Tag Archives: kripto

Apa perbedaan Bitcoin Cash dengan Bitcoin? Yuk, simak di sini!

Jual beli aset kripto hingga saat ini menjadi perbincangan yang sangat hangat. Banyak pihak yang turut meramaikan ranah ini. Bagi yang baru menyelami bidang aset kripto, pasti bingung dengan nama-nama aset yang beredar. Bahkan di antara aset-aset tersebut memiliki nama yang serupa. Sebut saja Bitcoin, Bitcoin Gold (BTG), dan Bitcoin Cash (BCH).

Kendati memiliki kemiripan, ada beberapa hal yang secara mendasar membedakan ketiganya. Untuk mengetahui perbedaannya, Yuk, kita simak sama-sama.

Apa Itu Bitcoin Cash

Di tahun 2017 ada sebuah peristiwa yang dinamakan Hard Fork. Peristiwa ini terjadi karena ada satuan kripto yang terbagi menjadi dua. Alhasil, satuan kripto yang terbagi menjadi dua tersebut menghasilkan kode lama dan kode baru, yang tidak sesuai satu sama lain. Dari peristiwa inilah memunculkan aset kripto yang bernama Bitcoin Cash.

Bitcoin Cash adalah aset kripto yang merupakan hasil dari fork dari Bitcoin. Keduanya memiliki kemiripan satu sama lain. Meski serupa, Tetapi kedua aset kripto ini memiliki perbedaan yang signifikan, yakni Bitcoin Cash memiliki sistem blockchain-nya sendiri. 

Di samping itu, para pendukungnya juga percaya bahwa, aset kripto satu ini lebih mendekati apa yang dicita-citakan oleh sang pencipta Bitcoin, Satoshi Nakamoto sebagai mata uang elektronik peer-to-peer yang pernah ia tulis di dalam white paper pada tahun 2008.

Baca juga: Cara Membuat Wallet Bitcoin Untuk Pemula, Simak Caranya Disini!

Bagaimana Cara Bitcoin Cash Bekerja

Kendati memiliki sistem blockchain sendiri, pada dasarnya aset kripto satu ini memiliki cara kerja yang identik dengan Bitcoin. Kedua aset tersebut menggunakan node peer-to-peer atau jaringan komputer yang dibangun dengan bantuan miner atau penambang. Selain itu, aset kripto ini memanfaatkan algoritma yang bernama Secure Hash Algorithm (SHA). 

Perbedaan Bitcoin dengan Bitcoin Cash 

Tidak seperti aset kripto lain, hasil fork dari Bitcoin ini merupakan salah satu yang berhasil. 

Keduanya tentu sama-sama berada di sistem blockchain. Akan tetapi, Bitcoin Cash berada di dalam sistem blockchain yang berbeda. Selain hal tersebut, ada beberapa perbedaan mendasar antara keduanya, apa sajakah itu?

1. Ukuran Block

Perbedaan pertama yang paling mendasar antara kedua aset kripto ini adalah ukuran block-nya. Bitcoin Cash memiliki ukuran block yang lebih besar dibandingkan oleh Bitcoin, yakni sebesar 32MB. Dengan ukuran block yang lebih besar, memungkinkan para trader-nya untuk bertransaksi dengan ukuran yang lebih besar. 

2. Biaya Transaksi

Di samping ukuran block-nya, keduanya memiliki perbedaan di biaya transaksinya. Ukuran block yang besar ini tentu memengaruhi biaya transaksinya. Alhasil, biaya transaksinya aset kripto ini jauh lebih murah. 

3. Hash Rate

Usia dari Bitcoin Cash tentu jauh lebih muda dibandingkan Bitcoin. Dengan demikian, Bitcoin kini menjadi seperti ‘Dollar”-nya aset kripto. Penambangan aset kripto ini tentu dipengaruhi oleh apa yang dinamakan hash rate

Hash Rate Bitcoin pun lebih unggul, dibandingkan oleh Bitcoin Cash. Alhasil, penambang Bitcoin hingga kini juga lebih banyak. 

Cara Membeli Bitcoin Cash

Bagi Anda yang ingin membeli aset kripto ini, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan, di antaranya:

1. Membeli Bitcoin Cash dari pihak pertama

Pertama, Anda bisa membelinya dari pihak pertama. Apabila Anda pergi ke beberapa negara yang sudah mendukung transaksi dengan menggunakan aset kripto, Anda bisa mendapatkan aset kripto ini di ATM (Anjungan Tunai Mandiri/Automated Teller Machine).

2. Mendapatkan secara gratis

Apabila Anda beruntung, Anda bisa mendapatkan aset kripto ini secara gratis. Karena didapat secara gratis, tentu jumlahnya tidak sebanyak ketika Anda membelinya. Anda bisa mendapatkannya secara gratis di situs resminya. 

3. Membeli dari pihak ketiga

Cara ketiga agar Anda bisa mendapatkan aset kripto satu ini adalah dengan membelinya dari pihak ketiga. Pihak ketiga ini bisa Anda beli di beberapa situs seperti Coinbase. 

4. Berjualan

Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa beberapa negara sudah melayani transaksi dengan menggunakan Bitcoin Cash. Transaksi dengan metode ini tentu memungkinkan Anda membuka usaha dengan menggunakan transaksi ini. Nah, dari sinilah Anda bisa mendapatkan aset kripto satu ini.

Baca juga: Apakah Bitcoin Jadi Mata Uang di Singapura? Simak Faktanya!

