Tag Archives: featured

Peningkatan Suku Bunga Fed Segera Datang, Ini Dampak ke Bitcoin

The Fed atau dikenal bank sentral AS diisukan bakal kembali meningkatkan suku bunga untuk kedua kalinya secara berturut-turut sebanyak setengah poin persentase.

Peningkatan suku bunga ini dapat terjadi, saat melonjaknya harga konsumen. Lonjakan ini berujung pada peningkatan data rumah tangga dan faktor lainnya, yang menjadi indikasi jelas bahwa suku bunga akan naik lagi.

Hal tersebut diperkuat saat Ketua The Fed, Jerome Powell tidak dapat memberikan pernyataan kemenangan melawan inflasi. Kabar tersebut diketahui setelah data konsumen naik lebih dari ekspektasi, yakni sebesar 8,6 persen dalam data year-to-year.

“The Fed perlu menunjukkan tekad. Mereka tidak boleh terlihat kurang yakin untuk mengatasi inflasi yang membandel dan terus-menerus ini. Dua pertemuan berikutnya harus menjadi kenaikan setengah poin.” ungkap Kepala Strategi Ekuitas The Private Bank di Union Bank, Todd Lowenstein.

Baca juga: USDD Tron Turun dari $ 1, Ikuti Jejak UST?

Namun, the Fed menurut beberapa pihak tidak harus agresif, seperti beberapa waktu lalu melakukan pelepasan aset seperti obligasi. Selain itu, the Fed juga meningkatkan pencetakan uang dan suku bunga. Ini merupakan langkah “gila” yang dilakukan untuk mencoba melawan inflasi di depan mata.

Kekhawatiran pun datang dari segala sisi, yang mengklaim bahwa menaikkan suku bunga justru bukan sebuah jawaban untuk inflasi. Hal ini, justru hanya akan menjatuhkan ekonomi AS lebih keras. Di samping itu, hiperinflasi pun juga dinilai menjadi kekhawatiran tersendiri.

Apakah Bitcoin akan Merosot?

Ketika kenaikan suku bunga telah diterapkan, serta data AS menunjukkan sikap The Fed yang lebih agresif, maka selera risiko global akan menyusut.

Kenaikan ini akan berpengaruh pada minat pada pasar aset berisiko, seperti saham dan aset kripto. Kedua asset ini diperkirakan akan jatuh sehingga menyeret harga Bitcoin dan altcoin ke bawah. Semakin rendah dan terpuruk tanpa ada kejelasan kapan bottom akan tercipta.

Selama isu kenaikan suku bunga berlanjut, maka pasar kripto diperkirakan akan kembali melemah. Titik balik kebangkitan kripto baru bisa dilihat saat The Fed mereda, atau bahkan ketika dolar AS akhirnya jatuh.

Baca juga: Blockware: 8 Tahun Lagi 10% Penduduk Dunia Gunakan Bitcoin

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Blockware: 8 Tahun Lagi 10% Penduduk Dunia Gunakan Bitcoin

Perusahaan infrastruktur pertambangan dan jaringan Bitcoin, Blockware Solutions, merilis hasil riset yang menyebutkan di tahun 2030 10% penduduk dunia akan mempunyai atau mengadopsi Bitcoin. 

Pertumbuhan adopsi Bitcoin diprediksi akan lebih cepat dari perkiraan sejumlah ahli. Bahkan, hasil riset tersebut meneybutkan bahwa pertumbuhan adopsi BTC akan lebih kencang dari penggunaan internet. 

Dalam laporan yang dirilis pada Rabu, 8 Juni 2022,  perkiraan ini dihitung berdasarkan kurva adopsi dari sembilan jenis kategori teknologi disruptif. Diantaranya, mobil, tenaga listrik, smartphone, internet dan media sosial. Laporan ini pun menghitung kurva adopsi BTC sejak tahun 2009.

“Semua teknologi yang mendisrupsi mengikuti pola kurva S eksponensial yang serupa, tetapi […] teknologi berbasis jaringan yang lebih baru terus diadopsi jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan pasar,” tulis laporan tersebut. 

Sumber: Blockware Solutions

Baca juga: Mengenal Aset Kripto Ontology Gas (ONG) dan VIDT Datalink (VIDT)

Berdasarkan metrik Cumulative Sum of Net Entities Growth (CAGR) dan prediksi Bitcoin, laporan tersebut memperkirakan dalam 8 tahun ke depan 10% penduduk bumi atau sekitar 780 juta jiwa (berdasarkan jumlah perkiraan penduduk bumi 2022: 7,8 milyar) akan memilki Bitcoin.

 “CAGR 60% kami memperkirakan bahwa adopsi Bitcoin global akan menembus 10% pada tahun 2030,” tulis laporan itu. 

Prediksi terkait kurva adopsi BTC pun sebelumnya pernah dilakukan oleh sejumlah lembaga dan analis. Salah satu yang dibuat oleh mantan karyawan Google, Michael Levin.

Levin mengatakan, dalam 12 tahun  mendatang, mengutip laporan Visbitcoin, BTC akan mencapai 1 miliar pengguna pada tahun 2025. Prediksi serupa telah dibuat oleh analis Willy Woo. Mereka berdua setuju bahwa Bitcoin akan mencapai tonggak sejarah 1 miliar penggunanya dalam rentang waktu lebih cepat setengahnya dari pertumbuhan pengguna internet. 

