Category Archives: Tokocrypto

Sukses dengan HardFork Alonzo, Cardano Perkenalkan Smart Contract Plutus

Cardano telah memasuki fase pengembangan baru setelah menginisiasi Alonzo di mainnet. Ini merupakan peningkatan besar yang dilakukan pada jaringan Cardano dengan melihat implementasi fungsionalitas smart contract yang dinanti-nanti oleh para penggemar kripto. 

Baca Juga: Cardano Secara Resmi Luncurkan Smart Contract!

Alonzo melihat Input Output, tim pengembangan inti Cardano yang mengintegrasikan skrip Plutus untuk programmability smart contract. Selama beberapa bulan terakhir, Input Output terus menguji Cardano dalam persiapan menghadapi hardfork, pecahan yang dilakukan sebuah aset kripto untuk membangun sistem baru yang berbeda dengan asal mulanya. Setelah pembaruan Alonzo, siapapun dapat membuat dan menerapkan smart contract mereka sendiri di blockchain Cardano. Hal ini dapat membuka jalan bagi aplikasi desentralisasi (DApps).

Ketika DApps diimplementasikan, jaringan tersebut diharapkan dapat mendukung ekosistem DeFi yang sedang berkembang. Pertukaran terdesentralisasi (decentralized exchange), launchpad dan marketplace NFT juga diharapkan dapat dihadirkan dalam beberapa bulan kedepan.

Baca Juga: Analis Kripto Populer Beberkan Alasan Cardano Akan Setara Dengan Ethereum

Token ADA Cardano telah mengalami peningkatan dalam beberapa minggu terakhir. Saat artikel ini ditulis, kapitalisasi pasar Cardano sebesar $76,790,313,091 dengan harga sekitar $2,30 dan $2,90 yang menunjukkan banyak spekulan kemungkinan membeli saat rumor dan menjual setelah berita yang sesungguhnya telah dirilis (buy on rumor, sale on news). 

 



Sumber : news.tokocrypto.com

Mari Cari Tau tentang Hak Cipta Karya Seni di Indonesia

Dalam industri seni, permasalahan yang sering dihadapi oleh seniman adalah plagiarisme. Maka dari itu, implementasi hak cipta karya seni merupakan hal yang wajib dikuasai oleh seniman dan kreator agar terhindar dari perbuatan oknum yang tidak bertanggung jawab.

Plagiarisme Karya Ardneks oleh Twisted Vacancy

Pada pertengahan Maret 2021, kejadian plagiarisme menimpa seorang seniman bernama Kendra Ahimsa yang lebih dikenal dengan Ardneks. Melalui akun instagram-nya, Kendra membuat sebuah postingan yang menceritakan bahwa dirinya telah menerima lebih dari 20 laporan mengenai plagiarisme terhadap karyanya yang dilakukan Twisted Vacancy.

Kendra merupakan seorang ilustrator terkenal dengan sentuhan tipografi vintage ala komik Jepang yang telah Ia pelajari dan kembangkan selama kurang lebih 8 tahun.

Dalam postingannya, Kendra menjelaskan jika Twisted Vacancy telah mengambil beberapa elemen unik dalam karyanya tanpa dimodifikasi dan kemudian diperjualbelikan. 

Dilansir dari White Board Journal, Twisted Vacancy merupakan sekumpulan tim yang terdiri dari 28 orang dengan latar belakang teknisi dan mampu menguasai perangkat lunak. Bisa dibilang, tim Twisted Vacancy memang bukan berlatar belakang pendidikan seni, karena itulah Twisted Vacancy mendaftarkan “karya” yang memiliki elemen Kendra di dalamnya ke bentuk NFT.

Sebenarnya dalam perkembangan kasus Kendra dan Twisted Vacancy terdapat dua hal yang harus diketahui, pertama adalah kurangnya implementasi Hak Cipta untuk seni ilustrasi di Indonesia dan yang kedua adalah peran NFT dalam pendaftaran orisinalitas suatu karya.

Sebelum membahas lebih lanjut, mari kita ulik sedikit mengenai Hak Cipta Karya Seni di Indonesia dan NFT.

Peraturan Hak Cipta Karya Seni di Indonesia

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, definisi Hak Cipta merupakan hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan  ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dikutip dari The Finery Report, Twisted Vacancy menyangkal bahwa tindakannya termasuk bagian dari plagiarisme. Ia menggunakan UU Hak Cipta sebagai pembenaran atas perbuatannya karena hukum memperbolehkan seseorang untuk mengambil 10% sampai 20% kemiripan. 

Padahal kebijakan tersebut didasari atas pelanggaran hak cipta dalam musik, sehingga tidak bisa diimplementasikan ke dalam seni ilustrasi karena elemen pada gambar tidak bisa disamakan dengan komposisi not serta bar pada musik. Maka, dapat disimpulkan bahwa karya ilustrasi belum sepenuhnya dilindungi oleh UU Hak Cipta.

Terlebih dalam pasal 44 UU Hak Cipta dijelaskan bahwa penggunaan, pengambilan, dan penggandaan sebagian atau seluruh yang substansial diperbolehkan asal tidak digunakan untuk kepentingan komersial. Tentu hal ini bertolak belakang dengan perbuatan Twisted Vacancy, karena mereka berhasil meraup keuntungan hingga Rp 1,1 Miliar.

