All posts by 37

Ini Cara DeFi Diadopsi Semakin Luas Lagi!

Situs web metrik Ethereum Dune Analytics melalui laporan terbarunya menunjukan ekosistem keuangan terdesentralisasi (DeFi) sekarang memiliki lebih dari 1 juta alat Ethereum. Angka ini meningkat lebih dari 10 kali lipat dari yang tadinya hanya 91.000 alamat pada 6 Desember 2019 silam.

Baca Juga: Harga ETH Akhirnya Tembus ATH, Bakal Naik Terus?

Meskipun pertumbuhan DeFi terbilang sangat pesat, beberapa ahli memperingatkan untuk tidak menjadikan hal ini sebagai acuan adopsi DeFi yang meluas. Pasalnya, untuk DeFi benar-benar dapat sepenuhnya mendobrak kondisi mainstream yang ada, strategi komunikasi dan jangkauan komunitas mereka juga harus dipertimbangkan.

Hal tersebut juga bisa disebabkan banyak pengguna DeFi yang menggunakan beberapa alamat untuk melindungi privasi mereka saat bertransaksi di jaringan publik Ethereum. Dilansir dari Cointelegraph, Brian Flynn, salah satu pendiri startup yang berfokus mendorong pastisipasi di DeFi, Rabbithole, menunjukkan jumlah peserta dalam DeFi sebenarnya jauh lebih rendah.

“Kenyataannya adalah jumlah pengguna unik hanya 10-15% dari itu. Itulah metrik penting sebenarnya.”

Spekulan Sebagai Peserta

Jadi bagaimana DeFi menjangkau satu juta pengguna dan seterusnya? Flynn menjelaskan bahwa langkah pertama dalam menarik lebih banyak pengguna unik hanya akan membuat “aplikasi pembunuh yang berfokus pada spekulasi” mirip dengan platform perdagangan CeFi Robinhood. Ketika itu platform tersebut mengalamii ledakan partisipasi yang luar biasa selama Pembatasan Sosial diberlakukan.

Namun, agar dapat berlangsung jangka panjang, cara yang dirasa paling tepat adalah memberi insentif kepada pengguna agar berpartisipasi dalam elemen tata kelola dan lapisan infrastruktur DeFi.

“Banyak pengguna memahami cara memperdagangkan token di Uniswap atau agregator, tetapi tidak memahami cara kerja protokol ini di belakang layar,” ujarnya. “Misalnya, dari semua alamat yang telah berdagang di Uniswap, hanya sebagian kecil yang pernah menyediakan likuiditas. Sebaliknya pada Compound, banyak pengguna yang hanya menempatkan likuiditasnya untuk mendapatkan bunga dan hanya sebagian aset yang dipinjam untuk diambil pinjamannya oleh pengguna lain.”

Baca juga: Semakin Luas, Polkadot Luncurkan Aliansi DeFi dengan Chainlink

“Kami membutuhkan pengguna untuk dapat melangkah lebih jauh ke dalam rabbit hole dan berpindah dari spekulan menjadi peserta dalam perekonomian terbuka. Begitulah cara kami mendorong adopsi yang nyata.”

Profil Pengguna yang Berbeda

Mendorong pengguna untuk menjadi aktor yang lebih aktif dalam lanskap DeFi adalah salah satu langkah menjanjikan menuju adopsi yang lebih luas, tetapi ada langkah lain yang mungkin menarik pengguna secara lebih luas lagi.

Patrick Rawson, salah satu pendiri di DAO engineering dan blockchain eksperimen outfit Curve Labs, mengatakan pengalaman pengguna saat ini di DeFi disesuaikan dengan demografi yang sangat spesifik.

“Orang-orang yang menggunakan mekanisme ini, mereka cenderung laki-laki, mereka condong lebih muda, mereka condong ingin mendapatkan keuntungan […], mereka cenderung menjadi ahli teknis,” kata Rawson. “Profil pengguna ini akan menuntut apa pun yang membuat mereka paling untung.”

Jika DeFi benar-benar ingin menjadi “bank yang tidak memiliki rekening bank” dan mencapai “mil terakhir” pengguna, mereka mungkin harus memikirkan strategi penjangkauan baru, kata Rawson.

Rawson mengatakan bahwa untuk mencapai perubahan ini, DeFi harus menyesuaikan dirinya dengan “struktur kelembagaan lokal yang mencerminkan nilai-nilai lokal.” Salah satu contoh yang dia tawarkan adalah kredit Sarafu, sebuah eksperimen “mata uang komunitas” di Kenya yang sebelumnya bermitra dengan Bancor.

Flynn setuju dengan pendapat tersebut. Ia merasa berfokus pada keuntungan di atas segalanya mungkin menjadi cara yang agak terbatas untuk bisa secara luas diadopsi. Terlebih, pengguna juga harus bisa memainkan peran penting sebagai agen informasi dalam membangun keberlanjutan DeFi.

“Kita perlu berhenti berfokus pada harga, dan lebih fokus lagi mengenai bagaimana jaringan crypto dan desentralisasi menjadi cara baru dalam membangun komunitas saat ini.”

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

Harga ETH Akhirnya Tembus ATH, Bakal Naik Terus?

Harga aset kripto Ether (ETH) akhirnya menembus all time high (ATH), US$1.439 (Rp20,2 juta). Selama setahun penuh, ETH sudah naik lebih dari 700 persen. Bakal naik terus?

Pasar aset kripto yang agak galau, karena Bitcoin yang terus meluruh selama lebih dari sepekan terakhir, cukup terobati karena rivalnya, yakni Ether (ETH) akhirnya menembus ATH.

Baca Juga: LINK Kembali Raih Harga Tertinggi! Ini Dia Penyebabnya

Tepat pada Selasa, (19/1/2021), pukul 19:00 WIB, berdasarkan data di Bitstamp via Tradingview, ETH merangsek level US$1.439 (Rp20,2 juta).

ETH ATH

Level itu resmi mencetak rekor ATH baru, karena ATH lama, yakni US$1.415,49 sudah terlampaui. ATH lampau itu tercetak pada 13 Januari 2018, pada skala harian.

ETH ATH

Secara teknikal, karena ETH sukses mencetak rekor ATH baru, maka potensi penguatan harga sangat terbuka, sebagaimana yang sudah terjadi pada Bitcoin dan Chainlink (LINK).

Maka, terhitung selama 1 tahun terakhir, harga aset kripto besar nomor dua setelah Bitcoin itu, tumbuh lebih dari 700 persen.

