Category Archives: Tokocrypto

Tesla Beli Bitcoin US$1,5 Milyar

Perusahaan Tesla yang didirikan oleh Elon Musk akhirnya membeli Bitcoin (BTC) senilai US$1,5 milyar (setara Rp21 triliun). Harga Bitcoin langsung melejit ke lebih dari US$43 ribu (Rp603 juta), membentuk harga all time high (ATH) baru.

Keraguan publik terhadap Elon Musk soal Bitcoin kini terjawab sudah, perusahaan Tesla yang didirikan oleh Musk akhirnya memutuskan membeli Bitcoin senilai US$1,5 milyar.

Kabar itu tercantum pada laporan perusahaan publik itu kepada Komisi Bursa dan Sekuritas (SEC) Amerika Serikat yang diterbitkan hari ini.

Baca Juga: Kisah Inspiratif 2 TKO Angels Setelah Investasi di Tokocrypto

“Pada Januari 2021, kami memperbarui kebijakan investasi kami untuk memberi kami lebih banyak fleksibilitas untuk lebih mendiversifikasi dan memaksimalkan keuangan kami. Kami berinvestasi di Bitcoin senilai total US$1,5 milyar,” sebut perusahaan dalam dokumen itu.

Selain itu, Tesla berencana menerima Bitcoin sebagai bentuk pembayaran untuk produk perusahaannya dalam waktu dekat.

Elon Pendukung Bitcoin
Pada 1 Februari 2021, Elon Musk menegaskan bahwa dirinya adalah pendukung Bitcoin.

Elon Musk Pendiri dan CEO SpaceX tegas mengatakan bahwa dirinya adalah pendukung Bitcoin.

“Saya adalah pendukung bitcoin. Saya memang terlambat menyambutnya, tetapi saya adalah seorang pendukung. Saya pikir Bitcoin saat ini berada di ambang penerimaan luas oleh orang-orang di keuangan tradisional. Dan saya pikir Bitcoin adalah hal yang baik,” kata Musk di ruang obrolan Clubhouse , 1 Februari 2021, dilansir dari Forbes dan Reuters.

Musk juga mengatakan bahwa banyak orang mengajaknya masuk lebih dalam ke Bitcoin sejak tahun 2013, ketika harga Bitcoin masih di bawah US$100.

Pernyataan Musk menyusul penyematan tanda pagar #bitcoin di profil Twitter-nya pada 29 Januari 2021 lalu.

Setelah tagar itu,  tidak ada pernyataan terang benderang di Twitter-nya, apakah dia memang mendukung Bitcoin.

Baca Juga: Pengamat: Langkah Tesla Beli Bitcoin Akan Ditiru Perusahaan Lain

Heboh Tagar Bitcoin di Profil Twitter Elon Musk
Apapun polah kata Elon Musk di Twitter mampu membuat warganet gempar. Hari ini Elon Musk mengubah bagian profil akun Twitter-nya dengan tagar #Bitcoin. Ini sekaligus mengingatkan kita terkait akunnya yang pernah diretas pada tahun lalu.

Gara-gara tagar itu sontak dunia Twitter pun geger, khususnya para pecinta aset kripto nomor wahid itu.

Entah terkait itu atau tidak, harga Bitcoin kala itu pun langsung terkerek ke US$38 ribu pada pukul 16:30 WIB hari ini dari US$32 ribuan pada pukul 15:30 WIB.





Sumber : news.tokocrypto.com

Triliunan Dicetak AS, Bitcoin Jadi Lindung Nilai?

Pembuat kebijakan di seluruh dunia sedang mengucurkan sejumlah uang segar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk mencegah resesi yang akan datang, atau kemungkinan yang lebih buruk lagi, yaitu depresi ekonomi total.

Di Amerika Serikat, para Senat telah menyetujui paket stimulus sebesar $ 2 triliun pada akhir Maret lalu, dan sekarang Kongres sedang mengatur peninjauan proposal dari House Democrats untuk $ 3 triliun lainnya yang dimaksudkan untuk meringankan kebutuhan orang Amerika dalam menghadapi tingkat pengangguran yang meningkat hingga 15% .

Hal ini dilakukan the Fed sebagai tanggapan terhadap pandemi COVID-19. Federal Reserve sendiri telah melakukan gelombang pelonggaran kuantitatif yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.

Sebagai badan moneter yang bertanggung jawab untuk mengelola mata uang cadangan dunia, Fed menggunakan pelonggaran kuantitatif sebagai sarana untuk menanamkan perekonomian dengan likuiditas baru. Memiliki kontrol penuh atas pencetakan uang memungkinkan Fed untuk mencetak dolar sebanyak yang diinginkan, yang kemudian disuntikkan ke dalam sistem keuangan dengan membeli aset di pasar terbuka.

Jika melihat Resesi Hebat yang terjadi pada 2008 lalu, The Fed mengucurkan dana senilai lebih dari $ 1,2 triliun hanya dalam waktu empat bulan sebagai cara untuk memompa modal segar ke pasar. Namun, skala pelonggaran kuantitatif yang dilakukan setelah krisis COVID-19 mengerdilkan tindakan apa pun yang pernah terjadi sebelumnya, hal ini mengingat rencana The Fed yang tidak akan membatasi jumlah uang yang akan disuntikan ke dalam sistem.

Baca juga: Bitcoin Halving Telah Usai. Lalu Sekarang Apa?

Selama 2 setengah bulan terakhir, The Fed telah membeli aset senilai $ 2,8 triliun. Tidak seperti kejadian setelah tahun 2008 ketika badan pemerintah membatasi pembelian asetnya untuk mengamankan obligasi Treasury AS, kejadian kali ini mereka berkomitmen untuk membeli aset berisiko seperti obligasi korporasi dan kota juga.

Bitcoin sebagai Lindung Nilai?

Uang talangan dari AS ini diharapkan dapat membantu perusahaan publik dan mencegah pemegang saham kehilangan nilainya. Uang baru ini diperkirakan akan meningkatkan biaya aset, tetapi karena kebanyakan orang Amerika tidak memiliki aset, satu-satunya hasil yang akan mereka alami adalah melemahnya daya beli. Beni Hakak, CEO dari LiquidApps, melihat peluang bagi Bitcoin (BTC) untuk menjadikan dirinya sebagai penyimpan nilai:

“Krisis keuangan akibat pandemi COVID-19 adalah krisis pertama yang dialami Bitcoin sebagai kelas aset, dan beberapa orang memperkirakan Bitcoin itu mirip dengan emas, hal ini menyebabkan penurunan tajam dalam harga Bitcoin. Seiring ekonomi dunia yang mulai terbuka, Bitcoin lambat laun pulih dengan cukup baik, mengungguli S&P sejak posisi terendahnya masing-masing.

Dengan Halving Bitcoin yang telah terjadi baru-baru ini, sebuah peristiwa yang secara historis diikuti oleh kenaikan harga, akan lebih menarik untuk melihat apakah nantinya Bitcoin dapat diterima sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan penyimpan nilai.”

