Category Archives: Tokocrypto

Investor Positif Terhadap Ethereum 2.0, Ini Buktinya!

Ethereum nampaknya masih terus mendapatkan ketertarikan terutama terhadap kabar pembaruannya Ethereum 2.0.

Ketertarikan ini tercerminkan dari beberapa hal yang nampaknya membuktikan bahwa mayoritas investor masih percaya terhadap apresiasi harga Ethereum.

Pembaruan Jaringan Menjadi Ethereum 2.0

Ethereum dikabarkan akan melakukan Hard Fork atau pembaruan  terhadap jaringannya yang dikabarkan akan terjadi pada Juli 2021.

Dikabarkan bahwa Hard Fork ini bernama London Hard Fork, yang namanya terinspirasi dari tempat konferensi pemilik proyek Ethereum, yaitu di London, Inggris.

London Hard Fork ini akan membawa Ethereum menuju versi Serenity atau yang lebih akrab dikenal sebagai Ethereum 2.0.

Nantinya Ethereum 2.0 akan memperbaiki beberapa masalah yang ada saat ini dimana permasalahan tersebut adalah penghambat pertumbuhannya.

Baca Juga: Ethereum 2.0 Dapat Menormalisasi Pasar GPU Ini Alasan Nvidia.

Beberapa permasalahan yang dikabarkan akan diselesaikan adalah masalah kecepatan transaksi dan masalah interoperabilitas atau kemampuan operasional dengan blockchain lain.

Terakhir masalah yang diselesaikan adalah masalah utama yang menjadi perhatian banyak investor yaitu masalah biaya gas atau biaya transaksi yang tinggi.

Oleh karena itu, Ethereum menjadi satu proyek yang pembaruannya ditunggu-tunggu mengingat dominasinya yang mungkin dapat kembali setelah pembaruan.

Bukti Pandangan Positif

Bukti bahwa investor Ethereum terlihat positif terhadap pembaruan ini adalah jumlah Ethereum yang terkunci pada kontrak deposit untuk Ethereum 2.0.

Kontrak tersebut menandakan jumlah pihak pemilik Ethereum yang akan setuju pindah ke jaringan Ethereum 2.0 dan meninggalkan Ethereum lama.

Dikabarkan bahwa terdapat 5 Juta Ethereum yang terkunci saat ini yang merupakan sekitar 4% dari keseluruhan Ethereum yang ada saat ini.

Walau terkesan kecil angka tersebut mencerminkan partisipasi pihak developer atau pengembang proyek yang ingin pindah ke Ethereum 2.0.

Selain itu angka penguncian tersebut juga mencerminkan dukungan investor terhadap Ethereum 2.0 akibat terdapat investor proyek yang berpartisipasi.

Investor juga terlihat masih positif terhadap Ethereum yang terlihat dari produk investasi Ethereum yang mengalami apresiasi sekitar 27% sejak pasar mengalami koreksi.

Kemudian, terdapat data bahwa hasil dan partisipasi penambangan Ethereum juga terlihat mengalahkan Bitcoin pada Bulan Mei 2021.

Hal tersebut menandakan bahwa mayoritas pasar saat ini semakin percaya terhadap Ethereum yang terlihat dari sisi ekosistem dukungannya yang berkembang.

Terakhir, saat ini volume transaksi Non Fungible Token atau NFT juga masih terlihat stabil bahkan naik walau pasar crypto mengalami penurunan.

Baca Juga: Aset Kripto Tak Akan Mati, Kata Profesor Tiongkok

Hal ini relevan akibat mayoritas NFT dengan volume transaksi tinggi bergerak pada Blockchain Ethereum.

Hal tersebut juga mendukung pernyataan bahwa ekosistem Ethereum masih terus berkembang. Sehingga pembaruan jaringan dapat membawa sentimen positif.

Mayoritas analis di pasar memprediksi bahwa Ethereum dapat mencapai $5.000 atau Rp71,3 Juta hingga $10.000 atau Rp142,7 Juta.

Walau hal tersebut hanya merupakan sebuah opini, kabar pembaruan jaringan dapat membuat hal tersebut menjadi nyata.

Hingga saat ini, hal tersebut masih merupakan sebuah kemungkinan yang diprediksi akan terjadi pada puncak kondisi apresiasi ini atau bull run.

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

Bitcoin Kembali Bergerak Ke Atas $8.000 Karena Optimisme Halving

Jelajahcoin.comBitcoin berdetak sekali lagi sebagai obrolan tentang meroketnya halving mendatang platform media sosial dan outlet berita. Bitcoin kembali di atas $8.000 sepenuhnya menghapus semua kerugian yang terjadi selama Kamis Hitam.

Momentum bullish tampaknya dipicu oleh ekspektasi tinggi bahwa para pelaku pasar memiliki tentang apa yang ditawarkan separuh yang akan datang. Sementara pencarian Google untuk kata kunci “bitcoin halving” mencapai tertinggi sepanjang masa.