Setelah mengetahui kasus di atas dari perspektif Hak Cipta, mari kita ketahui dulu serba-serbi NFT.

NFT Itu Apa, Sih?

NFT atau singkatan dari non-fungible token merupakan token yang ditautkan ke dalam sistem blockchain yang berfungsi sebagai sertifikat untuk menunjukkan kepemilikan seseorang terhadap suatu karya digital (video, musik, tweet, desain, dan sebagainya).

Ketika NFT sudah dienkripsi pada sistem blockchain, maka hal tersebut tidak bisa diduplikasi atau replikasi.

NFT Art

Secara sederhana, NFT Art merupakan karya digital yang diterbitkan ke dalam bentuk token NFT dan kepemilikannya hanya dapat dimiliki oleh satu pengguna saja, yaitu mereka yang pertama kali menerbitkan suatu karya ke dalam NFT.

Nah, sekarang kita kembali ke kasus Kendra dan Twisted Vacancy, yuk.

Sebagai informasi, Twisted Vacancy sebenarnya merupakan seniman kripto yang tidak memiliki latar belakang seni sama sekali. Mereka tidak hanya melakukan plagiarisme terhadap karya Kendra, tetapi mereka juga mendaftarkan karya Kendra ke dalam NFT. Melihat hal tersebut, Kendra sudah tidak bisa menerbitkan karyanya ke dalam bentuk NFT sekalipun Ia merupakan seniman yang asli.

NFT: Kolam Baru yang Melindungi Hak Cipta Para Seniman

Melihat kasus di atas, tentu perbuatan Twisted Vacancy tidak bisa dibenarkan untuk alasan apapun. 

Agar terhindar dari kejadian serupa, sudah saatnya para seniman untuk lebih aware dengan teknologi terbaru seperti halnya kehadiran platform yang dapat di-utilize untuk karya seni, yaitu dengan NFT. Dengan memahami dan mencoba teknologi NFT, kemungkinan untuk karya milik kreator terkena plagiarisme akan menurun, karena karya orisinal sudah pasti terverifikasi pada blockchain sehingga tidak bisa diduplikasi dan replikasi.

Selain itu, NFT memiliki fungsi untuk melacak penerbit token, pemilik awal, dan pemilik akhir dari suatu karya NFT. Terlebih seniman akan mendapat royalti ketika terjadi perpindahan tangan kepada pihak ketiga.

Yuk, Gabung di TokoMall!

Jika Anda seorang seniman karya berbasis digital dan ingin mendaftarkan karyanya ke dalam NFT, TokoMall hadir menjadi mitra bagi para kreator yang ingin mematenkan serta memamerkan karyanya kepada para kolektor potensial di luar sana.

Caranya gampang, kok! Kunjungi https://mall.tokoscape.com/ lalu sambungkan dengan wallet Metamask dan daftarkan diri Anda sebagai merchant. Setelah melengkapi proses registrasi, Anda akan mendapat hasil verifikasi. Kemudian jika akun TokoMall telah disetujui, Anda bisa mempublikasikan dan menawarkan karya terbaik Anda kepada kolektor.

Setelah mengetahui peraturan hak cipta karya seni di Indonesia dan serba-serbi NFT, apakah Anda tertarik untuk memamerkan karya terbaik Anda kepada dunia melalui NFT? Tunggu apalagi, segera daftarkan diri Anda bersama TokoMall dan perlihatkan karya terbaik Anda!



Sumber : news.tokocrypto.com

Yuk, Simak Perbedaan Reksa dana dan Crypto Sebelum Investasi

Kini sangat mudah menemui berbagai instrumen investasi yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan tiap investor. Beberapa dari kita pasti sudah tak asing dengan investasi reksa dana, atau yang tengah banter terdengar saat ini yaitu investasi crypto. Tentunya kedua instrumen investasi ini sama-sama menawarkan cuan untuk para investornya. Namun, jika berbicara ketidaksamaannya, apa saja sih yang menjadi perbedaan antara reksa dana dan crypto? Nah, agar lebih jelas, yuk, simak artikel ini!

Kenalan dengan Investasi Reksa Dana

Instrumen investasi reksa dana memang sudah jauh ada sebelum crypto atau aset crypto hadir. Di Indonesia sendiri, reksa dana dikenal sejak tahun 1995 dan berkembang pesat di tahun 1996. 

Reksa dana adalah produk investasi berbentuk kumpulan dana yang kemudian dikelola sebagai modal investasi untuk diinvestasikan ke dalam berbagai jenis produk keuangan seperti saham, obligasi, serta instrumen investasi lainnya. Nah, nantinya dana tersebut dikelola oleh manajer investasi yang dipilih oleh nasabah sendiri. 

Kenalan dengan Investasi Crypto

Investasi aset crypto sendiri diperkenalkan pertama kali di dunia yakni pada tahun 2009. Aset crypto ini lahir dari canggihnya teknologi. Bagaimana tidak? Aset crypto adalah mata uang digital yang berjalan di sistemnya sendiri yang disebut kriptografi. Dengan begitu, aset crypto hampir tidak mungkin bisa dipalsukan. 