Sumber: Visbitcoin melalui Michael Levin

Baca juga: Token Kripto Metaverse Terus Tumbuh, meski Market Bearish

Pertumbuhan Pengguna BTC Berkembang Pesat

Adopsi aset kripto telah berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir. Menurut data dari TripleA, gateway pembayaran aset kripto global, pada tahun 2021, tingkat penggunaan aset kripto global mencapai rata-rata 3,9%, atau sekitar 300 juta pengguna. di seluruh dunia, 

Se,entara itu, platform data blockchain, Chainalysis tahun lalu mengungkapkan bahwa adopsi global Bitcoin dan aset kripto melonjak 881% dari Juli 2020 hingga Juni 2021. Di mana adopsi tertinggi akan terjadi di wilayah Asia. 

Pada bulan April, sebuah survei yang dilakukan oleh pertukaran aset kripto, Gemini menemukan bahwa adopsi kripto meroket pada tahun 2021 di negara-negara seperti India, Brasil dan Hong Kong.  Karena lebih dari setengah responden dari 20 negara yang disurvei menyatakan bahwa mereka mulai berinvestasi di kripto pada tahun 2021.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

USDD Tron Turun dari $ 1, Ikuti Jejak UST?

Stablecoin Tron yaitu Decentralized USD (USDD) yang baru saja diterbitkan beberapa bulan lalu terlihat mengalami masalah. 

Algorithmic Stablecoin ini terlihat turun di bawah $ 1 hingga mencapai $ 0,91 dan saat ini bergerak di sekitar $ 0,98. 

Kondisi ini jauh dari yang seharusnya di mana seharusnya USDD berada stabil di $ 1 sehingga membuat banyak investor panik.

USDD Turun dari $ 1 dalam Sehari 

USDD dari Tron dikabarkan telah turun dari nilai yang seharusnya mencapai sekitar $ 0,98 hingga saat ini. 

Penurunan nilai ini terjadi bersama dengan pasar kripto yang hancur sejak akhir pekan lalu bersama Bitcoin yang mencapai sekitar $ 21.000. 

Koreksi ini terjadi bersama dengan pasar kripto yang turun bersama aset berisiko lainnya akibat adanya potensi krisis resesi bahkan stagflasi yang akan terjadi di dunia. 

Bersama faktor makroekonomi ini, terdapat beberapa sentimen negatif lain dari sisi internal pasar kripto yang membuat banyak investor memilih untuk menjual akibat khawatir koreksi berlanjut. 

Kondisi pasar yang negatif ini berdampak tidak hanya pada USDD tapi seluruh kripto. Meski begitu, USDD mengalami salah satu koreksi terparah, yang membuatnya hampir mirip dengan UST, stablecoin dari Terra. 

Walau tidak separah UST, USDD sempat mengalami koreksi ke $ 0,91 dari $ 1 hanya dalam satu hari, yang membuat banyak investor TRX panik akan kejadian yang sama seperti Terra. 

Koreksi ini juga terjadi setelah pembelian Bitcoin sebagai dana cadangan oleh Tron DAO, kesatuan yang menjaga nilai USDD. 

Baca juga: Token Kripto Metaverse Terus Tumbuh, meski Market Bearish

Banyak investor yang khawatir karena Terra mulai hancur juga setelah pembelian Bitcoin untuk dana cadangannya. 

Walau saat ini turun, Tron DAO menyatakan bahwa mereka akan terus membeli dan menambah dana cadangan untuk memastikan USDD kembali stabil. 

Tapi terdapat tambahan bahwa mereka akan membeli dalam jumlah besarl lagi jika pasar mulai pulih. 

Untuk saat ini, Tron DAO masih terus aktif menjaga nilai USDD dengan pembelian USDC hingga mencapai $ 2,5 Miliar. 

Sama seperti UST?

Pada saat peluncuran USDD, sebelumnya Tron menjanjikan bahwa akan ada dana cadangan untuk menjaga USDD hingga mencapai $ 10 miliar. 

Hingga saat ini terlihat bahwa target janji tersebut masih belum tercapai karena dana cadangan yang ada dan telah digunakan masih berada di sekitar $ 3 miliar. 

USDD Tron Turun dari $1, Ikuti Jejak UST?
Dana Cadangan Tron DAO untuk USDD

Walau mengalami penurunan nilai, Tron DAO tetap memastikan bahwa USDD masih terjamin hingga mencapai 277,54% dengan beberapa kripto seperti USDC, USDT,  TUSD, TRX, BTC dan DAI. 

Justin Sun yang saat ini menjabat sebagai penasihat untuk Tron, menyatakan bahwa mekanisme USDD seharusnya membuatnya aman. 

Ia juga merupakan individu yang menyarankan dana jaminan tambahan melebihi 100% dari persediaan USDD yang beredar. 

Tapi sayangnya kedua hal tersebut masih belum berhasil menjaga USDD untuk bergerak stabil di sekitar $ 1. 

Baca juga: Mengenal Aset Kripto Ontology Gas (ONG) dan VIDT Datalink (VIDT)

Untuk investor Terra dan UST, kondisi ini membawa ingatan buruk karena pergerakan kedua proyek ini hampir sama. 

