Harga Bitcoin (BTC) mengalami penurunan tajam pada 10 Maret 2025, turun di bawah $82.000 setelah munculnya sinyal bearish baru.
Koreksi ini memperpanjang pelemahan Bitcoin hingga 25% dari level tertinggi sepanjang masa, memicu kekhawatiran akan potensi penurunan lebih lanjut.
Pola Double-Top Picu Sentimen Negatif
Dalam wawancara dengan Thecoinrepublic, Analis veteran, Peter Brandt, menyoroti pola double-top yang telah dikonfirmasi sejak Desember lalu.
Pola ini menunjukkan bahwa Bitcoin berada dalam tren penurunan yang kuat. Menurutnya, untuk mengubah momentum menjadi positif kembali, BTC harus berhasil menembus level $90.000.
Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Selasa, 11 Maret 2025. Sumber: Tokocrypto.
Meskipun harga Bitcoin melemah, data on-chain menunjukkan adanya akumulasi dari investor besar (whale).
Laporan Santiment mengungkapkan bahwa dompet dengan lebih dari 10 BTC telah menambah sekitar 5.000 BTC sejak 3 Maret. Akumulasi ini berpotensi menjadi katalis pemulihan harga pada pertengahan Maret.
$90K Jadi Level Kunci Pemulihan Bitcoin
Menurut analis teknikal Captain Faibik, Bitcoin berpeluang menguji kembali level $90.000 dalam beberapa hari mendatang.
Namun, ketidakpastian makroekonomi, termasuk kebijakan tarif Donald Trump dan ketegangan geopolitik, masih menjadi faktor penghambat reli.
Jika BTC gagal menembus $90.000, Arthur Hayes, pendiri BitMEX, memperkirakan harga akan kembali ke $78.000, dengan support kritis berikutnya di $75.000.
Apakah Bitcoin Bisa Jatuh ke $70K?
Saat ini, Bitcoin masih berada dalam tekanan setelah turun di bawah $80.000. Sempat pulih ke $82.228, namun tekanan jual tetap mendominasi pasar.
Data dari Deribit menunjukkan bahwa minat terbuka (open interest) pada level $70.000 hingga $80.000 mencapai ratusan juta dolar, yang bisa menyebabkan volatilitas tinggi.
Firma riset 10x Research menyebut penurunan ini sebagai “koreksi textbook,” di mana sekitar 70% aksi jual berasal dari pemegang jangka pendek yang panik.
Hal ini mengindikasikan bahwa kepanikan investor menjadi faktor utama pelemahan harga Bitcoin.
Dengan Fear & Greed Index turun ke 20, sentimen pasar masih dalam kondisi “ketakutan ekstrem.” Bitcoin harus bertahan di atas support $75.000 dan kembali menembus $90.000 untuk mengembalikan momentum bullish.
Apakah akumulasi whale bisa membalikkan tren bearish? Pasar akan menentukan dalam beberapa hari mendatang.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Bitcoin (BTC) kembali mengalami gejolak harga setelah mengalami crash yang membuatnya turun di bawah $85.000 (Rp 1,3 miliar).
Namun, para analis kripto melihat potensi pemulihan yang bisa membawa Bitcoin hingga mencapai $150.000 atau setara Rp 2,4 miliar.
Lantas, bagaimana proyeksi ini terjadi? Berikut analisisnya.
Pola Pergerakan Bitcoin Mirip Tahun 2020
Seorang analis kripto bernama Jelle membagikan grafik harga Bitcoin yang menunjukkan pola pergerakan harga mirip dengan tahun 2020.
Pada pola tersebut, Bitcoin mengalami kenaikan, diikuti oleh fase konsolidasi, sebelum akhirnya breakout dan mencapai puncak harga baru.
Kemudian, terjadi crash menuju level support sebelumnya sebelum kembali melonjak signifikan.
Prediksi Kenaikan dari Level Support
Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Rabu, 5 Maret 2025. Sumber: Tokocrypto.
Berdasarkan analisis historis, Bitcoin diperkirakan bisa mengalami pemantulan harga dari kisaran $68.000 hingga mencapai $74.000.
