Siapa yang sedang menantikan lanjutan dari game terpopuler sejagat Grand Theft Auto (GTA) VI? Rumor baru yang beredar GTA VI akan menggunakan sistem rewards atau hadiah dengan aset kripto di dalamnya.
Dikutip dari laporan Watcher.Guru, GTA VI dapat memperkenalkan aset kripto dalam gameplay-nya. Kebocoran baru-baru ini mengklaim GTA VI akan memiliki kripto dalam game untuk pemain untuk mendapatkan uang dan berdagang item di plaform.
Rumor tersebut banyak diyakini oleh para gamers, pasalnya seri game Grand Theft Auto selalu lebih maju dari masanya. Contohnya, GTA San Andreas yang dirilis pada tahun 2004 masih dianggap inovatif dan futuristik, sampai bahkan dua dekade kemudian. Game tersebut menampilkan flying jetpack dan berbagai elemen lainnya yang berteknologi maju bahkan hingga saat ini.
Tidak hanya itu, Rockstar Games memperkenalkan pasar saham di Grand Theft Auto IV pada tahun 2008, bernama The Liberty City Stock Exchange (LCSE). LCSE terletak di area ‘The Exchange, Algonquin’, tetapi bangunan itu tidak dapat diakses oleh pemain. Gedung LCSE tidak memiliki peran dalam alur cerita, tetapi hanya ada di peta dengan pergerakan harga ticker.
Namun, hal-hal berubah setelah GTA V dirilis pada tahun 2013, karena Rockstar Games memungkinkan pemain masuk ke dunia pasar saham. Pemain dapat mengakses BAWSAQ dan LCN Exchange melalui koneksi internet di smartphone mereka, dan pengguna dapat membeli dan menjual saham sesuai keinginan mereka dan memiliki gameplay yang melibatkan pasar saham.
Gamer bisa menghasilkan uang dalam sebuah misi yang dinamakan ‘Stock Market Assassination Missions’ yang dikeluarkan oleh Lester. Beberapa yang beruntung bahkan menghasilkan US$ 2 miliar dalam permainan dengan memanipulasi pasar saham.
Sekarang, selain saham, Rockstar Games perlu bersiap dan memperkenalkan Aset kripto di GTA VI mendatang.
Alasan GTA VI harus Bawa Kripto ke dalam Game
Rockstar Games mendominasi pasar game dari tahun 90-an hingga 2022. Namun, persaingan di sektor game sepuluh kali lipat dan mengancam GTA dari posisi teratas. Mirip dengan betapa futuristiknya mereka di tahun 90-an, permainannya harus lebih futuristik untuk 20 tahun ke depan.
Masa depan dunia keuangan bisa menjadi milik aset kripto, dan memperkenalkannya di GTA VI bisa menjadi gamechanger. Misalnya: Dalam misi di Grand Theft Auto V, Franklin membantu Lester untuk memanipulasi pasar saham. Grand Theft Auto VI dapat melakukan hal yang sama, tetapi kali ini dengan aset kripto.
Kripto dapat ditambahkan sebagai elemen cerita dalam plot permainan yang membuat pemain mendapatkan berbagai bentuk pendapatan. Karakter yang merupakan miliarder kripto dapat memberikan misi yang akan dibayar dengan kripto. Dua puluh tahun kemudian (setelah dirilis), GTA VI akan dipuji sebagai futuristik karena menghadirkan gameplay dengan aset kripto.
Wing Finance (WING) dan AS Roma Fan Token (ASR) adalah dua dari ribuan aset kripto yang memiliki project menarik di dunia Decentralized Finance (DeFi). Keduanya masih tergolong baru perilisannya, namun mampu mencuri perhatian dengan cepat.
Secara singkat, Wing adalah platform DeFi berbasis kredit yang didedikasikan untuk pasar pinjaman aset digital, mendukung aset lintas rantai dan interaksi protokol. Sementara, AS Roma Fan Token sudah pasti project kripto yang berhubungan dengan klub sepak bola populer asal Italia, AS Roma.
Menarik untuk mengenal lebih dekat Wing Finance (WING) dan AS Roma Fan Token (ASR) yang kini sudah tersedia perdagangannya di platform Tokocrypto.
Wing Finance (WING)
Apa Itu Wing Finance (WING)?
Wing adalah platform terdesentralisasi berbasis kredit yang dirancang untuk pinjaman aset kripto dan komunikasi lintas rantai antara proyek DeFi. Proyek ini bertujuan untuk membuat layanan pinjaman kripto lebih inklusif melalui modul evaluasi kredit yang menghilangkan kebutuhan akan agunan besar.
Wing disebut juga sebagai platform DeFi lintas-rantai berbasis kredit yang dikembangkan dan dioperasikan oleh tim Ontologi. Platform ini memiliki konsep decentralized autonomous organization (DAO) yang memungkinkan pengguna untuk mengambil bagian dalam pengambilan keputusan, desain produk dan operasi.
