untuk diverifikasi kebenarannya, namun jikalau itu benar, setidaknya selaras dengan laporan dari media lokal di Korsel, yang mengklaim punya dokumen bahwa Terraform Labs Korea memutuskan membubarkan kantor mereka di Busan dan Seoul, berdasarkan rapat umum pemegang saham pada 30 April 2022.

Terraform Labs (Terra LUNA)
Terraform Labs (Terra LUNA)

Laporan itu dari media itu menambahkan bahwa markas Terraform Labs Korea dilikuidasi pada 4 Mei 2022, dan cabang Seoul dilikuidasi pada 6 Mei 2022. Berdasarkan catatan perusahaan di daftar perusahaan, nama likuidator terdaftar sebagai sang CEO, yakni Kwon Do-hyeong.

Baca juga: Terra LUNA Mencoba Bangkit, UST Akan Dikuburkan dengan Syarat Ini

Kwon mendirikan cabang Terraform Labs di Korea Selatan pada tahun 2019, setahun setelah ia ikut mendirikan perusahaan itu di Singapura.

Tetapi laporan media itu mencatat bahwa kemungkinan ada perusahaan lain yang didirikan Kwon sebelum meluncurkan Terraform, termasuk proyek stablecoin yang ia tinggalkan (dengan nama anonim) pada tahun 2017, yakni Basis Cash.

Media lokal yang sama secara terpisah melaporkan, bahwa Financial Services Commission dan Financial Supervisory Service Korsel tampaknya memulai penyelidikan terkait kasus Terra ini secara lokal. [ps]

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Bitcoin dan Ethereum akan Ungguli Pasar Saham

Ahli Strategy Bloomberg, Mike McGlone, mengatakan bahwa aset crypto utama Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH), akan menungguli pasar saham, karena nantinya volatilitas pada keduanya akan menyusut.

Dalam wawancaranya dengan Yahoo Finance, Mike telah meyakini bahwa Bitcoin akan mendapatkan pembelian responsif yang lebih banyak di bawah pasar. 

Menurutnya, BTC yang dalam jangka panjang akan bergerak naik, setelah the Fed mengalami kekalahan, yang tentu saja akibat dari perbuatan mereka sendiri.

Menyoroti hilangnya pasark dari USDT setelah masalah LUNA dan UST, Mike menggarisbawahi bahwa setiap terjadi hantaman pada Tether USD, ini biasanya akan menjadi semacam tanda Bear dalam jangka pendek di pasar dan Bottom untuk Bitcoin.

Baca juga: Elon Musk Prediksi Adopsi Besar untuk Kripto Dogecoin (DOGE)

Baginya, crash saat ini yang melanda pasar crypto adalah cara untuk “membersihkan” aset-aset spekulatif, salah satunya seperti UST dari Terra, sedangkan Bitcoin sedang mempersiapkan langkah untuk menjadi jaminan digital sosial.

Dari sudut pandangnya, meningkatnya sentimen risk-off membuat pasar crypto dan saham jatuh, karena aset crypto adalah investasi yang berisiko.

“Ketika the Fed menaikkan suku bunga, pembersihan terhadap aset spekulatif mulai terjadi, itu termasuk pada token seperti Dogecoin dan Shiba Inu.”

Baca jugaApakah Bitcoin Sudah Bottom? Berapa Target Harga Menurut Cryptoharian?

Secara teknis, Mike melihat bahwa titik support yang baik adalah $ 30.000 untuk BTC dan $ 2.000 untuk ETH. Ia menambahkan:

“Pasar saham akan tetap turun karena Fed mau pasar saham turun untuk mengurangi inflasi, Bitcoin dan Ethereum akan turun juga, tetapi mereka tidak turun separah saham.”

The Fed sudah bertekat untuk menaikan suku bunga hingga pasar netral. Mereka memiliki berbeda pendapat dengan kata Netral. Menurut Alex Kruger, netral berada di 2%-3%. Harga pasar berjangka berada di 3,25% di bulan Desember.

