Tag Archives: jawa

11 Wisata Sekitar Candi Prambanan, Spot Berenang-Lihat City Light


Jakarta

Candi Prambanan termasuk objek wisata yang kerap dikunjungi bukan hanya oleh wisatawan lokal tetapi juga turis mancanegara. Lokasinya berada di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dan berbatasan dengan Klaten di Jawa Tengah.

Prambanan menjadi candi bercorak Hindu terbesar di Tanah Air dan diyakini dibangun sekitar abad ke-9. Meski termasuk wisata sejarah, berbagai pertunjukan seni dan acara seperti Sendratari Ramayana, konser musik, hingga event olahraga lari sering diadakan di kompleks Candi Prambanan.

Selain itu, di sekitar Prambanan juga terdapat banyak destinasi wisata menarik yang sayang dilewati saat berkunjung ke sana. Apalagi kalau traveler berasal dari luar kota. Jadi, apa saja wisata yang ada di sekitar Candi Prambanan?


Daftar Wisata Sekitar Candi Prambanan

Merangkum dari Google Review, berikut deretan objek wisata di sekeliling Candi Prambanan yang patut didatangi:

1. Keraton Ratu Boko

Ratu BokoRatu Boko (Putu Intan/detikcom)
  • Lokasi: Jl. Raya Piyungan-Piyungan, Bokoharjo, Prambanan, Sleman, DIY
  • Jam Buka: Setiap hari, 07.00 – 17.00 WIB
  • Harga Tiket Masuk: Rp 20.000-85.000

Keraton Ratu Boko kerap disebut Candi Ratu Boko, padahal situs ini merupakan reruntuhan sebuah kerajaan. Menurut riwayat, situs ini adalah istana Ratu Boko, ayah Lara Jonggrang. Keraton Ratu Boko diperkirakan dibangun pada abad ke-8.

Di sana terdapat kompleks Ratu Boko mencakup gerbang ikonik, teras, dan sisa-sisa bangunan istana. Selain itu terhampar taman luas yang memiliki panorama cantik.

Kompleks Ratu Boko berada sekitar 3 km di selatan Candi Prambanan. Lokasinya dapat diakses melalui Jalan Laksda Adisucipto dan Jalan Raya Solo-Yogya ke arah timur. Di persimpangan Pasar Prambanan ambil Jalan Prambanan-Piyungan, sekitar 3 km dari sana akan ada penunjuk jalan ke Ratu Boko yang terletak di bukit sebelah kiri.

2. Tebing Breksi

Sandiaga awalnya meninjau lokasi di Tebing Breksi yang memajang beberapa produk UMKM dari BUMDes Sambi Mulyo.Tebing Breksi (Kemenparekraf)
  • Lokasi: Jl. Desa Lengkong, Sambirejo, Prambanan, Sleman, DIY
  • Jam Buka: Setiap hari, 08.00 – 21.00 WIB
  • Harga Tiket Masuk: Rp 10.000

Tebing Breksi dulunya merupakan bekas pertambangan batu. Susunan batuan di sana telah terbentuk sejak jutaan tahun lalu. Selain dikembangkan menjadi tempat wisata, lokasi ini juga menjadi laboratorium alam untuk kepentingan pendidikan.

Pagelaran seni hingga event musik kerap diselenggarakan di Tebing Breksi. Selain itu, traveler dapat menyaksikan pemandangan elok dari ketinggian seperti Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Candi Prambanan, dan Keraton Ratu Boko di arah utara serta Kota Jogja dan landasan pacu Bandara Adisucipto di arah barat.

Dari Candi Prambanan, Tebing Breksi berjarak kisaran 6-7 km dengan waktu tempuh 15 menit.

3. Waterpark Galuh Tirtonirmolo

  • Lokasi: Jl. Manisrenggo, Tlogo, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah
  • Jam Buka: Setiap hari, 07.00 – 17.00 WIB
  • Harga Tiket Masuk: Rp 20.000

Di Waterpark Galuh Tirtonirmolo terdapat 12 kolam, mulai kolam renang dewasa dan anak hingga kolam kuda laut. Ada juga banyak papan seluncur dan air mancur. Selain itu, traveler dapat menemukan berbagai wahana seperti flying fox, bombom car, sampai kereta gantung.

Lokasinya berjarak 1,5 km dari Candi Prambanan sehingga cukup dicapai dalam 5 menit menggunakan kendaraan.

4. Candi Sewu

Candi SewuCandi Sewu (Rudi Chandra/d’Traveler)
  • Lokasi: Jl. Raya Solo-Yogyakarta, Bugisan, Prambanan, Klaten, DIY
  • Jam Buka: Setiap hari, 08.00 – 17.00 WIB
  • Harga Tiket Masuk: Rp 20.000-40.000

Kata ‘sewu’ dalam bahasa Jawa berarti seribu. Candi ini dikaitkan dengan legenda Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Yang mana Bandung Bondowoso diminta membuat 1.000 candi dalam waktu semalam jika hendak menjadikan Roro Jonggrang sebagai istri.

Meski begitu, traveler hanya akan menemukan sekitar 249 candi di kompleks candi bercorak Buddha yang telah ada sejak abad ke-8 ini. Kompleks Candi Sewu terletak sekitar 800 meter di utara Candi Prambanan dan bisa dicapai dalam waktu hanya beberapa menit.

5. Bukit Bintang

Bukit Bintang di YogyakartaView dari Bukit Bintang Yogyakarta (ivan satriyadi pratama/d’traveler)
  • Lokasi: Jl. Jogja-Wonosari, Patuk, Gunung Kidul, DIY
  • Jam Buka: Setiap Hari, 24 jam
  • Harga Tiket Masuk: Gratis

Bukit Bintang termasuk spot nongkrong di Jogja yang terkenal dengan panoramanya. Dari ketinggian, traveler dapat menyaksikan citylight Yogyakarta yang cantik di malam hari. Di sekitar sini terdapat banyak kafe dan warung yang menjual aneka jajanan.

  • Pemandangan hijau dari atas di pagi hari juga tidak kalah cantik kok. Bahkan bisa melihat panorama Gunung Merapi dan Merbabu serta aktivitas pesawat di Bandara Adisucipto.Bukit Bintang berada 14 km dari Candi Prambanan dan bisa dicapai dalam waktu 23-25 menit.

6. Blue Lagoon Jogja

Pemandian dengan Air Berwarna Hijau Kebiruan di Blue Lagoon Jogja.Kolam alami Blue Lagoon Jogja dengan air jernih berwarna hijau kebiruan (Fida Afra’ Effendi/detikcom)
  • Lokasi: Desa Widodomartani, Ngemplak, Sleman, DIY
  • Jam Buka: Setiap Hari, 06.00 – 17.00 WIB
  • Harga Tiket Masuk: Rp 15.000

Kalau ingin berenang juga bisa ke Blue Lagoon Jogja. Kolam di sini bersumber dari mata air alami sehingga airnya segar dan jernih plus bersih. Meski berada di dekat permukiman warga, lokasinya masih asri dan adem dengan dikelilingi pepohonan dan bebatuan.

Dari Candi Prambanan, Blue Lagoon Jogja berjarak 11 km dengan waktu tempuh sekitar 20 menit.

7. Obelix Hills

Obelix HillsObelix Hills (dok. Obelix Hills)
  • Lokasi: Dusun Klumprit, Wukirharjo, Prambanan, Sleman, DIY
  • Jam Buka: Setiap Hari, 10.00 – 21.00 WIB
  • Harga Tiket Masuk: Rp 25.000-30.000

Sejumlah spot foto Instagramable dapat ditemukan di Obelix Hills, muulai ayunan langit, Eagle Nest, Sky Deck, hingga Pottery Cave. Lokasinya berada di ketinggian juga menawarkan pemandangan cantik Kota Jogja sekaligus sunsetnya.

Ada resto outdoor dengan berbagai menu lezat di sini. Yang paling epic, panggung live musicnya membelakangi panorama sehingga traveler bisa menonton performance with the view. Obelix Hills berjarak kisaran 10 km dari Candi Prambanan dan dapat dicapai dalam waktu 25 menit.