Namun, tak bisa dipungkiri juga, nanti di masa depan justru karena kelebihan-kelebihannya, aset kripto ini bisa jadi akan lebih populer dibanding aset lainnya. Dengan ini, Anda bisa memahami aset kripto lebih dalam. Untuk informasi lebih banyak tentang aset kripto, Anda bisa mengunjungi situs resmi Tokocrypto. Dan jangan lupa untuk bergabung di Telegram dan Discord Tokocrypto sekarang juga!



Sumber : news.tokocrypto.com

Wajib Tahu, Inilah Arti dan Cara Kerja Protokol Chainlink

Dewasa ini sudah banyak sekali teknologi yang digunakan dan juga dikembangkan yang berguna dalam menghubungkan dunia blockchain dengan dunia luar (non-blockchain), salah satunya yaitu Chainlink.

Chainlink merupakan salah satu proyek ambisius yang ada pada dunia mata uang digital dan aset kripto. Walau dikatakan newbie dalam dunia aset kripto, namun ketenarannya tidak dapat dipungkiri lagi lantaran kepopulerannya dalam lingkungan masyarakat mengenai inovasinya terkait teknologi blockchain. Yuk, simak informasi selengkapnya!

Apa Itu Chainlink?

Chainlink adalah sebuah aset kripto dan juga teknologi dalam dunia digital kripto yang berguna untuk menjembatani antara dunia blockchain dengan dunia luar atau non-blockchain, sistem ini biasa disebut sebagai Oracle

Chainlink yang merupakan sebuah sistem unifikasi platform pembayaran dan data eksternal, seperti web API (Application Programming Interface), data feed, atau rekening bank umum.

Pertama kali diluncurkan pada November 2017 oleh Steve Ellis dan Sergey Nazarov yang mempublikasikan Whitepaper untuk aset kripto satu ini. 

Baca Juga: Ketahui Pengertian FOMO Adalah di Dunia NFT Selengkapnya di Sini

Cara Kerja Chainlink

Harus dipahami terlebih dahulu bahwa Chainlink bukanlah sebuah blockchain, melainkan sebuah jembatan atau perantara yang mana tanpa adanya proses mining pun akan tetap mendapatkan keuntungan melalui kumpulan blockchain yang menggunakan jaringan data aset kripto ini.

Dalam menjalankan sistem jaringannya, Chainlink memanfaatkan tiga jenis Smart Contract yang ditujukan untuk mengolah data, yakni Reputation Contract, Order-Matching Contract, dan Aggregating Contract.

1. Reputation Contract

Pada mulanya, para pengguna akan diharuskan membuat service-level agreement (SLA) sebagai persyaratan data yang dibutuhkan. Kemudian sistem software akan menggunakan SLA sebagai verifikasi pengguna dengan Oracle.

Kemudian pengguna akan mengirimkan SLA lalu menyimpan Chainlink Coin (LINK) dalam Order-Matching Contract.

2. Order-Matching Contract

Pada bagian ini, Oracle akan terhubung dengan dunia luar atau sumber eksternal dan memperoleh sejumlah data off-chain sesuai permintaan dalam SLA. Oracle nantinya memproses data-data tersebut dan mengirimkannya kembali ke dalam kontrak yang sedang berlangsung pada blockchain Chainlink.

3. Aggregating Contract

Langkah terakhir pada proses ini adalah penghitungan hasil dari pengumpulan data yang sebelumnya sudah dihimpun oleh Oracle yang kemudian dikembalikan kepada kontrak agregasi. 

Kemudian kontrak agregasi merespon, dan mengukur yang kemudian memberi validasi masing-masing pada setiap data yang diterima.

Sehingga, dengan inilah keuntungan Chainlink diperoleh dari seluruh penyedia data (Oracle) yang beroperasi di dalamnya.

cara kerja chainlink coin

Apa itu Chainlink Coin (LINK)?

Pada dasarnya Chainlink tidak memiliki koin native tersendiri, melainkan berbentuk token yang tersedia pada jaringan Ethereum ERC677. Memiliki fungsi secara aktif untuk bertransaksi dalam platform aset kripto satu ini yang didasarkan pada standar token ERC20.

LINK merupakan token yang dirancang dengan maksud dan tujuan sebagai insentif bagi penyedia data yang akurat, menjaga kontrak tetap stabil, juga sebagai imbalan bagi node yang memvalidasi transaksi.

Kemudian, LINK juga dilengkapi dengan fungsi tambahan ERC233, yakni ‘transfer and call‘ yang dapat membantunya dalam berinteraksi dengan smart contracts

Kemudian juga, apabila semakin banyak LINK yang dimiliki oleh sebuah node, maka semakin besar pula perannya dalam jaringan Proof of Stake (PoS).

Fitur Chainlink apa saja yang tersedia?

konsep chainlink coin

Fitur yang terdapat dalam Chainlink yaitu Distribusi Oracle, Sumber distribusi, Agregasi, Reputasi, Pembayaran Penalti, dan Sertifikat Pelayanan. Simak dibawah ini untuk penjelasannya!

Distribusi Oracle

Platform ini menawarkan distribusi Oracle dalam satu buah kontrak yang berguna untuk memperoleh data dari sumber yang sama atau menggunakan node guna menghasilkan data dari berbagai sumber.

Sumber distribusi

Berperan sebagai perantara, maka aset kripto ini juga berperan sebagai sumber distribusi data. Dalam artian, node yang berada pada jaringan ini dapat memperoleh data dari berbagai sumber yang ada.

Agregasi

Chainlink menggunakan sistem agregasi untuk menghimpun data dari node, baik itu mengambil berdasar sumber tertentu, mengeliminasi data dengan sumber kurang terpercaya, atau bahkan memperolehnya dari berbagai sumber.

