Band asal Indonesia Mocca, mencoba pengalaman baru di teknologi blockchain dengan menggelar konser perdananya di metaverse.
Konser bertajuk ‘Mocca Love Fest’ tersebut akan di gelar pada Sabtu, 23 April 2022, pukul 16.00 WIB. Pihak managemen telah bekerja sama dengan Paras dan Reality Chain untuk melangsungkan konser digital tersebut.
“Aku sebagai vokalis Mocca, jujur sudah sangat tidak sabar untuk tampil di konser metaverse Sabtu ini. Ini akan jadi pengalaman pertama aku dan tim setelah hampir 23 tahun memulai perjalanan di dunia musik,” ujar Arina Ephipania saat jumpa pers virtual belum lama ini.
Pada sesi wawancara yang sama, Toma Pratama selaku bassist mengaku jika band mereka memang sejak lama menyukai suatu hal yang baru dan unik. Ia merasa sangat bersyukur dengan kesempatan ini.
“Kami senang sekali bisa bikin konsep konser metaverse bersama Paras dan Reality Chain yang di dalamnya seru dibuat seperti event offline.”
Tidak hanya menonton konser, para penonton juga berkesempatan menghadiri pameran NFT bersama Mocca dan artis lain yang mengeluti sektor ini.
Sementara untuk konsep konsernya nanti, Mocca akan tampil live di studio dengan penonton yang mengakses konser dengan mengklik mocca.paras.city.
Arina kemudian menegaskan jika konser di metaverse yang mereka langsungkan nanti akan berupa live streaming, bukan tapping. Arina cs akan tampil di studio seperti biasa.
Sementara itu, ini bukan pertama kalinya band asal Bandung tersebut terlibat dengan dunia virtual. Sebelumnya, Mocca telah merilis 5 karya NFT untuk membuka langkah mereka di sektor crypto.
Metaverse sendiri memang sudah ramai menjadi wadah acara virtual berlangsung. Sebelumnya, Australia Open hingga peluncuran seri Samsung yang baru juga digelar di sana.
Menteri Perdagangan RI, Muhammad Lutfi mengapresiasi program akselerator Tokocrypto Sembrani Blockchain Accelerator (TSBA) yang dirancang khusus untuk mendongkrak pertumbuhan beragam startup blockchain di Indonesia. TSBA sendiri adalah program kerja sama dari Tokocrypto dan BRI Ventures.
Dalam sambutan di acara Graduation Day TSBA, Lutfi menjelaskan geliat industri blockchain dalam beberapa tahun terakhir sangat pesat. Hal tersebut dibuktikan dengan dimulai tren aset kripto, NFT, hingga Web3.
“Potensinya sangat besar dan para pemain industri di Indonesia pun siap berinovasi serta bersaing di ranah teknologi baru ini. Menyambut masifnya Web3, metaverse dan lainnya di waktu mendatang, Indonesia sangat terbuka dan mendorong pertumbuhan industri ini,” kata Lutfi pada Jumat (22/4).
Tokocrypto Sembrani Blockchain Accelerator (TSBA) Dorong Pertumbuhan Industri Blockchain
Lutfi mengapresiasi program Tokocrypto Sembrani Blockchain Accelerator atau TSBA yang merupakan kolaborasi strategis Tokocrypto dan BRI Ventures. Menurutnya, program tersebut merupakan salah satu kendaraan tepat untuk mendorong percepatan project dan startup di Indonesia yang menggunakan blockchain sebagai tulang punggung bisnis untuk memberikan impact lebih besar bagi pertumbuhan industri.
Daftar startup peserta program TSBA dari Tokocrypto dan BRI Ventures.
“Program ini bisa menjadi percontohan dan tentunya acuan awal bagi pemerintah dalam memetakan geliat bisnis startup berbasis blockchain di Indonesia. Tentunya hal ini perlu didukung dengan strategi dan pemetaan skema industri serta bisnis dimana akan berdampak pada sistem perekonomian dan perdagangan di Indonesia,” jelasnya.
Program TSBA batch 1 dengan jumlah peserta 13 startup telah melakukan serangkaian aktivitas dan pelatihan yang akan dipandu oleh nama-nama terdepan di dunia blockchain internasional. Sejumlah nama tersebut di antaranya Tamar Menteshashvili dari Solana Labs, Ajey Gore dari Sequoia Capital, Nicole Zhang dari Binance Labs, YY Lai dari Signum Capital, Charles D’Haussy dari Consensys, dan Nicko Widjaja dari BRI Ventures.
Peserta yang bergabung di program TSBA diharapkan dapat bekerja sama dengan Tokocrypto dan BRI Ventures untuk turut membangun ekosistem blockchain di Indonesia.