Seandainya skenario ini terjadi, Bitcoin berpotensi naik lebih dari dua kali lipat hingga menyentuh $150.000.
Namun, perlu dicatat bahwa pergerakan harga tidak selalu berjalan sesuai pola yang ada.
Keputusan Investasi: Haruskah Membeli Bitcoin Sekarang?
Sementara itu, Finbold menyebutkan bahwa para analis menekankan bahwa meskipun pola historis dapat menjadi acuan, tidak ada jaminan bahwa skenario tahun 2020 akan terulang di 2025.
Kenaikan sebelumnya hanya mencapai 33%, sementara prediksi saat ini menyebutkan potensi lonjakan lebih dari 100%.
Oleh karena itu, keputusan untuk membeli harus dilakukan dengan pertimbangan matang dan strategi yang tepat.
Kritik terhadap Analisis Fraktal Bitcoin
Tidak semua orang setuju dengan prediksi berbasis pola historis ini. Beberapa analis mengkritik pendekatan ini sebagai pencarian pola acak yang belum tentu valid.
Bahkan, Jelle sendiri mengakui bahwa ia hanya mengamati pergerakan harga tanpa kepastian mutlak mengenai pergerakan selanjutnya.
Risiko dan Volatilitas Pasar
Saat ini, pasar kripto sedang mengalami volatilitas ekstrem, sehingga tidak disarankan untuk melakukan perdagangan tanpa strategi yang jelas.
Jelle sendiri mengaku terus mengurangi kepemilikan Bitcoin-nya secara bertahap untuk menghindari risiko lebih besar akibat ketidakpastian pasar.
Strategi Investasi Bitcoin
Membeli Bitcoin saat crash memang bisa menjadi peluang, tetapi juga memiliki risiko tinggi. Jika pola tahun 2020 benar-benar terulang, harga Bitcoin masih bisa turun lebih dalam sebelum kembali naik.
Oleh karena itu, investor perlu mempertimbangkan strategi yang matang, melakukan riset menyeluruh, dan tidak mengambil keputusan impulsif hanya berdasarkan prediksi.
Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, apakah Bitcoin benar-benar akan mencapai $150.000 (Rp 2,4 miliar)? Hanya waktu yang akan menjawabnya.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
White House Crypto Summit yang akan digelar pada Jumat (7/3) ini menjadi salah satu peristiwa yang paling dinantikan oleh para pelaku pasar aset kripto.
Meskipun ekspektasi terhadap hasil pertemuan ini terbilang rendah, banyak pihak yang tetap memantau perkembangannya untuk melihat potensi kebijakan yang bisa mempengaruhi pasar.
Tidak Ada Rencana Pembelian Kripto?
Banyak yang skeptis mengenai kemungkinan pemerintah AS mengumumkan rencana pembelian aset kripto dalam jumlah besar.
Sekali pun ada, nilai yang ditawarkan kemungkinan hanya ratusan juta dolar, sehingga dampaknya terhadap pasar tidak akan terlalu signifikan.
Jika pemerintah AS benar-benar membeli aset kripto, investor kemungkinan akan mencoba mendahului langkah tersebut dengan membeli lebih dulu.
Potensi Penghapusan Pajak Keuntungan Kripto
Postingan DaanCrypto dalam sosial media X memprediksikan, salah satu kebijakan yang paling diantisipasi adalah kemungkinan pengecualian pajak keuntungan modal (capital gains tax) untuk keuntungan dari investasi kripto.
Seandainya hal ini benar-benar diumumkan, dampaknya bisa sangat positif bagi pasar. Namun, kebijakan ini tetap memerlukan persetujuan dari Kongres sebelum bisa diterapkan secara resmi.
Potensi Kenaikan Harga Kripto
Terlepas dari hasil pertemuan nanti, beberapa aset kripto yang berbasis di AS dan masuk dalam kategori cadangan strategis seperti Solana (SOL), XRP, dan Cardano (ADA) kemungkinan akan mengalami kenaikan harga.
Apalagi setelah penurunan besar dalam 36 jam terakhir, di mana mayoritas aset kripto mengalami penurunan di kisaran 20-40%, investor kemungkinan akan mulai melakukan alokasi ulang menjelang pertemuan.
