The Merge Ethereum akhirnya resmi selesai pada Kamis (15/9) siang lalu. Peristiwa itu membawa Ethereum ke era baru yang bisa memberikan dampak besar bagi market kripto dan NFT, khususnya soal gas fees.
Salah satu hal yang paling ditanyakan dan ditunggu adalah apakah The Merge akan menjadikan minting NFT bisa dapat gas fees yang lebih murah di jaringan blockchain Ethereum?
Ethereum sendiri kini telah pindah ke mekanisme verifikasi Proof-of-Stake (PoS), yang disebut-sebut menggunakan energi setidaknya 99 persen lebih sedikit daripada blockchain yang beroperasi di bawah mekanisme konsensus Proof-of-Work (PoW).
Ada bukti kuat dari blockchain yang beroperasi di bawah model PoS, yakni Tezos yang memberikan gas fees yang lebih murah untuk minting NFT. Dengan pergeseran Ethereum ke model PoS yang lebih efisien, beberapa pengguna mengharapkan keuntungan efisiensi blockchain NFT untuk menurunkan gas fees yang harus dibayar seseorang untuk setiap transaksi di jaringan.
Sayangnya, bukan itu masalahnya. The Merge hanya mengubah mekanisme keseluruhan. Peristiwa itu tidak memperluas kapasitas jaringan, sehingga tidak akan ada penurunan gas fees yang signifikan.
Ini adalah salah satu kesalahpahaman paling populer tentang The Merge. Peristiwa migrasi jaringan Ethereum telah mengubah keseluruhan algoritma konsensus dan tidak memperluas kapasitas jaringan.
Namun, ada beberapa solusi penskalaan yang akan diterapkan pada tahap selanjutnya untuk mengatasi tantangan khusus ini.
NFT pertama di Ethereum setelah The Merge. Foto: thetransition.wtf.
Untuk membukti seberapa besar gas fees yang dikenakan pasca The Merge, seseorang telah melakukan minting NFT ketika 17 detik setelah peristiwa tersebut.
Dalam kasus khusus ini, seorang pengguna menghabiskan 36 ETH senilai sekitar US$ 60.000 (Rp 895 juta) dengan tarif saat ini untuk mencetak NFT pertama di jaringan Ethereum berbasis PoS.
NFT tersebut menampilkan maskot panda Ethereum dan merupakan bagian dari koleksi 100 buah di pasar NFT OpenSea. Koleksi NFT diberi nama “The Transition.”
Terlepas dari label Edisi, NFT menunjukkan detail tentang The Merge Ethereum, seperti stempel waktu, nomor blok, dan tingkat kesulitan.
Pengadilan Korea Selatan telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk CEO Terraform Labs, Do Kwon, setelah menjalani penyelidikan terhadap kasus runtuhnya ekosistem Terra. Perintah penangkapan ini baru bisa dikeluarkan empat bulan setelah runtuhnya Terra dan stablecoin-nya.
Dilaporkan Bloomberg, perkembangan terakhir, pihak berwenang Korea Selatan telah mengeluarkan surat perintah untuk Do Known, yang menunjukkan bahwa mereka berniat untuk menangkap pendiri Terra tersebut. Pengadilan di Seoul untuk mengeluarkan surat perintah yang sama untuk lima orang lainnya yang berkaitan dengan Do Kwon.
Surat perintah tersebut dikeluarkan oleh Tim Investigasi Gabungan Kantor Kejaksaan Distrik Selatan Seoul untuk Kejahatan Sekuritas Keuangan yang dipimpin oleh Dan Sung-han dan Divisi Investigasi Keuangan ke-2, dipimpin oleh kepala jaksa, Chae Hee-man.
CEO Terraform Labs, Do Kwon. Foto: Woohae Cho/Bloomberg via Getty Images.
Kwon saat ini diyakini tinggal di Singapura, sehingga ada kemungkinan penangkapannya akan melibatkan polisi internasional atau interpol. Laporan tersebut juga menyatakan bahwa surat perintah akan berlaku selama satu tahun, dan jaksa berharap dapat bekerja sama dengan Interpol untuk melakukan penangkapan.
Sampai saat ini, tampaknya otoritas keuangan Korea Selatan mengambil sikap hati-hati terhadap Terra dan eksekutifnya, tetapi penerbitan surat perintah penangkapan terbaru mengisyaratkan sikap yang terbalik.