Salah satu tujuan Wing DAO adalah untuk memecahkan masalah kolateralisasi berlebihan yang mengganggu industri DeFi. Wing menggunakan tata kelola terdesentralisasi ditambah dengan mekanisme pengendalian risiko untuk meningkatkan hubungan antara kreditur, peminjam dan penjamin. Ini telah menghasilkan peningkatan dalam jumlah dan aksesibilitas ke proyek DeFi yang menggunakan platform.
Platform ini memungkinkan pembuatan proyek blockchain baru dan memfokuskan upayanya pada komunitas pemerintahan yang terdesentralisasi dan otonom. Menanggapi masalah yang dihadapi oleh proyek DeFi lainnya, Wing DAO telah membangun protokol DeFi berbasis kredit yang berjalan di blockchain Ontology (ONT). Protokol sepenuhnya dikendalikan oleh pengguna dan tidak memerlukan pihak ketiga untuk mengonfirmasi transaksi.
Apa yang Membuat Wing Finance (WING) Unik?
Salah satu fitur unik Wing adalah memungkinkan pengguna untuk membuat proposal DAO atau menjadi investor di platform, bahkan tanpa pengetahuan atau interaksi sebelumnya dengan jaringan blockchain tersebut. Wing menawarkan pengembang proyek kesempatan untuk menerima crowdfunding, ketika mereka mengajukan proposal.
Investor memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam pengambilan keputusan dan sebagai imbalannya mendapatkan bagian dari keuntungan masa depan melalui smart contract.
Kemudian, Wing dibangun di atas blockchain Ontology karena kemampuannya untuk membuat kumpulan jaminan di berbagai blockchain. Ontologi memungkinkan digitalisasi aset baru dan yang sudah ada.
Blockchain juga memiliki fitur yang disebut OScore, yang merupakan sistem penilaian kredit. OScore mengevaluasi riwayat peminjaman/peminjaman dan informasi aset digital pengguna.
Pengguna di platform memiliki kontrol penuh atas akun mereka dan dapat mengakses OScore mereka dengan aman untuk memastikan privasi data. Selain itu, karena peminjam harus mengandalkan data OScore mereka untuk pinjaman, agunan yang diperlukan untuk memberikan pinjaman di platform berkurang.
Wing juga dapat pengguna diberi insentif untuk mempertahankan skor kredit yang baik. Pengguna yang membayar kembali pinjaman mereka tepat waktu dapat menikmati penurunan suku bunga pinjaman mereka. Beberapa platform DeFi yang mirip dengan Wing termasuk Uniswap dan AAVE.
Peringkat WING di situs CoinMarketCap pada Selasa (5/7) jam 08.00 WIB adalah #655, dengan kapitalisasi pasar langsung sebesar US$ 13.804.191. Ini memiliki pasokan yang beredar dari 2.647.027 koin WING dan maksimal pasokan 5.000.000 koin WING.
AS Roma Fan Token (ASR)
Apa Itu AS Roma Fan Token (ASR)?
AS Roma Fan Token (ASR) adalah salah satu dari 40 lebih Fan Token dari berbagai klub sepak bola internasional di bawah Socios. Project kripto ini memungkinkan penggemar memiliki kepentingan dalam pengambilan keputusan klub, mendapatkan hadiah VIP dan membuka akses ke promosi eksklusif, games, chatting serta mendapatkan kesempatan untuk diakui sebagai superfan.
ASR adalah token utilitas di Chiliz Chain (dibangun oleh Chiliz —sebuah perusahaan blockchain fintech) yang dibangun di atas Ethereum. Seperti token penggemar lainnya, fan token ASR memberi kesempatan penggemar AS Roma memiliki pengaruh dalam cara tim beroperasi, dengan memberikan suara pada jajak pendapat yang harus dipertimbangkan oleh tim.
Utilitas atau kegunaan dari token ASR ini adalah perubahan yang dapat dilakukan oleh pemegangnya termasuk memilih desain jersey, memberi nama tempat pelatihan, dan memilih acara penggemar berikutnya.
ASR bisa bertindak sebagai pintu gerbang ke setiap kesempatan penggemar AS Roma untuk menunjukkan kesetiaan dan dukungan mereka kepada tim dengan mendapatkan poin hadiah, mendapatkan pengalaman VIP dan membeli merchandise klub. Seperti banyak platform kripto lainnya, semakin besar jumlah token yang dimiliki, maka memiliki tingkat pengaruh yang lebih tinggi di tokenbase.
Apa yang Membuat AS Roma Fan Token (ASR) Unik?
AS Roma Fan Token (ASR) unik karena menghubungkan pemain sepak bola yang merupakan seorang figur publik dengan penggemar biasa. Token membawa dukungan penggemar ke tingkat berikutnya dan memungkinkan mereka kesempatan untuk lebih dekat dan intim dengan tim dan pemain favorit mereka, melalui hadiah seperti undangan VIP, temu sapa dan merchandise yang ditandatangani.
ASR membuka jalan dengan menghubungkan dua arena yang sangat berbeda: Olahraga dan aset kripto, aktivitas yang tampaknya terpisah dari dua dunia ini, namun dapat saling menguntungkan melalui aplikasi berbasis token. Penggemar sekarang dapat berperan dalam kehidupan pemain dan organisasi olahraga dapat terhubung dengan penggemar mereka tidak seperti sebelumnya.