Baca juga: Perang Mata Uang dan Kebangkitan Bitcoin

Pelonggaran Kuantitatif vs Pengerasan Kuantitatif

Perbedaan pencetakan uang yang tampaknya tidak terbatas yang terjadi beriringan dengan halving Bitcoin baru-baru ini, sebuah peristiwa yang terjadi setiap empat tahun sekali dan mengurangi setengah jumlah dari Bitcoin baru. Pada orang-orang yang percaya pada crypto, hal ini adalah bukti lebih dari status Bitcoin sebagai “hard money dunia.” Kelangkaan Bitcoin ini menarik perhatian dari rata-rata investor dan pengguna yang khawatir tentang pencetakan uang dan potensi yang dimilikinya dalam menyebabkan inflasi yang tak terkendali.

Sementara sistem mungkin sedang “dipanaskan” dengan transparansi dan non-regulasi, Avi Rosten, seorang manajer produk di CryptoCompare, sebuah platform data dan penelitian crypto, mengatakan bahwa melalui pelacakannya ia menemukan banyak pasar yang berfluktuasi.

Terdapat sinya volume tinggi tetapi ragu-ragu, ketika hal tersebut terjadi tercatat fluktuasi besar pada pasar saham AS antara 12 Maret dan 13 Maret ketika CryptoCompare menghitung 11.000 perdagangan per detik. Rosten mengatakan semua orang menghindari aset berisiko pada dolar AS, kecuali Bitcoin. Ia juga menambahkan hal ini merupakan waktu yang optimal bagi Bitcoin untuk membuktikan nilainya sebagai aset karena semua mata sedang memandangnya:

“Kami melihat minat yang meningkat karena euforia terhadap halving Bitcoin, serta rekor volume pertukaran spot. Tinjauan Exchange pada bulan April, kami menemukan bahwa pada tangga 30 April 2020 lalu, terdapat volume spot tertinggi kedua dalam sejarah crypto.”

AS mungkin berada di pusat badai keuangan, tetapi itu tidak berarti ekonomi negara lain tidak merasakan gejolak. Langkah-langkah pelonggaran kuantitatif seperti yang baru-baru ini diusulkan hingga mencapai $ 3 triliun telah menyebabkan mata uang seperti real Brasil, peso Meksiko dan rand Afrika Selatan mengalami penurunan lebih dari 20% dalam nilai terhadap dolar sejak awal krisis pandemi ini.

Ketidakpastian setelah crash pertengahan Maret lalu juga mendorong Bitcoin menggantikan posisi yang secara historis diduduki oleh emas. Sementara pasar perlahan-lahan kembali pulih, banyak negara mengalami gelombang kedua krisis pandemi Covid-19, membuat jeda pada proses pemulihan.

Baca juga: Bitcoin, Alternatif di Tengah Krisis Ekonomi

Kembali pada Tahun 70-an?

Seperti yang terjadi di tahun 1973, terdapat krisis minyak yang mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh pasar global. Pemerintahan, terutama di AS, menempuh cara pencetakan uang sebagai langkah untuk merangsang pasar bekerja. Lalu, perhatian lambat laun bergeser pada komoditas langka seperti emas karena investor ingin melindungi nilainya terhadap risiko kenaikan inflasi.

Gambaran ketidakpastian cukup sesuai dengan kondisi saat ini, yang juga cocok dengan kondisi ekonomi tahun 1970-an. Tahun di mana AS mulai sepenuhnya mengabaikan standar emas, kemudian berakhir dengan tingkat inflasi tahunan 13,3% yang melumpuhkan negara itu, bahkan upah dan pertumbuhan ekonomi cenderung bergerak ke samping. Kombinasi pertumbuhan stagnan dan kenaikan inflasi, atau yang disebut “stagflasi” ini menjadikan emas pusat perhatian sebagai penyimpan nilai yang tahan inflasi.

Melangkah ke keadaan sekarang, saat mata uang fiat bertambah pasokannya seiring juga dengan halving Bitcoin yang terjadi baru-baru ini, terdapat kekhawatiran inflasi akan mulai muncul lagi di pasaran. Maka dari itu, aset yang terbukti langka akan dianggap memiliki posisi yang baik. Mati Greenspan, seorang analis dan pendiri Quantum Economics, percaya bahwa mengikuti arah dari pelonggaran kuantitatif skala besar ini, Bitcoin akan dapat mempertahankan nilai masa depannya karena pasokannya yang langka:

“Hal ini (Bitcoin) bertindak sebagai lindung nilai terhadap inflasi seperti emas dan perak. Jadi jika skenario pencetakan uang ini terjadi kemungkinan akan mendorong inflasi, sangat mungkin juga jika emas, perak, dan Bitcoin akan mempertahankan nilainya terhadap mata uang tersebut dan bertindak sebagai lindung nilai yang valid.”

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Terlambatkah Membeli Bitcoin? Analisis Ini Jawabannya

Banyak investor ritel awam yang merasa bahwa saat ini harga Bitcoin sudah terlalu tinggi. Hal ini disebabkan harga Bitcoin yang terus membentuk harga tertinggi baru dimana saat ini telah berhasil mencapai $36.800.

Akibatnya, banyak pihak yang ragu untuk membeli karena khawatir harganya akan turun setelah melakukan pembelian. Walau kemungkinan tersebut masih ada, analisis ini membuktikan bahwa tidak ada waktu yang terlambat untuk membeli Bitcoin.

Analisis Bitcoin Stock to Flow

Salah satu analisis yang dapat digunakan untuk melihat perkembangan harga Bitcoin ke depannya adalah analisis Stock to Flow. Analisis ini memperlihatkan perbandingan antara beberapa aset untuk menjadi cerminan prediksi.

Prediksi ini dapat menjadi jawaban untuk terlambat atau tidaknya pembelian Bitcoin akibat memprediksi potensi keuntungan di depan. Salah satu pihak yang telah membuat analisis dengan metode ini adalah Plan B.

Baca juga: Survey Bitcoin di Indonesia 2020: Ketertarikan tentang Bitcoin Meningkat

Plan B menggunakan analisis Stock to Flow untuk melihat perkembangan harga Bitcoin dengan membandingkan pergerakannya di masa lalu. Analis dari Plan B membandingkan pergerakan tahun 2012 hingga 2016, pergerakan 2016 hingga 2020, dan pergerakan 2020 hingga saat ini.

prediksi bitcoin

Dari analisis tersebut, terjadi penyamarataan skala dimana semua harga dibentuk untuk mencerminkan pergerakan harga saat ini. Dari analisis tersebut dapat dilihat bahwa jika bercermin pada pergerakan masa lalu, Bitcoin dapat menyentuh harga $100.000 dalam 3 hingga 8 bulan ke depan.

Sehingga analisis tersebut dapat menjawab bahwa tidak ada kata terlambat untuk investasi terutama terhadap Bitcoin. Hal ini disebabkan adanya potensi keuntungan yang cukup besar di waktu yang akan datang.

Metode Dollar Cost Averaging

Namun, agar investasi dilakukan secara aman, terdapat beberapa metode untuk menjaga dana investor, mengingat masih adanya potensi penurunan harga atau koreksi. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode Dollar Cost Averaging atau (DAC).