Do Kwon memberikan wawancara pada pertengahan Agustus lalu, di mana dia mengeklaim penyelidik Korea Selatan yang menyelidiki kecelakaan Terra belum mencoba menghubunginya, meskipun ada laporan bahwa penyelidik telah menggerebek bursa kripto Korea Selatan saat menyelidiki Terra.
Dalam beberapa bulan sejak runtuhnya UST dan LUNA, Kwon meluncurkan rencana berani untuk membangun kembali ekosistem Terra dengan versi baru aset kripto aslinya yang dinamakan Terra Classic (LUNC).
Pembahasan Indonesia bisa menjadi salah satu negara crypto hub di dunia tengah ramai diperbincangkan, khususnya dalam acara Think-20 (T-20) Indonesia Summit 2022 yang digelar di Bali pada tanggal 4-6 September 2022.
T20 merupakan salah satu engagement groups dari G20 yang menjadi bank ide dan mengumpulkan rekomendasi dari para analis hingga pemikir. Salah satu Keynote Speakeryang hadir dalam acara tersebut, yakni Ketua MPR RI sekaligus Kepala Badan Hubungan Penegakan Hukum, Pertahanan dan Keamanan KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo.
Bamsoet menjelaskan potensi Indonesia menjadi hub kripto dunia, khususnya di wilayah Asia Tenggara. Menurutnya, agar perkembangan aset kripto bisa dimaksimalkan perlu dipersiapkan infrastruktur pengaturan dan pengawasan yang Komprehensif.
“Misalnya dengan menghadirkan Digital Future Exchange sebagai bursa kripto resmi. Langkah ini membutuhkan komitmen dari segenap pemangku kepentingan, khususnya Kementerian Perdagangan, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan, untuk duduk bersama dan merumuskan kerangka kebijakan yang komprehensif dan implementatif,” kata Bamsoet di Bali, Selasa (6/9).
Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo, menghadiri soft launching Tambang Digital Indonesia di Jakarta, Minggu (13/3/22).
Senada dengan Bamsoet, Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (ASPAKRINDO), Teguh Kurniawan Harmanda, juga meyakini potensi Indonesia dalam perkembangannya menjadi pusat inovasi kripto dan blockchian di kawasan Asia Tenggara. Menurutnya Indonesia sendiri punya regulasi dan pasar yang potensial untuk mendukung hal itu.
“Meningkatnya pengguna kripto yang sangat luar biasa dan memiliki potensi bisa mendorong pengelolaan industri yang lebih baik. Maka dari itu, perlu dukungan berbagai stakeholder untuk memajukan industri kripto di Tanah Air. Aset kripto ini memiliki potensi besar di ekosistem digital. Transaksi kripto juga sudah dikenakan pajak. Jika dilihat dari jumlah transaksi bisa diketahui berapa banyak kontribusi yang bisa diberikan kepada negara,” kata pria yang akrab disapa Manda.
Market Indonesia yang Potensial
Market Indonesia dilihat sebagai pasar yang potensial, terlebih sudah ada lebih dari15,57 juta investor kripto per Juli 2022. Nilai transaksi perdagangan aset kripto di Indonesia pun tercatat sebesar Rp 232,4 triliun di waktu yang sama. Potensi itu tentu akan dimanfaatkan oleh para perusahaan investor untuk menanamkan modalnya di developer kripto atau blockchain lokal.
Sementara dari hasil survei Finder Crypto Adoption yang dilakukan di 26 negara pada Agustus 2022 melaporkan bahwa kepemilikan aset kripto orang Indonesia mencapai 29,8 juta dengan persentase 16 persen. Angka tersebut lebih tinggi dari rata-rata global sebesar 15 persen.
“Secara angka investor kripto dalam negeri masih bisa terus tumbuh, walau diterpa crypto winter. Saat ini angkanya masih sekitar lebih dari 4% dari jumlah populasi sekitar 270 juta penduduk Indonesia. Penetrasi kripto bisa dioptimalkan mengedepankan inklusivitas,” jelas Manda.
Kemudian dari sisi bisnis industri aset kripto juga masih menjanjikan. Adanya aksi korporasi dari startup decacorn, GoTo yang mengakuisisi Calon Pedagangan Aset Kripto, membuktikan bahwa masih ada ruang untuk perkembang. Di samping itu, banyaknya project aset kripto lokal juga menjadi indikator eskalasi bisnis kripto di Indonesia, dari sisi talenta hingga teknologi.
