Category Archives: Tokocrypto

Inilah Keuntungan Investasi Bitcoin di 2021!

Sehari setelah Tesla membeli bitcoin senilai 1,5 miliar dollar AS, bitcoin berhasil menempati posisi $47,066 USD atau setara dengan Rp 659 juta per 9 Februari 2021. Bahkan, bitcoin juga menjadi Trending Topic di media sosial Twitter karena kenaikannya yang fantastis. Melihat hal tersebut, keuntungan investasi bitcoin di 2021 bisa dibilang semakin cerah.

Yuk simak selengkapnya!

Jumlah Bitcoin Semakin Menipis
Seperti yang kita tahu, maksimal suplai bitcoin hanya 21 juta. Namun, sekarang ini jumlah bitcoin yang beredar diprediksi telah mencapai 18,5 juta bitcoin. Ini artinya, bitcoin telah beredar cukup banyak dalam kurun waktu 12 tahun setelah peluncuran pertamanya pada pada 9 Januari 2009.

Keuntungan investasi Bitcoin dan Kripto di 2021

Menipisnya persediaan bitcoin akan menyebabkan kelangkaan pada masa mendatang. Selain itu, kenaikan harga bitcoin yang mencapai 100% dari pertengahan 2020 hingga Februari 2021 membuat semakin banyaknya trader maupun investor yang tertarik untuk bertransaksi di pasar aset kripto.

Terlebih ketika pasar saham lesu saat pandemi COVID-19, bitcoin justru memberikan cuan yang menggiurkan dan memberikan beberapa keuntungan.

Adapun keuntungan investasi yang bisa didapatkan antara lain:

1. Minimnya Biaya Transaksi
Berbeda dengan uang fiat, biaya transaksi bitcoin dan aset kripto lainnya jauh lebih murah. Minimnya biaya yang dibutuhkan untuk transaksi diakibatkan oleh basis aset kripto yang bergerak secara digital sehingga proses transaksinya cenderung lebih cepat dan praktis.

2. Keuntungan Jelas
Ketika pandemi COVID-19 memiliki dampak negatif bagi perekonomian global dan mengakibatkan pasar saham menurun, harga bitcoin tidak terpengaruh dan malah mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Ini merupakan salah satu keuntungan karena aset kripto tidak berkaitan dengan pihak tertentu seperti institusi, lembaga, ataupun negara.

3. Jumlahnya Terbatas
Seperti yang disebutkan di atas, bitcoin yang diciptakan oleh Satoshi Nakamoto hanya beredar sebanyak 21 juta koin. Jika saat ini jumlah koin yang beredar telah mencapai 18.5 juta, maka kelangkaan bisa terjadi di masa yang akan datang dan ini akan menyebabkan peningkatan harga karena banyak orang yang mencarinya.

4. Perkembangan Platform
2020 dan 2021 semakin banyak platform yang menyediakan bitcoin sebagai alat pembayaran, seperti PayPal. Selain itu sebuah bank di Eropa dan Amerika Serikat berencana menciptakan sistem dimana nasabah bisa melakukan transaksi bitcoin dan menyimpannya.

2021 Diprediksi sebagai Tahunnya Bitcoin

Jika kita melihat situasi dimana bitcoin mengalami kenaikan harga dari $7,912 USD pada Januari 2020 ke harga $47,066 USD pada 9 Februari 2021, besar kemungkinan pernyataan 2021 sebagai tahunnya bitcoin adalah tepat.

Kenaikan harga bitcoin hingga 6x lipat salah satunya disebabkan oleh masuknya investor ternama seperti Elon Musk, pendiri Tesla yang membeli bitcoin untuk mengadakan diversifikasi pembayaran pada perusahaannya.

Harga bitcoin akan semakin meroket di waktu yang akan datang bila semakin banyak investor ternama yang masuk ke dalam pasar bitcoin, seperti yang dilakukan Elon Musk

Freebruary: Dapatkan Keuntungan Investasi Aset Kripto Lebih Banyak di Tokocrypto!

Prospek bitcoin dan aset kripto lain yang sedang cemerlang menjadi kabar baik bagi sebagian masyarakat yang ingin mencoba menjadi trader atau investor pemula. 

Di bulan Februari ini, Tokocrypto dengan bangga menghadirkan Bulan Trading Nasional khusus untuk Anda! Selain free deposit, Anda juga mendapatkan free maker fee dan free transfer fee. Dimana Anda bisa menikmati 0% biaya Maker untuk trading semua pairing BIDR dan 0% biaya transfer aset Kripto untuk semua jaringan ke sesama akun Tokocrypto dan Binance. Bisa dilihat disini untuk details nya : bit.ly/FREEbruaryTokonews

Wah, menarik, kan? Yuk, segera gabung bersama Tokocrypto dan dapatkan promo menariknya! Untuk informasi lebih lanjut, join grup Telegram: Tokocrypto Official Group dan follow instagram Tokocrypto!