Metode ini sering digunakan oleh mayoritas perusahaan investasi dan pengelola dana. Hal ini disebabkan metode ini dapat memberikan keamanan dana terutama dalam investasi akibat bagian dari diversifikasi melalui waktu.

Baca juga: Tom Lee: Harga Bitcoin Bisa Lebih dari US$40 Ribu Pada Tahun Ini

Metode ini dilakukan dengan menginvestasikan sejumlah uang yang tetap dalam beberapa waktu yang berbeda. Hal ini dilakukan mayoritas investor besar untuk memitigasi risiko dari investasi akibat dari fluktuasi harga.

Sebagai contoh nyata, metode ini dapat digunakan dalam investasi Bitcoin dimana dapat terjadi averaging up atau averaging down. Averaging up dilakukan saat harga naik dimana investasi dilakukan bersama harga yang naik, sedangkan averaging down dilakukan saat harga turun.

Oleh karena itu dengan melakukan metode DAC ini, walaupun harga mengalami penurunan, rata-rata keuntungan di portfolio investasi menjadi tetap aman. Selain itu, keuntungan yang didapat saat harga naik adalah investor mendapat keuntungan saat harga naik dan tetap dapat melakukan investasi di harga yang lebih tinggi akibat tetap memiliki dana.

Tidak Ada Waktu Yang Tepat

Metode tersebut menjadi salah satu solusi untuk mempermudah investor memitigasi risiko dalam investasi. Namun, untuk menjawab pertanyaan apakah ada waktu yang tepat untuk melakukan investasi, mayoritas pasar percaya bahwa jawabannya tidak ada waktu yang tepat.

Baca juga: 6 Alasan Kenapa Kamu Harus Investasi Bitcoin di 2021

Hal ini disebabkan pasar keuangan yang akan selalu bergerak akibat fluktuasinya yang cukup tinggi, terutama saat ada sentimen besar. Sehingga walau banyak analisis yang dapat dilakukan, secara fakta tidak ada waktu yang tepat untuk memulai investasi kecuali sekarang.

Menurut mayoritas analis dan investor, pola pikir ini berlaku untuk investasi akibat jika terus menunda, tidak akan ada dorongan untuk memulai. Sehingga mengingat investasi juga dilakukan untuk jangka panjang, tidak ada waktu yang tepat akibat semakin lama berinvestasi akan semakin besar keuntungannya.

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

Pengamat: Apple Bisa Saja Juga Beli Bitcoin

Pengamat keuangan dari RCB Capital Markets mengatakan, bahwa perusahaan Apple bisa saja juga membeli Bitcoin. Pernyataan itu datang bersamaan dengan pembelian Bitcoin senilai US$1,5 milyar oleh Tesla.

“Apple bisa saja mempertimbangkan untuk membeli Bitcoin, sehingga aset itu menjadi bagian dari neraca keuangan perusahaan. Apple bisa juga memadukan layanan jual-beli Bitcoin di iPhone. Ini yang bisa meningkatkan harga Bitcoin,” kata Mitch Steves dari RCB Capital Markets, dilansir dari Bloomberg, (8/2/2021).

Baca Juga: Tesla Beli Bitcoin US$1,5 Milyar

Steves mengatakan, jika Apple membuat bursa aset kripto di iPhone, maka Apple berpotensi meraih pendapatan miliaran dolar.

“Dengan kekuatan research dan development terbatas saat ini, potensi pendapatan Apple bisa mencapai US$40 milyar secara tahunan,” tegas Steves.

Bitcoin US$1,5 Milyar
Kemarin Tesla mengumumkan bahwa telah membeli Bitcoin senilai US$1,5 milyar pada Januari 2021 lalu.

Tesla memang tak menyebutkan di rata-rata harga berapa mereka membeli Bitcoin. Namun, Anthony Pompliano kemarin memprakirakan Tesla membelinya harga satuan sekitar US$33 ribuan per BTC.

Catatan lain menyebutkan, bahwa Bitcoin bernilai jumbo itu menggunakan dana dari gross cash Tesla sebesar 7,7 persen.

Rumor bahwa Tesla pimpinan Elon Musk akan membeli Bitcoin mulai menyeruak sejak Desember 2020 lalu, ketika Michael Saylor CEO MicroStrategy “merayu” Elon untuk juga membeli Bitcoin.

Hingga pada 4 Februari 2021 lalu, sejumlah perwakilan Tesla turut hadir dalam konferensi “World Now 2021” besutan MicroStrategy. Dalam konferensi itu sejumlah materi terkait Bitcoin untuk perusahaan juga dipaparkan.

MicroStrategy memang terkenal sebagai perusahaan publik asal AS yang membeli Bitcoin dalam jumlah besar-besaran. Setelah pembelian terbaru senilai US$10 juta belum lama ini, kini perusahaan itu memiliki Bitcoin lebih dari 71 ribu BTC.

Baca Juga: Oscar Darmawan: Langkah Tesla Beli Bitcoin akan Diikuti Perusahaan Besar

Harga Bitcoin Menuju US$50 Ribu?
Kabar Tesla membeli Bitcoin praktis melejitkan harga Bitcoin hingga US$47.570 per BTC (Rp666 juta) pada pagi hari ini (9/2/2021). Itulah rekor tertinggi baru sepanjang masa, setelah 8 Januari 2021 lalu.

Sebelum kabar Tesla itu, Mike McGlone dari Bloomberg Intelligence meramalkan harga Bitcoin bisa mencapai kapitalisasi pasar hingga US$1 miliar. Itu bermakna harga satuan Bitcoin lebih dari US$50.000 (Rp700 juta).



Sumber : news.tokocrypto.com

Harga Bitcoin Diprediksi Melaju Hingga Rp700 Juta dalam 18 Bulan

Bitcoin diprediksi melaju ke US$20-50 ribu (Rp300-700 juta per BTC) dalam waktu 18 bulan, akibat sentimen akan datangnya gelombang inflasi, kata Simon Peters dari eToro. Itu yang kelak membuat Bitcoin lebih bersinar.

Penegasan lain datang dari para penghayat Bitcoin kelas dunia, seperti Tyler Winklevoss, Mike Novogratz dan Paul Tudor Jones.

Kendati saat ini adalah masa resesi, inflasi belumlah terjadi, kendati sejumlah bank sentral di seluruh dunia menggelontorkan lebih banyak uang lagi ke dalam pasar.

Inflasi bisa jadi tiba ketika pertumbuhan ekonomi mulai agak pulih dan uang-uang itu diserap kurang baik oleh pasar, bahkan ketika gelombang kredit macet di depan mata.

Saat itulah Bitcoin, dengan pasokan terbatasnya, akan menjadi incaran, kata beberapa pendukung Bitcoin paling terkenal, seperti Tyler Winklevoss, Mike Novogratz dan Paul Tudor Jones.

Argumen itu diletakkan pada Bitcoin Halving, sebuah mekanisme baku di blockchain Bitcoin yang memotong imbalan Bitcoin baru kepada para penambang. Bitcoin Halving III baru saja dimulai pada 12 Mei 2020 lalu, di mana imbalan kepada penambang berkurang dari 12,5 BTC menjadi 6,25 BTC per block.

