Rumor dan spekulasi seputar persetujuan ETF Spot XRP di Amerika Serikat makin hangat seiring berjalannya kasus hukum antara Ripple Labs dan SEC.
Berdasarkan laporan terbaru dari Coinpedia pada Selasa (17/6), terdapat beberapa poin penting yang perlu digarisbawahi:
Baik Ripple maupun SEC meminta penangguhan proses banding di Second Circuit Court hingga adanya keputusan dari pengadilan distrik.
Kedua pihak mengajukan laporan status berikutnya pada 15Agustus 2025, setelah perundingan terkait pengurangan denda dan pelonggaran larangan penjualan XRP oleh institusi.
Ini berarti potensi persetujuan ETF, seperti yang diajukan oleh Franklin Templeton, BlackRock, dan lainnya, kemungkinan akan tertunda sampai konteks hukum bagi XRP lebih jelas.
Awalnya Ripple dijatuhi denda $125 juta, dengan larangan penjualan XRP ke institusi.
Kini, ada rencana penyelesaian baru berupa pengurangan denda menjadi $50 juta dan pengembalian sisa $75 juta ke Ripple, serta pencabutan larangan penjualan institusional.
Pengajuan koran akan menjelaskan bahwa permintaan ini adalah respons terhadap kebutuhan “exceptional circumstances” yang diminta oleh hakim Torres pada Mei 2025.
Dampak Jangka Pendek terhadap XRP & ETF
Hasilnya, pengajuan ETF spot XRP di AS hampir pasti akan ditunda, termasuk aplikasi Franklin Templeton pada 17 Juni.
Praktisi ETF seperti Nate Geraci mengindikasikan bahwa BlackRock dan lainnya kemungkinan akan mengajukan setelah kasus hukum selesai, mirip pola yang dilakukan oleh pelaku spot Bitcoin dan Ethereum.
Menurut Polymarket, probabilitas persetujuan ETF XRP tahun ini masih tinggi (~88%) — namun struktur waktu bergantung pada tanggal hukum di Agustus .
Sukses di Kanada: Little But Loud
Di tengah penundaan di AS, ada kabar baik dari Kanada:
Purpose Investments mendapat lampu hijau final untuk meluncurkan spot XRP ETF di Toronto Stock Exchange pada 18 Juni, dengan ticker XRPP (CAD, CAD-hedged) dan XRPP.U (USD).
Ini merupakan rintisan sukses penting: memungkinkan investor Kanada memiliki akses ETF XRP secara langsung, meski pasar AS masih terkunci oleh regulasi.
Prospeknya ke Depan
Pergerakan harga XRP (XRP/USDT) pada Selasa, 17 Juni 2025. Sumber: Tokocrypto.
Agustus 2025 menjadi tanggal penting: keputusan final pengadilan distrik akan membuka jalan baik untuk settlement maupun memulai kembali proses banding di Second Circuit.
ETF Spot di AS kemungkinan baru berjalan setelah November–Desember, mengingat SEC biasanya menggunakan periode maksimum 45 hari setelah pengajuan untuk review akhir.
Di Kanada, dana ETF XRP akan mulai diperdagangkan dan dianggap sebagai langkah strategis sebelum gelombang institusi global benar-benar turun.
Apa Yang Harus Dipantau Investor?
Timeline hukum: laporan terakhir dijadwalkan rilis pada 15 Agustus 2025.
Pergerakan harga XRP: jelang Agustus bisa volatil, terutama jika ada bocoran atau perkembangan kasus/resolusi.
Peluncuran ETF Kanada: bisa menjadi benchmark pengaruh jika fungsi likuiditas dan volume menarik bagi investor institusi.
Rencana pengajuan di AS oleh BlackRock & Franklin Templeton: kapan mereka akan submit setelah clear legal.
Kasus hukum Ripple dan SEC sekarang sedang menempatkan proses ETF XRP di Amerika Serikat dalam masa tunda, dengan penantian berakhir pada pertengahan Agustus 2025.
Namun, pasar Kanada telah membuka jalur alternatif yang bisa menjadi penanda perubahan sikap global terhadap XRP.
Bagi investor, tawaran datang dari dua front: Kondisi hukum masih jadi hambatan utama, tapi ETF Kanada melihat peluang lebih cepat.
Tetap update data hukum dan sentimen pasar, karena Agustus bisa menjadi pembuka jalan untuk era baru XRP.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Harga Ethereum (ETH) saat ini berada dalam fase konsolidasi penting, berfluktuasi di antara level $2.400 – $2.680 sejak awal Mei.
Harga sempat menyentuh $2.879, tertinggi dalam tiga bulan, namun kemudian terkoreksi karena tekanan eksternal seperti konflik geopolitik .
Zona Rentang Utama: $2.400 – $2.800
ETH sudah empat kali menembus dekat level resistance $2.800 dan ditolak.
Menurut Daan dari Daan Crypto Trades, area ini adalah “the most important level on this entire chart” — setiap pengetesan ulang selalu diikuti rebound atau dump besar.
Konsolidasi di bawah $2.800 dalam jangka waktu lama biasanya diikuti dengan pergerakan besar dalam beberapa minggu ke depan .
Dua Arah Arah Pergerakan: Breakout atau Breakdown?
Kegagalan mempertahankan area ini bisa membuka jalan ke support $2.100, zona jangka panjang yang penting.
Merlijn The Trader mencatat bahwa ETH sedang mengikuti pola serupa siklus 2016–2017, setelah breakout dari falling wedge, yang biasanya mendahului rally parabolik
RSI juga menguji zona breakout sebelumnya, dan ETH tampak baru menyentuh 50‑hari MA seperti sebelumnya saat rally besar terjadi.
Faktor Fundamental: Sentimen Institusional & ETF
Meskipun artikel ini tidak menyebut langsung, data CryptoRank mencatat masuknya ongkos dan sprit institutional ke Ethereum, termasuk banyak dana besar menunggu kesempatan spot dan staking ETF.
Ini bisa menjadi bahan bakar jangka panjang bagi pergerakan harga ETH, mendukung skenario bullish.
Strategi untuk Trader & Investor
Skenario
Strategi
Breakout > $2.800
Entry bertahap saat candle 4‑jam tutup di atas US$2.800. Target $3.400–$4.000.
Rejection di $2.800
Tunggu koreksi ke $2.400; jika gagal bertahan, siap untuk trade short ke target $2.100.