Namun, menurut analis Rekt Capital, Bitcoin telah kehilangan Kijun sebagai support. Kehilangan ini, support sudah menjadi resistensi dan secara historis Bitcoin akan turun lebih dalam.

Volatilitas pasar crypto Bitcoin dan Ethereum pun terlihat telah menurun, yang pada akhirnya ini akan membawanya menjadi aset yang benar-benar jangka panjang dan dapat mengungguli emas, serta saham, secara luas.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Ini Arus Bitcoin Milik Organisasi Terra LUNA, Sudah Dijual Semua?

Organisasi Terra LUNA, yakni Luna Foundation Guard (LFG) punya ribuan Bitcoin (BTC) yang sedianya untuk menstabilkan nilai UST. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Ke manakah Bitcoin miliaran dolar itu mengalir? Sudah dijual?

Pada Maret 2022 lalu, LFG, organisasi asal Singapura yang terafiliasi dengan Terraform Labs, menggelar program praktik “Bitcoin Standard” agar nilai stablecoin UST tak hanya menggunakan kripto LUNA sebagai pasaknya.

Jadilah terungkap kala itu, bahwa pembelian Bitcoin besaran-besaran sudah dilakukan sejak awal tahun.

Hingga beberapa pekan lalu, LFG masih punya cadangan Bitcoin setara $ 3,5 miliar. Namun, setelah harga UST dan LUNA jatuh ke titik nadir, publik bertanya apakah benar BTC itu digunakan untuk menyelamatkan kedua kripto itu? Atau apakah sudah dijual semua dan menjadikan pasar kripto semakin kritis?

Ada banyak jawaban. Salah satu yang cukup terperinci adalah hasil kajian Dr Tom Robinson dari lembaga penelitian Elliptic, pada Jumat (13/5/2022) lalu.

“Pekan ini kita menyaksikan harga UST jatuh. Alih-alih nilainya setara 1 dolar AS, harganya malah jatuh menjadi $ 0,04. Pemegang UST bernilai miliaran dolar pun rugi sangat parah,” kata Tom di awal kajian itu.

Nilai UST yang jauh di bawah 1 dolar. Sumber: Coinmarketcap.

Baca juga: Cara Membaca Candlestick dengan Simpel dan Akurat

LFG memang mencanangkan program sangat mencengangkan. Mereka berencana membeli Bitcoin setara $ 10 miliar dalam jangka panjang dan sekitar US$3 miliar dalam jangka pendek.

Bitcoin sebanyak itu sedianya akan digunakan sebagai pasak nilai untuk UST, selain menggunakan kripto LUNA.

“Antara Januari dan Mei 2022, ada sekitar 80.394 BTC senilai $ 3,5 miliar pada saat itu, dibeli oleh LFG,” sebut Tom.

Ia melanjutkan, ketika nilai UST mulai turun pada 9 Mei 2022, LFG mengumumkan bahwa mereka akan mulai membuang cadangan Bitcoin-nya itu dan membeli UST.

Inilah langkah pertama untuk mencoba mempertahankan pasak UST agar tetap 1 banding 1 terhadap dolar AS.

“Selama hari beberapa hari berikutnya, Bitcoin LFG itu justru dikosongkan. Saldonya kini nol. Nah, karena nilai stablecoin UST terus merosot, publik bertanya tentang nasib cadangan bitcoin LFG itu, dan apakah itu benar-benar digunakan untuk mendukung nilai stablecoin UST. Di sini kami punya jawabannya, setidaknya soal ke mana aliran dana BTC itu,” sebut Tom.

Salah satu address milik Luna Foundation Guard (LFG) yang sudah kosong. Sumber: Blockchair.

Baca juga: Michael Saylor: Kripto Longsor Akan Percepat Regulasi Stablecoin

Melacak Bitcoin Milik Organisasi Terra LUNA

Pada pagi hari 9 Mei 2022, LFG mengumumkan bahwa mereka akan meminjamkan BTC senilai $ 750 juta ke perusahaan perdagangan OTC (over the counter) untuk membantu melindungi pasak UST.

Pendiri Terralabs, Do Kwon, kemudian mengklarifikasi bahwa Bitcoin akan “digunakan untuk trading“.