Peringkat ASR di situs CoinMarketCap pada Senin (5/7) jam 08.00 WIB adalah #851, dengan kapitalisasi pasar langsung sebesar US$ 6.377.764. Ini memiliki pasokan yang beredar dari 2.163.854 koin ASR dan maksimal pasokan tidak tersedia.
Wing Finance (WING) dan AS Roma Fan Token (ASR) Listing di Tokocrypto
Tokocrypto terus menghadirkan beberapa aset kripto baru untuk memberikan pelayanan trading yang lebih luas lagi, seperti Wing Finance (WING) dan AS Roma Fan Token (ASR).
Trading WING/BTC, WING/USDT, WING/BUSD, ASR/BUSD, ASR/USDT dan ASR/BTC dapat dilakukan mulai tanggal 01 Juli 2022 pukul 16.00 WIB. Kini, pengguna dapat melakukan deposit/setoran WING dan ASR di Tokocrypto sebagai persiapan trading.
DISCLAIMER: Bukan ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset kripto masih berisiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.
Pergerakan market aset kripto pada hari Senin pertama di bulan Juli 2022, tidak cukup memuaskan. Selama akhir pekan lalu, sejumlah aset kripto berkapitalisasi besar atau big cap belum mampu mempertahankan gerakannya ke zona hijau.
Melansir situs CoinMarketCap pada hari Senin (4/7) pukul 09.00 WIB, ada 7 aset kripto big cap kompak naik sedikit ke zona hijau dalam 24 jam terakhir. Misalnya, nilai Ethereum (ETH) naik 1,21% ke level US$ 1.070. Solana (SOL), Dogecoin (DOGE) dan XRP mengalami kenaikan masing-masing 1,70%, 2,99% dan 3,32%.
Sementara, Bitcoin (BTC) turun 0,67% ke US$ 19.191 per keping dalam sehari terakhir. BTC masih berjuang untuk tetap mempertahankan posisinya di level support ini agar tidak terus turun.
Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan market kripto awal pekan ini memang terllihat kurang bergairah. Bitcoin bahkan sedang kritis untuk berjuang tidak turun lebih lanjut di bawah level support-nya.
“Market kripto sedang tidak bergairah selama akhir pekan lalu. Senin pagi ini sebagian besar kripto naik tipis. Investor masih ragu-ragu untuk melakukan aksi beli, sehingga secara keseluruhan market tetap lemah, dengan beberapa volatilitas cenderung datar,” kata Afid.
Menurut Afid, Bitcoin akan mengalami kelanjutan penurunan harga. Sebelumnya, Bitcoin sempat turun di bawah US$ 19.000 pada satu titik pada hari Kamis (30/6) setelah penolakan Securities and Exchange (SEC) AS terhadap dua ETF Bitcoin spot, teguran untuk Three Arrows Capital, karena dana lindung nilai kripto yang bermasalah dan pukulan baru dari indikator ekonomi yang mengecewakan.
Sejumlah analis percaya Bitcoin akan menembus harga di bawah dukungan sekitar US$ 18.000-US$ 21.000 yang juga terjadi sepanjang Juni. Investor mungkin akan berjuang keras untuk menghindari BTC turun lebih dalam dan menimbulkan kerugian yang lebih tinggi.
Ilustrasi tampilan aset Bitcoin.
“Penerobosan dari kisaran ini dapat membuat perdagangan Bitcoin ke posisi antara US$ 13.000 hingga US$ 15.000 dan dapat mengirim market kripto ke dalam spiral yang mungkin memerlukan periode waktu yang lebih lama untuk pemulihan,” jelas Afid.
BTC turun hampir 38% pada bulan Juni untuk mencatat kerugian bulanan terbesar kedua sejak debutnya pada tahun 2009. Menurut Data CoinGecko, Bitcoin diperdagangkan lebih dari US$ 31.000 pada tanggal 1 Juni dan turun ke level US$ 17.700 pada pertengahan bulan, sebelum pulih dan mengakhiri bulan pada US$ 19.209.
Industri aset kripto terus mengalami pertumbuhan dari sisi jumlah investor kripto dan nilai transaksi dari waktu ke waktu. Kementerian Perdagangan (Kemendag) sebagai lembaga yang mengawasi dan mengatur perdagangan aset kripto mengeluarkan data transaksi terbaru dari industri yang baru tumbuh ini.
Dari data yang dirilis Kemendag, disebutkan jumlah nasabah aset kripto telah mencapai 14,1 juta pada Mei lalu. Sementara itu, investor saham tercatat hanya 8,86 juta.
Selain itu, aset kripto di Indonesia mengalami lonjakan luar biasa. Per 2020, nilai transaksi aset kripto sebesar Rp 64,9 triliun. Satu tahun kemudian, per Desember 2021, angkanya melonjak sangat signifikan menjadi Rp 859,4 triliun. Selama periode Januari hingga Mei 2022, tercatat sudah mencapai Rp 192 triliun.
