Budweiser, perusahaan bir asal AS, mengumumkan akan merilis seri NFT berjumlah 1936 buah. Menyusul peluncuran NFT tersebut, situs resmi mereka pun sempat macet.
Pada akhir Agustus, Budweiser membeli NFT ciptaan Tom Sachs yang berjudul “Life of the Party.” Selain itu, merk bir tersebut juga membeli domain Ethereum Name Service (ENS) beer.eth senilai 30 ETH setara US$96 ribu pada saat itu.
Budweiser Meluncurkan NFT Aslinya
Budweiser memakai nama domain beer.eth pada akun Twitter mereka. Perusahaan ini merilis koleksi NFT Budweiser sebanyak 1936 buah diiringi video yang menjelaskan penggemar bir tersebut tidak perlu menunggu lama lagi.
Video itu mengajak para pelanggan mereka untuk memiliki sekeping riwayat Budweiser dengan memiliki NFT yang berbentuk kaleng bir tersebut. Marketplace Budverse diperkenalkan kepada publik pada saat yang sama.
Pengguna situs web resmi mereka pun dikabarkan mengalami kesulitan akibat lalu lintas yang tinggi. Halaman web tersebut menampilkan 504 Gateway Time-out.
Pengguna yang berhasil mengakses web harus berusia lebih dari 21 tahun untuk memasuki situs dengan cara mengonfirmasi usia mereka. Web itu memberikan error tambahan ketika melakukan konfirmasi usia.
Setelah web kembali normal, pengguna menemukan informasi tentang NFT Budweiser. NFT tersebut adalah koleksi pertama dari sang produsen bir yang mewakili tahun 1936 saat kaleng bir mereka kali pertama diluncurkan.
“Setiap NFT unik dan dihasilkan memakai arsip foto, iklan dan rancangan selama riwayat Budweiser. Masing-masing NFT akan menjadi kunci kepada Budverse dan membuka manfaat eksklusif, imbalan serta kejutan bagi semua pemilik NFT legal,” jelas situs resminya.
Koleksi tersebut terdiri dari 1.900 buah NFT umum yang merupakan rancangan khas kaleng Budweiser selama riwayat perusahaan itu. NFT ini memberikan akses eksklusif dan imbalan dari metaverse versi perusahaan.
Selain itu, ada 36 buah NFT langka yang merupakan rancangan kaleng tertua. Situs resmi perusahaan menyebutkan NFT langka ini memberikan tiket VIP terhadap acara Budverse terbaik dan lainnya.
NFT tersebut pun terjual habis dalam hitungan menit dan pengguna yang ingin membeli harus menunggu NFT tersebut diperjualbelikan di marketplace sekunder.
Budweiser bukan satu-satunya perusahaan yang terjun ke dunia NFT. Produsen minuman Arizona Iced Tea memperkenalkan NFT dalam kolaborasi bersama Bored Ape Yacht Club.
Belum lama ini, rantai makanan cepat saji McDonalds mengungkap koleksi NFT McRib. Merk sepatu Nike dan Adidas turut melangkah menuju NFT berbasis blockchain.
PS5 diperkirakan dijual seharga 499 dolar Amerika atau setara dengan Rp7,3 juta. Harga konsol game PS5 digital edition akan dibanderol dengan harga 399 dolar AS setara dengan Rp5,9 juta. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) memberikan sertifikasi untuk unit PS5 dari PT Sony Indonesia.
Bagi kamu para pencinta game dan hobi main PS, sudah siap budget untuk mendapatkan konsol game terbaru?
Selain soal harga PS5 ini, sejumlah game yang menarik untuk konsol ini pun tidak mau ketinggalan. Salahs satunya adalah game yang disinyalir akan menggunakan teknologi blockchain. BlockPegnio (The Six Dragons) menjadi mitra resmi Playstation. Kabar ini diumumkan melalui telegram TSD oleh CEO BlockPegnio, Savvas Lazopoulos.
Dilansir dari egamers.io Six Dragons akan hadir di Playstation 5, menjadikannya game yang pertama kali diumumkan untuk mesin beast baru Sony.
Penggemar game RPG klasik akan menikmati dunia terbuka substansial yang terus berkembang. The Six Dragons adalah game yang didanai komunitas dan anggota program pengadopsi Enjin.
Presale yang sukses pada bulan Juni 2019 mengumpulkan lebih dari €150.000 ($ 168.000) dengan menjual Loot boxes, yang berisi item berdasarkan standar Token ERC-1155 dan didukung oleh 156.000 ENJ ($ 23.000).
Game ini telah berkembang pesat sejak hari itu dengan sistem yang kompleks dan canggih, diverifikasi oleh teknologi VRF Chainlink. TSD menetapkan beberapa crafting system dan menegaskan bahwa tidak ada yang bisa mengacaukan hasilnya, bahkan para pengembang.
“ The Six Dragons sedang bermigrasi dari pemain tunggal ke lingkungan multipemain. Dulu kami ada niat untuk membangun TSD untuk Xbox tetapi Microsoft belum membuat kebijakannya jelas mengenai cryptocurrency dan blockchain, “ kata Savvas Lazopaolus Founder Blockpegnio.
TSD akan hadir di PS5, tapi baru setelah rilis resmi. Saat ini, gamenya masih berformat Beta, dan selain itu masih di Ethereum dengan biayanya mahal. Enjin mengeluarkan sejumlah biaya dari pasar, tetapi biaya untuk mentransfer Token Non-Fungible tetap tinggi.