8. Candi Plaosan Lor

Candi Plaosan Lor di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, KlatenCandi Plaosan Lor di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten (Achmad Hussein Syauqi/detikcom)
  • Lokasi: Jl. Candi Plaosan, Bugisan, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah
  • Jam Buka: Setiap Hari, 07.30 – 16.30 WIB
  • Harga Tiket Masuk: Rp 2.000-10.000

Situs candi ini terdiri dari dari Candi Plaosan Lor di utara dan Candi Plaosan Kidul di selatan serta mandapa atau bangunan yang digunakan untuk ritual. Jarak antar kedua candinya sekitar 200 meter dan di sekelilingnya terdapat 58 candi pendamping serta 194 stupa.

Candi bercorak Buddha ini dibangun pada awal abad ke-9 dan berlokasi kurang lebih 3 km dari Candi Prambanan dengan waktu tempuh 5 menit.

9. Waterboom Jogja

Keseruan para pengunjung yang sedang berenang di Waterboom Jogjga.Waterboom Jogjga. (Instagram @waterboomjogja)
  • Lokasi: Jl. Jenengan Raya, Maguwoharjo, Depok, Sleman, DIY
  • Jam Buka: Setiap Hari, 09.00 – 16.00 WIB
  • Harga Tiket Masuk: Rp 85.000-90.000

Traveler bisa pula berenang di Waterboom Jogja. Tempatnya luas dan dilengkapi 19 wahana seru yang dapat dijajal traveler. Tidak hanya kolam renang, terdapat taman dipenuhi pepohonan hijau dan thematic park di sini. Ada juga museum air “Water for Life” yang menyediakan informasi tentang air hingga manfaatnya.

Dari Candi Prambanan, lokasinya berada sekitar 12-15 km dengan waktu tempuh kurang lebih 23-25 menit.

10. Gerbang Banyu Langit

  • Lokasi: Jl. Bintaran Kulon, Srimulyo, Piyungan, Bantul, DIY
  • Jam Buka: 08.00 – 18.30 WIB
  • Harga Tiket Masuk: Gratis

Gerbang Banyu Langit menyuguhkan suasana pedesaan yang asri dikelilingi pepohonan dan arsitektur bambu. Di sini terdapat taman, food court, kolam renang, hingga penyewaan kano.

Ada banyak spot foto ‘ndeso’ di sini, yang paling ikonik adalah gerbang bambunya yang menjulang tinggi. Dari Candi Prambanan, lokasinya berjarak 14 km dengan waktu tempuh 25 menit.

11. HeHa SkyView

Pemandangan dari Heha Skyview YogyakartaPemandangan dari Heha Skyview Yogyakarta (Pradikta Kusuma/d’traveler)
  • Lokasi: Jl. Dlingo-Patuk, Bukit, Patuk, Gunung Kidul, DIY
  • Jam Buka: 08.00 – 21.00 WIB
  • Harga Tiket Masuk: Rp 25.000

Di HeHa SkyView, traveler juga dapat menyaksikan panorama Kota Jogja dari ketinggian. Kecantikan sunset dan city light Jogja dari sini tidak boleh dilewatkan. Dapat ditemukan pula spot foto Sky Glass dan Sky Balloon. Untuk anak-anak terdapat area panjang tebing aman yang bisa dicoba.

Lokasi HeHa Skyview berada sekitar 15 km dari Candi Prambanan dengan waktu tempuh kisaran 30 menit.. Dari Tugu Jogja, letaknya sekitar 21 km dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam.

(azn/row)



Sumber : travel.detik.com

Misteri Alas Purwo, Hutan Tertua di Pulau Jawa



Banyuwangi

Alas Purwo tidak hanya dikenal karena keindahannya, tetapi juga berbagai mitos yang menyelimutinya. Mari sibak misteri hutan tertua di pulau Jawa ini.

Alas Purwo merupakan hutan lebat di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Hutan ini diyakini banyak menyimpan misteri gaib.

Oleh masyarakat setempat, hutan ini diyakini sebagai yang tertua di pulau Jawa, dan sering disebut sebagai gerbang menuju dunia gaib. Banyak cerita mistis yang menjadikannya salah satu tempat paling disegani di Nusantara.


Dilansir dari jurnal Universitas Islam Sunan Kalijaga berjudul Mitos Kerajaan Jin di Alas Purwo Banyuwangi Indonesia dalam Perspektif Teori Sakral dan Profan Emile Durkheim, yang ditulis Isnawi dan Indah Yulianti, Alas Purwo disebut memiliki aura mistis yang kuat.

Beberapa orang percaya Alas Purwo adalah tempat tinggal makhluk gaib, seperti genderuwo, jin, hingga setan. Ahli spiritual Banyuwangi Ki Joko Gondrong, menguatkan mitos ini dan menyarankan wisatawan untuk selalu waspada saat berkunjung ke hutan tersebut.

Alas Purwo disebut sebagai lokasi pertama yang dihuni manusia, tepatnya di Situs Kawitan. Tak hanya itu, di Alas Purwo terdapat gua Istana yang menjadi destinasi menarik dan wajib dikunjungi wisatawan.

Menurut cerita rakyat setempat, Gua Istana menjadi destinasi terkenal yang dipercaya sebagai tempat Ir Soekarno pernah bertemu Nyi Roro Kidul.

Tak jauh dari gua tersebut, terdapat pura yang sering digunakan untuk semedi. Pura ini sering dikunjungi untuk meditasi atau laku ritual spiritual.

Tempat ini dipercaya bisa memberikan energi-energi ketenangan batin. Kepercayaan akan nuansa mistis ini membuat masyarakat lokal mengingatkan pengunjung untuk berhati-hati. Sebab, melanggar aturan di hutan ini sering dikaitkan dengan kejadian mistis yang mengundang malapetaka.

Salah satu mitos yang berkembang di kalangan masyarakat adalah suara panggilan misterius di Alas Purwo. Jika mendengar suara memanggil, jangan langsung menengok ke belakang. Konon, menengok bisa membawa malapetaka atau membuat seseorang hilang secara gaib.

Hingga saat ini, masyarakat setempat masih percaya dengan mitos-mitos di Alas Purwo, meski tak sedikit juga yang bersikap sebaliknya.

Cara Menuju ke Alas Purwo

Untuk menuju ke Alas Purwo, traveler bisa memilih rute misalnya dari Kota Banyuwangi menuju Kecamatan Rogojampi, kemudian ke Kecamatan Srono, Kecamatan Muncar, dan Kecamatan Tegaldlimo.

Dari Kecamatan Tegaldlimo, perjalanan dilanjutkan sekitar 10 km melewati jalan berbatu, hingga tiba di Pos Rowobendo, gerbang utama Taman Nasional Alas Purwo.

Untuk mencapai Alas Purwo, wisatawan disarankan menggunakan kendaraan pribadi karena belum tersedia transportasi umum menuju lokasi ini.

Dengan segala keindahan dan cerita di baliknya, Alas Purwo menjadi destinasi wisata sekaligus misteri yang memikat. Bagi yang penasaran, berhati-hatilah saat menjelajah, karena di balik keindahannya tersimpan banyak misteri yang belum terungkap.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

5 Tips Mudik Pakai Mobil Listrik agar Aman dan Nyaman


Jakarta

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, banyak masyarakat yang mulai pulang ke kampung halaman. Apabila kamu berniat mudik pakai mobil listrik, ada beberapa tips penting yang perlu diketahui.

Mudik jadi salah satu tradisi yang dilakukan masyarakat Tanah Air. Ada yang memilih menggunakan transportasi umum seperti bus, kereta api, dan pesawat, lalu ada juga yang mengendarai kendaraan pribadi.

Bagi kamu yang berencana mudik dengan mengendarai mobil pribadi, khususnya yang bertenaga listrik, ada beberapa hal penting yang harus diketahui. Langkah ini agar tetap aman dan nyaman selama di perjalanan.


Lantas, apa saja tips mudik pakai mobil listrik? Simak pembahasannya dalam artikel ini.