Santiment melaporkan bahwa obrolan seputar topik ini di beberapa platform media sosial juga meledak. Analisis perilaku awal menegaskan bahwa tingkat bunga meningkat di samping harga menunjukkan tanda-tanda optimisme di antara investor. Santiment berkata:

“Tingkat bunga sebagian besar berkorelasi dengan momentum positif, yang berarti konsensus kerumunan secara luas optimis tentang peristiwa ini meskipun tidak ada jaminan ledakan harga (di kedua arah) pada saat separuh akhirnya dieksekusi.”

Pola serupa dapat dilihat dalam penggunaan kata “membagi dua” dalam artikel berita yang diterbitkan tentang Bitcoin, jelas The TIE. Perusahaan data alternatif menyatakan bahwa sebagian besar publikasi yang terkait dengan cryptocurrency andalannya merujuk pada separuh lebih tinggi dari penyebutan emas dan coronavirus.

Sementara itu, acara pengurangan hadiah blok memiliki “coronavirus terkalahkan sebagai narasi dominan untuk Bitcoin” di Twitter. TIE menyatakan:

“Ada 1.278 tweet tentang Bitcoin yang terbelah dua dalam 24 jam terakhir dengan 68% positif. “Menambang” juga merupakan salah satu dari sepuluh kata yang paling sering digunakan dalam tweet Bitcoin hari ini untuk pertama kalinya sejak setidaknya 2017.”

Implikasi harga Bitcoin yang tidak pasti

Meskipun pelaku pasar tampaknya tumbuh sangat bullish, data mengungkapkan bahwa hasil jangka pendek setelah separuh tidak selalu optimal. Menyusul acara pengurangan hadiah blok 2016, misalnya, Bitcoin menukik 27 persen. Dan, setelah satu bulan berlalu masih turun lebih dari 11 persen.

Saat emosi memanas di sekitar acara ini, analis teknis Michaël van de Poppe menyarankan bahwa Bitcoin dapat naik lebih jauh ke level resistensi $8.400. Namun, model IntoTheBlock “Masuk / Keluar dari Uang di Sekitar Harga” mengungkapkan bahwa bulls mungkin mengalami kesulitan mendorong harga menuju target ini.

Indeks fundamental ini memperkirakan bahwa hampir 570.000 alamat membeli lebih dari 340.000 BTC antara $8.170 dan $8.400. Tembok suplai besar seperti itu bisa menghentikan pemberontakan cryptocurrency.





Sumber : news.tokocrypto.com

Aset Kripto Tak Akan Mati, Kata Profesor Tiongkok

Profesor Tsai Wei-Tek, guru besar di Universitas Beihang mengatakan pengetatan peraturan transaksi terkait aset kripto dan penambangan Bitcoin di Tiongkok tidak akan membuat pasar kripto mati.

“Peraturan itu memang sepenuhnya menghentikan transaksi kripto yang terkait dengan perbankan. Tetapi itu bukan berarti pasar aset kripto seluruhnya akan mati,” kata Tsai kepada CGTN, media massa milik Pemerintah Tiongkok, Selasa (1/6/2021).

Ada alasan soal itu, menurut Tsai, yakni dengan membandingkan krisis keuangan tahun 2008 di Amerika Serikat dan menjalar ke banyak negara.

Baca Juga: Bank Sentral Korsel Lirik Teknologi Won Digital

Ketika itu sejumlah bank dan lembaga keuangan kolaps. Tetapi juga tidak sedikit yang bertahan dan sukar mati.

Tsai mencontohkan JPMorgan sebagai bank terbesar di AS masih bertahan, karena kapitalisasi pasarnya yang besar.

“Lihatlah nilai pasar Bitcoin saat ini, jauh melebihi nilai pasar JPMorgan sendiri,” ujar Tsai menyepadankan bertahannya aset kripto Bitcoin berdasarkan nilai pasarnya.

Tsai, yang juga pakar blockchain itu bahkan menegaskan, bahwa aset kripto sebagai mata uang internasional jelas-jelas berdampak pada sistem ekonomi dunia.

“Masalahnya, dunia belum siap untuk itu. Akan banyak tekanan terhadap sejumlah negara,” ujarnya.

Baca Juga: Bitcoin Masih Ngambang, Cardano (ADA) Sentuh Profit Area

Aset Kripto dan Peraturan

Sejak tahun 2013, Pemerintah Tiongkok dan Bank Sentral Tiongkok semakin memperketat peraturan terkait aset kripto, termasuk Bitcoin.

Peraturan terbaru beberapa pekan lalu cukup berdampak pada pada aset kripto. Sejumlah harga kripto berfluktuasi sangat tinggi.

Pasalnya pemerintah melarang semua bank untuk melayani transaksi terkait kripto. Ini menjadi penghalang warga Tiongkok bisa menukar kripto mereka menjadi yuan dan masuk ke rekening bank mereka.