Sideways range ($2.400–$2.800)
Swing trade dengan entry support / resistance.
Gunakan stop-loss + trailing
Lindungi modal dari reversal tajam; pertimbangkan di bawah masing-masing area kunci.
Pantau data on-chain & makro
Volume institusi, RSI/MA, dan perkembangan geopolitik dapat memberi sinyal konfirmasi awal.
Outlook: Kisah Dua Arah
Pergerakan harga Ethereum (ETH/USDT) pada Selasa, 17 Juni 2025. Sumber: Tokocrypto.
Ethereum kini berada di simpang jalan. Bullish terlihat pasti bila mampu menembus $2.800 dan difollow oleh volume tinggi—berpotensi menembus $4.000.
Namun bearish bisa terjadi jika gagal mempertahankan baseline, mengarah ke support kritikal US$2.100.
Dengan pola teknikal klasik seperti falling wedge dan potensi ETF institusional sebagai katalis, ETH layak dicermati dengan strategi turn-out yang matang. Tapi tetap waspada: volatilitas di area konsolidasi bisa sangat tinggi.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Bitcoin kini berada di persimpangan penting: indikator MVRV Z‑Score menyentuh resistance menurun jangka panjang, sekaligus menjadi zona historis yang menandai puncak siklus.
Melihat kondisi ini, sekarang banyak pihak menanyakan: Apakah BTC siap melanjutkan rally atau akan mengalami koreksi?
Apa Itu MVRV Z‑Score dan Mengapa Penting?
MVRV Z‑Score mengukur selisih antara nilai pasar Bitcoin (market value) dan biaya rata‑rata yang dibayarkan untuk koin tersebut (realized value), lalu distandarisasi berdasarkan volatilitas historis.
Nilai tinggi → pasar overheated (risiko koreksi).
Nilai rendah → undervalued (zona akumulasi).
Di tiap siklus sebelumnya, saat MVRV mendekati resistance ini → puncak siklus menempel, sebelum harga terkoreksi atau konsolidasi.
MVRV saat ini masih di bawah tingkat ekstrem (≈ 7–8 pada MVRV jangka panjang), menunjukkan potensi sisa ruang untuk kenaikan lanjutan.
Instrumen lain mendukung sentimen ini:
Golden cross MA 50‑hari dan 200‑hari mendorong arah bullish.
Breakout pola teknikal (flag) membuka target baru di kisaran $112.000–$137.000.
Risiko Penolakan Resistance
Banyak whale mulai mengalirkan Bitcoin ke Binance—double inflow bisa menandakan persiapan distribusi atau profit-taking.
Jika MVRV ditahan kuat di resistance, potensi koreksi atau fase konsolidasi mendalam sangat mungkin, sebagaimana terlihat di siklus sebelumnya.
Strategi & Rekomendasi Trader
Skenario
Strategi
Breakout di atas resistance
Entry saat candle 1–4 jam tutup > resistance. Target awal $112.000–115.000, selanjutnya $130.000+.
Ditahan/rejection
Pasang stop-loss di atas resistance + trailing stop untuk membatasi downside.
Konsolidasi sideways
Gunakan range saat ini untuk swing trading jangka pendek, perhatikan support $107.000–$105.000.
Pantau inflow/outflow & MVRV
Meningkatnya inflow menjadi pertanda whale mengambil keuntungan; sedangkan rejection MVRV merupakan indikasi market cooling. Kombinasikan dengan sentimen on-chain.
Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Selasa, 17 Juni 2025. Sumber: Tokocrypto.
Wawasan Siklus 2025
Menurut analisis oleh Bitcoin Magazine Pro, siklus ini mungkin mencapai puncaknya pada Q3–Q4 2025, sekitar 140–150 hari sebelum mencapai titik terbaik—mengikuti pola historis siklus sebelumnya.
Artinya, breakout saat ini bisa jadi tanda awal fase parabolik menjelang akhir tahun ini.
Secara keseluruhan, Bitcoin kini berada di zona MVRV resistance yang historis memasuki puncak siklus — sebuah momen krusial: apakah pasar akan melanjutkan rally baru atau berhenti dan mengalami koreksi?
Bullish: breakout → potensi lanjut ke $120k–$140k.
Bearish: rejection → konsolidasi atau koreksi mendalam.
Trader disarankan untuk memanfaatkan sinyal teknikal, mengikuti data on-chain, dan mempertahankan strategi manajemen risiko. Fase ini bisa menjadi penentu arah lanjutan pasar kripto tahun ini.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Pergerakan whaledalam dunia kripto sering kali jadi penentu pergerakan harga aset kripto, terutama aset kripto dengan kapitalisasi pasar sedang hingga rendah. Untuk mengantisipasi ini, kamu bisa menggunakan indikator seperti trading volume sebagai analisa awal yang kamu kembangkan dengan pendekatan lainnya.
Artikel ini akan membahas cara mendeteksi pergerakan whale, apa saja ciri-cirinya, serta alat bantu yang bisa kamu manfaatkan untuk membaca pergerakan besar sebelum pasar bereaksi.
Apa Itu ‘Whale?
Dalam kripto, istilah whale merujuk pada individu, lembaga, atau dompet yang memegang jumlah aset sangat besar sehingga pergerakan mereka bisa mempengaruhi harga pasar secara signifikan.
Aktivitas dari para whale ini biasanya akan tercermin dari volume trading, karena jumlah pembelian dan penjualan yang mereka lakukan berjumlah besar.
Contoh pergerakan volume pergerakan whale melalui Whale Alert.
Salah satu tanda paling awal dari aktivitas whale adalah munculnya volume yang tiba-tiba melonjak secara tidak biasa. Ini sering terjadi saat harga sedang stagnan atau hanya naik sedikit.
Misalnya, jika volume trading tiba-tiba melonjak 2x hingga 3x dari rata-rata harian tanpa adanya berita besar, bisa jadi ada partisipasi dari whale yang sedang melakukan pembelian atau penjualan besar.
Untuk mengetahui apakah lonjakan harga ini disebabkan oleh transaksi whale atau bukan, kamu bisa menggunakan beberapa platform whale tracker seperti: Whale Alert, Whale Map, atau CoinGlass.