Daftar 13 Startup Peserta TSBA
Peserta yang berhasil lolos seleksi diharapkan dapat bekerja sama dengan Tokocrypto dan BRI Ventures untuk turut membangun ekosistem blockchain di Indonesia. Berikut 13 startup peserta TSBA batch 1:
1. Avarik Saga
StartupGameFi yang mengusung konsep game Japanese RPG 2D di jaringan Ethereum. Setidaknya 8,888 karakter NFT Avarik Saga berhasil terjual dalam 1 jam. avariksaga.com
2. VCGamers
Pusat segala kebutuhan gaming dalam bentuk marketplace yang menjual item-item game virtual dan voucher. vcgamers.com
3. Nanovest
Sarana jual-beli dan investasi aset kripto serta instrumen investasi lainnya. nanovest.io
4. Eizper Chain
Game RPG bertemakan Steampunk di jaringan Solana. Eizper Chain juga pernah memenangkan urutan ke-3 terbaik pada ajang Solana Global Ignition Hackathon. eizperchain.com
5. Mythic Protocol
Game RPG play-to-earn yang tengah dikembangkan oleh tim yang terdiri dari individu-individu berpengalaman di bidangnya. mythicprotocol.com
6. SERMorpheus
Aplikasi NFT marketplace ramah pemula yang dapat menghubungkan mata uang sehari-hari dengan dunia Web3. app.sermorpheus.com
Sarana pengembangan game yang dapat ditujukan pada user base CreoEngine. Serupa dengan bagaimana pengembang app meluncurkan aplikasinya di Google Play Store. Melalui Creo Engine, pengembang game dapat mendapatkan keuntungan melalui berbagai cara dan skema. creoengine.com
10. PlayFix
Konsol yang dapat membantu pengembang, investor game maupun gamers dalam merancang dan meluncurkan game di dunia metaverse melalui integrasi teknologi blockchain. playfix.io
Tokocrypto memperkokoh posisi sebagai platform teknologi terdepan di Indonesia melalui inisiatif ekosistem blockchain, TokoVerse. Pembentukan TokoVerse ini merupakan tonggak sejarah baru yang menandai evolusi Tokocrypto dari platform perdagangan aset kripto, menjadi sebuah ekosistem terintegrasi yang memanfaatkan teknologi masa depan, yakni blockchain.
Pang Xue Kai, CEO Tokocrypto, menjelaskan sejak awal berdiri pada tahun 2018, Tokocrypto terus berkomitmen menciptakan industri aset kripto lebih legitimate dan mainstream di Indonesia, melalui pengembangan inovasi teknologi dan upaya-upaya edukasi dengan membawa manfaat yang lebih besar bagi perekonomian Tanah Air.
“Pencapaian Tokocrypto sejak aplikasi kami diluncurkan empat tahun tahun lalu merupakan bukti kepercayaan nasabah, partner bisnis dan investor terhadap visi dan model bisnis yang kami kembangkan. Pertumbuhan Tokocrypto sangatlah pesat. Dari 2020 hingga 2021, jumlah transaksi harian yang diproses dalam platform kami melesat 754% dan telah mencapai lebih dari US$ 191 juta atau setara Rp 2,7 triliun,” kata Kai.
Pengembangan bisnis Tokocrypto tidak hanya berhenti hanya sebagai exchange atau perdagangan aset kripto saja. Dalam perjalanannya, Tokocrypto memperluas pemanfaatan teknologi blockchain di Indonesia, dengan menghadirkan TokoVerse untuk membangun ekosistem blockchain yang berkelanjutan di Indonesia.
Pengembangan platform di ekosistem TokoVerse memanfaatkan kombinasi sinergis mulai dari domain Decentralized Finance (DeFi), GameFi dan Non-fungible token (NFT). Ekosistem ini didirikan dengan dorongan adopsi dari perkembangan industri aset kripto di Tanah Air.
“TokoVerse merupakan ekosistem blockchain pertama di Indonesia yang dibangun oleh Tokocrypto, di mana TKO, proyek kripto dengan token hybrid berkonsep CeDeFi menjadi backbone dalam pengembangan ekosistem tersebut. TokoVerse menjadi bukti komitmen dari Tokocrypto untuk membangun ekosistem berbasis blockchain yang berkelanjutan,” tutur Kai.
Ilustrasi ekosistem blockchain, TokoVerse by Tokocrypto.
Beragam platform yang dihadirkan di ekosistem TokoVerse dari Tokocrypto termasuk:
TKO (Toko Token): Token aset kripto utilitas yang dibuat oleh Tokocrypto. TKO merupakan proyek kripto lokal Indonesia pertama yang beroperasi berdasarkan model token hybrid unik yang menggabungkan utilitas Centralized Finance (CeFi) dan Decentralized Finance (DeFi).
TokoMall: Pelopor NFT marketplace yang diluncurkan Tokocrypto pada Agustus 2021. TokoMall hadir dengan misi pemberdayaan potensi kreator lokal Indonesia dalam berbagai bidang kreatif untuk mengakses pasar global melalui pemanfaatan NFT. Misi TokoMall adalah digital NFT meets reality.
TokoCare: Platfrom inisiatif Tokocrypto dalam ranah CSR (Corporate Social Responsibility) yang mengusung KolaborAKSI (berkolaborasi dan beraksi). Melalui TokoCare, Tokocrypto menjalankan berbagai program CSR bersama dengan mitra untuk menanggulangi isu sosial melalui pemanfaatan teknologi blockchain.
TokoScholars: Plafrom inisiatif dari Tokocrypto dalam memberikan edukasi terkait kripto dan teknologi blockchain dengan tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan market dan literasi kripto di Indonesia.
Kriptoversity: Aplikasi edukasi dengan konsep learn & earn pertama di Indonesia yang berisi materi pembelajaran tentang aset kripto dan ekosistem blockchain.