Risiko Penurunan Lebih Lanjut
Jika pasar terus mengalami penurunan tanpa adanya berita baru menjelang pertemuan, bisa jadi ada faktor lain yang memengaruhi pergerakan harga.
Beberapa analis mencurigai adanya peran pihak dalam yang telah mengetahui informasi lebih awal dan melakukan transaksi besar-besaran, terutama di platform seperti Hyperliquid.
Fokus pada Investasi Jangka Panjang
Pasar kripto dikenal memiliki volatilitas tinggi, dengan pergerakan harga 10-50% hanya dalam sehari karena satu berita tertentu. Hal ini membuat perdagangan jangka pendek menjadi sangat berisiko.
Oleh karena itu, banyak investor yang lebih memilih strategi investasi jangka panjang untuk mengurangi risiko akibat fluktuasi harga yang ekstrem.
White House Crypto Summit menjadi momen penting bagi pasar kripto, meskipun ekspektasi terhadap hasilnya tidak terlalu tinggi.
Beberapa kebijakan potensial seperti penghapusan pajak keuntungan modal dapat memberikan dorongan positif, tetapi ketidakpastian tetap tinggi.
Dalam situasi seperti ini, investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan mempertimbangkan strategi investasi jangka panjang guna menghadapi dinamika pasar yang sulit diprediksi.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Pasar kripto mengalami kenaikan tajam pada 2 Maret 2025 , dengan nilai pasar bertambah sekitar $330 miliar (Rp 5,4 kuadriliun) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, mengonfirmasi rencana cadangan kripto nasional.
Cryptoslate menyebutkan pada Selasa (4/3) bahwa pernyataan ini mendorong kapitalisasi pasar kripto naik sekitar 10%, dari $2,83 triliun menjadi $3,15 triliun.
Namun, angka ini kemudian sedikit terkoreksi menjadi $3,02 triliun.
Lonjakan Pasar Kripto Berdampak pada Likuidasi Besar
Lonjakan nilai pasar ini tidak datang tanpa konsekuensi. Sebagai ganjaran, dalam satu hari, lebih dari $960 juta likuidasi terjadi di seluruh bursa kripto.
Pedagang yang memasang posisi jual (short traders) mengalami kerugian terbesar, dengan total lebih dari $549 juta.
Sementara itu, pedagang yang mempertaruhkan harga akan naik (long traders) juga mengalami likuidasi sebesar $412 juta.
Dari berbagai aset kripto, Bitcoin (BTC) menjadi yang paling terdampak dengan likuidasi mencapai $348 juta. Ethereum (ETH) juga tidak luput dari tekanan, dengan total likuidasi lebih dari $180 juta.
XRP, ADA, dan SOL Mengalami Kerugian Besar
Selain Bitcoin dan Ethereum, para spekulan yang bertaruh pada harga aset kripto lain seperti XRP, Solana (SOL), dan Cardano (ADA) juga mengalami kerugian besar.
Dalam periode yang sama, likuidasi pada ketiga aset ini mencapai lebih dari $220 juta.
Dampak Jangka Panjang bagi Pasar Kripto
Rencana cadangan kripto nasional yang diumumkan Trump menunjukkan adanya kemungkinan adopsi kripto yang lebih luas di tingkat pemerintahan.
Hal ini dapat menjadi katalis positif bagi industri kripto dalam jangka panjang. Namun, volatilitas yang tinggi tetap menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan oleh investor dan pedagang.
Dengan perkembangan ini, pasar kripto semakin menunjukkan perannya sebagai kelas aset yang terus berkembang dan menarik perhatian berbagai pihak, termasuk pemerintah dan investor institusional.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Volume mencerminkan jumlah aset kripto yang diperdagangkan dalam periode waktu tertentu—indikator volume ini dapat kamu gunakan sebagai indikator pelengkap saat melakukan trading.
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan volume trading dan apa fungsinya bagi trader khususnya di pasar kripto? Simak penjelasannya di bawah ini.
Apa itu Volume Trading?
Volume trading merupakan jumlah total aset yang diperdagangkan dalam periode waktu tertentu—aset ini bisa berupa saham, kripto, atau forex.