Baca Juga: Ketahui Apa Itu Blockchain dan Pemanfaatannya di Berbagai Industri

Reputasi

Untuk memperkuat keamanan dan kepercayaan pada sistemnya, Chainlink berkomitmen untuk menjaga reputasi dengan mengukur sebuah node dengan berbagai aspek, diantaranya riwayat kinerja, total tugas yang diselesaikan, jumlah permintaan, total pinalti, hingga tingkat waktu responnya.

Pembayaran penalti

Smart contract yang memungkinan penalti untuk menjamin kesesuaian pengumpulan data berdasarkan kontrak. Penalti ini berupa asuransi jaminan apabila terjadi kekeliruan dalam menginput data.

Sertifikat Pelayanan

Pemberian sertifikat pelayanan ini merupakan sebuah fitur menarik yang diberikan kepada Oracles yang dinilai terpercaya. Hal ini akan menjadi bukti betapa hebat dan bagusnya penyedia tersebut dalam menjamin keamanan.

Itulah penjelasan singkat mengenai arti dan juga cara kerja aset kripto ini dan juga token LINK yang memiliki fitur-fitur menarik. Ikuti informasi seputar Chainlink dan aset kripto lainnya di Tokonews. Gabung juga dalam komunitas Discord Tokocrypto dan mulai investasi serta trading kripto di Tokocrypto sekarang!



Sumber : news.tokocrypto.com

AOA Coin, Aset Digital yang Menguntungkan

AOA coin adalah aset kripto P2P yang dikembangkan di Islandia. Selain itu, aset kripto ini merupakan salah satu aset kripto yang tak hanya menawarkan harga terjangkau, namun juga bisa memberikan jaminan keuntungan. 

Banyak pegiat kripto yang tidak bisa membeli Bitcoin akhirnya beralih membeli aset kripto ini sebagai alternatif investasi. Apa saja yang ditawarkan dari aset kripto satu ini? Lalu bagaimana cara membeli aoa coin? Simak artikel di bawah ini!

Menjadi salah satu protokol blockchain

AOA atau Aurora adalah salah satu protokol blockchain. Artinya, mereka bisa dimanfaatkan untuk membuat token serta ekosistem blockchain seperti Bitcoin dan Ethereum. AOA juga mengeluarkan aset kripto berupa koin bernama AOA coin yang menjadi jawaban atas permasalahan sistem keuangan di negara Islandia. 

Aset kripto satu ini telah muncul sejak 2014 lalu dan diciptakan oleh seseorang dengan nama samaran Baldur Friggjar Insson atau Odinson dan hadir sebagai alternatif di Islandia untuk Bitcoin. Melalui database di Islandia, tercatat bahwa sang pencipta aset kripto ini sudah mendistribusikan AOA Coin untuk 330.000 orang. Kemudian pada 2021 lalu, aset kripto ini berada di peringkat ke-738 sebagai salah satu aset kripto yang jumlahnya sudah mencapai ribuan.

Baca juga: Yuk, Kenalan dengan Mata Uang Digital Populer di Indonesia!

Teknologi yang Ditawarkan oleh AOA/Aurora

Sama halnya dengan Bitcoin dan Ethereum, Aurora Chain juga menawarkan teknologi yang canggih dan pintar. Aurora Chain sendiri memiliki sebuah slogan dan misi untuk membangun dunia blockchain yang indah serta penuh warna layaknya aurora. 

Agar Aurora chain bisa meraih misi tersebut, mereka membuat rangkaian solusi untuk memecahkan masalah blockchain.

Teknologi yang mereka tawarkan adalah :

  1. Mekanisme konsensus proof-of-stake (POS), 
  2. Toleransi Patahan Bizantium (BFT), 
  3. Peer to peer stereo net
  4. Intelligent application isolation
  5. Multi-chain asset launching dan parallel operation
  6. Upgradeable blockchain, dan juga 
  7. Pengelompokan kluster untuk mewujudkan TPS dengan keamanan tinggi dan tanpa batas.

Dengan teknologi yang ditawarkan, AOA Coin bisa memberikan platform pintar yang mampu melakukan ekspansi paralel multi-chain.

Hal ini berguna untuk menciptakan TPS yang aman serta berkualitas. Selain itu, Aurora Coin juga bisa menyederhanakan prosedur peluncuran aset, mempercepat proses, serta memperluasnya. 

Terakhir, teknologi upgradeable blockchain-nya dapat mendukung peningkatan dan pengelompokan teknologi. Karena itulah AOA Coin bisa melakukan verifikasi transaksi serta menurunkan biaya pengguna supaya mereka dapat menyimpan data.

Baca juga: Yuk Kenali Blockchain Beserta Cara Kerja dan Manfaatnya

Apakah Permasalahan Blockchain yang Ingin AOA Benahi?

ilustrasi blockhain di web3

Teknologi yang sudah dibuat oleh Aurora Chain tentunya bukan tanpa tujuan. Mereka ingin menjawab permasalahan blockchain

Beberapa permasalahan yang Aurora Chain selesaikan adalah 

Industri Video Game

Aurora Coin berharap bisa mengintegrasikan mata uang, data, serta aturan game dengan blockchain. Segalanya akan mengalami tokenized sebagai bagian dari perekonomian yang terbuka. 

Kecerdasan Buatan

Dalam lingkup kecerdasan buatan, AOA Coin ingin menghubungkan keamanan data serta sinergi. Hal ini dilakukan dengan menjauh dari konsep jaringan terpusat. 

Internet of Things (IoT)

Aurora juga ingin menjadi pondasi dari sistem IoT yang terdesentralisasi, dengan demikian akan mendapatkan untung dari transaksi serta kolaborasi antar perangkat yang terhubung.