Ilustrasi aset kripto.
Regulasi yang Komprehensif
Manda menjelaskan regulasi yang komperhensif dan tidak mengekang inovasi menjadi landasan bagi pelaku pasar industri kripto untuk mengembangakan bisnisnya, mencakup perdagangan fisik aset kripto, startup blockchain, Web3 dan lainnya. Terlebih potensi bisnis di dalam negeri masih menjanjikan.
“Keterbukaan pemerintah ini sangat baik untuk pertumbuhan industri kripto dan blockchain. Namun, perlu beberapa adjustment untuk memperkuat ketahanan industri menuju ke arah yang lebih transparan, efisien, dan efektif. Ke depannya, tentu memiliki visi menciptakan industri aset kripto yang sehat,” terangnya.
Dalam laporan Forex Suggest, Indonesia disebut terapkan tarif pajak kripto yang terendah, mengambil tempat kedua sebagai negara yang membebankan investor retail hanya 0,1% pajak capital gain atas keuntungan kripto. Transaksi kripto juga dikenakan pajak pertambahan nilai di Indonesia berdasarkan undang-undang baru ini.
Ilustrasi investasi aset kripto di Indonesia.
Industri aset kripto di Indonesia saat ini terus mengalami pertumbuhan, walaupun ada dampak yang signifikan dari situasi bear market yang banyak disebut sebagai crypto winter. Melihat situasi market yang sangat volatil ini, tentu diperlukan keputusan-keputusan yang rasional untuk tetap terus bertahan dalam memperkuat industri.
Dilihat secara global, adanya tren sejumlah exchanger yang mulai terguncang karena terdampak oleh kondisi pasar yang bearish. Saat ini terjadi sejumlah platform exchange kripto dengan skala kecil, rela diakuisisi oleh perusahaan kripto yang lebih besar. Di sisi lain, ada fenomena exchange kripto yang bisnisnya menyiratkan tanda-tanda akan kolaps.
“Maka dari itu, diperlukan penguatan regulasi yang tepat untuk membuat industri semakin sehat dan mampu bertahan dari situasi saat ini. Kami selalu mendukung semua stakeholder menciptakan iklim ekosistem yang sangat sehat, efisien, efektif,” pungkas Manda.
Market aset kripto harus terima kenyataan bahwa data inflasi AS berhasil membuat guncangan besar. Sejumlah kripto big cap, seperti Bitcoin, Ethereum, dan Solana jatuh nilainya dan terjebak zona merah dalm 24 jam terakhir.
Melansir CoinMarketCap pada Rabu (14/9) pukul 07.00 WIB, nilai Bitcoin (BTC) alami penurunan hingga 9,62% bertengger di US$ 20.185 dalam sehari terakhir. Ethereum (ETH) juga bernasib sama anjlok 7,81% dan berada di posisi US$ 1.576 di waktu yang sama. Altcoin lainnya pun juga tiarap, seperti XRP, Cardano (ADA), Solana (SOL), dan Dogecoin (DOGE).
Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, menjelaskan semua kelas aset kripto dan saham menyusut pasca laporan inflasi AS bulan Agustus yang menunjukkan peningkatan lebih dari yang diantisipasi. Data indeks harga konsumen (CPI) Agustus menunjukkan kenaikan harga 8,3% yang tak terduga tinggi dibandingkan ekspektasi untuk kenaikan 8,1%.
“Hal tersebut bisa menandakan bahwa The Fed kemungkinan akan menaikkan suku bunga lagi 0,75% minggu depan. Bitcoin langsung turun menjauh dari level harga US$ 21.000. Dan Ethereum juga tidak bisa menahan penurunan juga, padahal The Merge semakin dekat, tetapi tak bisa memompa harga lebih jauh. Jadi dalam jangka pendek, kripto akan rentan terhadap tekanan jual lebih lanjut,” kata Afid.
Angka inflasi AS akan mendapatkan sebagian besar perhatian di seluruh pasar. Angka inflasi yang lebih besar dari perkiraan dapat dipastikan akan membuat kenaikan suku bunga agresif selama pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) berikutnya.
Kapitalisasi pasar atau market cap kripto pun turun di bawah US$ 1 triliun setelah data inflasi AS yang mengecewakan. Padahal, menurut pelacak indeks kripto, Nomics, volume perdagangan krippto di semua bursa telah meningkat 62% menjadi US$ 739 miliar selama seminggu terakhir.