 





Sumber : news.tokocrypto.com

Akhir Tahun 2020 adalah Pembuktian Bitcoin sebagai Aset Safe Haven

Trader aset kripto, Muhammad Kurnia Bijaksana mengatakan, bahwa akhir tahun 2020 adalah masa pembuktian yang sangat penting apakah Bitcoin bisa sebagai aset safe haven selayak emas.

Hal itu ia sampaikan menyusul prediksi Bloomberg awal April lalu, yang menyebutkan Bitcoin bisa berperilaku sebagai aset safe haven seperti emas, berdasarkan sejumlah data yang ada.

Bahkan Bloomberg meramalkan harga Bitcoin bakal melesat di harga tinggi dalam beberapa bulan mendatang, karena volatilitas Raja Aset Kripto itu tertekan, sama seperti bull-run Bitcoin pada periode 2015-2017.

Periode itu menghantarkan Bitcoin mencapai puncak tertinggi sepanjang masa, yakni lebih dari US$19 ribu per BTC atau sekitar Rp300 jutaan kala itu.

Hasil kajian itu menegaskan bahwa Bitcoin dan pasar modal kelak “terpisah” (berkorelasi negatif) sepenuhnya dan mulai mengikuti karakter emas.

“Menurut saya sebagai trader itu bisa jadi sesuatu yang bagus. Dengan melajunya Bitcoin selayak emas, apalagi ditambah trend dominasi Bitcoin yang turun terus, maka Bitcoin dan Altcoin juga bisa berkorelasi negatif. Artinya, kelak sentimen perdagangan aset kripto tidak selalu terpaku dengan naik turunnya harga Bitcoin,” katanya.

Hal lainnya jelas Kurnia, pasar berjangka (futures) aset kripto, khususnya Bitcoin yang disebut Bloomberg bisa menekan volatilitas, bisa menguntungkan investor jangka panjang, tetapi kurang mengenakkan bagi retail trader.

“Mengapa bisa demikian? Sebab, jikalau pasar berjangka bisa ‘menjinakkan” bull, maka orang-orang awam kehilangan kesempatan untuk mendapatkan gain yang besar seperti jaman-jaman dulu, di mana BTC bisa naik ratusan persen. Namun, untuk massive adoption dan investor institusional, hal ini cukup baik, karena akan mengurangi resiko dan volatilitas BTC. Jadi, akhir tahun 2020 ini adalah masa pembuktian yang sangat penting apakah Bitcoin bisa sebagai aset safe haven selayak emas. Kita tunggu saja!” imbuhnya. [red]



Sumber : news.tokocrypto.com

Indeks Fear and Greed Crypto Meningkat, Apakah Beli Bitcoin Saat ini Tepat ?

Pada 19 November, dengan BTC / USD bertahan di $17.500, Crypto Fear & Greed Index mencapai 94, hampir menyamai level tertinggi sepanjang masa di 95 poin dari 100 pada 26 Juni 2019.

fear and greed cryptoIndeks fear (ketakutan) & greed (keserakahan). Sumber: Cointelegraph, Data Aset Digital

Fear & Greed “Paling Serakah” dalam 17 Bulan

Dikompilasi menggunakan beberapa perkiraan sentimen investor, Indeks Ketakutan & Keserakahan Crypto memberikan skor yang dinormalisasi dari 100 untuk mengukur seberapa sebenarnya pasar cryptocurrency overbought atau oversold.

Baca juga: Ini Alasan Harga Bitcoin Alami Flash Crash Setelah Coba Menembus $18.500

Semakin dekat angkanya dengan 100, semakin besar kemungkinan pasar akan mundur. Ini sangat terkait dengan aksi harga, indeks telah berhasil menyebut harga sebagai puncak dengan akurasi yang cukup sejak dimulai pada awal 2018.

“Perilaku pasar crypto sangat emosional. Orang-orang cenderung menjadi serakah saat pasar naik yang menghasilkan FOMO (Takut ketinggalan), orang sering menjual koin mereka dalam reaksi irasional ketika melihat angka merah. Dengan Indeks  fear and greed kami mencoba menyelamatkan dari reaksi emosional yang berlebihan, ” jelas pengembang situs metrik tersebut dilansir Cointelegraph.

Pada akhir Juni 2019, indeks mencapai level tertinggi yang pernah ada – 95 dari 100 dan kemarin rekor tersebut hanya satu poin lebih tinggi dari pembacaan saat ini. Analis Cointelegraph Markets, filbfilb, sementara itu menyoroti bahwa struktur pasar 2020 “sangat mirip” dengan 2019.

Baca Juga: Survei: Pandemi Covid-19 Tingkatkan Minat Beli Bitcoin

Bisakah  Investor Kuat Mencegah penurunan?