Keduanya membeli Bitcoin sebagai dana cadangan, keduanya memiliki stablecoin dengan mekanisme hampir sama, dan keduanya mengalami penurunan nilai. 

Oleh karena itu, kemungkinan besar, TRX akan mendapatkan sentimen negatif hampir mirip dengan Terra. Tapi untuk kehancurannya, untuk saat ini Tron DAO masih memiliki dana untuk menjaga USDD sehingga masih belum hancur. 

USDD Tron Turun dari $1, Ikuti Jejak UST?
Grafik Bulanan TRXUSD

Untuk saat ini dari sisi teknikal, TRX masih terlihat memiliki potensi pergerakan negatif, terutama dari grafik bulanannya. 

Hal ini disebabkan, TRX telah keluar dari zona segitiga simetrisnya di grafik bulanan yang membuat adanya potensi koreksi lanjutan. 

Kemungkinan besar jika terus turun TRX akan bergerak menuju $ 0,04 hingga $ 0,03 namun butuh waktu yang lama. 

Baca juga: Blockware: 8 Tahun Lagi 10% Penduduk Dunia Gunakan Bitcoin

Sumber





Sumber : news.tokocrypto.com

Market Awal Pekan: Bitcoin Terpuruk di Bawah Tekanan Inflasi Tinggi

Market aset kripto pada awal pekan ketiga Juni 2022, terlihat mengalami pelemahan harian terparah. Tampak “cuaca buruk” menyelimuti market pasca data inflasi tahunan Amerika Serikat pada Mei lalu, ternyata menyentuh 8,6% dan menjadi rekor tertingginya dalam empat dekade terakhir.

Melansir situs CoinMarketCap pada Senin (13/6) pukul 09.00 WIB, 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar ada big cap kompak terjebak di zona merah dalam 24 jam terakhir. Nilai Bitcoin (BTC) saja turun 8,67% ke $ 25.825 per keping dalam sehari terakhir.

Sementara nasib altcoin lain seperti Ethereum (ETH) tidak jauh berbeda turun 10% ke $ 1.356 di waktu yang sama. Cardano (ADA), Solana (SOL) dan Dogecoin (DOGE) mengalami penurunan yang paling signifikan, masing-masing 13,78%, 13,43% dan 12,13%.

Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan investor terlihat panik dan cenderung menghindari market kripto setelah AS mencetak inflasi tahunan 8,6% di Mei 2022. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari estimasi analis 8,3% dan merupakan laju inflasi terkencang sejak 1981.

“Kepanikan investor bukan tanpa alasan. Tadinya, mereka meyakini bahwa siklus inflasi tinggi di AS sudah selesai pada Maret lalu. Sehingga, mereka tak menduga bahwa inflasi Mei malah meroket. Hal ini membuat tekan The Fed akan mengerek suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin untuk bulan ini dan bulan depan,” kata Afid.

market aset kripto
Ilustrasi market aset kripto.

Baca juga: Nasib Aset Kripto LUNA 2.0 dan LUNC di Indonesia, Bisakah Diperdagangkan?

Korelasi Market Kripto dan Inflasi

Lebih lanjut Afid menjelaskan sebenarnya, inflasi bisa tak berkorelasi langsung dengan kinerja market aset kripto. Ia memberi contoh kasus di masa lalu, tingginya inflasi bisa berdampak baik bagi permintaan dan laju harga Bitcoin mengingat statusnya sebagai aset penyimpan kekayaan (store of value), seperti layaknya emas.

“Saat ini teori tersebut tampaknya tidak berlaku lagi. Kondisinya sudah berbeda. Market kripto sudah banyak dimasuki oleh investor institusi yang melihat dinamika makroekonomi sebagai indikasi untuk keputusan di pasar,” jelasnya.

Investor institusi yang sudah banyak masuk ke dalam market kripto, bisa mengurangi porsi aset berisiko di dalam portofolio mereka atau derisking. Dengan banyaknya jumlah dana kelolaan mereka di market cukup besar, aksi jual investor institusi bisa sangat mempengaruhi performa pergerakan aset kripto.

Ilustrasi market kripto
Ilustrasi market kripto.

Selain karena antisipasi data ekonomi, investor juga enggan all-out di market disebabkan harga beberapa aset kripto belum benar-benar menyentuh titik bottom-nya. Investor masih berpikir atau ragu-ragu untuk menjalankan strategi buy the dip.

Baca juga: Analisis Nilai Bitcoin yang Kembali Masuk ke Harga $ 30.000

Level Support Bitcoin Terus Turun

Nilai Bitcoin terus turun dari level resistensi $ 33.000 minggu lalu, yang mengindikasikan hilangnya momentum kenaikan. Itu menurunkan kemungkinan BTC bakal bisa reli dalam waktu dekat.

Perdagangan BTC secara kasar terlihar datar selama seminggu terakhir dan telah terbatas pada rentang perdagangan yang berombak. Level support awal terlihat di $ 25.000, yang mendekati harga terendah sejak 12 Mei lalu.

Afid menjelaskan momentum pada grafik harian telah melemah selama beberapa minggu terakhir, menunjukkan tren turun BTC dari November tahun lalu dapat berlanjut dalam jangka pendek. Tren turun didefinisikan oleh harga tertinggi yang lebih rendah dan harga terendah yang lebih rendah.