Walaupun aset crypto bisa dibilang lebih muda dibanding instrumen investasi lainnya, ia sudah mampu menarik perhatian investor baru, terutama millennials. Hal ini terjadi bukan tanpa alasan. Ketika pandemi COVID-19 berlangsung di awal tahun 2020, harga salah satu aset crypto yakni bitcoin mampu stabil, bahkan cenderung naik, padahal di instrumen investasi lainnya meluncur drastis. Dengan begitu, mereka percaya bahwa aset crypto juga merupakan salah satu instrumen investasi yang safe haven.

Perbedaan Reksa Dana dan Crypto

Setelah berkenalan dengan kedua instrumen investasi tersebut, berikut kami hadirkan perbedaan reksa dana dan crypto yang bisa Anda ketahui:

Jika dilihat berdasarkan instrumennya, jelas keduanya memiliki perbedaan. Terdapat beberapa instrumen investasi pada reksa dana, seperti: deposito berjangka, sertifikat deposito, sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan Sertifikat Berharga Pasar Uang (SBPU). Sedangkan pada aset crypto, Anda bisa menemui berbagai pilihan instrumen investasi seperti bitcoin, ethereum, litecoin, dogecoin dan masih banyak lagi. 

Seperti yang sudah disebutkan di atas, reksa dana dikelola oleh manajer investasi terpilih. Nah, manajer investasi ini adalah sebuah manajemen atau lembaga profesional yang tugasnya mengelola kegiatan investasi Anda. Nantinya, sebelum Anda memulai investasi, manajer investasi akan membuat prospektus, yang didalamnya akan dijelaskan berbagai hal penting seperti kebijakan investasi, maupun legalitas dari pihak-pihak tertentu (seperti bank, kustodian, akuntan, dan kantor hukum).

Sedangkan pada aset crypto, semua keputusan dalam mengelola investasi ada di tangan investor sepenuhnya. Semua aktivitas jual beli aset dilakukan pada sebuah platform bernama exchange. Penyimpanan aset crypto sendiri pun dilakukan di wallet yang disediakan oleh exchange, sehingga dari proses pendaftaran hingga transaksi jual beli semua kendali ada di tangan Anda. 

Reksa dana memiliki waktu transaksi yang terbatas karena mengikuti jam dan hari Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni di hari Senin sampai Jumat. Untuk waktu pemesanan, pembelian, maupun penjualan dibatasi oleh waktu yang sudah ditentukan atau istilahnya cut off time. Cut off time untuk transaksinya sendiri adalah sampai dengan pukul 13.00 WIB setiap hari bursa. 

Berbeda dengan reksa dana, pada aset crypto, waktu transaksi yang ada sangatlah fleksibel. Anda bisa melakukan transaksi jual beli selama 24 jam di setiap harinya tanpa memandang hari libur. 

Kini Anda sudah tak perlu bingung lagi dengan perbedaan reksa dana dan crypto. Bagi Anda yang sudah memutuskan untuk berinvestasi aset crypto, yuk daftarkan diri Anda di Tokocrypto! Kunjungi www.tokocrypto.com segera untuk belajar, jual, beli, dan investasi aset crypto dengan mudah dan aman!



Sumber : news.tokocrypto.com

Bitcoin Terbukti Menang Melawan Saham, Emas, Minyak dan Dolar AS

Sejak awal tahun 2020 hingga hari ini (year to date/ytd), Bitcoin mampu mengalahkan kinerja saham, emas, minyak dan indeks dolar AS. Ini mencerminkan sentimen positif terhadap Bitcoin sebagai kelas aset baru.

Berdasarkan pantauan di MarketWatch siang hari ini, Bitcoin melejit hingga 50,63 persen sejak awal tahun (US$7.229 menjadi lebih dari US$10.800). Sedangkan Index Saham S&P 500 hanya mampu melaju di kisaran 2 persen. Sedangkan dalam tempo 30 hari masih minus 5,97 persen.

Kinerja Bitcoin (BTC). Sumber: MarketWatch.
Kinerja Indeks Saham S&P 500. Sumber: MarketWatch.

Sementara itu indeks saham teknologi Nasdaq di rentang waktu serupa, cukup senang di 21 persen, dengan raihan minus 6,69 persen dalam 30 hari.

Bagaimana dengan emas sendiri? Kendati emas mencetak imbal hasil bagus dalam setahun terakhir, yakni 24,01 persen, namun secara year to date, miring di 22,65 persen, sebagai akibat akumulasi koreksi cukup dalam setelah awal September 2020. Dalam 1 bulan saja emas terkoreksi hingga minus 5,49 persen.

Kinerja Emas. Sumber: MarketWatch.

Pasar minyak mentah tergolong sangat parah. Sejak awal tahun malah -34 persen. Minyak hanya tampak hijau dalam 3 bulan terakhir, yakni 4,93 persen.

Dolar AS yang terbukti menguat selama beberapa pekan terakhir malah minus 1,88 persen sejak awal tahun. Dalam setahun saja minus 4,5 persen. Hal itu tercermin dari Indeks Dolar AS (DXY).

Kinerja Dolar AS. Sumber: MarketWatch.

Indeks itu mengukur kekuatan dolar AS berbanding mata uang negara lain, yakni Euro (EUR), Yen (JPY), Poundsterling (GBP), Canadian dollar (CAD), Krona (SEK) dan Swiss Franc (CHF).