Big Data

Lalu, terakhir adalah permasalahan big data. AOA Coin hadir untuk melakukan peningkatan keamanan serta manajemen data.

Meski tidak semahal harga Bitcoin, AOA Coin juga bisa menjamin keuntungan bagi Anda, lho. Agar untung yang didapat bisa maksimal, pelajari lebih lanjut soal berbagai aset kripto lainnya di Tokocrypto.

Pastikan pula untuk followInstagram dan Twitter Tokocrypto agar tak ketinggalan update terkini seputar dunia kripto. Jangan lupa bergabung juga dalam komunitas Discord Tokocrypto  dan mulai berinvestasi serta trading kripto di Tokocrypto!





Sumber : news.tokocrypto.com

Harga Aset Kripto Mulai Bangkit dari Keterpurukan, Apa Penyebabnya?

Mayoritas harga aset kripto terlihat bersinar pada Selasa (21/6). Namun, lonjakan harga ini belum cukup untuk memulihkan kapitalisasai pasar kripto dari kejatuhan yang terjadi pada akhir pekan lalu.

Kapitalisasi market kripto mengalami reli singkat dalam 24 jam terakhir, naik sekitar 9,7% setelah akhir pekan yang sulit yang melihat harga beberapa koin anjlok sebanyak 15%. Hal itu terlihat dari nilai Bitcoin pada perdagangan Selasa (21/6) pukul 11.00 WIB yang masih di level US$ 20.655, meski sebelumnya sempat menyentuh US$ 30.000.

Dari pantauan CoinMarketCap, Solana (SOL) dan Ethereum (ETH) memimpin kenaikan di antara 10 koin teratas berdasarkan kapitalisasi pasar dengan kenaikan 9%, sementara Cardano (ADA) dan Polkadot (DOT) naik 7%. Di luar 10 besar, Avalanche (AVAX) melonjak 14%, Polygon (MATIC) bertambah 12% dan ApeCoin (APE) naik 16%.

Ilustrasi aset kripto Solana (SOL).
Ilustrasi aset kripto Solana (SOL).

Baca juga: Cuitan Elon Musk tentang DOGE Masih Bertuah

Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, melihat sebagian besar kenaikan harga kripto datang di tengah lonjakan pasar ekuitas yang lebih luas, karena pasar AS tetap tutup untuk libur nasional di AS. Kesempatan ini ternyata dimanfaatkan oleh investor whales yang memutuskan memborong aset kripto atau buy the dip ketika harganya sedang turun.

“Beberapa analis menduga, aksi whales tersebut didorong oleh data historis yang menunjukkan bahwa investor jangka panjang akan mendapat cuan, jika melakukan buy the dip. Aksi whales tersebut setidaknya bisa menopang laju harga aset kripto dalam jangka pendek,” kata Afid.

Lebih lanjut Afid, menjelaskan bahwa sebagian besar investor kakap percaya titik US$ 20.000 sebagai level support BTC baru yang perlu dipertahankan. Sebab, mereka beranggapan bahwa BTC sudah oversold berlebihan.

Ilustrasi market aset kripto.
Ilustrasi market aset kripto.

Baca juga: Apa Itu Kripto Streamr (DATA) dan FC Barcelona Fan Token (BAR)?

“Pergerakan pasar seperti itu adalah peluang yang baik untuk trader harian, tetapi tidak bagi investor jangka panjang yang bertujuan untuk mengurangi risiko. Market kripto juga sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar global, dan ketika itu berubah, aset akan bergerak jauh lebih cepat daripada pasar lain,” jelasnya.

Sentimen negatif untuk pasar kripto sejatinya masih belum kondusif menyusul maraknya ketidakpastian ekonomi, seperti tingkat inflasi, ancaman resesi ekonomi, hingga kenaikan suku bunga acuan The Fed. Sinyal lainnya, juga muncul dari data pasar derivatif BTC. Sebab, return di produk BTC berjangka ternyata kini lebih kecil dari pasar spot untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir.

“Saya tidak melihat Bitcoin dengan cepat kembali ke level tertinggi sepanjang masa. Kita mungkin harus bersiap untuk ketidakpastian jangka panjang selama musim dingin kripto,” pungkas Afid.



Sumber : news.tokocrypto.com

Mengenal Monero (XMR) dan Fitur-Fiturnya yang Menarik

Berbicara tentang kripto, sulit untuk dilepaskan dari Bitcoin selaku salah satu aset kripto yang popularitasnya telah diakui oleh dunia. Namun, kini ada aset kripto lain yang punya potensi untuk menyaingi kehebatan Bitcoin dengan sejumlah fitur yang menawarkan lebih banyak privasi, yakni Monero (XMR). 

Seperti apa aset kripto Monero (XMR), keunikan, harga, dan bagaimana cara mendapatkannya? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!

Apa Itu Monero?

Monero adalah aset kripto yang dibangun berdasarkan prinsip tidak terhubung dan tidak terlacak. Aset kripto yang satu ini sebenarnya hasil fork dari aset kripto Bytecoin (BCN)

Bytecoin sendiri merupakan hasil implementasi dari CryptoNote yang dirilis pertama kali pada 2018 lalu. 

CryptoNote adalah aplikasi yang mewadahi berbagai aset kripto termasuk Bytecoin. Kemudian, dalam perjalanannya, Bytecoin mengalami masalah saat seluruh koinnya sudah didistribusikan.

Menanggapi masalah tersebut, Bytecoin kemudian melakukan fork untuk membuat proyek kripto baru dan berganti nama menjadi 

Bitmonero hingga kini menjadi Monero. Para pengembangnya sendiri terdiri dari tujuh orang, lima di antaranya belum mengungkapkan identitas aslinya, sedangkan dua lainnya adalah Riccardo Spagni atau yang dikenal sebagai Fluffypony dan David Latapie.