Tanda lainnya adalah saat terjadi ketidaksesuaian antara pergerakan harga dan volume. Misalnya, harga terlihat stagnan atau sedikit menurun, namun volume terus meningkat. Kondisi ini bisa mengindikasikan adanya aktivitas di balik layar, di mana whale sedang melakukan akumulasi dalam jumlah besar.
Kondisi ini dikenal dengan sebutan stealth phase—fase akumulasi senyap yang dilakukan secara perlahan untuk menghindari lonjakan harga dan menarik perhatian pasar.
Divergensi ini juga bisa dibaca dengan bantuan indikator teknikal seperti On-Balance Volume (OBV) atau Accumulation/Distribution Line, yang dapat menunjukkan tekanan beli yang tersembunyi meskipun harga belum bereaksi.
Contoh aktivitas on-chain yang bisa dilacak melalui Arkham.
Ketika whale mau menjual asetnya, mereka tidak langsung eksekusi di exchange. Biasanya, langkah awalnya adalah mengirim aset dari dompet pribadi (cold wallet) ke dompet exchange (hot wallet). Nah, peristiwa ini terjadi di jaringan blockchain (on-chain), dan bisa kamu amati sebelum aksi jualnya muncul di grafik candlestick.
Contohnya:
Dompet menyimpan yang menyimpan sejumlah besar BTC mengirim 5.000 BTC ke salah satu centralized exchange → Ini bisa menjadi sinyal kuat akan adanya aksi jual besar dalam waktu dekat.
Karena itu, melacak volume transaksi saja tidak cukup. Kita perlu melihat:
Dompet mana yang mentransfer aset
Tujuan transfer (exchange mana, DEX mana)
Jenis aset dan jumlahnya
Identitas dompet (apakah milik investor institusional, tim developer, VC, atau bahkan dompet hacker)
Untuk melacaknya kamu bisa menggunakan platform seperti Arkham Intelligence yang memungkinkan kamu memantau pergerakan aset kripto secara on-chain dengan sangat detail—khususnya pergerakan dompet whale. Sehingga kamu bisa jadi “detektif on-chain” yang memantau gerakan whale sebelum pasar bereaksi.
Apakah Semua Pergerakan Whale bisa Dideteksi dengan Trading Volume dan Data On-Chain?
Tidak Semua Aktivitas Whale Terlihat di Pasar Terbuka
Tidak semua whale melakukan transaksi secara langsung di bursa terbuka (spot exchange) atau dalam jumlah besar yang bisa terlihat di grafik volume. Beberapa dari mereka memiliki akses ke jalur transaksi alternatif, salah satunya adalah Over-the-Counter (OTC)—platform jual beli kripto yang dilakukan secara privat antara dua pihak, tanpa masuk ke order book publik.
Transaksi OTC memungkinkan whale membeli atau menjual dalam jumlah besar tanpa mengganggu harga pasar secara langsung. Karena tidak melalui exchange, aktivitas ini tidak tercermin dalam volume trading dan tidak selalu bisa dilacak secara on-chain, kecuali terjadi perpindahan aset dari atau ke exchange setelah transaksi dilakukan.
Buat kamu memiliki aset besar dan volume transaksi tinggi, kamu bisa gunakan jual beli kripto seperti Tokocrypto Prestige yang dirancang khusus untuk para ‘whale’ serta trader VIP & Institusional. Lihat detailnya di sini 👉 Tokocrypto Prestige
Batasan Data On-Chain
Meskipun data on-chain memberi visibilitas ke aktivitas blockchain seperti transfer antar dompet, jumlah token, dan interaksi dengan smart contract, tidak semua dompet bisa diidentifikasi secara jelas. Banyak whale yang menggunakan dompet baru (fresh wallet), wallet mixing, atau protokol privasi untuk menyamarkan identitas dan pergerakan mereka.
Selain itu, jika transaksi dilakukan langsung dalam lingkungan terdesentralisasi (misalnya antar smart contract), tidak semua sinyal tersebut bisa langsung dikaitkan dengan aksi jual-beli, kecuali disertai analisis tambahan.
Volume Besar ≠ Selalu Whale
Tidak semua lonjakan volume berarti whale sedang bergerak. Volume bisa saja disebabkan oleh trader ritel secara kolektif, bot trading, atau aktivitas manipulatif seperti wash trading— yakni membuat volume palsu untuk menarik trader ritel.
Karena itu, volume besar perlu dikonfirmasi dengan konteks harga, sentimen pasar, dan data on-chain yang relevan.
Supaya kamu tidak ketinggalan dengan berita kripto dan data on-chain yang relevan, yuk gabung bareng ribuan trader lainnya di komunitas Tokocrypto melalui link berikut 👉 https://t.me/TokocryptoOfficial
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda.
Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.
Riset DePIN ini disusun oleh tim Research Tokocrypto sebagai panduan bagi para investor dan pelaku pasar untuk memahami perkembangan terkini dalam ekonomi global dan industri.
DePIN (Decentralized Physical Infrastructure Networks) adalah sebuah pergeseran paradigma dalam pembangunan infrastruktur fisik. Konsep ini memanfaatkan teknologi blockchain untuk membangun, mengelola, dan mengoperasikan jaringan infrastruktur dunia nyata seperti konektivitas internet, penyimpanan data, dan jaringan energi secara kolektif dan terdesentralisasi.
Secara sederhana, DePIN menantang model tradisional yang terpusat, di mana infrastruktur penting dikuasai oleh segelintir perusahaan besar. Model terpusat ini seringkali identik dengan biaya modal awal yang sangat tinggi, inovasi yang lambat, dan layanan yang mahal. DePIN membalikkan model ini dengan memberdayakan individu dan komunitas untuk berpartisipasi dalam membangun jaringan, dan memberikan imbalan (insentif) atas kontribusi mereka. Hasilnya adalah infrastruktur yang lebih demokratis, efisien, dan inovatif.
Manfaat Utama DePIN: Lebih dari Sekadar Desentralisasi
Keunggulan DePIN mampu menciptakan nilai bisnis yang nyata dan mengatasi kelemahan utama dari sistem infrastruktur model tradisional yang ada saat ini, seperti:
Efisiensi Biaya Radikal: DePIN secara drastis mengurangi belanja modal dan biaya operasional. Layanan yang dihasilkan menjadi lebih terjangkau bagi konsumen.
Keamanan dan Ketahanan Tinggi: Jika satu bagian dari jaringan lumpuh, bagian lainnya tetap dapat beroperasi, menciptakan sistem yang jauh lebih kuat dan andal.
