Tag Archives: smart contract

Dapatkah Cardano Bersaing Dengan Ethereum di Bidang Smart Contract?

Telah banyak korban yang kehilangan banyak waktu dan dana hanya untuk sebuah perantara, sebelum akhirnya mereka mencapai kesepakatan. Untuk mengatasai fenomena tersebut maka hadirlah smart contract agar perantara hilang dan sistem bisa bekerja lebih transparan.

Dari sekian banyaknya smart contract yang ada di sistem blockchain, ada dua aset kripto yang selalu bersaing menjadi yang terbaik yaitu Cardano dan Ethereum. Meskipun kedatangannya lebih dulu Ethereum, Cardano ternyata adalah saingan berat Ethereum. Bahkan sampai mendapat julukan “Ethereum Killer”.

Anda pasti bertanya-tanya, jika mereka bersaing manakah yang akan lebih unggul? Cardano atau Ethereum? Untuk bisa mengetahui jawabannya, berikut kami akan uraikan penjelasan mengenai Cardano dan Ethereum.

Mengenal Apa itu Cardano 

 

Cardano

Ilustrasi Cardano pesaing Ethereum dalam smart contract.

Cardano merupakan platform blockchain yang sudah ada sejak tahun 2017. Platform ini menciptakan native token yang disebut dengan ADA. Platform ini hadir berkat Charles Hoskinson, yang sekaligus merupakan co-founder dari Ethereum. 

Hal penting dari setiap platform blockchain ialah algoritma yang digunakan platform tersebut dalam membuat blok dan memvalidasi proses transaksi. Sistem Cardano berjalan dengan menggunakan protokol konsensus Proof-of-Stake Ouroboros

Baca Juga: Simak Penjelasan Lengkap Mengenai Cardano Coin!

Cardano sendiri dibuat dengan tujuan untuk bisa menjadi platform pengembangan aplikasi terdesentralisasi pada multi-asset ledger dan smart contract Cardano dapat terverifikasi. 

Sebagai informasi, Cardano merupakan blockchain pertama yang menggunakan sistem peer-reviewed, yakni produk yang dirilis merupakan hasil ulasan dari para tim ahli yang ada di organisasi Cardano.

Mengenal Ethereum

Ilustrasi Ethereum pesaing Cardano untuk smart contract.

Ilustrasi Ethereum pesaing Cardano untuk smart contract.

Ethereum atau ETH merupakan salah satu platform blockchain yang telah ada sejak tahun 2015. Adapun Founder dari platform ini yaitu Vitalik Buterin. Ethereum memiliki bahasa pemrograman sendiri yaitu Solidity.

Ethereum mampu mengolah transaksi dengan waktu yang lebih singkat dari pada Bitcoin. Bagaimana tidak, platform ini mampu mengelola hingga 30 tps sedangkan Bitcoin hanya mampu 7 tps saja.

Ethereum dapat dijadikan sebagai aset, namun tujuan utama diciptakannya Ethereum yaitu agar bisa menjadi platform aplikasi yang telah terdesentralisasi. Ethereum juga merupakan decentralized ledger yang memiliki fungsi untuk memverifikasi dan mencatat setiap proses transaksi.

Selain itu, Ethereum bisa digunakan sebagai metode pembayaran dan sebagai media smart contract. Smart contract merupakan fitur utama dari Ethereum. Dengan Ethereum, user dapat membuat smart contract dengan lebih efesien.

Baca Juga: Inilah Alasan, Mengapa Ethereum (ETH) akan Melonjak pada Bulan Juli?

Cardano vs Ethereum

Setelah mengenal secara singkat Cardano dan Ethereum, mungkin Anda merasa penasaran jika keduanya bersaing akan lebih unggul yang mana. Berbicara mengenai perbandingan Cardano dengan Ethereum, ternyata Cardano tidak jarang dijadikan sebagai pengganti alternative Ethereum.

Hal tersebut terjadi karena platform ini bisa digunakan pada aplikasi yang serupa, seperti smart contract. Selain itu, kedua platform ini juga memiliki tujuan yang sama yaitu untuk membangun sistem yang terdesentralisasi.