“ Masih akan memakan waktu lama untuk melihat The Six Dragons di Playstation. Saya memiliki kesempatan untuk masuk ke TSD pada tahap awal dan mengalami peningkatan secara langsung. Game ini memiliki potensi, dan BlockPegnio selalu menunjukkan cara untuk adopsi massal. “ tulis artikel E-gamers.io
Model game hybrid yang digunakan Enjin, dalam kombinasi dengan lapisan kepercayaan antara game dan komunitas, dapat memperkuat game yang luar biasa. Platform Enjin memiliki seperangkat alat pengembangan yang mencakup SDK blockchain untuk Unity, Enjin untuk Java, dan Enjin untuk Godot.
Hadirnya playstation 5 PS5 dengan membawa serangkaian performa canggih dan memiliki berbagai game pilihan termasuk game yang akan menggunakan blockchain akan sangat menarik. Dan sekali lagi kehadiran blockchain semakin dekat dengan kehidupan kita sehari-hari salah satunya melalui permainan.
Token game kembali menunjukan peningkatan harga yang fantastis. Setelah SAND, MANA, GALA, dan lainnya, kali ini giliran Mobox (MBOX) yang menghasilkan keuntungan dua digit dalam hitungan hari.
MBOX mencatatkan keuntungan lebih dari 118% dalam sepekan terakhir. Berdasarkan data Coinmarketcap, MBOX pada perdagangan Rabu, 1 Desember 2021, diperdagangkan di harga $14,66, naik lebih dari 60% dalam 24 jam terakhir.
MBOX/USDT 1 Day. Tradingview
Lantas, apa yang membuat harga MBOX semakin tinggi?
MBOX merupakan token native dari platform game blockchain bernama MOBOX. Game ini berada pada jaringan blockchain Binance Smart Chain. Platform MOBOX mendukung konsep play to earn yang mengkombinasikan yield farming DeFi dan pembuatan NFT.
Kenaikan harga MBOX ini tak lepas dari pengembangan platform menuju MOBOX MOMOverse Phase One. Perusahaan akan mengadopsi konsep metaverse daalm platformnya yang diluncurkan di ekosistem Binance.
Perusahaan mengatakan, MOMOverse merupakan metaverse pertama yang terintegrasi dengan ekosistem Binance, yang hanya dapat diakses melalui aplikasi Binance.
Dalam peluncuran tersebut pengembang akan memberikan reward berupa 5000 Kotak Misteri senilai lebih dari $1.000.000 BUSD. Untuk mendapatkan reward tersebut user harus melakukan pendaftaran yang dibuka pada 30 November kemarin.
Sementara itu, fungsi dari token MBOX dalam platform tersebut berguna sebagai cara untuk bertransaksi di platform tersebut. Selain itu MBOX bisa dijadikan sebagai bonus atau hadiah dalam setiap permainan. Dan yang tak kalah penting, MBOX difungsikan sebagai alat voting untuk menentukan bagaimana sumber daya dalam game dialokasikan.
Total supply token ini dirancang sebanyak 1 milyar. Sedangkan, yang baru terdistribusi baru sekitar 8% dari total atau sekitar 79,8 juta token.
Kapitalisasi pasar MBOX saat ini pun semakin menanjak, pada perdagangan hari ini, 1 Desember 2021, total marketcap token ini berada di angka $1,196,236,753, meningkat 67% dalam 24 jam terakhir. Kapitalisasi pasar tersebut mengangkat posisi MBOX di peringkat 215 versi coinmarketcap.
Pelaku institusi kini telah memasuki industri penambangan aset crypto, mendorong terciptanya solusi tingkat perusahaan, tetapi juga menawarkan solusi baru untuk tantangan yang ada, menurut Igor Runets, pendiri dan CEO BitRiver, penyedia layanan penambangan yang berbasis di Rusia.
Sempat hampir bangkrut di tahun 2016, Runets pun menghadapi dua pilihan yaitu menyatakan kebangkrutan pada data pusat yang didedikasikan untuk perangkat tersebut, atau membelinya dan mengubahnya menjadi bisnis colocation.
Baca Juga:Hot Wallet dan Cold Wallet, Mana yang Lebih Aman?
Dia pun memilih opsi kedua sehingga membentuk BitRiver. Ia mengatakan:
“Segera setelah pusat data mulai menghasilkan keuntungan, saya mengumpulkan uang dari investor internasional.”
Ia mengklaim bahwa mereka saat ini adalah “pusat data terbesar yang menawarkan layanan colocation penambangan Bitcoin di Rusia dan Asia Tengah, dan beroperasi secara menguntungkan.”
Runets, bagaimanapun, telah memperhatikan beberapa trend yang menjadi lebih menonjol akhir-akhir ini, mengatakan bahwa:
“Salah satu tren utama dalam industri pertambangan adalah masuknya pelaku institusi dan, sebagai hasilnya, pengenalan layanan tingkat perusahaan baru untuk industri pertambangan.”
Adapun, masuknya institusi keranah ini dapat memberikan kemungkinan solusi seperti yang diungkapkan oleh Runets:
“Saat penambangan menjadi lebih dilembagakan, pelaku institusional juga menawarkan solusi baru untuk tantangan yang ada di industri pertambangan.”
Ia menambahkan dengan memberikan contoh kemitraan yang baru-baru ini diumumkan antara Foundry dan MicroBT, produsen perangkat keras penambangan crypto utama yang berbasis di China, sebagai yang terakhir bertujuan untuk meningkatkan pangsa pasarnya di Amerika Utara dan meningkatkan efisiensi rantai pasokan bagi pembeli mesin pertambangan di Amerika Utara.
