Category Archives: Tokocrypto

Apa Itu Binance Smart Chain (BSC) Dan Token BEP20?

Binance Smart Chain (BSC) adalah blockchain yang bergerak secara paralel dengan Binance Chain. Perlu diketahui bahwa Binance Smart Chain (BSC) berbeda dengan Binance Chain. Pertama kali diluncurkan pada April 2019, Binance Chain difokuskan untuk memfasilitasi perdagangan yang cepat dan terdesentralisasi. 

Demi mencapai hal tersebut, Binance Chain harus membuat trade-off tertentu, salah satunya adalah bahwa Binance Chain tidak sefleksibel dari sudut pandang programmability seperti blockchain lainnya. 

Kehadiran Binance Smart Chain di sini adalah untuk mengubahnya. Blockchain baru dengan lingkungan lengkap untuk mengembangkan aplikasi terdesentralisasi berkinerja tinggi. Ini dibangun untuk mencapai kompatibilitas cross-chain dengan Binance Chain untuk memastikan para user mendapatkan yang terbaik dari keduanya. 

BSC menawarkan fungsionalitas kontrak pintar dan kompatibilitas dengan Ethereum Virtual Machine (EVM). Tujuannya adalah untuk membiarkan throughput tinggi dari Binance Chain tetap utuh sambil mengenalkan smart contract dalam ekosistemnya. 

Sedangkan Token BEP20 merupakan standar token yang dibuat oleh Binance Smart Chain yang berfungsi untuk memperluas jaringan ERC-20 milik Ethereum, dapat dikatakan bahwa BEP20 merupakan fondasi yang sudah diatur untuk token yang akan menentukan bagaimana mereka dapat digunakan, siapa yang dapat membelanjakannya, serta aturan lain untuk penggunaannya.

Token BEP20 diciptakan sebagai spesifikasi teknis untuk Binance Smart Chain, yang bertujuan untuk menyediakan format yang fleksibel bagi para pengembang yang ingin meluncurkan berbagai jenis token yang berbeda.

Seperti Token BEP2 di Binance Chain, transfer token BEP20 didukung oleh BNB. BNB memberikan insentif bagi para validator untuk mengkonfirmasi setiap transaksi yang masuk ke dalam blockchain. 

BSC dan Binance Chain beroperasi secara berdampingan. Perlu diingat bahwa BSC adalah blockchain independen yang dapat berjalan jika Binance Chain offline. Meski begitu, kedua blockchain ini memiliki kemiripan yang kuat dari sudut pandang desain. 

Karena BSC kompatibel dengan EVM, BSC diluncurkan dengan dukungan untuk memperkaya Ethereum dan DApps. Secara teori, ini memudahkan developer untuk memindahkan proyek mereka dari Ethereum. Bagi pengguna, ini berarti aplikasi MetaMask dapat dengan mudah dikonfigurasi untuk bekerja dengan BSC. 

Cara Membuat Token BEP20 dengan Token Create

  1. Pergi ke Halaman Token Create
  2. Isi detail yang diperlukan untuk pembuatan token Anda. Terdapat beberapa kolom yang harus Anda isi dalam pembuatan token BEP20 yang meliputi: Nama Token, Simbol Token, dan Desimal Token. 
  3. Pilih “Buat Token” dan setujui transaksi. 

Cara Kerja Binance Smart Chain dan Token BEP20

Konsensus

BSC menggunakan Proof of Staked Authority (PoSA) dimana peserta menggunakan staking BNB untuk menjadi validator. Jika mereka mengusulkan blok yang valid, mereka akan menerima biaya transaksi dari transaksi yang termasuk di dalamnya. 

Tidak seperti protokol lainnya, tidak ada subsidi blok untuk BNB yang baru dicetak karena BNB tidak bersifat inflasi. Sebaliknya, pasokan BNB akan menurun seiring waktu, karena tim Binance secara teratur melakukan pembakaran poin. 

Cross-Chain Compatibility

BSC dibayangkan sebagai sistem yang independen namun saling melengkapi untuk Binance Chain yang ada. Arsitektur dual-chain digunakan dengan gagasan bahwa user dapat mentransfer aset dengan mulus dari satu blockchain ke blockchain lainnya. Dengan cara ini, perdagangan cepat dapat dinikmati di Binance Chain, sementara aplikasi terdesentralisasi yang kuat dapat dibangun di BSC. Dengan interoperabilitas ini, pengguna dihadapkan pada ekosistem yang luas yang dapat memenuhi berbagai kasus penggunaan. 

Token BEP2 dan BEP8 dari Binance Chain dapat ditukar dengan token BEP20, standar baru yang diperkenalkan dan dipakai untuk BSC. 

Decentralized Finance pada Binance Smart Chain

Sejumlah aset digital seperti BTC, ETH, LTC, EOS, XRP sudah ada di Binance Chain sebagai “Peggy Coin”. Ini adalah token yang dipatok ke aset di rantai aslinya. Misalnya, anda memutuskan untuk mengunci 10 BTC untuk menerima 10 BTCB di Binance Chain. Kapanpun anda dapat memperdagangkan 10 BTCB anda untuk 10 BTC, yang artinya harga BTCB harus mengikuti harga BTC asli. Dengan melakukan ini, anda secara efektif memindahkan aset ke Binance Chain. 

Fleksibilitas yang diberikan Binance Smart Chain mengakibatkan aset yang dari sejumlah rantai berbeda dapat digunakan di ruang DeFi yang berkembang. 

Baca Juga: Binance Mendukung Tokocrypto, Proyek DeFi Indonesia Pertama di Binance Smart Chain

Binance Smart Chain dan Token BEP20 sangat memperluas fungsionalitas Binance Chain asli dan menggabungkan berbagai protokol mutakhir yang dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara berbagai blockchain. Walaupun masih dalam tahap awal, namun janji BNB staking disamping kompatibilitasnya dengan EVM menjadikan platform ini mesin yang ideal bagi developer yang membangun aplikasi terdesentralisasi yang kuat. 

Toko Token (TKO)

TKO merupakan proyek kripto lokal Indonesia pertama yang dibangun di atas Binance Smart Chain, dan juga sebagai token BEP20. TKO menyediakan model token hybrid, yaitu gabungan antara CeFi dan DeFi. 

Sebagai Token Hybrid, TKO mempunyai 3 utilitas utama yang dapat dinikmati oleh pemegang TKO, mulai dari Token platform penukaran yang mencakup diskon biaya trading, hak airdrop, penukaran merchandise, dan lainnya. 

Lalu sebagai token CeFi yang berfokus memberikan fasilitas berupa tabungan yang nantinya akan memberikan bunga setiap tahunnya kepada pemegang TKO, deposit, dan cashback. 

Dan Toko Token sebagai Token DeFi sebagai sistem keuangan terbuka yang memungkinkan terjadinya transaksi yang cepat, mudah, dan murah karena tidak adanya perantara. Nantinya, sebagai token DeFi ini, pengguna dapat melakukan aktivitas staking coin dan lending DeFi yang menawarkan bunga yang lebih tinggi dibandingkan dengan keuangan tradisional.

Itulah penjelasan lengkap tentang Binance Smart Chain (BSC) dan Token BEP20. Peranan BSC di sini menjadi pilihan bagi pada trader yang ingin menggunakan blockchain yang memiliki biaya perdagangan yang murah dan cepat.

 



Sumber : news.tokocrypto.com

Apa itu DeFi (Decentralized Finance)? Pelajari Selengkapnya Disini!

Apa itu DeFi? Decentralized Finance atau biasa dikenal dengan sebutan DeFi telah menjadi topik yang hangat dibicarakan di dunia blockchain di seluruh dunia, tidak terkecuali DeFi coin Indonesia. Pada dasarnya, DeFi adalah sebuah sistem yang bertujuan untuk menghadirkan layanan keuangan terbuka dan transparan.

Menariknya, DeFi menawarkan sebuah keunggulan dimana individu dan lembaga dapat memanfaatkan akses yang lebih luas ke aplikasi keuangan tanpa memerlukan perantara pihak ketiga.

Secara umum, DeFi adalah bentuk upaya untuk mendesentralisasi kasus penggunaan keuangan tradisional inti seperti perdagangan, pinjaman, investasi, manajemen kekayaan, pembayaran dan asuransi di blockchain.

Sejatinya, DeFi memberikan kemudahan bagi setiap orang yang sebelumnya belum memiliki akses ke perbankan atau layanan keuangan. Dengan teknologi ini, biaya pun dapat diminimalisir dan setiap orang berpenghasilan rendah juga mendapatkan manfaat dari layanan keuangan yang lebih luas. 

Tulang punggung dari semua protokol dan aplikasi DeFi adalah “smart contract”, yaitu aplikasi kecil yang disimpan di buku besar yang dijalankan oleh banyak komputer dalam sebuah jaringan yang didistribusikan.