Grafik mingguan Bitcoin menunjukkan support/resistance, dengan RSI di bagian bawah. (Damanick Dantes/CoinDesk, TradingView).
Grafik mingguan Bitcoin menunjukkan support/resistance, dengan RSI di bagian bawah. (Damanick Dantes/CoinDesk, TradingView).

Level support BTC dalam grafik 200-week moving average, saat ini berada di $ 22.294. Namun, penurunan harga yang tajam pada akhirnya bisa stabil di $ 17.673, yang merupakan retracement 78% dari tren naik BTC sebelumnya dari Maret 2020 hingga November 2021,” tuturnya.

Menurut Relative Strength Index (RSI) pada grafik mingguan terlihat oversold, yang berarti tekanan jual bisa mereda selama beberapa minggu ke depan. Namun, pembacaan oversold tidak menunjukkan harga pasti yang rendah, terutama dalam konteks tren turun.

Baca juga: Tiga Alasan Harga Ethereum Berisiko Turun 25% di Juni 2022



Sumber : news.tokocrypto.com

Nasib Aset Kripto LUNA 2.0 dan LUNC di Indonesia

Pendiri Terra, Do Kwon, terus melakukan upaya memulihkan ekosistem Terra pasca kolapsnya Terra (LUNA) dan stablecoin algoritmik, USDTerra (UST) beberapa waktu. Salah satu upaya tersebut adalah dengan meluncurkan jaringan baru Terra pada tanggal 28 Mei 2022.

Peluncuran jaringan baru Terra ini menjadi LUNA 2.0 (LUNA) yang membuat aset kripto Terra dan TerraUSD berubah ticker. Blockchain dan token Terra lama diubah menjadi Luna Classic (LUNC) dan UST Classic (USTC). Terbitnya, jaringan baru ini membuat sejumlah investor aset kripto di Indonesia bertanya akan nasib perdagangan LUNA 2.0 dan status airdrop mereka.

Sejatinya, saat ini aset kripto LUNA 2.0 belum diperdagangkan atau listing di exchange lokal yang terdaftar resmi di Bappebti. Akibatnya pendistribusian airdrop sebagai kompensasi kepada jutaan holder dan komunitas pengembang yang terkena dampak dari keruntuhan Terra belum bisa direalisasikan sepenuhnya.

Terra LUNA
Ilustrasi Terra LUNA. Sumber: Beincrypto.

Baca juga: Serangkaian Aksi dan Reaksi Dibalik Anjloknya UST dan Terra (LUNA)

Government Relations Tokocrypto, Albert Endi, menjelaskan saat ini aset kripto LUNA 2.0 (LUNA) belum bisa diperdagangkan di Indonesia karena belum mendapatkan lisensi dari Bappebti. Ia juga menjelaskan saat ini Tokocrypto masih melakukan pengkajian mendalam terkait aspek fundamental terkait token LUNA sebelum bisa dilisting di platform.

“Adanya usulan penambahan aset kripto, harus ada proses pengkajian terlebih dahulu. Sejak tanggal 27 Mei itu, Tokocrypto sedang mengkaji sedalam-dalamnya kripto LUNA 2.0 ini. karena seperti yang kita lihat tanggapan di media dan komunitas semua masih ragu dengan produk ini,” kata Endi saat berbicara di Twitter Space yang diadakan Tokocrypto pada Kamis (9/6) malam.

Lebih lanjut, Endi mengatakan Tokocrypto selalu patuh dan tunduk pada peraturan mengenai perdagangan aset kripto di Indonesia. Oleh karena itu untuk memperdagangkan kripto LUNA 2.0 harus melalui persetujuan Bappebti. Perlindungan investor menjadi prioritas bagi Tokocrypto.

“Kalo sekarang mengajukan, kami mesti yakin aset (LUNA 2.0) ini berguna di masa depan. Kita tidak mau nanti merugikan investor yang akhirnya memperdagangkan membeli dan sebagainya berinvestasi di LUNA ternyata tidak cukup kuat fundamentalnya,” jelasnya.

Sementara, Tokocrypto mendukung migrasi dan pergantian ticker LUNA dan UST menjadi LUNC dan USTC. Pasangan perdagangan spot di-pairing dengan LUNA/BUSD dan UST/BUSD.

Baca juga: Tragedi Terra (LUNA), UST dan Bitcoin: Raksasa BlackRock, Citadel dan Gemini Dalangnya?

Hak Airdrop LUNA 2.0 Tetap Diberikan

Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, menjelaskan Terra sudah menjalankan airdrop LUNA 2.0 sebagai kompensasi bagi investor yang terkena dampak dari keruntuhan jaringan. Airdrop dibagi menjadi dua kategori Pre-attack dan Post-attack.

Airdrop LUNA yang baru memang ada sudah di-annouce oleh Terra Labs ada 2 kategori, ada Pre-attack (7 mei) dan Post-attact (27 mei). Para holder yang hold token LUNA lama di antara dua tanggal itu, bisa dapat airdrop defencing sebesar 30%, 70% akan defencing selama 2 tahun. Itu dikirim ke alamat wallet terakhir,” tutur Afid.

Apa Itu Terra (LUNA) Crypto? Pengertian Untuk Pemula
Ilustrasi aset kripto, Terra (LUNA).

Baca juga: Belajar dari Kripto UST dan LUNA, Stablecoin Masih Aman Jadi Instrumen Investasi?