Ada hal menarik yang disebut dari data tersebut, bahwa ada lima jenis aset kripto teratas yang memiliki nilai transaksi tertinggi, yaitu Tether (Rp42,3 triliun), Bitcoin (Rp 18,5 triliun), Ethereum (Rp14,2 triliun), Dogecoin (Rp 6,8 triliun), dan Terra (Rp 6 triliun).
Ilustrasi Nasib Tether yang didenda 41 juta dolar AS oleh CFTC.
Tether (USDT) sendiri adalah aset kripto stablecoin yang dipatok ke dolar AS. Itu dibuat untuk menstabilkan nilai tukar dalam transaksi aset digital. Sejak kemunculannya, stablecoin telah memainkan peran yang sangat penting di pasar.
Tidak seperti aset kripto tradisional seperti Bitcoin dan Ethereum, yang nilai moneternya dapat berfluktuasi secara luas, stablecoin USDT dirancang untuk mempertahankan harga konstan US$ 1 dan didukung oleh cadangan dana yang besar atau rekayasa keuangan lainnya.
Alasan Stablecoin Jadi Pilihan saat Bear Market
VP Growth Tokocrypto, Cenmi Mulyanto, mengatakan laporan yang dikeluarkan oleh Kemendag sejalan dengan transaksi yang terjadi di Tokocrypto. Ia mengungkap bahwa tiga jenis aset kripto teratas yang ditransaksinya di platfrom Tokocrypto adalah USDT, ETH dan BTC.
“Laporan transaksi aset kripto yang dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan untuk bulan Mei 2022, sejalan dengan situasi di Tokocrypto. Di platform kami tiga jenis aset kripto yang paling banyak di-trading adalah USDT, Ethereum dan Bitcoin. Untuk volume trading masing-masing belum bisa kami ungkap,” kata Cenmi.
Menurut CoinGecko, USD Tether (USDT) dan USD Coin (USDC) adalah dua stablecoin terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar sejauh ini, masing-masing mencapai US$ 66 miliar dan US$ 55 miliar, pada 1 Juli 2022. Cenmi sedikit mengungkap kenapa volume trading Tether mengalami lonjakan ketika kripto sedang bear market.
Ilustrasi stablecoin. Foto: David Sandron/Shutterstock.com.
Menurut Cenmi, secara teori, nilai Tether seharusnya lebih konsisten daripada aset lainnya dan disukai oleh investor yang waspada terhadap volatilitas ekstrim dari koin lain. Selama pasar naik, Bitcoin biasanya akan jauh mengungguli stablecoin. Namun, selama tekanan pasar, stablecoin menawarkan perlindungan dari volatilitas.
“Aset kripto tradisional berada di bear market, karena meningkatnya inflasi dan ancaman kenaikan suku bunga dari The Fed. Akibatnya, sulit untuk menemukan peluang untuk menghasilkan hasil keuntungan. Stablecoin mewakili satu-satunya tempat berlindung yang tersisa yang menawarkan pengembalian yang mengalahkan inflasi,” jelasnya.
Meski begitu, Cenmi mengingatkan stablecoin adalah aset volatilitas yang lebih rendah, tetapi bukan tanpa risiko. Waspadai hal ini dan jangan mengalokasikan investasi yang berlebihan dan selalu melakukan riset serta selalu menggunakan uang dingin, bukan dana darurat.
Ilustrasi Tpkocrypto dan Binance buat aset kripto BIDR.
Di samping itu, Bappebti mencatat lima calon pedagang fisik aset kripto dengan nilai transaksi tertinggi pada Januari-Mei 2022, yaitu Tokocrypto, Indodax, Pintu, Rekeningku dan Zipmex. Cenmi mengatakan Tokocrypto masih memiliki daily trading volume yang terus tumbuh walaupun saat bear market.
“Dalam situasi bear market saat ini, daily trading volume harus diakui terjadi penurunan dari segi daily trading volume dari sebelumnya pada saat normal bisa mencapai US$ 50-70 juta (Rp 747 miliar-1 Triliun), kini jadi US$ 15-20 juta (RP 224 miliar-298 miliar),” pungkas Cenmi.
Kementerian Perdagang (Kemendag) merilis laporan terbaru soal demografi investor aset kripto di Indonesia. Menariknya, usia muda mendominasi jumlah investor dari total 14,1 juta pelanggan per Mei 2022.
Dalam laporan Kemendag, demografi investor kripto didominasi kelompok usia 18–24 tahun (32%); Kelompok 25–30 tahun (30%); Dan kelompok 31–35 tahun (16%).
Adapun berdasarkan kelompok profesi, persentasi karyawan swasta mendominasi sebesar 28%, wiraswasta 23% dan pelajar/mahasiswa 18%.
Menyikapi pertumbuhan investor muda yang mendominasi di instrumen aset kripto, butuh edukasi yang tepat untuk mendapatkan kualitas dan pertumbuhan industri yang sehat. VPMarketing Tokocrypto, Adytia Raflein, generasi muda lebih cenderung menjadi investor kripto dan investasi paling populer di kalangan milenium (usia 26-41 tahun).