Seperti yang dilaporkan Cointelegraph, sejumlah grafik yang melacak aktivitas pasar Bitcoin telah mencapai level tertinggi sepanjang masa minggu ini, dengan dampaknya yang jelas lebih bullish.

Analis secara luas telah berhenti menyebut kenaikan saat ini berjalan terlalu tergesa-gesa, mengingat sifat “organik” nya, ahli statistik Willy Woo membandingkan posisi tertinggi sepanjang masa pada tahun 2017.

Pada prinsipnya, Woo dan yang lainnya berpendapat, investsor besar membeli pasokan tahun ini. Sementara para amatir dan spekulan tetap berada di di belakang. .

Perspektif itu dikuatkan oleh data yang menunjukkan sejumlah besar koin meninggalkan pertukaran untuk disimpan di cold wallet dan wallet jangka panjang lainnya, serta aktivitas pembelian dari whale.

Apakah Beli Bitcoin Saat Ini Pilihan yang Tepat ?

Dalam sesi siaran langsung oleh analis crypto Indonesia, Wicky Zeroski ia mengatakan jika beli Bitcoin di waktu sekarang kurang tepat. Sebab harga Bitcoin saat ini sedang tinggi dan cenderung akan terkoreksi.

“ Selamat bagi yang sudah beli Bitcoin sebelum harga saat ini, untuk yang belum beli saya sarankan tahan dulu. Karena kemungkinan harga Bitcoin akan turun ke area $17.100 dan akan naik kembali di akhir tahun sekitar $20.000-an,” kata Wicky memprediksi.

https://www.youtube.com/watch?v=HgyOySpCam0

Karena itu bagi yang belum beli Bitcoin ada baiknya jangan terburu-buru perhatikan berbagai aspek dan yang paling penting jangan serakah hanya karena melihat harga Bitcoin yang sedang meroket. Sebab kemungkinan untuk turun pun masih ada. Bagi yang sudah punya sebaiknya juga tidak serakah menjual seluruh aset, karena kenaikan yang lebih baik pun masih sangat terbuka.

Jadi, bagaimana market akhir tahun nanti?

*Artikel ini hanya merupakan informasi dan prediksi bukan merupakan acuan utama atau saran untuk melakukan jual beli Bitcoin. Semua aktivitas perdagangan Bitcoin harus dilakukan dengan sadar, penuh pertimbangan dan tanpa paksaan.

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

Demi Rupiah, Peraturan Blockchain-Aset Kripto Harus Lebih Jelas dan Luas

Peraturan terkait blockchain-aset kripto di Indonesia sepatutnya dibuat semakin jelas dan luas. Itu penting demi mencegah lebih besarnya arus modal keluar dari Indonesia, sekaligus memperkuat nilai rupiah. Kita semakin tertinggal dengan Singapura untuk urusan seperti ini.

Selama lima dekade terakhir, negara berkembang selalu terpapar risiko keuangan, kendati industri dan teknologi tumbuh pesat. Negara berkembang masih terpapar masalah rumit, yakni ketidakstabilan mata uang dan pasar modal yang lebih lemah.

Masalah itu kian berat di negara berkembang yang penghasilan utamanya berasal dari sektor non-keuangan seperti agrikultur atau industri. Lihatlah selama 10 tahun terakhir, mayoritas mata uang negara G20 sangat melemah terhadap dolar AS (USD), kecuali yuan Tiongkok (CNY), real Arab Saudi (SAR) dan won Korea (KRW).

Dapat dilihat mata uang negara berkembang melemah terhadap USD setelah krisis keuangan AS tahun 2008, ketika Negara Adi Daya itu mulai melakukan quantitative easing (QE). QE adalah strategi bank sentral membeli sekuritas jangka panjang dari pasar modal.

Pelemahan sejumlah mata uang negara lain terhadap dolar AS (USD).

Sejak itu pula, AS telah menerbitkan uang lebih dari US$6 triliun tanpa menyebabkan inflasi, sebab status USD adalah mata uang cadangan global. Investor masih mengincar aset apapun yang dihargai dalam USD, sebab aset tersebut terkait dengan QE, sehingga memperkuat nilai USD.

Sedangkan di Indonesia, PDB per kapita bertumbuh tinggi sejak tahun 2000 dan diprediksi akan terus menguat. Tetapi di saat yang sama, rupiah malah melemah secara konsisten selama 20 tahun terakhir.

PDB per kapita Indonesia (dalam USD).

Sejak 2008, rupiah melemah 50 persen terhadap USD. Sekalipun Indonesia untung 400 persen dari hasil investasi indeks LQ45 dari 2008 hingga 2018, untung tersebut akan berkurang separuh jika diukur memakai USD. Hasilnya, individu kaya di Indonesia lebih memilih menaruh aset di luar negeri daripada di Tanah Air.