Melihat perkembangan yang ada saat ini, Afid mengatakan airdrop LUNA 2.0 belum bisa dilakukan di wallet akun Tokocrypto, karena aset kripto tersebut belum terdaftar di Bappebti. LUNA 2.0 masih menjalani pengkajian untuk memenuhi due diligence sebagai aset kripto terdaftar sesuai dengan Peraturan Bappebti No. 7 Tahun 2020 Tentang Penetapan Daftar Aset Kripto yang Dapat Diperdagangkan di Pasar Fisik Aset Kripto.

Airdrop dan hak investor akan tetap diperjuangkan. Namun, benar tidak bisa diperdagangkan di Tokocrypto untuk saat ini karena belum legal terdaftar di Bappebti. Hak investor tetap tersalurkan menunggu kajian. Investor bisa melakukan withdraw atau wallet address lainnya di luar Tokocrypto untuk sementara,” tambah Endi.



Sumber : news.tokocrypto.com

Pasar Sepekan: Market Kripto Bergerak Labil, Investor Terlihat Ragu

Pergerakan market aset kripto dalam seminggu terakhir masih mengalami tekanan. Meski, sempat comeback di tengah pekan, rupanya hal tersebut sulit berlanjut. Pasalnya, investor masih “malu-malu kucing” untuk all-out dalam perdagangan aset kripto. 

Secara keseluruhan sejumlah aset kripto, terutama yang berkapitalisasi besar atau big cap kembali ke zona merah dalam satu hari terakhir. Misalnya saja, Bitcoin yang kembali diperdagangkan dengan nilai $ 30.070 atau turun 1,28% dalam 24 jam terakhir, seperti terpantau dari situs CoinMarketCap pada Jumat (10/6) pukul 15.00 WIB.

Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan perdagangan aset kripto Bitcoin kemungkinan besar masih terus akan berada di sekitar level $ 30.000 dalam waktu dekat. Pasalnya, investor masih menunggu laporan inflasi ekonomi AS yang dapat memicu ekspektasi pasar.

“Pergerakan nilai Bitcoin kemungkinan besar masih akan sideways di level $ 30.000. Investor sepertinya masih bakal kurang bergairah masuk ke pasar kripto lantaran wait and see data inflasi AS terbaru dan dampak pengumuman kebijakan moneter Bank Sentral Eropa. Jika inflasi AS masih meradang, maka ada kemungkinan The Fed bakal mengerek suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin pada bulan ini,” kata Afid.

Trader Tokocrypto, Afid Sugiono
Trader Tokocrypto, Afid Sugiono. Foto: Tokocrypto.

Baca juga: Analisis Nilai Bitcoin yang Kembali Masuk ke Harga $ 30.000

Seperti diketahui, Bank Sentral Eropa telah mengumumkan kenaikan suku bunga acuannya yang pertama dalam lebih dari satu dekade terakhir untuk mengatasi inflasi yang meroket. Kebijakan tersebut bisa jadi sinyal bagi The Fed untuk mengetatkan kebijakan moneternya. Diperkirakan inflasi di AS masih menembus jauh di atas 8%, level tertinggi dalam empat dekade.

“Ketika The Fed mengerek suku bunga acuannya, maka tingkat imbal hasil instrumen berpendapatan tetap bakal meningkat, begitupun dengan nilai dolar AS. Alhasil, aset berisiko jadi dipandang tidak menarik dan menjadi lebih mahal di mata investor,” jelas Afid.

Sentimen Negatif Masih Bayangi Market Kripto

Sentimen negatif juga datang dari Bank Dunia yang memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun ini dari 4,1% menjadi 2,9% di tengah kekhawatiran inflasi. Sementara itu, dampak dari invasi Rusia ke Ukraina berlanjut dengan harga minyak mentah yang melonjak.

Di samping perkara makroekonomi, stagnannya transaksi perdagangan kripto juga disebabkan oleh keragu-raguan investor soal titik bottom harga aset kripto, sehingga belum melakukan strategi buy the dip. Meski, aset kripto diperdagangkan di rentang harga yang gitu-gitu aja dalam beberapa waktu terakhir, sebagian investor yakin bahwa titik harga saat ini bukanlah titik terendahnya.

“Keraguan ini buat market kripto jadi stagnan. Karenanya, market membutuhkan beberapa katalis baru untuk keluar dari kelesuan ini dan kemungkinan masih butuh waktu untuk market bullish,” pungkas Afid.

ilustrasi membeli bitcoin
Ilustrasi Bitcoin.

Baca juga: Persib Luncurkan Fan Token Kripto Ikuti Jejak AC Milan dan Barcelona FC

Nasib Token Kripto LUNA 2.0 di Indonesia

Pembahasan soal token aset kripto LUNA 2.0 (LUNA) masih terus ramai diperbincangkan. Afid menjelaskan saat ini token jaringan baru Terra, yakni LUNA belum bisa diperdagangkan di Indonesia, karena belum memiliki lisensi dari Bappebti. Oleh karenanya, airdrop sebagai kompensasi bagi investor yang terkena dampak dari keruntuhan jaringan Terra lama belum bisa direalisasikan.