Di balik itu semua, Cardano dan Ethereum memiliki konsensus blockchain yang berbeda. Jika Cardano menggunakan konsensus Proof-of-Stake, sedangkan Ethereum menggunakan konsensus Proof-of-Work.

smart contract

Ilustrasi smart contract.

Kemampuan Proof-of-Work pada Ethereum sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Agar blockchain Ethereum tetap berjalan, jaringan miners akan melakukan penghitungan yang kompleks.

Sedangkan pada konsensus Proof-of-Stake yang dimiliki Cardano, tidak lagi membutuhkan miner untuk penghitungan karena Cardano memiliki validator. Dengan adanya validator, proses validasi tidak akan memakan banyak energi sehingga sumber daya menjadi lebih hemat.

Ouroboros atau Proof-of Stake hanya memerlukan bebeapa pemegang token ADA agar bisa memvalidasi transaksi dan menjaga koneksi jaringan dengan baik. Itu artinya, transaksi dapat berjalan dengan murah dan cepat. Dengan demikian, Cardano dianggap lebih unggul.



Sumber : news.tokocrypto.com

Fidelity: Institusi Semakin Mengadopsi Bitcoin

Akibat kelesuan ekonomi global yang disebabkan pandemi COVID-19, Bitcoin dan aset kripto lain mendapat dorongan adopsi besar oleh investor institusi. Hal tersebut diutarakan Christine Sandler, Kepala Pemasaran dan Penjualan Fidelity Digital Assets.

Sejak tahun 2014, Fidelity telah mulai mempelajari teknologi distributed ledger itu. Mereka menyadari ada sejumlah friksi yang dihadapi institusi dalam hal penyimpanan dan perdagangan aset kripto, serta kurangnya infrastruktur. Sebab itu, Fidelity memutuskan untuk menciptakan layanan dan produk bagi institusi.

Perusahaan tersebut umumnya memiliki klien dari kalangan investor ritel, individu kaya, family office, penasihat investasi, dana lindung nilai dan hibah, sehingga memungkinkan Fidelity menghadirkan produk-produk baru serta memudahkan penggunaan bagi pelanggan yang belum mengenalnya.

Kendati demikian, baru pada tahun 2020 terjadi pergeseran investasi Bitcoin oleh institusi. Faktor yang mendorongnya adalah pandemi dan regulasi produktif oleh organisasi seperti Komisi Pertukaran dan Sekuritas AS (SEC) serta Kantor Pengawas Mata Uang AS.

Sandler menjelaskan, pada tahun ini terjadi adopsi narasi emas digital. Bitcoin mulai diminati oleh investor institusi, seperti dana lindung nilai, individu kaya dan family office. Terjadi perluasan jenis klien yang berinteraksi dengan ekosistem aset kripto.

Pada Agustus 2020, presiden Fidelity, Peter Jubber, mengumumkan rencana untuk meluncurkan dana indeks Bitcoin.

Dengan investasi minimal US$100 ribu, produk ini ditujukan bagi institusi serta investor terakreditasi yang tidak bisa membeli Bitcoin langsung.

Sandler berkata dana indeks tersebut diperuntukkan pihak yang terkendala menyimpan Bitcoin spot dalam portofolio mereka.

Soal Bitcoin exchange-traded funds (ETF), suatu inisiatif yang telah berulang kali diajukan berbagai perusahaan dan ditolak SEC, Sandler berkata hal tersebut akan fantastis.

Jika terjadi, layanan tersebut akan memberikan akses instan terhadap Bitcoin bagi investor tradisional, dan mampu menggenjot permintaan.

Kendati institusi mulai serius terhadap Bitcoin, sikap tersebut tidak diberikan kepada aset kripto lain seperti Ethereum. Sandler menjelaskan klien Fidelity menunjukkan minat terhadap Ethereum hanya sesekali, dan minat utama masih ditujukan kepada narasi Bitcoin. Narasi emas digital lebih tepat mengena investor tradisional.