Blockchain-Aset Kripto dan Arus Modal
Alih aset dari Indonesia di luar negeri itu kiranya akan semakin kencang seiring meningkatnya popularitas teknologi blockchain, khususnya yang melibatkan aset digital (aset kripto/crypto asset) atau dikenal oleh ekosistem lain sebagai mata uang digital ataupun mata uang kripto (cryptocurrency).

Terlebih dari sebutan dan julukannya itu, faktanya di Indonesia praktik perdagangan aset kripto itu kian masif. Itu terjadi setelah Kementerian Perdagangan melalui peraturan menyebutnya layak sebagai komoditi yang bisa diperdagangkan di bursa berjangka di Indonesia.

Maka, Bappebti pun diberikan hak dan wewenang mengaturnya lebih lanjut. Itu memang angin segar.

Namiun, keunggulan blockchain yang bersifat desentralistik, membuat pertumbuhan dan dampak aset kripto nyaris melewati batas-batas negara. Akibatnya, transfer nilai akan semakin global, tanpa batas dan semakin banyak kian mudah mengaksesnya.

Menurut kami, peristiwa revolusioner ini mampu mendorong semakin cepatnya beralih modal ke luar Indonesia, sebab investor memiliki lebih banyak pilihan untuk menyimpan uang. Ini pula yang pada akhirnya berpotensi juga mendorong jurang antara nilai USD dan rupiah.

Oleh sebab itu Indonesia harus lekas merangkul aset kripto secara lebih erat lagi. Kami yakin Indonesia bisa meraih manfaat besar jika memberikan kerangka peraturan yang lebih jelas bagi bisnis aset kripto di Indonesia.

Hal ini tidak hanya baik bagi ekonomi Indonesia, tetapi juga dapat menyokong pasar modal Indonesia dengan menjadikannya lebih global dan memperkuat IDR.

Mari kita ambil contoh di Amerika Serikat (AS). Semua pemain keuangan utama seperti Fidelity, JP Morgan dan Goldman sedang menjajaki beragam inisiatif dan strategi soal blockchain dan aset kripto.

Selain itu, regulator di AS semakin mendukung, seperti dari Office of the Comptroller of the Currency (OCC), yang mengawasi semua bank nasional di negara itu.

OCC menyatakan bahwa bank-bank di AS sekarang diperbolehkan menyediakan layanan penitipan mata uang kripto. Bagi kami itu adalah sebuah tonggak sangat penting, karena pasti menyangkut terbitnya peraturan baru dan sangat spesifik.

Di Asia Tenggara, Singapura saat ini paling maju terkait regulasi. Mereka dengan sigap menerbitkan kerangka kerja pada Januari 2020 yang disebut dengan Undang-Undang Layanan Pembayaran (Undang-undang PS).

Undang-undang itu dirancang khusus untuk mengatur perdagangan aset kripto. Jadi, bukan sekadar peraturan setingkat menteri, melainkan undang-undang yang tingkatnya lebih tinggi.

Jadi tidaklah heran, gara-gara undang-undang itulah sebagian besar perusahaan yang terkait blockchain-aset kripto di Singapura geraknya juga semakin lincah.

Saya yakin Indonesia memiliki kemampuan seperti negara itu. Saya yakin juga Indonesia bisa mendapatkan keuntungan besar dengan menyediakan kerangka peraturan yang lebih jelas.

Peraturan itu kiranya lebih mendukung perusahaan blockchain-aset kripto di Indonesia untuk mengembangkan bisnisnya.

Hal itu kelak tidak hanya berdampak positif bagi perekonomian Indonesia. Jika dilakukan dengan benar, ini juga akan mendukung pasar keuangan Indonesia dengan menjadikannya lebih global. Pada akhirnya itu membantu otot rupiah yang kekar.

Baca Juga: Bitcoin vs Emas, Mana yang Lebih Profit?



Sumber : news.tokocrypto.com

Bitcoin Masih Berpotensi ke bawah 3000 USD. Jangan lengah!

Pergerakan harga pasar crypto terlihat menggairahkan setelah terjadinya “dump” besar-besaran di bulan Maret kemarin. Setelah “dump” akibat WHO mengumuman COVID-19 sebagai pandemi, Bitcoin turun hingga sedikit di bawah 4000 USD. Dari situ, Bitcoin pun naik terus hingga sekitar 10.000 USD beberapa waktu lalu, dan sekarang masih berkonsolidasi sedikit di bawah itu. Namun, ada hal yang perlu diwaspadai jika kita melihat jangka panjang: Harga Bitcoin masih bisa, paling tidak 1 kali lagi turun. Berikut analisisnya

TREND JANGKA PANJANG MASIH BEARISH

Jika kita lihat sejak akhir 2017, belum ada perubahan yang berarti dari trend harga bitcoin: Masih cenderung turun (perhatikan gambar). Bitcoin baru akan dianggap bullish jika telah melewati resistance di gambar di bawah ini:

bitcoin

Jika masih belum bisa, arah pergerakannya akan mengikuti panah putih.