Pada waktu yang hampir bersamaan, 22.189 BTC (senilai $ 750 juta saat ini) dikirim dari address Bitcoin yang terkait dengan LFG, ke address baru.

Kemudian malam itu, 30.000 BTC lainnya (senilai $ 930 juta pada saat itu) dikirim dari dompet LFG lainnya, ke address yang sama ini.

Aliran dana BTC ke Gemini.

Dalam beberapa jam, keseluruhan 52.189 BTC ini kemudian dipindahkan ke satu akun di bursa kripto Gemini, di AS, dengan beberapa transaksi.

“Sayangnya, sulit untuk melacak aliran aset lebih lanjut atau mengidentifikasi apakah BTC itu dijual untuk mendukung harga UST,” Tom mengaku.

Lanjutnya, ini menyisakan 28.205 BTC dalam cadangan Terra. Pada 01:00 UTC pada 10 Mei 2022, BTC itu dipindahkan secara keseluruhan, dalam satu transaksi, ke satu akun di Binance.

Supply LUNA yang terus bertambah, kini menjadi lebih dari 6,5 triliun LUNA. Sumber: Messari.

“Sekali lagi tidak mungkin untuk mengidentifikasi apakah aset ini dijual atau kemudian dipindahkan ke dompet lain,” katanya.

Aliran BTC ke Binance.

Tom menutup kajian itu dengan pernyataan, bahwa mereka yang ingin mendapatkan “ganti rugi” akibat runtuhnya UST, sangat bergantung pada status Bitcoin LFG itu.

Kalimat itu dapat ditafsirkan, bahwa LFG bisa saja bertanggung jawab soal kerugian dan tidak transparan soal Bitcoin sebagai bagian dari pasak UST. [ps]

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Elon Musk Prediksi Adopsi Besar untuk Kripto Dogecoin (DOGE)

Di sela-sela pasar crypto yang sedang terhantam koreksi kuat yang menjadi bearish utama, Elon Musk datang dengan pandangan optimistisnya untuk Dogecoin (DOGE).

Di awali dengan cuitan Billy Markus, yang mengatakan bahwa Pendiri Dogecoin ini menyukai DOGE karena itu memang token yang bodoh.

Tak lama, Elon Musk mengatakan bahwa token meme tersebut memiliki potensi untuk bertindak sebagai mata uang.

Tentu saja, ucapan pembakar jiwa tersebut telah menarik banyak sekali minat dan suka dari para pengikutnya, dengan komunitas dan pendukung DOGE yang berharap ini dapat mengangkat harga token.

Pada saat itu, harga DOGE naik dari $ 0,0825 menjadi $ 0,0937. Dan, pada saat pers, harga Doge berada di $ 0,087.

Baca juga: Belajar dari Kripto UST dan LUNA, Stablecoin Masih Aman Jadi Instrumen Investasi?

Sebelumnya, Musk pun sempat mengatakan bahwa DOGE akan menjadi alat pembayaran yang lebih baik dari Bitcoin. Adopsi pada perusahaannya Tesla, menjadi sorotan utama, dan juga menautkan DOGE ke perusahaan sosial media yang telah diakuisisi, yakni Twitter, melalui fitur “Tip Jar,” menjadi harapan besar para investor.

Meski tidak ada kejelasan dalam setiap prediksi tren harga, tetapi berbagai faktor dan keputusan pemimpinnya berpotensi membawa DOGE kembali bangkit, yang dapat diadopsi di lebih banyak tempat.

Tentu saja, adopsi besar kemungkinan akan dimulai dari lingkup Elon Musk yang diharapkan terus meluas dan diikuti oleh perusahaan lain, sehingga peran DOGE sebagai metode pembayaran kian tersebar luas.

Baca juga: Jack Dorsey Terhadap Bitcoin: Saya Tidak Melihat Harga BTC Setiap MENIT

Tidak hanya Elon Musk, pemilik tim baketball Maverick, Mark Cuban sudah menggunakan Dogecoin sebagai alat pembayaran di toko bola basketnya.