ETH ATH

Bullish Besar Sejak Oktober 2020
Dalam skala harian, “sinyal beli” sudah tergambar sebelumnya pada 10 Oktober 2020, ketika harga ETH berada di level US$339, berdasarkan indikator Market Cipher.

ETH ATH

Sinyal itu lalu diperkuat ketika pada 21 Oktober 2020, MA20 menembus bawah MA50 dan harga berada di atas MA200.

Koreksi Menyusul
Masih pada skala harian, setelah kemarin mencetak ATH baru, berdasarkan indikator Squeeze Momentum, plot 347 menukik menjadi plot 240) dengan bar hijau tua yang mulai memendek.

ETH ATH

Indikator seperti itu menguatkan akan adanya potensi koreksi lebih lanjut dalam beberapa hari ke depan.

Namun sekali lagi, secara teknikal, karena ETH sukses mencetak rekor ATH baru, maka potensi penguatan tinggi harga sangat terbuka. History repeat itself.



Sumber : news.tokocrypto.com

LINK Kembali Raih Harga Tertinggi! Ini Dia Penyebabnya

LINK terlihat mengalami apresiasi ke harga tertinggi barunya pada beberapa jam yang lalu bersama apresiasi yang terjadi pada altcoins. Hari ini koin dari Chainlink ini dikabarkan telah naik sekitar 19% dalam 24 Jam terakhir.

Apresiasi tersebut membawa LINK untuk mencapai harga tertinggi barunya pada $23.60 atau setara dengan Rp 333.326. Sebelumnya LINK berada di bawah $20 dan apresiasinya kemarin membawanya untuk naik membentuk harga tertingginya saat ini, walau sedang terkoreksi.

Harga $23.60 berhasil diraih pada platform Binance dimana walau saat ini mulai terkoreksi, harganya masih kuat di atas $20. Akibatnya banyak pihak yang memprediksi bahwa apresiasi masih dapat terjadi bahkan lebih tinggi.

Baca juga:Apa itu ChainLink $LINK ? Panduan untuk Pemula

Apresiasi ini disebabkan oleh beberapa hal penting yang telah membuat mayoritas investor LINK menambah kepemilikannya. Hasilnya, hanya dalam 24 Jam, harganya naik dengan mayoritas transaksi beli, akibat volume perdagangan jauh di bawah apresiasi sebelumnya.

Penyebab Utama Apresiasi

Apresiasi harga yang baru saja terjadi dikabarkan adalah akibat dari implementasi baru dalam smart contracts Chainlink. Implementasi ini telah membuat hubungan antara blockchain dan data dunia nyata menjadi lebih mudah terhubung dibanding sebelumnya.

Akibat kabar ini, LINK berhasil mendapatkan volume perdagangan sekitar $2,52 Miliar hanya dalam 24 Jam. Saat ini akibat kenaikan harga kemarin, LINK terhitung sudah naik sekitar 37% dalam tujuh hari terakhir dan 65% dalam satu bulan terakhir.

Kabar implementasi tersebut datang bersama beberapa pembaharuan terhadap sistem jaringan Chainlink secara menyeluruh, terutama dalam oracle-nya. Pembaharuan ini membuat pelaporan data harga sebuah aset menjadi lebih akurat.

Salah satu koin yang menggunakan oracle dari Chainlink adalah Litecoin, yang saat ini memiliki catatan pergerakan harga yang lebih akurat berkat oracle Chainlink. Saat ini semakin banyak protokol DeFi yang beralih ke Chainlink untuk menggunakan oracle datanya.

Baca juga: Analis Prediksi Pertumbuhan DeFi Dapat Dorong Harga Chainlink (LINK) Terus Naik

Hanya satu pekan terakhir platform seperti NULS, Opyn, Neutrino, Paxos, Warp Finance, Poolz, dan SynLev telah mengadopsi oracle data dari Chainlink. Pergerakan ini menunjukkan bahwa ketertarikan dan persepsi positif terhadap pertumbuhan Chainlink semakin naik.

Salah satu peneliti mengutarakan bahwa bukan hanya Chainlink yang membantu mendorong pertumbuhan sektor DeFi. Namun, sektor DeFi akibat pergerakan adopsi oracle ini juga terus mendorong sentimen positif terhadap Chainlink yang berimbas kepada harga LINK.

Dengan semakin pentingnya data pada era industri saat ini, oracle Chainlink mendapatkan ketertarikan tersendiri. Hal ini membuat sentimen positif bersama dengan peluncuran situs berbasis bahasa Cina yang mendorong pertumbuhannya di Asia.

Baca juga: Analis: Chainlink Tetapkan All-Time-High, Akan Ada Koreksi Sebelum Rally Selanjutnya

Akibat dari banyaknya sentimen positif ini, komunitas Chainlink yang disebut Link Marines memprediksi bahwa LINK akan mencapai urutan ketiga dalam kapitalisasi pasar pada akhir Maret 2021.

Untuk membuat pencapaian ini memungkinkan, Link harus mengalahkan lima aset crypto lainnya dan meningkatkan kapitalisasinya sebesar $15 Miliar. Walau terlihat berat, apresiasi ini masih sangat mungkin akibat jaraknya yang tidak terlalu jauh dengan beberapa aset crypto di depannya.

Baca Juga: Bitcoin, Jalan Alternatif?

Aset Crypto Lain Juga Terus Naik

Walaupun terlihat mudah akibat jaraknya yang pendek, saat ini aset-aset crypto yang harus dikalahkan LINK juga terlihat masih bergerak positif. Walau mayoritas terlihat stagnan, beberapa koin terlihat naik mencetak pencapaian baru.

Binance Coin terlihat naik sekitar 9% mencapai harga tertingginya di $47 beberapa jam yang lalu. Polkadot (DOT) dan Cardano (ADA) juga terlihat masih kuat mengalami apresiasi dan mencerminkan bahwa dominasi altcoins akan segera dimulai.

Apresiasi ini terlihat bersama dengan Bitcoin yang stagnan bahkan mulai terkoreksi turun. Pada akhir pekan kemarin, harga Bitcoin terlihat berkonsolidasi dan telah turun sekitar $4.000 hingga $5.000 dari harga tertingginya.

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

Bitcoin, Jalan Alternatif? – Tokocrypto News

Ibarat sel tubuh yang tumbuh tanpa hambatan (proliferasi), Bitcoin (BTC) yang berteknologi blockchain kian merasuki kelompok usia muda (Generasi Z). BTC sebagai mata uang digital (MUD) baru, setidaknya selama satu dekade terakhir adalah sebuah kelaziman bagi kaum “ber-DNA digital” itu. Bitcoin sebagai jalan alternatif?