TokoLabs: Program inkubator dari Tokocrypto untuk mendukung proyek dan startup blockchain di Indonesia dan global. Misi TokoLabs membawa proyek blockchain Indonesia ke panggung dunia, dan mendorong percepatan adopsi tekonologi blockchain yang bermanfaat.
T-Launchpad: Platform IDO multi-chain yang terdesentralisasi. Melalui T-Launchpad, berbagai proyek blockchain dapat meluncurkan tokennya ke investor di seluruh dunia dengan metode aman dan terpercaya.
T-Hub: Dedicated space inisiatif Tokocrypto sebagai sarana bagi masyarakat untuk belajar, berinteraksi, berinovasi dan berkolaborasi antar komunitas serta memahami lebih dalam mengenai teknologi blockchain dan juga aset kripto.
TokoNews: Platform portal berita agregator terkait blockchain dan aset kripto. TokoNews hadirkan berbagai berita terbaru dalam maupun luar negeri, serta update terkini terkait Tokocrypto.
Selanjutnya Kai menekankan bahwa TokoVerse merupakan komitmen jangka panjang perusahaan untuk mengembangkan teknologi blockchain untuk mendorong perekonomian nasional. Riset PwC mengungkap teknologi blockchain dapat meningkatkan ekonomi global US$ 1,76 triliun pada tahun 2030. Sektor administrasi publik, pendidikan, dan kesehatan akan paling diuntungkan.
Sementara, Kementerian Perdagangan RI mencatat teknologi blockchain bersamaan dengan 5G, Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan, dan cloud computing bisa mendorong ekonomi digital Indonesia menjadi Rp 4.531 triliun pada 2030.
“Kripto dan seluruh ekosistem blockchain sedang mencoba untuk membuat internet baru, yang oleh banyak orang disebut Web3, seperti halnya Google dan Microsoft yang membantu menciptakan Web1. Teknologi blockchain akan mendominasi dunia selama 10-20 tahun ke depan dan dapat membantu memecahkan beberapa masalah ekonomi atau menguranginya,” pungkas Kai
Tokocrypto saat ini memiliki 2,5 juta pengguna per Maret 2022. Angka tersebut naik sekitar 35% dari posisi akhir 2021 yaitu sekitar 2 juta pengguna. Sementara, itu dari sisi transaksi atau volume trading aset kripto selama kuartal I 2022 telah mencapai $ 47,9 juta.
Era disrupsi digital bagai dua sisi mata uang bagi dunia jurnalistik. Di satu sisi, jurnalis memiliki akses besar terhadap informasi dan data untuk mendukung berkembangnya peliputan yang lebih variatif dan mendalam.
Namun di sisi lain, media cetak harus berjuang di tengah migrasi massal pembaca dan pengiklan ke platform digital. Permainan di dunia digital juga tak selalu mulus karena pasar iklan dan pembaca berita dimonopoli oleh dua raksasa teknologi: Google dan Facebook.
Fenomena tergesernya media massa oleh platform sosial media nyatanya memberikan dampak besar terhadap kualitas jurnalistik. Jangankan untuk melakukan liputan investigasi, media lebih sibuk meningkatkan traffik demi meraup cuan dari adsense.
Blockchain bisa dipertimbangkan untuk menjadi solusi menghadapi karut marutnya industri media, mengingat teknologi ini berfungsi sebagai penyimpan data digital.
Blockchain dapat dimasukkan dalam infrastruktur sebuah perusahaan media. Perusahaan bisa mulai berlangganan layanan berbasis blockchain.
Tak hanya untuk mengamankan data-data jurnalistik, blockchain juga dapat menyimpan dan melacak tayangan iklan yang tentunya menguntungkan perusahaan media dan pengiklan.
Ilustrasi blockchain.
Pakar Ethereum asal Rusia, Sasha Shilina, dalam jurnal berjudul ‘Journalism + Blockchain: Possible solution for an industry crisis?’ mengungkap keuntungan-keuntungan yang bisa diperoleh dengan memanfaatkan teknologi blockchain dalam industri media.
Beberapa media online memberikan pilihan kepada pelanggannya untuk membaca artikel berbayar. Cara ini bisa menjadi sumber dana tambahan bagi penulis dan perusahaan media, tanpa harus selalu bergantung kepada iklan.
Melalui teknologi blockchain, smart contract akan memproses secara otomatis pembayaran yang dilakukan pembaca untuk bisa mengakses artikel berbayar.
2. Menjaga kredibilitas
Hadirnya pengiklan tak jarang menimbulkan konflik kepentingan sehingga karya jurnalistik yang dihasikan seorang jurnalis tidak lagi murni. Hal ini bisa merusak kredibilitas sebuah perusahaan media.
Portal berita berbasis blockchain bisa menjadi jawaban atas masalah tersebut karena memanfaatkan teknologi untuk mendanai langsung proses jurnalistik.
Media akan keluar dari jeratan pengiklan konvensional sehingga jurnalis bisa bebas menyusun informasi yang benar-benar layak untuk diberitakan.
Ilustrasi blockchain.
3. Tulisan tersimpan permanen
Karya jurnalistik yang menarik layak untuk disimpan selamanya. Terkadang, seorang jurnalis harus kehilangan konten buatannya yang telah dipublikasikan usai media tempatnya bekerja gulung tikar. Teknologi Blockchain menawarkan ‘keabadian’ dengan menyimpan karya jurnalistik secara permanen dalam arsip online.