Inovasi Terbuka (Tanpa Izin): Siapa pun dapat membangun layanan atau aplikasi baru di atas infrastruktur yang sudah ada.
Pemberdayaan Komunitas: DePIN mengembalikan kontrol dan kepemilikan infrastruktur kepada penggunanya. Ini mendorong munculnya solusi yang lebih sesuai dengan kebutuhan lokal dan membuka peluang ekonomi baru bagi para kontributor jaringan.
Pada negara berkembang seperti Indonesia, model DePIN menawarkan jalur alternatif untuk mempercepat pembangunan. Keterbatasan modal yang sering menjadi kendala dalam membangun infrastruktur skala besar dapat diatasi melalui model terbaru ini. DePIN membuka peluang nyata untuk mempercepat penyediaan layanan krusial, seperti:
Konektivitas Internet: Menjangkau daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) dengan biaya lebih rendah.
Energi Terbarukan: Membangun jaringan listrik mikro (microgrid) di pulau-pulau terpencil.
Komponen Kunci Jaringan DePIN
Keberhasilan jaringan DePIN tidak bergantung pada investasi terpusat, melainkan pada arsitektur cerdas yang terdiri dari beberapa komponen kunci dan didorong oleh mekanisme insentif ekonomi yang kuat, seperti:
Infrastruktur Fisik: Ini adalah bagian perangkat keras yang disediakan oleh para kontributor.
Middleware (Jembatan Data Off-chain): Berfungsi sebagai jembatan perantara. Lapisan ini mengumpulkan, memproses, dan memvalidasi data dari infrastruktur fisik sebelum dicatat secara permanen di blockchain, memastikan data dunia nyata dapat dipahami oleh dunia digital.
Arsitektur Blockchain: Blockchain menyediakan buku besar yang aman dan transparan untuk mencatat semua transaksi.
Insentif Token: Token kripto proyek diberikan sebagai imbalan kepada penyedia infrastruktur, mendorong mereka untuk bergabung dan memelihara jaringan.
Mekanisme Insentif dan “Efek Roda Gila” (Flywheel Effect)
Pertumbuhan organik jaringan DePIN dijelaskan melalui konsep “Efek Roda Gila”, sebuah konsep pertumbuhan secara terus-menerusi yang didorong oleh insentif token dari proyek DePin. Berikut cara kerja “Efek Roda Gila”:
Memicu Penawaran (Supply): Proyek memberikan insentif token kepada kontributor yang bersedia menyediakan dan mengoperasikan perangkat keras, salah satunya seperti Node.
Meningkatkan Jangkauan & Kualitas: Semakin banyak kontributor bergabung, jangkauan dan kualitas layanan jaringan meningkat. Hal ini akan membuat jaringan yang lebih luas dan andal menjadi lebih menarik bagi calon pengguna.
Menarik Permintaan (Demand): Jaringan yang berkualitas mulai menarik pengguna dan pelanggan nyata yang bersedia membayar untuk menggunakan layanan dan ekosistem(misalnya, menyewa ruang penyimpanan atau menggunakan konektivitas dari produk proyek DePin itu sendiri).
Memperkuat Nilai & Siklus: Penggunaan oleh pelanggan meningkatkan permintaan terhadap token (untuk pembayaran atau utilitas lain), yang berpotensi menaikkan harganya. Kenaikan nilai token ini memperkuat insentif awal, menarik lebih banyak lagi kontributor, dan siklus pun berputar kembali dengan momentum yang lebih besar.
Agar “Efek Roda Gila” tidak berhenti, terdapat dua faktor yang menjadi sangat krusial, seperti:
Tokenomics yang Sehat: Desain ekonomi token harus berkelanjutan dan tidak terlalu inflasioner agar nilai insentif tidak terkikis seiring waktu.
Utilitas & Permintaan Nyata: Jaringan harus berhasil menciptakan nilai guna yang sesungguhnya dan menarik pengguna yang membayar untuk layanan, bukan hanya spekulan token. Tanpa pendapatan dari penggunaan nyata, model ini tidak akan bertahan jangka panjang.
Kategori Utama DePIN: Sumber Daya Fisik dan Digital
Secara umum, proyek DePIN dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori besar jenis sumber daya yang mereka kelola berdasarkan Gambar 3.1:
Jaringan Sumber Daya Fisik (PRN): Terikat pada lokasi fisik (Contoh: Jaringan nirkabel, energi, sensor).
Jaringan Sumber Daya Digital (DRN): Tidak terikat lokasi (Contoh: Penyimpanan data, komputasi/GPU, bandwidth).
Studi Kasus: Proyek-Proyek DePIN Populer dan Dampaknya
Untuk memberikan gambaran yang lebih konkret tentang bagaimana DePIN bekerja dalam praktik, berikut adalah beberapa contoh proyek DePIN terkemuka dari berbagai sektor berdasarkan Gambar 3.2, beserta model dan potensi dampaknya:
Filecoin (FIL): Menyediakan pasar untuk sewa-menyewa ruang penyimpanan data, menawarkan alternatif cloud yang lebih murah dan tahan sensor.
Helium (HNT): Bermigrasi ke Solana untukmembangun jaringan nirkabel (IoT & 5G) global berbasis komunitas, memperluas jangkauan secara masif dengan biaya rendah.
Render Network (RNDR): Bermigrasi ke Solana untuk menyediakan jaringan daya komputasi GPU yang lebih terjangkau bagi para seniman dan kreator.
Hivemapper (HONEY): Membangun peta dunia yang selalu ter-update menggunakan dashcam dari komunitas, dengan biaya yang jauh lebih efisien.
Akash Network (AKT): Menyediakan pasar terbuka untuk komputasi awan (cloud computing), menawarkan harga yang sangat kompetitif dibanding penyedia terpusat.
The Graph (GRT): Mengindeks data blockchain (dijuluki “Google-nya Blockchain”) untuk menyederhanakan proses pengembangan aplikasi terdesentralisasi (dApps).
Dari contoh-contoh di atas menunjukkan Sebuah tren menarik dalam ekosistem DePIN adalah migrasi proyek-proyek terkemuka, seperti Helium dan Render Network ke platform blockchain Layer-1 berkinerja tinggi seperti Solana.