Adytia melihat dibandingkan dengan yang lain, investor yang lebih muda berpikir bahwa aset kripto akan memberikan pengembalian investasi terbaik selama dekade berikutnya. Maka, dari itu diperlukan memahami aset kripto secara menyeluruh sebelum berinvestasi.
“Investor Milenial, Gen X dan Gen Z kemungkinan besar memiliki aset kripto. Namun, melihat secara umum mereka yang berusia muda masih sekadar ikuti-ikutan atau termakan FOMO untuk berinvestasi aset kripto. Jadi ada sebagian dari mereka yang kurang nyaman dengan volatilitas kripto. Sementara, sebagian besar lain bersikap optimis dan lebih agresif berinvestasi dalam aset berisiko daripada rekan-rekan mereka,” kata Adytia.
Edukasi yang Inklusif dan Berkelanjutan
Melihat pola perilaku investor muda di aset kripto tersebut, Adytia menekankan perlu edukasi yang inklusif dan berkelanjutan untuk memberikan gambaran luas terkait investasi aset berisiko ini. Padahal, memiliki pengetahuan yang baik bisa membuat perencanaan investasi yang jelas dan terukur.
“Bagi investor muda, pahami profil risiko mereka dahulu. Pastikan hanya berinvestasi sebanyak yang mereka mampu dan tidak berharap dapat keuntungan yang cepat dengan mudah. Untuk membatasi risiko, tidak boleh menginvestasikan semua tabungan dalam kepemilikan kripto, sebagai gantinya, harus mendiversifikasi portofolio investasi,” jelasnya.
Kemudian, tidak disarankan untuk menginvestasikan semua dana hanya dalam satu jenis aset kripto. Investor muda memiliki lebih banyak waktu untuk mencoba aset baru dan mendapatkan pengalaman dalam berinvestasi. Kripto dapat membuat investasi alternatif untuk generasi muda dalam jangka panjang, karena cenderung tetap kuat dan melewati setiap krisis keuangan yang mungkin terjadi di masa depan.
“Investasi aset kripto dinilai masih potensial meski sempat mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Oleh karena itu, edukasi kepada investor secara luas menjadi kunci guna menjaga kesinambungan industri kripto ke depannya,” pungkas Adytia.
Sepanjang pekan terakhir bulan Juni 2022, pergerakan market aset kripto, terutama Bitcoin cukup mengejutkan. Bitcoin sempat gagal mempertahankan posisi level psikologisnya di US$ 20.000 dan membuat khawatir investor akan turun lebih jauh.
Secara keseluruhan sejumlah aset kripto, terutama yang berkapitalisasi besar atau big cap bergerak sideways atau datar. Misalnya saja, dari pantauan CoinMarketCap, Jumat (1/7) jam 12.00 WIB, nilai Bitcoin masih berada di harga US$ 20.289 atau turun 4,17% dalam 7 hari terakhir.
Altcoin lainnya pun bernasib sama. Nilai Ethereum (ETH) ikut turun 5,33% ke US$ 1.091 sepekan terakhir. Solana (SOL) dan XRP bahkan anjlok lebih dari 10%. Binance Coin (BNB) dan Cardano (ADA) turun lebih dari 5%. Hanya Dogecoin (DOGE) yang tumbuh 2,93% seminggu terakhir.
Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan perdagangan market kripto secara keseluruhan masih datar dan tidak bergairah selama sepekan terakhir. Namun, menarik melihat pergerakan Bitcoin yang sempat anjlok ke US$ 18.729, kemudian naik lagi ke level US$ 20.000. Itu setara dengan penurunan sekitar 70 persen dari nilai puncaknya dicapai November lalu. Penurunan triwulanan sekitar 59 persen adalah yang terburuk sejak 2011.
“Sentimen negatif berasal dari kabar perusahaan hedge fund kripto, Three Arrows Capital yang akan dipaksa untuk melikuidasi asetnya, serta komentar baru dari para bankir sentral yang menyarankan lebih banyak kenaikan suku bunga akan datang, membuat industri kripto menjadi gelap. Itu membuat harga BTC anjlok dari level psikologisnya,” kata Afid.
Afid menjelaskan penguatan tipis aset kripto pada hari Jumat ini, disebabkan oleh rebound teknikal yang sudah diprediksi sebelumnya. Di masa-masa saat ini, investor tengah kompak menjaga nilai aset kripto di atas level support-nya. Khusus Bitcoin, akan ada gerakan untuk menahan harganya di atas level psikologis US$ 20.000.
Di sisi lain, adanya data on-chainGlassnode yang menunjukkan investor kripto kelas kakap atau whales telah menarik 8.755 keping BTC atau setara US$ 181,67 juta dari platform exchange ke wallet-nya masing-masing antara 26 Juni hingga 30 Juni 2022. Aktivitas itu juga diduga mendorong harga aset kripto bergerak ke zona hijau.
Kekhawatiran Resesi
Ada beberapa pandangan analis yang melihat bahwa dorongan bearish masih belum usai. Itu juga masuk dalam pertimbangan adanya kekhawatiran resesi yang masih membayangi investor.