4. Menghilangkan iklan yang tidak perlu
Ketergantungan media terhadap iklan telah melemahkan kualitas dan kuantitas konten yang diproduksi. Banyaknya iklan di laman situs online juga membuat pembaca jengah, sampai harus memasang aplikasi pemblokir iklan.
Teknologi blockchain memiliki manfaat yang salah satunya memungkinkan pembaca berkontribusi terhadap pendanaan platform media favorit mereka.
Hal ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan media terhadap pengiklan. Tampilan situs pun tak terganggu dengan bermacam-macam iklan yang dipasang.
Salah satu media berbasis teknologi blockchain yang sudah diujicoba ialah PUBLIQ.
PUBLIQ merupakan perusahaan nirlaba yang menggunakan blockchain untuk menciptakan media terdesentralisasi. PUBLIQ.network menggunakan blockchain pribadi berdasarkan algoritma dari modifikasi Proof-of-Stake (PoS).
Salah satu tujuannya adalah untuk memberikan kebebasan kepada penulis untuk mempublikasikan konten mereka tanpa adanya intervensi. Sebagai bonus, teknologi blockchain membantu penulis mempertahankan hak cipta dan memonetisasi karya mereka.
Keunggulan lainnya dari PUBLIQ ialah konten tidak disimpan di situs terpusat yang rentan terhadap serangan siber, melainkan dalam akumulator terdesentralisasi.
Seluruh konten yang telah dipublikasikan PUBLIQ tidak bisa diubah. Blockchain secara otomatis menyimpan informasi akun, transaksi, dan metadata konten.
Ilustrasi blockchain.
Berdasarkan whitepaper PUBLIQ, teknologi ini bisa memberikan transparasi dalam proses penerbitan sebuah konten mengingat semua data penulis tersimpan di blockchain. Diharapkan pembuatan konten palsu juga bisa dicegah karena semua informasi tentang apapun yang diterbitkan akan disimpan di blockchain.
PUBLIQ juga memperkenalkan mata uang kripto dengan koin PBQ. Bukan untuk pembayaran online, PBQ berfungsi untuk membagi pendapatan dari pengiklan kepada para penulis.
Pendiri dan CEO PUBLIQ, Gagik Yeghiazarian, mengatakan PUBLIQ terintegrasi dengan dua exchange, yakni Centralized Exchange (CEX) dan Decentralized Exchange (DEX).
Dalam CEX, mata uang fiat dan mata uang kripto bisa dikonversi ke PBQ dan begitu pula sebaliknya. Sementara DEX membantu mengkonversi PBQ ke mata uang kripto lainnya sesuai keinginan pemangku kepentingan.
Bagaimana cara kerja PUBLIQ?
Validator akan menambang PBQ baru dan memberikan informasi jika sebuah artikel telah diimpor ke blockchain.
Lalu informasi itu masuk ke seeder yang menggunakan hard disk untuk menyimpan konten PUBLIQ. Konten tersebut kemudian didistribusikan melalui situs berita.
Situs tidak dapat mengubah informasi apapun di dalam konten, tetapi bisa memfilter konten yang ingin ditampilkan untuk pembacanya berdasarkan topik, tanggal, serta jumlah like.
Setelah konten diterbitkan, pengiklan bisa memasang iklan dan membayar dalam PBQ yang kemudian didistribusikan ke semua pihak yang terlibat, yakni penulis, seeder, dan validator.
Ilustrasi blockchain. Foto: Pixabay.
Salah satu keuntungan dari sistem ini ialah, siapapun yang ingin menerbitkan artikel tidak perlu berkerja sama dengan jurnalis atau perusahaan media.
Mereka hanya perlu membuka situs sendiri dan mempublikasikan apapun yang diinginkan dalam bahasa dan topik apapun.
Blockchain dinilai bisa menjadi jawaban untuk mendorong kemajuan industri media di masa depan dengan memungkinkan adanya pembayaran bagi penulis, menyediakan iklan digital, dan melakukan validasi hak cipta.
Sejumlah blockchain telah memulainya. Mereka siap mengembalikan kekuatan jurnalis melalui tulisan-tulisannya, serta menghilangkan kepentingan eksternal.
Proyek ini tak hanya fokus pada cara mendapat uang dan cara menggaet pembaca, tetapi juga untuk menghidupkan kembali jurnalisme yang telah menghadapi krisis dalam beberapa tahun terakhir.
Diharapkan teknologi blockchain bisa memperbaiki kepercayaan masyarakat kepada jurnalisme. Optimisme ini tentunya bisa menciptakan lingkungan terdesentralisasi yang menandai awal dari era baru jurnalisme.
Tobias Adrian, Penasihat Finansial dan Direktur Departemen Pasar Modal dan Moneter IMF, berkata IMF mulai memerhatikan India dan mengidentifikasi regulasi kripto sebagai isu prioritas dalam jangka menengah bagi negara tersebut.
Seiring kripto menjadi kian populer dan meluas sebagai alternatif bagi bentuk pembayaran tradisional, pemerintah dan organisasi di seluruh dunia berusaha menerapkan kendali ketat atas bentuk aset baru tersebut. Salah satunya adalah IMF.
Finbold melaporkan, pada acara pertemuan tahunan IMF, Adrian berkata pandangan IMF terhadap India termasuk positif secara keseluruhan.