Hal ini tidak mengherankan, karena jaringan DePIN membutuhkan kemampuan pemrosesan transaksi yang sangat tinggi (throughput) dan biaya yang rendah. Kebutuhan ini krusial untuk dapat secara efisien mencatat kontribusi dari ribuan bahkan jutaan perangkat, mendistribusikan imbalan token, dan menangani interaksi pengguna dalam skala besar—tantangan yang seringkali sulit dipenuhi oleh blockchain tradisional.
Fenomena ini mengindikasikan bahwa pilihan platform blockchain dasar menjadi faktor keberhasilan yang saling menguntungkan. Kemajuan pesat sektor DePIN akan turut mendorong inovasi dan adopsi pada platform blockchain yang secara optimal mendukungnya.
Gambaran Pasar Global DePIN: Kapitalisasi dan Proyeksi Pertumbuhan
Sektor DePIN pada gambar 4.1 telah menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir dan telah menarik perhatian investor dan pengembang di seluruh dunia. Pada gambar 1.4, menunjukkan peta dunia yang menggambarkan penyebaran dan ukuran proyek-proyek DePIN (Decentralized Physical Infrastructure Networks) yang telah terverifikasi.
Warna-warna terang di peta merepresentasikan lokasi perangkat aktif yang tersebar di berbagai belahan dunia, menunjukkan seberapa besar dan tersebar ekosistem DePIN saat ini. Saat ini terdapat 9.855.178 perangkat aktif yang menjadi bagian dari jaringan DePIN. Ini menunjukkan pertumbuhan sebesar +151.329 perangkat, yang berarti ekosistem terus berkembang secara aktif. Dengan Nilai total pasar (kapitalisasi) seluruh proyek DePIN saat ini mencapai sekitar $3,59 miliar USD dengan jangkauan 198 negara atau wilayah. Hal ini menunjukkan bahwa DePIN tidak hanya berkembang dari sisi perangkat, tapi juga dari sisi nilai ekonomi/token.
Sektor DePIN menunjukkan potensi pertumbuhan yang sangat besar, dengan proyeksi dari firma riset Messari yang memperkirakan nilainya dapat mencapai $3.5 triliun pada tahun 2028. Optimisme ini didukung oleh data pendanaan terbaru pada kuartal pertama 2025, di mana kesepakatan pendanaan untuk DePIN melonjak signifikan sebesar 28% secara kuartalan (QoQ).
Potensi DePIN dalam Mengatasi Tantangan Infrastruktur di Indonesia
Kabar baiknya, Kemitraan strategis antara Kemenkominfo melalui program “1000 Startup Digital” dengan platform Lisk menunjukkan dukungan awal pemerintah untuk pengembangan solusi Web3, sekaligus membuka peluang bagi implementasi DePIN di Indonesia. Oleh karena itu, DePIN berpotensi besar mengatasi tantangan infrastruktur krusial di Indonesia dengan menyediakan solusi, seperti:
Kesenjangan Konektivitas Internet (khususnya di daerah 3T) → Jaringan Nirkabel Komunitas (Helium, WiFi Map); insentif untuk berbagi akses internet.
Akses Energi Bersih & Terbarukan Terbatas (misalnya, pulau terpencil) → Jaringan Listrik Mikro Terdesentralisasi; Pasar Energi Peer-to-Peer (P2P); (Arkreen, PowerPod, inspirasi dari model IBEKA).
Efisiensi Logistik Maritim dan Rantai Pasok → Platform Logistik & Pelacakan Kargo Transparan berbasis Blockchain; optimalisasi rute dan pengurangan perantara.
Kebutuhan Infrastruktur Data Lokal yang Handal dan Terjangkau → Platform Logistik & Pelacakan Kargo; Transparan berbasis Blockchain; optimalisasi rute dan pengurangan perantara.
Pemetaan dan Pengelolaan Data Spasial → Pengumpulan Data Peta Partisipatif (ala Hivemapper); pemantauan lingkungan berbasis sensor komunitas.
Hambatan Adopsi DePIN yang Perlu Diatasi
Meskipun sangat potensial, adopsi massal DePIN menghadapi beberapa hambatan utama yang perlu diatasi. Tantangan utamanya meliputi:
Ketidakpastian Regulasi: Kerangka hukum yang belum jelas di persimpangan dunia fisik dan digital menghambat investasi dan kepastian operasional.
Keberlanjutan Ekonomi (Tokenomics): Banyak proyek masih bergantung pada insentif token yang harganya fluktuatif, dan perlu membangun model pendapatan riil dari pengguna untuk jangka panjang.
Pendekatan ini secara bertahap juga akan membangun keberlanjutan ekonomi dari penggunaan nyata dan menciptakan daya tawar untuk menghadapi ketidakpastian regulasi secara kolektif.
Tren Inovatif dan Prospek Masa Depan DePIN
Terlepas dari tantangan yang ada, sektor DePIN terus menunjukkan inovasi yang tinggi. Beberapa inovasi dan prospek yang membentuk masa depan DePIN meliputi:
Integrasi dengan AI → Keduanya saling menguntungkan; DePIN menyediakan GPU dan data yang dibutuhkan AI, sementara AI membantu mengoptimalkan jaringan DePIN. Saat ini, proyek DePIN yang fokus pada AI mendominasi pasar.
Solusi Layer-1 & Layer-2 Khusus: Munculnya blockchain khusus DePIN (seperti IoTeX & Peaq) menyediakan infrastruktur untuk beroperasi dalam skala besar.
Dengan demikian, DePin diproyeksikan akan menjadi ekosistem desentralisasi yang saling terhubung dan membentuk inovasi yang mampu menyelesaikan banyak masalah.
Kesimpulan: DePIN sebagai Paradigma Baru Infrastruktur Global dan Relevansinya untuk Indonesia
DePIN (Decentralized Physical Infrastructure Networks) merupakan sebuah paradigma transformatif yang memanfaatkan teknologi blockchain dan insentif token untuk membangun infrastruktur fisik yang efisien, transparan, dan dimiliki oleh komunitas.
Bagi Indonesia, dengan tantangan geografis dan pembangunannya yang unik, pendekatan ini menawarkan peluang yang sangat relevan untuk mengatasi kesenjangan infrastruktur—seperti konektivitas, energi, dan logistik—serta sangat sejalan dengan nilai gotong royong untuk mendorong inklusi digital dan ekonomi secara merata.