Tetapi, dukungan bagi Ethereum ada di rencana Fidelity Digital Assets. Dengan adanya fitur Proof-of-Stake sebagai bagian Ethereum 2.0, Fidelity berencana menambahkan dukungan bagi layanan terkait di masa depan.

“Sebagai kustodian aset digital, kita harus menawarkan layanan staking. Saya pikir kami akan menciptakan layanan tersebut setelah kami resmi mendukung Ethereum, tapi saat ini yang kami dengar kebanyakan adalah Bitcoin,” tambah Sandler.

Baca Juga: Filecoin Capai Kapasitas 1 Exabyte, Lebih Besar dari Netflix!

Sandler juga menyoroti lembaga keuangan tradisional yang mulai menyusul masuk ke industri aset kripto, dan uang digital bank sentral akan hadir dalam beberapa tahun ke depan. Ekosistem kripto berkembang cepat, terutama dengan adanya kegunaan tokenisasi aset nyata serta kontrak pintar (smart contract).

Ia berpikir bukan tidak mungkin dolar digital atau uang digital bank sentral akan digunakan untuk berinteraksi dengan ekosistem tersebut. Kripto dan uang fiattradisional akan hidup berdampingan.



Sumber : news.tokocrypto.com

Cardano Secara Resmi Luncurkan Smart Contract!

Tepat hari ini, Cardano (ADA) secara resmi memiliki kemampuan smart contracts untuk lebih meningkatkan ekosistemnya.

Penantian panjang akhirnya berakhir. Setelah bertahun-tahun meneliti dan menghasilkan banyak makalah peer-review tentang struktur jaringan, potensi, ide, tujuan, dan hal mendetail lainnya.

Pembaharuan Alonzo

Sebagaimana yang dilansir dari CryptoPotato sebelumnya, jaringan smart contract memiliki fungsionalitas yang dibangun ke dalam testnet Alonzo di awal September silam.

Cordano menggunakan Plutus sebagai bahasa pemrogramannya. Plutus diharapkan mampu membantu pengguna membuat smart contract yang mudah diaplikasikan dan aman.

Inti Plutus digunakan untuk menentukan parameter model UTXO yang diperluas. Menurut tim, ini menawarkan keunggulan unik dibandingkan model akuntansi lainnya.

Baca Juga: CEO CryptoQuant: Bitcoin Menampilkan Metrik Bullish Meskipun Bervolatilitas

Selain itu, Plutus Application Framework (PAF) juga menyediakan akses dalam aplikasi dan layanan yang berjalan di jaringan.

Layanan itu hanya bisa diakses ketika kita menyertakan interoperabilitas browser web secara lengkap.

Sampai sekarang, Cardano sudah mematangkan hard fork dan Alonzo siap membantu dengan aktif di mainnet.

Hard fork sendiri adalah sebuah pecahan yang dilakukan dalam aset kripto untuk membangun sistem baru yang berbeda dari aslinya.

Biasanya hard fork diciptakan untuk mengembangkan jaringan menjadi lebih baik.

Dengan adanya pembaharuan Alonzo, siapa saja dapat membuat dan menerapkan smart contract mereka sendiri di blockchain Cardano. Pembaruan ini tentunya dapat membuka jalan bagi decentralized apps (Dapps)

Baca Juga: Ini Penyebab Cardano Dikritik Setelah Upgrade Alonzo

Dengan begitu, jaringan mendukung smart contract, memungkinkan berbagai tim dan proyek untuk mulai membangun dan menerapkan protokol mereka langsung di Cardano.

Bukan Perjalanan Yang Mudah

Peluncuran smart contract ini bukan tanpa hambatan. Baru-baru ini, dikemukakan bahwa ada masalah konkurensi mendasar dalam desain dasar kemampuan smart contract  Cardano.

Dengan kata lain, akan ada banyak pengguna yang tidak bisa berinteraksi dengan protokol secara bersamaan.

Namun, Charles Hoskinson, serta Input Output (tim di belakang Cardano), menjelaskan secara mendalam tentang jaringan smart contract dan bagaimana ini tidak akan menjadi dampak yang buruk.