Keuntungan dari smart contract adalah tingkat keamanannya yang tinggi, dimana teknologi ini menjamin eksekusi deterministik (deterministic execution) dan memungkinkan segala perubahan status yang dihasilkan dapat diverifikasi oleh siapapun. Smart contract dikenal sangat transparan dan minimnya resiko akan manipulasi dan intervensi. 

Baca Juga: Bitcoin Adalah Alternatif Tambah Pendapatan di Masa Pandemi

Terdapat 5 lapisan utama DeFi, yaitu:

1. The settlement layer

terdiri dari blockchain dan protokol aslinya. Lapisan ini memungkinkan jaringan untuk menyimpan informasi kepemilikan dengan aman dan memastikan setiap perubahan yang terjadi mematuhi aturan yang ditetapkan jaringan. 

2. The asset layer

terdiri dari semua token yang dikeluarkan diatas settlement layer. Lapisan ini mencakup aset protokol asli serta token tambahan apapun yang didasarkan pada standar token yang didukung blockchain. 

3. The protocol layer

memberikan standar khusus untuk penggunaan seperti pertukaran desentralisasi, pasar utang, derivatif dan manajemen aset on-chain. Standar-standar ini biasanya diimplementasikan sebagai sebuah smart contract dan dapat digunakan oleh setiap pengguna.

4. The application layer

membuat aplikasi user-oriented yang terhubung ke protokol individu. 

5. The aggregation layer

membuat platform yang berfokus kepada user yang terhubung ke beberapa aplikasi atau protokol. Biasanya disediakan alat untuk membandingkan dan menilai layanan, memungkinkan pengguna dengan mudah menghubungkan beberapa protokol secara bersamaan dan menggabungkan informasi yang relevan dengan jelas dan ringkas. 

DeFi memanfaatkan seperangkat alat yang progresif untuk memberikan kontrol kepada pengguna. Fakta bahwa tren DeFi ini menawarkan fungsi ekstra selain mengurangi resiko operasional menjadikan DeFi sebagai pengganti ideal untuk sistem keuangan saat ini. 

Lalu, apakah perbedaan antara Decentralized Finance dan Keuangan Tradisional?

Perbedaan Antara DeFi dan Keuangan Tradisional

  • Dalam Decentralized Finance, blockchain berperan utama mengatur segala pengerjaan di sektor keuangan. Sebaliknya, pemerintah publik yang memerlukan hukum dan lembaga keuangan yang teregulasi bertindak sebagai sumber kepercayaan yang mengatur semua kegiatan dalam keuangan tradisional.
  • Decentralized Finance sangat menarik perhatian sejumlah kalangan karena sistemnya yang lebih terbuka dan transparan daripada keuangan tradisional. Siapapun dapat mengambil bagian dalam membuat layanan dan alat finansial di atas teknologi blockchain.
    Sebaliknya dalam keuangan tradisional, seseorang harus memiliki lisensi dan otorisasi dari pihak yang berwenang atau regulator, sehingga hal ini membatasi inovasi-inovasi dalam sistem keuangan tradisional. 
  • Dalam Decentralized Finance, user dapat melakukan transaksi tanpa perantara, sehingga prosesnya akan lebih cepat dan mudah. Hal ini menyebabkan DeFi juga membutuhkan biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan keuangan tradisional

Dari poin-poin diatas, dapat dikatakan bahwa kehadiran DeFi dapat menjembatani kesenjangan yang ada dan memungkinkan industri finansial dapat dinikmati oleh segala kalangan, setiap orang tanpa adanya batasan. DeFi membuka peluang besar bagi para pengguna untuk mengakses beberapa instrumen finansial tanpa adanya batasan-batasan umur, ras, agama, kewarganegaraan hingga masalah geografis. 

Setelah mengetahui definisi DeFi dan perbedaannya, nah apa itu kegunaan dan manfaat DeFi itu sendiri? 

Kegunaan dan Manfaat DeFi

Terbuka Bagi Siapa Saja

Manfaat yang utama adalah, teknologi DeFi memungkinkan orang-orang yang sebelumnya tidak memiliki akses pada layanan finansial dapat berpartisipasi dalam ekonomi global. 

Berdasarkan data dari World Bank, 1,7 miliar orang di dunia (atau 1 dari 5 orang di dunia) tidak memiliki rekening bank. Artinya, mereka tidak memiliki akses ke rekening bank. Dengan tidak memiliki akses ke layanan finansial, orang-orang tersebut tentu tidak memiliki nilai kredit.

Padahal nilai kredit ini sangat penting dan terkadang dibutuhkan untuk membuka rekening bank atau melakukan pinjaman dana. DeFi memungkinkan orang-orang mengakses berbagai macam layanan keuangan dengan mudah. 

Akses ke Bentuk Modal Lain

Di Decentralized Finance (DeFi), tiap orang tidak perlu menerima modal yang dipusatkan oleh pemerintah. DeFi memberikan alternatif pada tiap orang untuk menyimpan asetnya dalam bentuk lain yang stabil. Misalkan, kita tidak harus menyimpan dana dalam bentuk Rupiah, namun bisa dalam bentuk USDT (USD Tether) yang nilainya setara dengan dolar Amerika. 

Mudah Diakses

Bukan hanya pengguna DeFi yang dapat merasakan manfaat teknologi ini, namun banyak dari pencipta produk keuangan juga mulai membangun generasi selanjutnya di atas DeFi.

Salah satu manfaat utama dari DeFi adalah bahwa sebagian besar protokol, seperti misalanya Ethereum adalah sebuah open source yang artinya dapat diakses dan digunakan oleh siapapun, untuk proyek pribadinya.

Siapapun yang memiliki akses internet bisa membuat DeFi DApps. Sehingga bukan hanya sebagai produk layanan finansial terbuka bagi penggunanya, tetapi juga bagi pemiliknya. 

Transparansi Tingkat Tinggi

Di DeFi, segala informasi mudah tersedia dan dapat diakses secara terbuka. Sistem ini percaya bahwa minimnya transparansi dapat mengurangi akuntabilitas dan motivasi seseorang untuk melakukan sesuatu secara bertanggung jawab. 

Meminimalisir Biaya

DeFi dapat mengurangi biaya transaksi karena tidak dibutuhkan perantara dalam setiap layanannya. 

Saat ini, DeFi Juga Dapat Digunakan Untuk:

Pemberian Pinjaman

Ini adalah salah satu jenis aplikasi terpopuler dari ekosistem DeFi. Jika dibandingkan dengan sistem kredit tradisional, transaksi pinjam-meminjam dalam DeFi dapat dilakukan secara instan serta ada kemampuan untuk menjamin aset digital tanpa pemeriksaan kredit dan adanya potensi standarisasi di masa depan. 

Layanan Moneter Perbankan 

Layanan ini dapat mencakup penerbitan stablecoins, hipotek dan asuransi. Harga aset kripto dinilai dapat bergejolak dengan sangat cepat. Hal ini karena teknologi smart contracts yang dapat meminimalisir waktu dan biaya secara signifikan.

Dengan berbagai manfaat dan kegunaan yang memberikan kemudahan untuk pengguna, kepopuleran DeFi juga semakin meningkat di masyarakat Indonesia. Hal ini pula yang mendorong Tokocrypto, sebagai salah satu exchange dengan pertumbuhan terbesar di Indonesia meluncurkan proyek DeFi lokal pertama di Indonesia yaitu Toko Token (TKO)

Toko Token (TKO) Inisiatif DeFi Pertama di Indonesia

Resmi diluncurkan pada Rabu (31/03/2021), Toko Token (TKO) yang merupakan proyek aset kripto lokal pertama di Indonesia yang memiliki tujuan untuk memberi kemudahan kepada masyarakat yang belum memiliki akses ke fasilitas layanan perbankan. Selain itu, TKO juga menawarkan model token hybrid yang menggabungkan keunggulan dari CeFi dan DeFi dan dibangun di atas Binance Smart Chain.

Selain, pada saat peluncurannya. Kehadiran TKO mendapat respon yang sangat positif dari masyarakat, dibuktikan dengan melambungnya harga dari TKO pada saat pertama kali listing di Tokocrypto sebesar 3000%. 

Gimana? Sudah paham kan tentang DeFi? dengan banyaknya sisi positif yang dibawa oleh DeFi, tidak heran pula kalau sistem blockchain yang satu ini cepat populer ya. Dan untuk Anda yang ingin mendukung dan berpartisipasi dalam proyek lokal DeFi coin Indonesia yang pertama bisa banget lho Anda dapatkan di sini! Salam to the Moon!