Baca Juga: Belum Melonjak Signifikan di Awal Halving day, Bitcoin Bisa Diburu Mulai Sekarang

MENAKAR PENURUNANNYA DENGAN FIBONACCI

Dengan menggunakan Fibonacci retracement, kita bisa melihat bahwa impuls pertama turun bermula dari pertengahan 2019, dan berakhir di Maret 2020 saat “dump” besar-besaran.

Lalu sekarang kita sedang berada di zona retracement, dan telah menyentuh zona golden pocket di area 0.618

Biasanya, radi sini, akan ada implus sebesar impuls pertama. Yang jika benar, akan membawa kita ke zona 1000-an USD

Perhatikan gambar!

Baik para trader, maupun investor, sangat disarankan untuk berhati-hati dan menunggu konfirmasi harga dulu, karena walaupun setup fibonacci tadi tidak terjadi, saat ini harga Bitcoin masih berada di zona resistance.

Baca Juga: 4 Alasan Kenapa Kamu Harus Upgrade ke Tokocrypto 2.0

 

 



Sumber : news.tokocrypto.com

Harga Bitcoin dan Cabai Keriting

Pengusaha Mark Cuban pernah bilang bahwa harga pisang lebih stabil daripada harga Bitcoin. Tentu itu sebuah perumpamaan sederhana yang agak lebay. Sampai-sampai saya harus berpikir besok-besok analogi apalagi yang ia pakai. Pisang yang berotak atau cabai keriting yang susah di-rebonding?

OLEH: Vinsensius Sitepu
Pemimpin Redaksi Blockchainmedia.id

Pebisnis seperti Mark Cuban tergolong lebih realistis menimbang-nimbang untuk mengadopsi Bitcoin lebih dalam. Dia bukanlah tipikal yang “hard marketer” bahwa Bitcoin adalah yang terbaik.

Dia cenderung mempertimbangkan masak-masak kapan dia harus membeli aset kripto itu dan menawarkannya kepada orang lain. Ibarat lagu jadul Ebiet G Ade, pikiran Cuban mungkin adalah: “tengoklah ke dalam sebelum bicara“.

Anda tentu masih ingat ucapan Mark Cuban pada tahun lalu. Dia bilang harga pisang lebih stabil daripada Bitcoin. Tentu itu sebuah perumpamaan sederhana yang agak lebay, bahwa Bitcoin yang sebenarnya ia bela, belum semenarik yang diimpikan orang. Kritik semacam itu enak dinikmati kalau Anda menggunakan kalkulator harga pisang ini.

Bagi Cuban, seperti yang ia tuturkan baru-baru ini, Bitcoin akan mengalami adopsi yang hebat jikalau penggunaan Bitcoin tidak seruwet saat ini.

Cuban memang tak secara spesifik menjelaskan, ruwetnya apa dan di bagian apa. Namun, kalau kita berandai-andai, katakanlah hari ini saya adalah pendatang baru di dunia Bitcoin. Ketika pertama kali belajar mengirimkan Bitcoin tentu saja harus memasukkan address yang panjang yang tidak ramah di mata itu.

Address itu kelihatannya lebih mirip password daripada alamat tujuan untuk mengirimkan uang selayak nomor rekening bank. Keliru sedikit, BTC pun melayang, walau ada fitur copy dan paste dan Quick Response Code.

Tentu itu tidak masalah bagi yang cepat beradaptasi dan lebih bisa memaklumkan. Sebaliknya bermasalah bagi sebagian orang, katakanlah orang tua non-Generasi Milenial. Maaf, saya tak sedang mengatakan mereka bodoh, tapi bukankah Anda pernah mengalami hal serupa?

“Bitcoin harus lebih mudah digunakan, sekalipun itu oleh nenek-nenek. Dan lagi, Bitcoin harus lebih mudah ditransaksikan, tanpa dikonversi terlebih dahulu menjadi uang fiat. Itu adalah penanda bahwa Anda masih bergantung pada uang yang dibuat dan dikendalikan oleh negara itu,” kata Cuban.

Dalam percakapan pekan lalu bersama Anthony Pompliano itu, Cuban mengatakan Bitcoin harus mudah dipakai, sekalipun itu bagi orang yang tak berotak.

Lagi-lagi itu sebuah kritik dalam analogi yang menarik, sampai-sampai saya harus berpikir besok-besok analogi apalagi yang ia pakai. Pisang yang berotak atau cabai keriting yang susah di-rebonding?

Cuban bukanlah orang baru di dunia aset kripto. Sejak tahun 2015 ia sudah mengintipnya. Bahkan tahun lalu dia sudah menerapkan pembayaran menggunakan aset kripto termasuk Bitcoin, di situs klub bola basket miliknya, Dallas Mavericks. Baginya, hasilnya tidak memuaskan. Ya, itu tadi, tidak sedikit yang merasa kesulitan menggunakannya. Kurang sederhana, begitulah.