Beberapa hari yang lalu juga, Input Output telah menerbitkan blog baru yang menjelaskan pendekatan EUTXO Cardano untuk eksekusi smart contract dan bagaimana ia menawarkan keamanan yang lebih besar.

Bagaimanapun, lika-liku persiapan smart contract ADA sebelumnya, ini menandai era baru untuk proyek ADA dan menarik untuk melihat bagaimana hal itu akan berdampak pada ekosistemnya ke depan.

Jaringan Cardano telah secara resmi menjalankan hard fork Alonzo yang dipuji-puji.

Pencipta Cardano, Charles Hoskinson, mengatakan dia yakin setelah melalui yang jalan panjang, platform ini bisa menuju era smart contract yang akan bermanfaat bagi seluruh industri kripto.

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

Harga ADA Bisa ke Rp72 Ribu, Siap Serok?

Kripto Cardano, ADA, menyita perhatian publik setelah terus menguat hingga mencapai level tertinggi sepanjang masanya (ATH). Mungkinkah harganya bisa mencapai setara Rp72 ribu, seperti yang disebutkan Michael van de Poppe?

Pembaruan Alonzo yang akan datang tampaknya menjadi “dalang” di balik peningkatan minat investor, yang sepertinya masih belum akan berhenti, setidaknya hingga akhir tahun ini.

Baca Juga: Pertama Kali Sejak Mei 2021, Bitcoin Kembali Sentuh $50.000

Harga ADA Berpotensi Sentuh Rp72 Ribu

Tentu saja, apreasiasi nilai yang fantastis ini telah memicu beberapa pandangan positif dan prediksi harga yang cukup berani.

Belum lama ini, analis pasar Michael van de Poppe, menyerukan kepada 115.000 pelanggan kanal YouTube-nya, bahwa dia yakin kenaikan meteorik ADA belum berakhir.

harga ADA
Harga ADA mencetak rekor tertinggi baru beberapa hari lalu, terdorong pembaruan Alonzo pada September 2021 mendatang, di mana fitur smart contract perdana akan diluncurkan. Sumber: Tradingview.com.

Melalui sebuah video, van de Poppe membagikan pandangan optimistis disertai gambaran teknis dari pergerakan harga ADA.

Level yang harus diperhatikan adalah apa pun dalam kisaran [US$2,00-US$2,50] ini. Jika itu berlaku, saya berasumsi US$3,45 dan US$5,00 berikutnya untuk,” ujar van de Poppe, dilansir dari DailyHodl, Sabtu (21/8/2021).

Selain itu ia juga berpandangan, jika Bitcoin melewati ATH siklus ini, analis terkemuka ini memperkirakan keuntungan “gila” yang mungkin akan diraih para pemegang ADA dalam jangka panjang.

Menurutnya, jika Bitcoin bisa bertumbuh sekitar 8 hingga 10 kali lipat dari harga saat ini, harga kripto besutan Charles Hoskinson ini kemungkinan dapat mencapai US$10 hingga US$20.

Mengingat kinerja dan tingkat adopsi Bitcoin, serta kepopularan ADA belum lama ini, langkah ini masih dianggap masuk akal dari sudut pandang “dunia kripto”.

Diketahui, van de Poppe menggunakan indikator Fibonacci Extension untuk menunjukkan potensi sasaran harga jangka pendek saat naik ke ATH terbarunya.

Baca Juga: Setelah Harga ADA Cetak Rekor Baru, Smart Contract Jadi Tapak Inovasi

Level Fibonacci Extension berikutnya adalah [US$3,50] dan [US$5,00] untuk ADA dalam gelombang impuls berikutnya. Itu didasarkan pada titik tertinggi baru-baru ini [US$2,50], serta titik terendah baru-baru ini [US$1,02],” ujar analis itu.

Meroketnya harga kripto ini hingga mencapai ATH-nya, datang setelah pengumuman terbaru Cardano tentang tanggal target untuk pembaruan Alonzo yang akan datang. Ini akan membawa fungsionalitas smart contract ke ekosistem Cardano.

ADA yang saat ini duduk di posisi ketiga kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, tampaknya akan terus mencetak prestasi baru.