Ia menjelaskan, “Saya pikir ada banyak peluang dan pertumbuhan dalam ekonomi India yang mulai bergairah. Ada pemulihan dan minat tinggi terhadap peluang pertumbuhan dan perkembangan baru.”
Soal agenda IMF bagi India, Adrian menekankan regulasi kripto adalah prioritas tinggi ketika terkait isu struktural jangka menengah yang harus diselesaikan oleh India dalam waktu dekat.
Menurut Adrian, hal tersebut sedang dilaksanakan secara global.
“Di dalam dewan stabilitas keuangan, kami mencoba membuat standar global bagi regulasi aset kripto. Saya pikir hal itu penting untuk diadopsi oleh India,” kata Adrian.
Ia menambahkan, India telah mengubah pajak terhadap aset kripto belum lama ini dan mengenakan pajak 30 persen terhadap keuntungan penjualan kripto. Menurutnya, kebijakan itu adalah langkah yang bagus.
Sementara itu, Menteri Keuangan Nirmala Sitharaman mendesak kesepakatan terkait penanganan kripto. Ia menyoroti potensi penyalahgunaan uang digital bagi pencucian uang dan pendanaan terorisme.
“Regulasi memakai teknologi adalah satu-satunya solusi. Regulasi itu harus canggih dan tidak tertinggal teknologi serta harus berada di atasnya,” kata Sitharaman.
Menurutnya, tidak mungkin satu negara menyelesaikannya sendiri. Semua negara harus bekerjasama menangani regulasi bagi aset kripto.
Menjawab kekhawatiran Sitharaman, Direktur Manajemen IMF Kristalina Georgieva berkata pihaknya akan meningkatkan usaha terkait kripto di India.
IMF akan fokus kepada resiko keamanan siber, regulasi uang digital privat, dan interoperabilitas bagi uang digital bank sentral (CBDC).
Laporan terbaru dari IMF memberikan peringatan terhadap aset kripto. IMF menyebut, penggunaan kripto lebih tinggi di negara-negara dengan tingkat korupsi tinggi dan pengendalian keuangan yang ketat.
Kendati demikian, IMF tidak setuju terhadap pelarangan kripto dan menginginkan regulasi lebih ketat. [ed]
Investor Kanada dan bintang Shark Tank, Kevin O’Leary, telah mengatakan bahwa telah ada “bendungan uang” yang siap meledak dan masuk ke industri crypto.
Tentu saja, yang dimaksud di sini adalah uang dari investor institusi, yang dalam pandangannnya, telah siap untuk memasuki pasar crypto secara besar-besaran.
Dalam sebuah wawancara, Kevin mengungkapkan bahwa para institusi masih menunggu kejelasan regulasi dari pemerintah, sebelum benar-benar melepas uang besar mereka ke pasar.
Dan pada Konferensi Bitcoin 2022 di Miami, Kevin telah mengomentari proposal baru yang diajukan oleh Senator Wyoming Cynthia Lummis dan Senator New York Kirsten Gillibrand.
Keduanya adalah legislator pro-crypto yang mendorong pemerintah AS untuk mengadopsi kerangka peraturan untuk crypto di negeri Paman Sam.
Saya menyimpulkan dari konferensi Bitcoin 2022, bahwa kami akan mengikuti aturan yang diberikan oleh pemerintah.
Aturan boleh saja tidak sempurna, tetapi kita mau Senator Lummis untuk berhasil. Model institusi yang bernilai triliunan dolar belum masuk ke crypto. Bagimana jika masuk ke industri? Dapatkah anda bayangkan?
Dari sudut pandangnya, modal institusi di pasar crypto masih bisa dibilang hampir nol. Artinya, porsi institusi untuk terlibat di crypto masih sangat minim dan kurang berdampak pada kapitalisasi pasar.
Dengan adanya regulasi yang jelas, ini bisa memicu masuknya pemain yang jauh lebih besar dari segi uang dan nama besar. Menurutnya, ETF Bitcoin yang disetujui akan menjadi jalan termudah bagi “bendungan uang” tersebut untuk pecah dan mengalir deras bak banjir bandang. Kita lihat saja!
Metapolis, metaverse pada blockchain Zilliqa (ZIL), disebut sebagai salah satu proyek metaverse paling ambisius menurut CoinSpeaker.com. Pasalnya, proyek ini adalah platformmetaverse-as-a-service (MaaS) pertama di industri kripto.
ZIL mengalami reli harga melampaui 100 persen berkat Metapolis yang sedang naik daun. Hal ini mengakibatkan komunitas kripto kembali memerhatikan ZIL yang telah lama ditelantarkan.
“Metaverse bukan sekedar properti baru, melainkan kanvas baru untuk individu. Metaverse seperti menemukan sistem tata surya atau galaksi baru,” kata Matthew Ball, pemodal ventura.
Metaverse membantu pekerja seni untuk menunjukkan karya mereka ke pasar yang lebih luas. Pencipta konten memiliki lebih banyak opsi untuk memonetisasi konten dan memberi insentif bagi setiap interaksi.
Kendati menghadirkan inovasi besar, metaverse belum mudah diakses masyarakat awam. Sebab itulah, Metapolis menghadirkan MaaS agar siapapun dapat membangun di dunia virtual.