Aktivitas perdagangan kripto dalam dolar AS juga meningkat 20% menjadi US$ 134 miliar selama 24 jam sebelumnya. Peningkatan aktivitas sebagian disebabkan oleh para investor yang bersiap untuk peningkatan The Merge Ethereum akhir pekan ini.
Namun, data inflasi AS Agustus yang tinggi membuat semua berubah. Dalam empat jam terakhir, lebih dari US$ 329 juta posisi price in investor pada Bitcoin di pasar derivatif telah dilikuidasi dengan sekitar 75% dari itu berasal dari posisi BTC long versus short, menurut Coinglass.
Saham perusahaan yang memegang bitcoin di neraca mereka seperti Marathon Digital (MARA), Coinbase Global (COIN), Block (SQ) dan MicroStrategy (MSTR) telah jatuh dan semuanya menunjukkan kerugian antara 7% dan 12% pada penutupan perdagangan hari Selasa (13/9) lalu.
Bursa kripto atau Bursa Berjangka semakin dekat bakal hadir di Indonesia. Wakil Menteri Perdagangan, Jerry Sambuaga, bahkan menyatakan bursa kripto tersebut juga akan menjadi yang pertama di dunia.
Jerry menyatakan Indonesia akan memiliki bursa kripto yang ditargetkan bisa rampung dan terbentuk pada tahun ini. Hal tersebut dilakukan sebagai salah satu upaya pemerintah Indonesia menyikapi perkembangan perdagangan aset kripto yang tumbuh secara eksponensial.
“Keberadaan bursa ini sangat penting karena ada banyak hal yang bisa diantisipasi, misalnya pencucian uang, pendanaan yang tidak baik seperti untuk narkoba dan terorisme, dan perdagangan akan semakin tertib,” kata Jerry dikutip Antara, Rabu (14/9).
Bursa Kripto Pertama di Dunia
Wamendag menyebutkan jika bursa kripto di Indonesia tersebut bisa diwujudkan, maka akan menjadi bursa kripto pertama di dunia.
“Beberapa negara pun berminat membentuk bursa yang sama seperti Korea Selatan karena mereka juga melihat potensi, kesempatan dan peluang yang bisa dilakukan dengan keberadaan bursa tersebut,” katanya.
Tujuan utama dari pembentukan bursa sendiri salah satunya adalah memberikan perlindungan kepada konsumen. Selain itu juga untuk mengantisipasi berbagai tindakan perdagangan atau pendanaan yang berimplikasi negatif.
“Yang paling prioritas adalah perlindungan kepada konsumen. Bursa adalah instrumen untuk memberikan proteksi kepada konsumen,” ujar Jerry.
Dibentuk Hati-hati
Proses pembentukan bursa kripto, menurut Jerry, akan dilakukan secara hati-hati, tidak terburu-buru, dan memastikan seluruh tahapan dilalui dengan baik.
“Ada banyak persyaratan, prosedur, dan ketentuan yang harus dipenuhi untuk membentuk bursa kripto. Pemerintah memastikan seluruh tahapan itu dijalankan dengan baik sehingga nantinya bursa pun berjalan dengan baik sesuai tujuan yang diharapkan,” jelasnya.
Jerry kembali menegaskan bahwa di Indonesia, kripto bukan alat pembayaran tetapi masuk dalam kategori komoditas sehingga kewenangannya berada di bawah Kementerian Perdagangan. Berdasarkan data Bappebti, saat ini terdapat 383 jenis aset kripto yang diperdagangkan dengan 10 jenis aset di antaranya merupakan project aset kripto lokal dari Indonesia.
“Meskipun jumlahnya masih sedikit, tetapi ini berpotensi untuk terus berkembang dan bisa mendukung neraca perdagangan Indonesia dari produk digital,” katanya.
Jumlah investor kripto terdaftar hingga Juli 2022 mencapai 15,6 juta pelanggan dengan rata-rata kenaikan jumlah pelanggan terdaftar sebanyak 690.000 pelanggan per bulan. Jumlah tersebut meningkat pesat dibanding 2020 yang berkisar dua juta investor.
Indonesia hingga saat ini masih mengandalkan lima produk utama untuk neraca perdagangan yaitu dari CPO, batu bara, nikel, elektronik, dan kayu serta turunannya.