Dogecoin bukan sebuah token meme lagi menurut Cryptoharian.

Pasar crypto pun beberapa hari ini tampak mencoba pulih, yang menjadi antisipasi baru para investor untuk menemukan, apakah bearish akan mulai breakhir, atau justru akan menjadi titik kejatuhan yang lebih hebat. Bearish benar-benar memegang kendali pasar, termasuk pada token DOGE.

Secara teknikal, harapan DOGE untuk kembali bullish adalah harus dapat bergerak lebih tinggi dari $ 0,1. Jika tidak, maka bearish masih terlihat lebih baik untuk mendominasi, sehingga prospek adopsi ini akan lebih ke arah jangka panjang. Kita lihat saja! 

DISCLAIMER : Bukan ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset crypto masih beresiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Belajar dari UST dan LUNA, Stablecoin Aman Jadi Instrumen Investasi?

Aset kripto TerraUSD (UST) dan Terra (LUNA) sedang jadi sorotan sepekan ini. Alasannya harga kedua aset kripto tersebut tak stabil dan bahkan LUNA turun sampai 99% hanya dalam hitungan hari, padahal ia sempat jadi primadona investor dan capai harga tertinggi sepanjang masa.

Berdasarkan situs CoinMarketCap, pada Jumat (13/5) pukul 14.00 WIB, LUNA diperdagangkan pada $ 0,00005687 dengan market cap sebesar $ 557 juta anjok 63%. Sebelumnya, LUNA telah capai harga tertinggi sepanjang masa pada Selasa (5/4) sebesar $ 119,18 per koin atau setara Rp 1,73 juta, pada saat itu kapitalisasi pasarnya mencapai $ 40 miliar.

Penurunan harga LUNA ini sangat terpengaruh oleh faktor peg atau berkurangnya nilai dari stablecoin asli jaringan Terra, UST. Stablecoin UST turun ke level $ 0,22 pada perdagangan Jumat (13/5) yang merupakan terendah sepanjang masa. Melihat hal ini apakah stablecoin masih aset kripto teraman untuk investasi saat ini?

Trader Tokocrypto, Afid Sugiono.
Trader Tokocrypto, Afid Sugiono.

Sebelum menjawab hal tersebut, kita bahas apa yang sebenarnya terjadi dengan UST? Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, menjelaskan mekanisme stablecoin algoritmik memiliki kelemahan sebagai penopang sebagian besar nilai UST. Hal inilah yang menjadikan harga LUNA sangat terpengaruh oleh penurunan UST yang sangat dramatis. 

Lebih lanjut, Afid menjelaskan CEO Terralabs, Do Kwon pun mengakui bahwa model stablecoin tersebut hadir dengan beberapa pengorbanan. Faktanya, memang koin sangat terdesentralisasi. Namun, dibandingkan dengan koin seperti Tether, ia menghadapi beberapa masalah stabilitas harga, terutama jika sistemnya berada di bawah tekanan.

“Jika terlalu banyak orang yang mencoba menebus UST sekaligus, “death spiral” hipotetis dapat terjadi dengan token LUNA yang dipasangkan dengannya. Nilai LUNA akan mulai runtuh karena lebih banyak token dicetak untuk memenuhi permintaan pengguna,” jelas Afid.

Baca juga: Serangkaian Aksi dan Reaksi Dibalik Anjloknya UST dan Terra (LUNA)

Hipotesis Nilai LUNA Turun

Afid menerangkan kemungkinan besar penurunan ini terkait juga dengan adanya attack dari ‘oknum’ yang memanfaatkan kelemahan dari mekanisme yang Terra punya. Kelemahan dari Terra LUNA adalah soal “death spiral”.

LUNA memiliki hubungan mutual dengan UST. Setiap ada UST diterbitkan, ada supply LUNA yang di-burn, begitu pula sebaliknya. Seharusnya secara algoritma, ketika harga UST jatuh, ada UST yang di-burn dan LUNA yang diterbitkan. Nilai Terra LUNA bisa turun, jika TerraUSD dianggap tidak stabil.

aset kripto Terra (LUNA)
Ilustrasi aset kripto Terra (LUNA).