Volume transaksi ini biasanya dinyatakan dalam bentuk total aset yang diperdagangkan atau dalam bentuk fiat seperti dolar AS.
Misalnya, dalam satu hari, terjadi transaksi antara tiga trader: A, B, dan C. Trader A membeli 3 BTC dari Trader B dengan harga $100,000 per BTC. Trader B menjual 3 BTC ke Trader A dan membeli 1 BTC dari Trader C dengan harga $90,000 per BTC.
Total volume trading yang tercatat adalah 4 BTC. Yang mana 3 BTC tersebut berasal dari transaksi antara A dan B, serta 1 BTC dari transaksi antara B dan C—dengan nilai total volume transaksi sebesar $390,000 ($300,000 dari 3 BTC + $90,000 dari 1 BTC).
Selain untuk mengetahui jumlah aset yang diperdagangkan dalam suatu periode waktu tertentu, volume trading juga bisa menjadi salah satu tolak ukur untuk mengetahui seberapa diminati suatu aset, dan seberapa aktif aset tersebut diperdagangkan.
Biasanya, ketika semakin besar volume trading yang dimiliki oleh suatu aset, maka semakin tinggi pula tingkat likuiditas aset tersebut.
Kenapa Trading Volume Bisa jadi Pertanda Tingginya Likuiditas Suatu Aset?
Likuiditas sendiri mengacu pada seberapa mudah suatu aset dapat dibeli atau dijual tanpa menyebabkan perubahan harga yang signifikan.
Semakin besar volume trading suatu aset, semakin tinggi likuiditas karena adanya lebih banyak pembeli dan penjual yang aktif di pasar. Prinsipnya seperti ini:
Lebih banyak transaksi → Saat volume tinggi, ada banyak order jual dan beli yang masuk, sehingga aset bisa diperdagangkan dengan cepat tanpa kesulitan menemukan lawan transaksi.
Spread yang lebih kecil → Spread adalah selisih antara harga bid (pembelian) dan ask (penjualan). Jika volume tinggi, spread biasanya lebih kecil karena banyaknya trader yang mengisi order di berbagai level harga.
Harga lebih stabil → Dengan lebih banyak transaksi terjadi secara konsisten, harga cenderung lebih stabil karena karena adanya layer order yang harus ditembus terlebih dahulu.
Kemudahan masuk dan keluar pasar → Trader dan investor merasa lebih aman karena bisa membeli atau menjual aset dalam jumlah besar tanpa mempengaruhi harga secara drastis.
Volume dalam trading dapat memberikan berbagai insight penting bagi para trader, seperti:
Menentukan Likuiditas Pasar: Seperti pada penjelasan poin sebelumnya, volume tinggi dapat menunjukkan bahwa aset mudah dibeli dan dijual tanpa menyebabkan perubahan harga yang signifikan. Indikator ini akan sangat berguna ketika kamu melakukan trading meme coin di DEX (Decentralized Exchange) atau kripto dengan market cap kecil.
Menilai Kekuatan Tren Pergerakan: Tinggi atau rendahnya volume bisa menjadi salah satu cara untuk konfirmasi tren harga, misal: volume yang meningkat saat harga naik bisa menjadi tanda tren bullish, sedangkan volume tinggi saat harga turun bisa mengindikasikan tren bearish.
Mengetahui Fase Konsolidasi dan Akumulasi: Saat fase konsolidasi, volume biasanya datar atau bahkan menurun yang menunjukkan kurangnya minat pasar. Namun, jika volume bertambah dalam rentang sempit, itu bisa menjadi tanda smart money sedang mengakumulasi sebelum harga bergerak signifikan.
Volume sangat berguna ketika digunakan bersama dengan analisis teknikal lainnya, seperti support-resistance, candlestick pattern, atau indikator seperti RSI dan MACD.
Berbeda dengan forex yang volume trading-nya sulit diukur secara riil karena yang bersifat over-the-counter (OTC) dan tidak ada satu sumber data terpusat yang mencatat semua transaksi pasar forex—di pasar kripto, volume bisa dilihat secara langsung melalui bursa, seperti yang bisa kamu lakukan dengan mudah di Tokocrypto.