Akhirul kata, dia bilang begini kepada Pompliano yang juga “tokoh penghayat Bitcoin anti fiat itu”: “Agar Bitcoin lebih bermanfaat, jika situasi pelik akibat negara terus menerus mencetak uang lalu berdampak global, maka Bitcoin harus berhadapan langsung dengan itu. Jika terjadi sebaliknya, Bitcoin akan kehilangan makna.”

Di atas itu semua, Mark Cuban sebagai role model Bitcoin sebaiknya bisa cepat action, berbuat langsung agar Bitcoin lebih mudah digunakan.

BERITA TERKAIT  Penelitian: Bitcoin Belum Bisa “Go Green”

Sudahkah, Bang Cuban mengintip proyek Unstoppable Domains yang dibuat oleh Tim Draper? Dia dan timnya sudah berhasil menyederhanakan address aset kripto yang ruwet itu menjadi aksara.

Jadi, address BTC ini: 3FZbgi29cpjq2GjdwV8eyHuJJnkLtktZc5 bisa dikonversi menjadi, misalnya addressku.zil ataupun btcku.crypto. Cukup ketikkan aksara itu, maka Bitcoin bisa dikirimkan. Kami di Redaksi sudah melakukan itu.

Ya, mungkin itu masih rumit di mata Bang Cuban. Apa boleh buat, standard dia memang terlampau tinggi, tapi layak dihormati.

Jadi, syair Ebiet G Ade terhadap Cuban bisa kita gubah seperti ini: “Tengoklah ke luar sebelum bicara”. [red]



Sumber : news.tokocrypto.com

Bisakah Harga Bitcoin Menuju 8.000 USD?

Setelah 6 minggu berturut-turut mencetak candle hijau, banyak orang yang berspekulasi bahwa harga raja aset kripto, Bitcoin, sudah saatnya koreksi, atau turun lebih jauh lagi.

Hal ini bukanlah tidak beralasan. Pertama, harga Bitcoin berada di Golden Pocket Fibonacci (antara 7.150-7.950 USD).

Namun, jika dilihat dari momentumnya, pergerakan bullish belum memperlihatkan adanya pelemahan.

Banyak orang pun mulai optimis bahwa bitcoin dapat kembali ke area 10.000 USD seperti di awal tahun, terutama menjelang halving yang tinggal 3 minggu lagi. Namun, apakah demikian?

Baca Juga: Psikologi Garis Support dan Resistance

2 Level yang Menjadi Pertahanan Terakhir

Sebelum meyakini bahwa bitcoin sudah sangat bullish, ada 2 level yang harus ditembus oleh Bitcoin, yaitu 7.500 sebagai level kunci sejak 2019, dan 8.000.

7.950-8.000 adalah level terakhir sebelum Bitcoin keluar dari Golden Pocket Fibonacci, yang juga confluence dengan potensi tersentuhnya 50 MA di time frame mingguan.

Jika Bitcoin berhasil menjebol 2 level ini, 9.000 hingga 10.000 USD bukanlah mimpi.

Baca Juga: Mengenal Wick-filling, Teori yang Bisa Digunakan Untuk Memprediksi “DUMP” di Bitcoin

Peringatan di Resistance

Level yang sedang dites oleh bitcoin ini adalah level yang penting. Jika bitcoin gagal menembus level ini, maka kemungkinan bitcoin kembali turun ke 6.000 USD atau lebih rendah menjadi semakin besar.



Sumber : news.tokocrypto.com

2 Faktor yang Membuat Analisis pada Bitcoin Bearish

Dua kasus menarik pada Bitcoin correction di masa mendatang adalah satu, menembusnya garis tren utama yang menandakan overhead resistance dan yang kedua, pola tinggi yang lebih rendah pada grafik high-time.

Menantang Bitcoin untuk Pulih pada Garis Lurus dari Kapitulasi Terdekat

Terlepas dari teori yang menyatakan harga Bitcoin tidak seharusnya turun di bawah $ 4.000 selama peristiwa yang disebut “black swan” pada 12 Maret 2020 lalu, BTC memang sempat melonjak dari $3.600 menjadi $6.900 dalam waktu satu setengah bulan.

Kenaikan harga hingga sebanyak 91% dalam waktu tepat 40 hari merupakan kenaikan harga yang substansial bahkan pada Bitcoin yang volatilitasnya tinggi dan sudah diketahui oleh banyak investor.

Ketika harga Bitcoin naik sangat tajam dalam periode waktu singkat tanpa ada kemunduran besar, sering kali hal ini rentan terhadap retracement yang signifikan. Seperti yang terlihat pada bulan Oktober dan Desember 2019, harga Bitcoin dapat melonjak hingga 100% dan masih jatuh kembali ke tempat mulainya rally lebih cepat dari pada pergerakan harga ke atas.