Bahkan penambang Bitcoin di negeri itu semakin terbatas dalam menggunakan sumber daya listrik.

Tiongkok beralasan tambang Bitcoin menyedot energi listrik yang sangat besar, di mana sumber dayanya tidak terbarukan, seperti batu bara.

Akibatnya, pekan lalu saja, harga Bitcoin terombang-ambing berusaha mencapai kisaran di atas US$40 ribu.

Dalam 24 jam terakhir pasar kripto memang menguat tipis, mengisi sedikit pasar merah selama sepekan terakhir.

Hanya saja, pada time-frame harian, harga Bitcoin misalnya masih berada di bawah Moving Average 200, di kisaran US$36.100 per BTC.

aset kripto
Harga Bitcoin saat ini masih berada di bawah Moving Average 200 di time-frame harian. Sumber: Tradingview.com.

Itu penanda bahwa koreksi cukup besar masih mungkin terjadi pada pekan-pekan mendatang.

Itu juga bermakna di time-frame harian, penguatan cukup baik masih akan terus terjadi hingga beberapa pekan mendatang, terpadu dengan koreksi di antaranya.



Sumber : news.tokocrypto.com

Kelanjutan dan Prediksi Dampak Hasil Sidang Ripple dan SEC

Terdapat kabar terbaru lagi mengenai sidang Ripple (XRP) dengan Securities and Exchange Commission (SEC).

Setelah sebelumnya dikabarkan telah mendapatkan akses untuk mencari data dari rekan luar negeri Ripple, saat ini SEC mulai terhambat lagi.

Kelanjutan Sidang Ripple dengan SEC

Hambatan bagi pihak SEC ini datang dari hakim yang nampaknya membatasi SEC dalam haknya untuk mencari data terkait kasus penjualan XRP.

Sebelumnya SEC telah melakukan pengajuan permohonan pencarian data lebih dalam terhadap Ripple.

Permohonan tersebut untuk dapat melihat percakapan yang telah terjadi antara pengacara Ripple dengan Ripple.

Permintaan tersebut ditolak oleh hakim, sehingga SEC tidak dapat mencari data atau “menggeledah” Ripple lebih dalam lagi.

Hal tersebut menjadi hambatan untuk SEC mencari bukti lanjutan untuk membuktikan bahwa Ripple adalah pihak yang salah.

Memang perlu diakui juga bahwa permintaan SEC tersebut cukup melewati batas, mengingat percakapan tersebut adalah percakapan dan strategi pribadi Ripple.

Hal ini dinilai kurang etis jika satu pihak dalam kasus sidang melihat strategi pribadi lawannya karena itu merupakan hak dari pihak Ripple.

Perlu diketahui bahwa sebelumnya SEC sudah mendapatkan hak untuk “menggeledah” beberapa rekan Ripple dari luar negeri.

Melihat permintaan untuk melihat lebih dalam lagi, nampaknya dapat dikatakan bahwa SEC mulai kehabisan langkah untuk membuktikan Ripple sebagai pihak yang salah.

Baca Juga: Bitcoin Masih Ngambang, Cardano (ADA) Sentuh Profit Area

Ripple Terlihat Unggul

Selain penolakan tersebut, saat ini terdapat satu perdebatan yang terjadi, dimana saat ini Ripple yang menyerang SEC.

Ripple menyatakan bahwa SEC juga bersalah sejak awal kasus ini akibat mereka terlambat untuk menegur atau menuntut Ripple terhadap penjualan XRP.

Seharusnya SEC menegur saat penjualan tersebut terjadi, namun kenyataannya penuntutan terjadi 8 Tahun kemudian, di 2020, setelah XRP mengalami apresiasi yang signifikan.

Hal tersebut juga disetujui oleh hakim pengadilan, Sarah Netburn, yang menyatakan bahwa SEC terlambat 8 Tahun untuk melakukan penuntutan.

Baca Juga: Mengenal Ripple Lebih Dekat.

Hakim juga melanjutkan bahwa kesalahan seharusnya berada di SEC yang gagal untuk menyediakan informasi kepada Ripple mengenai regulasi yang tepat untuk XRP dianggap sebagai crypto.

Namun untuk saat ini hakim masih belum membuat keputusan apa pun mengenai siapa pihak yang bersalah dan masih akan memberi waktu untuk kedua pihak melakukan pembelaan.

Jika kita melihat dari kabar ini nampaknya Ripple saat ini masih berada di pihak yang unggul, melihat kondisi di sekitarnya dan pandangan hakim terhadap kasus saat ini.

Prediksi Dampak Hasil

Sejak awal memang Ripple tidak ingin menyelesaikan kasus dengan jalur “damai” karena mereka ingin membela hak crypto di Amerika.

Sehingga kemungkinan besar jika kasus ini telah berakhir dan Ripple memenangkan kasusnya, kejayaan tidak hanya akan dirasakan oleh Ripple tapi untuk seluruh pasar crypto.