Sejalan dengan hal tersebut, dalam waktu dekat, BitRiver berencana untuk meningkatkan penawaran produknya kepada investor institusional secara global, khususnya mereka yang belum mengenal penambangan cryptocurrency. Pendiri BitRiver pun mengatakan:
“Produk-produk ini memberi investor pengalaman produk investasi tradisional tanpa perlu masuk ke seluk-beluk ekonomi penambangan Bitcoin.”
Untuk dampaknya, tentu ini akan meningkatkan kepercayaan masyarakat luas kepada crypto disaat banyak pemain bermodal besar yang terjun kedalamnya, termasuk keranah penambangan crypto, yang akan mendongkrak angka persentase dari adopsi masal dan juga sentimen positif untuk Bitcoin agar dapat terus bertumbuh ke target optimisme, level $ 20.000 yang merupakan level tertinggi sepanjang masanya, dan mungkin akan menembusnya ke level yang lebih tinggi yang belum bisa Anda bayangkan. Kita lihat saja!
Setelah sukses mengadakan Inblocks dan Indonesia Blockchain Week pada tahun 2019 dan 2020 serta menggelar TKO Summit pertama di bulan Juli 2021 (dapat disaksikan di: https://youtu.be/pp9tQ1hUyHA),Tokocrypto, pedagang asset kripto terpercaya yang juga pertama terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) kembali hadir denganTKO Summit 2021 pada tanggal 4 Desember 2021.Menggarap judul The Kripto Odyssey (T.K.O) Summit 2021, acara ini akan menghadirkan beragam topik dari 360° sudut pandang mengenai ekosistem kripto dan blockchain, dengan membahas topik-topik terkini di antara lain seputar bagaimana kripto memiliki kekuatan untuk menciptakan disrupsi positif, sampai dengan kupas tuntas struktur GameFi yang membuka jalan transformasi tokenisasi aset melalui NFT Metaverse
Aset kripto telah terbukti menjadi salah satu inovasi signifikan dan telah sepenuhnya mengubah cara kerja ekonomi keuangan di seluruh dunia. Menurut catatan BAPPEBTI, terdapat lebih dari 7,4 juta investor kripto di Indonesia di bulan Juli 2021, melampaui jumlah investor saham ritel, yang menandakan bagaimana sektor aset kripto bertumbuh pesat dalam 1 tahun terakhir.
The Kripto Odyssey (T.K.O) Summit 2021 menitikberatkan fokus pada pendalaman pemahaman seputar pondasi teknologi dari blockchain, yang merupakan dasar dari aset kripto. Blockchain seringkali dinobatkan sebagai teknologi yang akan menyetir industri revolusi ke-4, karena kemampuan dan karakteristik uniknya dalam aplikasi di dunia nyata yang terbukti telah membantu mengatasi perang melawan pandemi Covid-19.
Seiring dengan kegiatan ini, TKO by Tokocrypto juga akan meluncurkan Whitepaper terbaru yang berisikan update terkini dari TKO serta ekosistemnya. Acara ini mengundang berbagai ahli dari berbagai sudut sektor Blockchain di seluruh dunia, diantara lain Chia Hock Lai, Chairman dari ASEAN Blockchain Consortium, Juan Otero yang merupakan Co-Founder dan CEO dari situs booking perjalanan ramah crypto Travala.com, Weso yang sekarang memimpin platform DeFi Beefy Finance, Irene Umar sebagai salah satu pendiri dari Yielf Guild Games Southeast Asia (YGGSEA), Oscar Franklin Tan Chief Financial Officer (CFO) dari platform games NFT Enjin, serta perwakilan dari Tokocrypto sendiri Teguh Harmanda selaku Chief Operating Officer (COO).
Kegiatan ini akan berlangsung secara virtual selama kurang lebih 4 jam, dari jam 13.00 – 17.00 WIB, dan akan disiarkan langsung melalui kanal Youtube Tokocrypto. Pendaftaran dibuka sampai dengan 4 Desember 2021 jam 13.00 melalui eventbrite. Selengkapnya dapat dibaca di situs TKO Summit Q4 2021.
Toko Token (TKO) adalah token utilitas yang diluncurkan Tokocrypto, platform jual beli aset kripto terpercaya yang pertama kali terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI). Pada peluncurannya, TKO berhasil memecahkan rekor penjualan melalui Binance Launchpad. Sekarang TKO sudah memperluas fungsinya sebagai token utilitas penggerak ekosistem Tokoscape, yang mencakup platform jual beli aset kripto (Tokocrypto), NFT Marketplace (Tokomall), program inkubasi proyek blockchain (Tokolaunchpad), dan masih banyak lagi.
Lagi, perdebatan sengit antara Bitcoin dan emas kembali mencuat. Mengingat Bitcoin baru-baru ini rally meninggalkan posisi terendahnya dan diharapkan akan bergerak melaju ke tingkat yang lebih tinggi lagi.
Menurut beberapa laporan, bahkan analis JP Morgan, Nikolaos Panigirtzoglou menjelaskan bahwa di masa mendatang Bitcoin akan bisa menyaingi emas sebagai aset. Ia juga percaya mata uang crypto nantinya akan lebih berharga dibandingkan dengan hanya dijadikan sebagai penyimpan nilai.
Pendapat analis ini juga didasari dengan fakta bahwa Bitcoin memiliki kapitalisasi pasar cukup besar untuk disandingkan dengan jumlah keseluruhan Exchange-Trade FundsEmas dan juga total emas dalam bentuk batangan dan koin yang ada.