Baca juga: Stock to Flow: Satu Tahun Setelah Halving Bitcoin Diprediksi Berharga $23.000

Berbagai momentum osilator menunjukkan harga Bitcoin memiliki ruang untuk relief rally dalam waktu dekat, mungkin ke kisaran $7.100 hingga $7.200. Namun, formasi dari tingkat rendah yang lebih rendah dari grafik harian harga Bitcoin menunjukkan pembeli mulai kehilangan kedali terhadap pasar.

Untuk pertama kalinya sejak harga Bitcoin turun menjadi $3.600 lalu, grafik harian BTC mencetak catatan lebih rendah dari tingkat terendahnya. Selanjutnya, sebelum penolakan di $7.400 dan $7.200 terjadi berturut-turut, hal ini menunjukkan aktivitas beli jelas lebih dominan daripada aktivitas jual di pasar Bitcoin.

Penurunan ke arah bawah sangat kecil dan kembali dibeli dengan cepat, dengan alasan pesanan terhadap daya beli mengerdilkan pesanan daya jual di kedua bursa pertukaran spot dan futures. Namun, penolakan besar terhadap $7.400 lalu membalikkan tren dan menciptakan lingkungan yang sulit bagi pembeli untuk mempertahankan dominasinya.

Seperti yang dilansir dari Cointelegraph pekan lalu, struktur yang secara teknis terlihat bearish tercetak di Dow Jones Industrial Average dengan tampilan indikator penjualan TD9 ini, dapat menambah tekanan jual pada sebagian besar aset berisiko tinggi, termasuk Bitcoin.

Ada Beberapa Variable Mencegah Kecelakan Besar Terjadi

Meskipun beberapa analisis teknis utama masih terlihat bearish, dua faktor fundamental lainnya dapat mencegah Bitcoin re-test posisi terendah $4.000 pada jangka pendek dan kembali menstabilkan pasar.

Pertama, masuknya modal ke Tether meningkat pesat. Tether sendiri merupakan stablecoin yang paling banyak digunakan di pasar global. Jika miliaran dolar Tether masuk ke dalam bursa seperti contohnya Binance yang mulai memasuki kembali pasar cryptocurrency dan menciptakan arus baru ke Bitcoin, hal ini bisa melindungi BTC dari lebih banyak penurunan.

Kedua, kebangkitan cryptocurrency alternatif seperti Ethereum dan token pertukaran lain sejalan dengan kebangkitan BTC dalam beberapa peristiwa terakhir.

Kedua faktor tersebut mengindikasikan potensi investor yang sudah ada bersedia untuk mengambil risiko lebih besar karena semakin percaya diri terhadap tren pasar dan melindungi Bitcoin agar tidak turun kembali dalam beberapa minggu mendatang.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Mengenal Mata Uang Baru BIDR dan Mekanismenya

Seiring dengan perkembangan dalam dunia kripto, kini tidak hanya koin dan token saja yang semakin bertambah jumlahnya, namun kehadiran inovasi cemerlang berupa stablecoin juga ikut membantu masyarakat dalam melakukan aktivitas finansial. Salah satu stablecoin yang dimunculkan akhir Juni 2020 adalah mata uang baru BIDR.

Mengenal Stablecoin

Stablecoin merupakan aset kripto yang nilainya ditetapkan pada harga aset fisik lain dengan harga cukup stabil seperti mata uang fiat (dollar, euro, atau rupiah) dan harga komoditas seperti emas. Tujuan dari diciptakannya stablecoin ini adalah sebagian besar untuk melindungi harga terhadap kenaikan volatilitas yang tinggi pada pasar mata uang kripto.

Stablecoin juga mata uang bersifat global dengan volatilitas yang rendah, sehingga pengguna dapat menggunakan aset kripto ini untuk pembayaran. Keuntungan lainnya adalah stablecoin menyajikan transaksi dengan kecepatan tinggi dengan harga yang lebih hemat di kantong dan cocok untuk digunakan setiap hari.

Konsep Mata Uang Baru BIDR

Pada akhir Juni 2020, perusahaan blockchain global bernama Binance dan Tokocrypto meluncurkan Binance Indonesian Rupiah (BIDR). BIDR merupakan stablecoin Binance Chain BEP-2 yang memungkinkan aktivitas transfer koin di blockchain menjadi cepat dan murah. 

BIDR memang dirancang untuk menjadi hybrid antara fiat dan aset kripto, dengan tujuan memberi pengguna fleksibilitas untuk bertransaksi BIDR dalam kripto (baik dari dan ke bursa atau wallet lain) dan dalam bentuk fiat (dari dan ke rekening bank) berdasarkan preferensi pribadi.