Ketika bank sentral AS misalnya melakukan pelonggaran kuantitatif, maka Bitcoin melakukan hal sebaliknya, mengetatkan kuantitatif-nya. Kuantitatif dalam hal ini adalah jumlah unit nilai yang dikeluarkan dalam rentang waktu tertentu.

Neraca Bank Sentral AS misalnya telah membengkak menjadi lebih dari US$6 triliun, sebagai akibat dari pembelian surat utang negara dan sekuritas yang dijamin oleh pemerintah. Ini sama halnya dengan menambah pasokan uang ke dalam pasar, namun tidak dalam waktu bersamaan. Diperkirakan neraca itu semakin jumbo hingga 50 persen dari produk domestik bruto AS pada akhir tahun ini.

Hal senada juga dilakukan oleh Pemerintah AS melalui program stimulus lebih dari US$8 triliun untuk meredam tekanan hebat COVID-19.

Bitcoin Lindung Nilai terhadap Inflasi

Bitcoin mungkin secara kebetulan melaju di era resesi saat ini yang diakibatkan oleh pandemi COVID-19. Itu juga yang mendorong orang melihat kembali keunggulan Bitcoin dibandingkan aset-aset lainnya, seperti emas.

Namun, tidak sedikit juga yang menilai bahwa Bitcoin berfungsi dan bermanfaat serupa seperti emas, yaitu sebagai alat lindung nilai melawan inflasi.

“Negara-negara lain akan terpaksa terus menerus menerbitkan uang yang banyak ke dalam pasar. Di saat yang bersamaan, nilai uang-uang itu akan terkikis drastis terhadap dolar AS yang juga semakin jumbo jumlahnya. Bitcoin yang kian langka karena terbatas pasokannya tampaknya akan menjadi alat lindung nilai yang sempurna untuk melawan inflasi bagi investor institusi,” kata Jean-Marie Mognetti, CEO CoinShares.

Bitcoin Halving dimaksudkan untuk mencegah inflasi dengan bertindak untuk secara berkala memperlambat laju penciptaan Bitcoin baru hingga 2140, agar tidak melampaui permintaan. Sekarang, pada Bitcoin Halving III ini sampai tahun 2024, laju inflasi Bitcoin hanya 1,80 persen per tahun.

Paul Tudor Jones, Pendiri Tudor Investment Corp pada 12 Mei 2020 misalnya memastikan ia bertaruh cukup besar untuk membeli Bitcoin guna melawan inflasi yang akan datang.

“Saya menyaksikan adanya inflasi moneter besar, sebuah kenaikan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang pernah saya lihat,” kata Jones kala itu.

Menuju US$50 Ribu per BTC

Simon Peters, Analis Senior di eToro lebih yakin akan hal itu dengan sebuah prediksi. Dia mengatakan Bitcoin berpotensi naik di kisaran US$20-50 ribu per BTC dalam 18 bulan.

Kendati saat ini Bitcoin jauh di bawah US$19 ribuan per BTC (Desember 2017), terbukti tahun ini imbal hasilnya lebih baik daripada saham.

Bitcoin telah menjadi salah satu kelas aset berkinerja terbaik tahun ini, mengumpulkan sekitar 30 persen menjadi US$9.500. Sedangkan Indeks saham S&P 500 telah turun 11 persen.

Potensi Inflasi Uang Fiat

Sejumlah pandangan kian menguatkan akan datangnya inflasi terhadap uang fiat alias uang yang diterbitkan oleh negara. Hal itu diamini oleh Morgan Stanley pada April lalu, walaupun pada Maret 2020 inflasi di AS melambat tajam. Namun, bank besar itu berpendapat bisa jadi akan ada percepatan inflasi di masa akan datang.

Penegasan lainnya datang dari Deutsche Bank yang menjabarkan banyak kasus bahwa pandemi COVID-19 akan menyebabkan kembalinya inflasi di negara-negara maju. Masalahnya adalah kita tak pernah tahu kapan inflasi itu akan tiba dan banyak orang bersiap-siap membeli Bitcoin. [Bloomberg/red]



Sumber : news.tokocrypto.com

Jangan kaget, Elon Musk beberkan jumlah bitcoin yang dimilikinya

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Elon Musk menjadi salah satu tokoh di dunia teknologi yang cukup banyak tingkah dan eksentrik.

Sebut saja, mulai dari isap ganja di depan publik, berkicau ingin membuat Tesla menjadi perusahaan tertutup, hingga terakhir memberikan nama unik untuk putranya, yakni X Æ A-12.

Kicauannya Musk di Twitter memang kerap mencuri perhatian. Baru-baru ini, ia juga membeberkan jumlah bitcoin yang dimiliki. Musk memamerkannya saat menjawab kicauan penulis Harry Potter, J.K Rowling.

Baca Juga: Elon Musk Akhirnya Membuka Pandangannya Terhadap Bitcoin

Mulanya, Rowling menanyakan apa itu bitcoin kepada wargnet di Twitter. Respons pun berdatangan untuk menjawab pertanyaan Rowling.

Namun, penulis legendaris ini akhirnya menyerah memahami apa itu cyptocurrency. “Orang-orang menjelaskan apa itu Bitcoin, dan sejujurnya itu blah blah blah…”, tulis Rowling.

Elon Musk pun ikut nimbrung. Secara esensi, ia mengatakan bahwa Bitcoin lebih kokoh dibanding uang tunai. Apalagi melihat kebijakan beberapa bank pusat seperti Federal Reserve, bank sentral Eropa, atau bank sentral Jepang baru-baru ini yang menerbitkan lebih banyak uang untuk mencegah goncangan ekonomi.

Namun, pernyataan itu seakan bertolak belakang dengan jumlah bitcoin yang dimiliki Musk. “Ngomong-ngomong, saya cuma punya 0,25 Bitcoin,” tulisnya, melanjutkan twit sebelumnya.

Nilai itu sekitar US$ 2.500 atau sekitar Rp 37 juta saat berita ini ditulis. Jumlah itu jauh dari total kekayaan Musk yang dilaporkan mencapai US$ 40 miliar (sekitar Rp 595 triliun).

Balasan twit itu pun berdatangan. Salah satunya dari Tyler Winklevoss, CEO Gemini, salah satu perusahaan penukaran mata uang cryptocurrency di New York.

Baca Juga: Awal halving day, harga bitcoin masih bergerak wajar

“Lalu bagaimana kamu membayar untuk hidup di Mars,” responsnya terhadap twit Musk. Musk sendiri memang berambisi untuk menginisiasi kehidupan di planet Mars.

Dirangkum KompasTekno dari Decrypt, Selasa (19/5), Musk awalnya memang tertarik dengan cryptocurrency. (Wahyunanda Kusuma Pertiwi)



Sumber : news.tokocrypto.com

Selain Tesla, Ini Perusahaan yang Diperkirakan Akan Beli Bitcoin

Menyusul Tesla yang sudah membeli Bitcoin senilai US$1,5 milyar, rumor dan spekulasi soal perusahaan lain yang mungkin melakukan hal serupa, semakin menyeruak. Perusahaan mana saja?

Sebelumnya Apple disarankan juga membeli Bitcoin dan menyematkan fitur perdagangan aset kripto di Iphone.