“Airdrop LUNA akan dikirim ke alamat wallet terakhir di yang memiliki LUNC di Tokocrypto. Merekan berhak mendapatkan airdrop, tetapi kita masih dalam kajian untuk LUNA, kalo kita sudah listing LUNA bisa langsung diterima,” jelas Afid.

Melihat perkembangan yang ada saat ini, Afid mengatakan airdrop LUNA 2.0 belum bisa dilakukan di wallet akun Tokocrypto, karena aset kripto tersebut belum terdaftar di Bappebti. LUNA 2.0 masih menjalani pengkajian untuk memenuhi due diligence sebagai aset kripto terdaftar sesuai dengan Peraturan Bappebti No. 7 Tahun 2020 Tentang Penetapan Daftar Aset Kripto yang Dapat Diperdagangkan di Pasar Fisik Aset Kripto.

Untuk pembahasan mengenai perdagangan aset kripto LUNA 2.0 di Indonesia bisa simak di artikel TokoNews di link ini.

Baca juga: Bitcoin Kembali ke Harga $ 31 Ribu, Hati-hati False Breakout



Sumber : news.tokocrypto.com

Tiga Alasan Harga Ethereum Berisiko Turun 25% di Juni 2022

Gabungan faktor fundamental dan teknikal menyebabkan nilai token asli Ethereum (ETH) mengalami penurunan lebih dari setengahnya pada tahun 2022. Selain kehilangan nilainya terhadap Bitcoin (BTC), ETH juga sekarang disematkan di bawah $ 2.000.

Dengan kondisi tersebut, harga ETH berisiko mengalami kerugian yang lebih besar di bulan Juni. Berikut 3 alasannya

1. Ethereum kehilangan modal 

Menurut laporan pasar mingguan CoinShares yang diterbitkan 31 Mei 2022, investor telah menarik $ 250 juta dari dana investasi berbasis Ethereum pada tahun 2022.

Arus keluar besar-besaran dari ETH ini bertolak belakang dengan koin lainnya. Misalnya Bitcoin yang malah mendapatkan kucuran dana investasi senilai $ 369 juta. Atau protokol blockchain layer satu yang bersaing dengan Ethereum, Solana dan Cardano, masing-masing mendapatkan dana segar senilai $ 104 juta dan $ 9 juta.

Sumber: https://coinshares.com/research/digital-asset-fund-flows

Penarikan dana dari Ethereum ini adalah tanda bagaimana jatuhnya TerraUSD (UST) dan Terra (LUNA) berdampak pada berkurangnya minat investor untuk menanamkan modalnya di sektor keuangan terdesentralisasi (DeFi) secara keseluruhan yang merupakan andalan Ethereum.

Prospek bullish ETH tetap terpaku pada ledakan di pasar DeFi karena blockchain Ethereum menampung sebagian besar aplikasi keuangan di sektor ini. Per 5 Juni, total nilai yang dikunci (TVL) di dalam aplikasi berbasis Ethereum adalah $ 68,71 juta, hampir 65% dari total TVL DeFi.

Namun, TVL ini masih mencerminkan kemunduran besar-besaran dari pool DeFi Ethereum, yang sebelum runtuhnya Luna Classic (LUNC) dan TerraUSD Classic (USTC) pada 9 Mei lalu berkisar sekitar $ 100 miliar.

Sumber: https://defillama.com/chain/Ethereum

Baca juga: Analisis Nilai Bitcoin yang Kembali Masuk ke Harga $ 30.000

Menurut Ilan Solot dari Tagus Capital, dampak sentimen kebijakan The Fed ditambah dengan outlook terhadap sektor DeFi yang lebih hati-hati, penurunan nilai ETH diprediksi masih akan berlanjut di sepanjang Juni ini.

Kepada Financial Times, Solot mengatakan jika The Fed menaikkan suku bunga dana federal untuk mengencangkan atau membatasi jumlah uang beredar dan orang-orang harus membayar $ 4,5 per galon gas, maka mereka akan memiliki dana yang lebih sedikit untuk berinvestasi di DeFi atau dibelanjakan untuk permainan blockchain.”

2. Teknikal yang lamban

Perilaku perdagangan sejak Mei juga memberikan prospek bearish untuk Ethereum.

Secara rinci, Ether telah berfluktuasi dalam area yang ditentukan oleh support garis tren horizontal dan resistensi garis tren turun. Polanya kurang lebih terlihat seperti “segitiga menurun”, pola bearish yang berkelanjutan yang terbentuk ketika downtrend.

Bila dibaca menurut aturan analisis teknis, pola segitiga akan mengalami resolve setelah harganya dengan pasti menembus di bawah garis tren dukungannya dan kemudian turun setinggi ketinggian maksimum segitiga.

Jika, harga ETH berada lebih rendah dibawah garis segitiga terbawah, maka nilainya pada Juni ini berisiko jatuh menuju $ 1.350 atau turun sekitar 25% dibandingkan harga hari ini.

Baca juga: Persib Luncurkan Fan Token Kripto Ikuti Jejak AC Milan dan Barcelona FC

3. Cadangan ETH di bursa meningkat

Merujuk data CryptoQuant, jumlah total saldo Ether di bursa kripto secara global telah meningkat sebesar 550.459 ETH sejak Mei. Saldo senilai hampir $ 950 juta itu masuk ke hot wallet, Ether sejak awal bencana Terra.