BTC semakin dianggap sebagai mata uang (currency) alternatif dengan “nilai paling stabil” dibandingkan mata uang resmi alias fiat currency yang diterbitkan oleh negara dan emas.

Ketika tulisan ini disusun, harga tertinggi 1 BTC mencapai Rp587 juta dalam dua pekan terakhir. Bandingkan dengan Maret 2020 yang hanya Rp76 juta. Atau ketika diciptakan pertama kali, tidak sampai Rp5 ribu, pada tahun 2009.

Tentu BTC adalah salah satu dari sekitar 4.800 jenis MUD yang lahir setelahnya dalam sepuluh tahun terakhir. Tetapi, lebih dari separuhnya gagal berkembang (Johnson dan Green, 2019). Universitas Cambridge merilis studi yang memperlihatkan peningkatan pengguna MUD sudah mencapai 101 juta orang hingga September 2020 (2019).

Cryptocurrency (mata uang digital/elektronik berbasis kriptografi) pada prinsipnya tidak diterbitkan oleh negara, melainkan oleh individu ataupun kelompok-kelompok termasuk perusahaan, melalui pemrograman.

Baca Juga: Warga AS akan Dapat Stimulus, Harga Bitcoin Diprediksi …

Bitcoin sebagai Sebuah Sistem

Oleh perancangnya, Satoshi Nakamoto (2008), Bitcoin didefinisikan sebagai “A Peer-to-Peer Electronic Cash System”; sistem uang elektronik peer-to-peer.

Tulis Nakamoto dalam paper-nya: Versi uang elektronik murni peer-to-peer akan memungkinkan pembayaran daring (online) dilakukan langsung dari satu pihak kepada pihak lain tanpa melalui lembaga keuangan.

Sebagai sebuah sistem, yang dimaksud dengan Bitcoin adalah peranti lunak untuk bertransaksi objek bernilai (uang), sekaligus penerbitan bentuk uang (money) dan mata uangnya/nilai uang (currency). Wujud mata uangnya adalah digital (juga disebut Bitcoin [BTC]) dan ditransaksikan melalui Internet.

Memanfaatkan jaringan transaksi peer-to-peer, bagi Nakamoto, guna mencegah terjadinya double spending (uang digunakan dalam beberapa kali transaksi).

Nakamoto memang tak menyebut sistem itu dengan istilah “blockchain” dalam paper-nya itu. Istilah “block” dan “chain” ditulis terpisah didalamnya, tetapi mengandung makna serupa terhadap makna “blockchain” yang dikenal dunia saat ini.

Istilah “block chain” (ditulis dengan spasi) kali pertama disebut oleh Hal Finney, seorang pakar kriptografi asal Amerika Serikat yang juga terlibat memberikan masukan soal “sistem Bitcoin” itu kepada Nakamoto, sebelum sistem itu diluncurkan pada awal tahun 2009.

Disebut dengan blockchain, karena setiap kumpulan transaksi dicatatkan ke dalam block (sebuah jenis berkas/file khusus). Lantas, setiap block ditautkan/dirantai secara kronologis dan diamankan secara kriptografis (hash). Dalam konteks sistem Bitcoin, kemunculan setiap block ditetapkan rata-rata setiap 10 menit.

Sedangkan BTC sebagai bentuk uang digitalnya, diterbitkan dalam bentuk imbalan (reward) kepada pihak yang memverifikasi dan memvalidasi transaksinya. Pihak itu disebut dengan istilah miner (penambang), menggunakan alat khusus. Alat ini lazimnya “sangat haus” energi listrik karena perlu daya yang besar.

Jadi, setiap block terbit, miner yang berhasil memverifikasinya, berhak mendapatkan reward dalam bentuk BTC yang baru.

Kali pertama sistem Bitcoin diluncurkan, reward yang diperoleh miner adalah 50 BTC per block. Nah, karena Bitcoin menganut faham “deflationary system”, setiap 210.000 block berlaku mekanisme Halving. Mekanisme itu memastikan reward akan berkurang sebanyak separuh.

210.000 block itu setara dengan periode 4 tahun. Jadi setiap 4 tahun, reward yang diperoleh miner berkurang, mulai dari 50 BTC menjadi 25 BTC. Lalu 25 BTC menjadi 12,5 BTC. Saat ini, sejak Mei 2020 reward-nya (penerbitan BTC yang baru) adalah 6,25 BTC per 10 menit (rata-rata).

Kelak pada tahun 2024 berkurang separuh lagi, yakni menjadi 3,125 dan seterusnya seperti itu, setiap 4 tahun.

Pada akhirnya, sekitar tahun 2140 nanti, total BTC yang terakumulasi adalah 21 juta BTC. Tak ada BTC baru yang diterbitkan setelahnya. Saat ini BTC yang sudah ditambang adalah 18.602.600 BTC.

Dengan kata lain, pasokan (supply) BTC sudah ditetapkan (diprogram) oleh sistem, yakni terbatas hanya 21 juta unit.

Mata Uang Digital (MUD)  Baru dan Semangat Jalan Alternatif

Jika dirunut asal muasalnya, kemunculan MUD dipicu oleh ketidakpastian atas nilai uang resmi yang diakui oleh pemerintah, tingginya inflasi, kelambanan operasi dan biaya tinggi perbankan.

Selain itu, lembaga otoritas keuangan dianggap tidak mampu menjaga nilai tukar uang yang terus menerus terdepresiasi.

Ratusan orang berlatar belakang disiplin filsafat, matematika, komputer sains, kriptografi dan politik bergabung dalam grup diskusi virtual-mailing list-diberi nama cypherpunk sejak tahun 1992. Mereka adalah sekelompok ahli dan aktivis multidisiplin yang gusar terhadap keadaan dan rute teknologi, ekonomi, sosial, dan politik pada era proliferasi internet jaman itu (Assange, 2016).

Secara khusus, diskusi awal dimulai dengan kekhawatiran semakin hilangnya privacy dalam dunia digital, yang dilanjutkan dengan diskusi mendasar lainnya yang menantang kemapanan sekaligus kerentanan sistem ekonomi mainstream.

Pertanyaan penting lainnya yang ingin dijawab adalah bagaimana epistemologi nilai dikembalikan kepada setiap individu.

Sebagai contoh dalam bentuk operasional; bisakah bank disebut sebagai tempat penitipan aset bernilai, digantikan dan dikembalikan kepada setiap individu itu sendiri? Nah, sampai disini, jawabannya ditemukan: Bitcoin.

Di sinilah muncul pemberontakan saintifik para cypherpunk; desentralisasi versus sentralisasi. Bank tersentralisasi di pihak ketiga bergeser ke pengertian bahwa “setiap individu adalah bank berjalan”.