Metapolis merupakan platform MaaS yang ditenagai Zilliqa. Zilliqa merupakan blockchain layer 1 berfokus kepada keamanan dan skalabilitas yang menjadi pondasi bagi masa depan digital.
Berbeda dengan metaverse pada umumnya, Metapolis merupakan lapisan interaksi mendalam yang dibangun untuk fleksibilitas dan pengalaman pengguna.
Model MaaS Metapolis menyingkat waktu yang dibutuhkan untuk mengubah ide menjadi kenyataan dengan cara memberikan individu dan badan usaha infrastruktur yang siap dan terintegrasi dengan blockchain Zilliqa.
Infrastruktur tersebut memberikan akses instan kepada ekosistem dApps, DeFi dan marketplace serta basis pengguna yang kuat. Hal ini merupakan dorongan besar bagi pengembang yang ingin menciptakan game P2E sebab semua mekanisme inti sudah tersedia sejak awal.
“Metaverse semakin terintegrasi di semua vertikal, mulai dari gaming hingga brand mewah, ritel, keuangan dan lainnya,” jelas Max Kantelia, co-founder Zilliqa.
Ia menambahkan, metaverse memicu inovasi digital dan membuka saluran interaksi baru serta pangsa pasar baru bagi brand besar dan raksasa industri sehingga semua pihak diuntungkan.
Dengan mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk membangun dan uji coba penerapan, Metapolis membuat proses pembangunan metaverse menjadi mudah dengan cara mengeliminasi pengetahuan teknis dan tanggung jawab operasional.
Melalui model MaaS, setiap individu dan organisasi memiliki peluang mewujudkan kreatifitas untuk memberdayakan komunitas dan menjelajahi model baru interaksi digital.
Apakah Anda sering mendengar istilah ‘peer to peer’ (P2P)? Istilah ini memang sangat populer digunakan terutama dalam industri fintech. Namun, beberapa waktu belakangan istilah ini juga banyak terdengar di dunia kripto, lho! Yuk, ketahui pengertiannya serta penerapannya di dalam dunia kripto!
Apa itu peer to peer? Peer to peer memiliki pengertian yang berbeda tergantung konteksnya
Pengertian P2P secara umum menurut Merriam-Webster
Kata ini merujuk pada sesuatu yang terjadi secara langsung antara manusia, antar teman, orang-orang yang serupa dalam usia, kelas, atau status. Sebagai contoh P2P mentoring artinya pendamping sejawat/dalam pekerjaan yang sama.
Pengertian P2P dalam dunia komputer
Peer to peer (P2P)adalahkumpulan dari beberapa perangkat komputer yang saling terhubung dan membuat sebuah jaringan, yang juga dikenal dengan sebutan P2P network. Lewat jaringan tersebut, tiap komputer memiliki tingkatan yang sama dan bisa saling bertukar data juga informasi, tanpa adanya satu perangkat komputer sebagai pusat.
Ada 3 jenis peer to peer network :
P2P tidak terstruktur
Sesuai namanya, jenis P2P network yang satu ini terbentuk berkat nodeyang saling terhubung satu sama lain dengan tidak beraturan. Maka dari itu, biasanya P2P tidak terstruktur banyak digunakan untuk membangun platform di mana para penggunanya bisa bebas keluar dan masuk jaringan karena kuat dalam menahan churn.
Meski begitu, sistem pencarian pada jenis P2P network ini cenderung kurang efisien karena harus mencari secara acak dalam jaringan untuk menemukan sejumlah perangkat yang saling bertukar data tersebut.
P2P terstruktur
Sementara itu, P2P terstruktur berarti jenis P2P network yang diatur oleh node yang diprogram untuk melakukan pencarian secara efisien. Umumnya, P2P network yang terstruktur berjalan dibantu dengan Distributed Hash Table (DHT) sehingga memudahkan untuk identifikasi nodes. Akan tetapi, jenis P2P network ini kurang kuat dalam menahan churn, dikarenakan setiap node harus terlebih dulu memiliki daftar yang sesuai kriteria.
P2P hybrid
P2P hybrid adalah jenis P2P network hasil gabungan antara P2P dan client-server, alias jaringan yang terpusat. Oleh karena itu, P2P hybrid sangat berguna apabila diterapkan dalam sebuah jaringan yang membutuhkan server pusat tetapi dikelola secara P2P.
Jenis P2P network yang satu ini juga dianggap paling efisien jika dibandingkan dengan dua jenis lainnya terutama dalam hal pencarian. Sebab, cara kerjanya dilakukan secara terpusat sambil memanfaatkan jaringan P2P tidak terstruktur.
Pengertian P2P dalam dunia keuangan
Konsep P2P banyak digunakan dalam industri keuangan dan teknologi, atau yang biasa disebut fintech. P2P dalam fintech mengacu kepada kegiatan pertukaran sejumlah uang, di mana seseorang (borrower) bisa memperoleh pinjaman uang secara online dari pemilik dana (borrower) tanpa harus melalui bank. Kegiatan inilah yang disebut sebagai P2P lending.
Tak hanya di industri fintech saja, konsep P2P juga mulai marak diterapkan pada blockchain dan dunia aset kripto, di mana P2P diberlakukan dalam exchangekripto atau bursa pertukaran aset kripto.
P2P exchangeatau bursa kripto peer to peermerupakan jenis bursa kripto yang menggunakan konsep ini, di mana konsep ini memungkinkan para penggunanya untuk bertukar aset kripto langsung secara pribadi tanpa harus melalui pihak ketiga, seperti misalnya bank.