Hal itu disampaikan oleh RBC Capital Markets dalam kajiannya, beberapa saat setelah Tesla mengumumkan pembelian Bitcoin itu.

Melalui surel yang diterima redaksi hari ini, Swan Bitcoin menyebutkan bahwa pembelian Bitcoin bernilai jumbo itu setara dengan 15 persen dari kas bersih perusahaan Tesla.

Lalu, penghayat Bitcoin yang juga penyiar di Russian Television (RT), Max Keiser mengklaim punya informasi yang dapat dipercaya bahwa Larry Ellison, pendiri perusahaan multinasional Oracle juga akan membeli Bitcoin.

Asal tahu saja, Larry Ellison adalah salah satu pemegang saham di perusahaan Tesla. Berdiri sejak tahun 1977, Oracle adalah salah perusahaan peranti lunak terbesar di dunia, dengan pendapatan pada tahun 2020 mencapai US$39,07 milyar.

Swan Bitcoin menyebutkan bahwa Oracle sendiri memiliki US$40 miliar dalam bentuk tunai di neraca mereka.

Rumor soal perusahaan lain yang menyusul Tesla untuk membeli Bitcoin adalah berdasarkan kajian dari Swan Bitcoin.

Salah seorang penasehat di Swan Bitcoin adalah Lyn Alden, peneliti keuangan terkait aset kripto yang cukup kritis terhadap Ethereum. Penasehat lainnya adalah Max Keiser.

Bagi Swan Bitcoin, pembelian Bitcoin oleh perusahaan-perusahaan besar amat besar maknanya, karena memberikan posisi Bitcoin secara signifikan sebagai aset bernilai.

Perusahaan pertama yang dispekulasikan adalah SpaceX, perusahaan yang didirikan dan dikendalikan oleh Elon Musk.

Perusahaan ini bukanlah perusahaan publik seperti Tesla, sehingga tidak diperlukan pengumuman secara formal kepada pemerintah, dalam hal ini adalah SEC di AS.

Kemudian ada Salesforce yang sejak beberapa tahun terakhir amat pro dengan teknologi blockchain.

Swan Bitcoin mengatakan perwilan dari perusahaan itu menghadiri konferensi Internasional oleh MicroStrategy pada 3-4 Februari 2021 lalu tentang cara membeli Bitcoin untuk perusahaan.

Baca Juga: Mengenal Makers dan Takers dalam Dunia Trading

Umpan Balik Positif
Michael Saylor
, CEO MicroStrategy, yang membeli Bitcoin senilai US$1,3 miliar pada tahun 2020. Dan sejak itu aktif mengkampanyekan perlunya perusahaan untuk membeli Bitcoin untuk menahan terjangan inflasi buruk di masa depan.

“Bitcoin adalah aset cadangan perbendaharaan tingkat investasi yang aman. Bitcoin adalah solusi untuk masalah penyimpanan nilai yang dihadapi oleh semua perusahaan dan pelanggan mereka,” kata Saylor.

“Orang yang memiliki Bitcoin (seperti Elon Musk dan Michael Saylor) memiliki insentif yang kuat untuk mempromosikan investasi mereka. Mengapa? Karena itu mendorong harga Bitcoin naik membuat investasi mereka lebih berharga,” sebut Swan Bitcoin.

Swan Bitcoin beralasan, perusahaan besar yang membeli Bitcoin bukanlah untuk berspekulasi.

“Pembeli institusional besar ini berpikir jangka panjang dan tidak membuat keputusan emosional. Mereka membeli untuk menahan, bukan untuk berspekulasi. Ini sangat bullish untuk Bitcoin secara jangka panjang,” sebut Swan Bitcoin.



Sumber : news.tokocrypto.com

Jumlah Perempuan pada Bidang Crypto dan Blockchain Meningkat Pesat di 2020

Kepercayaan luas mengatakan sektor cryptocurrency dan blockchain hampir secara eksklusif didominasi oleh laki-laki. Namun, sebuah laporan yang dirilis oleh CoinMarketCap pada 30 April 2020 lalu mengatakan sebaliknya. Menurut analis tersebut, jumlah perempuan di industri cryptocurrency meningkat 43,24% pada kuartal pertama 2020.

Berikut perincian faktor-faktor utama yang berkontribusi terhadap pertumbuhan rekor ini dan mengapa jumlahnya bervariasi dari satu daerah ke daerah lain.

Perempuan Berinvestasi Lebih Banyak dalam Bitcoin

Sebuah studi yang diterbitkan pada bulan Desember 2019 lalu oleh sebuah operator pendanaan Bitcoin (BTC), Grayscale menunjukkan 43% investor yang tertarik pada Bitcoin adalah perempuan – naik dari 13% dari tahun sebelumnya – dan jumlah ini terus bertumbuh dengan aktif hingga saat ini.

Ketika kondisi keuangan global semakin menyesakkan, banyak orang mulai berinvestasi dalam real estat, emas, dan mata uang digital. Dengan asumsi bahwa perempuan cenderung lebih pesimis daripada laki-laki tentang ekonomi global, kepercayaan mereka pada mata uang digital justru meningkat secara signifikan pada tahun 2020. Dengan demikian, banyak perempuan menemukan tempat yang aman dengan aset digital ini.

Berbeda dengan yang lain, cryptocurrency menjadi investasi yang menjanjikan. Pengusaha Blockchain Nisa Amoils menunjukan ada peluang investasi yang menarik dari pasar sebagai salah satu alasan utama di balik meningkatnya minat perempuan terhadap uang digital, seperti dilansir dari Cointelegraph, ia mengatakan:

“Perempuan bisa mendapatkan lebih banyak pendapatan melalui perdagangan, investasi, dan pengeluaran virtual dengan Bitcoin. Serta token economy dapat mendemokan akses ke modal melalui, misalnya, penawaran token keamanan.”

Banyak platform perdagangan telah melihat peningkatan permintaan cryptocurrency. Sebagai contoh, pada bulan Maret lalu, pertukaran mata uang digital Coinbase mencatat lonjakan simpanan yang dibuat oleh penduduk AS dalam jumlah $ 1200, ukuran yang sama persis dengan cek stimulus virus korona yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika Serikat.

Pada saat yang sama, Bitcoin telah berlipat ganda nilainya selama dua bulan terakhir, hal ini ditambah dengan peristiwa halving yang terakhir, yang telah menyebabkan kehebohan di seputar industri cryptocurrency. Di sini, perempuan sama kompetennya dengan laki-laki. Secara khusus, menurut Grayscale, 49,8% perempuan memperkirakan emisi terbatas Bitcoin akan mengarah pada pertumbuhan harganya di masa depan.