Saat pembaruan tiba dan diterapkan, tentu akan semakin memicu keyakinan baru, yang berakhir dengan meroketnya harga. Itulah salah satu faktor yang paling disukai dari aset digital seperti kripto.



Sumber : news.tokocrypto.com

Popularitas Smart Contract Ethereum Bisa Salip Posisi Bitcoin Saat Ini

Perusahaan investasi asal Amerika Serikat Goldman Sachs membuat sebuah catatan untuk nasabahnya yang mengatakan Ethereum bisa menjadi aset kripto yang paling dominan di masa depan mengalahkan Bitcoin.

Dikutip dari Business Insider, Goldman memperkirakan total kapitalisasi pasar ether (ETH) bisa menyalip total kapitalisasi pasar Bitcoin (BTC) di tahun-tahun mendatang.

Baca Juga: Ubah Recehan Jadi Cuan!

“[Ether] saat ini terlihat seperti cryptocurrency dengan potensi penggunaan nyata tertinggi seperti Ethereum, platform yang menjadi mata uang digital asli, adalah platform pengembangan paling populer untuk aplikasi kontrak pintar.”

Smart contract Ethereum saat ini memang mendominasi ekosistem keuangan desentralisasi (DeFI). Meski banyak yang menilai gas fee dan biaya transaksi di jarangina Ethereum dirasa sangat mahal, namun jaringan mereka masih lebih populer dibandingkan dengan jarinagn blockchain lain.

Baca Juga: Titik Beli dan Jual Ethereum Sebelum London Hardfork Juli 2021

Sejumlah analis mencatat bahwa Ethereum saat ini menjadi penggerak utama Bitcoin dan sejumlah proyek token dan coin kripto. Secara pertumbuhan, Ethereum pun kini mampu tumbuh lebih cepat daripada Bitcoin. Dalam 12 bulan terakhir nilai ETH tumbuh 865%, sedangkan Bitcoin hanya mengalami pertumbuhan sebanyak 261%.

Kendati demikian, saat ini total kapitalisasi pasar Ethereum masih di bawah BTC. Bitcoin saat ini memiliki $651,110,414,182 total market cap. Sedangkan, ETH masih di bawah BTC dengan total market cap senilai $277,859,938,148.

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

Ujicoba Smart Contract Cardano Dimulai Juni 2021

Anda penggemar teknologi blockchain Cardano yang beraset kripto ADA? Bersiap-siaplah, karena ujicoba smart contract perdana mereka akan dimulai Juni 2021 mendatang. Bagaimana nasib aset kripto ADA karena use case-nya bisa semakin luas?

Fitur smart contract itu memastikan penerbitan token dan aplikasi lain di Cardano.

Langkah pengembang inti Cardano tampaknya semakin jelas. Menurut IOHK, divisi khusus pengembangan Cardano mengungkapkan, bahwa ujicoba smart contract itu dimulai secara bertahap.

“Jadwalnya bermula Juni 2021 hingga September 2021 mendatang rampung masuk ke main net blockchain Cardano,” kata Shruti Appiah, Manajer Produk di IOHK belum lama ini di blog-nya.

Menyematkan smart contract perdana mereka ini sampai selesai, masuk di fase Alonzo.

Sedangkan saat ini sudah masuk fase Goguen yang berpangkal dari fase Marlowe sejak tahun lalu.

Tahap-tahap pengembangan smart contract awal sebenarnya sudah berjalan di fase Shelley.

aset kripto
Aset kripto ADA di hardware wallet.

Shelley adalah tonggak penting bagi Cardano. Ini menandai peralihan ke algoritma konsensus Proof-of-Stake, yang lebih efisien dan menawarkan fungsionalitas tambahan ke blockchain.

Berdasarkan rencana mereka dan secara teknologi, penerapan smart contract akan menjadi perkembangan Cardano yang paling signifikan.

Itu pula yang menentukan masa depan Cardano dan aset kripto ADA di masa depan.

Ini serupa dengan blockchain lainnya yang memiliki fitur smart contract lengkap.

Blockchain Ethereum dengan popularitas smart contract-nya, memungkinkan penerbitan token, aplikasi keuangan seperti decentralized exchangewallet, NFT dan lain sebagainya.