Cara untuk menampilkan indikator volume trading di aplikasi Tokocrypto:
Masuk ke menu pasar → pilih aset kripto → klik tulisan VOL yang ada di bagian bawah grafik harga.
Kenapa Harus Memperhatikan Volume Trading?
Aset dengan volume tinggi dan konsisten biasanya menunjukkan adanya partisipasi aktif dari para trader dan investor, yang berarti harga terbentuk secara organik melalui mekanisme supply dan demand. Ini menjadi penting sebab semakin tinggi volume, makan akan semakin mudah bagi kamu untuk melakukan transaksi beli atau jual tanpa mengalami slippage besar—yaitu perbedaan harga antara yang diinginkan dan yang dieksekusi.
Sebaliknya, aset dengan volume rendah cenderung lebih berisiko karena pasar yang sepi lebih rentan dimanipulasi oleh whaledan kurang likuid.
Memperhatikan volume juga membantu kamu menyaring aset sebelum mengambil keputusan trading. Ketika volume mendadak meningkat drastis, itu bisa menjadi sinyal adanya pergerakan besar—baik karena berita penting, akumulasi oleh institusi, atau sebagai potensi konfirmasi dari analisis teknikal.
Penutup
Pergerakan volume trading biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti zona waktu, sentimen, berita, analisis teknikal, hingga partisipasi institusi dan whale. Faktor-faktor ini tentunya tidak dapat dilepaskan dari dinamika pasar yang terus berubah.
Maka dari itu, trader perlu untuk selalu update dengan berita dan pergerakan pasar terbaru. Salah satu cara untuk tetap terhubung dengan informasi adalah dengan bergabung bersama komunitas trader Tokocrypto di Telegram untuk mendapatkan berita, analisis sinyal harian, edukasi untuk pemula, dan desas-desus terbaru seputar pasar kripto.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda.
Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.
Deutsche Bank tengah menjajaki penerapan teknologi stablecoin untuk memperbarui sistem pembayaran internasional.
Langkah ini mencerminkan komitmen bank asal Jerman tersebut dalam mengadopsi inovasi digital guna meningkatkan efisiensi dan keamanan transaksi lintas batas.
Deutsche Bank, melalui anak perusahaannya DWS, berencana meluncurkan stablecoin euro yang sepenuhnya diatur oleh BaFin, otoritas pengawas keuangan Jerman.
Proyek ini, yang dinamakan AllUnity, merupakan hasil kolaborasi dengan Galaxy Digital dan Flow Traders.
Stablecoin ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan investor institusional dan perusahaan di Eropa.
DWS menargetkan peluncuran stablecoin ini dalam 12 hingga 18 bulan ke depan, setelah memperoleh lisensi e-money dari BaFin.
Ilustrasi Standard Chartered. Sumber: Standard Chartered.
Kolaborasi dengan Standard Chartered: Uji Coba UDPN
Selain itu, Deutsche Bank bersama Standard Chartered telah menguji coba sistem pembayaran berbasis blockchain yang disebut Universal Digital Payments Network (UDPN).
Sistem ini memungkinkan transaksi antar stablecoin dan mata uang digital bank sentral (CBDC) dengan menggunakan pesan digital, mirip dengan sistem SWIFT yang digunakan dalam perbankan tradisional.
Dalam uji coba tersebut, kedua bank berhasil melakukan transfer dan pertukaran stablecoin seperti USDC dan EURS secara real-time.
UDPN dirancang untuk mendukung interoperabilitas antara berbagai jaringan blockchain sambil memastikan kepatuhan terhadap standar identitas digital terdesentralisasi.
Potensi dan Tantangan
Penerapan stablecoin dalam sistem pembayaran global menawarkan berbagai keuntungan, antara lain:
Efisiensi Biaya dan Waktu: Mengurangi biaya transaksi dan waktu penyelesaian dibandingkan dengan metode pembayaran tradisional.
Aksesibilitas Global: Memungkinkan akses ke layanan keuangan bagi individu dan perusahaan di berbagai belahan dunia.
Transparansi dan Keamanan: Meningkatkan transparansi dan keamanan transaksi melalui teknologi blockchain.