Baca juga: 43 Persen Perempuan di AS Tertarik dengan Bitcoin

Trading Crypto Bukan “Klub untuk Laki-laki”

Pertumbuhan harga Bitcoin serta daya tarik investasi uang digital secara umum telah berkontribusi pada peningkatan jumlah perempuan dalam pertukaran mata uang kripto ini. Misalnya saja, seperti yang dilansir Cointelegraph pertukaran cryptocurrency Bithumb Global melaporkan bahwa perusahaannya mengalami pertumbuhan 30% dalam jumlah pengguna perempuan pada tahun 2020. Wakil presidennya Vincent Poon menjelaskan perempuan saat ini menggunakan uang digital untuk lindung nilai dana mereka, meskipun tidak semua berdagang secara proaktif:

“Saya pikir perempuan biasanya kurang terlihat ketika dikaitkan dengan investasi Bitcoin karena mengacu pada bagian teknisnya dan volatilitas Bitcoin. Saya pikir mereka hanya mencoba untuk mendiversifikasi atau melindungi portofolio mereka dan mulai melihat Bitcoin sebagai investasi alternatif karena hilangnya kepercayaan mereka pada sekuritas atau ekonomi tradisional lain secara keseluruhan selama pandemi ini. Lebih banyak perempuan membuka akun tetapi belum mengikuti aktivitas berdagang. Mereka sedang dalam tahap menjelajah.”

Cointelegraph menemumkan jumlah pengguna perempuan telah bertumbuh antara 22% hingga 160% di sebagian besar pertukaran crypto teratas sejak awal tahun. Khususnya, pada pertukaran aset digital CEX.io dan EXMO yang melihat peningkatan yang sama dalam jumlah pengguna perempuan seperti pada Bithumb Global.

Alexander Kravets, CEO CEX.io, berbagi statistik terbaru, “Sebagai bagian dari basis pengguna kami secara keseluruhan, CEX.IO telah melihat pertumbuhan 26,86% dari segmen pengguna wanita dari Q1 ke Q2 2020.” Maria Stankevich, kepala pengembangan bisnis di EXMO, mengatakan kepada Cointelegraph bahwa pertumbuhan terbesar terjadi pada jumlah perempuan yang berusia antara 18-24 dan 35-44 tahun. Ia juga menambahkan:

“Kami memperhatikan terkadang anggota keluarga trader VIP lainnya mulai melakukan trading. Mungkin hal itu terkait juga dengan fakta, keinginan mereka dalam mendapatkan beberapa keterampilan baru.”

Baca Juga: Likuiditas Kunci Bagi Kemajuan Pasar Crypto

CoinCorner, pertukaran crypto yang berbasis di Inggris mengungkapkan pangsa perempuan di dalam pasar di antara penggunanya sekarang mencapai 14,7%, dengan peningkatan sebesar 47% dalam jumlah pendaftaran perempuan yang terjadi pada Kuartal Pertama 2020. Joanne Goldy, spesialis pemasaran di CoinCorner, memberikan komentar terkait hal tersebut, “Dalam lima tahun pertama di CoinCorner, kami melihat minat yang terbatas dari khalayak perempuan, tetapi pendaftaran perlahan terus naik dari 10% menjadi 14% selama periode tersebut.”

Sementara itu, OKCoin melaporkan gelombang masuk pengguna perempuan yang lebih tinggi pada layanannya. Hong Fang, CEO dari pertukaran tersebut, mengatakan bahwa ada peningkatan sekitar 80% dalam lalu lintas pengguna perempuan pada Kuartal Pertama 2020, dengan 50% dari pengguna perempuan ini menjadi pengguna baru jaringan. Dia menambahkan bahwa 40% dari mereka berusia sekitar 25 hingga 34 tahun.

Jika melihat peningkatan yang sangat, itu ada pada Bitfinex. Pertukaran tersebut berhasil mencatat rekor tingkat pertumbuhan pengguna perempuan baru mencapai 162% hanya sepanjang tahun ini saja. Joe Morgan, manajer hubungan masyarakat senior bursa, mengatakan

“Pertumbuhan ini jelas menunjukkan minat yang meningkat pada aset digital di kalangan perempuan. Alasan mengapa perempuan memilih untuk membuat akun pada platform Bitfinex, mungkin ini dapat dikaitkan dengan sifat bisnis yang beragam dan juga inklusif. ”

Cryptocurrency Menjadi Mudah Digunakan

Pengadopsian teknologi blockchain dan cryptocurrency yang lambat tetapi stabil juga dapat berkontribusi pada meningkatnya jumlah perempuan yang ingin terlibat langsung dengan inovasi ini dalam kehidupan sehari-hari mereka. Pada bulan Maret, platform keuangan 2gether mengungkapkan 23% pengguna aplikasi mereka adalah perempuan berusia antara 26 hingga 45 tahun dengan berbagai profesi misalnya akuntan, pengacara, dan ekonom. Seperti yang ditunjukkan dalam laporan, pengguna perempuan saat ini menggunakan cryptocurrency dengan cara yang sama seperti mereka menggunakan uang fiat.

Selain itu, Terra sebuah operator pembayaran crypto lainnya menunjukkan sebuah laporan bahwa 74% penggunanya adalah perempuan berusia akhir 30-an dan awal 40-an yang membayar dengan aset digital untuk misalnya pakaian, kopi, dan barang sehari-hari lainnya. Statistik juga menunjukkan, tidak hanya perempuan yang berusia milenial dan geek tetapi juga mereka yang tidak memiliki keahlian teknis atau pengetahuan dasar mulai menggunakan cryptocurrency.

Faktor Geografis

Data CoinMarketCap menunjukkan keterlibatan perempuan dalam industri kripto juga dapat bergantung pada faktor geografis. Sebagai contoh, jumlah pengguna cryptocurrency di AS dan Eropa, daerah yang tingkat permintaannya tinggi pada uang digital, meningkat sebesar 50% sejak awal tahun. Tren ini juga telah dibuktikan oleh statistik yang dirilis oleh 2gether, mengungkapkan bahwa perempuan Eropa yang menggunakan mata uang digital sebagian besar adalah kaum milenial dan Gen Xers yang berusia antara 26 hingga 45 tahun.

Pada saat yang sama, menurut CoinMarketCap beberapa negara menunjukkan peningkatan lebih dari 100% pada jumlah pengguna crypto perempuan. Di Eropa misalnya Yunani paling menonjol dengan rekor pertumbuhan hingga 163,67%. Nikolaos Kostopoulos, petugas adopsi pasar dan kemitraan di Harmony, mencatat faktor ekonomi dan tenaga kerja sebagai alasan utama di balik meningkatnya jumlah perempuan di pasar crypto Yunani, mengatakan:

“Ekonomi Yunani menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang stabil (pasca krisis pandemi), sementara pasar lowongan kerja juga berkembang. Gelombang baru profesional muda ini secara aktif mencari media-media yang dapat mengidentifikasi sebuah investasi alternatif. […] Demikian pula, blockchain adalah salah satu bidang dengan permintaan tinggi, selaras juga dengan perusahaan konsultan dan TI. Industri TI Yunani juga mengalami kenaikan jumlah perempuan yang aktif bergabung, dengan tren yang juga sama pada institusi di bidang teknik.”

Untuk jumlah perempuan-perempuan yang sudah bergabung pada ruang crypto, ada Rumania dengan 125,09% yang menyusul Yunani, diikuti juga oleh Portugal dengan 89,95%, Ukraina dengan 86,68% dan Republik Ceko dengan 85,6%. Di beberapa negara ini, pertumbuhan dapat dikaitkan dengan faktor ekonomi seperti produk domestik bruto yang rendah dan tingkat pengangguran yang tinggi, sementara pembangunan aktif di sektor IT juga merupakan pendorong utama pada negara-negara lain.