Meskipun Bitcoin masih dalam perjalanan panjang untuk bisa benar-benar menyaingi emas, dengan adanya beberapa investor besar dan pengadopsian mata uang crypto, ini cukup untuk mendorong Bitcoin berjalan lebih jauh lagi.
Selain, Nikolaos Panigirtzoglou, Michael Saylor sebagai CEO MicroStrategy juga mengemukakan pendapat bahwa Bitcoin jauh lebih baik dari pada emas.
Dilansir dari wawancara bersama media seputar berita finansial, Real Vision, jutawan tersebut membeberkan bahwa Bitcoin lebih baik daripada emas. Ia juga mengatakan bahwa perusahaannya MicroStrategy akan menyimpan Bitcoin bahkan hingga 100 tahun.
Tidak hanya disandingkan dengan emas, CEO ini juga percaya bahwa Bitcoin merupakan sebuah aset jangka panjang dan dapat menjadi penyelamat banyak negara dengan keadaan ekonomi dan mata uang yang sedang runtuh.
Pelanggaran hak cipta merupakan salah satu masalah yang kerap dihadapi para pencipta karya seni, termasuk seni musik. Pembajakan musik masih sering terjadi dan sulit dikontrol laju persebarannya.
Kemunculan NFT ternyata tidak hanya mampu memberi angin segar bagi para pegiat aset kripto, tapi juga mereka yang menggeluti industri musik. Pasalnya, NFT diklaim mampu mengurangi risiko terjadinya pelanggaran hak cipta. Seperti apa mekanismenya?
Apa itu Pelanggaran Hak Cipta ?
Sangat disayangkan, kasus pelanggaran hak cipta di dunia seni masih sangat sering terjadi dan bahkan seringkali dinormalisasi. Pelanggaran ini lebih dikenal dengan istilah pembajakan. Pembajakan adalah tindakan pelanggaran yang dilakukan dari melanggar hak eksklusif tertentu dari sebuah karya. Padahal berbagai cara sudah ditempuh, misalnya dengan menghadirkan platform streaming musik yang terjangkau atau mengadakan program bundling album musik dengan produk lain seperti yang dilakukan oleh brandfast food kenamaan.
Meski begitu, belum ditemukan cara yang efektif untuk memberantas pelanggaran hak cipta di tanah air. Pembajakan dan plagiasi karya masih sering terjadi. Hadirnya inovasi teknologi NFT serta blockchainmemberikan secercah harapan bagi para pencipta karya seni untuk mengatasi permasalahan tersebut.
NFT sebagai Solusi Pelanggaran Hak Cipta
Bagaimana NFT bisa menjadi solusi atas masalah tersebut? NFT bisa menjadi langkah preventif creator untuk melindungi karya mereka dari risiko pelanggaran hak cipta seperti pembajakan maupun plagiasi.
Hal ini sudah dibuktikan oleh beberapa musisi dunia. Salah satu contohnya adalah musisi asal Amerika Serikat, Kings of Leon. Bekerja sama dengan YellowHeart yang merupakan komunitas NFT, Kings of Leon berhasil menciptakan album musik NFT bertajuk “When You See Yourself”. Per Maret 2021, band rock ini berhasil mengumpulkan keuntungan sebesar $2 juta dari penjualan album NFT.
Jika melihat kesuksesan tersebut, diprediksi ke depannya akan semakin banyak musisi dan penggiat musik lain yang mengikuti jejak Kings of Leon. Bahkan tidak menutup kemungkinan jika NFT akan menjadi model jual-beli musik di masa mendatang.
Alasan Mengapa NFT Dapat Mengurangi Pelanggaran Hak Cipta dalam Karya Seni
Apa kira-kira alasan yang mendorong Kings of Leon dan musisi lain untuk membuat album NFT? Jika melihat sifat NFT itu sendiri, berikut adalah beberapa alasan mengapa NFT bisa menjadi solusi atas masalah pelanggaran hak cipta karya seni.
1. Adopsi Blockchain
NFT bisa menjadi solusi atas pembajakan musik karena sudah mengadopsi teknologi blockchain. Apa itu blockchain? Jika Anda melihat pedagang, mereka pasti memiliki buku besar akuntansi untuk mencatat pembelian dan penjualan. Dengan begitu, saat ada barang yang hilang atau jumlah stok yang kurang, maka bisa langsung diketahui penyebabnya.
Nah,blockchain adalah buku besar akuntansi tersebut dalam versi digital. Setiap karya seni yang tersimpan di dalam blockchain akan langsung tersimpan datanya. Begitu pula saat terjadi transaksi, sistem secara otomatis mencatat data yang berhubungan dengan transaksi. Selain itu, karya yang ada di blockchain juga memiliki sertifikat keaslian.
2. Kejelasan Hak Kepemilikan
Salah satu penyebab terjadinya pelanggaran hak cipta adalah karena hak kepemilikan karya yang tidak jelas. Satu karya bisa saja memiliki banyak pencipta karena memang tidak ada data resmi yang menjelaskan. Hal semacam ini tidak akan terjadi di NFT.
Karya seni yang menjadi aset digital NFT akan memiliki “identitas” unik yang sulit untuk dipalsukan. Sebuah karya seni akan sangat mudah ditelusuri asal-usul dan penciptanya. Di samping itu, creator masih memiliki hak cipta penuh atas karyanya meski sudah berpindah tangan. Sebab, NFT pada dasarnya hanya mengakui satu kepemilikan untuk sebuah karya seni.