Sepanjang 2021, neraca perdagangan Indonesia mencapai 35,4 miliar dolar AS atau tertinggi sejak 2011, dan hingga pertengahan 2022 sudah mencapai 24,89 miliar dolar AS. Jumlah tersebut diperkirakan tumbuh baik hingga akhir tahun sehingga nilainya bisa melebihi tahun sebelumnya.
Terra Luna Classic sempat kembali mencuri perhatian karena termasuk ke dalam salah satu altcoin yang menguntungkan dalam beberapa hari terakhir. Namun, ternyata memasuki pekan ketiga September, LUNA dan LUNA Classic kembali anjlok.
Dikutip Decrypt, Terra telah kehilangan tenaga setelah lonjakan mendadak minggu lalu, tetapi harga LUNA dan LUNA Classic masih tergolong lebih baik, tidak terpuruk jauh. Terra LUNA turun akhir minggu lalu, karena versi token kripto yang di-reboot melonjak 247% pada awal hari Jumat (9/9).
Sebenarnya, token LUNA masih mengambil nilai besar selama seminggu terakhir, meski pendakian telah berhenti. Sekarang nilainya turun lebih dari sepertiga dari puncaknya baru-baru ini.
Dengan harga saat ini US$ 4,17 per koin, LUNA telah turun total 38% dari puncak Jumatnya sebesar US$ 6,72, per data dari CoinGecko.
Nilai tersebut adalah harga tertinggi yang berhasil dicapai untuk LUNA sejak 1 Juni lalu, tak lama setelah koin generasi kedua diluncurkan dan didistribusikan ke pemegang aset kripto LUNA sebelumnya, yang sejak itu berganti nama menjadi LUNA Classic (LUNC).
Meskipun itu adalah penurunan yang cukup besar, LUNA masih mempertahankan sedikit kenaikannya baru-baru ini. Itu masih naik 133% selama tujuh hari terakhir, lebih dari dua kali lipat dalam beberapa hari terakhir setelah menghabiskan berbulan-bulan melayang di sekitar US$ 2.
Altcoin Ekosistem Terra Turun
Menariknya, koin-koin lain di ekosistem Terra telah memetakan kemunculan dan penurunan serupa dalam beberapa hari terakhir. LUNC, misalnya, telah turun 43% sejak puncak akhir pekan lalu, dan turun 17% selama 24 jam terakhir dengan harga saat ini US$ 0,0003. Meski begitu, LUNA Classic tetap naik 33% dalam seminggu dan 242% selama 30 hari terakhir.
Sementara itu, TerraClassicUSD (USTC) —sebelumnya stablecoin yang dipatok dolar bernama UST— turun 10% hari ini dengan harga US$ 0,047, tetapi masih naik hampir 54% selama seminggu terakhir dan 61% selama 30 hari terakhir.
Kenaikan LUNC dalam beberapa minggu terakhir lebih bertahap daripada LUNA, dan telah terjadi di tengah inisiatif yang dipimpin oleh komunitas untuk membangun kembali ekosistem yang hancur.
Semua mata di ruang kripto kini tertuju pada The Merge Ethereum. Peristiwa ini penting bagi Bitcoiner dan semua orang. Lalu, seberapa penting Ethereum Merge ini?
Setelah bertahun-tahun tertunda, The Merge Ethereum sudah di depan mata. Peristiwa yang sebelumnya dikenal sebagai Ethereum 2.0 ini bisa terjadi, ketika mainnet Ethereum Proof-of-Work akan bergabung (merge) dengan Beacon Chain Proof-of-Stake yang kemungkinan bisa terjadi segera pada 15 September mendatang.
Apa Itu The Merge Ethereum?
Secara singkat, The Merge adalah langkah serius untuk mengatasi masalah skalabilitas, efisiensi, dan kecepatan transaksi. Dalam metode Proof-of-Stake, pihak yang berperan sebagai validator transaksi nantinya hanya perlu mengunci (stake) sejumlah token ETH untuk berkontribusi.
Ini jauh lebih efisien ketimbang harus menjalankan komputer dengan kartu grafis yang boros energi selama 24 jam nonstop untuk melakukan mining.
Ilustrasi The Merge Ethereum. Sumber: Getty Images.
Untuk memulai proses ini, Ethereum akan mengintegrasikan dua rantai blockchain independen yang ada di ekosistem miliknya: lapisan eksekusi yang masih PoW dan lapisan konsensus (Beacon Chain) yang sudah PoS. Maka, disebut merge (penggabungan) dua lapisan rantai dan sepenuhnya PoS.