Namun, terdapat juga tantangan yang perlu diatasi, seperti:
Kepatuhan Regulasi: Memastikan bahwa stablecoin mematuhi regulasi yang berlaku di berbagai yurisdiksi.
Interoperabilitas: Mencapai interoperabilitas antara berbagai platform dan sistem pembayaran.
Kepercayaan Pasar: Membangun kepercayaan pasar terhadap stabilitas dan keamanan stablecoin.
Prospek Masa Depan
Langkah Deutsche Bank dalam mengadopsi teknologi stablecoin menunjukkan bahwa bank-bank besar mulai melihat potensi digitalisasi dalam sistem pembayaran global.
Dengan dukungan regulasi yang semakin jelas, seperti penerapan Markets in Crypto Assets Regulation (MiCAR) di Uni Eropa, diharapkan adopsi stablecoin akan semakin meluas.
Inisiatif ini tidak hanya akan menguntungkan bagi institusi keuangan, tetapi juga bagi konsumen yang mencari solusi pembayaran yang lebih efisien dan aman.
Dengan terus berkembangnya teknologi dan regulasi di sektor ini, Deutsche Bank dan institusi keuangan lainnya diharapkan dapat memainkan peran kunci dalam transformasi sistem pembayaran global menuju era digital yang lebih maju.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Bitcoin saat ini diperdagangkan di sekitar $105.208, mengalami penurunan sekitar 0,3% dalam 24 jam terakhir.
Pola “mini death cross” muncul ketika rata-rata pergerakan (moving average) jangka pendek melintasi ke bawah rata-rata jangka panjang, sering kali dianggap sebagai sinyal bearish jangka pendek.
Namun, beberapa analis melihat ini sebagai peluang koreksi sehat sebelum potensi reli berikutnya.
Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Kamis, 5 Juni 2025. Sumber: Tokocrypto.
Shiba Inu: Sinyal Bullish yang Menarik
Shiba Inu, salah satu memecoin populer, menunjukkan sinyal bullish yang menarik perhatian investor.
Saat ini, SHIB diperdagangkan di kisaran $0,00001289, dengan fluktuasi harga yang menunjukkan potensi kenaikan.
Volume perdagangan yang meningkat dan minat komunitas yang kuat menjadi faktor pendukung tren positif ini.
Dogecoin: Masih Lesu dan Menunggu Momentum
Pergerakan harga Dogecoin (DOGE/USDT) pada Kamis, 5 Juni 2025. Sumber: Tokocrypto.
Dogecoin, pelopor memecoin, tampak stagnan dengan harga DOGE sekitar $0,1904, mengalami penurunan sekitar 3% dalam 24 jam terakhir.
Kurangnya katalis positif dan volume perdagangan yang rendah membuat DOGE belum menunjukkan pergerakan signifikan. Investor menantikan perkembangan baru yang dapat memicu reli harga.
Secara keseluruhan, pasar kripto menunjukkan dinamika beragam dengan Bitcoin menghadapi tekanan teknikal, Shiba Inu menunjukkan potensi bullish, dan Dogecoin masih mencari momentum.
Menanggapi kondisi ini, investor disarankan untuk tetap waspada terhadap perkembangan pasar dan melakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Harga Ethereum (ETH) mengalami penurunan tajam dalam seminggu terakhir, turun hingga 22% dan sempat menyentuh harga di bawah $2,100 (Rp 34,8 juta).
Namun, beberapa indikator menunjukkan bahwa rebound harga bisa segera terjadi. Berikut dua alasan utama yang mendukung potensi kenaikan kembali Ethereum.
Akumulasi Besar oleh Investor
Institusional Investor besar atau “whales” melihat koreksi ini sebagai peluang membeli di harga rendah.
Menurut laporan terbaru dari Cryptopotato pada Sabtu (1/3), sekitar 110.000 ETH telah dibeli selama penurunan, dengan nilai hampir $240 juta (Rp 3,9 triliun).
Akumulasi ini dapat mengurangi pasokan yang beredar, yang berpotensi meningkatkan nilai Ethereum seiring waktu, asalkan permintaan tetap stabil atau meningkat.