Sumber : news.tokocrypto.com

Apa itu ICO (Initial Coin Offering)? Dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Initial Coin Offering (ICO) atau penawaran koin perdana adalah sebuah metode penggalangan dana yang digunakan terutama oleh startup yang ingin menawarkan produk dan layanan dalam cryptocurrency, hal ini setara dengan Initial Public Offering (IPO). 

Dalam ICO, investor yang tertarik dapat membeli koin atau token baru yang diterbitkan oleh perusahaan dengan harapan dapat mendapat return yang tinggi setelah proses ICO berhasil. 

Token yang dibeli mungkin memiliki beberapa utilitas dalam menggunakan produk atau layanan yang ditawarkan oleh perusahaan, atau mungkin hanya mewakili saham di perusahaan atau proyek yang sedang berjalan. 

Untuk berpartisipasi dalam ICO, Anda biasanya perlu membeli mata uang digital terlebih dahulu dan memiliki pemahaman dasar tentang cara menggunakan dompet dan pertukaran mata uang kripto. 

Sebagian besar ICO sama sekali tidak diatur oleh hukum atau suatu lembaga resmi, jadi investor harus sangat berhati-hati dalam berinvestasi di ICO. 

Bagaimana Cara Kerja ICO? 

Ketika sebuah perusahaan kripto ingin mengumpulkan uang melalui ICO, biasanya mereka membuat white paper yang menjelaskan lengkap tentang apa proyek itu, kebutuhan yang dipenuhi proyek setelah selesai, berapa banyak uang yang dibutuhkan, berapa banyak token virtual yang akan disimpan oleh Founder, jenis uang kripto apa yang akan diterima, dan berapa lama kampanye ICO akan berjalan. 

Selama kampanye ICO, pendukung proyek membeli beberapa token tersebut dengan fiat atau mata uang digital. Hal ini serupa dengan saham perusahaan yang dijual selama IPO kepada investor.

Jika uang yang terkumpul tidak memenuhi dana minimum yang ditargetkan oleh perusahaan, maka uang tersebut dapat dikembalikan ke investor. Pada tahap ini, ICO akan dianggap gagal. Tetapi, jika dana terkumpul dalam jangka waktu yang telah ditentukan, maka uang yang terkumpul akan digunakan untuk mengejar tujuan proyek. 

Keuntungan dan Kerugian Initial Coin Offering (ICO)

Dalam ICO, perusahaan yang mengumpulkan dana melalui ICO menyediakan blockchain yang setara dengan saham — yaitu token kripto. Jadi, investor membayar dengan token yang sudah ada — seperti bitcoin atau ethereum dan menerima sejumlah token baru yang sepadan sebagai gantinya. 

Investor yang terjun ke dalam ICO biasanya termotivasi untuk membeli token dengan harapan token tersebut akan sukses setelah diluncurkan. Jika ini benar-benar terjadi, nilai token yang mereka beli selama ICO akan melambung naik di atas harga yang ditetapkan selama proses ICO itu sendiri, dan mereka akan mencapai keuntungan secara keseluruhan. Inilah manfaat utama dari ICO: potensi return yang sangat tinggi. 

Tetapi perlu dicatat, karena sebagian besar ICO belum ada regulasi yang jelas, terdapat pula ICO fraud yang memangsa para investor yang terlalu bersemangat dan minim informasi. Karena mereka tidak diatur oleh otoritas, dana yang hilang karena penipuan mungkin tidak akan pernah bisa dikembalikan. 

Maka dari itu, penting untuk memastikan bahwa pengembang dari proyek yang ingin di-invest dapat dengan jelas menentukan apa tujuan mereka. ICO yang sukses biasanya memiliki white paper yang jelas dan mudah dipahami dengan tujuan yang jelas dan ringkas. 

Kenali pengembangnya, pastikan proyek yang ditawarkan memiliki fundamental yang bagus serta arah pengembangan yang jelas, seperti Toko Token yang baru diluncurkan pada 31 Maret 2021 lalu oleh Tokocrypto. 

Toko Token (TKO), proyek ICO lokal pertama di Indonesia dengan model token hybrid DeFi dan CeFi

Diperkenalkan pertama kali pada Oktober 2020 silam, TKO mengusung konsep CeDeFi (Centralized and Decentralized Finance) yang mengacu pada sistem finansial/keuangan terdesentralisasi yang terbuka. Serta menyediakan berbagai layanan keuangan, seperti; tabungan, asuransi, pinjaman, dll). Sifat DeFi yang transparan, terbuka, fleksibel, dan  tersedia bagi siapa saja tanpa perlu adanya perantara dan pengawasan terpusat. Menurut Tokocrypto, inisiatif CeDeFi ini untuk mendorong adopsi yang lebih besar pada aset kripto di Indonesia. 

“Tidak hanya layanan keuangan, TKO juga akan mencakup bidang lainnya, seperti manajemen rantai pasokan, privasi, perlindungan data, dan karta seni melalui bentuk NFT. Dengan dibangun di atas Binance Smart Chain, ini akan membantu kita mewujudkan potensi yang tidak terbatas yang bisa kita capai melalui teknologi blockchain” kata Pang Xue Kai, CEO dan Co-Founder Tokocrypto dalam siaran pers, Selasa (30/3).



Sumber : news.tokocrypto.com

Ketahui Apa Itu Indikator Stochastic Sebelum Memulai Trading

Bagi para pegiat dunia aset kripto, khususnya trader, pasti sudah tidak asing dengan istilah indikator. Dalam dunia trading, indikator menjadi hal yang penting dalam mencapai tujuan dari trading itu sendiri. Indikator pada trading sangatlah beragam jenis dan tujuannya. Kali ini, saatnya Anda memahami lebih jauh soal indikator Stochastic, indikator yang cukup populer di kalangan trader karena mudah digunakan dan membawa cuan.

Yuk, simak penjelasan selengkapnya!

Mengenal Stochastic, Indikator yang Digunakan dalam Trading

Stochastic merupakan sebuah indikator yang dapat menunjukkan sinyal lewat dua garis yang berpotongan, baik sinyal jual maupun beli. Stochastic ini marak digunakan oleh para trader khususnya di aset kripto, karena dapat membantu aktivitas trading.

Stochastic pertama kali diciptakan pada tahun 1950-an oleh seorang dokter sekaligus trader, bernama George Lane. Ia kemudian terus melakukan pengembangan Stochastic agar grafik pergerakan harga dapat lebih mudah dipahami, dengan menganalisis trend. Berbeda dengan indikator lain, Stochastic hanya menunjukkan angka mulai dari 0 hingga 100, tidak lebih atau kurang.

Para trader dapat memilih dengan bebas indikator mana yang akan digunakan dari beragam jenisnya. Stochastic sendiri tergolong ke dalam jenis indikator momentum karena trader mengambil keputusan berdasarkan kuat lemahnya momentum. Stochastic berperan memperlihatkan harga trading pada penutupan terakhir dengan cara menghitung selisih harga tertinggi dan terendah dalam periode tertentu.

Umumnya, Stochastic digunakan oleh para trader kripto yang memiliki tujuan jangka panjang. Selain Stochastic, para trader juga biasanya menggunakan indikator dan metode teknikal lain dalam waktu yang bersamaan agar dapat membandingkan sinyal yang terdeteksi.

Cara Membaca Indikator Stochastic Saat Trading

Dalam membaca indikator Stochastic, terdapat berbagai cara yang bisa Anda sesuaikan berdasarkan fungsinya. Ternyata, Stochastic sendiri bisa digunakan dalam tiga fungsi dengan cara membaca yang tentunya juga berbeda, yaitu:

Overbought berarti terlalu banyak dibeli, menghasilkan harga koin yang sudah terlalu tinggi sehingga berpotensi terjadinya koreksi atau penurunan harga. Sebaliknya, Overheard berarti terlalu banyak dijual, menghasilkan harga koin yang hampir mencapai titik terendah, sehingga berpotensi terjadinya kenaikan harga.

Dalam menandakan fungsi ini, Indikator Stochastic memiliki titik atas sebesar 80 dan titik bawah sebesar 20 pada grafik. Dengan demikian, indikator akan menandakan kondisi Overbought jika grafik mencapai angka 80 atau lebih dan kondisi Oversold jika grafik berada di angka 20 atau lebih.

Indikator ini sangat mudah digunakan dalam menunjukkan kondisi Overbought & Oversold. Namun, Anda tidak bisa langsung memutuskan untuk memulai trading begitu saja karena tidak jarang grafik hanya hampir menyentuh, sehingga tidak berhasil mencapai Overbought maupun Oversold. Untuk itu, penting bagi Anda untuk memahami cara membaca indikator berdasarkan fungsi lainnya agar tidak terjadi masalah.