Bitcoin Kalah Telak Berbanding Ether (ETH)
Bitcoin memang cukup senang dengan capaian itu dibandingkan dengan aset tradisional lain. Namun di ranah aset kripto sendiri, kinerja Bitcoin (BTC) kalah telak dengan rivalnya, Ether (ETH), walaupun BTC masih terbaik dari segi kapitalisasi pasarnya yang masih nomor wahid.

Ether sangat kuat hingga 181,91 persen sejak awal tahun (naik dari US$131,52 menjadi US$362,11). Dalam tiga bulan saja Ether terbang 57,25 persen dan selama setahun mencapai 111,79 persen!

Pengguna Bitcoin Cs Bertambah
Cambridge Centre for Alternative Finance di Universitas Cambridge, Inggris menyebutkan bahwa pengguna Bitcoin Cs (aset kripto) secara global saat ini mencapai 101 juta. Angka itu naik 189 persen berbanding tahun 2018, yakni 35 juta “unique users”. Pengguna dari kalangan institusi masih kecil.

Hal itu tertuang dalam laporan hasil survei “3rd Global Cryptoasset Benchmarking Study” sepanjang 71 halaman. Survei digelar pada Maret-Mei 2020 dan laporan diterbitkan beberapa hari yang lalu. Mayoritas responden adalah dari kawasan Asia Pasifik dan Eropa.

“Pada tahun 2018, berdasarkan survei edisi pertama jumlah pengguna aset kripto sekitar secara global mencapai 35 juta. Jumlah itu berdasarkan identitas pengguna yang terverifikasi di sejumlah bursa aset kripto dan penyedia layanan sejenis. Sedangkan pada survei ke-3 ini pengguna mencapai 101 juta di 191 juta akun,” sebut Cambridge dalam laporan itu.

Menurut mereka, peningkatan pengguna sebesar 189 persen itu berdasarkan peningkatan jumlah akun (yang meningkat 37 persen), serta bagian akun yang lebih besar
dikaitkan secara sistematis dengan identitas individu.

Baca Juga: Mengenal Smart Contract



Sumber : news.tokocrypto.com

Bisakah Pemegang 0.28 BTC Termasuk 1% Orang Terkaya Di Dunia Suatu Hari Nanti?

Nilai Bitcoin atau BTC sangat bergantung pada total ketersediaan koinnya yang terbatas, yaitu dipasok hanya 21 juta koin saja. Jika adopsi global terjadi secara massal, maka sebagian kecil nilai Bitcoin bisa menghasilkan kekayaan yang signifikan.

Salah seorang trader Bitcoin bercuit, “hanya ada 0,0027 BTC untuk 7 miliar orang saat ini,” melalui Twitter dengan nama akun Davincij15 pada 22 September.

Dia fokus terhadap kaitan antara total populasi di dunia dengan total pasokan Bitcoin. Pada awalnya, akun Davincij15 dikenal karena mengenang kembali masa-masa awal aset Bitcoin di tahun 2011 silam.

Baca Juga: Mengenal Smart Contract

“Jika Anda HODL 0,28 BTC, dan Bitcoin merupakan mata uang cadangan dunia, Anda akan menjadi 1% terkaya. Jadi HODLing 1 BTC berarti Anda mungkin memiliki 400x lebih banyak dari pada rata-rata orang lainnya (kasus terburuk).”

Perhitungan matematis Davincij15 termasuk logis dan masuk akal sehat manusia, meskipun alur pemikirannya sangat bergantung pada beberapa faktor. Faktor utama adalah jika adopsi global Bitcoin terjadi secara massal.

Saat ini, aset tersebut memiliki kapitalisasi pasar senilai $ 194 miliar. Di sisi lain, emas meiliki nilai kapitalisasi pasar $ 9 triliun. Artinya, Bitcoin masih membutuhkan pertumbuhan yang signifikan untuk bisa bersaing dengan emas – yang sudah dilihat dunia sebagai lindung nilai yang telah teruji dari masa ke masa.

Sementara, dolar AS memegang pasokan yang beredar sebesar $ 1.98 triliun, berdasarkan data dari Federal Reserve AS. Namun, masih ada faktor-faktor lain di balik angka pasokan yang beredar tersebut. Sebenarnya, perbandingan angka yang tepat untuk dolar AS masih jauh lebih tinggi.

Di tengah perbandingan pasokan aset-aset tersebut, kehadiran altcoin seakan menjadi cegukan yang berbeda. Jika sesorang berinvestasi dalam aset kripto lainnya, maka uang sudah dialihkan dari BTC, membuat aset tersebut lebih sulit untuk menjadi pilihan teratas dunia.

Baca Juga: CEO MicroStrategy: Tidak Ada Rencana untuk Menjual Bitcoin dalam Waktu Dekat

Namun, Bitcoin telah menjadi pusat perhatian dan membuat pertumbuhan yang baik pada tahun 2020. Termasuk terjadinya investasi dari perusahaan raksasa, MicroStrategy.



Sumber : news.tokocrypto.com

Simak Penjelasan Mengenai Indikator Lagging dalam Trading!

Sebelum melakukan trading, penting bagi Anda untuk memiliki persiapan yang matang terutama dalam pemahaman dan penggunaan indikator teknis, salah satunya adalah indikator lagging. Ingin tahu lebih dalam mengenai penjelasan serta bedanya dengan indikator leading? Nah, berikut informasi lebih lengkapnya!