Untuk Ripple sendiri nampaknya jika kasus telah dimenangkan, adopsinya nampak terlihat akan lebih luas.

Hal ini tercermin dari Ripple yang walau masih menghadapi kasus juga masih tetap mengalami peningkatan adopsi, sehingga dapat membuka jalan untuk adopsi lebih luas ketika tidak lagi terikat kasus.

Saat ini Ripple juga terlihat fokus untuk membuat jaringan ledger untuk mewadahi Central Bank Digital Currency (CBDC) atau Mata Uang Digital Bank Sentral.

Adopsi ini cukup mungkin akibat Ripple yang masih memiliki sifat sentralisasi sehingga nampaknya dapat menarik perhatian bank sentral.

Beberapa bursa juga terlihat akan mendaftarkan kembali XRP untuk diperdagangkan.

Salah satu bursa terlihat telah mempimpin dengan mendaftarkan XRP kembali untuk diperdagangkan yaitu platform Gemini.

Oleh karena itu, nampaknya saat ini sentimen positif terhadap XRP terlihat cukup banyak, tapi memang semua masih bergantung pada hasil sidang.

Namun perlu diketahui juga bahwa XRP adalah salah satu crypto yang masih memiliki sifat sentralisasi yang tinggi.

Hal tersebut juga terlihat dari alokasi XRP dimana 80% dikendalikan dan disimpan oleh perusahaan yang membuatnya rentan terhadap manipulasi.

Kerawanan ini juga terlihat dengan mudahnya perpindahan XRP dalam jumlah banyak terjadi oleh Ripple, dimana kemarin menjadi contohnya.

Kabar baiknya semua XRP tersebut terlihat dikunci dan tidak dijual oleh Ripple, sehingga bukan menandakan manipulasi.

Namun pergerakan dana ini mengingatkan kembali betapa besarnya pengaruh Ripple terhadap pergerakan XRP, yang dapat dijadikan pertimbangan.

Tapi Ripple sendiri memiliki teknologi yang cukup efisien dan juga ramah lingkungan sehingga dari sisi teknologi XRP layak jadi unggulan.



Sumber : news.tokocrypto.com

16 Hari Sebelum Halving, Apakah Anda Siap Menjadi OKB?

Para investor dan pedagang crypto sama-sama sedang menunggu momen Halving Bitcoin (BTC) yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Mei mendatang.

Sejak awal Bitcoin pada 2009, Halving adalah peristiwa yang berlangsung kira-kira setiap 4 tahun. Seperti namanya, momen ini akan mengurangi hadiah setengah (50%) kepada miner.

Harga Bitcoin naik perlahan dalam 14 hari terakhir. Pada saat pers, harga menduduki Rp 119 juta di Indodax.

Michael Dubrovsky, salah seorang pendiri perusahaan pertambangan PoWx menjelaskan bagaimana dampak dari Bitcoin yang mengurangi pasokan, “Teorinya adalah bahwa akan ada lebih sedikit Bitcoin yang tersedia untuk dibeli jika penambang memiliki lebih sedikit untuk menjual.” Jadi, dari perspektif penawaran-permintaan:

  • Jika pasokan Bitcoin menurun dan permintaan Bitcoin tetap sama, maka harga Bitcoin akan meningkat.
  • Jika pasokan Bitcoin berkurang dan permintaan Bitcoin meningkat (misalnya Investor institusi, milenial, atau boomer, dan lainnya, yang ingin memanfaatkan peningkatan hype), maka harga Bitcoin akan melihat kenaikan harga yang signifikan.

Hingga saat ini, baru ada 2 peristiwa Halving BTC. Dari perspektif historis, selama Halving Bitcoin sebelumnya, harga Bitcoin telah mencetak level tertinggi baru sepanjang masa:

  • Pada 28 November 2012, Halving Bitcoin pertama terjadi, yang menyebabkan harga Bitcoin meningkat dari $ 11 menjadi $ 1.000 sekitar setahun kemudian.
  • Selama Juli 2016, Halving kedua terjadi dan harga Bitcoin diperdagangkan di sekitar $ 700, dan pada 2017, harga meroket menjadi $ 20.000.

Dengan Halving ketiga, yang dijadwalkan berlangsung pada Mei 2020 yang telah melihat beberapa prediksi tinggi pada harga Bitcoin.

Baca Juga: Jika Sejarah Berulang, Bitcoin Akan Rally Besar-Besaran
Baca Juga: Prediksi Harga Bitcoin (BTC) Pada Tahun 2020 Oleh Pakar Crypto

Billionaire Bitcoin Tim Draper percaya bahwa harga satu Bitcoin bisa naik menjadi $ 250.000.

Pendiri Buku Buffett Preston Pysh berpikir bahwa Bitcoin dapat meroket hingga $ 300.000 setelah Halving.