Indikator Stochastic memiliki dua garis dinamis, yaitu garis %K (signal line) dan %D (trigger line). Jika membahas cara membaca Indikator Stochastic untuk melihat sinyal entry, maka Anda harus mengamati persilangan antara kedua garis tersebut. Sinyal entry sendiri juga terbagi menjadi dua, yaitu sinyal beli dan sinyal jual.

Terdeteksinya sinyal beli ditandai dengan garis %K yang memotong garis %D dari arah bawah ke atas (Golden Cross). Sementara, sinyal beli akan terlihat saat garis %K yang memotong garis %D dari atas ke bawah (Death Cross). Hal ini disebabkan oleh sifat masing-masing garis, yaitu garis %K yang bersifat fast stochastic dan garis %D yang bersifat slow stochastic.

Ada sedikit tips bagi Anda yang akan menggunakan indikator ini dalam melihat sinyal entry. Jika persilangan antara kedua garis tersebut terjadi di wilayah Overbought maupun Oversold, maka dapat dipastikan sinyal entry tersebut lebih terkonfirmasi.

Indikator Stochastic juga dapat digunakan dalam menganalisis Divergence. Divergence sendiri merupakan istilah dalam trading yang memfokuskan pada perbedaan antara pergerakan harga dan indikator, sehingga akan terlihat momentum pergerakannya. Cara membacanya adalah dengan melihat titik puncak (high) dan titik dasar (low) yang terdiri dari garis-garis sinyal. 

Momentum pergerakan dapat dikatakan melemah apabila posisi high dan low semakin menurun. Sebaliknya, posisi high dan low yang semakin meningkat menandakan momentum pergerakan sedang menguat. Divergence dapat digunakan untuk memprediksi apakah trend harga akan bertahan lama atau justru akan berhenti dan berbalik arah (reverse).

Keunggulan Indikator Stochastic dan Tips Menggunakannya

Dari sekian banyak indikator yang bisa digunakan dalam trading, indikator Stochastic memiliki beberapa keunggulan yang menguntungkan, lho. Berikut ini keunggulan dari indikator Stochastic yang bisa dimanfaatkan dengan baik oleh para trader.

  • Sensitivitas yang Lebih Tinggi

Stochastic merupakan indikator yang cenderung lebih sensitif, di mana dapat lebih cepat menangkap sinyal. Walaupun begitu, tidak menutup kemungkinan juga Stochastic akan menangkap fake signal atau sinyal palsu. Sehingga, trader perlu pintar-pintar dalam menganalisis garis sinyal, misalnya dengan menggabungkan teknik lain.

  • Mampu Memberikan Sinyal Saat Lemah

Dikarenakan sifatnya yang sensitif, Stochastic juga dapat memberikan sinyal saat terjadi pelemahan momentum. Saat sinyal lemah ditangkap, trader dapat dengan mudah mengambil keputusan untuk masuk atau keluar dari bursa trading.

  • Adaptif di Kondisi Pasar yang Berbeda

Selain itu, Stochastic juga memiliki sifat yang mudah beradaptasi dan fleksibel untuk digunakan dalam berbagai kondisi pasar. Misalnya, diaplikasikan pada pasar yang memiliki volatilitas tinggi atau fast-moving.

Berkat kelebihannya, Stochastic tergolong marak digunakan oleh para trader kripto. Jika Anda akan menggunakan indikator ini, ada beberapa tips yang bisa Anda ikuti agar trading Anda berbuah untung. Pertama, Anda perlu mengkombinasikan Stochastic dengan indikator lain, seperti Fibonacci atau Moving Average agar tetap bisa mengurangi risiko trading.

Kedua, Anda harus melakukan analisis pada lebih dari satu time frame atau periode waktu. Hal ini dilakukan untuk mengurangi false signal yang membuat Anda salah mengambil keputusan, bahkan mengalami kerugian. Ketiga, manfaatkan trendline atau garis tren. Saat Anda sudah menemukan tren harga dan trendline yang valid, Anda bisa lebih mudah membaca sinyal dari Stochastic dan meningkatkan kemungkinan Anda dapat untung.

Sekarang, bekal ilmu trading Anda sudah semakin lengkap setelah mengetahui apa itu indikator Stochastic beserta cara membacanya. Jika Stochastic dimanfaatkan dengan benar dan diselingi dengan analisis teknikal yang baik, Anda pasti bisa menjemput cuan di akhir masa trading

Tertarik dengan informasi dan tips lainnya seputar trading aset kripto? Yuk, cari tahu lebih lengkap di website Tokonews milik Tokocrypto sekarang!



Sumber : news.tokocrypto.com

Yuk, Pahami Apa Itu Annual Percentage Yield Crypto

Dalam berinvestasi aset kripto, tentu Anda harus memiliki pemahaman yang cukup mengenai seluk-beluk aset yang akan Anda investasikan. Kok, begitu? Tentunya agar Anda bisa menjemput cuan di akhir investasi. Nah, salah satu yang perlu Anda pahami adalah Annual Percentage Yield crypto. Yuk, simak penjelasan lebih lanjut serta perbedaannya dengan Annual Percentage Rate berikut ini!

Pentingnya Riset Sebelum Berinvestasi Aset Kripto

Seperti yang sama-sama diketahui, investasi aset kripto khususnya di Indonesia berkembang sangat pesat. Tidak sedikit di antara investor yang berhasil mendapat cuan dari investasi tersebut. Namun, tidak sedikit pula yang malah justru merugi. Banyak faktor yang menyebabkan kerugian tersebut, salah satu yang utama adalah kurangnya riset terhadap aset kripto yang diinvestasikan.

Selain mengenai serba-serbi aset kripto yang akan diinvestasikan termasuk pergerakan harga, mencari informasi mengenai strategi dan metode yang bisa diaplikasikan juga harus dilakukan. Dalam berinvestasi, pasti Anda mengharapkan keuntungan, bukan? Maka dari itu, Anda harus tahu strategi dan metode apa yang dapat Anda pakai, salah satunya yaitu Annual Percentage Yield (APY) yang dimiliki oleh masing-masing proyek kripto.

Kenalan dengan Annual Percentage Yield Crypto

Annual Percentage Yield (APY) adalah persentase pengembalian tahunan yang diperoleh seseorang atas suatu aset kripto yang diinvestasikan setelah menghitung bunga majemuk (compounding interest). Bunga majemuk ini mengacu pada uang pokok yang Anda investasikan ditambah dengan bunga yang dihasilkan. 

Nah, metode ini akan lebih sesuai apabila digunakan oleh Anda yang memilih aset kripto sebagai instrumen investasi jangka panjang. Pasalnya, kalkulasi bunga dalam APY dilakukan secara gabungan dalam periode waktu satu tahun. Biasanya, APY digunakan oleh para investor yang menyimpan atau hold aset kripto yang dimiliki sambil mencari keuntungan.

APY sendiri dapat diperoleh setelah para investor menyimpan aset kripto yang diinvestasikan pada wallet dalam jangka waktu satu tahun. Selain menyimpan, cara lain yang biasanya dilakukan untuk memperoleh APY adalah staking token atau yield farming dalam liquidity pool. Secara umum, proyek cryptocurrency yang beredar di pasar memiliki nilai APY sekitar 1%, namun bisa jauh lebih tinggi jika proyek tersebut masih tergolong baru di pasar. 

Berbagai program yield disediakan oleh masing-masing Digital Exchanger beserta protokol DeFi dan wallet yang Anda gunakan. Sebelum memilih program yield, jangan lupa untuk riset terlebih dahulu mengenai biaya, entrance barriers, prosedur perolehan bunga, serta jenis aset apa saja yang sesuai dengan program yield tersebut, ya. 

Perbedaan Annual Percentage Yield (APY) dan Annual Percentage Rate (APR)

Seringkali para investor kripto terkecoh akan Annual Percentage Yield (APY) dan Annual Percentage Rate (APR), dikarenakan keduanya memiliki kemiripan yaitu sama-sama melibatkan bunga. Padahal, APY dan APR merupakan dua hal yang berbeda, lho

Perbedaan utama yaitu berdasarkan definisinya. APY merupakan return tahunan yang akan diperoleh dari akumulasi bunga yang telah ditetapkan hasil aktivitas investasi. Sementara, APR merupakan bunga tahunan yang dibebankan, didasari atas utang atau pinjaman tertentu yang Anda sebelumnya pernah ambil. Jadi, APY adalah persentase yang diperoleh dan APR adalah persentase yang perlu dibayar.

Hal lain yang menjadi pembeda adalah APY memperhitungkan compounding interest, sementara APR sama sekali tidak. APR hanya melihat tingkat bunga saja. Sehingga, jika suatu proyek kripto memiliki APY yang tinggi, hal tersebut menguntungkan bagi investor. Di sisi lain, jika nilai APR tinggi, maka semakin banyak jumlah bunga yang dibebankan dan perlu dibayar.