Dengan kata lain, penggunaan smart contract sebagai basis pemrograman akan memperluas use case dari aset kripto ADA itu sendiri, serupa dengan perluasan penggunaan aset kripto Ether (ETH).

Baca Juga: Vitalik Buterin: Mekanisme Blockchain Ethereum ke Depan akan Lebih Hemat Energi

Jadi, jikalau smart contract Cardano disambut baik oleh programer dan developer sama luasnya seperti di Ethereum ataupun Binance Smart Chain, itu menjadi basis fundamental nilai aset kripto ADA di masa depan.

Lihat saja nilai pasar DeFi saat ini mencapai US$61,53 milyar. Sedangkan pasar NFT terus masih memanas bernilai triliunan rupiah per hari.

Pemainnya juga semakin banyak dari perusahaan media massa, telekomunikasi, film hingga musik.

Namun yang perlu perhatian berikutnya adalah soal perluasan penerapan smart contract di bisnis mainstream, seperti perbankan, remitansi, logistik dan lain sebagainya.

Hal itu sangatlah penting guna meningkatkan jumlah pengguna blockchain Cardano, berikut use case dari aset kripto ADA.



Sumber : news.tokocrypto.com

Risiko Smart Contract: Jangan Asal Ikut Proyek Crypto!

Bayangkan kamu ikut sebuah proyek crypto yang kelihatannya keren—semua serba otomatis, gampang dipakai, dan menjanjikan untung besar. TAPI, satu kesalahan kecil di sistemnya bisa bikin uang kamu hilang dalam hitungan menit. Nah, sistem yang dimaksud namanya smart contract, dan walaupun terlihat canggih, tetap bisa punya kelemahan.

Apa Itu Smart Contract dan Kenapa Bisa Berisiko?

Smart contract itu seperti program komputer yang otomatis menjalankan perintah tertentu di dunia crypto.

Misalnya, kalau kamu kirim uang, sistem akan langsung kasih imbalan atau produk secara otomatis—tanpa orang ketiga.

Biasanya smart contract ini digunakan untuk membuat dan mengatur token crypto (seperti Shiba Inu di Ethereum), menjalankan aplikasi DeFi seperti Uniswap atau Aave, atau mengelola sistem voting dalam DAO (organisasi otonom digital).

Tapi karena ini semua berbasis kode komputer, kalau ada kesalahan di dalamnya (bug), hacker bisa menyalahgunakannya dan mencuri dana.

Parahnya lagi, sistem ini nggak bisa dibatalkan, jadi kalau uang kamu sudah hilang, ya nggak bisa ditarik kembali.

Contoh Nyata Kasus Smart Contract Bermasalah

Salah satu kasus paling terkenal terjadi pada tahun 2016. Waktu itu ada proyek bernama “The DAO” yang kehilangan sekitar 3,6 juta ether atau 50 juta dolar AS karena celah di sistem smart contract-nya. Akibat kejadian ini, jaringan Ethereum sampai harus terpecah jadi dua versi: Ethereum (ETH) dan Ethereum Classic (ETC).

Kasus lain terjadi pada 2023 di proyek bernama Euler Finance, di mana hacker berhasil mencuri lebih dari 190 juta dolar AS karena kelemahan di sistem otomatis mereka. Ini jadi bukti bahwa smart contract tetap punya risiko.

Jenis Ancaman pada Smart Contract

  • Bug atau Kesalahan Kode: Hacker bisa manfaatkan kesalahan kecil untuk mencuri dana.
  • Pinjaman Cepat (Flash Loan Attack): Teknik tertentu yang dipakai hacker untuk menyerang sistem secara instan.
  • Serangan Data Harga Palsu: Sistem ditipu dengan data harga yang salah supaya hasil perhitungannya keliru.
  • Tidak Pernah Diaudit: Banyak proyek buru-buru diluncurkan tanpa diperiksa keamanannya oleh pihak independen.

Siapa yang Mengaudit Smart Contract?

Audit smart contract biasanya dilakukan oleh perusahaan keamanan independen yang khusus menangani proyek blockchain, seperti CertiK, Quantstamp, dan PeckShield.