Sejatinya, market kripto masih diliputi sentimen risk-off investor menyusul performa indeks saham AS yang masih susah bangkit. Secara teori, resesi akan terjadi dan membawa nilai dari dolar AS lebih rendah. Ini akan mengangkat nilai dari aset yang dianggap sebagai lindung nilai.
“Pergerakan market kripto masih berada dalam fase bear market. Sehingga, penguatan ini diramal tak akan berlangsung lama. Bitcoin bisa saja jatuh kembali ke area di bawah US$ 20.000 atau bahkan bisa semakin dalam, mengingat kondisi pasar yang memang sangat rapuh,” jelas Afid.
Jika harga Bitcoin kembali menembus di bawah US$ 19.000, bisa berisiko jatuh ke level support penting di $17.000. Ini adalah level penting yang harus diwaspadai karena penembusan dan penutupan di bawahnya dapat memulai tren turun berikutnya ke US$ 15.000.
Uni Eropa (UE) akhirnya merampungkan Undang-undang Anti Pencuian Uang pada aset kripto. Regulasi ini telah diumukan ke publik pada Rabu (29/6).
Dengan aturan baru itu maka penyedia layanan, seperti exchange kripto wajib menyimpan informasi identitas pemilik wallet yang melakukan transaksi terlepas dari berapa pun jumlahnya.
Aturan baru ini bertujuan untuk mencegah pencucian uang dan pendanaan teroris atau kejahatan lainnya, dengan mewajibkan penyedia layanan aset kripto untuk mengumpulkan dan menyimpan informasi yang mengidentifikasi orang-orang yang terlibat dalam transaksi mata uang kripto.
Penyedia layanan wajib menyerahkan informasi tersebut kepada pihak berwenang yang sedang melakukan penyelidikan.
Peraturan tersebut tidak mematok ambang batas minimum atau pengecualian untuk jumlah transfer bernilai rendah dan berlaku untuk semua transaksi yang melibatkan penyedia layanan, seperti pertukaran mata uang kripto.
“Kami mengakhiri dunia kripto yang tidak diatur, menutup celah besar dalam aturan anti pencucian uang Eropa,” jelas anggota Parlemen Eropa, Ernest Urtasun.
Dengan aturan baru ini, memungkinkan pihak berwenang mengatahui identitas seseorang dalam aliran transaksi kripto, persis seperti lalu lintas transfer uang.
Namun, pertauran tersebut tidak berlaku untuk transfer antar individu yang menggunakan wallet yang tidak menggunakan penyedia layanan. Misalnya transaksi Ethereum antara dua dompet seperti MetaMask tidak akan dikenakan pemeriksaan anti pencucian uang.
Tetapi jika seseorang berinteraksi dengan wallet yang di-hosting oleh penyedia layanan seperti Coinbase, FTX, atau bursa lainnya, aturan baru akan berlaku, terlepas dari berapapun jumlah transaksinya. Jika transaksi lebih dari 1.000 euro, penyedia layanan harus memverifikasi identitas pemilik dompet pribadi yang digunakan dalam transaksi.
Langkah baru ini untuk memastikan bahwa penyedia layanan tidak memfasilitasi transaksi yang melibatkan organisasi yang berada di bawah sanksi ekonomi UE atau berpotensi mengarah pada pendanaan teroris.
“Sudah terlalu lama, aset kripto berada di bawah radar otoritas penegak hukum kami,” kata Assita Kanko, anggota Parlemen Eropa.
Tom Lee dari Fundstrat Global Advisor telah membagikan pandangan terbarunya, di mana ia memperkirakan penjualan Bitcoin secara besar-besaran akan terjadi lagi.
Tom Lee adalah salah seorang analis Bitcoin yang telah membuat beberapa prediksi tepat terkait pergerakan harga kripto utama tahun lalu.
Salah satunya adalah, harga BTC yang “akan melampaui US$40.000 di tahun ini,” yang ia ungkapkan pada awal tahun 2021 dan terbukti terjadi, bahkan hingga ke ATH terbarunya di kisaran US$68.000.
Penjualan Bitcoin Besar-Besaran akan Terjadi Lagi
Berdasarkan laporan U Today, Tom Lee telah mengatakan kepada CNBC bahwa ia telah melihat peluang terjadinya aksi jual besar lagi pada BTC.
Dalam penelitiannya, Lee meyakini bahwa aksi penjualan besar Bitcoin ini akan menjadi “pencucian” terakhir sebelum menciptakan peluang pembelian yang lebih banyak.
Lee pun mengungkapkan bahwa harga BTC dapat turun sebentar di bawah level terendah bulan ini, di sekitar US$ 17.592, berdasarkan data dari BitStamp.
Memang, jika melirik beberapa minggu terakhir, harga belum dapat membangun pemulihan yang meyakinkan dari level harga tersebut. Sehingga, ada kemungkinan terjadi retest sebelum pasar benar-benar mencoba untuk pulih.
Selain Lee, Kepala Strategi dari FS Investments, Troy Gayesk, juga melihat adanyan peluang penurunan lanjutan dari harga BTC, meski dia tidak menyebutkan seperti Lee, apakah ini akan menjadi peluang beli baru atau tidak.