Alyona Karpinskaya, CEO dan pendiri agensi hubungan masyarakat PR-Blockchain yang berbasis di Ukraina menyatakan adanya peningkatan tajam dalam minat pengguna perempuan di Ukraina dalam cryptocurrency dapat dikaitkan dengan peningkatan jumlah perusahaan IT dan perempuan yang berlatar belakang pendidikan teknologi di negara tersebut. “Menurut data tahun 2019, jumlah perempuan yang bekerja di sektor TI Ukraina meningkat sebesar 62% dibandingkan dengan 2017,” ujarnya. Ia juga menambahkan, krisis finansial global juga bisa menjadi kontribusi terhadap arus ini.

“Karena pandemi COVID-19 dan karantina global, lebih dari 53% perusahaan IT Ukraina kehilangan pelanggan, yang akan menyebabkan kerugian finansial yang signifikan dan kebutuhan spesialis untuk mencari peluang keuangan alternatif.”

Dalam hal pengguna crypto perempuan-perempuan di negara-negara Asia, seperti Indonesia menunjukkan kemajuan terbesar, dengan peningkatan 88,92% dalam jumlah pengguna perempuan yang tertarik pada uang digital. Lalu di Korea Selatan, negara yang membuat langkah besar menuju legalisasi kripto, pengguna perempuan pada tahun 2020 dilaporkan menghabiskan lebih banyak crypto untuk berbelanja daripada penggunaan sebelumnya.

Baca juga: 9 Negara ini Menunjukkan Tingkat Minat yang Besar pada Cryptocurrency

Sementara itu, di Amerika Latin, Argentina tampaknya menjadi negara yang membuat langkah terbesar dalam keterlibatan perempuan di industri teknologi digital ini, dengan peningkatan sebesar 98% dalam jumlah pemegang cryptocurrency perempuan. Walter Salama, pendiri dan kepala operasi perusahaan pertambangan BitPatagonia yang berbasis di Argentina, mencatat semakin banyak perempuan Argentina yang terlibat dalam sektor TI sebagai salah satu alasan di balik lonjakan ini:

“Argentina berada di posisi yang luar biasa mengenai kewirausahaan di dunia dan juga rasio unicorn berdasarkan negara. Perempuan dari generasi ini (yang berusia 65+) menjadi pemimpin di banyak bdiang usaha. (…) Terkait dengan ekosistem Blockchain dan Cryptocurrency, di Argentina sendiri ada banyak perempuan yang berinvestasi dalam proyek dan pengadopsian awal Bitcoin. “

Dua negara Amerika Latin lainnya menunjukkan peningkatan terbesar terkait jumlah pengguna perempuan di industri crypto adalah Kolombia dengan 82,03% dan Venezuela dengan 80,23%. Alasan di balik pertumbuhan ini kemungkinan adalah inflasi tinggi, pembatasan transaksi valuta asing dan kurangnya kepercayaan masyarakat lokal terhadap mata uang nasional.

Pada saat yang sama, Afrika dan Cina menunjukkan tren negatif terkait jumlah perempuan yang tertarik pada cryptocurrency, catatan terakhir melaporkan adanya penurunan yang signifikan dalam tingkat pertumbuhan pengguna perempuan pada tahun 2020. Analis menghubungkan hal ini dengan pandemi virus corona dan sikap negatif pemerintah Tiongkok terhadap uang digital.

Contoh Sukses Perempuan dan Kesetaraan Gender

Di dunia cryptocurrency, ada lebih banyak perempuan yang tidak hanya trading menggunakan uang digital tetapi juga memasuki peran yang secara tradisional didominasi oleh laki-laki, misalnya menjadi seorang analis, pengembang dan pemimpin perusahaan. Pada saat yang sama, statistik menunjukkan perusahaan-perusahaan blockchain yang didirikan oleh perempuan dapat bersaing secara handal dengan yang dijalankan oleh laki-laki.

Perusahaan crypto besar seperti Bancor dan Binance adalah contoh nyata akan hal ini. Perusahaan-perusahaan ini sebelumnya didirikan oleh Galia Benartzi dan keduanya memiliki lebih dari 40% hingga 50% karyawan perempuan. Pertukaran crypto lainnya, Huobi yang memiliki lebih dari 1.300 karyawan, menunjuk Ciara Sun sebagai eksekutif wanita pertama perusahaan.

Semakin banyak perwakilan perempuan datang ke pasar crypto mengikuti contoh sukses perempuan lainnya, menurut Hong Fang dari OKCoin. Dia berkata: “Kami melihat lebih banyak pendiri startup dan pemimpin perempuan memasuki industri crypto. Tentu ini berdampak positif untuk menarik lebih banyak pengguna perempuan pada platform crypto. ”

Semakin banyak peserta dan pembicara perempuan di konferensi crypto adalah bukti nyata akan hal ini. Christophe Ozcan, penyelenggara KTT Blockchain Paris, mengatakan jumlah wanita yang berpartisipasi dalam konferensi meningkat dua kali lipat selama setahun terakhir:

“Kami telah menunjukkan pada acara kami sebelumnya di Paris Blockchain Summit peserta perempuan tumbuh sebesar 56% dan 22% lainnya sebagai Pembicara. Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan edisi pertama kami pada 2018.”

Ozcan juga menambahkan, usia rata-rata peserta perempuan ada dikisaran 33 tahun, hal ini berarti peserta yang lebih dewasa lebih tertarik pada cryptocurrency. Tren ini juga dikonfirmasi oleh Eman Pulis, CEO Malta AI & Blockchain Summit, yang mencatat tingkat ketidaksetaraan jender yang rendah di sektor cryptocurrency: “Partisipasi perempuan pada semua tingkatan pada Emerging Tech membuat berita yang sangat menggembirakan, baik dalam hal kuantitas dan kualitas, delegasi yang terlibat dan para pembicara memberi sebuah pencerahan (terkait hal ini).”

Alyona Karpinskaya setuju, berkurangnya diskriminasi gender juga merupakan faktor pendorong pertumbuhan jumlah perempuan yang terlibat dalam kegiatan mata uang kripto. Oleh karena itu, tahun 2020 ini tampaknya dapat menjadi tahun untuk pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender lebih dari tahun-tahun sebelumnya. Jarred Thomas, manajer operasi di pertukaran cryptocurrency OKEx, membagikan pendapatnya:

“Selama beberapa tahun terakhir, lebih banyak perempuan melangkah di ruang crypto. Terlebih lagi, mereka menunjukkan keunikan, kreativitas, dan kepemimpinan mereka dalam crypto melalui kontribusi luar biasa mereka kepada industri ini.”