3. Hadirnya Dukungan antar Anggota Komunitas NFT
Alasan lainnya datang dari ekosistem NFT itu sendiri. Ekosistem NFT dapat menekan pelanggaran hak cipta hingga seminimal mungkin. Sebab, pemilik karya memiliki kuasa penuh atas karya mereka. Pemilik karya dapat menentukan sendiri jalur distribusi mereka dan komunitas mana yang akan mereka ikuti. .
Apalagi hal ini didukung dengan besarnya peran komunitas bagi para anggotanya. Tak jarang, di dalam komunitas yang diikuti para anggota dapat bebas bertukar informasi. Nah, biasanya apabila terdapat karya seni NFT yang mencurigakan, mereka bisa segera melakukan laporan kecurangan pada platformmarketplace yang mereka temui dan karya seni mencurigakan tersebut bisa dilaporkan untuk ditindaklanjuti lebih lanjut. Di sinilah peran komunitas dalam membantu pemecahan problem dalam masalah pelanggaran hak cipta.
Selain itu, kolaborasi antara Kings of Leon dengan komunitas NFT YellowHeart sendiri sudah membuktikan bahwa komunitas NFT mendukung musisi untuk berkembang dan mendapatkan keuntungan yang memang pantas bagi mereka.
Kini saatnya mengetahui bagaimana cara membuat NFT musik. Sama dengan karya seni lainnya, mulanya lagu, video clip, audio visual, atau artwork digital harus melalui proses upload digital pada blockchain yang disebut dengan istilahminting. Nah, proses minting karya ini dilakukan pada NFT marketplace yang dipilih.
Bisa disimpulkan bahwa penerapan NFT dapat menekan risiko terjadinya pelanggaran hak cipta. Ingin membuat karya tanpa dihantui rasa takut akan pembajakan dan plagiasi? Anda bisa bergabung menjadi komunitas NFT sebagai Official Partner di TokoMall! Melalui TokoMall, Anda bisa memamerkan dan menjual karya seni dengan aman. Yuk, kunjungi https://mall.tokoscape.com/ dan segera daftarkan diri Anda!
Aset kripto seperti Bitcoinseringkali dianggap sebagai alternatif untuk mendapatkan penghasilan tambahan di tengah krisis ekonomi akibat pandemi COVID-19, karena Bitcoin terus berkinerja dengan baik.
Pandemi COVID-19 menjadi tantangan bagi semua orang. Tidak hanya mempengaruhi likuiditas UMKM dan bisnis sehari-hari, tetapi juga mempengaruhi sistem ekonomi yang lebih luas dan pasar mata uang digital.
Penghasilan Tambahan dari Bitcoin
Pandemi ini menciptakan banyak peluang bagi penggemar teknologi blockchainterutama para penambang bitcoin. Sejumlah aset digital, salah satunya adalah aset kripto kerap menunjukkan kinerja positif di tengah perlambatan ekonomi dikarenakan pandemi ini.
Sebagai contoh, pada Maret 2020, prospek aset kripto terlihat lemah ketika harga Bitcoin (BTC) turun drastis dalam satu minggu namun kemudian melambung hingga ke posisi tertinggi sampai saat ini dalam waktu singkat , karena volume perdagangan yang meningkat tiga kali lipat. Kondisi ini memungkinkan para penambang untuk menambang bitcoin lebih banyak lagi.
Hal ini menunjukkan bagaimana aset kripto mampu bangkit hebat, jauh lebih cepat daripada jenis investasi lainnya. Bahkan setelah tiga bulan berada di level US$9 ribuan per BTC, pada 28 Juli 2020 dini hari, Raja Aset Kripto itu mampu menembus level psikologisnya, US$10 ribu menjadi lebih dari US$11 ribu per BTC.
Momentum ini bisa dimanfaatkan bagi masyarakat Indonesiauntuk mencari tambahan penghasilan dari bitcoin ini. Investasi aset kripto dapat dijadikan pilihan untuk meningkatkan penghasilan tambahan dari trading bitcoin dan tentunya dapat mendongkrak perekonomian.
Selain itu, investasi aset kripto juga dapat menjadi pilihan bagi para trader dan investor untuk menutup kerugian akibat menurunnya kinerja investasi lain yang disebabkan oleh pandemi COVID-19.
Indonesia adalah salah satu negara yang sudah melegalkan aset kripto sebagai sebuah komoditasyang dapat diperdagangkan di bursa berjangka sebagai sebuah aset digital. Di Indonesia sendiri terdapat 13 pedagang aset kripto yang sudah terdaftar secara legal dan formal di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).
“Memilih pedagang aset kripto yang sudah terdaftar secara resmi itu penting, karena dengan terdaftar di Bappebti artinya pedagang aset kripto tersebut telah mengikuti aturan yang ditetapkan pemerintah dalam menjalankan bisnis jual-beli aset kripto dan juga untuk melakukan perlindungan terhadap pelanggan aset kripto”, kata Teguh Harmanda, COO bursa aset kripto Tokocrypto, Selasa (28 Juli 2020).
Tokocrypto sendiri adalah pedagang aset digital kripto pertama yang terdaftar secara legal di Bappebti yang menyediakan fasilitas bagi masyarakat Indonesia yang ingin mencari alternatif investasi dan meningkatkan literasi keuangan digital, jelas teguh. [red]
Siapa sangka kini rumah lelang seni NFT tidak hanya ada di dunia virtual? Setelah kesuksesan Beeple menjual NFT art ciptaannya di rumah lelang Christie’s, kini rumah lelang konvensional mulai berlomba untuk membuka peluang bagi para creator NFT art. Tidak main-main, menyusul Christie’s, kini ada Sotheby’s yang menjadi rumah lelang seni NFT. Bagaimana prosesnya?