Symber: Cryptoquant.com

Biasanya, pedagang mengirim token ke bursa saat mereka ingin menukarkannya dengan aset lain. Dengan demikian, tekanan jual kemungkinan akan meningkat, jika tren turun dalam cadangan ETH di bursa mulai berbalik arah.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Persib Luncurkan Fan Token Kripto Ikuti Jejak AC Milan dan Barcelona FC

Persib, salah satu klub sepakbola profesional di Indonesia akhirnya masuk lebih dalam ke industri aset kripto. Menjadi klub sepakbola pertama di Indonesia, Persib meluncurkan Fan Token aset kripto mengikuti jejak AC Milan hingga Barcelona.

Klub bola asal Bandung yang punya basis komunitas digital terbesar di Asia ini, menjalin kemitraan strategis dengan platform fans engagement yang berbasis teknologi blockchain, socios.com. Kemitraan ini Persib akan meluncurkan Fan Token ke seluruh pendukungnya atau lebih dikenal dengan Bobotoh yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan di dunia.

Direktur PT PERSIB Bandung Bermartabat, Teddy Tjahjono, mengatakan Persib adalah klub sepakbola profesional yang sangat terbuka dan tentunya sangat mendukung berbagai inovasi dan teknologi terbaru. Bersama Socios.com, dapat menawarkan peluang baru bagi seluruh basis pendukung Persib, Bobotoh baik di Indonesia maupun di seluruh dunia untuk terlibat lebih dalam dan lebih dekat.

Persib Fan Token akan menjadi sebuah media dan instrumen yang efektif bagi kami, karena dapat menjangkau banyak basis pendukung digital global kami yang jumlahnya lebih dari 20 juta, menjadi lebih dekat dengan klub kebanggaannya,” kata Teddy.

Persib bergabung dengan berbagai organisasi olahraga global yang telah bergabung di dalam platform Socios.com, seperti Manchester City, FC Barcelona, AC Milan, dan banyak lainnya.

Bobotoh
Bobotoh, para pendukung Persib. Foto: Persib.

Baca juga: Tokocrypto Market Signal 8 Juni 2022: Pasar Kripto Comeback ke Zona Hijau

Keuntungan punya Fan Token Kripto Persib

Fan Token kripto seperti yang akan diluncurkan Persib ($PERSIB), nantinya bakal punya berbagai keuntungan untuk para pemegang atau pemiliknya. Socios.com mengatakan memungkinkan para pemegang Fan Token Persib bisa terlibat mempengaruhi keputusan klub yang diambil dari suara pendukung tentang berbagai hal, mulai dari desain jersey, pemilihan nomor punggung dan lagu disaat klub merayakan kemenangan.

Socios.com juga akan memberikan gambaran lebih banyak rewards kepada para pendukung klub kesayangannya, dengan sebanyak 17.000 pendukung akan mendapatkan akses menonton langsung dan menikmati pengalaman unik di pertandingan selama tahun 2022 ini.

“Kami senang memasuki market yang baru, di mana ada hasrat besar untuk sepakbola tingkat domestik dan cinta untuk permainan yang global. Sambutan yang sangat hangat dari kami untuk Persib. Kami berharap dapat menciptakan pengalaman luar biasa dan peluang baru bagi seluruh Bobotoh agar lebih dekat dengan klub kebanggaannya,” kata CEO Chiliz & Socios.com, Alexandre Dreyfus.

Persib, klub sepakbola pertama di Indonesia yang luncurkan Fan Token kripto
Persib, klub sepakbola pertama di Indonesia yang luncurkan Fan Token kripto. Foto: Persib.

Baca juga: Mengenal Kripto AC Milan Fan Token (ACM) dan TrueFi (TRU)

Pemegang Fan Token juga berpeluang menerima berbagai hadiah dalam bentuk digital rewards yang unik, termasuk digital asset, serta merchandise dan jersey yang dikenakan oleh pemain saat pertandingan, selama memenuhi syarat untuk dapat mengakses diskon eksklusif yang ditawarkan sponsor klub, dan penawaran serta insentif khusus lainnya dari berbagai mitra kerja sama.

Socios.com juga akan terus meningkatkan gamification pada aplikasi serta meluncurkan berbagai mobile game yang bertema olahraga khusus bagi para pemegang Fan Token.

Sebelumnya, Persib diketahui sudah masuk ke ranah blockchain dan NFT dengan menjalin kemitraan dengan Liberty Gaming Guild (LGG). LGG merupakan platform Play-to-Earn (P2E) atau GameFi (game berbasis blockchain + Non-Fungible Token | NFT) yang diintegrasikan ke dalam sistem game.



Sumber : news.tokocrypto.com

Potensi Aset Kripto dan NFT di Rumah Tangga hingga Industri Olahraga

Sebuah studi yang dilakukan Seton Hall University mengungkapkan aset kripto dan token NFT menjadi aset yang banyak dicari rumah tangga Amerika Serikat.

Survey jejak pendapat tersebut juga mengungkapkan penggemar olahraga termasuk ke dalam kategori yang memiliki ketertarikan pada aset kripto dan token NFT.

Seperti berbagai negara lain, Amerika Serikat juga masih mengalami serapan pemahaman tentang konsep kripto dan NFT yang rendah.

Meski begitu, sejumlah 24% rumah tangga di Amerika Serika mengungkapkan bahwa mereka telah memilih kripto atau NFT dalam portfolio investasinya.