Kekhawatiran Resesi
Tampaknya, ada beberapa pandangan analis yang melihat bahwa dorongan bearish masih belum usai. Itu juga masuk dalam pertimbangan adanya kekhawatiran resesi yang masih membayangi investor.
Selera risiko tidak terbentuk dengan “lega,” yang kali ini kembali berhadapan dengan sikap hawkish dari Ketua the Fed, Jerome Powell, yang membuat dolar AS kembali perkasa dalam dua hari terakhir.
Meski begitu, membahas resesi telah membawa kembali kepada pernyataan Robert Kiyosaki, yang telah lama menyarankan untuk membeli lebih banyak emas, perak dan Bitcoin.
Dari sudut pandangnya, resesi akan terjadi dan membawa nilai dari dolar AS lebih rendah. Ini akan mengangkat nilai dari aset yang dianggap sebagai lindung nilai. Dan menurut Kiyosaki, ketiganya adalah aset yang tepat untuk menghadapi resesi. [st]
Teknologi blockchain kini sudah jauh lebih berkembang dan maju pertumbuhannya dibanding lima tahun lalu. Saat ini di Indonesia, blockchain sedang menjadi topik perbincangan karena memiliki berbagai manfaat, salah satunya yaitu pemilu berbasis blockchain.
CEO Decentralized Bio Network (DAOGenics, Ltd), Pandu Sastrowardoyo, mengungkap blockchain saat ini sedang naik daun karena perbincangan banyak pihak, terutama setelah pembahasan tentang NFT sebagai salah satu produk dari teknologi baru tersebut.
Lebih lanjut, Pandu menjelaskan secara umum, blockchain adalah buku besar digital yang memungkinkan orang untuk mentransfer data peer-to-peer, dengan mendistribusikan database ke beberapa titik tanpa memerlukan satu server.
“Blockchain dapat didefinisikan sebagai teknologi yang memungkinkan pertukaran data terjadi tanpa menggunakan pihak ketiga dalam proses transaksi,” katanya dalam siaran pers yang diterima TokoNews.
Pandu Sastrowardoyo, CEO Decentralized Bio Network (Debio.network). Foto: Dok. Angin.
Pertukaran data yang transparan, aman dan cepat membuat teknologi blockchain dianggap cocok untuk membantu proses pemilu di Indonesia. Ide pemilu berbasis blockchain belum lama ini muncul ke publik, namun kembali ramai diperbincangkan di Indonesia.
Dr. Andry Alamsyah, S.Si, M.Sc selaku anggota kehormatan Asosiasi Blockchain Indonesia (A-B-I) mengatakan digitalisasi proses pemilu ini secara khusus akan dibuat dalam bentuk e-Voting. Nantinya, jika sistem e-Voting resmi diterapkan pada pemilu nasional, maka akan menghilangkan kebutuhan akan tempat pemungutan suara (TPS) dan peran tim khusus pemilu. Skema e-voting berbasis blockchain juga diklaim memiliki banyak keuntungan.
“Ide pemilu berbasis blockchain ini cukup bagus karena dapat memangkas biaya, di mana tidak perlu mencetak kertas untuk melakukan pemilu, apalagi di masyarakat saat ini sudah sangat familiar dengan smartphone. Sehingga pemilu berbasis blockchain ini bisa membuatnya lebih mudah bagi masyarakat,” kata Andry.
“Sistem e-Voting ini juga bisa langsung diterapkan, apalagi sudah banyak yang mengetahui dan melihat ke arahnya, namun yang perlu diperhatikan adalah kesiapan teknik dan pengembangan berbasis blockchain. sistem pemilihan itu sendiri.”
Senada dengan Andy, Ir. Budi Rahardjo Msc., PhD sebagai praktisi IT dan anggota kehormatan A-B-I juga menyampaikan saat ini kebanyakan orang fokus pada aset kripto, sementara e-Voting adalah implementasi Blockchain yang sempurna di Indonesia.
“Sayangnya, kesenjangan digital masih menjadi masalah di Indonesia, sehingga akan ada implementasi hybrid, berbasis online dan offline. Pemilihan berbasis blockchain ini sangat aman, karena blockchain menggunakan pencatatan multiserver dan terdesentralisasi, sehingga semua pencatatan tidak hanya dilakukan pada satu server saja, tetapi semua server dalam jaringan blockchain. Jadi kalau salah satu server down, tidak akan mempengaruhi server lain atau data di dalamnya,” tutur Budi.
Soal keamanan, menurut Budi, perekaman di blockchain itu dilakukan di semua server, bukan hanya satu server. Jika mau diretas, hacker harus meretas setidaknya 50% plus satu dari total jumlah server. Jadi, jika ada satu juta komputer di blockchain, peretas harus meretas setidaknya 500 ribu plus satu komputer untuk memanipulasi data.
Asih Karnengsih, Ketua Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI).
Ketua Asosiasi Blockchain Indonesia, Asih Karnengsih, mengatakan belum memungkinkan untuk menerapkan sistem e-Voting dengan teknologi blockchain pada tahun 2024 mendatang. Menurutnya, Indonesia perlu menyiapkan pengamanan partisipasi pemilu jarak jauh yang baik, hingga kecepatan perekaman voting.