Tips Mudik Pakai Mobil Listrik

Dilansir situs Wuling Indonesia, berikut sejumlah tips mudik pakai mobil listrik agar aman dan nyaman sampai di tujuan:

1. Merencanakan Perjalanan

Tips yang pertama adalah merencanakan perjalanan sebelum berangkat mudik. Sebagai pemilik kendaraan, kamu wajib tahu soal kapasitas baterai, jarak tempuh yang mampu dicapai saat kondisi baterai penuh, dan waktu yang dibutuhkan untuk mengisi ulang baterai.

Selain itu, detikers juga harus mengkalkulasikan jarak dan waktu perjalanan yang akan ditempuh selama mudik. Kamu bisa mengecek estimasi perjalanan di Google Maps, tetapi itu belum termasuk dengan waktu istirahat sejenak di rest area.

2. Mengetahui Lokasi SPKLU

Selain merencanakan perjalanan, kamu juga harus melakukan riset mendalam soal lokasi SPKLU pengisian baterai dengan jenis-jenis soket pengisian daya (port charging), seperti CHAdeMO, CCS, dan AC Charging.

Pada umumnya, saat ini SPKLU terdiri dari empat kategori, mulai dari slow charging (≥ 7 kW), medium charging (≥ 25 kW), fast charging (≥ 50 kW), dan ultrafast charging (≥100 kW).

3. Mengecek Kondisi Mobil

Langkah yang paling penting sebelum mudik adalah mengecek seluruh kondisi mobil. Lakukan pemeriksaan terhadap tekanan ban, sistem pendingin, hingga kondisi baterai mobil listrik.

Sebaiknya, lakukan pengecekan mobil listrik ke bengkel resmi yang terdekat dari rumah. Langkah ini guna memastikan bahwa mobil dalam kondisi prima, sehingga dapat mencegah terjadinya hal-hal yang tak diinginkan.

4. Perhatikan Gaya Berkendara

Selama perjalanan mudik, perhatikan juga kecepatan dan gaya berkendara. Berbeda dengan mobil konvensional yang lebih boros energi saat melaju dalam kecepatan rendah, khususnya di jalanan macet, mobil listrik justru lebih boros energi ketika digunakan dalam kecepatan tinggi seperti di jalan tol.

Soalnya, mobil listrik mendapatkan torsi secara instan dengan semakin besarnya hambatan udara yang dihadapi kendaraan. Maka dari itu, hindari menyetir mobil secara agresif dan jaga rata-rata kecepatan mobil tetap stabil di rentang 60-80 km per jam.

Selain lebih hemat energi agar tidak bikin baterai cepat habis, langkah ini juga untuk memberikan rasa aman selama perjalanan.

5. Istirahat jika Sudah Lelah

Selama mudik, detikers akan menempuh jarak hingga ratusan kilometer untuk bisa sampai di tempat tujuan. Hal ini terkadang membuat tubuh cepat lelah sehingga mudah kantuk.

Kalau sudah lelah, segera melipir sejenak ke rest area untuk beristirahat. Pastikan kamu mencari rest area yang juga menyediakan SPKLU agar mobil bisa diisi ulang baterainya.

Ketika badan sudah segar, baterai mobil listrik juga sudah kembali penuh. Kini, detikers tinggal melanjutkan perjalanan menuju ke kampung halaman.

Cara Cek Lokasi SPKLU saat Mudik Lebaran

Pemudik yang akan mengendarai mobil listrik tak perlu khawatir soal ketersediaan SPKLU. Sebab, PLN sudah menyiapkan 1.000 unit SPKLU di sepanjang jalur mudik Trans Jawa-Sumatera.

Secara rinci, jumlah SPKLU di Sumatera sebanyak 431 unit, Jawa 2.448 unit, Bali 166 unit, Kalimantan 215 unit, Sulawesi 145 unit, Maluku 26 unit, Nusa Tenggara 72 unit dan Papua 26 unit.

“Guna memastikan para pemudik nyaman dalam melakukan pengisian daya, PLN juga menyiagakan sebanyak 12 unit SPKLU mobile yang tersebar di jalur Trans Jawa-Sumatera. Keberadaan unit ini juga penting khususnya dalam membantu pemudik EV jika sewaktu-waktu kehabisan daya di perjalanan,” kata Direktur Ritel dan Niaga PLN Edi Srimulyani dikutip Antara, Jumat (14/3/2025).

Kini, detikers bisa mengetahui lokasi SPKLU dengan mudah dan cepat lewat aplikasi Google Maps di smartphone. Berikut langkah-langkahnya:

  • Buka aplikasi Google Maps
  • Di bagian sub menu, geser layar ke kiri untuk memilih kolom ‘Lainnya’ atau ‘More’
  • Geser layar ke bawah dan pilih opsi ‘Charging stations’ atau tempat pengisian mobil listrik
  • Setelah itu, akan muncul lokasi SPKLU yang terdekat dari lokasi kamu saat ini.

Demikian lima tips mudik pakai mobil listrik agar aman dan nyaman. Semoga bermanfaat!

(ilf/fds)



Sumber : oto.detik.com

8 Gunung di Jawa Barat yang Cocok untuk Pendaki Pemula


Jakarta

Ada banyak gunung di Jawa Barat yang sering dikunjungi para pendaki. Beberapa di antaranya bahkan tergolong aman untuk pendaki pemula.

Saat ini, mendaki gunung menjadi salah satu aktivitas yang banyak dilakukan masyarakat. Namun, dibutuhkan fisik dan mental yang kuat sebelum travelers melakukan pendakian.

Jika kamu baru pertama kali mendaki gunung, sebaiknya pilih gunung yang tidak terlalu tinggi dan treknya cukup landai. Sebab, dikhawatirkan kamu tidak kuat saat melewati medan berat, apalagi travelers belum punya banyak pengalaman mendaki gunung.


Di wilayah Jawa Barat, ada sejumlah gunung yang cocok untuk pendaki pemula. Lantas, apa saja gunung tersebut? Simak daftarnya dalam artikel ini.

Gunung di Jawa Barat yang Cocok untuk Pendaki Pemula

Terdapat sejumlah gunung di Jawa Barat yang populer di kalangan pendaki, seperti Gunung Gede, Papandayan, hingga Kerenceng. Berikut daftar gunung yang pas untuk pendaki pemula yang dirangkum dari catatan detikcom:

1. Gunung Gede

Rekomendasi yang pertama ada Gunung Gede. Lokasinya berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP). Secara administratif, lokasi taman nasional ini masuk ke dalam tiga kabupaten di Jawa Barat, yakni Bogor, Sukabumi, dan Cianjur.

Gunung Gede menjadi favorit para pendaki pemula karena treknya yang tidak terlalu curam. Selain itu, gunung dengan ketinggian 2.958 mdpl ini menawarkan pemandangan alam yang memukau di sepanjang jalur pendakian.

Saat mendaki di Gunung Gede, kamu bisa melihat Telaga Biru dan air terjun. Terdapat juga Alun-alun Suryakencana yang menandakan puncak Gunung Gede sudah dekat.

2. Gunung Papandayan

Gunung Papandayan terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Gunung dengan ketinggian 2.665 mdpl ini juga termasuk ramah pendaki.

Salah satu jalur yang aman dengan medan yang tidak terlalu sulit adalah via jalur Cisurupan. Sambil menyusuri hutan dan jalan setapak, travelers akan disuguhkan oleh panorama alam yang memukau.

Selama mendaki, kamu juga bisa menemukan hutan mati, padang bunga abadi edelweis, pepohonan hijau yang rindang, udara segar, dan kawah. Sebagai pengingat, Gunung Papandayan masih cukup aktif dan tercatat pernah beberapa kali erupsi.

3. Gunung Kencana

Apabila tidak mau mendaki gunung yang terlalu tinggi, Gunung Kencana bisa menjadi opsi terbaik. Dengan ketinggian hanya 1.802 mdpl, durasi pendakian dari titik awal hingga highland camp memakan waktu sekitar 1 jam saja.

Gunung Kencana berlokasi di Rawa Gede, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Terdapat tiga jalur yang bisa dipilih, yakni via lerengan Barat Daya Gunung Paseban, via puncak Karvak, dan rute Paseban.