Meskipun demikian, adopsinya secara luas masih dihadapkan pada tantangan regulasi, dan keberlanjutan ekonomi. Oleh karena itu, keberhasilan implementasi DePIN di Indonesia sangat bergantung pada kolaborasi sinergis antara berbagai pihak kunci. Pemahaman dan pembelajaran berkelanjutan yang lebih baik akan menjadi kunci utama untuk secara proaktif menjajaki dan mewujudkan potensi besar DePIN bagi kemajuan Indonesia.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Artikel ini bertujuan membantu kamu mengenali kapan volume bisa menjadi sinyal beli atau jual yang akurat — Dalam prakteknya, volume trading tidak hanya bisa digunakkan sebagai sinyal awal (leading indicator) melainkan juga sebagai sinyal konfirmasi (lagging indicator).
Untuk mengetahui kapan volume trading bisa menjadi sinyal beli trading, simak penjelasan lebih lengkapnya di bawah ini dengan mempelajari jenis indikator trading volume yang biasa digunakkan oleh para trader.
Sebagai leading indicator, volume dapat memberikan petunjuk awal tentang pergerakan pasar. Studi dari jurnal dengan judul “Bitcoin mempool growth and trading volumes” menunjukkan bahwa pertumbuhan volume trading sering kali mengiringi perubahan harga, tapi pertumbuhan trading volume ini sendiri tidak selalu diikuti oleh kenaikan, kadang malah diikuti oleh penurunan. Ini berarti volume bisa menjadi alarm dini bahwa tren besar akan terjadi.
Contoh praktis: ketika aset sedang konsolidasi dan tiba-tiba muncul lonjakan volume—tanpa disertai pergerakan harga signifikan—ini bisa jadi disebabkan oleh aksi institusional atau whaleyang mulai melakukan akumulasi. Dengan kata lain, candle kecil disertai volume besar bisa menjadi pertanda smart money mulai masuk.
Volume sebagai Konfirmasi (Lagging Indicator)
Sebaliknya, volume juga sering digunakan sebagai indikator konfirmasi setelah breakout. Misalnya, saat harga menembus level resistance, tetapi volume tetap rendah, breakout tersebut rentan gagal. Sebaliknya, breakout disertai volume tinggi menunjukkan validitas dan kekuatan tren—bisa membantu trader memastikan sinyal beli.
Salah satu contoh penggunaannya adalah dengan Volume Moving Average (VMA) yang merupakan hasil dari rata-rata volume dalam jangka waktu tertentu, misalnya 20 hari—untuk membantu memahami tren partisipasi pasar. VMA 20-hari ini akan merata-ratakan volume 20 hari terakhir dan menampilkannya sebagai garis pada chart. Saat volume ini berada di atas garis VMA, maka dianggap sebagai konfirmasi, dan sebaliknya ketika volume trading berada di bawah garis VMA bisa menunjukkan kurangnya partisipasi pasar.
Indikator Trading Volume yang Bisa Digunakan untuk Mengetahui Sinyal Beli yang Valid
On‑Balance Volume (OBV)
Indikator On-Balance Volume atau OBV dan korelasinya dengan pergerakan harga.
On-Balance Volume atau OBV merupakan indikator volume yang menunjukkan apakah aliran uang sedang masuk atau keluar. Cara kerjanya, OBV akan menambahkan volume pada hari di mana harga penutupan lebih tinggi (up day), dan mengurangkan volume pada hari ketika harga penutupan lebih rendah (down day).
Ketika garis OBV terus naik, itu menandakan tekanan beli lebih kuat daripada tekanan jual, yang bisa menjadi sinyal tren naik (bullish). Sebaliknya, jika OBV menurun, itu menunjukkan tekanan jual yang dominan dan bisa mengindikasikan tren turun (bearish).
Accumulation/Distribution Line (A/D Line)
Garis akumulasi/distribusi (A/D Line) dan korelasinya dengan pergerakan harga.
Garis akumulasi/distribusi (A/D Line) digunakan untuk mengukur aliran uang secara kumulatif yang masuk dan keluar. Cara kerjanya, indikator ini mempertimbangkan data harga dan volume sekaligus, sehingga bisa memberikan gambaran tekanan beli dan jual di balik pergerakan harga.
Kalau garis A/D naik, artinya sedang terjadi akumulasi—pembeli mendominasi pasar. Tapi kalau garis A/D turun, itu menunjukkan distribusi—penjual sedang menguasai.
Indikator ini membantu trader menilai apakah pasar cenderung menyerap (accumulating) atau melepas (distributing), dan bisa jadi bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan entry atau exit.
Chaikin Money Flow (CMF) dan korelasinya dengan pergerakan harga.
CMF memperkirakan arus uang (money flow) dalam periode tertentu—biasanya 21 hari—dengan membandingkan harga penutupan relatif terhadap kisaran harian dan volume, lalu hasilnya diberi bobot berdasarkan volume.
Jika nilai CMF bernilai positif, itu menunjukkan adanya tekanan beli yang kuat. Sebaliknya, jika nilainya negatif, berarti tekanan jual sedang mendominasi.
Volume Moving Average (VMA)
Volume Moving Average (VMA) dan korelasinya dengan pergerakan harga.
VMA adalah rata-rata volume selama periode tertentu (misalnya 20 hari), diplot sebagai garis pada grafik volume guna membantu mengenali tren.
Kalau volume saat ini secara konsisten berada di atas garis VMA, itu menandakan minat beli yang kuat dan bisa mengonfirmasi tren harga yang naik. Sebaliknya, kalau volume berada di bawah garis VMA, ini mengisyaratkan lemahnya tekanan beli atau mulai munculnya tekanan jual.
Jadi Kapan Volume Trading Jadi Sinyal Beli Trading Akurat?
Menggunakan beberapa indikator trading volume di atas bisa menjadi sinyal beli yang akurat, terutama saat indikator-indikator tersebut menunjukkan arah yang sejalan dengan pergerakan harga.
Misalnya, ketika OBV menguat bersamaan dengan breakout harga, atau CMF menunjukkan arus uang positif yang konsisten, ini bisa menjadi indikasi kuat bahwa buyer mulai mendominasi pasar. Sebaliknya, jika volume melonjak namun harga mulai menurun dan A/D Line menunjukkan distribusi, itu bisa menjadi sinyal awal untuk bersiap melakukan aksi jual.