Apa Itu Beacon Chain Ethereum?
Beacon Chain adalah jaringan independen yang memungkinkan chain PoS untuk bekerja secara bersamaan dengan chain PoW tanpa memengaruhi yang lain. Beacon Chain sudah berjalan sejak Desember 2020.
The Merge sendiri secara khusus akan mengacu pada saat Beacon Chain PoS beroperasi sepenuhnya menggantikan chain PoW sebagai mekanisme utama untuk konsensus dan validator.
Jika ingin dianalogikan bebas Ethereum Foundation sendiri menyebut peristiwa ini seperti:
“Bayangkan Ethereum adalah pesawat ruang angkasa yang tidak cukup siap untuk perjalanan antarbintang. Dengan Beacon Chain, komunitas memiliki membangun mesin baru dan lambung pesawat yang diperkeras. Setelah pengujian yang signifikan, sudah hampir waktunya untuk mengganti mesin baru dengan mesin lama di pertengahan penerbangan.”
The Merge akan membuat blockchain Ethereum sekitar 99% lebih hemat energi, dan akan mengatur panggung untuk peningkatan di masa mendatang yang membuatnya lebih cepat dan lebih terukur.
Secara teori, itu seharusnya luar biasa untuk Ethereum (baik jaringan maupun asetnya). Apakah harga ETH benar-benar meningkat setelah The Merge, atau tidak sesuatu hal yang sulit diprediksi.
Tetapi bagian yang paling menarik dari semua ini bagi saya adalah bagaimana hal itu akan mempengaruhi semua aset kripto dan blockchain lainnya. Seperti, tingkat hash jaringan Ethereum langsung turun ke nol, karena penambangan bukti kerja di Ethereum akan berakhir.
Itu mungkin memberi lebih banyak tekanan publik pada penggunaan energi Bitcoin yang besar, sesuatu yang diakui oleh para Bitcoiner, seperti Dan Held. Ini juga akan meninggalkan Bitcoin (tanpa Ethereum sebagai sesama pelaku) dalam pandangan regulator yang menargetkan blockchain Proof-of-Work yang intensif energi.
Ilustrasi aset kripto, Bitcoin dan Ethereum. Foto: Jaap Arriens | NurPhoto | Getty Images.
Ada implikasi potensial untuk altcoin lain, terutama yang disebut ‘pembunuh Ethereum’ seperti Solana, Cardano, Avalanche, dan Polkadot.
Mungkin banyak yang berharap bahwa The Merge Ethereum yang sukses akan bermanfaat bagi aset kripto Proof-of-Stake lainnya. Dan sejauh ini terbukti, banyak dari mereka mendapat peningkatan harga yang sehat dalam seminggu terakhir, mungkin sebagian berkat buzz The Merge.
Tetapi kebalikannya, juga mungkin terjadi: Banyak dari penantang Ethereum ini mengajukan diri mereka sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan daripada Ethereum. Setelah Ethereum menjalankan bukti kepemilikan, mereka kehilangan bagian dari proposisi nilainya.
Pertumbuhan industri aset kripto di Indonesia, saat ini tidak bisa lepas dari aspek legalitas. Kripto sendiri di Indonesia dinyatakan sebagai komoditi dan telah diatur dalam pengawasan Kementerian Perdagangan melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).
Ketua MPR RI sekaligus Kepala Badan Hubungan Penegakan Hukum, Pertahanan dan Keamanan KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo, mengatakan aspek legalitas ini menjadi faktor penting yang dapat mendorong pertumbuhan pasar kripto di Indonesia menjadi semakin meningkat.
“Fenomena tersebut menggambarkan bahwa aset kripto di Indonesia masih memiliki potensi untuk terus berkembang. Dengan jumlah penduduk sekitar 275 juta jiwa, serta didukung berbagai kebijakan pemerintah, antara lain pembuatan regulasi terkait transaksi aset kripto, misalnya terkait pajak, pencegahan/penindakan aksi pencucian uang, pengaturan ekosistem perdagangan kripto, dinilai mulai memberi rasa aman bagi konsumen,” kata Bamsoet dikutip dari keterangan resminya.
Bamsoet saat menjadi Keynote Speaker T-20 Indonesia Summit 2022 di Bali, Selasa (6/9), menjelaskan butuhkan komitmen dari segenap pemangku kepentingan, khususnya Kementerian Perdagangan, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan, untuk duduk bersama dan merumuskan kerangka kebijakan yang komprehensif dan implementatif.