4. Gunung Guntur

Rekomendasi berikutnya adalah Gunung Guntur. Dengan ketinggian 2.249 mdpl, gunung ini termasuk dalam kategori ramah bagi pendaki pemula.

Sepanjang trek pendakian, travelers akan disuguhkan dengan pemandangan alam yang indah. Setibanya di puncak gunung, kamu dapat menyaksikan panorama Kota Garut dari atas awan.

5. Gunung Burangrang

Pendakian di Gunung Burangrang via Pangheotan bisa menjadi pilihan terbaik bagi pendaki pemula. Sebab, medan yang dilalui tidak terlalu sulit dan cukup landai, sehingga bisa melakukan pendakian santai.

Namun, jalur pendakian yang dimulai dari Cikalong Wetan, Purwakarta, ini kurang diminati banyak pendaki karena waktu tempuhnya bisa mencapai lima jam untuk bisa tiba di puncak.

Meski begitu, detikers tetap disuguhkan oleh lanskap yang indah dan memanjakan mata. Selain itu, kamu juga bisa menyaksikan panorama Kota Bandung dari atas langit.

6. Gunung Kerenceng

Gunung Kerenceng juga bisa menjadi opsi terbaik bagi pendaki pemula. Sebab, treknya cenderung pendek dan bisa ditempuh sekitar 2,5 jam saja.

Namun, medan yang dilalui cukup ekstrem karena di sisi kanan-kirinya terdapat jurang. Jadi, detikers harus hati-hati selama pendakian menuju puncak.

Gunung Kerenceng memiliki ketinggian 1.754 mdpl. Dari atas puncaknya, kamu dapat melihat lanskap Kota Sumedang. Selain itu, kamu juga bisa menyaksikan indahnya Gunung Ciremai, Gunung Cikuray, dan Kawasan Cadas Pangeran.

7. Gunung Putri

Gunung yang berada di Lembang, Bandung, ini termasuk salah satu gunung yang ramah pendaki. Dengan ketinggian 1.578 mdpl, Gunung Putri bisa dijadikan sebagai tempat uji coba atau pemanasan sebelum mendaki gunung yang lebih tinggi.

Setibanya di puncak, travelers bisa mendirikan tenda di camping ground yang telah disediakan pihak pengelola. Selama di puncak Gunung Putri, detikers dapat menyaksikan sunset, sunrise, hingga keindahan city light Kota Bandung.

8. Gunung Malabar

Rekomendasi yang terakhir adalah Gunung Malabar. Dengan ketinggian 2.347 mdpl, Gunung Malabar termasuk salah satu gunung favorit di kalangan pendaki.

Meskipun jalur pendakiannya cukup menantang, tetapi Gunung Malabar masih cocok untuk pendaki pemula. Rasa lelah setelah mendaki selama berjam-jam langsung terbayar lunas setibanya di atas puncak.

Sebab, kamu dapat melihat pemandangan Kota Bandung dan Gunung Tangkuban Perahu. Wajar saja, sebab Gunung Malabar terletak di Kawasan Cililin, Kabupaten Bandung Barat.

Itu dia delapan rekomendasi gunung di Jawa Barat yang cocok untuk pendaki pemula. Tertarik untuk mendaki gunung yang mana, travelers?

(ilf/fds)



Sumber : travel.detik.com

9 Tempat Wisata Indonesia yang Dulu Terkenal, Kini Tinggal Kenangan


Jakarta

Ada banyak tempat wisata di Indonesia yang dulu sangat terkenal dan ramai dikunjungi. Namun, beberapa di antaranya sudah tutup dan kini tinggal kenangan.

Ada sejumlah tempat wisata yang mungkin pernah travelers kunjungi, seperti Kampung Gajah Wonderland atau Snowbay Waterpark di TMII. Meski menjadi destinasi wisata populer di zamannya, tapi nasibnya sekarang berubah drastis karena telah berhenti beroperasi.

Penasaran, apa saja tempat wisata di Indonesia yang dulu terkenal tapi sekarang tinggal kenangan? Simak daftarnya dalam artikel ini.


9 Tempat Wisata Indonesia yang Dulu Terkenal

Bagi banyak orang, tempat wisata tak hanya sekadar wahana untuk seru-seruan dan melepas penat. Lebih dari itu, ada banyak kenangan yang tersimpan di memori saat berkunjung ke tempat tersebut.

Sayangnya, ada sejumlah tempat wisata yang kini ditutup permanen sehingga tidak bisa lagi dikunjungi. Berdasarkan catatan detikcom, berikut 9 tempat wisata yang dulu terkenal tapi kini sudah tidak beroperasi:

1. Kampung Gajah Wonderland

Kampung GajahKampung Gajah di Bandung Barat (Whisnu Pradana/detikcom)

Tempat wisata yang pertama adalah Kampung Gajah Wonderland. Lokasinya berada di Jalan Sersan Bajuri, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Bandung Barat.

Dahulu, tempat ini memiliki berbagai wahana permainan dan taman rekreasi air yang menarik para wisatawan, khususnya dari luar kota. Tiket masuknya juga terjangkau, yakni Rp 15 ribu (weekday) dan Rp 20 ribu (weekend).

Sayangnya, Kampung Gajah Wonderland terpaksa harus ditutup pada 2018 karena pailit. Tempat wisata ini hanya bertahan selama sembilan tahun sejak dibuka pertama kali pada 2009.

Tim detikJabar sempat mengunjungi lokasi tersebut beberapa tahun lalu. Sejumlah bangunannya masih berdiri kokoh, tetapi sudah tidak terawat dan terkesan angker.

Beberapa patung-patung gajah yang dulu menjadi ikon Kampung Gajah Wonderland kini sudah tidak ada. Tempat patung gajah itu sekarang difungsikan sebagai tempat untuk menjual tanaman oleh warga setempat.

2. Snowbay Waterpark TMII

Snowbay Waterpark TMIISnowbay Waterpark TMII ((Putu Intan/detikcom)

Dahulu, ada sebuah waterpark modern di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), namanya Snowbay. Ciri khas dari waterpark ini adalah mengusung konsep salju, sehingga didominasi oleh warna putih dan terdapat beberapa patung beruang kutub yang menggemaskan.

Snowbay Waterpark menjadi salah satu pilihan alternatif bagi warga Jakarta dan sekitarnya yang ingin bermain air. Namun, semenjak pandemi COVID-19, taman wisata air ini terpaksa berhenti beroperasi.

Setelah dua tahun ditutup, Snowbay Waterpark tidak lagi dibuka dan kondisinya terbengkalai. Seiring renovasi TMII, taman air tersebut kemudian dialihfungsikan menjadi gedung parkir dan fasilitas lainnya.

3. Taman Remaja Surabaya

taman remaja surabayaTaman Remaja Surabaya (TRS) (Deny Prastyo Utomo/detikcom)

Taman Remaja Surabaya (TRS) merupakan salah satu tempat rekreasi yang terkenal di Kota Pahlawan. Dulu, objek wisata ini sangat merakyat karena harga tiket masuknya yang terjangkau. Selain itu, terdapat sekitar 20 wahana permainan yang seru dan menegangkan.

Sayangnya, Taman Remaja Surabaya yang berdiri sejak 1971 ditutup karena kontrak kerja sama dengan pihak pengelola sudah habis. Resmi ditutup sejak 2018, kini lokasi TRS dialihfungsikan oleh Pemkot Surabaya sebagai tempat konser dengan kapasitas 35-40 ribu penonton.

4. Taman Festival Bali

Di kawasan Denpasar, ada sebuah tempat wisata yang populer di kalangan para turis, namanya Taman Festival Bali. Namun, kondisinya sekarang sudah berubah menjadi angker dan terbengkalai sejak ditutup secara permanen.

Meski begitu, beberapa orang masih penasaran ingin melihat Taman Festival Bali dari dekat. Bahkan, lokasi tersebut sering dijadikan sebagai tempat uji nyali.