Mantan manajer Hedge Fund Raoul Pal memperkirakan bahwa harga Bitcoin mencapai $ 1.000.000 dalam waktu 3 tahun.

Pendiri Silk Road, Ross Ulbricht memprediksikan bahwa token itu dapat mencapai harga astronomi $ 333.000.000 per Bitcoin.

Kemungkinan Adanya Miliarder Bitcoin Baru

Selama 2 momen Halving sebelumnya, jutawan BTC telah dicetak. JR Forsyth, pendiri Onfo adalah salah satunya. Dia belajar matematika sebagai sarjana dan terkena teknologi Bitcoin dan buku besar digital.

Forsyth mengatakan, “Menjadi jelas bagi saya bahwa mata uang berbasis matematika (seperti Bitcoin) akhirnya akan menggantikan uang fiat.

Saya menambang Bitcoin dan Litecoin sejak dini dan memeganginya. Penghargaan besar-besaran atas aset-aset itu memungkinkan saya untuk berinvestasi dalam teknologi mata uang digital lain yang pada akhirnya mengarah pada pengembangan Onfo, sebuah platform yang membantu orang mendapatkan uang melalui penambangan jaringan.

Dan sebut saja Alan Glanse, pendiri amal dan CEO dari bisnis JuicyFields misalnya. Selama masa Wall Street, dia membeli 100 Bitcoin dari seorang rekan yang sangat membutuhkan uang pada tahun 2012.

Kemudian, dia lupa tentang Bitcoin-nya. Tidak sampai harga parabola tertinggi bitcoin kedua 2017 saat Halving, ia menyadari bahwa ia telah menjadi jutawan instan.

Glanse percaya bahwa paket stimulus hanya akan memperkuat ekonomi AS dan pertumbuhan pasar yang substansial dapat disaksikan 2-3 bulan setelah peristiwa Halving BTC.

Baca Juga: Proyeksi Bitcoin Menjelang Halving

The Fed

Neraca The Fed diperkirakan akan melampaui $ 6,5 triliun tahun ini, dengan tingkat pencetakan uang yang belum pernah terlihat sebelumnya. Dalam retrospeksi, itu merupakan peningkatan lebih dari $ 2 triliun di bawah 6 minggu.

Todd Crossland, CEO CoinZoom mengatakan bahwa “Walaupun saya memuji dan mendukung pemerintah dalam mengambil langkah-langkah paling agresif dalam memberikan stimulus bagi perekonomian, hanya besarnya stimulus dan pencetakan dolar, dan hutang yang menyertainya memberi saya alasan untuk berhenti sejenak. Stimulus akan datang dengan inflasi dan selanjutnya akan menekan nilai dolar. Menurut pendapat saya, ini melukiskan kasus Bulls lain untuk Bitcoin dan aset digital. “

Saat ini, dunia sedang mengalami perubahan keuangan besar. Selama kehancuran pasar saham angsa hitam pada bulan Maret 2020, investor menjatuhkan saham untuk uang tunai, yang mengakibatkan krisis likuiditas .

Harga bitcoin dan aset crypto digital lainnya menukik sementara. Sejak itu, bitcoin telah sepenuhnya pulih, bersama dengan sebagian besar aset crypto lainnya. Yang mengatakan, jika rencana stimulus The Fed menghasilkan deflasi, kemudian diikuti segera setelah oleh hiperinflasi, ini bisa melukiskan skenario yang sangat Bullish untuk Bitcoin.

Pergeseran Kekayaan

Investor miliarder dan pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio , percaya bahwa dalam waktu dekat, mungkin ada pergeseran besar-besaran kekayaan. Banyak di komunitas crypto mengambil ini untuk menyiratkan bahwa cryptocurrency seperti Bitcoin adalah solusi yang dibicarakan oleh Dalio. Jika itu masalahnya, maka golongan miliuner baru mungkin akan muncul dari krisis parah yang mencekam ekonomi dunia.

Dalio mengatakan , “Pemerintah yang memiliki kekuatan untuk melakukannya mencetak uang untuk membantu meringankan beban utang dan membantu membiayai pengeluaran yang didenominasi dalam mata uang mereka sendiri, yang akan melemahkan mata uang mereka sendiri dan meningkatkan tingkat inflasi moneter mereka untuk mengimbangi deflasi yang datang dari berkurangnya permintaan dan penjualan aset paksa yang terjadi karena mereka yang menggeliat harus mengumpulkan uang tunai.”

Dalio adalah orang yang sangat percaya bahwa kekayaan tidak dapat diciptakan begitu saja dengan menghasilkan lebih banyak uang dan kredit dan bahwa siklus utang jangka panjang akan segera berakhir.