“Ketika ditanya secara khusus apakah kepemilikan mereka adalah kripto dan/atau NFT, peserta survey menunjukkan keterlibatan yang lebih kuat dengan kripto,” ungkap penyelenggara survey.

Baca juga: Tokocrypto Market Signal 8 Juni 2022: Pasar Kripto Comeback ke Zona Hijau

Tidak hanya itu, terdapat jumlah cukup besar responden yang mengaku memilih aset kripto dalam agenda survei tersebut.

“Dari mereka yang memegang dan/atau menjual, sejumlah 62% hanya memilih kripto, sementara 31% hanya memilih NFT, dan 7% lainnya memilih keduanya,” lanjut panitia.

Dalam studi tersebut juga diungkapkan bahwa masyarakat berusia antara 18-34 tahun memiliki andil partisipasi lebih tinggi dalam perdagangan aset kripto dan NFT. Dengan total 42% suara memiliki keyakinan potensi pada aset tersebut.

Potensi aset kripto dan NFT juga mendapat dukungan dari Profesor Pemasaran dan Metodologi Poll Seton, Hall Daniel Ladik. Ia mengungkapkan bahwa NFT dapat menjadi sumber pendapatan utama merek olahraga di masa depan.

“Jika dikelola secara efektif, NFT dapat menjadi sumber pendapatan utama serta jalur baru koneksi penggemar untuk merek olahraga,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa potensi tersebut didorong oleh perkembangan teknologi digital dan interaksi aset yang semakin berkembang.

Baca juga: Analisis Nilai Bitcoin yang Kembali Masuk ke Harga $ 30.000

“Di era digital, aset interaktif seperti NFT dapat mendorong rasa kepemilikan dan kepemilikan, atribut utama untuk kesuksesan merek,” lanjut Daniel.

Dari sudut pandang penggemar olahraga, NFT memiliki daya tarik yang lebih tinggi dibandingkan aset kripto. Keunggulan utamanya terletak pada manfaat yang ditawarkan aset NFT.

Direktur Pusat Manajemen Olahraga di Sekolah Bisnis Stillman Seton Hall, Charles Grantham, mengungkapkan bahwa statistik mendukung potensi NFT pada sektor tersebut.

“Angka-angka tersebut tampaknya menunjukkan bahwa NFT mewakili lahan subur bagi liga untuk meningkatkan pengalaman penggemar,” ujar Charles.



Sumber : news.tokocrypto.com

52% Investor Kaya di Asia Memiliki Kripto, Indonesia Salah Satunya

Meracik portofolio investasi tentu akan berbeda bagi setiap individu karena berkaitan dengan besaran risiko yang dapat diambil, dan juga mengikuti perkembangan dari sentimen ekonomi global.

Dalam sebuah penelitian dari Accenture diketahui bahwa, ada 52% investor kaya di Asia yang memiliki aset digital dalam portofolio mereka, seperti aset kripto, NFT dan crypto fund, di kuartal pertama tahun ini.

Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa ada 7% dari portofolio investor kaya tersebut yang berupa aset digital. Crypto pun menjadi kelas aset terbesar nomor lima di Asia, yang mengungguli mata uang asing (valas), komoditas dan barang koleksi.

Riset Accenture.

Baca juga: Riset: Investor Kaya di Indonesia Banyak yang Mulai Investasi Aset Kripto

Di atas aset digital, investor kaya di Asia lebih banyak memegang saham, reksadana dan properti. Diketahui pula, penelitian tersebut melihat akan ada 21% investor kaya yang akan memegang aset crypto di akhir tahun 2022.

Penelitian tersebut telah menarik 3.200 responden melalui sebuah survei, yang semuanya memiliki aset yang diinvestasikan antara $ 100.000 sampai dengan $ 5.000.000.

Survei tersebut mencakup investor kaya di negara Asia seperti China, Hong Kong, Indonesia, India, Jepang, Singapura, Malaysia dan Thailand. Dan pada kuartal pertama 2022, Indonesia dan Thailand menjadi negara dengan kepemilikan aset digital terbesar di wilayah Asia.

Riset seperti ini juga dilakukan oleh pialang kripto Gemini yang menunjukkan 40% dari pemilik kripto membelinya di tahun 2021. Tahun ini adalah tahun ketika semua kripto naik secara signifikan. Indonesia adalah salah satu negara yang membeli aset kripto secara masif.

Baca juga: Tokocrypto Market Signal 8 Juni 2022: Pasar Kripto Comeback ke Zona Hijau

Meski begitu, investor institusi masih dalam mode mengamati saja, belum ramai untuk ingin masuk ke industri crypto karena urusan regulasi masih belum dirampungkan.

“Kami harus dapat memberikan pandangan yang terinformasi tentang kripto, yang memerlukan riset khusus,” papar Sacha Walker, kepada strategi dan operasi bisnis untuk wilayah Asia-Pasifik di Julius Baer

Regulasi yang diperkirakan akan memicu peningkatan aliran dana ke pasar crypto dari institusi, masih dinantikan karena eksposur ke crypto dapat meningkat dan meluas dengan adanya kejelasan regulasi, termasuk perlindungan dana para investor.

Ini akan sangat dinantikan karena diperkirakan akan membawa dasar yang positif bagi industri crypto dalam jangka panjang.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com