Pengaruh NFT Art pada Ekosistem Seni Konvensional
Fenomena transisi rumah lelang ini menyadarkan kita bahwa NFT sedikit banyak sudah memengaruhi ekosistem seni konvensional. Sebelumnya, rumah lelang Christie’s dan Sotheby’s hanya menjual karya seni konvensional, perhiasan berharga, serta barang koleksi antik dari seluruh penjuru dunia.
Masuknya Sotheby’s pada ekosistem NFT tentu disambut antusias, baik oleh para creator maupun collector NFT. Pamor Sotheby’s yang tidak perlu diragukan lagi akan membantu para collector untuk mengkurasi NFT art. Bagi creator, hadirnya rumah lelang konvensional jelas akan membuka peluang exposure yang lebih besar.
Mengenal Rumah Lelang Sotheby’s
Sebelum membahas tentang bagaimana peran Sotheby’s di ekosistem seni NFT, mari mengenal sekilas sejarahnya. Sotheby’s sendiri merupakan sebuah perusahaan lelang multinasional yang berbasis di New York City, Amerika Serikat. Rumah lelang ini menerima benda seni, perhiasan mewah, seni dekoratif, real estate, hingga barang koleksi berharga.
Sejarah Sotheby’s sendiri sangat panjang. Didirikan pada 11 Maret 1744 di London, Sotheby’s merupakan salah satu balai lelang terbesar dan tertua di dunia. Barang-barang yang dilelang pun biasanya bukan barang biasa. Salah satu objek termahal yang berhasil dilelang melalui Sotheby’s adalah lukisan The Scream (1893) karya Edvard Munch. Lukisan tersebut laku pada 2012 dengan harga US$119.9 juta.
Proses lelang Sotheby’s sendiri terbuka untuk umum dan dimulai pada hari kerja (Senin-Jumat). Calon peserta lelang bisa mengecek objek yang akan dilelang melalui website resmi Sotheby’s atau juga dengan langsung datang ke pameran Sotheby’s.
Sepak Terjang Sotheby’s di Ekosistem NFT
Bagaimana dengan sepak terjang Sotheby’s dalam ekosistem NFT? Masuknya Sotheby’s ke ekosistem seni NFT ditandai lewat kolaborasi dengan NFT artist, Pak, pada awal 2021 ini. Kolaborasi tersebut berhasil mengumpulkan penjualan lebih dari US$17 juta. Beberapa karya Pak yang dilelang adalah “The Cube”, “The Switch”, “Complexity”, dan juga “Equilibrium”.
“The Cube” (2021) oleh Pak
Pak sendiri merupakan seorang kreator anonim yang sudah berkecimpung di dunia seni digital selama dua dekade terakhir. Selama menjadi creator, Pak yang merupakan pendiri studio Undream dan Archillect berhasil mengumpulkan setidaknya US$350 juta. Ia juga merupakan creator pertama pada 2020 yang berhasil mendapatkan US$1 juta.
Tidak berhenti di situ, langkah Sotheby’s selanjutnya adalah menciptakan sebuah metaverse. Sotheby’s pun sudah berhasil mengumpulkan beberapa creator untuk dikurasi. Pada 18-26 Oktober 2021 lalu, Sotheby’s berhasil menggelar lelang NFT melalui metaverse mereka.
Metaverse tersebut berisi 53 karya milik 19 kolektor besar seperti VerticalCrypto Art, Seedphrase, dan bahkan selebriti Paris Hilton. Untuk creator, Sotheby’s berhasil menggaet nama-nama besar NFT art seperti Hackatao, Board Ape Yacht Club, Brendan Dawes, dan Dmitri Cherniak.
Pada lelang tersebut, peserta diharuskan mendaftarkan diri terlebih dulu melalui lamanmetaverse.sothebys.com. Setelah berhasil membuat profil, peserta akan otomatis mendapatkan avatar dari Pak yang merupakan in-house artist Sotheby’s.
Rencana Sotheby’s Selanjutnya
Sotheby’s mengungkapkan bahwa penjajakan ke ekosistem NFT tidak hanya untuk memperluas peluang mereka. Sotheby’s ingin menciptakan sebuah jembatan yang menghubungkan karya seni digital dengan industri lelang konvensional.
Setelah sukses dengan kolaborasi bersama Pak dan membangun metaverse NFT, Sotheby’s berambisi untuk memperkenalkan para seniman kontemporer kenamaan dunia pada ekosistem seni digital. Sehingga diharapkan nantinya NFT art akan semakin variatif dan memiliki nilai koleksi tinggi.
Dengan hadirnya Sotheby’s dalam ruang lelang seni NFT, maka bisa dipastikan jika masa depan NFT masih panjang. Hadirnya rumah lelang konvensional menunjukkan bahwa peluang NFT memang sangat luas dan bisa relevan dengan berbagai sektor.
Ingin mulai terjun ke dunia lelang seni NFT? Anda bisa mulai dengan membuat profil di TokoMall, sebuah proyek Tokocrypto untuk menghadirkan ekosistem NFT yang sustainable di Indonesia. Yuk, kunjungi https://mall.tokoscape.com/ untuk informasi lebih lanjut!