Dalio menduga bahwa restrukturisasi sistem moneter sudah dekat. Dengan negara-negara seperti Venezuela, Lebanon, dan Bahama yang menukar mata uang lokal dengan Bitcoin, maka Dalio mungkin memang benar. Jika itu masalahnya, maka Halving Bitcoin ketiga bisa menjadi katalisator utama untuk perubahan moneter, menghasilkan generasi jutawan crypto baru . Kita lihat saja.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Sistem Pemungutan Suara Berbasis Blockchain di AS

Terdapat upaya yang sedang dilakukan dalam meluncurkan aplikasi pemungutan suara berbasis blockchain tepat waktu untuk Pemilihan Umum Presiden di Amerika pada November 2020 nanti.

Aplikasi pemungutan suara ini sedang dikembangkan oleh WinterGreen Research dan Government Blockchain Association atau GBA dalam penggunaan teknologi berbasis blockchain dalam “mendeteksi penipuan”.

Covid-19 Akan Mendorong Pengadopsian Sistem Ini

Seperti dilansir Cointelegraph, Susan Eustis, selaku Presiden WinterGreen Research mengatakan dia berharap Covid-19 ini akan mempercepat adopsi penggunaan sistem ini di masyarakat luas:

“Kami mengantisipasi aplikasi pemungutan suara digital akan diluncurkan segera, seperti halnya pasar telemedicine yang dikalahkan oleh pemberi layanan virtual dari Cisco WebEx dan Zoom. Pada peristiwa tersebut, dokter beralih dari melakukan 200 siaran televisi per tahun menjadi 36.000 per minggu dalam sebulan terakhir. Kekuatan pendorong pasar tersebut sama berdampaknya pada pemungutan suara seperti halnya dampak pemberian layanan kesehatan.”

Di lain sisi, implementasi aplikasi semacam itu harus disetujui oleh masing-masing negara bagian. Eustis telah melakukan diskusi dengan beberapa pejabat tingkat negara bagian dan merasa optimis tentang penerapan sistem tersebut tepat pada waktunya dalam rangka pemungutan suara Presiden AS di bulan November nanti.

Baca juga: Blockchain Mampu Menghilangkan Kecurangan dalam Kejuaraan Dunia Catur

Pelatihan Khusus untuk Pengadopsian Sistem Ini

WinterGreen Research juga telah menyiapkan secara khusus pelatihan untuk para petugas resmi pada pemilihan nanti. Eustis mencatat:

“Tim Riset WinterGreen sudah bersiap memulai pelatian petugas pada pemilihan nanti di tingkat lokal dalam beberapa minggu ke depan. Pemungutan suara virtual adalah cara terbaik dari setiap solusi yang direkomendasikan dalam mengatur social distancing dan mengurangi penyebaran Covid-19.”

Menurut Eustis, mereka sedang dalam tahap mengeksplorasi beberapa blockchain pribadi untuk aplikasi mereka dan pengembangan tersebut akan segera diumumkan. GBA juga bekerja pada standar blockchain untuk aplikasi, sementara WinterGreen Research akan melatih petugas pemilihan jika aplikasi tersebut benar-benar diadopsi.

Jika pandemi Covid-19 terus berlanjut di bulan November nanti, pemerintah mungkin akan terpaksa meningkatkan proses pemilihan menjadi “standar dan harapan abad ke-21”.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Bitcoin Masih Ngambang, Cardano (ADA) Sentuh Profit Area

Pergerakan sejumlah altcoin tengah memasuki area hijau. Bahkan, sejumlah koin, hampir menyentuh take profit area dan mengejar breakout. Kendati demikian, Bitcoin masih stagnan di harga US$ 36-37 ribu.

Salah satu coin berperforma baik pada perdagangan, Selasa, 1 Juni 2021, adalah Cardano (ADA). Harga ADA naik 3,95% dalam 24 jam terakhir, dan menyentuh level harga US$ 1,72. ADA pun menjadi salah satu koin paling profit di antara 10 besar koin versi Coinmarektcap, dalam 7 hari terakhir.

Baca Juga: Ujicoba Smart Contract Cardano Dimulai Juni 2021

Saat laporan ini ditulis, kapitalisasi pasar ADA mencapai $55,249,590,965. Hal ini menjadikan ADA berada di lima besar koin dengan kapitalisasi pasar terbesar versi CMC.

Sementara itu, berdasarkan analisa teknikal tim portalkripto.com, saat ini ADA sudah memasuki profit area pertama. Apabila trader membeli ada di buy area yang direkomendasikan pada artikel sebelumnya, saat ini sudah bisa menikmati profit.

Adapun, pergerakan Bitcoin terbilang mengambang. Saat ini BTC terlihat masih berusaha mengejar breakout di harga US$ 40.000. Pada perdagangan Selasa, 1 Juni 2021, BTC sempat menyentuh harga US$ 38 ribu, namun kembali memantul ke harga US$ 36 ribu.

Baca Juga: Di Harga Berapa yang Tepat Beli ADA, BNB, dan DOGE

Dilihat dari dominasinya, BTC nampaknya masih menunggu momentum untuk mengejar breakout. Saat ini dominasi BTC berada di angka 42,4%.