Walaupun keduanya berbeda, baik APR dan APY ternyata masih memiliki kesamaan, nih. Yaitu keduanya dapat dikaitkan dengan fluktuasi pasar. Saat permintaan di pasar meningkat, maka APR dan juga APY akan ikut meningkat. Sebaliknya, saat pasar dalam keadaan stabil atau permintaan menurun, APR dan APY akan menurun. Selain itu, APY dan APR juga sama-sama dapat digunakan sebagai matriks dalam yield farming secara bergantian.

Itu dia pengertian Annual Percentage Yield crypto dan perbedaannya dengan Annual Percentage Rate. Walaupun berbeda, kedua hal tersebut dapat digunakan secara bersamaan dalam berinvestasi kripto selama Anda sudah memiliki wawasan yang cukup, ya. Untuk informasi, edukasi, dan tips and trick seputar aset kripto lainnya, kunjungi www.tokocrypto.com sekarang!



Sumber : news.tokocrypto.com

Mengenal Apa Itu ETH 2.0 dan Keuntungan Proof of Stake

Ethereum 2.0, kadang-kadang disebut Eth2 atau Serenity yaitu peningkatan ke blockchain Ethereum. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kecepatan, efisiensi, dan skalabilitas jaringan Ethereum tanpa mengorbankan keamanan atau desentralisasinya. Dalam hal ini juga merupakan upaya untuk mengatasi apa yang disebut ‘blockchain trilemma’ (kepercayaan yang dipegang secara luas bahwa sehubungan dengan desentralisasi , keamanan , dan skalabilitas jaringan blockchain hanya dapat mengoptimalkan dua dari tiga fitur sekaligus).

Ethereum 2.0 mengintegrasikan beberapa perubahan mendasar pada struktur dan desain Ethereum baik secara teknis maupun ekonomi. Dua dari perubahan utama adalah perpindahan ke ‘proof of stake’ dan penambahan ‘sharding’.

Apa Itu Proof of Stake?

Proof of Stake adalah jenis mekanisme konsensus yang digunakan oleh jaringan blockchain untuk mencapai konsensus terdistribusi. Dalam mekanisme konsensus Proof-of-Stake, peserta yang telah melakukan staking aset kripto (staking berarti “mengunci” aset dengan mengirimkannya ke smart contract tertentu) dipilih secara acak untuk menjadi validator yang mengusulkan blok baru dan diberi imbalan.

Validator dengan demikian mengambil alih peran yang dipegang oleh penambang dalam sistem Proof-of-Work. Peserta yang melanggar aturan protokol akan kehilangan sebagian atau seluruhnya dari aset yang dipertaruhkan. Pendekatan ini dirancang untuk memberi insentif kepada peserta untuk berkontribusi memvalidasi dan memesan transaksi dalam blok sesuai dengan aturan protokol.

Apa keuntungan dari Proof of Stake?

Keuntungan yang paling utama di antara komunitas Ethereum untuk pindah ke Proof of Stake adalah sebagai berikut:

  • Peningkatan Efisiensi Energi . Karena Proof of Stake tidak mengharuskan peserta untuk mendedikasikan kekuatan pemrosesan ke algoritma hashing Proof-of-Work, hal ini karena menghabiskan lebih sedikit energi. Diperkirakan Ethereum 2.0 akan mengkonsumsi kurang dari 1% energi yang dikonsumsi oleh Proof of Work Ethereum.
  • Peningkatan Kapasitas. Shard chains dapat meningkatkan throughput transaksi dengan memungkinkan jaringan membuat beberapa blok secara bersamaan. Sementara dalam sistem sharding Proof-of-Work menurunkan kekuatan hashing yang diperlukan untuk mengkompromikan setiap bagian jaringan (sehingga dapat mengurangi keamanan seluruh jaringan), dalam sistem Proof-of-Stake, hal seperti ini tidak akan terjadi. Dengan kata lain, perpindahan ke Proof of Stake diperlukan untuk mengaktifkan sharding yang, pada gilirannya mungkin merupakan teknologi penskalaan yang sangat efektif.
  • Meningkatnya Desentralisasi . Karena Proof of Stake menghilangkan penambangan yang digerakkan oleh hashing,maka kebutuhan akan tempat penambangan yang besar dan padat dapat dikurangi. Secara teori, hal ini akan menurunkan hambatan masuk untuk validator, mengurangi risiko sentralisasi. Selanjutnya, karena banyaknya shard chains, langkah menuju Ethereum 2.0 membutuhkan sejumlah besar validator (lebih dari 16.000). Dengan  memiliki jumlah validator yang besar ini maka membuat jaringan tidak mudah untuk dimanipulasi oleh kepentingan-kepentingan khusus.

Apa Kekurangan dari Proof of Stake?

  • Kurang terbukti . Sementara itu Proof of Work telah diuji selama lebih dari satu dekade di Bitcoin dan sejak 2015 di Ethereum, Proof of Stake memiliki rekam jejak yang lebih sedikit. Meskipun Proof of Stake telah digunakan di sejumlah blockchain tanpa insiden, kompleksitas implementasinya yang relatif tinggi di Ethereum berarti mungkin ada faktor serangan atau kerentanan yang belum diketahui.
  • Yang kaya semakin kaya . Kritik umum terhadap Proof of Stake di Ethereum adalah karena pada dasarnya tidak ada biaya untuk menambang dan karena semakin banyak ETH yang di staking maka semakin banyak hadiah juga hasil yang Anda terima, bagi mereka yang sudah memiliki modal paling banyak akan terus memperoleh lebih banyak ETH. 

Sebaliknya, meskipun benar bahwa penambangan Bitcoin adalah usaha yang sangat padat modal, margin keuntungannya sedikit.Hal Ini berarti bahwa sebagian besar Bitcoin yang diperoleh penambang harus dijual untuk menutupi biaya penambangan dan dengan menjualnyal penambang dapat mendistribusikan sebagian besar Bitcoin yang baru ditambang. 

Apa itu sharding?

Sharding adalah proses pemisahan satu blockchain menjadi beberapa blockchain yang dikenal sebagai shard. Karena validasi blok pada setiap shard dilakukan secara independen, jika diambil secara keseluruhan, jaringan dapat memproses lebih banyak transaksi. 

Dengan Ethereum 2.0, misalnya, akan ada 64 rantai pecahan (shard chains). Hal ini berarti jaringan akan memproses transaksi pada 64 kali kecepatan transaksi dari chain tunggal asli. Validator di Ethereum 2.0 akan diacak di antara shard, ukuran yang dimaksudkan adalah untuk mengurangi potensi manipulasi oleh pihak jahat.

Timeline ETH 2.0

Langkah menuju Eth 2.0 adalah transisi bertahap multi-fase yang terjadi di sepanjang timeline berikut ini:

Beacon Chain  Fase ini diluncurkan pada Desember 2020. Sebuah “beacon chain” didirikan untuk menyimpan registry validator dan berjalan secara paralel dengan mainnet Ethereum, tetapi selama fase ini, Ethereum terus mengandalkan mekanisme konsensus Proof-of-Work (Penambangan).

Penggabungan Pada fase ini, mainnet Ethereum Proof-of-Work akan bergabung dengan Proof-of-Stake Beacon Chain. Setelah penggabungan selesai, Proof of Work di Ethereum akan dihentikan. Penggabungan kemungkinan akan dilakukan pada paruh kedua tahun 2021 atau pada paruh pertama tahun 2022.

Pecahan  Pada fase ini, shard yang dijelaskan di atas akan diintegrasikan. Pada fase awal, shard hanya akan menangani data sementara di tahap lanjutan, shard juga dapat mendukung pelaksanaan smart contract dan kemampuan untuk menangani akun, membuat setiap shard lebih mirip dengan mainnet Ethereum. Sharding diharapkan akan dimulai pada paruh kedua tahun 2022.



Sumber : news.tokocrypto.com

Apa itu Altcoin Seasons?, Yuk Kenalan Dengan Istilah Trading Ini

Kini, dunia aset kripto telah diramaikan oleh banyaknya aset yang menarik dan tentunya potensial, tidak kalah dengan pamor Bitcoin. Banyak investor dan trader yang ikut mencoba peruntungan di berbagai aset kripto tersebut dan membuat dominasinya meluas. Ternyata, tren ini dikenal dengan sebutan altcoin season. Ingin tahu lebih lanjut? Yuk, baca artikel ini sampai selesai!

Altcoin Season dan Penyebab Terjadinya

Sebelum membahas mengenai altcoin season, yuk, kenali apa itu altcoin terlebih dahulu. 

Apa itu Altcoin?

Altcoin, kependekan dari alternative coin, merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan aset kripto yang diterbitkan dan diperjualbelikan setelah Bitcoin. Seperti namanya, altcoin ini hadir dengan tujuan memberikan alternatif bagi para pegiat aset kripto dalam berinvestasi.