Namun, pertanyaannya tetap untuk menggambarkan semua ini adalah Akankah perempuan yang baru saja memasuki pasar cryptocurrency secara efektif ikut berpartisipasi pada ruang ini? Hsin-Ju Chuang dari Dystopia Labs mendidik orang-orang mengenai blockchain, menjelaskan alasan mengapa lonjakan jumlah perempuan di industri ini tidak selalu berarti mereka akan menjadi pengguna kripto profesional. Chuang juga mencatat pentingnya pemberian pengetahuan lebih lanjut mengenai hal-hal terkait:

“Sekarang ada lebih banyak perempuan pada puncak menara, apakah sebuah organisasi pendidikan mampu (dan secara aktif berusaha) menjangkau mereka, mendidik, dan membawa mereka lebih dalam ke angkasa? Atau bisa dikatakan mengubah mereka dari yang hanya spekulan menjadi peserta jaringan yang aktif? “

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

JPMorgan: Beli Bitcoin Guna Imbangi Nilai Aset Lain

Perusahaan raksasa keuangan asal AS, JP Morgan, menyarankan para nasabahnya untuk membeli Bitcoin guna melindungi nilai aset lain.

Ahli strategi di JPMorgan menyarankan alokasi portofolio sebesar 1 persen dalam Bitcoin. Bitcoin sebanyak itu dapat berlaku sebagai perlindungan terhadap fluktuasi kelas aset tradisional seperti saham, obligasi dan komoditas.

Alokasi dalam persentase rendah disarankan untuk meredam risiko penurunan besar-besaran yang sering dialami Bitcoin.

Baca Juga: Mengenal SFP, Inovasi Baru dari Safepal

Ase kripto itu memang telah longsor 20 persen sejak titik tertinggi US$58 ribu pada 21 Februari 2021 lalu, tetapi masih naik 60 persen sejak awal tahun.

Dilansir dari Bloomberg, ahli strategi JPM Joyce Chang dan Amy Ho dalam catatannya kepada klien, menyatakan bahwa dalam portofolio multi-aset, investor dapat menambahkan alokasi hingga 1 persen dalam Bitcoin, demi mencapai keuntungan efisiensi terhadap imbal hasil disesuaikan risiko portofolio tersebut.

Saran itu menyusul investasi besar-besaran Bitcoin yang dilakukan Paul Tudor Jones, Stan Druckenmiller, Tesla dan MicroStrategy.

JPMorgan menambahkan bahwa Bank of New York Mellon Corporation telah mengumumkan rencana untuk menyimpan, mentransfer dan menerbitkan aset digital tersebut bagi nasabahnya.

Ini yang menunjukkan apresiasi besar terhadap Bitcoin oleh pelaku pasar tradisional.

Baca Juga: Sosok di Balik ADA, Charles Hoskinson

Analis JPMorgan menambahkan, aset kripto harus diperlakukan sebagai instrumen investasi dan bukan alat pembayaran seperti dolar AS atau yen Jepang.

Pernyataan itu bertolak belakang dengan komentar oleh ahli strategi lain pada awal bulan yang mengklaim bahwa Bitcoin merupakan alat yang buruk untuk melindungi terhadap penurunan harga saham.

Berbicara kepada CNBC pada 17 Februari 2021, Cathie Wood dari Ark Investment Management mengatakan, jika semua perusahaan menanamkan 10 persen cadangan kasnya ke Bitcoin, hal tersebut akan menambah harga BTC sebesar US$200 ribu (lebih dari Rp1 milyar).

Pembelian aset kripto, seperti Bitcoin semakin tumbuh di tahun 2021, dan bukan hanya institusi yang menimbun.

Perusahaan perdagangan Robinhood melaporkan 6 juta pengguna baru membeli aset kripto melalui platform tersebut dalam dua bulan pertama tahun ini.

Angka tersebut melampaui angka tahun lalu, mengindikasikan momentum bullish dari sektor ritel masih kuat, kendati terjadi koreksi akhir-akhir ini.

Saat ini, BTC turun 9 persen dalam kurun waktu 24 jam di harga US$45.400. Sedangkan dalam rupiah di Indonesia, berkisar 670 juta per BTC.



Sumber : news.tokocrypto.com

Belum melonjak signifikan di awal halving day, Bitcoin bisa diburu mulai sekarang

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sepekan sudah memasuki periode halving day, pergerakan harga bitcoin cenderung stabil dan belum menunjukkan lonjakan signifikan. Meskipun begitu, awal Kamis 7 Mei 2020 harga bitcoin sempat menyentuh level harga di US$ 10.000 per btc.

Christopher Tahir Co-founder CryptoWatch mengatakan, pergerakan harga bitcoin sepekan terakhir masih bergerak wajar. Hal ini karena kondisi pelaku pasar yang masih menganut buy on rumour, sell on news.

“Artinya, orang-orang cenderung akan membeli (bicoin) sebelum halving day dan melakukan aksi pasca-halving,” ujar Chris kepada Kontan.co.id, Minggu (17/5).

Baca Juga: Tokocrypto, Pedagang Aset Kripto Pertama yang Teregulasi di Indonesia, Berhasil Raih Pendanaan dari Binance

Chris memprediksi pergerakan bitcoin akan cenderung mengalami akumulasi yang panjang sebelum adanya potensi kenaikan di 2021. Bahkan, di tahun depan dia menilai pergerakan harga bitcoin sangat memungkinkan untuk menyentuh level US$ 100.000 per btc, dengan catatan percepatan kenaikan hanya sepertiga dari level sebelumnya.

Adapun untuk tahun ini, harga bitcoin diperkirakan tidak akan bergerak terlalu jauh dengan target akhir tahun berada di level US$ 20.000 per btc. Christopher mengungkapkan bahwa level tersebut setara dengan level tertinggi yang pernah dicapai akhir 2017 lalu.

Tahun ini kondisi ekonomi global tengah terancam krisis. Pemicunya adalah penyebaran virus corona atau Covid-19. Dampak dari sentimen tersebut juga membuat banyaknya usaha mikro kecil menengah (UMKM) tutup, angka pengangguran meningkat.

Baca Juga: Meski trennya naik, bitcoin belum layak jadi safe haven

“Meskipun begitu, peluang inflow ke bitcoin semakin terbuka, karena bitcoin saat ini sudah dianggap sebagai salah satu kendaraan investasi,” jelasnya.

Dengan begitu, Chris merekomendasikan pelaku pasar untuk mulai berburu bitcoin dengann akumulasi beli dan menambah porsi portofolio bitcoin. Caranya, bisa masuk dengan metode dollar cost averaging alias beli cicil.

“Sehingga, apabila mengikuti pola sebelumnya dimana harga naik di tahun setelah tahun halving, maka posisi yang dibeli tahun ini bisa menjadi posisi yang menguntungkan,” imbuh Chris.

Baca Juga: Tren harga naik, bitcoin belum layak jadi safe haven

Chris memperhitungkan, untuk jangka yang lebih panjang momentum halving day memungkinkan untuk mendorong harga bitcoin naik ke level US$ 107,883 per btc atau sebanyak 2.935%. Sebagai informasi, sepanjang Mei 2020 harga bitcoin sudah menanjak sebanyak 10,02% dari level US$ 8.624 per btc pada 30 April menjadi US$ 9.488 per btc. Sedangkan dalam sepakan terakhir, kenaikan harga bitcoin tercatat sebanyak10,31% dari level 11 Mei yakni US$ 8.601 per btc.



Sumber : news.tokocrypto.com