Blockchain Terra sempat berhenti untuk menghindari penyerangan governance pada jaringannya dan untuk membentuk rencana baru. Governance attack adalah kondisi di mana token yang digunakan untuk hak suara dikendalikan sebagian besar oleh satu pihak saja sehingga bisa merusak atau mengubah jaringan,” kata Afid. 

Untuk saat ini LUNA terlihat semakin tidak ada harapan dengan harga yang turun drastis dan kondisi keuangan perusahaan yang masih jatuh. Jadi jika Terra mau kembalikan lagi ke peg-nya itu UST $ 1, mau tidak mau mesti burn UST yang supply-nya berlimpah, dan efeknya supply LUNA semakin banyak, otomatis harga LUNA akan terus anjlok sampe UST bisa stabil ke $ 1 lagi.

Baca juga: Avarta dan Tokocrypto Jalin Kemitraan Strategis Kembangkan Ekosistem Blockchain di Indonesia

Apa Bedanya BIDR sama UST?

Drama UST dan LUNA membuat investor khawatir dan ragu atas kondisi pasar stablecoin yang sebelumnya, dianggap aman sebagai instrumen investasi, namun kini terlalu volatil.

Tidak semua stablecoin menggunakan mekanisme algoritmik seperti UST. Binance IDR (BIDR) contohnya. BIDR merupakan stablecoin berbasis Rupiah yang dapat diperdagangkan dengan aset kripto lainnya. BIDR menggunakan Binance Chain (BEP-2) yang dipatok ke dalam Rupiah (IDR). BIDR akan tersedia untuk pembelian langsung dan penukaran dengan harga 1 BIDR setara dengan 1 Rupiah.

stablecoin BIDR dan UST
Ilustrasi stablecoin BIDR dan UST.

Untuk menjaga kestabilannya, BIDR didukung 1:1 oleh Rupiah di rekening bank terpisah di Indonesia. BIDR akan diaudit setiap bulan oleh perusahaan audit. Laporan audit akan dipublikasikan di Tokocrypto untuk referensi bagi pengguna BIDR.

Harga atau nilai BIDR di bursa mungkin sedikit menyimpang dari Rp 1, karena kekuatan penawaran dan permintaan pasar untuk aset tersebut. Namun, penyimpangan harga tersebut akan kecil, karena arbitrase pasar akan bekerja untuk membawa harga BIDR kembali ke 1 Rupiah Indonesia.

Baca juga: UPDATE: Blockchain Terra Kembali Produksi, Meski Harga LUNA Hancur

Apakah BIDR Bisa Bernasib sama dengan UST?

Peristiwa yang terjadi dengan UST sulit menimpa BIDR. UST membutuhkan mekanisme algoritmik untuk menjaga nilainya agar tetap sama dengan Dolar AS. Setiap token UST yang diterbitkan, ada supply token LUNA yang diburn atau dihancurkan.

“Sistem tersebut memiliki kelemahan dari segi governance attack, sehingga membuka peluang satu pihak bisa menguasai banyak koin dan punya kewenangan untuk merusak atau mengubah jaringan. Seperti yang terjadi saat ini,” jelas Afid.

Ilustrasi Tpkocrypto dan Binance buat aset kripto BIDR.
Ilustrasi Tpkocrypto dan Binance buat aset kripto BIDR.

Sementara, BIDR tidak mengunakan skema mekanisme algoritmik. BIDR mempunyai mekanismi setiap koin mewakili satu Rupiah yang disimpan di bank. Ini memungkinkan pencetakan dan burning BIDR berdasarkan jumlah Rupiah yang disimpan.

Tokocrypto sebagai pengelola BIDR bekerja sama dengan perusahaan audit untuk menyesuaikan suppy token sesuai dengan jumlah uang Rupiah yang disimpan di bank untuk mencapai skala 1:1. Laporan audit transparan dan bisa diakses di tokocrypto.com/report.