Mata uang dengan nilai tukar yang sama secara permanen versus mata uang resmi dengan nilai tukar yang terdepresiasi. Ide mengembalikan transaksi purba: barter secara adil.

Blockchain, ekosistem yang dipakai MUD, diletakkan secara saintifik-teknologis plus semangat idealisme gerakan sosial di dalamnya.

Idealisme otentik dalam sistem blockchain menegaskan bahwa individu harus memiliki kedaulatan atas nilai, tidak tersubordinasi dalam sistem yang eksploitatif; solidaritas (ekonomi) versus individualisme.

Akademisi di berbagai jurnal ilmiah pun memberikan justifikasi bahwa mata uang berbasis blockchain memang layak dipercaya.

Baca Juga: Ini Sejarah Lahirnya Logo Bitcoin

Dari Ide ke Materi

Kalam telah menjadi materi dan materi telah menciptakan revolusi. MUD ini menggelembung seperti tsunami raksasa lintas negara, menciptakan semacam “chaos” baru.

Memang, uang ini tidak memposisikan restu negara sebagai prinsip. Jikapun mendapat restu, itu hanya sekadar pelengkap.

Pada awalnya ada upaya memberangus MUD, namun upaya itu gagal di berbagai negara.

Para penggagas awalnya memiliki impian akan suatu dunia tanpa penghisapan manusia atas manusia, dunia yang sebisanya tanpa pihak ketiga dalam bertransaksi untuk memastikan nilai yang utuh, akuntabel, rahasia, dan dapat dipercaya.

Namun, tidak seperti impian ideal para penciptanya, uang digital ini tidak hanya digunakan oleh kelompok Generasi Z untuk bertransaksi.

Penggunaannya meluas dan mengglobal, tidak hanya sebagai alat tukar, tetapi menjadi komoditi, hingga munculnya kembali jebakan pihak ketiga; broker jual beli mata uang kripto, layaknya jual beli mata uang resmi (valas/valuta asing).

Tak Berdaulat atas Private Key

Contohnya, “kode rahasia” (private key) Bitcoin yang sejatinya harus dipegang oleh masing masing pemiliknya, justru disimpan oleh pihak ketiga dengan jaminan rekognisi negara sebagai barang komoditi.

Seperti pernak pernik terkait Che Guevara yang dikapitalisasi, demikian juga blockchain. Dalam hal ini satu produknya mata uang kripto, pun dibajak kembali oleh kapitalisme.

Tercatat beberapa negara gagal juga mencoba MUD. Zimbabwe melegalkan MUD untuk mengatasi kehancuran mata uang dolar setempat.

Kehancuran mata uang bolivar tahun 2018 memaksa presiden Venezuela, Nicholas Maduro untuk menciptakan MUD petro.

Tidak hanya negara gagal, negara adikuasa seperti Rusia dan Tiongkok telah menciptakan MUD sendiri, termasuk negara tetangga kita, Singapura.

Hingga tulisan ini dibuat, total perdagangan global uang digital telah mencapai lebih dari satu triliun dolar AS, dimana lebih dari separuhnya bertumbuh pada saat pandemi COVID-19 dimulai sejak tahun 2020.

Hal ini dipicu krisis dan plus suntikan uang besar besaran berbagai bank sentral negara-negara di dunia ke dalam pasar (UC, 2020).

Badan resmi PBB dan LSM internasional pun mulai melirik uang digital sebagai alat transaksi dan donasi yang sah.

Oktober 2019, UNICEF meresmikan UNICEF Cryptocurrency Fund, unit resmi yang beroperasi menerima donasi publik, dan menyalurkan donasi ke seluruh dunia dalam bentuk uang digital.

Save the Children, sebuah LSM internasional yang ternama, tercatat sebagai LSM pertama yang menerima dan menyalurkan uang digital sejak tahun 2013.

Setelah itu, ribuan LSM di seluruh dunia mulai menerima dan menyalurkan donasi uang digital.

Sebagai Komoditi di Indonesia

Pemerintah Indonesia melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) telah mengakui beberapa jenis MUD sebagai komoditi, meskipun belum menerimanya sebagai alat tukar yang sah.

Bak jamur di musim hujan, perusahaan jual beli aset digital/aset kripto bermunculan, dan pengguna nasional meningkat tajam.

Kapitalisasi uang digital di Indonesia pada minggu pertama Januari 2021 telah mencapai lebih dari Rp6 ribu triliun (Fiat, 2021).

Lebih jauh, mata uang ini tidak hanya dikejar oleh perusahaan keuangan, korporasi dan hedge fund. MUD berpotensi dipakai sebagai alat transaksi ‘uang panas’ oleh para koruptor, mafia, hingga kelompok bersenjata dan teroris, karena tingkat kerahasiaannya yang nyaris sempurna (RAND, 2019).

Alhasil, mata uang kripto ini tertelan oleh dunia kapitalisme yang gelap dan mengikuti karakter uang, pendahulunya; aset baru dengan tingkat volatilitas dan berisiko tinggi.

Kontribusi untuk Bumi yang Lebih Baik, Mungkinkah?

Sejauh ini, perlu digarisbawahi berjaraknya antara pikiran gerakan (keadilan sosial, ekonomi, dan politik) tentang blockchain dengan para pelaku gerakan itu di berbagai lapangan.

Pemikirannya melesat jauh, sementara pelaku gerakan sosial terlambat jauh dan tertinggal.

Ide blockchain semakin condong pada sektor keuangan semata. Alhasil, pelaku utama pengguna gagasan besar ini bergeser cepat dan disambar oleh pasar.

Sebagai promosi kembali ke “khittah” ideal blockchain, sudah selayaknya pelaku gerakan sosial politik melirik penggunaan teknologi ini sebagai alat perlindungan alam.

Penghancuran sumber daya alam khususnya hutan di Indonesia sebagai emitter tertinggi karbon penyebab perubahan iklim, terjadi karena ketidak-jelasan tenurial yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Penggunaan teknologi blockchain berbasis rakyat masif, dengan menciptakan aplikasi murah yang tersedia di ponsel, berpotensi melindungi hak atas sumberdaya alam dan menjaga keutuhan keanekaragamannya, termasuk menghindari potensi pencurian hak atas kekayaan hayati.

Sebagai contoh, jika teknologi blockchain digunakan untuk tatakelola tanah berbasis rakyat di Indonesia, maka kemungkinan munculnya perijinan keliru dan tumpang tindih hak atas tanah akan bisa dihindari, dan dengan sendirinya mengurangi konflik tanah.