Namun, akurasi sinyal—baik untuk beli maupun jual, tidak hanya ditentukan oleh satu indikator saja. Analisis yang efektif membutuhkan kombinasi antara indikator volume, pola pergerakan harga, zona support dan resistance, serta pemahaman terhadap kondisi pasar yang sedang berlangsung. Dengan pendekatan menyeluruh seperti ini, volume trading dapat berperan sebagai alat penting untuk membangun strategi entry dan exit yang lebih valid.
Penutup
Meskipun indikator volume sangat membantu untuk membaca kekuatan pasar dan mendeteksi sinyal beli, volume saja tidak cukup untuk membuat keputusan trading yang solid. Volume perlu dikonfirmasi dengan indikator lain seperti struktur harga, area support dan resistance, serta indikator momentum seperti RSI atau MACD.
Selain itu, karena pasar kripto bergerak sangat dinamis dan sangat dipengaruhi oleh berita-berita global yang bisa mengubah arah harga, penting bagi trader untuk terus memperbarui informasi dan terhubung dengan komunitas yang aktif.
Salah satu cara terbaik untuk tetap mendapatkan insight terbaru adalah dengan bergabung bersama komunitas Tokocrypto. Kamu bisa berbagi pengalaman, mengikuti analisis harian, serta memantau pergerakan pasar bersama ribuan trader lainnya–GRATIS!
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda.
Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.
Sumber:
Truedata. “Volume Analysis and Volume Indicators“. 2024.
Mikhaylova, et al. “Bitcoin mempool growth and trading volumes“. 2023.
Vietnam mencetak momen bersejarah dengan disahkannya Undang‑Undang Industri Teknologi Digital oleh Majelis Nasional pada 14 Juni 2025.
UU ini merupakan tonggak pertama kali negara tersebut memberikan regulasi resmi bagi aset kripto dan virtual, serta menggarisbawahi ambisi besar menjadi pusat inovasi teknologi global.
Dua Kategori Aset Digital
Secara keseluruhan, UU tersebut mendefinisikan dua jenis aset:
Aset Virtual — digital untuk investasi atau perdagangan, tidak termasuk fiat digital, sekuritas, atau instrumen keuangan tradisional.
Aset Kripto — aset yang menggunakan enkripsi dan blockchain untuk pembuatan dan transfernya.
Kedua kategori wajib tunduk regulasi terkait penerbitan, perdagangan, dan kepemilikan yang akan difinalisasi sebelum diberlakukan 1 Januari 2026.
Vietnam menerapkan standar ketat sesuai norma internasional:
Anti-pencucian uang (AML) dan tindakan kontra pendanaan terorisme (CFT)
Protokol keamanan siber untuk menekan risiko penipuan dan pelanggaran data.
Langkah ini juga ditujukan untuk memenuhi tuntutan Financial Action Task Force (FATF) dan mencopot status negara “abu-abu” yang pernah menempel sejak 2023.
Ekosistem Teknologi yang Didukung Pemerintah
Rancangan UU ini tidak terbatas pada kripto saja:
Insentif pajak, kemudahan penggunaan lahan, dan dana R&D untuk sektor AI, semikonduktor, dan infrastruktur digital.
Dorongan pelatihan SDM melalui pemerintah daerah dan integrasi literasi digital dalam kurikulum sekolah .
Tujuannya tidak lain untuk menjadikan Vietnam sebagai hub digital bersaing dengan Singapura, Seoul, dan Shenzhen.
Pelindung Ekosistem Kripto dari Skema Bodong
Meningkatnya regulasi kripto juga untuk menangkal aksi kejahatan digital:
Proses implementasi regulasi hingga licensing diperkirakan memakan waktu hingga 2025, menjelang fase uji coba dan adaptasi perusahaan .
Butuh kejelasan mengenai pajak, on/off-ramp hingga kolaborasi sistem perbankan dan FinTech agar ekosistem berjalan lancar.
Vietnam saat ini bertransformasi cepat dari “crypto grey‑zone” menjadi negara yang mendukung teknologi digital secara sistematis.
Dengan legalisasi aset digital, pengawasan AML/CTF, dan insentif teknologi, Vietnam menunjukkan arah masa depan: stabilitas, inovasi, dan akses global. Bagi komunitas Web3, investor, startup, dan developer, ini adalah saat bersejarah dan peluang besar.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Pi Network (PI) sedang mengalami turbulensi harga setelah turun hampir 6% dalam seminggu.
Saat ini, PI hanya bergerak sedikit di atas level support penting $0,601, menunggu apakah harga akan rebound atau melorot lebih dalam.
Indikator Teknis: Momentum Melemah
DMI & ADX: ADX turun dari 44,6 ke 34, menandakan tren masih ada namun melemah. +DI naik dari 4 ke 20,9, sementara –DI turun dari 70 ke 32,7—mengindikasikan tekanan bearish berkurang dan potensi balik arah mulai menguat.
CMF (Chaikin Money Flow): Nilai saat ini ~0,07, lebih rendah dari 0,19 namun masih di zona positif, menunjukkan arus dana masuk masih ada, meski melemah.
Kondisi ini mencerminkan pasar yang bertahan di area konsolidasi; kenaikan ringan, tapi belum ada aksi beli agresif.
Price Action: Antara Breakout atau Breakdown
Grafik EMA menunjukkan Pi mendekati EMA support penting di kisaran $0,601 ±. Jika support ini gagal dipertahankan:
PI bisa turun ke $0,542, dan jika tekanan bearish bertambah, bahkan ke $0,40.
Namun jika naik menembus resistensi:
Target rebound pertama di $0,647–0,658.
Jika menembus zona tersebut, kenaikan lanjutan menuju $0,796 terbuka.
Sejauh ini, belum terjadi konfirmasi breakout—harga masih bergerak sangat dekat dengan support, menandakan ketidakpastian kuat.
Gambaran Lebih Luas: Tekanan Jangka Panjang
Beberapa laporan teknikal sebelumnya menyoroti situasi serupa:
BeInCrypto (12 Juni) RSI ~40, tampak pasif. Jika gagal di atas $0,60, kemungkinan turun ke $0,57, namun rebound ke US$0,65 dinilai mungkin.
Dua minggu lalu: CMF turun sampai –0,20, menegaskan tekanan jual saat support di $0,66 diuji.
Brave New Coin (2 Juni): Support di kisaran $0,605–0,628 bisa jadi “make-or-break” point; jika gagal, harga bisa ke $0,40.