Mereka memeriksa kode smart contract untuk mencari bug, celah keamanan, dan potensi penyalahgunaan sebelum proyek diluncurkan ke publik.

Audit yang baik biasanya menghasilkan laporan lengkap yang bisa diakses oleh calon investor.

Cara Mengurangi Risiko Smart Contract

  1. Pilih Proyek yang Sudah Diaudit: Pastikan proyek punya laporan audit keamanan dari pihak terpercaya.
  2. Jangan Ikut-ikutan (Hindari FOMO): Jangan asal ikut tren tanpa tahu cara kerja proyek tersebut.
  3. Cek Tim Pengembang: Lihat siapa yang bikin proyeknya dan apakah mereka transparan.
  4. Coba Dulu Pakai Dana Kecil: Uji coba dulu dengan uang kecil sebelum investasi lebih besar.
  5. Ikut Komunitas Proyek: Gabung di grup Telegram atau Discord resmi buat tahu info terbaru.

Kesimpulan

Smart contract memang bikin transaksi crypto jadi lebih gampang dan cepat, tapi bukan berarti bebas risiko. Kita tetap harus hati-hati dan teliti sebelum ikut proyek apa pun. Ingat, walau sistemnya otomatis, kalau ada celah, bisa jadi bumerang buat keuanganmu!


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



Sumber : news.tokocrypto.com

Token Smart Contract: ETH, BNB, dan ADA Jadi Primadona Minggu Ini!

Kebangkitan pasar aset kripto terus berlanjut. Dalam tujuh hari terakhir, deretan token smart contract teratas menunjukkan reli yang solid, dipimpin oleh Ethereum (ETH) yang kembali memperkuat dominasinya sebagai raja jaringan blockchain.

Menurut data pasar terbaru, Ethereum (ETH) melonjak hampir 14% dalam sepekan, menembus harga US$4.548,63 dengan kapitalisasi pasar mencapai US$549 miliar. Lonjakan ini memperkuat sentimen positif di sektor DeFi dan tokenisasi aset nyata (RWA) yang sebagian besar dibangun di atas jaringan Ethereum.

Di posisi kedua, BNB (Binance Coin) juga mencetak performa mengesankan dengan kenaikan 19,77% dalam tujuh hari terakhir, mencapai harga US$1.162,06. Kapitalisasi pasarnya kini berada di level US$161,7 miliar, menjadikannya salah satu aset dengan pertumbuhan paling agresif di antara token smart contract besar.

Top Smart Contracts Tokens by Market Capitalization. SUmber: CoinMarketCap.
Top Smart Contracts Tokens by Market Capitalization. SUmber: CoinMarketCap.

Cardano dan Chainlink Mulai Bangkit

Sementara itu, Cardano (ADA) menunjukkan tanda-tanda kebangkitan dengan kenaikan 12,22% minggu ini. Token ini kini diperdagangkan di kisaran US$0,86, membawa kapitalisasi pasarnya ke US$30,8 miliar. Penguatan ADA terjadi seiring peningkatan aktivitas pengembang di ekosistem Cardano dan adopsi proyek-proyek DeFi baru di jaringannya.

Tak ketinggalan, Chainlink (LINK) yang menjadi tulang punggung data oracle di berbagai blockchain turut naik 9,97% menjadi US$22,59, dengan kapitalisasi pasar sekitar US$15,3 miliar. Kenaikan ini didorong oleh minat yang meningkat terhadap integrasi Real-World Assets (RWA) yang memanfaatkan layanan oracle dari Chainlink.

Di urutan berikutnya, Avalanche (AVAX) juga mencatat kenaikan 7,47% dalam sepekan, menembus harga US$30,24 dengan kapitalisasi pasar mencapai US$12,77 miliar. AVAX terus mendapat perhatian berkat skalabilitas jaringannya dan peningkatan proyek DeFi yang mulai bermigrasi ke ekosistem Avalanche.