5. Taman Ria Senayan

Bagi warga Jakarta, mungkin sudah tidak asing dengan Taman Ria Senayan. Bahkan, nama tempat wisata ini disebut-sebut dalam lagu Rhoma Irama berjudul “Terajana”.

Pada tahun 70-an, Taman Ria Senayan merupakan salah satu objek wisata yang populer. Sebab, ada banyak wahana permainan yang seru dan bikin jantung deg-degan.

Namun seiring berjalannya waktu, Taman Ria Senayan mulai kehilangan peminatnya dan kalah bersaing dengan tempat wisata baru di Jakarta. Pada 2010, akhirnya Taman Ria Senayan resmi dibongkar.

Kini, lokasi bekas tempat wisata tersebut telah dibangun mall bernama Senayan Park atau Spark. Mall ini dikembangkan oleh PT Ariobimo Laguna Perkasa dan dikelola Lippo Group.

6. Depok Fantasi Waterpark

Satu lagi waterpark yang dulu ramai dikunjungi orang tapi kini sudah tutup, yakni Depok Fantasi Waterpark. Dikenal juga dengan nama Aladin Waterpark, wahana air ini sebenarnya menjadi pionir tempat rekreasi di Kota Depok.

Namun sayang, objek wisata ini kabarnya tutup secara permanen akibat pandemi COVID-19. Kini, tidak ada lagi sisa bangunan waterpark tersebut yang berlokasi di Jalan Boulevard Grand Depok City, karena sudah rata dengan tanah dan dialihfungsikan menjadi kompleks perumahan.

7. Wonderia Semarang

Tempat wisata berikutnya adalah Wonderia Semarang. Objek wisata ini selalu ramai pengunjung karena lokasinya yang ada di tengah kota dan terdapat berbagai macam wahana permainan seru.

Nahas, terjadi kecelakaan pada wahana plane tower atau balon udara. Pada 15 November 2007, wahana tersebut jatuh dan mengakibatkan 16 orang luka-luka. Peristiwa serupa juga pernah terjadi pada Februari 2006.

Akibat insiden itu, Taman Wonderia Semarang ditutup pada 17 November 2007 hingga waktu yang tidak ditentukan. Kabarnya, lokasi bekas objek wisata tersebut akan diubah menjadi hutan kota.

8. THR Sriwedari Solo

Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari di Solo, Jawa Tengah, menjadi salah satu tempat wisata yang ramai dikunjungi anak-anak. Selain itu, tempat ini juga kerap dijadikan pementasan seni musik, mulai dari lagu dangdut hingga musik rock.

Dahulu, THR Sriwedari sangat populer karena lokasinya yang berada di tengah kota, sehingga mudah diakses masyarakat. Namun, setelah 32 tahun beroperasi akhirnya objek wisata ini harus tutup karena kontrak pengelola dengan Pemkot Solo sudah habis.

Lalu, lahan bekas THR Sriwedari diratakan dengan tanah untuk dijadikan masjid. Sayangnya, pembangunan masjid justru mangkrak karena masalah status kepemilikan tanah.

9. Hotel Gantung Purwakarta

Hotel Gantung Purwakarta Skylodge Padjadjaran AnyarHotel Gantung Purwakarta atau Skylodge Padjadjaran Anyar (dok. Instagram @skylodge.indonesia)

Hotel Gantung Purwakarta atau Skylodge Padjadjaran Anyar sempat viral beberapa waktu lalu. Hotel ini terkenal hingga ke luar negeri karena sangat unik, yakni sengaja menggantung di tebing dengan ketinggian 500 mdpl atau 400 meter di atas tanah.

Agar bisa sampai ke hotel tersebut, pengunjung harus melalui beberapa tantangan, mulai dari memanjat ke atas tebing melalui pijakan-pijakan yang telah dibuat, lalu meluncur dengan flying fox. Lokasi hotel tersebut berada di Gunung Parang, yakni gunung batu andesit yang memiliki ketinggian 963 mdpl.

Namun, Hotel Gantung Purwakarta sudah tidak beroperasi lagi sejak pandemi COVID-19. Meski begitu, kamu masih bisa mendaki gunung atau panjat tebing di Gunung Parang.

Demikian sembilan tempat wisata di Indonesia yang dahulu populer, tapi kini tinggal kenangan. Pernah berkunjung ke salah satu objek wisata di atas?

(ilf/fds)



Sumber : travel.detik.com

10 Wisata Hits di Boyolali, Bisa Berenang hingga Naik Wahana Seru!


Jakarta

Boyolali, Jawa Tengah punya sejumlah tempat wisata yang lagi hits dan ramai dikunjungi. Destinasi wisatanya bervariasi, traveler dapat menaiki berbagai wahana seru hingga berenang atau sekadar bermain air.

Boyolali sendiri memiliki panorama mempesona yang tak kalah dengan wilayah lain di Jawa Tengah. View Gunung Merapi dan Merbabu yang kehijauan dapat terlihat jelas saat cuacanya cerah. Udara sejuk dan alam yang asri pun bikin traveler betah berkunjung ke Boyolali. Simak tempat wisatanya di bawah ini.

Wisata Hits di Boyolali

Berikut sederet tempat wisata di Boyolali yang lagi hits dan patut didatangi, merangkum Google:


1. Cepogo Cheese Park

Lokasi: Dusun II, Genting, Kecamatan Cepogo, Boyolali
Jam Buka: Setiap hari, 08.00-18.00 WIB
Tiket Masuk: Rp 20.000-65.000

Cepogo Cheese Park termasuk objek wisata ramah keluarga di bawah naungan Cimory Group. Di sana traveler dapat bisa melihat dan berinteraksi dengan hewan di Mini Zoo hingga menaiki wahana seru seperti Tractor Tour De Farm, Rainbow Slide, ATV, dan Gokart.

Panorama di tempat juga nggak kalah loh, pemandangan Gunung Merapi dan Merbabu bisa terlihat saat cuacanya cerah. Suasana sejuknya pun bikin betah bermain-main seharian.

Kalau lapar, traveler dapat bersantap berbagai menu lezat di resto Cepogo Cheese Park. Bisa juga mampir ke toko oleh-olehnya untuk membeli buah tangan berupa aneka makanan dan aksesoris.

2. Merapi Garden Selo

Merapi Garden Selo, BoyolaliMerapi Garden Selo, Boyolali Foto: dok. Instagram @merapigardenselo

Lokasi: Desa Samiran, Selo, Boyolali
Jam Buka: Senin-Jumat (09.00-20.00 WIB), Sabtu-Minggu (08.00-21.00 WIB)
Tiket Masuk: Rp 5.000

Berbagai bunga warna-warni bisa dijumpai di Merapi Garden Selo dan latar Gunung Merapinya mempercantik tempat ini. Ornamen seperti kincir angin hingga ayunan dapat dijadikan spot foto Instagramable.

Panorama menawan di sini bisa dinikmati lebih lama sambil menyeruput kopi di D’Garden Cafe. Ada juga hidangan enak lain yang dapat dipesan untuk mengisi perut. Boleh reservasi aktivitas menarik seperti paralayang, outbound, dan jeep wisata kafe ini.

3. Waduk Cengklik Park

Waduk Cengklik Park, Destinasi Baru Wisata di BoyolaliWaduk Cengklik Park Foto: Ragil Ajiyanto/detikcom

Lokasi: Gunungparan, Ngargorejo, Ngemplak, Boyolali
Jam Buka: Setiap hari, 08.00-18.00 WIB
Tiket Masuk: Rp 20.000-75.000

Sesuai namanya, Waduk Cengklik Park berada dekat dengan Waduk Cengklik Boyolali. Traveler dapat menjajal sejumlah wahana seru seperti trampolin, rainbow slide, monorail, hingga bom bom car.

Anak-anak semakin betah karena di sini terdapat waterboom. Areanya yang dipenuhi miniatur tempat-tempat terkenal dunia juga bisa banget dijadikan spot foto estetik. Pesan tiket masuk bundling agar lebih hemat.