Pengertian Indikator Lagging dan Bedanya dengan Indikator Leading

Indikator lagging adalah indikator dalam trading yang digunakan untuk mengonfirmasi suatu harga yang benar-benar terbentuk berkat pergerakan pola yang sudah terjadi di masa lalu. Sesuai dengan namanya, indikator ini seakan “memperlambat” harga aset saat ini dan digunakan setelah pergerakan harga tertentu telah terjadi.

Dalam trading, indikator terbagi menjadi dua yaitu lagging dan leading. Terdapat perbedaan yang mendasar antara indikator lagging dan leading. Indikator lagging digunakan untuk melihat bagaimana harga saat ini terbentuk dengan memperhatikan pergerakan pasar yang sudah terjadi. Sementara, indikator leading digunakan untuk memprediksi arah harga di masa depan.

Indikator lagging sangat berguna pada saat pasar sedang dalam keadaan trending. Pasalnya, indikator lagging akan lebih mudah mengirim sinyal buy maupun sell pada trader saat keadaan trending. Berkat indikator lagging yang digunakan dengan benar, para trader bisa merasa lebih percaya diri dalam mengambil keputusan.

3 Indikator Lagging yang Sering Digunakan

Cukup banyak trader yang menggunakan lebih dari satu indikator lagging. Selain sinyal menjadi bisa lebih terkonfirmasi, indikator tersebut dapat lebih membantu mengasah kemampuan analisis teknikal trader. Terdapat 3 contoh indikator lagging yang populer di kalangan trader, yaitu:

Indikator yang satu ini menjadi pilihan utama para trader, karena penggunaannya yang mudah dan sederhana. Moving Average merupakan indikator yang menghitung rata-rata harga aset yang sedang diperdagangkan dalam satu periode waktu tertentu. Panjang Moving Average yang paling umum digunakan adalah 9, 20, 50, 100, dan 200 MA.

Dengan Moving Average, Anda melihat pergerakan rata-rata berdasarkan periode waktu. Misalnya, jika Anda melihat 20 MA dalam periode harian, maka Anda sedang melihat rata-rata dari harga penutupan dalam 20 hari terakhir. Jika Anda mengubah periode menjadi per 5-menit atau 10-menit, maka penafsirannya akan berubah mengikuti periode yang dipilih.

Moving Average juga bersifat sebagai garis support dan resistance. Di saat pasar sedang mengalami peningkatan (uptrend), garis MA akan berada di bawah pergerakan harga. Sebaliknya, garis MA akan berada di atas pergerakan harga saat pasar sedang menurun (downtrend).

Bollinger Bands adalah indikator yang terdiri dari 3 garis, yaitu garis tengah (standard moving average), kemudian garis atas dan garis bawah sebagai standar deviasi. Umumnya, garis atas dan bawah dijadikan sebagai support dan resistance. Standar ukuran garis tengah yang biasa digunakan adalah 20 SMA yang setara dengan 20 hari terakhir.

Sudah menjadi rahasia umum di kalangan trader yang menggunakan Bollinger Bands bahwa jika harga saat ini mendekat ke garis atas, maka menandakan pasar yang sedang overbought. Begitu pula sebaliknya, jika semakin mendekati garis bawah, maka menandakan pasar yang oversold.

Bollinger Bands merupakan indikator yang bergantung pada volatilitas harga suatu aset. Saat volatilitas semakin meningkat, garis atas dan bawah akan semakin membesar. Sebaliknya, jika volatilitas melemah atau bahkan kondisi pasar tidak bergairah, garis atas dan bawah akan semakin merapat. 

  • Moving Average Convergence Divergence

Moving Average Convergence Divergence (MACD) adalah indikator tren dan momentum yang terdiri dari garis MACD dan garis sinyal. Sesuai dengan namanya, MACD berbasis Moving Average yang digunakan trader dalam melihat sinyal masuk atau keluar. Garis MACD dibentuk dengan perhitungan selisih dua harga penutupan, dengan satuan yang disebut EMA. 

Umumnya, periode waktu yang digunakan untuk garis MACD adalah 12 dan 26 EMA, sedangkan garis sinyal adalah 9 EMA. Trader akan diberi tanda berdasarkan letak dari garis MACD dan garis sinyal. Jika garis MACD memotong garis sinyal ke bawah, maka tergolong sinyal jual. Sebaliknya, jika ke atas, maka tergolong sinyal beli.

Indikator ini menjadi alat yang bisa mengukur seberapa cepat pergerakan harga terjadi. Dengan demikian, para trader yang menggunakan MACD akan terbantu dalam memeriksa perubahan harga yang terjadi secara cepat.

Kelebihan dan Kekurangan Indikator Lagging

Indikator lagging sendiri banyak dipilih oleh trader, termasuk yang masih pemula dalam membantu aktivitas trading. Dengan indikator lagging, para trader menggunakan nilai rata-rata jangka pendek sebagai konfirmasi untuk melakukan pembelian, dikarenakan adanya peningkatan pada momentum.

Kelebihan lain dari indikator lagging adalah dapat mengurangi kemungkinan trader memperoleh sinyal maupun breakout palsu. Selain itu, karena berdasar pada pergerakan harga yang telah terjadi, hasil yang diberikan oleh indikator ini juga cenderung akurat. Indikator ini sangat cocok bagi para trader pemula yang masih awam dengan dunia trading aset kripto.