Dari sisi Bank Sentral Tiongkok (PBOC), mereka tampak percaya diri dengan mengklaim, bahwa yuan digital dalam sistem DCEP (Digital Currency Electronic Payment), kelak mampu menebas dominasi dolar. Tapi ini lebih condong ke pertanyaan daripada pernyataan.
Bahkan pada September 2020 lalu, Steven Suhadi, pejabat di Dewan Pengawas Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI), dengan sejumlah argumennya meyakini yuan digital mungkin akan menjadi katalisator yang menjadikan yuan [yuan adalah sebutan satuan mata uang, dan renminbi nama mata uangnya–Red], sebagai mata uang cadangan dunia berikutnya.
Kalimat terakhir itu sangat keliru. Mungkin yang Steven maksudkan adalah “bisa mendominasi dolar”, karena renminbi sudah menjadi mata uang cadangan sejumlah negara, walaupun masih kecil, yakni 2,05 persen. Sedangkan dolar lebih besar, yakni 61 persen. Renminbi hanya menang melawan dolar Australia (1,69 persen) dan dolar Kanada (1,89 persen).
Pada tahun 2015 saja Bank Indonesiasudah mengakui sudah menggunakan renminbi sebagai cadangan devisa.
Maka, tak heran pula Bank Indonesia dan Bank Sentral Tiongkok (PBOC) sepakat menggunakanrupiah-yuan dalam perdagangan antar kedua negara, termasuk dalam program investasi langsung.
Penggunaan sejumlah mata uang negara sebagai mata uang cadangan negara lain. Sumber: IMF.
Steven juga menyandarkan pernyataannya itu pada proyek One Belt One Road (OBOR) yang mencakup banyak negara termasuk Indonesia, yang memampukan penggunaan renminbi yang semakin luas.
Di sisi itu Suhadi benar, tetapi sangat tidak mudah, mengingat pengaruh Amerika Serikat masih amat kuat, khususnya soal cara merawat dan mengelola kebijakan perdagangan, politik dan lain sebagainya, demi menguatkan nilai dolar di tingkat internasional. Artinya, perlu waktu lagi dan bukan sekadar gara-gara teknologinya.
Daftar Isi
Adalah fakta bahwa mata uang renminbi sejak Oktober 2016 menjadi bagian dari Special Drawing Rights Basket (SDRB) IMF.
Itu tonggak penting sebagai pengakuan lembaga internasional terhadap pertumbuhan perdagangan dan ekonomi Tiongkok. Dengan status bergengsi itu pula mata uang renminbi setaraf dengan dolar AS, euro, yen dan pound Inggris.
Kita lihat lagi soal klaim yuan digital yang disebut-sebut sebagian berteknologi blockchain itu, mampu bersaing dengan dolar AS
Pada 27 Oktober 2020 lalu, Zhou Xiaochuan, mantan Gubernur Bank Sentral Tiongkok (PBOC) mengatakan bahwa faktor utama yuan digital adalah untuk menghindari “dolarisasi”, di mana dolar AS digunakan secara paralel atau sebagai pengganti mata uang lokal.
Pada Jumat pekan lalu PBOC bahkan sudah menerbitkan rancangan undang-undang bagi DCEP itu agar berkekuatan hukum tetap, sebelum bisa digunakan secara luas.
DCEP sendiri dibidani sejak tahun 2014, ketika bank sentral itu secara agresif meneliti dan mengembangkan mata uang digital sendiri, ketika Bitcoin dan sejumlah aset kripto/mata uang digital “swasta” lainnya yang berteknologi blockchain, sedang naik daun.
Dan sejak Mei 2020 yuan digital sudah diujicoba beberapa kali di dalam negeri, seperti di Suzhou, Shenzhen, Chengdu dan Xiongan.
Bahkan PBOC berencana akan mengujicoba yuan digital itu dalam skala yang lebih luas dalam ajang Olimpiade Musim Dingin pada tahun 2022 mendatang di Beijing.
Beijing telah memperjelas bahwa tujuan DCEP termasuk kelak mengganti uang tunai sepenuhnya [kelak tak ada lagi uang kertas fisik, seperti yang sekarang masih digunakan di desa-desa di Tiongkok-Red], mempertahankan kendali pemerintah atas mata uang dan menciptakan skenario aplikasi ritel kecil sebanyak mungkin.
Yuan digital akan didistribusikan melalui Bank Sentral Tiongkok ke penyedia tingkat kedua yang resmi, termasuk bank-bank besar milik negara, operator telekomunikasi yang dikendalikan negara dan penyedia pembayaran daring oleh Ant Group dan Tencent, kata Zhou.
Kebijakan bukan Teknologi Mengacu pada pernyataan Anthony Pomplianobeberapa waktu lalu, teknologi pada prinsipnya bukanlah penentu utama nilai pada mata uang, melainkan pada kebijakan penggunaan mata uang itu dalam transaksi.
“Uang tidak ada urusan dengan teknologi, melainkan masalah kebijakan moneter,” katanya.
Lalu, Dr. Saifedean Ammous, pakar ekonomi yang juga penulis buku The Bitcoin Standard, mencontohkan, antara dolar AS dan yen.
Katanya, ketika sejumlah orang kurang suka 10 yen daripada 1 dolar AS, maka orang lainnya masih lebih suka menyimpan 1 dolar AS daripada 10 yen. Penyebabnya adalah, karena nilai 1 dolar AS lebih daripada 10 yen.
“Jadi, bukan jumlah unit uangnya yang Anda peroleh, tetapi daya belinya,” jelas Ammous.