Salah satu perhatian penting para pengkritik aset kripto khususnya terhadap Bitcoin adalah penggunaan listrik berskala besar yang digunakan untuk komputer canggih para penambang di berbagai belahan dunia, utamanya di Tiongkok, Amerika Serikat dan Eropa, pusat-pusat penambangan uang digital.

Namun, penggunaan listrik para penambang virtual ini tidak apple to apple dengan tambang emas, salah satu pesaing penting uang digital.

Tambang emas yang murni fisik sejatinya menghancurkan bentang alam dan menghasilkan limbah berskala besar, termasuk mencemari air bersih.

Secara metaforik, satu cincin emas nikah meninggalkan 20 ton limbah terkontaminasi merkuri dan sianida.

Dengan kehadiran Bitcoin yang kompetitif berhadapan dengan emas, ada harapan perlambatan penghancuran sumberdaya alam dan hutan.

Tentu gerakan kolektif dan investasi teknologi diperlukan sehingga ekosistem blockchain mampu dipergunakan secara mudah dan murah oleh masyarakat utamanya petani, masyarakat adat, nelayan, dan berbagai pemangku sumberdaya alam dan hutan di Indonesia.

Penggunaan MUD untuk menerima dan menyalurkan donasi kepada kelompok sosial rentan yang membutuhkan dukungan sosial di Indonesia, adalah salah satu alternatif yang patut dipertimbangkan, sebagaimana telah dimulai lembaga resmi dibawah Perserikatan Bangsa Bangsa dan lembaga internasional lainnya.



Sumber : news.tokocrypto.com

Warga AS akan Dapat Stimulus, Harga Bitcoin Diprediksi …

Presiden Amerika Serikat  terpilih Joe Biden akan mengumumkan paket stimulus baru minggu depan sebagai upaya untuk memulai ekonomi AS. Paket tersebut senilai $1.400 setara dengan Rp19.680.000 yang berupa cek stimulus individu dan akan berjumlah lebih dari $1,5 triliun.

Namun komunitas beranggapan jika warga Amerika tidak selalu menggunakan dana tersebut untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan memilih untuk investasi cryptocurrency. Hal ini akan menyebabkan harga crypto atau Bitcoin terkena imbas.


Setelah Demokrat mengendalikan DPR dan Senat, Presiden terpilih Biden dapat mendorong figur yang lebih tinggi tanpa menghadapi tingkat oposisi yang sama dengan yang dimiliki pemerintahan Donald Trump.

Baca Juga: Changpeng Zhao: Harga Bitcoin Bisa Rp2,1 Milyar Per BTC Tahun Ini

Joe Biden pun berjanji untuk menangani pandemi lebih serius daripada presiden saat ini. Paket tersebut akan mencakup sebagian besar pengeluaran rantai pasokan yang bertujuan untuk mendukung program peluncuran vaksin.

Paket tersebut juga akan menunjuk pendanaan khusus untuk komunitas minoritas. Seorang pejabat transisi menyatakan.

“Saya pikir Anda akan melihat penekanan nyata pada komunitas yang kurang terlayani ini, di mana ada banyak kerja keras yang harus dilakukan.”

Stimulus fiskal baru diharapkan dapat meningkatkan inflasi, melemahkan dolar AS dan membawa banyak investor baru ke Bitcoin dan emas.

“Stimulus Biden dapat menambah sentakan ekstra pada harga bitcoin, tetapi tidak lebih dari mendorong kereta barang yang meluncur,” Jehan Chu,dari Kenetic Capital, dilansir dari Coindesk.

Rencana Stimulus Biden

Pemeriksaan stimulus datang di tengah reli bersejarah di pasar cryptocurrency. Kapitalisasi pasar baru-baru ini melonjak melewati $ 1 triliun karena Bitcoin menggandakan lebih dari dua kali lipat hargatertinggi sebelumnya.

Cryptocurrency terbesar kedua di pasar, Ethereum, juga melihat beberapa aksi harga naik. Pada bulan Maret, ketika putaran pertama pemeriksaan stimulus diumumkan, Bitcoin menguat dari penurunan menjadi $ 3.000.

“ Beberapa komunitas mengatakan ini adalah efek langsung dari orang Amerika yang lebih kaya. Mereka tidak selalu membutuhkan bantuan pemerintah dan mereka memilih menghabiskan cek  stimulus untuk investasi cryptocurrency,” tulis berita yang dirilis oleh Beincrypto.

Demikian pula, putaran terakhir pemeriksaan stimulus $600 yang benar-benar disetujui Kongres telah mulai mengarah ke orang Amerika yang memenuhi syarat. Ini terjadi karena Bitcoin pulih dari koreksi baru-baru ini setelah menetapkan level tertinggi sepanjang masa di $ 41.941 minggu lalu.

Merangsang Pasar Cryptocurrency

Pemerintahan baru berusaha menemukan cara untuk membalikkan dampak ekonomi dari pandemi COVID-19. Amerika Serikat adalah salah satu negara yang paling terpukul di dunia menurut statistik resmi.

Beberapa vaksin sedang dalam proses tetapi ada kekhawatiran proses peluncurannya akan memakan waktu berbulan-bulan. Populasi umum tidak dijadwalkan untuk menerima vaksin sampai Q3.

Baca juga: Paket Stimulus Covid-19 Didorong Disalurkan Melalui Blockchain

Ini berarti akan lebih banyak pemeriksaan stimulus berpotensi diberikan kepada orang Amerika sebelum pandemi ini berakhir.

Jika para investor ritel belum sepenuhnya masuk ke Bitcoin mungkin dengan banyaknya tantangan untuk distribusi vaksin, ekonomi masih butuh waktu untuk pulih hingga stimulus AS yang bisa melemahkan dollar, bisa jadi menjadi kalatlisator untuk kenaikan Bitcoin dan cryptocurrency lain.

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

Changpeng Zhao: Harga Bitcoin Bisa Rp2,1 Milyar Per BTC Tahun Ini

Changpeng Zhao (CZ), Pendiri dan CEO Binance mengatakan bahwa harga Bitcoin bisa menjadi US$150.000 per BTC (sekitar Rp2,1 milyar) pada tahun ini.

“Bisa naik menjadi US$150.000 lalu menjadi US$400.000. Dan aset kripto lainnya juga turut naik,” katanya dilansir dalam wawancara dengan Forkast, Jumat (15/1/2021).

Perihal harga Bitcoin yang sempat anjlok lebih dari 20 persen, dia mengatakan itu masih sangat wajar.

Baca Juga: Perusahaan Penasihat Keuangan Borong Bitcoin?