BeInCrypto (sekitar 2 minggu lalu): Holder mulai keluar, harga turun 40 % dari puncak Mei, dan support US$0,71 bisa retak → potensi turun ke $0,61.
Secara konsisten, level $0,60–0,61 disebut sebagai pertahanan utama.
Segera ambil aksi protektif (stop-loss) atau short: target kemungkinan $0,542–0,40.
Rebound dari support
Pertimbangkan entry saat sinyal bullish muncul; target fase pertama $0,647–0,658, selanjutnya $0,796.
Penutupan > $0,658
Konfirmasi sinyal breakout → momentum menuju $0,796 terbuka.
Pantau indikator teknikal: DMI (+DI > –DI), CMF > 0, dan penutupan candle di atas EMA untuk indikasi bullish.
Pi Network kini berada dalam momen penuh tekanan: bergerak di atas support krusial $0,601, dengan momentum teknikal menunjukkan kelegaan dari bearish dominan, tapi belum cukup kuat untuk memicu kenaikan.
Jika level ini gagal di defense, risiko penurunan ke zona $0,40 terbuka lebar. Sebaliknya, rebound dan breakout di atas $0,65 akan membawa peluang bullish lebih besar.
Dengan struktur teknikal yang rapuh dan level harga inti di kisaran $0,60–0,61, trader dan investor harus:
Wasapada dan disiplin dalam manajemen risiko
Gunakan sinyal teknikal sebagai petunjuk
Siapkan strategi untuk dua skenario: koreksi dalam atau rally lanjutan
Bulan ini penting untuk menentukan apakah Pi Network akan kembali pulih atau terpuruk dalam tren turun lebih dalam.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Kabar kurang menyenangkan datang dari Community-driven meme coinShiba Inu (SHIB) yang tengah menghadapi kondisi kritis.
Dalam waktu singkat, lonjakan outflow mencapai 1.600%, mengindikasikan eksodus besar dari investor—baik dari pertukaran maupun wallet publik.
Apa Itu Surge Outflow 1.600%?
Outflow merujuk pada jumlah token yang dikeluarkan dari bursa yang biasanya ke wallet pribadi. Lonjakan sebesar ini mengindikasikan aksi besar-besaran dari pemegang token:
Whale (pemegang besar) mulai memindahkan token, mungkin untuk mengambil keuntungan atau melakukan diversifikasi.
Investor ritel kehilangan kepercayaan dan memutuskan menarik dana.
CoinLive melaporkan bahwa volumenya melonjak drastis, memicu pertanyaan tentang keberlanjutan sentimen bullish SHIB.
Shiba Inu saat ini berada di persimpangan krusial: tekanan jual besar (outflow +1.600%) mengindikasikan ketidakpercayaan investor, namun aksi burn deflasi menambah lapisan kompleksitas yang bisa membawa potensi rebound. Trader dan investor perlu waspada terhadap:
Signifikansi breakout teknikal atau fakeout.
Volatilitas tinggi yang datang tiba-tiba.
News atau peristiwa besar di ekosistem SHIB (listing, perubahan kebijakan, rumor whale).
Bisa jadi, ini waktunya analisis dengan tajam menggunakan data on-chain dan technical analysis—kondisi ini bukan untuk sekadar ikut-ikutan, tapi untuk strategi matang dalam menghadapi peluang dan risiko SHIB.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Saat ini berada di sekitar 25%, level yang dalam beberapa siklus sebelumnya menjadi titik bottom sebelum altcoin kembali meroket.
2. Dominasi Altcoin (tidak termasuk ETH & Stablecoins)
Sekitar 18%, level lain yang historis menjadi trigger bagi rotasi modal ke alt‑cap kecil, mengalahkan Bitcoin.
Alphractal menegaskan bahwa meski indikator ini tidak menjamin altseason, level‑level tersebut berulang kali menjadi titik awal rally altcoin dalam beberapa siklus pasar.
Apa Artinya untuk Pasar?
Jika Bitcoin terus naik atau bahkan koreksi, dominasi yang melemah akan membuka ruang bagi altcoin untuk tumbuh lebih agresif seperti dalam beberapa siklus sebelumnya.
Dominasi Bitcoin melemah → biasnya positif untuk altcoins; momentum besar saat masa konsolidasi Bitcoin.
23% altcoin sudah mengungguli Bitcoin, menandakan pergeseran awal aliran dana ke altcoin (ainvest.com).
Ethereum juga menunjukkan pola cup-and-handle di chart ETH/BTC, sinyal kuat tengah menciptakan basis sebelum breakout lebih tinggi — juga membuka jalur lebih luas ke altcoin.
Total pendanaan Web3 mencapai $3,8 miliar hanya di Q1 2025, mayoritas mendukung proyek alt unggulan seperti AI, gaming, dan modular blockchain.
Pantau dominasi altcoin: jika breakout di atas 25% (atau 18% tanpa ETH), ini sinyal kuat altcoin season.
Perhatikan rotasi modal ke sektor spesifik seperti AI, gaming, modular chain—potensinya signifikan.
Gunakan TA: garis support/resistance dominasi, pola teknikal ETH/BTC, serta volume dan RSI tiap altcoin.
Diversifikasi portofolio: siapkan sebagian alokasi untuk altcoin kecil dan menengah yang memiliki potensial besar saat musim alt.
Risiko yang Perlu Diwaspadai
False breakout: Dominasi bisa rebound kembali ke Bitcoin, memicu koreksi altcoin.
Volatilitas tinggi: Kondisi awal altcoin season biasanya ditandai dengan fluktuasi ekstrem.
Faktor eksternal: berita makro, regulasi, atau perubahan sentimen institusional bisa mengubah arah secara tiba‑tiba.
Musim altcoin bisa semakin dekat karena dua indikator dominasi altcoin saat ini sedang di area histori support penting (25% & 18%).
Lebih dari sepertiga altcoin sudah menunjukkan performa relatif baik dibanding Bitcoin, ditambah sinyal teknikal Ethereum dan meningkatnya pendanaan Web3 yang berfokus pada altcoins.
Semua ini menunjukkan bahwa pasar tengah memasuki fase persiapan rotasi modal besar.
Bagi investor dan trader, ini saatnya bersiap, baca chart dominasi, cermati tren pendanaan, dan jaga portofolio tetap variatif untuk memanfaatkan potensi keuntungan dari altseason yang mungkin segera datang.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.