Mantan Ketua Komisi III DPR RI bidang Hukum, HAM, dan Keamanan ini, juga menekankan bahwa fenomena kripto sebagai instrumen investasi serta alat transaksi di beberapa negara seperti El Salvador, Honduras, dan Guatemala, telah menghadirkan paradigma baru pada sektor keuangan.
“Antisipasi juga harus dilakukan agar perkembangan aset kripto bisa dimaksimalkan untuk meningkatkan kemakmuran warga dunia, bukan justru menjadi lahan pencucian uang atas transaksi narkoba, terorisme, maupun korupsi,” terangnya.
Transaksi Kripto Turun
Bamsoet mengungkap dari aspek nilai transaksi perdagangan aset kripto di Indonesia memang ada kecenderungan penurunan, khususnya sejak awal tahun 2022.
Nilai transaksi kripto Januari tercatat Rp 42,14 triliun, turun Rp 14,77 triliun dari periode Desember 2021. Bahkan pada Juni 2022, nilai transaksi kripto tercatat hanya Rp 20 triliun, turun 65,5 persen dibanding periode Juni 2021 sebesar Rp 58,06 triliun.
“Penyusutan tersebut antara lain disebabkan anjloknya nilai aset kripto dalam beberapa waktu terakhir yang juga dialami pasar kripto global yang saat ini masih mengalami tekanan. Saat ini kapitalisasi pasar aset kripto global turun di bawah 1 triliun dolar AS, terendah sejak Februari 2021,” tutur Bamsoet.
“Faktor lain yang juga memiliki andil, misalnya pengetatan kebijakan The Fed menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi, kebimbangan investor menentukan posisi masuk atau keluar, atau faktor pelemahan pasar saham AS.”
Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatatkan transaksi perdagangan aset kripto di Indonesia saat ini cukup menjanjikan. Meski begitu, jika dibanding tahun lalu memang ada penurunan.
Wakil Menteri Perdagangan, Jerry Sambuaga, kembali menyampaikan perdagangan aset kripto merupakan bagian dari ekonomi digital yang sedang berkembang di Indonesia. Konsep kripto dan blockchain nantinya akan memberikan dampak positif, serta pengaruh luas dan intensif dalam berbagai sektor.
“Aset kripto akan mengubah pola-pola pengaturan ekonomi perdagangan lama dari berbasis otoritas negara menjadi otoritas pasar dan komunitas. Maka dari itu, aset kripto harus teratur dan terlembaga, serta harus di bawah pengaturan negara,” kata Wamendag dalam keterangan resminya.
Kemendag mencatat pertumbuhan nilai transaksi perdagangan maupun jumlah pelanggan aset kripto di Indonesia sangat luar biasa. Pada 2021, keseluruhan nilai transaksi aset kripto telah menyentuh Rp859,4 triliun atau tumbuh sebesar 1,223 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Untuk periode Januari—Juli 2022, nilai transaksi yang terjadi sebesar Rp232,45. Sementara, jumlah pelanggan terdaftar hingga Juli 2022 mencapai 15,6 juta pelanggan dengan rata-rata kenaikan jumlah pelanggan terdaftar sebesar 693 ribu pelanggan per bulan.
Jerry menjelaskan, meskipun harga aset kripto sedang mengalami penurunan, namun tidak mengurangi minat masyarakat untuk berinvestasi pada instrumen ini. Fenomena penurunan harga ini juga merupakan hal yang wajar sebagai bagian dari suatu mekanisme pasar pada industri aset kripto.
Kuatkan Regulasi Aset Kripto
Bappebti terus memperkuat regulasi dan mengatur industri aset kripto dalam sejumlah peraturan agar menciptakan ekosistem perdagangan fisik aset kripto yang transparan, efisien, dan efektif dalam suasana persaingan yang sehat.
Ilustrasi aset kripto dan uang rupiah. Foto: Shutterstock.
Seperti diterbitkannya Peraturan Bappebti (Perba) Nomor 11 Tahun 2022 tentang Penetapan Daftar Aset Kripto yang Diperdagangkan di Pasar Fisik Aset Kripto. Peraturan ini merupakan pembaruan sekaligus mencabut Perba Nomor 7 Tahun 2020.