4. New Selo

Lokasi: Desa Samiran, Selo, Boyolali
Jam Buka: 24 Jam
Tarif Parkir: Rp 3.000-5.000

View Gunung Merbabu terlihat jelas di New Selo saat cuaca cerah. Puncak gunung hingga hutan lerengnya yang hijau sangat bagus dijadikan background foto.

Singgah di beberapa warungnya juga boleh untuk menikmati panorama mempesona sambil ditemani minuman dan makanan hangat.

5. Wisata Alam Panorama

Wisata Alam Panorama BoyolaliWisata Alam Panorama Boyolali Foto: dok. Instagram @panoramaboyolali.official

Lokasi: Desa Nepen Teras, Boyolali
Jam Buka: Setiap hari, 08.00-17.00 WIB
Tiket Masuk: Rp 10.000

Kunjungi Wisata Alam Panorama kalau ingin bermain air di kolam bebatuan jernih yang airnya mengalir dari mata air alami. Pengunjung semua usia bisa berenang di sini karena terdapat kolam dangkal hingga sedang. Bisa juga melakukan ban tubing atau menyusuri aliran air menggunakan ban karet.

Bosan bermain air dapat mencoba berkuda atau tangkap ikan. Ada juga paket outbound bersama rombongan. Jika tak ingin basah-basahan bisa bersantai di gazebonya. Tempatnya sejuk dan teduh lantaran berada di bawah pohon rindang.

6. Desa Wisata Samiran

Lokasi: Dusun IV, Desa Samiran, Selo, Boyolali
Jam Buka: 24 Jam

Kegiatan seru meliputi berburu sunrise, soft dan hard tracking ke Gunung Merapi serta Merbabu, hingga outbound dan wisata edukasi bisa dicoba saat ke Desa Wisata Samiran atau dikenal Dewi Sambi.

Traveler juga dapat bermalam di sana lantaran terdapat banyak homestay dengan harga sewa terjangkau. Alam asri dan udara sejuknya cocok jadi tempat healing sejenak.

7. Wisata Kali Talang

Lokasi: Area Sawah Desa Nepen, Teras, Boyolali
Jam Buka: 24 Jam
Tiket Masuk: Gratis

Kalau mau wisata gratisan di Boyolali bisa datangi Wisata Kali Talang. Traveler bisa bermain air atau berenang di aliran airnya yang bersih, cukup jernih, dan agak deras. Kalinya dangkal sehingga aman untuk anak-anak.

Warga sekitar juga kerap memanfaatkan Kali Talang untuk tempat cuci baju hingga tikar. Jadi, jangan heran kalau berenang di sini sambil ditemani ibu dan bapak-bapak yang sedang mencuci.

8. Simpang Paku Buwono VI

Simpang PB VI di Selo, Boyolali.Simpang PB VI di Selo, Boyolali. Foto: Jarmaji/detikJateng

Lokasi: Jl. Blabak-Boyolali, Desa Samiran, Boyolali
Jam Buka: 24 Jam
Tiket Masuk: Gratis

Simpang Paku Buwono VI bukan sekadar area alun-alun biasa. Pengunjung bisa menikmati view Gunung Merapi dengan jelas ketika cuacanya cerah di sini.

Sepeda listrik, delman, dan kuda dapat disewa untuk berkeliling Alun-Alun Selo, Boyolali yang indah ini. Di sekelilingnya juga banyak penjual makanan yang menjajakan berbagai menu memanjakan lidah.

9. Taman Air Tlatar

Taman Air Tlatar di BoyolaliTaman Air Tlatar di Boyolali Foto: Brigida Emi Lilia/d’traveler

Lokasi: Jl. Pangeran Diponegoro, Dusun 2, Kebonbimo, Boyolali
Jam Buka: Setiap hari, 09.00-17.00 WIB
Tiket Masuk: Rp 7.000

Kunjungi Taman Air Tlatar kalau ingin berenang atau sekadar main air, melihat ikan, dan makan-makan. Kolam renang di sini ditujukan buat anak-anak. Sambil menyantap berbagai hidangan lezat di restonya, traveler bisa melihat ikan di kolam yang jernih. Ada juga taman hijau yang sejuk dan asri di sini.

10. Omah Kita Selo

Omah Kita SeloOmah Kita Selo Foto: dok. Instagram @omahkitaselo

Lokasi: Citakan, Desa Samiran, Selo, Boyolali
Jam Buka: Setiap hari, 10.00-19.00 WIB

Panorama Selo, Boyolali amat disayangkan jika dinikmati hanya sehari. Traveler dapat bermalam di Omah Kita untuk pengalaman menginap yang terjangkau. Namun jangan salah, panorama yang disuguhkannya nggak murahan karena Gunung Merapi beserta lereng hijaunya terlihat jelas dari sini.

Di Omah Kita juga terdapat kafe asik untuk nongkrong. Menu ramen katsu hingga paket sukiyaki dan steamboat bisa dipesan untuk mengganjal perut keroncongan.

(azn/fds)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Anti Mainstream di Pacitan, Bisa Ibadah dengan Pemandangan Laut



Pacitan

Di Pacitan, ada satu masjid yang anti mainstream. Masjid itu terapung di tepi laut. Traveler bisa beribadah sambil melihat pemandangan lautan.

Masjid Apung Pacitan menawarkan pengalaman ibadah yang unik dengan latar pemandangan laut yang menakjubkan. Berdiri megah di atas perairan, masjid ini mengapung di bibir pantai, menciptakan suasana khusyuk yang berpadu dengan semilir angin laut.

Tak hanya menjadi tempat beribadah, masjid ini menjadi destinasi wisata religi yang menarik. Pembangunan Masjid Apung Pacitan itu dimulai sejak tahun 2019 sebagai perwujudan gagasan Kyai Fuad Dimyati, atau yang akrab disapa Gus Fuad.


Gus Fuad merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tremas, salah satu pesantren tertua dan bersejarah di Pacitan. Masjid Apung Pacitan, yang juga dikenal sebagai Masjid Kemampul, berdiri megah di tepi Pantai Pancer Door, Kelurahan Ploso, Kecamatan/Kabupaten Pacitan.

Lokasi masjid yang strategis memudahkan akses bagi para jemaah dan wisatawan, baik yang menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Fasilitas yang disediakan di Masjid Apung Pacitan cukup lengkap, mulai dari tempat parkir yang luas, toilet, dan tempat wudu. Untuk memasuki kawasan Masjid Apung Pacitan, pengunjung hanya perlu membayar karcis sebesar Rp 5.000.

Bangunan Masjid Apung Pacitan mengusung konsep tradisional Jawa yang didominasi bambu dan kayu-kayu tradisional. Dilansir dari laman resmi Perguruan Islam Pondok Tremas, Masjid Kemampul memanfaatkan banyak tong atau drum-drum besar yang membantu masjid agar bisa mengapung.

Masjid ini berfungsi sebagai tempat ibadah bagi umat Islam seperti pada umumnya. Namun, yang membedakannya adalah suasana unik yang ditawarkan. Berada di tepi pantai dengan pemandangan laut lepas, masjid ini menghadirkan pengalaman spiritual yang berbeda.

Embusan angin laut dan deburan ombak yang terdengar di sekitar diharapkan dapat memberikan ketenangan, membantu para jemaah lebih khusyuk dalam melaksanakan salat. Waktu terbaik untuk mengunjungi Masjid Apung Pacitan adalah sore menjelang malam.

Saat itu, pengunjung tidak hanya dapat menunaikan ibadah dengan suasana yang sejuk, tetapi juga menikmati keindahan matahari terbenam di tepi Pantai Pancer Door.

Cahaya jingga yang memantul di permukaan laut menciptakan pemandangan yang menakjubkan, menambah ketenangan dan kekhus

Kini, masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah dan wisata religi bagi masyarakat setempat. Masjid Apung Pacitan juga menjadi magnet bagi wisatawan dari berbagai daerah yang ingin merasakan sensasi beribadah dengan lanskap alam yang menakjubkan.

Keunikannya sebagai masjid yang berdiri di tepi laut menjadikannya salah satu ikon Pacitan, kabupaten yang dikenal dengan julukan Paradise of Java.