2 Keunikan Monero

Dibandingkan dengan berbagai jenis aset kripto lainnya, Dalam algoritma CryptoNote aset kripto satu ini menghadirkan fitur-fitur baru yang unik. 

Berikut dua fitur yang bisa jadi bahan pertimbangan Anda saat ingin mulai berinvestasi di dunia kripto, yaitu:

1. Bersifat fungible

Keunikan yang cukup memberikan perbedaan signifikan antara Monero dengan berbagai aset kripto lainnya adalah sifatnya yang fungible. Bagaimana maksudnya? Jadi, koin Monero memungkinkan untuk ditukar dengan koin lainnya tanpa perlu menilik riwayat transaksi sebelumnya yang mungkin digunakan untuk membeli barang-barang tertentu.

2. Menjunjung privasi

Keunikan lainnya dari aset kripto ini adalah privasinya yang sangat dijunjung tinggi. Berbeda dengan Bitcoin yang bisa ternoda reputasinya ketika dipakai untuk bertransaksi atas barang-barang ilegal, riwayat transaksi yang dilakukan dengan blockchain Monero tidak akan ditampilkan. 

Jadi, pemilik aset kripto ini tetap memiliki harga tukar yang sama meski sebelumnya sudah pernah digunakan untuk bertransaksi atas barang tertentu,  sebab tidak ada penurunan nilai hingga membuat koin menjadi ternoda.

Hal ini bisa berjalan pada protokol Monero dikarenakan menerapkan ring signature dan stealth address. Dalam membuat ring signature, aset kripto ini memanfaatkan kombinasi private keys juga public keys, sehingga tidak akan terungkap identitas seseorang yang menandatangani dan melakukan validasi transaksi. 

Selain itu, Monero menambah privasi dengan stealth address. Jika ring signature membantu seorang validator tidak terlacak, maka stealth address bisa membantu agar alamat tujuan dan penerima aset kripto tidak terdeteksi.

Perkembangan Harga Monero dari Waktu ke Waktu

konsep microscopic monero

Sebagai salah satu aset kripto, aset kripto ini memiliki perkembangan harga yang cukup baik dari waktu ke waktu. Pada Agustus 2020, harga Monero mencapai 89,12 USD dengan kapitalisasi pasar 1,58 miliar USD. Sementara itu, pada 2021, harganya telah berhasil mengalami kenaikan hingga 295,05 USD dengan kapitalisasi pasar 5,3 miliar USD.

Kemudian memasuki tahun 2022, harga XMR kembali meroket pada akhir bulan Maret hingga awal bulan April mengutip Bein Crypto. Setelah sebelumnya mengalami keterpurukan pada bulan Februari dengan mencatat harga senilai 132,1 USD saja per kepingnya, XMR mengalami peningkatan harga hingga 272 USD pada 12 April. Fantastis, bukan?

Selayaknya aset kripto pada umumnya, XMR juga mengalami koreksi tidak lama setelah peningkatan tersebut. Sampai artikel ini ditulis, harga koin yang menduduki peringkat ke-27 di berdasarkan kapitalisasi pasar ini per kepingnya memiliki nilai 127,02 USD per tanggal 14 Juni 2022.

Cara untuk Mendapatkan Monero

Setelah mengetahui lika-liku, keunikan, dan perkembangan harga aset kripto Monero (XMR) dari waktu ke waktu, kini saatnya Anda mengetahui bagaimana cara mendapatkan Monero. Koin ini bisa Anda peroleh dengan cara membelinya di broker kripto atau dengan menambangnya (mining). Berikut penjelasan selengkapnya!

Membeli

Jika Anda memilih untuk membeli aset kripto Monero (XMR), pastikan untuk membelinya di bursa atau exchange kripto tepercaya yang sudah mengantongi izin resmi dari pemerintah, yaitu Bappebti di Indonesia. Selain itu, Anda juga bisa membelinya lewat penjual yang melakukan transaksi jual-beli kripto secara perorangan atau lewat ATM yang telah diintegrasikan dengan kripto.

Menambang

Opsi lain yang bisa Anda lakukan jika ingin memiliki aset kripto ini adalah dengan melakukan mining atau penambangan. Artinya, Anda bisa mendapatkan koin Monero Anda sendiri dengan mengandalkan perangkat komputer dan beberapa hardware serta software lainnya. 

Namun, tak perlu khawatir, untuk melakukan mining Monero (XMR), Anda tak perlu perangkat komputer khusus dan canggih seperti saat melakukan penambangan Bitcoin. Beberapa software mining Monero yang banyak digunakan antara lain MinerGate, CC Miner, dan XMR Stak.

Baca juga: Tertarik Litecoin Mining? Ini Dia Caranya Buat Kamu Pemula!Itulah perkenalan singkat dengan aset kripto satu ini yang memiliki fitur-fitur istimewa berkat sifatnya yang fungible dan privasinya yang terjaga. Ikuti informasi seputar Monero dan aset kripto lainnya di Tokonews. Gabung juga dalam komunitas Discord Tokocrypto dan mulai investasi serta trading kripto di Tokocrypto sekarang!



Sumber : news.tokocrypto.com

Cuitan Elon Musk tentang DOGE Masih Bertuah

Meski saat ini industri kripto mengalami kerugian dan keseluruhan kapitalisasi pasarnya turun menjadi US$ 830 miliar, namun CEO Tesla dan Space X, Elon Musk, tetap menyatakan dukungannya untuk Dogecoin.