Apa itu Altcoin Season?

Jadi, altcoin season atau alt season berarti suatu musim di mana beberapa altcoin teratas memiliki kinerja dan potensi yang sangat baik, bahkan harganya melampaui harga Bitcoin dan US Dollar. Periode alt season ini biasanya dihitung selama 90 hari. 

Kapan Alt Season Terjadi?

Alt season pertama kali terjadi pada tahun 2017, di mana Bitcoin sedang dalam perjalanan menuju kejayaannya dan mulai banyak altcoin yang diluncurkan di blockchain Ethereum dengan memanfaatkan smart contract. 

Hal ini menarik perhatian banyak investor sehingga bermigrasi dan mencari peruntungan di altcoin. Dikutip dari Mail & Guardian, tidak menutup kemungkinan bahwa alt season akan terjadi di penghujung tahun 2021, dengan kenaikan ETH yang signifikan saat ini sebagai katalisnya.

Apa indikator Alt Season sedang terjadi?

Jika 75% dari 50 aset kripto teratas pada market cap memiliki kinerja lebih baik dari Bitcoin dalam 90 hari terakhir, maka dapat dikatakan bahwa sedang terjadi alt season. Namun, terdapat beberapa aset kripto yang tidak termasuk dalam 50 aset kripto teratas yaitu Stablecoin, misalnya Tether dan DAI, juga Asset Backed Tokens seperti wBTC, stETH, hingga cLINK.

Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai apakah saat ini sedang terjadi alt season atau tidak, Anda bisa melihat Altcoin Season Index di situs Blockchain Center.

Apa Penyebab Altcoin Season?

Peristiwa ini tidak semerta-merta terjadi begitu saja lho, walaupun memang tidak memiliki penyebab yang pasti. Namun, ada tiga hal yang mendorong terjadinya alt season, nih

Pertama, maraknya migrasi investor ke altcoin yang disebabkan oleh bull-run pada pasar Bitcoin. Di mana para investor yang mengantongi keuntungan dari Bitcoin akan membelanjakan keuntungan tersebut di pasar altcoin. 

Kedua, mulai ramai pembaharuan teknologi yang dilakukan oleh proyek kripto termasuk altcoin, salah satu contohnya adalah penggunaan mekanisme Proof of Stake (PoS). 

Ketiga, pengaruh dari para influencer aset kripto. Sebagai contoh, tweet Elon Musk pada awal 2021 mengenai Dogecoin berhasil membuat harganya meroket.

tweet dogecoin elon musk 1

Salah satu cuitan Elon Musk pada April 2021 yang berhasil mendongkrak harga Dogecoin sehari setelahnya

Selayaknya siklus musim yang berganti dari musim panas menjadi musim dingin, peristiwa ini juga terjadi di dunia kripto, lho. Di mana selain terdapat altcoin season, juga terdapat musim lainnya yang disebut dengan crypto winter. Namun, apa saja perbedaan di antara keduanya? 

Perbedaan antara Altcoin Season dan Crypto Winter

1. Berdasarkan pengertian atau definisi

Sebenarnya, secara terminologi keduanya memiliki arti yang berbeda. Alt season mendefinisikan sejumlah altcoin yang kinerja dan harganya lebih unggul dari pasar Bitcoin. Sementara itu, crypto winter mengacu pada pasar kripto yang mulai dingin dan hilang peminat, bahkan pergerakan harga pun tidak menolong. 

2. Berdasarkan kondisi pasar

Berkat definisi tersebut, lahirlah perbedaan selanjutnya, yaitu kondisi pasar. Jika alt season menunjukkan pasar aset kripto yang menghijau terutama yang terjadi pada altcoin, maka crypto winter menunjukkan pasar aset kripto yang lesu khususnya Bitcoin, ditandai dengan penurunan harga sebesar 80 sampai 90 persen dari all-time high.

3. Berdasarkan periode berlangsungnya

Perbedaan lainnya adalah periode berlangsungnya. Seperti yang sudah disinggung di atas, alt season umumnya berlangsung selama 90 hari saja. Sementara itu, crypto winter bisa terjadi dan bertahan selama 2 hingga 3 tahun lamanya. Saat pasar sudah kembali diminati dan perdagangan meningkat, maka sebutannya berubah menjadi crypto spring.

4. Berdasarkan waktu terjadinya

Selain itu, perbedaan selanjutnya adalah waktu terjadinya. Jika alt season terakhir kali terjadi pada 2017 hingga awal 2018, maka crypto winter terjadi sepanjang tahun 2018 dan yang paling baru adalah 2021. Sebagaimana yang telah disebutkan, crypto winter lekat dengan kondisi pasar Bitcoin, sehingga ditandai dengan anjloknya harga Bitcoin dalam waktu yang lama.

Sebenarnya, alt season masih berhubungan dengan crypto winter, terutama yang melibatkan Bitcoin atau Bitcoin winter. Dikarenakan saat alt season terjadi, otomatis harga Bitcoin akan melemah dan berpotensi menyebabkan Bitcoin winter. Akan tetapi, hal ini tentunya tidak selalu terjadi saat harga Bitcoin melemah, ya, karena bisa saja hanya menandakan bearish market. Bitcoin winter hanya terjadi saat harganya jatuh dalam waktu lama dan terlihat sulit untuk bangkit lagi.

5 Altcoin Terpopuler Sepanjang Tahun 2021

Setelah membahas altcoin season dan perbedaannya dengan crypto winter, berikut ini sudah kami rangkum 5 altcoin terpopuler sepanjang tahun 2021 yang bisa Anda jadikan referensi:

1. Ethereum (ETH)

Sebagaimana yang telah kita semua tahu, bahwa Ethereum (ETH) menjadi salah satu altcoin yang populer di tahun 2021. Bagaimana tidak, sepanjang tahun 2021, ETH terus melakukan pengembangan yang membuat harganya juga ikut meningkat dan bertahan di peringkat 2 market cap. ETH mencatat all-time high terbarunya pada 9 November 2021 lalu di angka 4,837.59 USD. 

2. Cardano (ADA)

Selain ETH, altcoin yang tak kalah melejit adalah Cardano (ADA). Sejak awal kemunculannya di 2017, mekanisme Proof of Stake (PoS) ADA berhasil menarik banyak investor untuk membelinya. Meskipun sempat mengalami pasang surut, ADA berhasil meraih all-time high di angka 3.10 USD pada September lalu dan kini menduduki peringkat 4 sebagai aset kripto terbesar yang ada di market cap.

3. Solana (SOL)

Menyusul ADA, di peringkat 6 market cap terdapat altcoin Solana (SOL) yang juga populer sepanjang tahun 2021. SOL memang telah mengalami kenaikan harga di awal tahun, tetapi di pertengahan tahun harganya signifikan meningkat. Hal ini disebabkan adanya inovasi yang dilakukan para developer SOL, membuat SOL banyak diminati. Pada 6 November 2021, SOL mencetak rekor harga tertingginya sebesar 260.06 USD.

4. Polkadot (DOT)

Altcoin yang satu ini cenderung lesu di awal 2021. Namun, kini Polkadot (DOT) berhasil menduduki peringkat 8 di market cap. Salah satu penyebabnya adalah peluncuran parachain pada blockchain Polkadot, yang memungkinkan blockchain untuk meng-handle satu juta transaksi per detik dan menjadi lebih terukur dalam koneksi antar blockchain. DOT meraih all-time high sebesar 55 USD pada 4 November 2021 lalu.

5. Dogecoin (DOGE)

Dogecoin (DOGE) juga berhasil menjadi altcoin yang paling populer dan menarik perhatian. Altcoin yang juga dianggap sebagai memecoin ini bertengger di peringkat 9 pada market cap. Puncak popularitas DOGE terjadi pada Mei 2021, dengan mencetak all-time high senilai 0.7376 USD. Hal ini dapat terjadi salah satunya berkat cuitan Elon Musk mengenai koin yang berlogo hewan anjing ini. Meski sempat koreksi, DOGE masih menjadi altcoin pilihan di 2021.

Baca Juga: Harga Dogecoin Melejit, Elon Musk Pemicu Naiknya Dogecoin?

Sambil menunggu altcoin season yang diprediksi akan terjadi di akhir tahun 2021, Anda bisa mencoba membeli sederet altcoin terpopuler tersebut di Tokocrypto, lho. Yuk, langsung daftarkan diri dan selesaikan KYC Anda di www.tokocrypto.com sekarang!  Masih bingung dengan investasi/trading kripto? Gabung juga dengan Group Telegram Tokocrypto!



Sumber : news.tokocrypto.com

Apa Itu Icon (ICX) Cryptocurrency? Pengertian Untuk Pemula

Icon bertujuan untuk membangun beberapa jaringan terdesentralisasi yang didukung oleh cryptocurrency.