Apa Penyebabnya akan Naik Terus?
Menurut CZ permintaan terhadap Bitcoin yang besar sehingga melejitkan harganya, karena dampak pandemi terhadap ekonomi global.

“Tahun 2020 itu adalah tahun yang ‘sangat gila’. Pandemi COVID-19 menghentikan semua aktivitas ekonomi secara global, ditambah pelonggaran kuantitatif oleh setiap negara. Dari uang dolar AS yang beredar saat ini, sekitar 20-30 persen diterbitkan pada tahun lalu. Dan mungkin negara lain mengikuti pola serupa,” kata CZ.

Dia berkesimpulan, pada dasarnya jika Anda terus menyimpan mata uang fiat itu, maka daya beli Anda telah terdevaluasi sebesar 20-30 persen.

Dan CZ setuju, hal itulah yang mendorong sejumlah perusahaan untuk terus membeli Bitcoin, seperti MicroStrategy, Square dan MassMutual.

Menurut CZ tren adopsi institusional terhadap aset kripto, khususnya Bitcoin, kemungkinan akan meningkat pada tahun 2021 ini.

Minat itu memang nyata, setidaknya terlihat dari pembelian saham lebih dari 10 persen oleh Morgan Stanley di MicroSrategy pada pekan lalu.

Morgan Stanley, bank investasi multinasional asal Amerika Serikat kini mempunyai saham sebesar 10 persen di perusahaan MicroStrategy. Perusahaan itu terkenal memiliki Bitcoin terbanyak di dunia, untuk kategori perusahaan publik, yakni 70.470 BTC.

Berdasarkan dokumen di Komisi Bursa dan Sekuritas (SEC) AS yang diterbitkan pada 8 Januari 2021, Morgan Stanley telah mengakuisisi 792.627 lembar saham di perusahaan intelijen bisnis MicroStrategy itu.

Saham sebanyak itu setara dengan 10,9 persen saham di perusahaan yang telah melakukan investasi Bitcoin berskala besar-besaran selama beberapa bulan terakhir.

Pembelian saham itu terjadi pada 31 Desember 2020. Sedangkan saham MicroStrategy sendiri mengalami kenaikan yang sangat besar, bergerak dari US$289 pada 8 Desember 2020 menjadi US$545 pada 8 Januari 2021.

Berdasarkan data terkini dari Bitcoin Treasuries, MicroStrategy saat ini menyimpan 70.470 BTC atau lebih dari Rp40,4 triliun!

Pemilik saham lain di MicroSrategy dalam perusahaan investasi raksasa, Black Rock. Perusahaan asal AS itu juga dikenal beberapa kali membela keunggulan Bitcoin sebagai instrumen melawan inflasi.

Data dari CNN diterakan, BlackRock memiliki 14,79 persen saham, setara dengan 1.072.819 lembar saham di MicroStrategy.

Baca Juga: Pantera Capital: Harga Bitcoin Rp1,6 Milyar pada Agustus 2021

Morgan Stanley Pro Bitcoin
Morgan Stanley sendiri cukup bullish soal apresiasi publik yang tinggi terhadap Bitcoin. Pada 9 Desember 2020 lalu, Ruchir Sharma, Kepala Strategi Morgan Stanley mengatakan bahwa kehadiran Bitcoin jenis aset kripto lainnya adalah peringatan penting kepada pemerintah soal penerbitan uang fiat yang tak terbatas.

“Lonjakan harga Bitcoin mungkin masih terbukti menjadi gelembung (bubble), tetapi Bitcoin adalah peringatan pemerintah manapun, terutama di AS yang menerbitkan dalam jumlah yang tak terbatas,” kata Sharma dalam artikel “Will bitcoin end the dollar’s reign?“yang ditulisnya di Financial Times, 9 Desember 2020 lalu.

Ia juga secara tegas mengatakan, bahwa jangan menganggap bahwa mata uang tradisional Anda adalah satu-satunya penyimpan nilai, atau alat tukar, yang akan dipercaya orang.

“Orang yang paham teknologi tidak mungkin berhenti mencari alternatif, sampai mereka menemukan atau menciptakannya,” ujarnya.

Sharma mencoba meyakinkan publik bahwa uang tradisional yang diterbitkan oleh negara sudah gagal.

Katanya, pejabat AS yakin bahwa, sebagai tanggapan terhadap dampak ekonomi akibat COVID-19, mereka dapat menerbitkan dolar dalam jumlah yang tidak terbatas tanpa merusak status mata uang cadangannya,

“Tetapi kelas aset baru sebagai pesaing muncul, yakni cryptocurrency/aset kripto yang beroperasi di jaringan peer-to-peer yang tidak diatur oleh negara mana pun. Aset kripto seperti Bitcoin adalah uang alternatif yang demokratis dan desentralistik,” ujarnya.

Jauh sebelum itu, pernyataan positif Morgan Stanley pernah diutarakan pada tahun 2018 silam, ketika Bitcoin masih terkoreksi sangat parah.

Katanya kala itu, Investor institusi semakin dalam terlibat di Bitcoin dan uang kripto lain, sementara jumlah investor ritel tetap stagnan.

Zhao memprediksi itu akan mendorong harga Bitcoin dan aset kripto lainnya naik secara signifikan. Kapitalisasi pasar aset kripto pun bisa naik 100 hingga 1000 kali lipat.

“Tapi tentu saja, ada juga kemungkinan kita memasuki musim dingin aset kripto lagi, namun peluangnya bisa lebih kecil,” kata Zhao.



Sumber : news.tokocrypto.com

Bitcoin Melewati Batas Atas, Harga Mulai Naik Kembali?

Bitcoin baru saja berhasil naik melewati batas atas pada $35.000 dan terus berhasil melewati $36.350 yang merupakan batas konsolidasinya beberapa hari terakhir. Akibatnya banyak pihak yang memprediksi bahwa Bitcoin akan kembali menyentuh $40.000 dalam waktu dekat.

Bitcoin Melewati Batas Atas

Bitcoin berhasil melewati batas atas konsolidasinya setelah beberapa hari terakhir terlihat stagnan dari sentimen Dolar Amerika. Akibatnya saat ini diprediksi bahwa harga akan mulai menyentuh $38.000 bahkan $40.000 dalam jangka waktu dekat.