Pada 19 Juni 2022 dia mencuit “I will keep supporting Dogecoin”. Cuitannya itu cukup untuk membuat DOGE melonjak 8% menjadi $0,058.

Tentu saja, kenaikan 5,8 sen ini sangat jauh bila dibandingkan dengan penurunan 72 sen yang dialami Dogecoin sesaat setelah Musk menjadi pembawa acara “Saturday Night Live”. Musk saat itu hadir dan memperkenalkan diri sebagai The Doge Father.

Elon pertama kali mencuit soal Doge pada April 2019. Dia menulis “Doge kemungkinan menjadi mata uang kripto favorit saya. Keren banget lah”.

Sejak itu, cuitannya menjadi viral dan menjadi perbincangan. Dampaknya Doge melejit dari semula kurang dari US$ 0,01 pada Januari 2021 menjadi US$ 0,73 pada 8 Mei 2021 yang merupakan rekor tertingginya.

Baca juga: Apa Itu Kripto Streamr (DATA) dan FC Barcelona Fan Token (BAR)?

Beberapa minggu yang lalu, Musk mengumumkan bahwa SpaceX akan menerima Dogecoin sebagai pembayaran sejumlah merchandise-nya. Dia juga melontarkan ide, setelah mengakuisisi Twitter, menambahkan Dogecoin sebagai metode pembayaran untuk mendapatkan akses premium seperti Twitter Blue.

DOGE/USDT 1 day. Tradingview

Merujuk harga di coinmarketcap pada saat artikel dibuat, Dogecoin berada di kisaran US$ 0,059464 dengan volume perdagangan 24 jam sebesar US$ 1,151,410,669, dan kapitalisasi pasar US$ 7.889.098.705.

Baca juga: Bos Binance: Secara Historis Siklus 4 Tahun, Sekarang adalah Bearish





Sumber : news.tokocrypto.com

Aktivitas Whale Bitcoin Tunjukkan Adanya Lompatan ke Level Tertinggi

Aktivitas dari investor whale Bitcoin (BTC), telah mengalami lonjakan hingga ke level tertinggi 4 bulan. Hal ini, lantaran pihak whale diketahui memborong aset BTC yang harganya mengalami penurunan. Aksi “Buy the Dip” tersebut, dilakukan saat harga BTC mendekati level USUS$20.000, di mana harga saat ini sudah berada di bawah level tersebut.

Dari laporan perusahaan analitik IntotheBlock, aliran masuk besar dari whale mulai terlihat pada bulan Februari lalu, yang manaa pada minggu ini telah ada 116.000 BTC yang diborong senilai US$ 2,5 miliar dalam sehari.

Dilansir dari media cryptoglobe.com. hal ini merujuk pada pembentukan bottom baru bagi harga Bitcoin, dikarenakan pembelian besar ini merujuk pada koreksi pasar yang terus mencetak level harga rendah. Meski sudah ada aksi pump, harga BTC masih terus bergerak lebih rendah dari US$20.000. Pasalnya, kondisi global masih memaksa para pemegang yang merugi untuk menutup posisi mereka.

Baca juga: Tak Hanya FOMO, Pahami Juga Istilah FUD dalam Dunia Kripto

Menurut data dari Glassnode, whale tampak cenderung menjual “saat harga tinggi” dan membeli “saat harga rendah”. Aktivitas tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah dompet dengan saldo BTC minimal 10.000 koin di saat harga crypto utama ini terus tersungkur jatuh.

Robert Kiyosaki, seorang pengarang buku best seller “Rich Dad Poor Dad” mengatakan bahwa kejatuhan harga BTC adalah peluang besar bagi investor untuk menjadi kaya.

“Ada baiknya untuk kita membeli banyak emas, perak dan Bitcoin karena AS dalam pandangannya akan terhantam resesi.” ungkap Robert, Sabtu (19/6/).

Ia menilai kejatuhan BTC adalah berita bagus, karena ia menunggu harganya jatuh di bawah US$ 20.000 untuk memborongnya dalam jumlah besar. 

Sementara itu, Pendiri Dogecoin Billy Markus menyatakan bahwa pasar kripto pun pada akhirnya akan kembali bangkit, dalam rentang empat tahun, atau pasca Halving terbaru. Lantaran. seperti itulah siklus yang biasa terjadi di pasar kripto. 

Baca juga: Prediksi Harga Bitcoin 2022: Analisa BTC Mingguan

Terbukti hingga halving terakhir di tahun 2020, dan harga melesat kuat di tahun 2021.

Kendati demikian, kedua pihak ini setuju bahwa kejatuhan harga adalah “momen” terbaik untuk berinvestasi karena harga pada akhirnya akan melesat lagi ke ATH-nya, bahkan mencetak yang baru, jika melirik sejarah pergerakan harga.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Bos Binance: Secara Historis Siklus 4 Tahun, Sekarang adalah Bearish –

Pendiri dan bos Binance, Changpeng Zhao, berkata musim bearish bagi pasar kripto dapat bertahan untuk waktu lama. Hal tersebut diutarakan Zhao di tengah kondisi pasar yang menghadapi longsor harga besar saat ini.

Pandangan Bos Binance 

CEO Binance tersebut menjelaskan industri kripto umumnya mengalami siklus empat tahun yang terdiri dari dua tahun tren bullish disusul oleh dua tahun tren bearish.

Selama tujuh bulan terakhir, kapitalisasi pasar kripto mengalami penurunan valuasi sebesar US$ 2 triliun. Akibatnya, kapitalisasi kripto mencapai di bawah US$1 triliun.

Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin (BTC), termasuk yang mengalami longsor tajam. BTC menurun 56 persen dibanding awal tahun 2022 dan mencapai harga di bawah harga rekor sebelumnya pada bull market tahun 2017, yakni US$20 ribu.

Baca juga: Kenalan dengan SpookySwap, DEX Terbesar dalam Jaringan Fantom

Perusahaan data kripto Glassnode berkata harga BTC dapat turun lebih lanjut sebesar 64 persen. Bila hal tersebut terjadi, BTC akan diperdagangkan pada harga di bawah US$10 ribu.

Kendati pasar kripto sedang menghadapi panik massal, Zhao tetap percaya diri dan menghimbau investor kripto untuk bersikap positif.

“Saya tidak membantah kondisi sekarang merupakan bencana yang buruk. Tetapi ketika bencana terjadi, ada pula peluang yang terbuka,” jelas CEO Binance tersebut, dikutip dari Watcher Guru.

Zhao menambahkan, peluang tersebut mencakup munculnya sosok-sosok terbaik di industri serta perusahaan dengan potensial besar yang diambil alih dengan valuasi murah.

Sikap Zhao yang positif menjelaskan keputusan Binance untuk membuka lowongan bagi dua ribu posisi di bursa kripto global tersebut. Di saat yang sama, beragam bursa kripto lainnya seperti Coinbase mengumumkan kebijakan untuk memPHK sebagian karyawan dikarenakan kondisi pasar lesu.

Baca juga: Bank Terbesar Rusia Bersiap Fasilitasi Transaksi Uang Digital

Bursa Binance tidak bebas dari masalah ketika harga kripto berjatuhan. Penarikan Bitcoin di bursa tersebut ditangguhkan sementara ketika terjadi transaksi yang tersangkut pada bursa. Tidak lama kemudian, penarikan BTC berjalan normal kembali.

Binance turut mengalami kemajuan dan kemitraan selama beberapa pekan terakhir. Belum lama ini, Binance mengumumkan Triple A mengaktifkan jalur pembayaran kripto global bagi Binance Pay.

Selain itu, Binance mengumumkan dana sebesar US$500 juta yang akan digunakan untuk mendanai proyek-proyek web 3.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Potensi Industri Aset Kripto di Indonesia saat Bear Market

Market  kripto diketahui tengah dalam fase bearish, namun industri aset kripto di Indonesia masih memiliki potensi yang cukup besar. Bappebti mencatat hingga April 2022, transaksi untuk aset kripto sudah mencapai Rp 160 triliun. Meski, angka tersebut jauh lebih kecil dibanding tahun lalu, lantaran beberapa nilai aset kripto mengalami penurunan. 

Sementara, jumlah investor aset kripto kini sudah mencapai 13,04 juta investor, masih jauh lebih besar dibandingkan investor saham. Sementara, jumlah pedagang aset kripto yang resmi terdaftar di Bappebti sudah mencapai 25 perusahaan, tumbuh dari 11 perusahaan di penghujung tahun 2021 lalu.

“Kami menyambut baik pertumbuhan jumlah calon pedagang aset kripto yang terdaftar resmi di Indonesia. Jika dari market atau masyarakat melihat akan semakin banyak kompetitor, namun kami melihat ini sebagai bukti bahwa industri kripto di Indonesia terus tumbuh dan sehat, serta punya potensi untuk berkembang, karena menarik banyak pemain untuk masuk ke industri ini,” jelas VP Growth Tokocrypto, Cenmi Mulyanto.

flag pattern chart
Ilustrasi market aset kripto.

Baca juga: Atur Strategi Investasi saat Market Aset Kripto Bearish

Prospek ke depan, industri kripto masih menjanjikan dan akan terus tumbuh, bersamaan dengan adopsi teknologi blockchain yang semakin luas. Kripto nantinya tidak akan dilihat lagi sebagai instrumen investasi, namun sebagai backbone ekosistem yang bisa menyelimuti banyak sektor.

Oleh karena itu, Tokocrypto tidak hanya fokus mengembangkan bisnis exchange yang sudah dimulai sejak 2017. Kami melebarkan lini bisnis dengan menciptakan ekosistem blockchain, TokoVerse, yang meliputi project kripto (TKO), NFT marketplace (TokoMall), program akselerator startup (TokoLabs), crypto hub (T-Hub), aplikasi edukasi (Kriptoversity) dan lainnya.

“Investor bisa melihat industri aset kripto di Indonesia lebih luas lagi. Dampaknya akan besar tidak hanya sebagai instrumen investasi, tetapi membangun industri blockchain yang bisa meliputi banyak sektor. Kami terus menguatkan edukasi dan literasi aset kripto dan ekosistem blockchain kepada masyarakat di segala golongan usia. Diharapkan fokus utama kami ini, bisa membuahkan hasil yang baik dan ciptakan trust kepada masyarakat,” jelas Cenmi.

Ilustrasi Tokocrypto
Ilustrasi Tokocrypto.

Baca juga: Kolaborasi Tokocrypto dan UKI Dirikan Pusat Inovasi dan Literasi Blockchain

Regulasi Kripto di Indonesia

Dalam laporan terbaru dari exchange global, Gemini, saat ini ada 41 persen dari total penduduk Indonesia yang memiliki aset kripto. 64 persen orang Indonesia juga percaya bahwa aset digital mampu melindungi nilai terhadap inflasi. Kemudian, ada lebih dari 60 persen orang Indonesia juga yang memercayai bahwa kripto adalah masa depan uang.