Dengan cara ini, Icon menggambarkan tujuannya sebagai mendirikan “negara digital” di mana pelaku ekonomi yang berbeda dapat mengeluarkan dan mengontrol bentuk nilai mereka sendiri, di bawah sistem aturan yang mereka pilih.

Inspirasi di balik desainnya adalah struktur ekonomi dunia nyata, di mana bisnis, organisasi nirlaba, dan lembaga publik, semuanya memanfaatkan sarana nilai yang sama (mata uang nasional). Namun tetap merupakan pelaku ekonomi yang berbeda tetapi dapat dioperasikan.

Dengan kata lain, idenya adalah bahwa aplikasi komputer dapat menggunakan perangkat lunak Ikon sebagai infrastruktur untuk menciptakan mata uang dan ekonomi mereka sendiri. Komputer yang menjalankan perangkat lunak (node) kemudian dapat memilih untuk mendukung ekonomi di ekosistem Ikon sesuai dengan minat mereka.

Republik Icon bertindak sebagai pusat operasi blockchain Ikon, mengatur proses di mana cryptocurrency aslinya, ICX, yang baru dicetak di setiap blok.

Meskipun dalam cakupan yang ambisius, tim Icon telah menyampaikan beberapa iterasi dari ide tersebut. Menindaklanjuti buku putih 2017 dengan kertas kuning pada 2019 yang lebih mendalam dalam menguraikan teknologinya.

Pada tahun 2020, tim Ikon terus merilis Roadmap yang diperbarui secara teratur di Medium.

Baca jugaSEC AS akan Menunda Putusan untuk ETF Bitcoin Spot

Bagaimana Cara Kerjanya?

Blockchain Icon menggunakan algoritme konsensus bukti kepemilikan yang didelegasikan untuk menentukan node mana yang dapat menambahkan blok baru ke blockchainnya.

Idenya, yang digunakan oleh cryptocurrency besar lainnya seperti Tron dan EOS, adalah bahwa dengan tidak menentukan blok melalui kompetisi (seperti penambangan), jaringan dapat lebih cepat mencapai konsensus.

Blockchain Icon, khususnya, memastikan kolaborasi antara lima komponen utama.

Ini termasuk:

Icon Republic – Struktur pemerintahan jaringan dan komite keputusan untuk operasi blockchain. Icon Republic terdiri dari node dari komunitas Icon.

Komunitas Icon – Jaringan simpul dalam satu sistem tata kelola, komunitas Ikon dapat beroperasi dengan seperangkat aturan dan algoritme konsensus mereka sendiri.

Community Representative (C-Rep) – Node terpilih dari setiap komunitas yang dipercaya untuk berkomunikasi dengan Icon Republic. C-Reps menerima ICX untuk pekerjaan mereka.

Community Nodes (C-Nodes) – Bertindak sebagai infrastruktur untuk setiap komunitas dan bertanggung jawab untuk mengatur dan memelihara blockchain komunitas.

Node Warga – Tidak memiliki hak suara, tetapi memiliki kemampuan untuk melakukan transaksi dalam komunitas, dengan komunitas lain, dan dengan Republik Icon.

Baca jugaTiga Altcoin Platform Smart Contract yang akan Moncer di 2022

Bagaimana Loopchain Bekerja?

Loopchain adalah algoritme yang menggerakkan blockchain Ikon, mengintegrasikan pesan antara semua node yang membentuk Republik Ikon.

Untuk mencapai ini, Loopchain menggunakan sesuatu yang disebut algoritma Loop Fault Tolerance (LFT).

Mirip dengan algoritme proof-of-stake (DPoS) yang didelegasikan lainnya, Loopchain menetapkan node untuk mengelompokkan transaksi ke dalam blok. Menambahkan blok tersebut ke blockchain dan mendistribusikan blok ini ke node jaringan lain.

Node validasi, pada gilirannya, mengkonfirmasi pembuatan blok, memeriksa apakah hash blok sudah benar dan memvalidasi data blok.

Perbedaan Icon dari blockchain DPoS tradisional adalah ia mengurangi jumlah langkah yang diperlukan untuk proses konsensus.

Lebih khusus lagi, LFT menggunakan teknik, yang disebut Spinning, yang menyederhanakan algoritme yang digunakan untuk memilih siapa yang dapat membuat blok dan node validator yang mengonfirmasinya.

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

Apa Itu Trailing Stop dan Bagaimana Cara Menggunakannya?

Dalam trading, para trader seringkali memanfaatkan order demi kelancaran trading. Order sendiri dapat membantu trader dalam mengantongi cuan. Salah satu order yang sering digunakan untuk mengamankan profit adalah Trailing Stop yang merupakan bagian dari Stop Loss. 

Nah, sebelum memahami Trailing Stop adalah teknik yang seperti apa, mari lebih dulu membahas sedikit mengenai Stop Loss!

Apa itu Stop Loss?

Stop Loss merupakan suatu order untuk menutup posisi trading, yang biasanya disediakan oleh platform trading kripto. Gunanya adalah untuk menandai batas bawah harga yang diincar oleh trader, sehingga jika ternyata harga menurun drastis, trader masih bisa terselamatkan dari kerugian dengan batas yang ditentukan tersebut.

Lalu, apa yang membuat Trailing Stop berbeda dengan Stop Loss? Yuk, simak informasi selengkapnya mengenai Trailing Stop!

Apa Itu Trailing Stop?

Seperti yang dibahas sebelumnya, Trailing Stop adalah salah satu jenis dari Stop Loss dalam trading, yang berguna untuk meminimalisir kerugian yang akan dihadapi oleh trader. Sebab dengan Trailing Stop, penetapan batas bawah harga lebih fleksibel dan dapat disesuaikan dengan pergerakan harga pasar. Hal inilah yang membedakan Trailing Stop dengan Stop Loss biasa yang level maksimum-nya bersifat fixed.

Dalam Trailing Stop, terdapat nilai yang disebut dengan Trailing Distance. Trailing Distance ini adalah selisih antara harga pasar saat ini dan nilai maksimum atau harga yang ditetapkan trader untuk buy/sell. Setelah ditetapkan oleh trader, nantinya nilai ini akan ikut bergerak, sesuai arah pergerakan harga saat di posisi buy maupun sell.

Cara Menggunakan Trailing Stop dalam Trading

Cara menggunakan Trailing stop

Sebenarnya, cara menggunakan Trailing Stop bergantung pada platform trading yang Anda gunakan. Akan tetapi, secara umum, Trailing Stop bisa digunakan dalam dua keadaan, yaitu:

1. Saat Buy

Pada saat dipasang di posisi beli, secara otomatis perintah Trailing Stop akan mengikuti harga aset di pasar saat harga mulai meningkat. Jadi, saat harga pasar saat itu meningkat dengan nilai yang sama dengan Trailing Distance yang telah ditetapkan sebelumnya, trader melakukan buy.

2. Saat Sell

Pada saat posisi jual, order akan mengikuti harga pasar saat mulai menurun. Pasalnya, Trailing Stop akan berguna dalam membatasi kerugian yang akan diperoleh trader jika harga terus menurun. Sesaat harga pasar saat itu menurun dan bernilai sejumlah Trailing Distance, otomatis trader akan mengunci profit di angka tersebut dengan melakukan sell. Para trader pada umumnya memasang Trailing Stop di posisi jual.

Contoh Penggunaan Trailing Stop dalam Trading

Contoh Penggunaan Trailing Stop

Misalnya, seorang trader memasang Trailing Stop di posisi sell dengan Trailing Distance sebesar 10. Harga pasar saat pemasangan Trailing Stop adalah 1000, sehingga dengan perhitungan dasar Stop Loss, sesaat harga mencapai 990, aset tersebut akan secara otomatis dijual.

Lain halnya jika harga pasar saat ini berkisar di antara 990 hingga 1000 saat pemasangan Trailing Stop, dengan Trailing Distance yang sama yaitu 10. Selama harga terus naik-turun, Trailing Stop akan tetap bertahan di 990 dan tidak akan ikut bergerak naik maupun turun.

Kemudian, jika harga meningkat menjadi 1010, Trailing Stop akan bergerak dan berpindah ke angka 1000 agar tetap memiliki selisih sebesar Trailing Distance. Lalu, apabila ternyata harga terus naik hingga mencapai 1020, Trailing Stop juga akan mengikuti dan berhenti di 1010. Hal ini berlaku seterusnya apabila terjadi kenaikan di pasar.

Inilah yang dikatakan bahwa Trailing Stop dalam posisi sell akan terus mengikuti pergerakan harga ketika naik, dan tidak akan bergerak saat mengalami penurunan. Namun, sesaat harga pasar saat ini hampir menyentuh Trailing Distance, secara otomatis dilakukan penjualan untuk meminimalisir kerugian trader. Dan hal sebaliknya akan terjadi jika trader memasang di posisi buy.