Nilai BIDR dan Mekanisme

Nilai BIDR berpatokan dengan mata uang rupiah (IDR). Saat ini BIDR tersedia untuk pembelian langsung dan penukaran dengan nilai 1 BIDR setara 1 rupiah. Anda bisa memperoleh BIDR secara instan ketika mendepositokan rupiah ke fiat channel di Tokocrypto. 

BIDR juga dapat di-transfer ke dalam platform Binance dan diperdagangkan di sana. Selain memiliki nilai 1:1 dengan IDR, BIDR kini dapat diperdagangkan dengan aset kripto seperti Bitcoin Cash (BTC), Ethereum (ETH), Binance USD (BUSD), USD Tether (USDT), Binance Coin (BNB) dan sebagainya.

Harapan Coin BIDR Kedepannya

Pang Xue Kai, selaku Founder dan CEO Tokocrypto mengatakan bahwa peluncuran BIDR ini merupakan momen yang membanggakan sekaligus membahagiakan bagi Tokocrypto, karena dapat bekerjasama dengan Binance dalam bentuk dukungan proyek BIDR agar Indonesia memiliki terobosan baru dan perkembangan dalam dunia kripto.

Selain itu, Changpeng Zhao, selaku Founder dan CEO Binance juga mengatakan perkembangan stablecoin Binance pertama berbasis rupiah telah menjadi hasil kolaborasi yang erat antara Binance dan Tokocrypto.

Dengan kehadiran BIDR di pertengahan 2020, Binance dan Tokocrypto berharap hal tersebut akan membuka lebih banyak layanan keuangan untuk ekosistem blockchain yang lebih besar di Indonesia.

Peluncuran BIDR Sesuai dengan Visi Tokocrypto

Peluncuran BIDR sebagai awal perjalanan untuk membuka layanan keuangan berbasis blockchain ini sesuai dengan tujuan awal didirikannya Tokocrypto, yaitu untuk membantu masyarakat Indonesia dalam mendapatkan pengetahuan dan informasi yang lebih luas dan terpercaya mengenai industri kripto.

Kemudian Tokocrypto juga akan terus berupaya memberikan kemudahan masyarakat untuk mengakses ke teknologi dan ekosistem blochain agar mendapat manfaat yang ada di dalamnya.

Wah, menarik, kan konsep mata uang baru BIDR ini? Jika Anda tertarik untuk mempelajari dan membelinya, trading di Tokocrypto saja! 

Temukan berbagai macam artikel khusus pemula maupun berita terkini di website News Tokocrypto dan media sosial kami @Tokocrypto. 

Salam to the Moon!

 



Sumber : news.tokocrypto.com

Alasan Kenapa Bitcoin Seharusnya Dinilai Dengan Emas, Bukan USD

Harga Bitcoin selalu jadi perdebatan, dan menjadi lebih rumit karena dihargai dalam dolar AS. Padahal Bitcoin dan dolar AS adalah entitas yang jelas berbeda.

Baru-baru ini, seorang pengusaha, Sylvain Saurel, memposting di medium adanya penurunan daya beli sebesar 85% atau senilai $ 1.000 dari tahun 1971 sampai tahun 2020 ini. Menurutnya, itulah sebab nilai Bitcoin cepat meningkat.

 

“Oleh karena itu, harga Bitcoin dalam dolar AS akan cenderung meningkatkan harga Bitcoin lebih cepat karena efek dari inflasi moneter,” katanya.

Saurel lebih menyarankan emas sebagai tolak ukur harag Bitcoin, ketimbang dolar AS. Alasannya karena emas sudah menjadi benda simpanan bernilai yang diakui selama berabad-abad, dari pada dolar AS.

Goldprice.org menunjukkan nilai logam mulia (emas) mencapai nilai tertinggi sepanjang masa yaitu $ 2.070 / oz pada 6 Agustus tahun ini. Sementara Fed sendiri terus mencetak triliunan untuk menjaga perekonomian AS agar tidak runtuh, tapi hal ini malah menghancurkan kepercayaan investor terhadap USD sebagai mata uang cadangan.

Baca Juga: Melirik YFI, Satu-satunya Altcoin Yang Lebih Mahal Dari Bitcoin

Selain emas, nilai perak juga meningkat ditengah runtuhnya greenback akhir-akhir ini. Sementara Bitcoin mengalami kenaikan sebesar 57% sejak awal tahun.

Bitcoin dan emas memiliki beberapa kesamaan, diantaranya : biaya ekstraksi dan penambangan. Perbedaannya, tidak mudah memperkirakan jumlah pasokan emas sementara kuantitas Bitcoin dapat diketahui.

Lebih lanjut Saurel menambahkan jika harga Bitcoin menggunakan emas, akan menghilangkan inflasi yang terkait dengan mata uang fiat khususnya dolar.

Kesimpulannya, harga Bitcoin bisa naik hingga $ 50.000 pada akhir tahun 2021 mendatang, atau lebih lama dari waktu yang diperkirakan.



Sumber : news.tokocrypto.com