Di samping itu, dukungan regulasi dari pemerintah juga mendorong pertumbuhan industri aset kripto. Sebagaimana diketahui aset kripto telah diregulasi dan dinyatakan sebagai komoditas yangdiperdagangkan secara sah dan legal yang diatur oleh Bappebti. Kemudian, ada aturan perpajakan PMK 68 dari Kementerian Keuangan menambah legitimasi kripto di Indonesia.

“Tujuan utamanya adalah untuk memberikan keamanan hukum dan untuk melindungi kepentingan konsumen kripto Indonesia. Dibutuhkan dukungan seluruh ekosistem untuk membawa adopsi dan manfaat kripto dan blockchain kepada masyarakat,” pungkas Cenmi.

Baca juga: Market Awal Pekan: Nilai Bitcoin Rebound Setelah Terpuruk Ditekan Inflasi



Sumber : news.tokocrypto.com

Hashing Adalah Istilah dalam Mining Aset Kripto

Saat terjun dalam dunia kripto, ada beragam istilah yang perlu Anda ketahui selaku investor aset kripto. Salah satu istilah yang perlu Anda pahami adalah hash atau hashing. Hashing adalah istilah yang digunakan untuk proses penambangan (mining) atau pembuatan aset kripto.

Cara ini dilakukan agar dapat menciptakan ekosistem transaksi yang aman dan tidak mudah diubah dalam jangka waktu permanen. Lantas, apa itu hashing, apa saja komponen, jenis-jenis, dan penggunaannya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini!

Apa Itu Hashing?

Sebelum beranjak pada pengertian hashing, pahami dahulu apa yang disebut sebagai hash. Hash adalah kode yang dipakai untuk mewakili sebuah pesan, kata, atau data. Kode ini mempunyai dua karakteristik. Pertama, sebuah kode input akan selalu menghasilkan output yang sama. Kedua, sebuah kode hash tidak bisa digunakan untuk mengembalikan output menjadi input.

Apa Bedanya Hashing dan Encryption?

Hash sering kali disamakan dengan enkripsi. Padahal, keduanya memiliki arti dan fungsi yang berbeda. Lain halnya dari hash yang hanya dapat bekerja satu arah, enkripsi dapat melakukan fungsinya secara dua arah. Itulah yang menjadi perbedaan mendasar antara enkripsi dan hash.

Di sisi lain, hashing adalah proses memasukkan rumus matematika sebagai input agar dapat menghasilkan satu output yang sama untuk setiap input tersebut. Rumus matematika yang digunakan dalam proses hashing ini kemudian disebut sebagai hash function. Hashing dilakukan untuk mencegah duplikasi dan peretasan terhadap data dalam database.

Baca juga: Berikut Jenis Asic Miner yang Bisa Dipakai Untuk Mining Aset Kripto!

Komponen pada Proses Hashing

ilustrasi hashing

Untuk melakukan proses hashing, ada beberapa komponen yang harus dimiliki. Tiga komponen tersebut di antaranya data masukan, hash function, dan digest yang akan diuraikan dalam penjelasan berikut ini.

  1. Data masukan

Komponen pertama yang wajib ada saat akan melakukan proses hashing adalah data masukan atau input. Ada beragam data yang bisa menjadi input, seperti video, teks, password, file, dan sebagainya. Apa pun jenis datanya, yang terpenting itu adalah data biner.

  1. Hash function

Setelah mempunyai data masukan, diperlukan adanya hash function yang akan mengubah data-data inputan tersebut menjadi output yang sama untuk satu input data. Hash function dalam proses hashing ini terbagi dalam beberapa jenis. Akan tetapi, semuanya akan menghasilkan output yang sama untuk satu input yang sama pula.

  1. Hash values atau digest

Terakhir, dalam melakukan proses hashing yang disertai dengan data masukan dan hash function, ada yang disebut sebagai hash values atau digest. Ini juga dikatakan sebagai hasil akhir (output) data setelah diinput dan diproses menggunakan fungsi hash (hash function).

Jenis-jenis Hash Function dan Penggunaannya

Ada beragam jenis hash function untuk melakukan proses hashing. Beberapa fungsi hash yang paling banyak digunakan adalah MD, RIPEMD, dan SHA. Seperti apa ketiga hash function tersebut? Berikut penjelasan lengkapnya!

  1. MD

Hash function pertama yang paling banyak digunakan adalah MD. Fungsi ini pertama kali digunakan pada 1990 setelah diciptakan oleh Ronald Rivest. Fungsi hash MD kemudian terus mengalami perbaikan hingga terbagi lagi dalam beberapa fungsi, seperti MD4 dan MD5.

  1. RIPEMD

Hash function RIPEMD diciptakan oleh Hans Dobbertin dan memiliki algoritma sepanjang 160 bit. Fungsi ini dapat mengatasi transaksi Bitcoin yang tertunda. Meski demikian, performanya tak lebih dari SHA, apalagi SHA-256.

  1. SHA

SHA atau Secure Hashing Algorithm adalah fungsi yang dikembangkan oleh Badan Keamanan Nasional untuk proses tanda tangan digital dengan kecepatan awal 160 bit. Kemampuan ini terus ditingkatkan hingga terbagi dalam beberapa jenis fungsi, salah satunya SHA dengan kekuatan 256 bit.

Hashing adalah proses yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari, khususnya pada dunia kripto saat melakukan mining (penambangan). Proses ini dilakukan untuk mencegah adanya transaksi yang tertunda. 

Untuk mengetahui berbagai istilah lain yang terdapat dalam dunia kripto, Anda bisa mengikutinya di website, Instagram, dan Twitter Tokocrypto. Mari bergabung juga dalam komunitas Discord Tokocrypto. Jangan lupa juga untuk mulai berinvestasi dan trading kripto melalui Tokocrypto!





Sumber : news.tokocrypto.com