Baca juga: Gunakan Strategi Trading Bitcoin Berikut Agar Untung

Kelebihan dari Trailing Stop

Kelebihan Trailing Stop

Sebagai modifikasi dari Stop Loss, Trailing Stop tentunya memiliki beberapa kelebihan yang bisa dimanfaatkan oleh trader, di antaranya:

1. Cocok untuk Day Trading

Kelebihan pertama dari Trailing Stop adalah cocok digunakan untuk Day Trading, dikarenakan trader bisa membatasi jumlah kerugian yang ia akan terima saat trading. Jadi, trader tidak akan terlalu kaget jika harga pasar turun, karena nilai kerugian telah ditetapkan sebelumnya dan hanya akan ikut bergerak saat harga pasar naik.

2. Bisa Menghindari Kerugian Besar

Seperti contoh yang dipaparkan sebelumnya, Trailing Stop bisa membantu trader dalam menghindari kerugian besar. Sebab, sesaat Trailing Stop posisi sell dipasang dan harga pasar mendekati Trailing Distance yang sudah ditetapkan, aset tersebut akan secara otomatis terjual dan profit berhasil terkunci.

3. Tidak Perlu Dipantau 24/7

Berhubungan dengan poin sebelumnya, dikarenakan batas harga akan mengikuti pergerakan di pasar alias tidak fixed di satu nilai tertentu saja. Maka, trader tidak perlu lagi memantau trading selama 24/7 karena pasti akan selalu ter-update dengan sendirinya mengikuti kondisi harga di pasar.

Sekarang, Anda sudah tahu, kan, Trailing Stop adalah order yang seperti apa? Meski terkesan mudah, diperlukan pemahaman yang mendalam dalam menggunakannya. Selain itu, Trailing Stop juga harus dibarengi dengan analisis teknikal, ya, agar strategi trading Anda tetap bisa berjalan sesuai rencana. Untuk informasi seputar trading kripto lainnya, segera kunjungi Tokonews dan mulai investasi aset kripto di Tokocrypto!



Sumber : news.tokocrypto.com

Mengenal Apa itu Golden Cross, Panduan Lengkap untuk Pemula

Bagi kamu yang baru saja belajar mengenal jual-beli aset kripto maupun saham, istilah ini mungkin masih terasa asing. Padahal, dalam kegiatan trading istilah ini sangat penting untuk diketahui agar bisa menjadi trader yang cerdik.

Biasanya, para trader pemula masih belum mengerti kapan mereka harus buy dan kapan mereka harus sell. Padahal momen ini sangat krusial dan jangan sampai terlewat. Momen ini dapat menjadi penentu seberapa banyak keuntungan yang bisa trader dapatkan atau seberapa besar kerugian yang bisa dihindari.

Apa itu Golden Cross?

Momentum Golden Cross aset kripto yaitu dimana rata-rata harga mengalami kenaikan dalam periode yang singkat melebihi harga kenaikan pada periode yang panjang. Misalnya saja sebagai contoh yaitu pada indikator Moving Average (MA).

Ilustrasi golden cross di investasi aset kripto.

Ilustrasi golden cross di investasi aset kripto.

Pada indikator MA, trader akan menemukan 2 garis biru dan merah. Garis biru merupakan rata-rata harga pada perode singkat yang biasanya berlangsung 5 hari. Sedangkan garis merah adalah rata-rata harga pada periode lama yang berlangsung selama 20 hari.

Hal ini tidak berlaku hanya pada indikator Moving Average saja, namun juga berlaku pada indikator lainnya seperti Moving average convergence divergence (MACD) dan Stochastic.

Apa Maksud dari Garis Biru Memotong Garis Merah?

Saat trading, kamu pastinya akan menemukan fenomena garis biru terlihat memotong garis merah. Maksudnya apa? Jadi pada saat itu sedang terjadi momentum pergerakan nilai kripto yang sedang uptrend. Hal ini ditandai dari rata-rata harga 5 hari tampak lebih tinggi dari rata-rata harga pada 20 hari.

Ini berarti, aset kripto tersebut pada saat itu sedang banyak peminatnya sehingga harganya menjadi naik. Jika kamu ingin melakukan buy pada saat itu, waktu terbaik untuk melakukannya yaitu pada saat garis biru memotong jauh dari garis merah. Bukan pada saat awal-awal garis biru memotong garis merah.

Ilustrasi golden cross di investasi aset kripto.

Baca Juga Vladimir Putin Isyaratkan Toleransi Terhadap Cryptocurrency

Hal ini dikarenakan kamu akan mendapatkan momentum golden cross yang kemungkinan akan mengalami kenaikan harga yang sangat besar. Jika kamu bertanya apakah analisa dari golden cross ini akurat? Jawabannya teknik yang digunakan dalam dunia investasi aset kripto tidak bisa mencapai 100%.

Namun ini, merupakan sebuah momen yang baik untuk membeli aset kripto. Karena kemungkinan besar harga akan mengalami kenaikan yang cukup drastis. Hal ini merupakan momentum harga jenuh jual, artinya, masyarakat akan mulai membeli kripto saat terjadi golden cross.

Bagaimana Cara Identifikasi Golden Cross?

Untuk bisa mengidentifikasi kapan momen golden cross itu terjadi, caranya cukup sederhana. kamu harus mengetahui terlebih dahulu tahapan yang ada pada golden cross. Yaitu, pertama akan terjadi downtrend sampai grafik benar-benar berada di posisi paling rendah. Saat itu pasar bearish sudah mulai lelah.

Selanjutnya, pada tahap kedua akan terjadi Moving Average dengan kurun waktu yang cukup singkat dan bergerak ke atas dan memotong memiliki jangka waktu yang lumayan panjang. Hal ini menjadi pertanda bahwa sedang terjadi pembalikan tren harga.

Dan terakhir, tahap ketiga. Pada tahap ini saham akan terus mengalami kenaikan harga atau uptrend yang terus berlanjut sampai mencapai titik yang lebih tinggi. Untuk dapat memanfaatkan momen golden cross dengan optimal, ada beberapa strategi yang bisa Anda coba.

Strategi Golden Cross untuk Profit Maksimal

1. Persiapkan Diri saat Tren Turun Panjang

Perlu kamu ketahui jika pengaturan golden cross semuanya tidak sama. Ini berarti cara yang bisa kamu lakukan ialah dengan menunggu aset kripto yang sudah lama mengalami downtrend, kemudian mencari kripto lain yang siap untuk bergerak naik.

Dalam investasi aset kripto akan begitu banyak terjadi penurunan, sehingga sinyal kemungkinan dapat mengelami pembalikan yang signifikan. Sinyal ini memiliki kekuatan bahwa persilangan yang terjadi setelah tren bearih panjang untuk mendapatkan persilangan bullish harus disertai periode dasar.

Dengan demikian, saat saham sedang melesat naik, kamu sudah tahu jika mungkin saja ada potensi terjadinya pembalikan arah balik dari pergerakannya. Carilah peluang saat nilai kripto mulai terlihat naik untuk bisa mendapatkan keuntungan yang aman.

Ilustrasi rugi di investasi aset kripto.

Ilustrasi rugi di investasi aset kripto.

Baca Juga Daftar Token Aset Kripto dengan Nama Klub Sepak Bola Terpopuler

2. Hindari Spread Lebar Moving Average

Moving Average kadang-kadang memiliki spread yang lumayan luas. Dalam hal ini, kamu akan melihat seolah formasi MA ini seperti secangkir kopi. Di permukaannya akan terlihat sangat bullish.

Padahal, jika kamu memperhatikan price action, akan menemukan polanya kurang baik. Sehingga tidak boleh mengabaikan price action, karena sebuah kripto bisa bergerak seperti parabola, yakni naik dengan cepat dan turun dengan cepat.

3. Kombinasi Pola Doble Bottom dengan Golden Cross

Strategi terakhir yang bisa kamu coba yaitu dengan mengkombinasikan double bottom dengan golden cross. Setting-nya yaitu, silahkan cari double bottom pada grafik dengan ketentuan low kedua harus berada di bawah low pertama.

Selanjutnya, silahkan tunggu formasi dari golden cross terlebih dahulu. Langkah terakhir yaitu menunggu harga menguji kembali SMA 200. kamu bisa saja melakukan buy pada saat retest SMA 200 dengan stop loss berada di bawah titik terendah double bottom.

Itulah pembahasan lengkap mengenai golden cross. Perlu diperhatikan, pastikan setiap langkah yang akan kamu ambil, telah dipertimbangkan dengan risikonya. Semoga berhasil!



Sumber : news.tokocrypto.com