Dengan perpaduan arsitektur khas dan panorama alam yang menawan, masjid ini semakin memperkaya pesona wisata bahari Pacitan.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ngabuburit di Pasar Sore Ramadhan Kauman Jogja, Ada Apa Aja?


Jakarta

Pasar Sore Ramadhan Kauman Jogja merupakan salah satu tempat asyik buat ngabuburit. Bukan hanya berburu aneka takjil untuk berbuka puasa, tetapi juga bisa melakukan aktivitas menarik lainnya.

Yuk ketahui lebih jauh tentang Pasar Sore Ramadhan Kauman dalam artikel ini, lengkap dengan aktivitas menarik, hingga cara menuju ke sana.

Mengenal Pasar Sore Ramadhan Tertua di Jogja

Dikutip dari situs Pemprov Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), ada banyak pasar kaget atau pasar tiban di bulan Ramadhan. Namun Pasar Sore Ramadhan Kauman adalah yang tertua di Jogja.


Pasar ini sudah ada sejak tahun 1990-an. Awalnya, pasar sore ini berdiri atas inisiatif warga Kauman yang antusias menyambut bulan puasa dengan kegembiraan.

Berawal sedikit pedagang dengan tempat seadanya, kini jumlah penjualnya semakin banyak dan diatur oleh warga setempat. Berdasarkan catatan detikTravel, ada lebih dari 50 pedagang yang berjualan.

Yang unik, lokasi pasar ini berada di gang kampung yang sempit. Jalannya hanya selebar tiga meter. Tentunya tempat itu akan sangat padat, tapi justru itulah yang membuatnya berbeda.

Dilihat dalam akun Instagram @pasarsore_kauman, pasar ini sempat ditiadakan pada 2019 hingga 2022, kemudian kembali diadakan pada 2023. Pasar mulai buka pukul 14.00 WIB hingga magrib.

Ada Apa Saja di Pasar Sore Ramadhan Kauman?

Bukan hanya berburu takjil, ada hal menarik yang bisa sekaligus dilakukan jika traveler ingin ke sana. Apa saja?

1. Berburu Kicak

Tujuan utama datang ke Pasar Sore Ramadhan Kauman Jogja ini tentunya untuk berburu takjil. Namun kurang lengkap rasanya jika traveler tidak membeli kicak.

Dikutip dari detikJogja, kicak adalah makanan yang terbuat dari ketan yang dihaluskan dari jadah, kelapa muda, nangka, dan gula. Kicak mungkin akan sulit ditemukan di luar bulan puasa, jadi kalian harus beli ini.

Selain kicak, ada makanan lain yang juga banyak dicari, seperti carang gesing, gorengan, bothok, jenang saren, sampai nasi kebuli.

2. Wisata Perkampungan Jogja

Pasar sore ini berada di Kampung Kauman di kawasan Keraton Kasultanan Yogyakarta. Di sana, detikers bisa menemukan rumah-rumah Jawa yang masih tradisional. Kalian bisa sambil berfoto-foto di kampung tersebut.

Kampung Kauman juga dikenal sebagai kampung religi. Nama Kauman juga banyak dipakai di berbagai daerah sebagai kampung yang Islami. Nah, kalian bisa berwisata religi di sini, sambil mampir ke tempat bersejarah.

Dilansir dari Portal Informasi Indonesia, nama kauman berarti tempatnya para kaum. Ada pula yang menyebut dari istilah qo’um muddin yang berarti pemuka agama Islam.

Dari sini jugalah KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dilahirkan. Tak heran jika traveler akan melihat simbol matahari terbit yang juga merupakan simbol organisasi tersebut.

3. Ibadah di Masjid Gede Yogyakarta

Setelah berburu takjil, traveler bisa melanjutkan perjalanan ke Masjid Gede Yogyakarta yang tak jauh dari pasar sore. Kamu bisa bersantai sejenak sambil menunggu azan magrib.

Di masjid ini biasanya juga disediakan makanan berbuka puasa gratis. Jika belum pernah ke sini, sebaiknya traveler menyempatkan mampir ke sini. Setelah berbuka, kalian bisa sekalian sholat magrib dan isya, atau sekalian sholat tarawih di sini.

Lokasi Pasar Sore Ramadhan Kauman

Pasar Sore Ramadhan Kauman dapat ditemukan dengan mudah. Lokasinya berada di Gang Pasar Ramadhan, Jalan Ahmad Dahlan, Kauman, Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta,

Jika detikers menuju ke Jogja naik kereta api, maka turunlah di Stasiun Tugu Yogyakarta. Kalian bisa berjalan kaki sekitar 30 menit melewati Jalan Malioboro sambil menikmati suasana Jogja.

Di ujung Jalan Malioboro, setelah tiba di Titik Nol Yogyakarta, beloklah ke kanan (barat) menuju Jalan Ahmad Dahlan. Lurus saja sampai melewati RS PKU Muhammadiyah dan Kantor Pengurus Pusat Aisyiyah. Gangnya ada di kiri jalan.

Pasar Sore Ramadhan Kauman Jogja merupakan pasar tiban Ramadhan tertua di Jogja. Pasar tiban merujuk pada pusat jual beli yang hanya hadir di waktu tertentu. Detikers bisa datang lebih awal jika tak ingin berdesak-desakan di sana.

(bai/row)



Sumber : travel.detik.com

5 Wisata Religi di Jakarta, Ada Masjid Istiqlal hingga Makam Habib


Jakarta

Ada sejumlah tempat wisata religi di Jakarta yang menarik dikunjungi. Selain berkunjung ke sejumlah masjid, travelers juga bisa berziarah ke makam para habib.

Bulan Ramadan menjadi salah satu momen yang paling dinantikan umat muslim. Selain menjalankan ibadah puasa, beberapa orang juga menyempatkan diri untuk melakukan wisata religi.

Nah, ada sejumlah wisata religi di Jakarta yang wajib dikunjungi. Apa saja tempatnya? Simak ulasan singkatnya dalam artikel ini.


Rekomendasi Wisata Religi di Jakarta

Apabila bosan berkunjung ke tempat yang itu-itu saja, kamu bisa melakukan wisata religi di Jakarta bersama keluarga atau teman-teman. Simak rekomendasi tempat wisata religi yang dikutip dari catatan detikcom.

1. Masjid Istiqlal

Imam Besar Masjid Nabawi Syekh Ahmad menunaikan salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta. Syekh Ahmad juga mengisi khotbah dan memimpin salat di hadapan ribuan jemaah.Masjid Istiqlal. (Andhika Prasetia)

Destinasi wisata religi yang pertama adalah Masjid Istiqlal. Kurang lengkap rasanya jika berwisata religi di Jakarta, tapi tidak berkunjung ke masjid yang satu ini.

Masjid Istiqlal diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 22 Februari 1978. Memiliki luas bangunan 2,5 hektare di atas tanah 9,8 hektare, Masjid Istiqlal dapat menampung hingga 100.000 orang. Maka dari itu, Masjid Istiqlal termasuk salah satu masjid terbesar se-Asia Tenggara.

Selama Ramadan, Masjid Istiqlal menggelar berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari salat tarawih, ceramah dari para ustadz, hingga mengadakan buka puasa bersama gratis bersama jamaah lain.

Masjid Istiqlal berlokasi di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Bagi detikers yang ingin berkunjung bisa menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi umum, yakni KRL Commuter Line dan TransJakarta.

2. Masjid Ramlie Musofa

Warga melakukan amalan ibadah puasa dengan melaksanakan salat wajib dan memperbanyak salat sunah di Masjid Ramlie Musofa, Sunter, Jakarta Utara. Bulan puasa sebagai bulan penuh ampunan mendorong umat Muslim memperbanyak amalan ibadah untuk mempererat hubungan langsung kepada Allah (hablu minallah) maupun menjaga hubungan baik kepada manusia (hablu minannas).Masjid Ramlie Musofa. (Ari Saputra)

Masjid Ramlie Musofa memiliki keunikan tersendiri dibandingkan masjid lainnya yang ada di Jakarta. Sebab, bangunan masjidnya mirip seperti Taj Mahal di India.