Disclaimer:

Perdagangan atau investasi digital asset atau mata uang kripto (Bitcoin, Ethereum, dll) merupakan aktivitas beresiko tinggi. Sebelum memutuskan untuk mulai berinvestasi ketahui dulu resikonya. Perdagangan Digital Asset sebaiknya dilakukan pada platform exchange yang terdaftar di Bappebti.

Kami tidak memaksa Anda untuk membeli atau menjual aset digital ini, sebagai investasi, atau aksi mencari keuntungan. Pahami dulu lebih dalam sebelum memutuskan berinvestasi mata uang kripto.

Semua informasi yang ada dalam berita ini bukan bersifat financial advisor. Kami hanya mengiformasikan keadaan pasar atau keadaan ekonomi dan situasi global yang berkaitan dengan mata uang kripto beserta ekosistemnya.

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

Total Volume Perdagangan Bitcoin Cs Mencapai US$8,8 Triliun pada Kuartal Pertama 2020

Total volume perdagangan gabungan Bitcoin Cs di bursa aset kripto berjenis spot dan derivatif mencapai sekitar US$8,8 triliun pada kuartal pertama 2020. Jumlah itu mewakili peningkatan 314 persen triwulanan perdagangan berjangka dan 104 persen untuk perdagangan spot.

Laporan itu dibuat Perusahaan Tokeninsight, berdasarkan data dari 295 bursa aset kripto spot. 41 di antaranya adalah pemain baru dan 16 adalah berjenis desentralistik.

Bursa Spot

“Total volume perdagangan seluruh bursa spot pada kuartal mencapai US$6,6 triliun, meningkat 104 persen. Volume sesungguhnya adalah US$6,647 triliun. Kendati ada volume wash trading, bisnis sektor ini terus berkembang secara signifikan. Dan lalu, korelasi antara volume perdagangan pasar dan harga Bitcoin relatif sangat rendah pada kuartal pertama 2020 itu,” sebut Tokeninsight.

$8.8 Trillion Traded in Cryptocurrency Spot and Futures Markets in Q1: Reports

Bagian dari kajian itu juga menegaskan, bahwa dominasi Bitcoin telah meningkat dibandingkan tahun lalu. Ketika pasar menurun, investor tidak memiliki kepercayaan yang cukup untuk masuk ke aset kripto non-mainstream.

“Bitcoin akan terus mempertahankan posisi dominannya di paruh pertama tahun ini,” sebut mereka.

Sekitar 279 bursa sentralistik menyumbang sekitar US$6,47 triliun dari total volume perdagangan pasar spot. Memang masih ada banyak data volume perdagangan palsu di sana. Bursa besar seperti Binance, Okex, Huobi Global, Coinbase Pro dan Kraken adalah bagian dari kajian itu.

Berita Terkait: Menakar Dominasi Bitcoin dan Menebak Tibanya Altseason

Adapun 16 bursa desentralistik menunjukkan, bahwa volume perdagangan gabungan mereka mencapai US$180 miliar pada kuartal tersebut, lebih dari 90 persen di antaranya diperdagangkan di Etherflyer.

$8.8 Trillion Traded in Cryptocurrency Spot and Futures Markets in Q1: Reports

Pasar Derivatif: Lebih dari US$2 Triliun

Kajian itu mencakup 12 bursa aset kripto derivatif seperti Bitmex, Okex, Huobi DM, Binance Futures, Deribit, Bitget, Binance JEX, FTX, Gate.io, BFX.nu, Bitz dan Kumex.

“Pada kuartal pertaa 2020, total volume perdagangan di pasar derivatif mencapai US$2,1048 triliun, meningkat 314 persen dari 2019,” kata Tokeninsight. Tiga kontrak berjangka (futures), BTC, ETH dan EOS, menyumbang lebih dari 90 persen dari total omzet. BTC sendiri menyumbang 78 persen.

$8.8 Trillion Traded in Cryptocurrency Spot and Futures Markets in Q1: Reports

Mereka juga menemukan bahwa koefisien korelasi antara volume perdagangan di bursa derivatif dan spot, turun menjadi 0,31 dari 0,76. Ini menunjukkan bahwa pelaku pasar derivatif mungkin relatif independen daripada pasar spot. [Bitcoin.com/red]



Sumber : news.tokocrypto.com

Ujicoba Smart Contract Cardano Dimulai Juni 2021

Anda penggemar teknologi blockchain Cardano yang beraset kripto ADA? Bersiap-siaplah, karena ujicoba smart contract perdana mereka akan dimulai Juni 2021 mendatang. Bagaimana nasib aset kripto ADA karena use case-nya bisa semakin luas?

Fitur smart contract itu memastikan penerbitan token dan aplikasi lain di Cardano.

Langkah pengembang inti Cardano tampaknya semakin jelas. Menurut IOHK, divisi khusus pengembangan Cardano mengungkapkan, bahwa ujicoba smart contract itu dimulai secara bertahap.