Pada Perba Nomor 7 Tahun 2020, terdapat 229 jenis aset kripto yang dapat diperdagangkan. Kemudian, dengan diterbitkannya Perba Nomor 11 Tahun 2022, maka jumlah tersebut meningkat menjadi 383 jenis.
“Perkembangan nilai transaksi maupun pelanggan aset kripto yang luar biasa ini perlu untuk terus dikawal bersama agar perdagangan fisik aset kripto di Indonesia tetap berada di koridor yang benar,” pungkas Wamendag.
Market aset kripto pada Senin (12/9) pagi tampak masih bergerak optimis. Harga Bitcoin dan beberapa aset kripto utama lainnya terpantau naik tipis ke zona hijau.
Melansir data CoinMarketCap pukul 09.00 WIB, nilai Bitcoin (BTC) naik tipis 1,07% ke US$ 21.806 dalam sehari terakhir. BTC kembali berhasil berada di atas level psikologisnya. Sementara, Ethereum (ETH) tampaknya sedang alami sedikit koreksi turun 1,23% ke US$ 1.741 di waktu yang sama.
Sejumlah altcoinlainnya, seperti nilai Solana (SOL) dan Polkadot (DOT) juga kompak naik lebih dari 1% dalam 24 jam terakhir. Apa yang terjadi pada pergerakan market pagi ini?
Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, menjelaskan kembalinya market kripto ke zona hijau pada awal pekan ini, mungkin disebabkan investor yang mulai optimis dengan market bisa membawa keuntungan dalam jangka pendek. Hal itu bisa dilihat dari indeks dolar AS (DXY) yang masih melemah Senin pagi ini berada di posisi 108,63 (-0,34%).
Kemudian, kabar kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa sebesar 75 basis poin justru membuat investor semangat masuk pasar, karena keyakinan mereka inflasi bisa segera turun di Benua Biru itu.
“Kabar dari industri, seperti FTX Ventures membeli 30% saham di SkyBridge Capital milik Anthony Scaramucci memberi secercah harapan baik di ekosistem kripto yang masih bergairah,” kata Afid.
Afid juga menjelaskan indeks saham AS juga menyebabkan market kripto melaju optimis. Terpantau, nilai trio indeks saham Amerika Serikat (AS) berkinerja baik pada sesi perdagangan Jumat (9/9). Nilai Dow Jones Industrial Average (DJIA) menguat 1,2%, sementara nilai S&P 500 dan Nasdaq masing-masing 1,5% dan 2,1%.
“Indeks saham AS perkasa berkat gerak lincah saham teknologi. Performa saham membuat kripto juga bergerak optimis dan seolah-olah mengabaikan rentetan komentar pejabat The Fed yang menekankan pentingnya kenaikan suku bunga acuan,” terangnya.
Antisipasi Sentimen Market Kripto
Ada pula sentimen yang bisa berdampak market pada pekan ini, menurut Afid adalah adanya antisipasi perilisan data inflasi AS Agustus pada Selasa (13/9) mendatang. Pasalnya, data itu akan memberikan sinyal terkait kebijakan moneter The Fed ke depan. “Dan biasanya data tersebut buat market gerak naik dan turun lebih cepat.”
Selain itu, penantian pembaruan jaringan Ethereum atau disebut The Merge, yang digadang akan meluncur pada 15 September mendatang. Dalam pembaruan tersebut, Ethereum berencana mengubah algoritma konsensusnya dari Proof-of-Stake menjadi Proof-of-Work dan digadang-gadang bisa menaikan harga ETH dan altcoin lainnya.
Analisis Gerak Bitcoin dan Ethereum
Dari segi analisis teknikalnya, Bitcoin berhasil breakout resistance pada level US$ 20.701. Target naik selanjutnya berada pada level US$ 22.370, jika pergerakan harga BTC berhasil menjaga laju bullish dan didukung aksi beli yang tinggi. Level US$ 20.527 menjadi support terdekat untuk menjaga penurunan apabila harga terkoreksi.
Sementara, Ethereum (ETH) sebagian besar lebih tinggi untuk memulai pekan, karena token melonjak melewati level resistensinya.
“Mirip dengan Bitcoin, tampaknya ETH juga melaju bullish terus menargetkan US$ 1.800, namun untuk menangkap titik ini, kekuatan harga perlu mengatasi hambatan yang akan datang, seperti kegagalan The Merge dan dampaknya,” pungkas Afid.