Baca juga: Tragedi Terra (LUNA), UST dan Bitcoin: Raksasa BlackRock, Citadel dan Gemini Dalangnya?

DISCLAIMER: Investasi aset kripto memiliki volatil tinggi, Tokocrypto mengimbau setiap pengguna melakukan research terlebih dahulu sebelum melakukan transaksi dengan mengutamakan sikap kehati-hatian. Segala bentuk perdagangan aset kripto ditanggung pengguna dengan segala risikonya karena merupakan keputusan pribadi.



Sumber : news.tokocrypto.com

Pengusaha Amerika Robert Kiyosaki Yakin Bitcoin akan Menang

Tahun 2022 ini, seperti mimpi buruk bagi Bitcoin, lantaran harganya yang terus merosot sejak ATH terakhirnya di November 2021 lalu. Harga Bitcoin tengah berada di dalam lembah curam yang gelap karena turun hingga 50 persen di Q2 2022. Pada saat harga BTC berada di $ 28.000.

Para trader sekarang dipusingkan dengan hiruk pikuk harga cryptocurrency unggulan ini. Situasi saat ini tak lepas dari pengaruh kebijakan Fed yang manaikan suku bunga.

Beragam reaksi pun tak bisa dihindari, terutama aksi jual besar-besaran karena banyak dari pelaku industry crypto yang memilih untuk lebih berhati-hati. Tetapi, beberapa orang yakin dengan ketahan koin ini hingga ada yang melihat penurunan harga Bitcoin sebagai suatu peluang emas untuk ‘buying the dip’ – seperti negara El Salvador yang kembali menggemukan dompet Bitcoin mereka baru-baru ini.

Seperti memiliki keyakinan yang sama akan Bitcoin, pengusaha Amerika bernama Robert Kiyosaki juga percaya bahwa Bitcoin akan menang. Kiyosaki mengungkapkan dukungannya terhadap Bitcoin melalui Twitter. “Mengapa Bitcoin menang? A: Bitcoin akan menang karena Amerika dipimpin oleh 3 Stooges. #1 President Biden. Stooge #2 Sekertaris Keuangan Yellen. Stooge #3 Ketua Fed Powell. Saya percaya Bitcoin bukan 3 Stooges,” tweet Kiyosaki.

Robert Kiyosaki
Robert Kiyosaki.

Baca jugaPrediksi Harga Bitcoin: Analisa BTC Mingguan

Pada 9 Maret lalu, Biden akhirnya menandatangani perintah eksekutif untuk menyelidiki tentang manfaat dan risiko dari aset kripto. Hal ini sudah lama menimbulkan kegelisahan di industri crypto, dan sebagian pihak meyakini tindakan ini hanya akan membebani industri dari pada memberikan bantuan. Pandangan seperti ini muncul sejak Menteri Keuangan Amerika, Yellen, mengutarakan sikap kerasnya terhadap aset kripto pada bulan April lalu.

“Konsumen harus dilindungi dari penipuan terlpas dari asset disimpan di neraca atau buku besar yang didistribusikan. Pencucian uang dan aktivitas terlarang lainnya harus dianggap illegal, dan tidak masalah apakah Anda menggunakan cek, kabel, atau aset kripto,” ucapnya.

Sementara Ketua Fed, Powell, mengadvokasi regulasi stablecoin pada bulan Juli dan mengungkapkan rencana The Fed untuk CBDC potensial di depan Komite Layanan Keuangan DPR Amerika. The Fed baru saja menaikkan suku bunga yang kemudian memicu negara-negara lain juga turun menaikkan suku bunga mereka. 

Baca juga: Tragedi Terra (LUNA), UST dan Bitcoin: Raksasa BlackRock, Citadel dan Gemini Dalangnya?

Dari tweet Kiyosaki, tersirat bahwa Biden seolah telah memberikan kewenangan untuk Yellen dan Powell untuk memainkan regulasi crypto secara berkepanjangan. Kiyosaki sendiri tetap dengan keyakinannya akan kemenangan Bitcoin di atas gejolak geopolitik dan ketidakpastian harga yang tengah berkembang saat ini.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com