Selain itu, tindakan investor besar ini dapat memicu efek domino di kalangan investor ritel yang mungkin mengikuti langkah mereka, menambah aliran modal baru ke ekosistem Ethereum.
Indikator RSI Menunjukkan Ethereum Oversold
Sementara itu, Indikator Relative Strength Index (RSI) Ethereum telah turun jauh di bawah angka 30, menandakan kondisi oversold yang dapat membuka peluang pemulihan harga.
Saat ini, RSI ETH berada di sekitar level 22, yang berarti aset ini mungkin telah mengalami tekanan jual yang berlebihan dan berpotensi mengalami rebound dalam waktu dekat.
Pergerakan harga Ethereum (ETH/USDT) pada Sabtu, 1 Maret 2025. Sumber: Tokocrypto.
Sebaliknya, jika RSI naik mendekati atau melebihi 70, itu bisa menjadi sinyal untuk potensi koreksi lebih lanjut.
Hanya saja, dengan RSI saat ini yang masih berada di level rendah, ada kemungkinan besar ETH mengalami pemulihan dalam waktu dekat.
Meski harga ETH saat ini masih dalam tekanan, beberapa analis pasar tetap optimis terhadap potensi kenaikannya.
Seorang analis kripto di X, Captain Faibik, memprediksi bahwa harga Ethereum masih bisa melonjak hingga $12.000 (Rp 198 juta) pada awal 2026.
Sementara itu, analis Crypto Beast memperkirakan akan ada lonjakan besar dalam beberapa bulan mendatang, meskipun mereka memperingatkan bahwa bull run ini mungkin hanya berlangsung selama 4 hingga 6 bulan.
Dengan faktor-faktor ini, Ethereum masih memiliki peluang untuk pulih dalam waktu dekat. Namun, seperti biasa dalam dunia kripto, investor harus tetap berhati-hati dan mempertimbangkan analisis pasar sebelum mengambil keputusan investasi.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Arizona semakin menegaskan posisinya sebagai pemimpin dalam adopsi cryptocurrency dengan kemajuan dua rancangan undang-undang Bitcoin di Senat negara bagian.
Langkah ini menjadikan Arizona semakin dekat untuk memiliki cadangan Bitcoin strategis, hanya tertinggal dari Utah dalam hal penerapan regulasi aset digital seperti dilaporkan oleh Ecoinimist pada Sabtu (1/3).
Rancangan Undang-Undang Strategis untuk BitcoinSenat Arizona telah meloloskan Strategic Digital Assets Reserve Bill (SB 1373) dalam pembacaan ketiga pada 27 Februari dengan suara 17-12.
RUU yang diusulkan oleh Senator Partai Republik, Mark Finchem, ini akan diajukan ke Dewan Perwakilan Rakyat negara bagian untuk pertimbangan lebih lanjut.
Jika disahkan, undang-undang ini akan membentuk Dana Cadangan Aset Digital Strategis yang dikelola oleh bendahara negara.
RUU ini membatasi investasi Bitcoin untuk mengurangi risiko keuangan, dengan batas maksimal 10% dari total dana yang dapat dialokasikan setiap tahun fiskal.
Selain itu, bendahara diperbolehkan untuk meminjamkan aset digital guna mendapatkan imbal hasil, selama tidak meningkatkan risiko keuangan bagi negara.
Fokus pada Cadangan Bitcoin
Selain SB 1373, ada juga Strategic Bitcoin Reserve Act (SB 1025) yang turut mendapat perhatian.
RUU ini, yang disponsori oleh Senator Wendy Rogers dan Perwakilan Jeff Weninger, lolos dalam pembacaan ketiga di Senat pada 27 Februari dengan suara 17-11.
Berbeda dengan SB 1373, RUU ini secara khusus akan memberi wewenang bagi dana publik untuk berinvestasi langsung dalam Bitcoin.
Dukungan terhadap RUU ini menunjukkan meningkatnya penerimaan cryptocurrency di tingkat negara bagian. Namun, tidak semua negara bagian mengikuti jejak Arizona.
Beberapa negara bagian lainnya seperti Montana, Wyoming, North Dakota, South Dakota, dan Pennsylvania telah menolak proposal serupa.