Walaupun banyak kelebihannya, indikator lagging juga memiliki beberapa kekurangan. Di antaranya adalah pergerakan trader yang lebih mudah ditebak dan dapat terjadi secara cepat, sehingga trader lain yang kalah cepat menjadi terlambat masuk ke pasar. 

Selain pergerakan trader, pergerakan harga juga menjadi penyebab keterlambatan sinyal masuk yang diterima oleh trader dikarenakan indikator lagging baru bisa digunakan setelah terjadi pergerakan harga. Tak heran, banyak trader yang kehilangan momentumnya dalam mengantongi sejumlah cuan dikarenakan terlambat menerima sinyal.

Di samping kekurangannya, indikator lagging masih menjadi pilihan banyak trader dalam melakukan trading karena penggunaannya yang cenderung sederhana. Oh iya, sebagai trader, penting bagi Anda untuk selalu memperkaya pengetahuan trading, tentunya dengan mengunjungi website Tokonews dan media sosial Tokocrypto di Instagram maupun Twitter

Salam To The Moon!





Sumber : news.tokocrypto.com

Mengenal Smart Contract – Tokocrypto News

Apa yang dibicarakan oleh orang-orang ketika mereka membahas Smart Contract?

Dalam konteks blockchain dan aset kripto, kontrak pintar/ smart contract adalah:

  • Kode komputer
  • Disimpan dan direplikasi pada platform penyimpanan terdistribusi 
  • Dieksekusi atau dijalankan oleh jaringan komputer 
  • Dapat menghasilkan pembaruan buku besar

Dengan kata lain, jika blockchain memberi penyimpanan terpercaya yang terdistribusi, maka kontrak pintar atau smart contract memberikan perhitungan terpercaya yang terdistribusi. 

Smart contract adalah salah satu fungsi yang membedakan Ethereum dari blockchain lainnya. 

Dalam webnya, Ethereum menjelaskan bahwa:

“Ini adalah kontrak yang menghasilkan 10 ribu token kepada pembuat kontrak, dan kemudian memungkinkan siapapun yang memiliki saldo cukup untuk mengirimkannya ke orang lain. Token ini adalah unit minimum yang dapat diperdagangkan dan tidak dapat dibagi lagi, tetapi untuk pengguna akhir dapat disajikan sebagai 100 unit yang dapat dibagi lagi dengan 100 subunit. Sehingga memiliki 1 token berarti memiliki 0,01% dari total”.

Baca Juga: Pentingnya Trading Plan dalam Jual-Beli Aset Kripto

Apa perbedaannya dengan pembayaran perbankan otomatis?

CONTROL

Dalam ekosistem blockchain yang diatur dengan benar, tidak ada sumber kontrol tunggal. Tata letak terdistribusi dengan mekanisme konsensus yang artinya banyak pihak terus memeriksa dan memperbarui buku besar dan segala sesuatu yang tidak sesuai aturan yang disepakati sebelumnya akan ditolak peserta lain. 

CODE

Dengan smart contract dalam blockchain, logikanya dijalankan secara paralel di semua komputer yang berpartisipasi dan hasilnya dibandingkan oleh semua peserta. Peserta hanya mengubah buku besar versi mereka sendiri jika mereka menyetujui hasilnya. Tidak ada yang bisa menipu blockchain, secara teori. 

TRANSPARENCY

Agar semua peserta dalam blockchain menjalankan kode yang sama, masing-masing memverifikasi satu sama lain, logika kontrak pintar harus dapat dilihat oleh semua. Ini berarti siapapun dapat melihat kontrak pintar, dan jika pengguna menyukai kodenya, pengguna dapat menggunakannya. Akan ada kontrak pintar untuk penggunaan umum dan ada kontrak pintar yang sangat spesifik. Transparansi adalah pro dan kontra. Dapat berguna bagi seluruh pemangku kepentingan kontrak untuk menyetujui apa yang terjadi. Bukan hanya pemangku kepentingan yang dapat melihat apa yang terjadi, tetapi semua orang. 

FLEXIBILITY

Kontrak pintar dapat melakukan apa saja yang dapat dilakukan oleh komputer normal, meskipun versi blockchain akan berjalan jauh lebih lambat dan mahal untuk dijalankan daripada di komputer biasa. Pengguna harus membayar semua komputer di jaringan untuk menjalankan kode secara pararel. 

Mengapa smart contract sangat berguna?

Dengan kontrak pintar, hanya ada satu set persyaratan perdagangan yang ditulis dalam kode komputer yang jauh lebih halus daripada legalase dan disepakati dimuka. Ketergantungan eksternal (harga minyak, harga saham, dsb) dapat dimasukkan melalui umpan yang disepakati bersama. Kontrak akan tetap di blockchain dan akan berjalan ketika ada peristiwa terjadi atau ketika taruhan berakhir. 

 



Sumber : news.tokocrypto.com

Peter Brandt Memiliki Pandangan Bullish untuk XRP, Bahkan Mencetak ATH Baru

Koin dari Ripple Labs, XRP, telah cukup kehilangan kabar beberapa waktu ini karena tergeser beberapa berita utama dari Bitcoin, pembaruan Ethereum, Solana dan juga pembaruan Alonzo Cardano yang baru saja terjadi beberapa hari lalu.