Apresiasi ini juga membuat pola head and shoulders pada grafik 4 Jam rusak yang menandakan bahwa kemungkinan pergerakan ke bawah menjadi lebih kecil. Hal ini disebabkan pada umumnya pola tersebut menandakan bahwa harga akan bergerak turun, yang jika rusak berarti tanda tersebut juga rusak.

bitcoin ath
Pergerakan Harga Bitcoin 4 Jam

Jika apresiasi terjadi dan membalik $36.000 menjadi batas bawah dapat menggagalkan narasi bahwa Bitcoin sedang menuju pergerakan turun setelah jatuh 26,5% pekan ini. Narasi ini muncul juga akibat kapitalisasi pasarnya yang jatuh sekitar $200 Miliar pekan ini.

Walaupun terjadi depresiasi ini, mayoritas pelaku pasar keuangan masih terus memiliki pandangan positif terhadap Bitcoin dan pasar crypto secara menyeluruh. Pandangan positif ini mendapat dorongan besar dari Office of the Comptroller of the Currency (OCC).

Baca juga: 3 Cara Aman Beli Bitcoin Saat Harganya Meroket

Biro independen yang mengurus tentang mata uang di Kementerian Keuangan ini baru saja memperbolehkan penggunaan stablecoins. Penggunaan ini dikhususkan untuk bank dalam melaksanakan transaksi dan untuk menjadi kustodian bagi stablecoins itu sendiri.

Salah satu bukti nyatanya adalah Anchorage yang baru saja diizinkan oleh OCC untuk menjadi kustodian bank digital pertama. Hasilnya dengan adanya pernyataan positif tentang mata uang crypto dari Kepala OCC, pelaku asar crypto melihat kabar ini sebagai sentimen positif dan terus mendukung crypto walau sedang turun.

Sektor DeFi dan Altcoins Juga Menguat

Kondisi pasar saat ini sangat mencerminkan pergerakan pasar sebelumnya dimana Bitcoin mengalami koreksi tajam yang berujung pada konsolidasi setelah adanya apresiasi berbentuk parabola.

Saat fase konsolidasi ini, mayoritas investor lebih sering mengalokasikan dananya pada altcoins. Pergerakan ini nampaknya telah terjadi lagi dengan volume perdagangan altcoins hari ini yang naik bersama apresiasi harganya.

Baca juga:Coinfest 2021: Prediksi Koin DeFi Berpotensi Naik di 2021

Dengan Bitcoin yang baru saja berkonsolidasi di $32.000 dan $35.000 beberapa hari terakhir, Ethereum mengalami apresiasi. Pada saat konsolidasi tersebut, ETH naik sekitar 3,96% dan berada di harga $1.120.

Selain itu, Polkadot (DOT) juga terlihat mencetak rekor baru dengan apresiasinya yang hampir mencapai 37% bersama Kusama (KSM) yang naik lebih dari 21%. Secara keseluruhan kapitalisasi pasar crypto telah mengalami apresiasi dan berada di $983,5 Miliar.

Bitcoin Masih Mendominasi

Walaupun terjadi apresiasi di seluruh pasar crypto, saat ini Bitcoin masih terlihat mendominasi. Tingkat dominasi Bitcoin di pasar crypto saat ini terlihat telah mencapai 68,7% yang walau turun, tetap menunjukkan kekuatan Bitcoin.

Oleh karena itu, dengan mayoritas altcoins yang kembali konsolidasi setelah mengalami apresiasi signifikan, nampaknya saat ini Bitcoin akan mulai naik kembali. Kemungkinan besar, dengan adanya apresiasi sebelumnya, target pada $40.000 saat ini masih sangat mungkin.

bitcoin ATH
Pergerakan Harga Bitcoin 1 Jam

Tetapi sayangnya saat ini apresiasi tersebut masih terhalang oleh batas atas yang jika berhasil dilewati dapat membawa Bitcoin kembali ke zona pergerakan naik sebelumnya. Pada grafik 1 Jam, saat ini volume perdagangan masih belum besar, yang membuat Bitcoin masih kesulitan untuk naik.

Ada kemungkinan bahwa pergerakan naik saat ini hanya sebuah retest akibat setelah menyentuh zona apresiasi sebelumnya, Bitcoin bergerak turun. Namun, sesi perdagangan Amerika dapat merubah semua akibat volume umumnya memuncak pada sesi tersebut.

Kemungkinan besar harga saat ini akan turun mencapai $36.350 sebelum naik kembali menuju $37.445. Jika berhasil naik kembali dan menembus batas tersebut, kemungkinan target selanjutnya berada di $38.700 sebelum menuju $40.000.

Baca Juga: Perusahaan Penasihat Keuangan Borong Bitcoin?

Namun, jika turun kemungkinan besar batas selanjutnya berada pada $35.600 yang kemungkinan akan menjadi batas pengaman terakhir. Jika ditembus, kemungkinan harga akan kembali bergerak turun walau kemungkinannya sangat kecil.

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

Perusahaan Penasihat Keuangan Borong Bitcoin?

Hasil survei yang diterbitkan belum lama ini oleh Bitwise, mengungkap jumlah perusahaan penasihat keuangan asal Amerika Serikat yang memborong Bitcoin melonjak 50 persen antara tahun 2019 dan 2020.

Bitwise mensurvei hampir seribu perusahaan penasihat keuangan dan menemukan beberapa indikator yang menunjukkan industri penasihat keuangan lebih berminat terhadap aset kripto itu pada tahun 2020 dibanding tahun 2019.

Baca Juga: Perencana Keuangan yang Investasi Crypto Dikabarkan Naik 50%

“Adopsi dan minat bertumbuh, survei ini menegaskan jumlah penasihat yang membeli bisa berlipat ganda dalam setahun ke depan,” jelas Hougan dari Bitwise.

Menurut Bitwise, ada peningkatan 50 persen dalam jumlah penasihat yang membeli kripto. Angka ini bertumbuh dari 6,3 persen menjadi 9,4 persen di tahun 2020.

Selain itu, 17 persen penasihat keuangan mempertimbangkan untuk membeli kripto pertama kalinya tahun ini.

Di antaranya, 2 persen pasti membeli kripto tahun ini, sedangkan 15 persen mungkin akan melakukannya.

Bila 17 persen melakukannya, Bitwise mengklaim hal ini akan menggandakan jumlah penasihat yang memborong kripto, sehingga adopsi mencakup satu diantara lima penasihat.

Ketika ditanya apa motivasi utamanya, 54 responden survei berkata mengincar imbal hasil. Menurut Bitwise, hasil ini sesuai dengan hasil survei tahun lalu.

Baca Juga: Konsumsi Listrik Tambang Bitcoin Lampaui Belanda, Dekati Uni Emirat Arab

Sebagai perbandingan, perlindungan terhadap inflasi adalah tanggapan yang mengalami peningkatan persentase paling besar antara 2020 dan 2019. Tahun 2020, perlindungan inflasi diprioritaskan oleh 25 persen penasihat dibanding 9 persen tahun lalu.