“Jadwalnya bermula Juni 2021 hingga September 2021 mendatang rampung masuk ke main net blockchain Cardano,” kata Shruti Appiah, Manajer Produk di IOHK belum lama ini di blog-nya.

Menyematkan smart contract perdana mereka ini sampai selesai, masuk di fase Alonzo.

Sedangkan saat ini sudah masuk fase Goguen yang berpangkal dari fase Marlowe sejak tahun lalu.

Tahap-tahap pengembangan smart contract awal sebenarnya sudah berjalan di fase Shelley.

aset kripto
Aset kripto ADA di hardware wallet.

Shelley adalah tonggak penting bagi Cardano. Ini menandai peralihan ke algoritma konsensus Proof-of-Stake, yang lebih efisien dan menawarkan fungsionalitas tambahan ke blockchain.

Berdasarkan rencana mereka dan secara teknologi, penerapan smart contract akan menjadi perkembangan Cardano yang paling signifikan.

Itu pula yang menentukan masa depan Cardano dan aset kripto ADA di masa depan.

Ini serupa dengan blockchain lainnya yang memiliki fitur smart contract lengkap.

Blockchain Ethereum dengan popularitas smart contract-nya, memungkinkan penerbitan token, aplikasi keuangan seperti decentralized exchangewallet, NFT dan lain sebagainya.

Dengan kata lain, penggunaan smart contract sebagai basis pemrograman akan memperluas use case dari aset kripto ADA itu sendiri, serupa dengan perluasan penggunaan aset kripto Ether (ETH).

Baca Juga: Vitalik Buterin: Mekanisme Blockchain Ethereum ke Depan akan Lebih Hemat Energi

Jadi, jikalau smart contract Cardano disambut baik oleh programer dan developer sama luasnya seperti di Ethereum ataupun Binance Smart Chain, itu menjadi basis fundamental nilai aset kripto ADA di masa depan.

Lihat saja nilai pasar DeFi saat ini mencapai US$61,53 milyar. Sedangkan pasar NFT terus masih memanas bernilai triliunan rupiah per hari.

Pemainnya juga semakin banyak dari perusahaan media massa, telekomunikasi, film hingga musik.

Namun yang perlu perhatian berikutnya adalah soal perluasan penerapan smart contract di bisnis mainstream, seperti perbankan, remitansi, logistik dan lain sebagainya.

Hal itu sangatlah penting guna meningkatkan jumlah pengguna blockchain Cardano, berikut use case dari aset kripto ADA.



Sumber : news.tokocrypto.com

Vitalik Buterin: Mekanisme Blockchain Ethereum ke Depan akan Lebih Hemat Energi

Pendiri Ethereum Vitalik Buterin berkomitmen akan membangun mekanisme konsensus pada blockchain Ethereum yang lebih hemat energi, dengan menggunakan sistem proof of stake (POS).

Dalam sebuah wawancara pada sebuah forum virtual StartmeupHK yang diselenggarakan dari Hong Kong, Buterin mengatakan, meskipun hingga saat ini mekanisme konsensus proof of stake masih belum teruji dalam hal performanya, namun, ia meyakini bahwa mekanisme ini bisa mengurangi konsumsi energi rantai lebih dari 10.000 x.

“Hal yang sedang kami bangun ini bukan hanya sebatas coba-coba lagi. Tapi ini adalah bagian penting dari era baru,” ujarnya

Isu energi pada cara kerja blockchain ini menjadi tema utama yang kerap dibahas di komunitas cryptocurrency. Pemicunya adalah statement CEO Tesla Elon Musk yang meninjau ulang penggunaan Bitcoin sebagai alat pembayaran perusahaannya karena dinilai Bitcoin diproses oleh mekanisme yang boros energi.

Baca Juga: Pemilik Ethereum Bantah Argumentasi Elon Musk Soal DOGE 

Pada cuitan lainnya di Twitter,  dia juga meminta Dogecoin untuk meningkatkan efisiensinya di beberapa metrik utama agar lebih efisien dan hemat energi.

Selama ini blockchain Bitcoin dan Ethereum masih menggunakan mekanisme proof-of-work. Sistem ini dinilai sangat menguras energi,  karena dalam algoritma proof-of-work penambang berlomba untuk memecahkan teka-teki matematika yang kompleks.

Karena teka-teki ini memiliki kesulitan yang terus meningkat, penambang perlu menjalankan komputer yang lebih kuat, mengoperasikan perangkat keras dan listrik dengan kecepatan yang sangat menguras energi.

Baca Juga: Tokocrypto Jalin Kemitraan Strategis dengan Lembaga Kliring ICH Untuk Meningkatkan Kepercayaan Investor Aset Kripto

Sebaliknya, algoritma bukti kepemilikan (proof of stake) memungkinkan mereka yang memiliki jumlah koin terbesar untuk memvalidasi transaksi secara mandiri.

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com