Dengan perselisihan Ripple dengan SEC AS, token ini seakan tenggelam dan hanya berjalan di antara para penggemarnya saja.

Namun, rupanya Altcoin ini telah mempertahankan dukungan on-chain yang kuat dan aktivitas jaringan yang meningkat. Tentunya, ini diperkirakan akan dapat membantunya menembus level tertinggi baru (ATH).

Pedagang veteran Peter Brandt juga melihat potensi jangka panjang yang konstruktif di XRP, dengan membenarkan bahwa itu akan mengalami ledakan harga.

Baca Juga: Analis Kripto Populer Beberkan Alasan Cardano Akan Setara Dengan Ethereum

Brandt menunjuk ke arah pembentukan pola “Head and Shoulder” Bullish pada grafik jangka panjang yang menunjukkan bahwa itu bisa bersiap untuk pergerakan naik berikutnya. Resistance kunci berikutnya untuk Altcoin tini erletak di $1,17, menembus yang dapat meretest titik High tiga bulan sebelumnya yang diikuti oleh High tahunan.

Aktifitas Jaringan XRP Meningkat

Aktivitas jaringan untuk altcoin telah meningkat ke level tertinggi baru, jumlah alamat aktif yang berinteraksi dengan jaringan mencapai 6.700 minggu ini, melihat lompatan 394% dari minggu lalu. Kenaikan jumlah alamat dompet sering diikuti oleh kenaikan harga karena banyaknya pengguna baru dengan harapan mendapat untung dari lonjakan harga yang masuk.

Koin Ripple ini juga bisa mendapatkan keuntungan dari pertempuran hukum yang sedang berlangsung dengan SEC dimana terdakwa Ripple telah menawarkan kasus yang kuat terhadap argumen keamanan SEC.

Gugatan SEC memainkan peran penting dalam menghentikan aksi harga XRP ketika pasar crypto lainnya booming. Namun, hal yang sama dapat membalikkan keadaan dan seperti yang diharapkan oleh banyak pendukung XRP, hasil positif dapat mengubah harga menjadi menguntungkan.

Baca Juga: Glassnode: Tekanan Pasokan Bitcoin Dapat Memicu Siklus Bulls Baru

Perkembangan terbaru dalam kasus ini tampaknya tergantung pada Tes Howey dan mengapa Ethereum mendapat izin gratis saat XRP sedang diburu.

SEC baru-baru ini mengakui secara resmi bahwa mereka gagal memberi tahu pihak ketiga dan Ripple tentang status keamanan XRP. Ini pada gilirannya dapat menempatkan kesaksian Hinman baru-baru ini di bawah pemindai dan perintah pengadilan berdasarkan itu dapat membantu lonjakan token ke level tertinggi baru. Kita lihat saja!



Sumber : news.tokocrypto.com

Mata Uang Digital Tiongkok Mungkin Kelak Dipadu dengan Blockchain Ini

Mata uang digital Tiongkok yang berbasis blockchain dalam sistem DC/EP (Digital Currency Electronic Payment), mungkin kelak bisa dipadu dengan Blockchain Service Network (BSN). BSN yang didukung oleh Pemerintah Tiongkok sejak tahun lalu, bulan ini segera diluncurkan setelah beberapa kali ujicoba.
Cuplikan aplikasi dompet mata uang digital Tiongkok, yang beredar 15 April 2020 lalu di media sosial. Aplikasi itu sebelumnya bisa diunduh dari situs web Bank Pertanian Tiongkok.

Blockchain-based Service Network (BSN) dibuat dengan bekerjasama dengan banyak perusahaan besar di Tiongkok. Hingga Maret 2020, BSN mengklaim sudah ada 100 kota sudah terhubung sebagai node (simpul). Harapannya efisiensi bisnis bisa hemat hingga 80 persen.

Konsep dasar BSN sebenarnya jauh diterbitkan sebelum pidato Xi Jinping itu. Asas BSN dibuat pada Januari 2019, yang didukung oleh State Information Center dan  Industry Research Department.

Pada Maret-April 2020 ujicoba BSN digenjot dengan 100 kota terhubung sebagai simpulnya. Hingga akhir tahun 2020, direncanakan total 200 kota.

Badan Pemerintah itu menggandeng sejumlah perusahaan, di antaranya China Mobile Group Design Institute, Research Institute of Electronic Payment (China Unionpay), China Mobile Financial Technology, Beijing Red Date Technology dan China Mobile Group Zhejiang.

BERITA TERKAIT  Kisah “Cuan” Block Producer Blockchain Vexanium

Menurut BSN, jika perusahaan ingin membuat blockchain sendiri, maka perusahaan bisa menghabiskan biaya hingga US$14.000 per tahun. Itu sudah termasuk biaya pengoperasian dan pemeliharaan.

Tetapi, dengan tergabung di BSN, maka perusahaan bisa menghemat banyak biaya, cukup dengan US$300 per tahun. Programer dan pengembang dipersilahkan membuat aplikasi yang terkait bisnisnya, lalu mendistribusikannya di BSN.

Harus diakui, Tiongkok memimpin soal inovasi, pengembangan dan penerapan teknologi blockchain, menurut Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia.