“Untuk tahap awal, infrastruktur basis ‘pemilu blockchain’ ini tentunya akan memakan biaya. Kita harus kembali melihat kesiapan dari pihak penyelenggara dan juga kita sebagai pemilih, dari segi infrastruktur, diperlukan personel yang kompeten dalam membangun infrastruktur blockchain yang melibatkan banyak pemangku kepentingan, kemudian biaya juga harus diperhitungkan dalam pelaksanaannya. Pembentukan infrastruktur ini, yang pasti tidak murah,” jelas Asih.
Lebih lanjut, Asih menjelaskan bahwa teknologi blockchain tidak hanya berfungsi dalam menciptakan sistem e-Voting, NFT, atau kripto yang saat ini sedang ramai diperbincangkan oleh masyarakat umum, namun blockchain memiliki banyak manfaat lain yang bisa dimaksimalkan di bidang dan berbagai sektor lainnya.
Perusahaan investasi MicroStrategy kembali menyerok Bitcoin di saat harga aset ini tengah terseok-seok di area US$ 20.000. Perusahaan yang dipimpin Michael Saylor ini mengumukan telah membeli 480 BTC senilai US$ 10 juta atau sekitar Rp 148 Miliar.
Dalam sebuah surat pengumuman yang dikeluarkan oleh Komisi Sekuritas dan Exchanges (SEC) Amerika Serikat bertitimangsa 29 Juni 2022, MicroStrategy membeli 480 Bitcoin pada periode Mei-Juni 2022, pada titik harga rata-rata US$ 20.817.
“MicroStrategy memperoleh sekitar 480 Bitcoin untuk sekitar US$ 10,0 juta tunai, dengan harga rata-rata sekitar US$ 20.817 per Bitcoin, termasuk biaya dan pengeluaran,” tulis surat tersebut.
Pertanggal 28 Juni 2022, perusahaan ini memilki total aset BTC sebanyak 129.699 keping dengan nilai pembelian US$ 3,98 miliar. Total pembelian aset tersebut dibeli dengan harga pembelian rata-rata US$ 30.664 perkeping. Artinya, pertanggal 29 Juni 2022, Microstrategy tengah mengalami kerugian sekitar 34%.
CEO MicroStrategy, Michael Saylor, dikenal sebagai Bitcoin Maximalist. Ia selalu optimis terkait dengan masa depan Bitcoin. Bahkan, ia percaya bahwa Bitcoin bisa menjadi penyelamat di tengah badai ekonomi yang ia percayai bakal segera tiba.
MicroStrategy has purchased an additional 480 bitcoins for ~$10.0 million at an average price of ~$20,817 per #bitcoin. As of 6/28/22 @MicroStrategy holds ~129,699 bitcoins acquired for ~$3.98 billion at an average price of ~$30,664 per bitcoin. $MSTRhttps://t.co/leQYTXn817
Saat diwawancarai oleh CNN pada 22 Juni 2022, ia mengatakan: “Bitcoin adalah sekoci, dilempar ke lautan badai, menawarkan harapan kepada siapa pun di dunia yang perlu turun dari kapal mereka yang tenggelam. Kita menyaksikan kelahiran industri baru selama krisis keuangan terburuk dalam hidup kita.”
Saat pembelian BTC oleh Microstrategy, pergerakan Bitcoin sedang dalam fase kritis. Aset kripto ini kembali tersungkur di bawah harga US$ 20.000. Meski dengan cepat memantul kembali ke harga US$ 20.000, pergerakan BTC terpantau sangat melemah.
BTC Melemah
Analis Portalkripto, Arly Fauzi, mengatakan pergerakan volume BTC terus mengalami penurunan. Menurutnya, dalam kondisi ini Bitcoin berpeluang untuk terkoreksi lebih dalam lagi.
“Untuk saat ini terlihat pergerakan harga Bitcoin sudah mulai melemah, terlihat dari volume yang terus turun, dan Moving Average (MA) 25 yang menunjukan akan cross dengan MA50 nya,” ujarnya. “Skenario terburuknya apabila pergerakan harga Bitcoin memilih untuk breakdown support-nya, maka target penurunan akan berada pada Support Area sebelumnya pada area harga US$ 17.592-US$ 18.036.”
Pelemahan BTC saat ini terkonfirmasi dari aksi jual dan meningkatnya arus keluar investor institusional. Sebelumnya, perusahaan investasi asal Kanada Cypherpunk Holdings (HODL), menjual seluruh kepemilikan aset kripto yang mereka miliki. Langkah ini diambil perusahaan untuk meminimalisir risiko terburuk selama musim dingin kripto ini.
Cypherpunk diketahui menyimpan sejumlah aset kripto diantaranya Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH). Dalam rilis resminya, mereka telah menjual 205.8209 ETH, senilai US$ 227.000 dan 214.7203 BTC dengan harga sekitar US$ 4,7 juta. Total penjualan dari dua aset kripto teratas tersebut menghasilkan US$ 5 juta.