Bahwa nilai dolar AS itu diapresiasi, bukan karena dia berteknologi tinggi atau tidak, melainkan dilatarbelakangi kemampun negara AS dalam mengelola kebijakan moneter, kebijakan fiskal, termasuk keputusan politik dalam dan luar negeri. Inilah pula yang menentukan nilai dan daya belinya.
Sentimen yang positif terhadap kebijakan itu, maka sejauh dan seluas itulah dolar AS digunakan. Sebaliknya, ketika situasi ekonomi genting seperti ini dan memaksa bank sentral menambah pasokan dolar ke ekonomi, maka nilainya tertekan. Itu juga bisa membuat Tiongkok keringat dingin, karena sejumlah investasinya di luar negeri bersatuan dolar AS.
Bahwa teknologi menjadi faktor yang seolah-olah teramat penting, itu keliru. Sama halnya dengan Bitcoin. Benar karena teknologi blockchain-lah dan bersifat terbukalah ia unggul dibandingkan kelas aset lain, termasuk dolar. Namun, berkat dolar pulalah dia memiliki nilai, termasuk dengan mata uang fiat lain. Karena keunggulan relatif itulah Bitcoin juga diapresiasi selayak dolar dan emas.
“Dalam sudut pandang faham ekonomi Austria, Bitcoin memenuhi kriteria sebagai bentuk uang. Pasokan Bitcoin yang tetap dan terbatas dan ketahanannya terhadap inflasi adalah kunci keunggulan Bitcoin sebagai mata uang,” kata Ammous lagi.
Sekarang perhatikan seberapa banyak yuan digunakan secara global. Jikalau mengacu pada data SWIFT sebagai jaringan pembayaran global antar bank, dolar masih mendominasi, yakni mencapai 40 persen. Sedangkan yuan hanya 2 persen.
Ini adalah satu penanda bahwa tingkat “konversi bebas” yuan masih sangat terbatas, walaupun riak perdagangan internasional mereka mampu bersaing ketat dengan AS.
“Karena mata uang digital sedikit berbeda dari yuan itu sendiri, maka tidak akan menjadi pengubah permainan yang meningkatkan peran renminbi dalam keuangan internasional,” tulis Eswar Prasad, profesor di Cornell University.
Prasas mencatat, bagaimanapun, pemerintah Tiongkok masih membatasi arus masuk dan keluar modal dan PBOC masih mengelola nilai tukar renminbi.
“Tidak ada kebijakan yang akan berubah secara signifikan dalam waktu dekat,” katanya.
Victor Shih, seorang ahli ekonomi politik Tiongkok dan profesor di University of California San Diego, menjelaskan bahwa hanya dengan memperkenalkan mata uang digital “tidak menyelesaikan masalah bahwa beberapa orang yang memegang renminbi di luar negeri akan ingin menjual renminbi itu dan menukarnya dengan dolar.
Shih mencontohkan, misalnya Iran menjual minyak dalam jumlah besar ke Tiongkok, dan menerima yuan digital sebagai pembayaran. Itu akan membantu tujuan Beijing dalam mengejar penggunaan yuan yang lebih luas dalam transaksi internasional.
Tetapi Iran mungkin ingin menggunakan setidaknya seperempat dari pendapatan itu untuk membeli barang-barang dari Eropa, kata Shih, jadi mereka perlu mengubah sebagian dari yuan digital menjadi dolar dan euro, mata uang yang paling banyak digunakan kedua untuk pembayaran global.
“Jika itu terjadi dalam skala yang sangat besar, Anda akan memiliki ratusan miliar renminbi terakumulasi di Hong Kong, pusat kliring utama untuk transaksi dalam mata uang yuan. Dan jika yuan tersebut dikonversi ke mata uang lain dalam jumlah besar, renminbi akan berada di bawah tekanan ke bawah dan PBOC harus turun tangan untuk menopang nilainya,” sebut Shih.
Shih juga mengkritik soal sifat keterlacakan penuh yuan digital oleh Pemerintah Tiongkok. Katanya, salah satu keuntungan utama dari orang-orang yang menggunakan yuan digital adalah memungkinkan para bankir Tiongkok untuk melacak dengan tepat ke mana arah setiap yuan secara lebih rinci daripada yang mungkin saat ini.
“Jika Iran melakukan pembelian dengan penghasilan yuan digitalnya, misalnya, PBOC akan dapat melihat apa yang dibelinya, dan dari siapa, hingga satuan sen,” jelas Shih.
Namun hal itu justru dianggap buruk di negara lain, sebab ada banyak situasi ketika bahkan orang yang sangat taat hukum tidak ingin pemerintah mengetahui apa yang mereka lakukan, terutama ketika pemerintah itu adalah Partai Komunis Tiongkok.
Namun Shih menilai adanya potensi perluasan penggunaan yuan selain dalam konteks perdagangan internasional biasa, misalnya melalui produk teknologi asal Tiongkok seperti TikTok (ByteDance) dan Fortnite (Epic Games).
Dapat disimpulkan, bahwa yang dicari investor dalam mata uang cadangan (global reserve currency) bukanlah teknologinya, melainkan mata uang yang stabil, didukung oleh ekonomi yang kuat, dapat dikonversi secara bebas dan dapat digunakan secara luas.
Namun, itu semua sangat tergantung pada kebijakan pemerintah Tiongkok, termasuk bank sentralnya. Bahwa yuan digital bisa menebas dominasi dolar di masa depan, bukan masalah “kapan”, tetapi “bagaimana” dan “mengapa”.