Performa positif seluruh token smart contract besar ini menegaskan bahwa musim altcoin (altseason) mulai menunjukkan sinyal nyata, dengan investor kembali melirik proyek-proyek yang memiliki fundamental kuat dan kasus penggunaan jelas di dunia nyata.

Baca juga: Tren Bitcoin 6-10 October 2025: Ingat, Analisa Saya Selalu Kecepetan Seminggu


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.



Sumber : news.tokocrypto.com

Pengusaha Semringah, Aturan Ini Disebut Bikin Blockchain Diakui di RI


Jakarta

Platform perdagangan aset kripto di Indonesia, Indodax menyambut baik langkah pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2025 tentang Perizinan Berusaha Berbasis Risiko yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto. Hal itu dianggap jika pemerintah resmi mengakui teknologi blockchain sebagai bagian sah dari ekosistem ekonomi digital nasional.

Dalam PP ini disebutkan blockchain secara eksplisit dalam kerangka hukum yang tercantum dalam Pasal 186, di mana blockchain disejajarkan dengan teknologi strategis lain seperti kecerdasan buatan (AI), sistem identitas digital, dan sertifikat elektronik.

Dengan terbitnya PP 28/2025, pelaku usaha yang ingin membangun solusi berbasis blockchain kini memiliki dasar legal yang jelas. Untuk jenis usaha yang tidak bersentuhan langsung dengan sektor keuangan, seperti smart contract, Web3, NFT, dan DeFi non-keuangan, cukup memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dan Sertifikat Standar


Sementara bagi sektor yang menyentuh aspek keuangan seperti tokenisasi aset, stablecoin, hingga perdagangan aset kripto, tetap diwajibkan memperoleh izin khusus dari regulator seperti OJK. Pendekatan ini dinilai memberikan keseimbangan antara ruang inovasi dan perlindungan konsumen.

“Ini bukan sekadar pengakuan, melainkan penegasan bahwa negara hadir untuk mendampingi pertumbuhan teknologi yang membawa transparansi, efisiensi, dan desentralisasi dalam berbagai lini kehidupan,” ujar Chairman Indodax, Oscar Darmawan dalam keterangan tertulis, Kamis (3/7/2025).

Oscar mengatakan, selama ini blockchain lebih sering diasosiasikan semata dengan aset kripto. Padahal, kekuatan utamanya justru terletak pada kemampuannya menciptakan infrastruktur kepercayaan yang independen dari otoritas pusat.

“Regulasi ini membuka jalan untuk eksplorasi lebih luas dari distribusi bansos yang transparan hingga sistem rantai pasok pangan yang akuntabel,” jelasnya.

Oscar juga mengapresiasi keberanian pemerintah mengklasifikasikan risiko kegiatan blockchain secara spesifik. Menurutnya, pendekatan berbasis risiko adalah langkah progresif yang akan membantu pelaku industri memahami posisi hukum sejak awal tanpa harus menavigasi birokrasi yang rumit.

“Ini akan menurunkan hambatan masuk bagi inovator dan startup lokal. Banyak pengembang muda yang sebelumnya ragu memulai proyek karena ketidakjelasan regulasi. Dengan PP ini, mereka punya dasar hukum yang konkret, bisa mengakses perizinan secara daring, dan memiliki kredibilitas di mata investor,” lanjut Oscar

PP 28/2025 juga mengatur pengawasan ketat terhadap pelaku usaha yang tidak aktif selama tiga tahun. Jika tidak ada kegiatan signifikan, izin usaha dapat dicabut secara administratif Ini menjadi pemicu bagi pelaku industri untuk terus menjaga keberlanjutan proyek dan tidak sekadar menciptakan solusi temporer.

Meski begitu, Oscar mengatakan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membentuk roadmap pengembangan blockchain nasional yang melibatkan semua pemangku kepentingan.

“Regulasi hanyalah pintu awal. Yang terpenting adalah bagaimana kita bersama-sama pemerintah, swasta, komunitas, akademisi untuk membangun ekosistem yang tumbuh dari bawah dan memecahkan masalah nyata di masyarakat,” ujarnya.

Tonton juga Video: Google Prediksi Ekonomi Digital RI Capai USD 90 M Tahun Ini

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com