Berlokasi di Sunter, Jakarta Utara, masjid ini didominasi oleh warna putih bersih dan corak warna emas di beberapa ornamen tulisan. Selain itu, dinding masjidnya juga dibalut marmer yang diimpor dari Italia. Hal tersebut semakin menunjukkan kemegahan dari Masjid Ramlie Musofa.

Keunikan lain dari Masjid Ramlie Musofa adalah terdapat ukiran surat Al-Fatihah dalam tiga bahasa, yakni bahasa Arab, Indonesia, dan Mandarin. Sebab, masjid itu dibangun oleh seorang mualaf beretnis Tionghoa, maka dari itu terdapat corak bangunan yang memiliki unsur Tionghoa.

3. Masjid Al Alam Marunda

Masjid Al Alam terletak di Jalan Marunda No. 1 atau tepat berada di pinggiran Pantai Marunda, Jakarta Utara.Masjid Al Alam. (Pradita Utama)

Rekomendasi wisata religi berikutnya adalah berkunjung ke Masjid Al Alam Marunda. Disebut juga sebagai Masjid Si Pitung, masjid ini termasuk salah satu yang tertua di Jakarta karena telah berdiri sejak 1527.

Masjid Al Alam Marunda terdiri atas bangunan utama, bangunan baru untuk salat perempuan, pendopo, dan halaman. Uniknya, terdapat sebuah sumur yang bisa digunakan untuk berwudhu.

Terletak di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, masjid ini memiliki sejarah panjang yang menarik. Masjid Al Alam seolah menjadi saksi bisu atas rentetan peristiwa dan perkembangan Islam yang terjadi di sekitar Marunda.

Masjid ini menggabungkan empat kebudayaan dalam arsitekturnya, yakni bagian kubah berbentuk joglo merupakan arsitektur Jawa, lalu bentuk lengkung naga terinspirasi dari budaya Tionghoa, kemudian ornamen jendela dan pintu yang berkaitan dengan budaya Betawi, serta bentuk tiang dan bidang catur masjid yang kental budaya Eropa.

Ada beberapa versi mengenai pendirian Masjid Al Alam. Versi pertama adalah masjid yang dibangun dalam waktu singkat oleh para aulia. Versi kedua menyebut bahwa masjid ini dibangun oleh pasukan Fatahillah sebelum menyerang Sunda Kelapa pada 1527. Versi ketiga menyebut masjid ini dibangun oleh pasukan Mataram pada abad ke-17.

4. Masjid Agung Al Azhar

Masjid Agung Al-AzharMasjid Agung Al Azhar. (Yusuf Alfiansyah Kasdini)

Masjid yang satu ini terletak di tengah kota, tepatnya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Masjid Agung Al Azhar sempat dinobatkan sebagai masjid terbesar di Indonesia selama 10 tahun, sebelum akhirnya tergantikan oleh Masjid Istiqlal.

Didirikan pada 19 November 1953 dan selesai dibangun pada 1958, Masjid Agung Al Azhar diprakarsai oleh 14 tokoh besar Partai Masyumi, termasuk Buya Hamka. Dapat menampung hingga 10.000 jamaah, Masjid Agung Al-Azhar menjadi salah satu masjid tertua dan terbesar di Jakarta.

Awalnya, masjid ini bernama Masjid Agung Kebayoran Baru karena sesuai dengan lokasinya. Lalu, namanya diubah setelah seorang rektor Universitas Al-Azhar Kairo, Dr Mahmoud Syaltout mendatangi masjid ini dan memberikan nama “Al-Azhar” untuk masjid ini.

5. Masjid Al Riyadh dan Makam Habib Ali Kwitang

Masjid Al Riyadh KwitangMasjid Al Riyadh Kwitang. (detikcom)

Destinasi wisata religi berikutnya adalah Masjid Al Riyadh. Meski berlokasi di dalam gang dan permukiman penduduk, tetapi masjid ini memiliki nilai sejarah dan patut dikunjungi.

Berdiri sejak 1938, Masjid Al Riyadh didominasi oleh warna putih yang memanjakan mata. Masjid yang dapat menampung sekitar 50-100 jamaah ini juga terdapat makam Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi atau yang akrab dikenal sebagai Habib Ali Kwitang.

Sebagai informasi, Habib Ali Kwitang merupakan salah satu tokoh ulama yang berpengaruh pada abad ke-20. Tidak hanya dalam perkembangan Islam di daerah Jakarta, tapi juga berperan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Habib Ali Kwitang lahir pada 20 April 1870 di Kampung Kwitang, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Beliau adalah putra dari pasangan Al-Habib Abdurrahman Alhabsyi dengan Nyai Salmah.

Di sisi kiri masjid terdapat empat makam. Di dalam makam tersebut bersemayam Habib Ali Kwitang dan keluarga. Tempat ini selalu ramai oleh pengunjung yang berziarah dan wisata religi, terutama saat hari Minggu dan menjelang Ramadan.

Itu dia lima rekomendasi wisata religi di Jakarta. So, ingin berkunjung ke tempat yang mana dulu nih?

(ilf/fds)



Sumber : travel.detik.com

Terkuak, Jakarta Kalah Macet dari Bandung



Jakarta

Kemacetan lalu lintas masih menjadi momok di banyak kota besar, tak terkecuali di Indonesia. Platform TomTom Traffic baru saja merilis daftar kota termacet di dunia dan hasilnya cukup mengejutkan. Kota mana saja yang masuk daftar?

TomTom Traffic Index enggak cuma asal tebak, namun memakai data perjalanan rata-rata dan tingkat kemacetan yang dihitung secara detail. Termasuk, memakai ‘mata-mata’ berupa floating car data (FCD) yang diambil dari kecepatan dan lokasi kendaraan secara real-time. Data itu didapat dari fitur GPS di perangkat pengguna.

Metode ‘Detektif’ Kemacetan Ala TomTom Traffic

TomTom Traffic ini seperti detektif yang menganalisis kemacetan. Mereka enggak cuma lihat jalanan yang macet, tapi juga faktor-faktor lain yang bikin macet makin parah. Ada tiga faktor utama yang mereka amati.


Yang pertama, faktor kurasi-statis, yang seperti identitas’ jalan, mulai dari ukuran, kapasitas, batas kecepatan, sampai jenis jalannya, kemudian faktor dinamis yang merupakan penyebab lalu lintas berubah-ubah, di antaranya perbaikan jalan, cuaca buruk, dan kemacetan itu sendiri. Kemudian, yang ketiga adalah faktor statis, yakni waktu perjalanan optimal di kota tertentu.

Dengan faktor-faktor itu, bisa diketahui kapan jalanan seharusnya lancar. Dengan menggabungkan semua data ini, TomTom Traffic bisa memetakan kota mana yang paling ‘menyiksa’ buat para pengendara.

Kota-Kota ‘Neraka’ Lalu Lintas di Indonesia

Ini dia daftar kota termacet di Indonesia:

  1. Bandung, Jawa Barat: Waktu tempuh rata-rata per 10 km: 32 menit 37 detik
  2. Medan, Sumatera Utara: Waktu tempuh rata-rata per 10 km: 32 menit 3 detik
  3. Palembang, Sumatera Selatan: Waktu tempuh rata-rata per 10 km: 27 menit 55 detik
  4. Surabaya, Jawa Timur: Waktu tempuh rata-rata per 10 km: 26 menit 59 detik
  5. Jakarta: Waktu tempuh rata-rata per 10 km: 25 menit 31 detik

Kota Termacet di Dunia

Ternyata, kota termacet di dunia itu ada di Barranquilla, Kolombia. Waktu tempuh rata-rata per 10 km di sana mencapai 36 menit 6 detik! Wah, bisa sembari nonton drakor di jalan tuh!

Kalau di Asia, kota termacetnya ada di Kolkata, India. Waktu tempuh per 10 km di sana mencapai 34 menit 33 detik.

Di Asia Tenggara, kota termacetnya ada di Davao City, Filipina. Waktu tempuh mencapai 32 menit 59 detik untuk jarak 10 km. Filipina juga enggak mau ketinggalan macetnya.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com