Tiongkok sudah hakul yakin, bahwa blockchain jauh melampaui Bitcoin sebagai penerapan pertama di sektor uang digital baru. Bagi Tiongkok blockchain dapat digunakan untuk memverifikasi semua jenis transaksi digital secara lebih efisien.

Hong Wan, pakar blockchain dari North Carolina State University mengatakan bahwa BSN akan menjadi pusat mata uang digital dan sistem pembayaran, yang menyaingi WeChat dan Alipay sebagai alat pembayaran digital yang popular.

Tapi, bukan tidak mungkin, bahwa yuan/renminbi digital yang dibuat oleh Bank Sentral Tiongkok bisa dipadukan di dalam BSN.

Namun, Wan khawatir BSN akan mengalami kelambatan kinerja ketika nanti memverifikasi begitu banyak transaksi. Dia mengatakan BSN belum menerbitkan spesifikasi teknis yang terperinci. Jadi, dia tidak tahu bagaimana perancangnya akan mengatasi masalah itu.

“Saya pikir kita berhak ragu tentang apa yang terjadi di teknologi itu. Ini masih dalam tahap pengujian,” imbuh Wan.

Mata uang digital itu memang masih dalam pengujian, itulah sebabnya menurut sumber media lokal di Tiongkok, mata uang digital itu akan digunakan untuk membayar gaji sejumlah PNS di Tiongkok, khusus di kota Suzhou mulai Mei 220.

BERITA TERKAIT  Skandal Rp54 Triliun OneCoin Segera Difilmkan oleh New Regency Television

Seperti yang diperkirakan tahun lalu, kata Biser Dimitrov di Forbes, Tiongkok membuat langkah besar dalam memajukan ekonomi dengan teknologi blockchain.

Tiongkok benar-benar serius menggunakan blockchain sebagai pilar teknologi utama lainnya bersama teknologi 5G, kecerdasan buatan dan Internet of Things (iOT).

Blockahin juga dimaksudkan untuk menyediakan cara-cara baru untuk menangani volume besar dalam pembayaran, komunikasi yang tinggi.

Baik BSN dan DC/EP memiliki bentuk yang sangat baik dan tampaknya diterapkan secara profesional dan efektif dalam skala besar.

“Kelak di masa depan, kita akan menyaksikan kebesaran Tiongkok berkat infrastruktur blockchain yang besar ini. Dan saat itulah dunia Barat harus memperhatikan,” kata Biser.
[Forbes, Decrypt, IEEE.org/red]



Sumber : news.tokocrypto.com

Analis Kripto Populer Beberkan Alasan Cardano Akan Setara Dengan Ethereum

Baru-baru ini, analis dan trader crypto populer, Benjamin Cowen, beberkan bagaimana Cardano (ADA) dapat mengikuti jejak Ethereum (ETH) untuk mencapai kesuksesan yang diperkirakan setara atau bahkan lebih besar.

Dalam sebuah video yang dirilis pada malam acara hard fork combinator (HFC) Alonzo, dimana smart contract di mainnet Cardano akhirnya diluncurkan secara resmi.

Cowen memberitahu lebih dari 538 ribu subscriber YouTube-nya bahwa Cardano dapat membangun kesuksesan yang setara dengan Ethereum dengan menekankan aplikasi adopsi.

Baca Juga: Cardano Secara Resmi Luncurkan Smart Contract!

Di dalam video tersebut, Cowen lebih menyoroti penggunaan luas Ethereum untuk beberapa protokol, termasuk token NFT dan keuangan terdesentralisasi (DeFi), yang menyebabkan pengguna menimbun dan menghabiskan Ethereum.

Ahli strategi pasar juga memberi pernyataan serupa. Ia menjelaskan jika aplikasi Ethereum telah menjadi kontributor besar untuk kapitalisasi pasarnya.

Menurut Cowen, Cardano memang belum bisa mencapai tingkat adopsi penggunaan aplikasi yang serupa.

Namun, Cowen memperkirakan ekosistem dan efek jaringan Cardano akan terus tumbuh dan berkembang dengan pesat.

Hal ini tentu akan mengarah pada dampak positif harga. Ujung-ujungnya, semua upgrade dan perbaikan masing-masing token akan mementingkan sudut pandang ‘cuan’.

“Tak satupun dari kita, saya tidak berpikir untuk mengklaim bahwa ekosistem Cardano saat ini lebih besar dari Ethereum. Tetapi saya berpikir bahwa Cardano akan tumbuh seiring waktu, dan saya berpikir bahwa karena lebih banyak utilitas yang benar-benar dibangun di platform tersebut, ini akan berdampak positif pada harga.” Ungkap Cowen yang dilansir The Daily Hodl.

Cowen kemudian melihat pasangan perdagangan $ADA-$ETH dan menyebutkan jika trader melihat titik tertinggi yang baru, itu bisa membuat satu token Cardano bernilai sebanyak $4,50.

Baca Juga: Tertarik Trading? Simak Jenis Indikator Trading Paling Akurat!

Hal ini nantinya akan terlihat sebagai harga jangka menengah untuk target yang menyasar pada ADA.

Cowen juga memperkirakan bahwa ADA berada dalam fase akumulasi ulang besar yang diperdagangkan antara $1 dan $3.

Akan tetapi perkiraan asetnya yang akan meledak ke tonggak baru, baru bisa terselesaikan setelah ADA menembus angka diatas $3.



Sumber : news.tokocrypto.com