Survei juga memperlihatkan 81 persen penasihat ditanya soal kripto oleh kelian mereka. Poin ini meningkat 76 persen dari tahun 2019.

Penasihat keuangan juga semakin optimis soal harga Bitcoin. Menurut survei, 15 persen responden memrediksi harga Bitcoin akan melampaui US$100 ribu dalam lima tahun. Di tahun 2019, hanya 4 persen penasihat keuangan yang optimis.

Selain itu, persentase penasihat keuangan yang menduga harga Bitcoin akan menjadi nol berkurang dari 8 persen menjadi 4 persen.



Sumber : news.tokocrypto.com

Perencana Keuangan yang Investasi Crypto Dikabarkan Naik 50%

Survei menunjukkan bahwa perencana keuangan yang mulai investasi crypto telah mengalami apresiasi sebesar 50% dalam satu tahun. Apresiasi ini juga terjadi bersama alokasi dana pengguna jasa mereka yang berubah menjadi 10% dalam alokasi terhadap crypto.

Perencana Keuangan Investasi di Crypto

Survei yang digelar bersama ETF Trends, situs investasi terkenal di Amerika, memperlihatkan bahwa perencana keuangan yang investasi crypto terlihat naik. Hasil ini didapatkan dari survei ditarik dari 1.000 perencana keuangan yang mengikuti survei ini pada Desember 2020.

Pada survei ini ditemukan juga bahwa sekitar 9,4% dari pengguna jasa mereka atau klien mereka memiliki crypto dalam portfolio investasi mereka. Angka ini merupakan apresiasi sekitar 6,3% dari tahun lalu.

Dari survei tersebut, ditemukan juga bahwa dari perencana keuangan yang belum menginvestasikan dananya di crypto, 15% dikabarkan akan mulai investasi di 2021. Selain itu 2% dari mereka secara pasti akan mulai di awal tahun 2021 ini.

Perencana keuangan terlihat lebih tertarik untuk menginvestasikan dananya pribadi dibandingkan dana kliennya pada mata uang crypto. Dari survei tersebut, sekitar 24% dari keseluruhan partisipan telah menginvestasikan dananya pada crypto.

Baca Juga: Cara Mendapatkan Passive Income dari Investasi Kripto

Penyebab Apresiasi Alokasi

Ketidakpastian perekonomian dari pandemi Covid-19 terlihat menjadi penyebab apresiasi dalam alokasi investasi terhadap crypto. 54% dari responden tersebut mengkonfirmasi hal tersebut dengan menyatakan bahwa terdapat korelasi antara pandemi dan keuntungan dari crypto.

Satu seperempat dari responden menyatakan bahwa investasi dilakukan bukan untuk mencari keuntungan namun untuk melindungi kekayaannya terhadap inflasi. Alasan ini sejalan dengan sentimen kegunaan crypto dalam pelindungan terhadap inflasi yang naik 9% dibanding tahun lalu.

Permintaan dari klien para perencana keuangan ini juga terlihat naik dimana 81% perencana keuangan melaporkan permintaan untuk alokasi investasi ke crypto. Angka tersebut dikabarkan merupakan apresiasi permintaan klien sekitar 76% dibandingkan 2019.

Potensi Masih Besar

Walau terjadi pertumbuhan alokasi ke crypto, CIO dari Bitwise menyatakan bahwa survei ini hanya mencerminkan kurang dari 10% perencana keuangan di dunia. Tetapi angka ini justru bagus akibat masih ada kemungkinan lebih tinggi dalam apresiasi.

Baca juga: Mengenal Reksadana Bitcoin Melalui Grayscale Bitcoin Trust

Menurutnya, dari survei tersebut masih ada kemungkinan alokasi perencana naik mencapai dua kali lipat dari saat ini. CEO dari ETF Trends juga menyatakan bahwa saat ini perencana keuangan juga masih mencari aset alokasi terbaik dan terlihat bahwa mayoritas baru mulai menuju ke crypto.

Angka penolakan terhadap crypto juga terlihat turun 10% dari 2019 yang terlihat dari pihak yang memprediksi Bitcoin akan turun ke $0. Sebaliknya, perencana keuangan yang memprediksi bahwa Bitcoin akan mencapai angka jutaan dalam 5 tahun naik sekitar 11%.

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

Inilah 229 Aset Kripto yang Bisa Diperdagangkan di Indonesia

Bappebti menerbitkan daftar 229 aset kripto yang bisa diperdagangkan di bursa aset kripto/crypto marketplace (calon pedagang fisik aset kripto) Indonesia. Di luar itu, wajib dilakukan delisting.

Baca Juga: Cara Mendapatkan Passive Income dari Investasi Kripto

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) menerbitkan Peraturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Perba) Nomor 7 tentang Penetapan Daftar Aset Kripto yang Dapat Diperdagangkan di Pasar Fisik Aset Kripto.

“Dengan terbitnya peraturan Bappebti tersebut, diharapkan perdagangan fisik aset kripto di Indonesia mampu memberikan kepastian hukum sekaligus perlindungan bagi masyarakat yang bertransaksi fisik aset kripto di Indonesia,” ujar Kepala Bappebti Sidharta Utama dalam keterangan resminya, dilansir dari Kompas, (11/1/2021).

Sidharta menyebutkan Bappebti menetapkan 229 jenis aset kripto yang bisa diperdagangkan di pasar fisik aset kripto.

“Dengan demikian, wajib dilakukan delisting jenis aset kripto di luar dari jumlah tersebut, yang diikuti dengan kepastian langkah penyelesaian bagi pengguna,” tegas Sidharta.

Sidharta menjelaskan, penerbitan peraturan itu juga dimaksudkan mencegah penggunaan aset kripto untuk tujuan ilegal, seperti pencucian uang, pendanaan terorisme, serta pengembangan senjata pemusnah massal.

Hal itu sesuai rekomendasi standar internasional Financial Action Task Force (FATF) untuk melindungi pengguna aset kripto serta memfasilitasi inovasi dan pertumbuhan aset kripto di Indonesia.

Baca Juga: Menimbang Ramalan Bitcoin Rp3 Milyar Tahun Ini

Berdasarkan penelusuran Blockchainmedia.id di peraturan itu, berikut daftar lengkap 229 aset kripto yang bisa diperdagangkan di Indonesia. Di luar daftar itu, bursa aset kripto di Indonesia (calon pedagang fisik aset kripto), wajib men-delisting-nya.



Sumber : news.tokocrypto.com