Untuk lebih memahami P2P exchange mari kita lihat dulu konsep ini dalam blockchain.
Konsep Peer to Peer dalam Blockchain
Penerapan konsep ini memungkinkan pertukaran dilakukan secara tidak terbatas, dikarenakan tidak ada server pusat yang mengatur pertukaran tersebut alias sudah terdesentralisasi.
Hal inilah yang membuat siapa saja pengguna blockchain bisa berpartisipasi dalam validasi transaksi aset kripto yang terjadi dan pembuatan blok di dalam blockchain, mengutip CoinMarketCap.
Pada blockchain, terdapat banyak data transaksi yang dicatat dan dilengkapi oleh waktu, pengirim, dan penerima, sehingga informasi mengenai transaksi terbuka secara publik dan tidak bisa dipalsukan.
Nah, keberadaan P2P dalam blockchain ini bisa lebih meningkatkan keakuratan data transaksi, yaitu dengan cara menghubungkan beberapa perangkat komputer yang juga memiliki salinan buku besar tersebut.
Konsep P2P blockchain ini menciptakan sebuah bursa pertukaran aset kripto atau exchange. Tentunya, P2P exchange berbeda dengan exchange aset kripto biasanya yang masih tersentralisasi dan mengikuti aturan wilayah atau transaksi yang berlaku. Dengan P2P exchange, para penggunanya bahkan memungkinkan untuk bertransaksi aset kripto secara tunai, lho!
Lantas, bagaimana cara kerja P2P exchange?
Cara Kerja P2P Exchange
Sederhananya, dengan P2P exchange, registrasi akun bisa langsung dilakukan tanpa harus melewati tahap verifikasi identitas terlebih dulu. Setelah berhasil mendaftar, pengguna pun bisa langsung memilih penawaran yang terdapat di dalam exchange.
Jika telah memilih salah satu penawaran, pembeli bisa menghubungi penjual dan melakukan pembelian sesuai dengan harga, biaya tambahan, hingga metode pembayaran yang telah disepakati bersama.
Selain tanpa adanya kehadiran pihak ketiga yang menjadi jembatan antara pembeli dan penjual aset kripto, terdapat beberapa hal lain yang membedakan P2P exchange dengan exchange biasa, yaitu pembelian aset kripto di P2P exchange bisa dilakukan dengan menggunakan uang tunai atau metode pembayaran lain yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara, di exchange kripto biasa mengharuskan pembelian dilakukan dengan sesama aset kripto.
Beberapa P2P exchange yang populer dan banyak digunakan secara global antara lain Binance P2P, Bybit, Paxful, LocalBitcoins, Huobi, dan HODL HODL.
Setelah mengenal secara umum mengenai P2P exchange, apakah Anda tertarik mencobanya? Sebelum itu, ketahui dulu kelebihan serta kelemahan dari P2P exchange berikut ini agar tidak salah langkah, ya!
Kelebihan P2P exchange
Transaksi dilakukan secara langsung
Kelebihan pertama dari P2P exchange adalah tentu dari transaksi yang dilakukan secara langsung tanpa melalui perantara. Hal ini memudahkan para pembeli untuk memilih penawaran milik penjual mana yang sesuai dengan kriterianya masing-masing.
Selain itu, metode pembayaran yang digunakan pun sifatnya lebih fleksibel dan aman karena bisa disesuaikan langsung dengan kedua belah pihak. Alhasil, biaya yang dikenakan juga lebih murah apabila dibandingkan dengan exchange biasa.
Privasi lebih terjaga
Dengan menggunakan P2P exchange, privasi para pengguna pun cenderung lebih terjaga. Kok bisa? Hal ini dikarenakan P2P exchange tidak melibatkan Know Your Customer (KYC) seperti halnya exchange biasa.
Umumnya, pengguna hanya perlu mengisi email dan password saja dan menggunakan sistem pembayaran escrow untuk tetap menjaga keamanan transaksi. Jadi, kecil kemungkinan terjadi penyalahgunaan data pribadi.
Terakhir, dikarenakan menganut konsep peer to peer dan tidak ada pihak pusat yang mengatur berjalannya exchange, P2P exchange sangat mudah diakses. Pengguna hanya memerlukan perangkat dan sambungan internet saja. Bahkan, rekening bank sekalipun tidak diperlukan, lho.
Kelemahan P2P exchange
Proses lebih lama
Meski transaksi bisa dilakukan dengan cepat, proses pertukaran aset kripto cenderung lebih lama. Hal ini dikarenakan tidak ada pihak ketiga yang bisa menjembatani pembayaran antar kedua belah pihak.
Rawan disalahgunakan
Dikarenakan proses pertukaran aset kripto ini dilakukan secara langsung antara penjual dan pembeli, besar kemungkinan transaksi ini sulit terlacak. Dengan begitu, tidak menutup kemungkinan akan ada pihak-pihak tertentu yang menyalahgunakan hal tersebut untuk aktivitas ilegal seperti pencucian uang.