Hingga saat ini, sebanyak 18 negara bagian memiliki RUU cadangan kripto yang menunggu persetujuan Senat, tetapi hanya Arizona dan Utah yang telah mencapai tahap akhir.
Momentum Legislasi Kripto di AS
Kebijakan pro-Bitcoin Arizona sejalan dengan tren yang lebih luas di Amerika Serikat, di mana semakin banyak negara bagian yang mempertimbangkan regulasi cryptocurrency.
Beberapa analis menghubungkan tren ini dengan kebijakan pro-kripto dari mantan Presiden Donald Trump, yang meningkatkan minat politik terhadap aset digital.
Namun, meskipun ada kemajuan dalam regulasi, pasar Bitcoin masih menghadapi tantangan besar. Selama tujuh hari terakhir, harga Bitcoin turun hingga 17%, dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi dan kebijakan perdagangan yang diusulkan Trump.
Meski begitu, meningkatnya minat institusional terhadap cadangan Bitcoin menunjukkan bahwa aset digital dapat memainkan peran yang lebih besar dalam strategi keuangan negara bagian dan federal di masa depan.
Jika kedua RUU ini disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat, Arizona akan semakin memperkuat posisinya sebagai pelopor dalam adopsi Bitcoin di tingkat negara bagian.
Keberhasilan ini juga dapat menjadi contoh bagi negara bagian lain yang ingin mengintegrasikan aset digital ke dalam ekosistem keuangan mereka.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Oklahoma semakin maju dalam adopsi aset digital dengan disahkannya RUU Cadangan Strategis Bitcoin (HB 1203) atau “Strategic Bitcoin Reserve Act” oleh Komite Pengawasan Pemerintah pada 25 Februari 2025.
Cryptopanic dan Atlas21 menyebutkan bahwa RUU (Rancangan Undang-Undang) ini lolos dengan suara 12-2 dan kini akan dibahas lebih lanjut di Dewan Perwakilan untuk kemungkinan amandemen dan pemungutan suara.
RUU HB 1203 yang diperkenalkan oleh Perwakilan Cody Maynard memungkinkan Bendahara Negara Oklahoma (Negara bagian Amerika Serikat) untuk menginvestasikan hingga 10% dana publik dalam aset digital dengan kapitalisasi pasar lebih dari $500 miliar dalam setahun terakhir.
Bitcoin Tawarkan Keuntungan
Saat ini, Bitcoin menjadi satu-satunya aset yang memenuhi kriteria tersebut. Menurut Maynard, Bitcoin menawarkan kebebasan dari birokrasi yang menggerus daya beli melalui pencetakan uang.
“Bitcoin sebagai mata uang terdesentralisasi tidak dapat dimanipulasi oleh pemerintah dan merupakan bentuk penyimpanan nilai yang kuat bagi mereka yang percaya pada kebebasan finansial dan uang yang sehat,” ujar Maynard sebagaimana dikutip dari Cryptopanic pada Jumat (28/2).
Selain investasi dalam Bitcoin, RUU ini juga memungkinkan alokasi sebagian dana pensiun dan tabungan negara ke aset digital sebagai langkah lindung nilai terhadap inflasi.
Hal ini menunjukkan bahwa Oklahoma melihat potensi besar dalam Bitcoin sebagai aset strategis jangka panjang.
Percontohan Negara Bagian Lainnya
Berbeda dengan Oklahoma, beberapa negara bagian lain di AS seperti Montana, North Dakota, Pennsylvania, South Dakota, dan Wyoming telah menolak atau meninggalkan proposal serupa.
Namun, langkah Oklahoma ini dapat menjadi preseden bagi negara bagian lain untuk mempertimbangkan Bitcoin sebagai bagian dari strategi keuangan mereka.
Jika RUU HB 1203 berhasil disahkan di Dewan Perwakilan, Oklahoma akan menjadi salah satu negara bagian pertama di AS yang secara resmi memasukkan Bitcoin ke dalam cadangan strategisnya.
Hal ini bisa menjadi langkah signifikan dalam mengakui Bitcoin sebagai aset bernilai tinggi dalam sektor keuangan pemerintah.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.