Tidak lagi bersifat anonim
Jika anonimitas dijunjung tinggi pada setiap transaksi yang dilakukan di blockchain, dengan menggunakan P2P exchange maka Anda harus siap untuk kehilangan privilege tersebut. Sebab, tidak jarang sistem pembayaran yang dilakukan adalah tunai sehingga sang pembeli dan penjual saling mengetahui identitas masing-masing. Selain itu, beberapa P2P exchange juga mencatat transaksi aset kripto pada profil pengguna secara terbuka.
Itu dia penjelasan mengenai peer to peer secara umum dan penerapannya dalam dunia aset kripto untuk jual-beli aset. Sebelum mulai bertransaksi aset kripto, pastikan Anda telah melakukan riset yang mendalam dan menetapkan tujuan agar tidak salah kaprah, ya. Kunjungi Tokonews untuk informasi dan edukasi lainnya seputar aset kripto dan jangan lupa untuk gabung di komunitas Tokocrypto sekarang!
Whale misterius yang menjadi pemborong Bitcoin terbesar ketiga di dunia telah memasuki ‘mode akumulasi’ atau serok menyerok aset dengan pembelian BTC dalam jumlah sangat besar.
Menurut data yang dilansir BitInfoCharts, whale dengan entitats non-exchange tersebut telah menyerok 2.822 Bitcoin dalam tujuh hari terakhir.
Penyerokan ini diduga karena harga Bitcoin yang tengah ambles di minggu kemarin dengan diperdagangkan di bawah $ 40 ribu . Namun untungnya, BTC alami sedikit pemulihan minggu ini dan pada penulisan sudah bernilai $ 41.381.
Dengan penambahan 2.822 Bitcoin baru atau setara dengan $117.144.042, menandakan whale raksasa tersebut telah mengakumulasi $5.202.214.689 dalam BTC yang tersimpan pada walletnya.
Bagaimana Tanggapan Analis Mengenai Akumulasi Ini?
Salah satu analis crypto terkemuka bernama Benjamin Cowen, menunjukkan bahwa akumulasi yang dilakukan whale misterius itu tidak seperti kebanyakkan entitas teratas lainnya yang befokus untuk menimbun aset.
Menurut Cowen, whale yang satu itu tampaknya telah memperdagangkan kisaran dalam aksi harga Bitcoin, membeli penurunan dan menjual harga tertinggi lokal.
Sederhananya, ia hanya fokus pada keuntungan jangka pendek.
Karena biasanya, strategi perdagangan whale yang relatif aktif menurut Cowen adalah, mayoritas Bitcoin wallet terkaya cenderung membeli hanya sesekali ketika fase-fase koreksi besar, bukan koreksi sedikit.
Sebelumnya, pemerintah Rusia dan bank sentral mengerjakan RUU yang akan mendefinisikan kripto sebagai aset digital yang melengkapi mata uang resmi, rencana diluncurkan pada 18 Februari 2022 lalu.
Cointelegraph melansir, pada 8 April 2022, Kementerian Keuangan Rusia mengumumkan amandemen dan finalisasi RUU kripto. RUU itu memberikan kejelasan regulasi terkait peredaran, penerbitan, perdagangan, penambangan dan aktivitas lain dalam pasar aset kripto.
Laporan tidak terkonfirmasi soal Rusia yang melegalkan aset kripto mulai muncul pada 16 April lalu. Komunitas kripto di Twitter menyambut laporan tersebut dengan tangan terbuka.
CEO Binance Changpeng Zhao termasuk salah satu sosok yang mengomentari laporan tersebut, mengingat beragam sanksi telah dikenakan kepada Rusia.
Tetapi setelah informasi semakin jelas, komunitas kripto menyadari laporan itu belum tentu benar. CZ dan sejumlah sosok lainnya menghapus cuitan terkait status legal di Rusia tersebut.
Rumor soal legalisasi kripto di Rusia dimulai oleh laporan dari surat kabar lokal Rusia Kommersant yang mengklaim mendapat versi final otentik RUU tersebut.
Menurut Kommersant, RUU itu menyarankan penerimaan uang digital sebagai alat pembayaran yang bukan merupakan unit moneter Federasi Rusia.
Kementerian Keuangan Rusia merampungkan dan membagikan RUU tersebut dengan pemerintah Rusia, tetapi belum ada pengumuman resmi soal penerimaan RUU itu beserta jadwal terkait.
Laporan Kommersant juga menyoroti bahwa RUU kripto Rusia menyarankan pembuatan kerangka regulasi bagi aktivitas terkait kripto dan menyampaikannya ke operator terdaftar.
Pada 14 April 2022, Sergei Katyrin, Presiden Kamar Dagang dan Industri Rusia, menyarankan kolaborasi dengan negara-negara Afrika untuk melaksanakan penyelesaian transaksi antar negara memakai kripto dan uang digital bank sentral (CBDC).
Dalam pengumuman terkait RUU final, Kementerian Keuangan menyatakan telah memiliki regulasi kripto jelas yang mempertimbangkan sudut pandang semua departemen pemerintah Rusia.
Sebagai usaha melawan sanksi internasional dan inflasi yang terjadi, Presiden Kelompok Gas Rusia Pavel Zavalny menandakan pihaknya dapat menerima Bitcoin (BTC) sebagai pembayaran bagi ekspor minyak dan gas.
Zavalny menyarankan untuk menerima rubel, yuan, lira dan bahkan BTC dari negara bersahabat. Tetapi, negara tidak bersahabat harus membayar minyak memakai rubel atau emas. [ed]